Chapter 10
.
Disclaimer : original Naruto selalu menjadi milik Masashi kishimoto
Original imajinasi cerita : Brendanata
.
.
DON'T LIKE , Ya Jangan Baca .. hehehe
.
.
Happy Reading Minna ... :D
Aroma obat-obatan ,beberapa orang dengan langkah tergesa menuju unit gawat darurat suara jeritan dan tangisan terkadang menggema di tempat itu. Lorong rumah sakit begitu ramai , tidak sedikit orang yang hilir mudik untuk berobat ataupun menjenguk pasien .
Sakura masih tetap dalam posisinya ,duduk disamping bed rumah sakit dengan papan nama bertuliskan "An. Ichijouji " . Ia menatap sendu kearah pemuda yang sudah seminggu berbaring lemah di bed kamar no.222.
Pemuda itu menatap gadis disebelahnya,tersenyum lembut mengusap pucuk kepala Sakura. Kekasih dari Sasuke Uchiha hanya bisa mencoba menahan tangisnya,mencoba bersikap kuat untuk tidak membuat sahabatnya khawatir.
Suasana kamar yang cukup hening, membuat Teika mengambil nafas cepat dan membuangnya kasar , ia paham jika Sakura tidak bisa kuat seperti yang berusaha ia tunjukan saat ini.
" Saku-chan.."
" Ya?"
" Jangan murung seperti itu,ekspresimu jelas terbaca bodoh "
Teika menyentil jidat lebar sakura, membuat sang empu mengaduh kesakitan . Tawa tercipta diantara kedua sahabat yang sedang beradu pandang.
Namun tanpa sakura sadari, mata hazel Teika memancarkan sorot mata sedih . Pemuda itu bahagia jika Sakura bahagia,namun entah apa yang terjadi padanya ketika melihat Sasuke dan Sakura bersama ia merasakan sesak yang teramat sangat .
Ia tidak bodoh ,ia akui jika dirinya memanglah laki-laki biasa yang tidak luput dari rasa cemburu, dan ingin memiliki. Perasaan yang sudah lama tumbuh di dalam hatinya terkadang membuatnya egois. Ingin memonopoli sakura untuk menjadikan miliknya .
Namun, perasaan ingin memeliki seketika hancur begitu saja saat melihat betapa bahagianya Sakura bersama laki-laki bermarga uchiha itu.
"Teii,heii—" Sakura mengayunkan telapak tangannya di hadapan wajah tampan sahabatnya " Kau melamun ?"
"Ah,hee ? maaf Saku " Teika memalingkan tatapannya,beralih memandang selimut yang menutupi dirinya
" Apa yang kau pikirkan? "
"Tidak ada " Seulas senyum tercipta di bibir pemuda itu
Sakura bukanlah orang bodoh,ia paham jika ada sesuatu yang membuat Teika menjadi murung dan tidak semangat . Apakah ini karena penyakitnya ? ataukah karena ada hal lain dan sakura melewatkannya ?
Laki-laki terkadang memang mirip perempuan susah untuk dipahami.
-tokk..tookk..tookk..-
Suara ketukan pintu terdengar , kedua sahabat itu mendongak menatap daun pintu bersamaan. Kedua bahu mereka terangkat kompak menandakan jika ia tidak mengetahui siapa yang datang untuk mengunjungi Teika .
Hazel Teika menatap emerald di depannya, memberi insyarat untuk membuka pintu . Beberapa detik kemudia diikuti dengan anggukan si merah muda yang mulai bangkit dari duduknya menuju pintu kamar no.222
Sakura meraih kenop pintu , diputarnya pelan hingga menimbulkan suara decitan kecil .
" Sasuke-kun ?"
Seseorang dengan setelan kaos berwarna abu-abu dengan celana jeans tidak terlalu ketat ditambah dengan jaket hitam yang mebingkai tubuh bidangnya membuat sakura kaget sekaligus takjub.
