"...Jangan mati."
Kyuhyun menatap Sungmin dalam-dalam. Badai dan gemuruh harapan menyelimuti setiap debaran jantungnya saat ini. Ada keinginan yang kuat dalam mata itu, namun Kyuhyun masih melihat luka cukup dalam. Dan ketakutan...
Tak ingin dulu terfokus pada kalimat Sungmin, Kyuhyun meraih wajah itu dan kembali menikmati rasa manis dalam mulutnya. Rasa manis yang sangat ia rindukan, rasa manis yang begitu menghangatkan, dan mungkin untuk selamanya adalah yang Kyuhyun butuhkan. Ciuman mereka ringan seakan hanya ada ada keinginan penyatuan tanpa halangan. Gerakan mereka harmonis seperti lagu pengiringnya adalah rasa bahagia.
Namun semua itu hanya ada dalam mimpi. Walaupun sekarang keduanya mengakui, mereka tetap tidak sendiri.
"Kyuhyun..." sebuah suara menginterupsi, dengan nada putus asa, kecewa, dan mungkin tersakiti. Seohyun ada di sana, berdiri tepat di pintu masuk salah satu ruangan, dan gemetar. Tak pernah sekalipun terlintas walau hanya dalam mimipi ia dapat menyaksikan sesuatu seperti saat ini. Hatinya seketika hancur, serta hanya amarah yang keluar sebagai leburan dari banyak rasa pahit. "...apa yang kalian lakukan?"
Baik Sungmin maupun Kyuhyun cukup terkejut dengan kehadiran Seohyun. Tapi seperti telah lelah untuk bersembunyi dan pasrah dengan keadaan, mereka berdua melepas ciuman tanpa emosi. Masih saja terdengar manisnya decapan ketika saliva yang bertukar akhirnya kembali menjadi dua bagian, di mulut Sungmin dan mulut Kyuhyun.
"Hyun..." Kyuhyun lah yang memecah atmosfir kelam di sekitar wanita itu. "...tenanglah."
Seohyun tak percaya dengan reaksi yang kekasihnya tunjukkan. Seakan tak ada rasa bersalah. Kyuhyun seolah bersikap seperti serangan panik yang ia alami saat ini bukanlah kesalahannya. "Tenang?" air mulai mengalir dari sudut matanya. "Apa kau bisa menjelaskan bagaimana definisi 'tenang' itu?" Seohyun mulai menangis. "Aku melihat kekasihku mencium orang lain, dan kekasihku justru menyuruh untuk tenang. Bagaimana harusnya aku bersikap saat ini?"
Tak bedanya dengan Kyuhyun, Sungmin tidak sedikitpun memperlihatkan reaksi normal bagaimana seseorang tertangkap basah ketika berbuat salah. Sungmin hanya diam dan memandang ke arah lain, asalkan itu bukan dimana Seohyun berdiri.
Seohyun seperti tidak memiliki harapan ketika Kyuhyun tak beranjak untuk menghampirinya, atau setidaknya meredakan dengan sedikit sentuhan. Ia masih melihat lengan kedua pria itu bertaut tanpa keinginan untuk melepaskan. Ia tidak hanya merasa dikhianati, seluruh hidupnya bahkan disia-siakan.
"Aku akan menjelaskan semuanya—"
"Katakan kalau aku hanya salah paham." Seohyun mencoba peruntungan terakhir walaupun kemungkinannya tidak sampai satu persen. Namun ia tetap mencoba. "Katakan, Kyuhyun!"
Kyuhyun akhirnya berdiri dan menghampiri Seohyun. "Aku takut jawabannya 'tidak', Hyun. Aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih lama."
Wanita itu kini menangis lebih keras. Meratap. "Tapi rasanya sudah sangat sakit." Ia menyentuh dadanya. "Seperti ingin mati..."
"Kumohon jangan berkata seperti itu. Hyun... kau sangat tahu bagaimana aku bersikap padamu selama ini. Kaulah yang menginginkan aku untuk terus berada di sekitarmu, menjagamu. Aku merasa itu hal yang biasa dilakukan karena kita sudah berteman sejak lama."
"Tapi kau tahu bagaimana perasaanku, Kyuhyun."