Yaa,siapa yang bisa menolak kharisma seorang uchiha, ah shit sasuke terlalu tampan saat ini . Sakura tersadar dari keterkagumannya terhadap sang kekasih, sasuke yang menyadari kegugupan sakura hanya terkikik kecil.
" Mengagumiku ? "
" Lupakan " Rona merah tercipta jelas di kedua pipi sakura
" Siapa Saku ..?" Teika mencoba mencari tahu, kepalanya mendongan mencoba mencari sosok yang membuat sakura begitu lama di depan pintu .
" Aku- " Sasuke melangkah ke dalam , melewati sakura yang sedang blushing "—Hai, bagaimana keadaanmu ?"
Pemuda raven itu muncul dihadapan sahabat kekasihnya dengan seikat bucket bunga ditangannya . Teika yang menyadari hal itu terkikik kecil , sedangkan sasuke menatapnya heran
" Aku baik, hey apa yang sakit pacarmu? Kenapa kau membawa itu " Telunjuk teika mengarah kepada bunga yang masih dalam genggaman sasuke
Sakura sudah sadar dari kegiatannya, ia pun juga ikut mengamati sasuke dan benar saja pemuda itu membawa seikat bucket bunga mawar untuk sahabatnya . Gadis musim semi itu juga ikut tertawa geli melihat ekspresi kekasihnya yang sedang kebingungan .
" Hei, apa nya yang salah ? " Sasuke tak mau kalah "..lagi pula aku han—nya membawa bu- bunga , heheh "
Sasuke yang paham akan gelagat mereka berdua akhirnya mengerti mengapa kedua sahabat itu menertawakannya.
" Kau romantis " Sakura mengejek
" Yaa, kau sangat romantis Sasuke " Teika menambahkan
" Mungkin aku akan bersedia jika kau membagi cintamu dengan Teika " Sakura melangkah mendekati sang kekasih yang sedang menatap cengo kearah mereka berdua
" Aku akan menerimam Sas—" sasuke secepat kilat memotong ucapan pasien yan sedang ditunggui kekasihnya
" CUKUP ..." Sang pemilik onyx mulai kesal " ...kalian jangan mempermainkan ku bodoh " terlihat jelas bagaimana ekspresi uchiha bungsu yang sekarang sedang menanggung malu dan juga kesal .
Teika dan Sakura adu pandang , tawa lepas lolos dari bibir keduanya sedangkan sasuke meskipun kesal ia tetap tersenyum lembut kearah sakura.
" Berjuanglah kau pasti sembuh " Sasuke menghampiri Teika , meletakan bucket yang ia bawa kemeja pasien
" Terimakasih Sasu "
.
.
Cuaca begitu bersahabat hari ini , tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin . Sakura sengaja tidak berangkat sekolah hanya untuk menemani Teika yang masih terbaring lemas di rumah sakit . Secara bergantian terkadang ibu sakura dan Sasori ikut membantu Sakura mengurus Teika .
Orang tua teika yang sudah menjaga anaknya selama 5 hari selama tidak ada sakura, mereka harus kembali ke London untuk kembali mengurus perusahaan di sana . Meskipun begitu Teika tetap senang karena orang tuanya tetap perduli kepada dirinya , dan pada saat kondisi orang tua nya tidak bisa mendampingi, mereka tetap berhubungan dengan anaknya melalui video call.
Ditambah Sakura, Sasuke, Naruto dan Hinata yang secara bergantian menemani dirinya , hal itu membuat Teika semangat untuk sembuh.
" Kau bodoh hingga mau bolos " Teika mendengus kearah sakura
" Hanya senin Tei-kun aku masih ingin disini "
" Baik, nanti sore akan aku minta Sasuke mengantarmu ke Suna "
" Hn, siap komandan dan sekarang buka mulutmu dan makan ini " sendok berukuran sedang perlahan masuk kedalam mulut pemuda itu ,beberapa kali pemuda itu merapatkan matanya dan ingin mengeluarkan makanan yang masuk karena rasanya yang hambar.
" tidak enak "
Sakura menggelengkan kepalanya dan terus menyodorkan makanan yang harus Teika habiskan . sesekali Teika menutup mulutnya namun berhasil dibuka oleh sakura dengan cubitan khas yang menimbulkan bekas dilengan kanannya .
"hei ..." Sakura menghentikan aktifitasnya . Gadis cotton candy itu menundukan kepalanya , menatap bubur yang sudah kehilangan uapnya karena dingin.
" Apa? " teika mencoba mencari wajah sakurayang tertutup dengan rambut soft pinknya
"sebenarnya kau sakit apa? Bukan tifus kan ?" gadis itu mendongak menatap sahabatnya lekat
" apa aku pernah berbohong padamu ? "
" Tidak, hanya saja ini tidak masuk akal "
Pemilik emerald itu mulai berkaca-kaca , memcoba mencari kebenaran kedalam manik hazel yang sedang menatapnya serius . Sakura bisa melihat jika mata itu memancarkan kejujuran tapi entah mengapa feeling sakura berontak dengan fakta tersebut.
" Baiklah aku percaya " Sakura kembali mendapatkan senyumannya meskipun rasanya di dalam hati sangat sakit
" kau tak ada alasan untuk tidak mempercayaiku " Teika mengecup pucuk kepala sakura
" Aku sudah punya pacar, jangan asal ciium " perempuan merah muda itu menepuk pundak sahabatnya
" Siapa perduli, jika sasuke marah aku akan menghajarnya "
" kau, dasar "
.
.
Terkadang melihat seseorang yang amat di sayangi dalam keadaaan buruk memang bukanlah kemauan kita. Teika yang masih terbujur di kasur rumah sakit membuat sakura begtu ingin mengetahui penyakit apa yng sebenarnya di derita oleh sahabatnya.
Sasuke melirik sang gadis yang sedari tadi asyiik dengan lamunannya, untuk lebih tepatnya Sakura sedang bergulat dengan hati dan fikirannya. Pemuda disampingnya menghembuskan nafasnya kasar, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan kmbali fokus menatap jalan.
Sesuai janjinya dengan Teika, putri satu-satunya dikeluarga Haruno itu kembali ke Suna untuk kembali bersekolah . Hati tak tenang dengan fakta yang ada di depannya,dan semenjak detik itu sakura berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi seorang dokter.
" Sampai kapan aku akan diabaikan ? " Sasuke memecah keheningan diantara mereka
"..."
" Saku, heii "
" Ah, ne- ne Sasu-kun ? " sakura gelagapan
"memikirkan sahabatmu ? "
Anggukan kepala sang kekasih cukup menjawab jelas pertanyaan Sasuke, sejujurnya pemuda ravn itu juga sangat menghawatirkan Teika mngingat merek adaah teman baik sekrang . Terkadang ia juga bergantian dengan keluarga sakura untuk menjaga Teika.
" Tifus... apa kau pecaya ? "
" Hn, kenapa tidak? " terlihat pemuda itu sedang memikiran sesuatu
Sakura mennopang dagu dengan kedua tangan mungil miliknya , sesekali menatap kekasihnya yang sedang menatap lurus jalanan.
" kau tidak menyembunyikan sesutu dariku kan ? " Tanya sakura penuh selidik
" apa? Kau menuduhku? "
" hn, tidak sayang "
Panggilan sayang yang terucap dari gadis mungilnya membuat sasuke menyeringai nakal. Ia menambah kecepatan mobil dan melesaat menuju flat sederhana milik tindakannya itu cukup membuat sang nyonya memekik sedikit karena ketakutan.
Tidak memerlukan waktu yang lama bagi seorang uchiha sasuke untuk mendapatkan keinginanannya. Tetap dengan senyuman nakalnyaIa menunggu sang kekasih yang sedang mencoba membuka pintu flat miliknya, dengan gerakan cepat setelah pintu terkunci sasuke mendorong gadis itu masuk dan jangan lupakan tentang mengunci pintu,tentu saja uchiha bungsu itu sudah melakukannya.