"Aku tahu."
"Lalu mengapa kau melakukan semua ini padaku?!"
"Kau juga tahu bagaimana perasaanku." Kyuhyun membalas dengan sedikit berteriak.
Seohyun menggeleng. Kedua tangannya terangkat menutup telinga. Berharap tuli, berharap tak ada lagi kalimat-kalimat Kyuhyun tentang bagaimana pria itu tidak mencintainya terdengar. Karena sekalipun ia telah mempersiapkannya, Seohyun tahu melepaskan Kyuhyun dan mengetahui bahwa lelaki itu mencintai orang lain adalah hal paling menyakitkan ketimbang saat ibunya meninggalkan dunia.
Kyuhyun terus bicara, namun Seohyun semakin tidak ingin mendengar. Wanita itu akhirnya pergi dengan segudang luka.
"Kau tidak mengejarnya? Aku khawatir." Sungmin akhirnya bersuara. Masih tetap pada posisi semula. Hanya saja kini wajahnya terlihat lebih jujur. Khawatir—seperti yang baru saja ia katakan.
Kyuhyun hanya menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap Sungmin dengan pandangan sama. "Seohyun wanita yang kuat. Aku justru lebih mengkhawairkanmu." Lelaki itu kembali menghampiri dan membereskan semuanya. Memasukkan kembali botol-botol alkohol ke dalam kotak obat dan membuang kapas-kapas yang telah terpakai. Kyuhyun membelai wajah Sungmin dan tersenyum, "Tidur di rumahku malam ini."
Sungmin sudah akan menolak ketika Kyuhyun melanjutkan, "...please."
;;;;;
Amber terlihat seperti sesuatu mengganggunya. Ia tidak berhenti memandang berkeliling seperti mencari sesuatu—seseorang.
"Ada apa?" eunhyuk yang terus berada di sampingnya merasakan kegelisahan Amber.
"Aku tidak melihat Kyuhyun hyung, Seohyun, dan Sungmin hyung. Dimana mereka?" kekhawatiran melanda. Amber sudah tidak bisa menikmati suasana pesta.
"Kyuhyun dan kekasihnya mungkin pergi lebih awal untuk merayakan kemenangan. Lebih pribadi. Dan Sungmin... kurasa ia sudah pulang. Kondisinya tidak begitu fit saat berangkat tadi." eunhyuk menyesap minuman dinginnya tanpa ekspresi.
"Sungmin hyung sakit? Dan kau membiarkannya pulang sendiri?" Amber sedikit kesal dengan sikap eunhyuk malam ini. Pria itu seperti tak peduli bahkan saat Sungmin terlihat menyendiri diantara banyak tamu undangan.
Eunhyuk merasa terganggu dengan cara Amber memandangnya. "Jangan tatap aku seperti itu. Sungmin sudah cukup dewasa untuk bepergian kemanapun sendiri." Ujarnya membela diri.
"Bukan hal itu yang terpenting. Apa kau tidak merasakan Sungmin hyung sangat murung akhir-akhir ini?" Amber kemudian berpikir sejenak dan akhirnya menyadari sesuatu. "Ah, dan ada apa dengan kalian berdua? Saat aku pertama kali berkunjung ke rumah kalian, menatapmu adalah hal yang paling kuhindari. Karena kau seperti bersiap menusukku dengan pisau atau apa jika aku melakukan sesuatu yang buruk kepada Sungmin. Matamu terlihat sangat waspada. Tapi sekarang... kau seperti mengabaikan adikmu sendiri. Apa kalian bertengkar?"
Eunhyuk tahu Amber bukan gadis bodoh. Lambat laun ia akan menyadari suasana tidak harmonis antara dirinya dan sang adik. Namun Amber bukan seseorang dalam daftar yang harus ia beri penjelasan mendetail. "Sungmin yang menginginkan semua ini. Aku mungkin terlalu berlebihan menjaganya, hingga lupa bahwa ia juga harus berkencan." Lelaki itu menyebut kata 'kencan' dengan dingin.
"Berkencan? Sungmin hyung memiliki kekasih?"