Ia memeluk sakura erat hingga gadis dalam pelukannya menggeliat minta dilepaskan, meskipun begitu tetap saja percuma karena tangan kekar pemuda itu sedang mendekapnya dapat merasakan nafas yang semakin memburu milik kekasihnya dan itu semakin membuatnya memanas.
Jari-jari sasuke menyelip dibelakang kepala sakura mengusap rambut gadis itu pelan. Sedangkan bibir sasuke sedang bermain di leher sakura, mengigit serta menghisapnya penuh gairah. Jujur saja jika sakura saat ini sedang menikmati aksi dari kekasihnya yang tiba-tiba berubah liar seperti ini.
"Sa-sassu-kee-kun,..enggh."
Tak ada jawaban dari sasuke, pemuda itu terus saja memonopoli gadis yang sudah berantakan sakura tergerai bebas, dress yang ia kenakan sudah agak kusut karena sasuke sesekali meremas paha sakura dari luar bajunya.
Tangan sakura yang sedang bergantung di leher pemuda itu bergerak lincah tidak mau kalah dari sang kekasih, entah apa yang merasuk dalam diri sakura sehingga membuat gadis itu berani bertindak lebih berani. Sakura yang menikmati sentuhan sasuke terus mendesah pelan dan hal tersebut membuat anak terakhir pasangan fugaku dan mikoto semakin menjalarkan tangan nakalnya keatas dada sakura, meraih pelan kedua gundukan daging tak bertulang memijat nyapelan hingga membuat empunya mengerang nikmat.
"Sakuraa..."
"Saaa...enngggh..suuu...keee...ahh ahh "
Gadis merah muda dalam kungkungannya terus mendesahkan namanya,hingga akhirnya mereka melanjutkan ke dalam kamar sakura.
.
.
tepat beberapa minggu setelah kegiatan panasnya dengan sasuke, gadis merah muda itu kembali menjalani aktivitasnya sebagai pelajar. Sesekali ia pulang-pergi konoha suna untuk menjaga sahabatnya yang sedang sakit.
Hari itu tampak cerah burung - burung mulai bersiul menyenandungkan kicauan yang khas milik mereka. Sakura membuka jendela kelas merasakan angin yang mulai menyapa lembut pipi miliknya.
Kenyataan yang ia dapatkan pagi tadi cukup membuatnya gelisah, keadaan teika yang memburuk cukup membuat sakura gelisah tak karuan. Berbagai macam spekulasi memenuhi kepala gadis itu. Sakura yakin apabila bukan tifus penyebab Teika sakit melainkan ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan dari dirinya.
Sekolah tampak sepi hari ini , entah apa yang dilakukan oleh gurru-guru di sekolahnya menurut salah satu adik tingkatny semu guru sedang dipanggil oleh kepala sekolah untuk rapat secar dadakan.
Tentu hal ini membuat sakur begitu kesal, lebih baik hari ini ia membolos dan ke Konoh untuk menemani sahabatnya. Gadis bersurai pink dengan penjepit rambut kecil disisi kanan kepalanya mendesah pelan ,
" haaahh.. aku bosan " Ucapnya sembari meletakan kepala beratnya diatas meja
" Kau sedang apa? " Suara yang tidak asing membuyarkan pandnaganku
" Hei ino " sapaku
Gadis bersurai kuning pudar itu mendongakan kepalanya keatas seolah meminta kekuatan untuk berbicara. Sesekali tatapannya kembali ke pada sakura yang sangat jelas jika gadis merah muda itu sedang bingung.
" duduklah " Ucapku menarik kursi di sebelahku
" Oh.. haa –iya ku duduk " Ia tertunduk lesu
" Kenapa? "
"..."
" Ino? "
Sakura yang menganggap Ino menyebalkan mulai gusar dengan perilaku sahabatnya, hingga ia memutar mata nya bosan .
Angin kebetulan berhembus cukup kencang ,dan menerbangkan setiap daun yang jatuh berguguran . Suara Ino terdengar parau , hingga ia menjelaskan semuanya kepada diriku.
Sakura POV
aku sebal menilhat sahabatku memiliki ekspresi wajah yang jelek ,hey ayolah Ino kau mempunyai postur yang cukup baik untuk jadi model kenapa wajahmu seperti ini?
" ada apa? " tanyaku
" kau tak akan percaya ini "
Matanya menyiratkan keseriusan yang sangat dalam ,manik aquarimenya menatap intens jauh kedalam emerald milikku.
Seketika suasana kelas yang ramai tertutup oleh aura Ino yang menyedihkan, kau begitu menyebalkan ino, desisku pelan
" tolong jangan pasang ekspresi muka seperti itu, kau seperti ingin memakanku" ucapku sarkastis
" Sakura , kau harus mendengar ini "
" aku mendengarkan Ino, jangan membuatku kesal "
Telihat gadis yang tengah memutar bola matanya bosan memalingkan pandangannya kearah jendela kelas.
" Teika-kun "ucapnya pelan
" Tei-kun..? " aku mengeryitkan sebelah alisku
" Aku rasa , ada yang tidak beres denganya "
" Ya , aku tahu "
Aku menatap kosong langit-langit kelas, membuat pikiranku melayang sejenak untuk membayangkan sahabat kecilku. Entah beberapa hari ini aku lebih sering membayangkan hal tentang Teika daripada Sasuke . Yah, Sasuke aku juga merindukan dirinya . Sangat
Ino tetap duduk berhadapan denganku , ia pun juga tengah memandang langit-langit kelas yang tidak berdosa . kegaduhan kelas mulai bisa memasuki pendengaranku kembali , ah aku sudah tidak fokus ternyata .
Hingga suara melengking milik seseorang yang aku kena hinggap menggetarkan tulang pendengaranku .
" Ino..." Tenten berlari , seragamnya tampak kacau karena emm, mungkin kecepatan larinya begitu powerfull.
" Cepatlah , kau di tunggu Sai " Sahut tenten sembari menyambar tangan milik ino, membawa gadis bersurai kuning kusam itu melangkah menjauh dariku .
Sial, aku mengumpat pelan mengingat ada sesuatu hal yang harus Ino sampaikan kepadaku , dan sekarang Ia dengan santainya melenggang pergi bersama dengan Tenten .
Belum sempat aku menyambar tangan milikny, tenten berhasil membawa kabur sepenuhnya sahabatku .
.
End Sakura Pov
Entah akan kemana langkah kakiku membawaku pergi , Flat dan sekolah cukup membosankan untuk di singgahi . Aku masih belum bisa tenang mendengar kondisi Teika , seharusnya aku yang berda di sana, seharusnya aku yang menemaninya .
Mengingat kedua orang tua Teika yang sekarng lebih sering mengunjungi putra mereka, kekhawatiranku semakin mennjadi –jadi. Sakura paham betul bagaimana keluarga Teika , ia tak akn pulang semudah itu ketik kondisinya tidak darurat.
Dua hari , ya sekitar dua hari Teika tak membalas pesan singkatnya , sedangkan Sasuke ia menyatakan bahwa Teika baik-baik saja, ia berkata jika Sakura tidak perlu khawatir terhadap kondisi sahabatnya karena sasuke selalu ada di sana.
" Kau tak perlu berjalan sejauh itu Nona "
Suara barithon yang sangat familiar masuk ke dalam telinga sakura, menyapa lembut dengan suaranya yang khas dan selalu ia sukai.
" Sasuke-kun?"
Pemuda yang sekarang sudah berhasil kembali meyakinkan Sakura mendekati gadis itu dengan langkah jenjannya . Gadis dihadapannnya hanya tersenyum simpul dengan semburat merah yang masih tercipta jelas di pipi mulusnya . Kejadian beberapa waktu lalu mengingatkan Sakura akan hal yang tidak ia sangka , melakukan hubungan seks bersama kekasihnya hingga keduanya merasa terpuaskan .