Amber tahu pertanyaannya cukup bodoh. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana sebuah hubungan yang melanggar norma terpampang jelas di hadapannya. Sebuah keintiman yang seharusnya menjadi sebuah romansa manis seperti dalam drama. Kyuhyun dan Sungmin. mungkinkah mereka benar-benar menjalin hubungan yang sangat serius? Amber bahkan tidak berani meyakini semuanya.
"Aku tidak ingin ikut campur." Eunhyuk mulai terganggu dengan pembicaraan saat ini.
Amber menyadarinya dan memilih berhenti. Namun pertanyaan tentang apakah eunhyuk tahu siapa seseorang yang tengah menjalin hubungan dengan Sungmin terus menggangunya. Kemudian akankah Sungmin memberitahu semua jika dirinya bertanya? Gadis itu tanpa sadar memijat keningnya sendiri.
"Kau baik-baik saja?" eunhyuk yang terus mengawasi Amber melihat hal itu. "Jangan katakan kau mabuk hanya karena minuman ini. Kau bahkan tidak menyentuh anggurnya sama sekali."
Amber menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Hanya merasa bulu mata palsu ini semakin berat. Aku seperti ingin memejamkan mata walau sejenak. Bagaimana bisa wanita lain bertahan seharian penuh dengan riasan seperti ini? Wajahku juga sudah seperti sulit bernapas."
Eunhyuk hanya menggeleng melihat tingkah polos Amber.
;;;;;
Sungmin langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa besar dalam ruangan Kyuhyun. Rasanya lebih nyaman dan bersih dibandingkan kunjungan sebelumnya. Ia berasumsi bahwa Kyuhyun akhirnya menyewa seseorang untuk membersihkan apartemennya setiap hari.
"Apa kau ingin kubuatkan sesuatu? Coklat hangat misalnya?" Kyuhyun menawarkan diri sembari menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Kau tahu aku hanya butuh segelas air dan beberapa pil." Sungmin menjawab masih dengan memejamkan mata.
Kyuhyun berhenti saat akan melangkah ke dapur kecilnya. "Aku tidak memiliki yang seperti itu di sini."
Sungmin menghela napas panjang beberapa kali. "Jangan mengelak. Aku tahu kau mengambilnya saat aku berada di sini terakhir kali. Kuharap kau tidak membuangnya."
Pria itu terlihat sedikit gugup. Namun masih cukup hebat untuk mengendalikan ekspresinya. "Kau tidak memerlukan obat itu saat bersamaku."
Keheningan cukup lama tercipta saat akhirnya Sungmin menyerah untuk berdebat dan lebih memilih mengistirahatkan pikiran ketika Kyuhyun sibuk mempersiapkan sesuatu di dalam dapur. Bukan hal yang spesial, namun mungkin cukup pantas untuk disebut makan malam.
Pria itu mengeluarkan beberapa makanan siap saji dari dalam kulkas. Microwave adalah benda paling menolong untuk ukuran pria yang sama sekali tidak bisa membedakan gula dengan penyedap rasa. Kyuhyun hanya perlu menempatkan semua di dalam mangkuk dan memasukkannya ke dalam kotak 'ajaib' itu. Kemudian semua beres.
Dirinya hanya perlu berkonsentrasi menyiapkan minuman coklat manis untuk Sungmin. Walau bagaimanapun, setidaknya Kyuhyun harus melakukan yang terbaik untuk sesuatu yang Sungmin sukai—atau mudah-mudahan Sungmin masih menyukainya.
Kyuhyun tersenyum ketika mendapati Sungmin sudah duduk di dekat meja dapurnya. "Kupikir aku harus melakukan sedikit cara ekstrim untuk membangunkanmu. Tapi kau beruntung karena sudah di sini."
Sungmin tidak menyahut. Ia kemudian hanya menikmati apapun yang tersedia di meja dalam diam. Sebelah tangannya bahkan terus menggenggam segelas besar coklat hangat yang dibuat Kyuhyun seperti takut seseorang akan mencurinya. Entah kapan terakhir kali Sungmin mengisi perut dengan makanan normal. Ia merasa kehilangan banyak energi. Dan kini Sungmin berniat menghabiskan semua hingga perutnya meledak.