" Jangan memasang wajah seperti itu , aku jadi ingin membuka kaki mu lagi " ucap Sasuke lembut di telinga kekasihnya
" Sas...sasu-ke kun hentikan " Dan yahh, sakura berhasil menjadi tomat rebus sekarang , sebuah candaan kecil ternyata sangat bekerja untuk dirinya.
" Kau begitu panas sayang waktu itu "
" Hentikan ini di tempat umum bodoh"
Sakura mendorong sasuke untuk menjauh , mengingatkan pemuda itu untuk tidak berbicara tentang hal konyol. Tindakan sakura tentunya mengundang tawa , anak bungsu dari Fugaku uchiha tersenyum lembut kearah sang kekasih .
" Ada apa kau kemari ? "
Tatapan tajam sakura menusuk onyx milik sasuke , seketika itu sang pemilik onyx menatap lembut gadisnya meraih jemari sakura untuk berada di genggamannya , membimbing gadis merah jambu itu untuk duduk di sebuah bangku di taman yang cukup sepi .
" Kau terlalu perasa Saku " Sasuke menghembuskan nafasnya kasar , membelai surai merah muda di sampingnya dengan lembut
" Teika – kun? " Sakura menatap pasir di sebelah kakinya, sepatunya bermain dengan pasr di sana , membuat lingkaran abstrak yang hanya sakura yang paham akan kebiasaan itu
" Dia hebat , bisa menahan penyakitnya selama beberapa bulan "
" Maksudmu? " kaki sakura terhenti dari aktivitasnya , menatap kekasihnya dengan wajah muram
Hati sakura begitu sakit, entah sasuke belum mengatakan apa-apa namun mengapa dirinya merasa sesakit ini . Pikirannya campur aduk , membayangkan sesuatu yang tidak mungkin bissa ia terima . Sahabatnya harus sembuh dan ia tiddak boleh pergi . Dan Saat itu juga Sakura curiga jika penyakit teika buknlah penyakit biasa.
" Kau menghwatirkannya seperti dia akan pegi dari dunia ini " Sasuke tersenyum innocent
" Tidak ! kau jangan bicara sembarangan "
" Bercanda Sakuu " jemari sasuke menyentil jidat lebar Sakura
" Katakan Sasu, " wajah cantiknya berubah menjadi sedih, menatap sang kekasih untuk meminta kejujuran di balik ony hitam miliknya.
" Anemia aplestik "
" Maksudmu ? " gadis di sampng sasuke hanya menatap dirinya bengong
" Teika mengidap penyakit itu sudah beberapa bulan, dan masf dia tidak bisa menceritakan ini kepadamu. Namun aku berfikir jika kau berhak mengetahui semunya. Kau sahabtnya "
" Sa-su-kee...aku takut " Badan gadis itu bergetar hebat, bagaimana bisa sahabatanya mengidap penyakit itu , dan bahkan berbulan-bulan yang lalu ia selalu menjaga Sakura dan berusaha bersikap seolah ia tidak terjadi apa-apa. Sakura kecewa , sakura marah dan saat itu juga ia meminta Sasuke untuk mengantarkannya ke flat sederhana miliknya.
Sasuke yang melihat peruahan ekspresi sakura hanya bisa diam, ia paham jika kekasihnya sedang dalam kondisi yang sedang tidak cukup bagus untuk diganggu.
Pemuda raven itu menyetir dengan kecepatan sedang ,hanya sepi yang tercipta , kedua insan yang berada di dalam mobil sedang bergulat dengan pikirannya masing-masing . Di sisi lain Sasuke merasa bersalah karena memberitahu Sakura tentang hal ini , dan ia mengutuk dirinya sendiri karena mengingkari janjinya dengan Teika .
Sasuke menghembuskan nafasnya pelan, sesekali melirik gadis di sampingnya yang sedang menggigit kuku kuku di ibu jari miliknya .
" Jangan lakukan itu, tanganmu kotor " Sasuke meraih jemari sakura dan menggengamnya erat "..semuanya akan baik-baik saja , aku janji "
Tidak ada jawaban , hanya anggukan lema dari Sakura yang ia dapatkan .
.
.
Sesampainya di flat , sakura bergegas untuk masuk kedalam kamarnya , menyiapkan koper dan beberapa pakaian yang nantinya akan ia gunakan . Tunggu ! sasuke yang melihat pemandangan itu menatap sang gadis heran .
" Saku apa yang kau lakukan ?" Sasukemencegah sakura mengemasi barangnya
" Aku tidak bisa berdiam diri di sini sedangkn sahabatku sedang berjuang di sana " suara sakura meninggi
" Tapi kau harus sekolah , ingat ? "
" Minggirlah Sasuke-kun , jangan sampai aku memaki mu " Aura disekitar gadis itu berubah menjadi suram , Sasukeyang menyadari itu hanya diam menatap sang kekasih yang sedang kalap .
Ia menelfon Ino , meminta tolong kepada sahabat kekasihnya untuk mengijinkan sakura bebeapa hari kedepan . Tentunya Ino yang mendengar hal itu merespon ucapan sasuke dengan berondongan pertanyaan yang sangat menyebalkan bagi pemuda bermarga uchiha itu .
.
.
" Tei-kun "
Sakura berlari menuju ranjang dimana sahabatnya tengah berbaring dengan tubuh yang lemas dengan wajah pucat . Bagaimana tidak Anemia Aplastik adalah suatu kondisi dimana sum-sum tulang tubuh berhenti memproduksi sel-sel darah baru yang cukup. Tidak seperti anemia pada umumnya, pada anemia aplastik ini tidak hanya sel darah merah yang berhenti produksinya, akan tetapi juga sel darah putih (leukosit) dan trombosit.
" Sakura-chan " Teika membelalaka matanya , mendapati sahabatnya yang kini tengah memeluknya erat.
Mata Hazel Teika menatap onyx sasuke yang sekarang tengah berdiri diambang pintu, kontak batin mereka seolah berkomunikasi satu sama lain . Mata sasuke berkilat mengisyaratkan permintaan maaf , sedangkan teika membalas tatapan maaf sasuke dengan senyum khasnya seolah berkata " Tak apa, mungkin sudah saatnya sakura tahu, atau aku akan dibenci olehnya "
Sasuke menatap punggung kekasihnya , gadis merah muda itu tetap berada dalam pelukan sahabatnya yang sedang berusaha menaham beban berat badan sakura . Pemuda itu memeluknya erat , seolah enggan melepaskan
" Kau bodoh atau apa hah ? "
Sakura melepaskan pelukan nya , kedua tangannya berada diantara kepala Teika , menatap sedih kearah pemuda dibwahnya . Beberapa kali tetesan air mata lolos dari mata sakura dan jatuh mengenai pipi sahabatnya.
" Jangan menangis "
Teika menatap intens manik emerald sakura, tangannya terulur menyeka air mata yang berhasil lolos dari manik indah gadis di depannya .
" Apa aku bagimu ? beginikah caramu menghargai persahabatan kita ? " Sakura menaham emosi yang akan meledak
" Maaf Saku-chan , hontounii gomennaa , gomennasai "
" Seberapa parah ? "
" Tingkat akhir " Teik berucap parau
Mata sakura membulat , kedua emarald indah miliknya melebar sempurna , kedua tanganya mencengkeram seprei putih yang tak berdosa. Hatinya sakit, rahangnya mengeras , sasuke yang menyadari hal itu mengusap punggung gadisnya lembut .
" jangan salahkan Teika, dia hanya tidak ingin kau khawatir " Sasuke berucap lembut
" Kau juga sama, kenapa kau tidak memberitahuku jauh-jauh hari, kalian sama saja . Dan kau , kau sahabatku tapi selalu bertingkah seolah tidak membutuhkan pertolongganku dan dukunganku , aku sebenanrnya sahabatmu atau orang asing bagimu ? " sakura histeris , tubuhnya lemas hanya air mata yang dapat berbicara akan perasaannya sekarang .
Sasuke dan Teika yang melihat pemandangan itu ikut teriris hatinya , melihat gedis yang mereka sayangi menjadi kacau dan tidak stabil.