"Perlahan. Kau bisa tersedak." Cara Sungmin makan saat ini mengingatkannya pada sepuluh tahun silam. Ketika Sungmin berada dalam masa sulit mengumpulkan uang untuk biaya sekolah. Kyuhyun selalu menyisakan sedikit uang beasiswanya untuk membeli makan malam Sungmin. Yang pada akhirnya ia ketahui makanan-makanan itu adalah satu-satunya makanan normal yang Sungmin dapat. Sungmin seperti anak jalanan yang makan dan minum apa saja, dimana saja. Namun walaupun begitu, Sungmin tidak pernah mengucapkan terima kasih. Pemuda itu seperti menempatkan Kyuhyun kalau apa yang ia lakukan adalah suatu kewajiban. Seperti orang tua kepada anaknya. Sehebat apapaun keduanya bertengkar, Sungmin masih akan terus makan apapun yang Kyuhyun bawakan.
Sungmin berhenti saat ia benar-benar merasa ingin muntah. Namun karena telah terlihat biasa saja, Kyuhyun sama sekali tidak menyadari bagaimana pemuda itu menahan diri untuk mengeluarkan kembali semua yang ada di perutnya. "Apa kau punya soda?" tanyanya.
Kyuhyun menggeleng. "Hanya ada setengah lusin kaleng bir di kulkas. Ah, tapi rasanya aku masih memiliki lemon. Kau mau?"
Sungmin mengangguk cepat.
...
Tidak ada yang lebih buruk selain memuntahkan semua makan malammu ke dalam toilet. Sungmin berusaha keras untuk membuat makanan itu tercerna dengan baik di dalam perut. Ia bahkan menghabiskan dua cangkir air perasan lemon yang Kyuhyun buat untuk meredakan mual. Namun semua itu gagal setelah dua jam Sungmin bertarung dengan rasa tidak nyaman di dada dan perutnya.
Kyuhyun ada di sampingnya. Dan melihat bagaimana tersiksanya Sungmin karena semua makanan yang seharusnya bisa menjadi energi baru kini terbuang sia-sia. "Seharusnya kau tidak makan terlalu banyak. Perutmu belum beradaptasi kembali dengan tata cara makan seperti itu." ia terus mengusap punggung Sungmin. Berharap bisa meredakan rasa tidak nyaman itu.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Sungmin.
;;;;;
Kyuhyun berjalan menyusuri koridor gedung. Kini tidak hanya orang-orang dari dalam divisi yang menunduk saat berpapasan dengannya di jalan. Semua karyawan melakukannya. Cho Kyuhyun kini adalah direktur utama Hyung Seung Chemical, dan tentu saja semua orang akan memperlakukan ia sebagaimana mestinya.
Interior dan perabot yang tidak jauh berbeda dari ruangannya sebagai kepala divisi, namun terlihat lebih megah dan beraura kekuatan besar ketika papan nama di atas meja menunjukkan jati dirinya. Nama Cho Kyuhyun terpampang jelas dan elegan di sana.
Sudah seminggu sejak ia dinobatkan sebagai direktur utama salah satu anak perusahaan terbesar dari Diamond Group. Kyuhyun mulai menapaki jalan yang sudah ia susun sejak pertama kali bergabung di Hyung Seung. Ia memastikan tidak ada lagi penghalang atau sesuatu di tengah-tengah yang mungkin mengharuskannya berbelok, atau yang lebih parah, berbalik untuk kembali.
Dua jam kini ia habiskan untuk mencorat-coret beberapa dokumen. Kemudian ia melihat ke dalam jam tangan sebelum berkata, "Sudah saatnya."
...
Ruangan beberapa divisi kini dihebohkan dengan kedatangan kelompok orang yang tiba-tiba masuk dan menunjukkan surat perintah penggeledahan. Tim kejaksaan Seoul datang dan mengumpulkan semua dokumen dari beberapa divisi Hyung Seung Chemical terkait dengan laporan melalui pesan surat kaleng dan berisi dokumen penyelewengan dana dari project.
Tidak ada yang menyadari. Tidak ada yang bersiap. Semua orang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lobi informasi mulai ramai oleh dering telepon dari banyak media berita. Orang-orang sudah berkumpul di depan gedung untuk mendapatkan berita tentang penggeledahan salah satu perusahaan penyokong terbesar dari Diamond Group.