" Jangan salahkan sasuke, aku yang memintanya untuk diam "
Teika meraih kedua tangan sakura, ia merubah posisinya menjadi duduk, di ikuti sasuke yang duduk di kursi penunggu pasien sembari mengacak rambutnya frustasi . Sakura yang terduduk lesu di bed milik teika hanya menatap kosong lantai rumah sakit .
"setidaknya bagi bebanmu tentang penyakit sialan itu denganku " ucap sakura lirih
" Maaf, "
"Bisakah kau berhenti mengatakan maaf, aku membencimu "
" Bencilah aku jika kau sanggup "bibir Teika melengkung, ekspresinya geli ketika menatap sahabatnya yang berkata akan membencinya
" fuck, sialan "
"Tidak ada yang mengajarimu mengumpat seperti itu " Sasuke menarik pipi gadisnya meninggalkan bekas meah di pipi sakura
Akhirnya suasana menjadi sedikit membaik, meskipun Teika masih bergulat dengan rasa bersalahnya ,dan sasuke masih memikirkan bagimana memabantu Teika untuk tetap sehat dan sakura? Yapp ia sedang membongkar kopernya memindahkan pakaian ke almari khusus penunggu pasien .
Teika yang menyadari perilaku sakura hanya menghelanafas pasrah, keinginan sakura untuk merawat Teika adalah mutlak tidak bisa dibantah oleh siapapun sekalipun itu kakaknya sendiri .
Sasori kebetuln datang hari itu, atas permintaan orang tua Teika yang sekarang sedang mengurusi rapat penting di inggris.
" Saku-chan , untuk apa semua itu "
" Diamlah Onii-chan "
Sasori yang mendapat jawaban tidak mengenakan dari sang adik mendadak bungkam , sedangkan Sasuke dan Teika hanya terkikik geli menatap ekpresi heran sasori .
Di saat seperti ini, Teika teringat sesuatu . Yah ketika Sakura sakit beberapa tahun yang lalu , Teika juga sangat keukuh untuk menjaga sakura selama ia sakit, bahkan ia tak perduli meskipun sasori dan ibu sakura menyuruhnyya untuk pulang .
.
.
Dokter dengan rambut abu-abu dengan name tag " Kabuto " sedang memerikasa berkas di meja nya . mencari sebuah nama pasien yang sekarangsedang ada dalam pengawasannya . Nampaknya sakura tidksulit bagi sakura untuk mendapatkan informasi tentang semua kondisi penyakit Teika.
" Haaaah, akhirnya kau mengetahuinya Haruno-san ?"
" Apa? " sakura cengo
" Kau tidak mengingatku ? kau jahat " Ucap dokter bernama kabuto
" Apa maksud anda ? "
" Aku dokter mu selama kau sering keluar-masuk rumah sakit karena tipus mu itu "
Sakura yang mendengar itu hanya ber oh ria , dan sedetik kemudian ia membulatkan matanya "Heeee? Apa anda bilang? Bodohnya aku . maafkan saya "
Kubuto yang melihat ekspresi manis mantan pasiennya hanya tertawa kecil , dan kemudian mengusap surai merah muda milik sakura.
" Aku dulu mengira kau akan menjadi pacar Teika, dan tenyata kau sudah memiliki kekasih lain " Kabuto tertawa keras
" Haah, bukan saya hanya sahabatnya dokter "
Sakura sedikit memperlihatkan senyuman manisnya kepada dokter dihadapannya .
Sedangakan kabuto , menatap intens manik emerald sakura dengan lembut ..
" Ne, Haruu—"
"Sakura... Sakura saja dokter "
" Oke Haru, eh Sakura-chan .. Sahabatmu harus segera mendapatkan pertolongan jika tidak nyawanya sedang dalam bahaya ."
Sakura yang mendengar itu merasa syok, jiwa nya seolah ingin keluar dari raganya dan kepalanya teras berat seolah ingin jatuh sekarang juga.
Tbc