"Apa yang terjadi?" walaupun masih berada dalam posisi tegar, Zhoumi terlihat seperti bersiap untuk melumat gerakan apapun yang mengganggunya saat ini. Ia datang bersama para penasihat Group dan seorang pengacara. Dan di sana juga berdiri Kyuhyun. "Aku bertanya padamu."
"Apa yang kau harapkan dari seorang direktur baru perusahaan? Aku baru satu minggu menjalani tugas dan harus menghadapi semua ini. Apa kau tidak takut aku berbalik menuduhmu karena telah menjadikanku kambing hitam dengan sengaja? Apa yang terjadi di balik kemegahan perusahaanmu sebenarnya?" Kyuhyun menatap dengan dingin orang nomor satu Diamond Group itu. Nada suaranya jelas bahwa pria tersebut merasa dikhianati.
Zhoumi tetap bergeming. Semua benang merah terasa kusut di kepalanya. Ia sama sekali tidak menemukan akar permasalahan dan siapa yang melakukan semua ini. Hanya satu yang terlintas, jika semua ini terjadi karena dendam, terlalu banyak nama untuk ditelusuri.
Tapi Zhoumi memikirkan satu nama. Tidak. Lebih tepatnya satu titik sasaran. Lee bersaudara. Mungkin Lee Sungmin tidak berbahaya, tapi kakaknya akan mampu melakukan segalanya.
Pria itu tidak pernah berpikir eunhyuk akan menggunakan kesempatan untuk mengumpulkan 'senjata' penghancur bagi siapapun yang menghalangi rencananya memiliki Hyung Seung. Sebenarnya berapa besar arti anak perusahaan ini baginya? Zhoumi bahkan telah bersiap memberikan sesuatu yang tidak jauh berbeda. Bangkai busuk apa yang sudah terkubur di bawah perusahaan ini? Semua itu hanya terjawab jika saja dirinya tidak menjadi pengecut untuk mengetahuu lebih banyak apa yang ayahnya lakukan untuk membuat pondasi perusahaan ini begitu kokoh.
"Aku tidak menuduhmu, Kyuhyun. Kau bisa percaya padaku bahwa tidak ada sedikitpun niat untuk menaruhmu dalam situasi seperti ini. Aku bahkan butuh penjelasan untuk apa yang sudah terjadi." Zhoumi beralih pada penasihatnya. "Tuan Shin. Kurasa aku harus menemui ayah. Sesegera mungkin siapkan perjalanan tercepat yang tersedia."
Pria paruh baya itu langsung mengangguk patuh dan keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah.
Kemudian kini pada sang pengacara. "Bagaimana perkembangan penyelidikan yang dilakukan?"
"Untuk saat ini divisi perencanaan lah yang menjadi sasaran utama. Tuan Lee Sungmin ada dalam daftar interogasi. Mungkin hanya butuh beberapa jam untuk membuat dirinya diundang ke kejaksaan." Sang pengacara menjelaskan dengan rinci.
"Lalu Lee yang satunya?"
Pria berkacamata tebal itu sejenak mengerutkan kening, memikirkan siapa yang dimaksudkan oleh Presdir. Tapi kemudian merubah ekspresi wajah saat mengingat sesuatu, "Ah, maksud Anda Lee Hyukjae? Semua anggota divisi akan dipanggil. Tapi mengingat masa kerjanya yang masih seumur jagung, kejaksaan mungkin tidak akan bertanya terlalu dalam."
Bukan itu permasalahannya. Zhoumi bahkan memikirkan hal terburuk yang mungkin akan terjadi jika ia membiarkan eunhyuk diinterogasi. "Apa kau bisa sedikit menggunakan pengaruhmu di kejaksaan? Kudengar kau berteman baik dengan kepala penyelidikan di sana."
Sang pengacara kembali terlihat bingung. "Saya tidak mengerti—"
"Singkirkan Hyukjae dari daftar orang yang akan diinterogasi. Perusahaan ini belum mengangkatnya secara resmi. Pengadilan tidak bisa memasukkannya sebagai 'bahan' bukti."
Kemudian hanya berselang beberapa menit, akhirnya Kyuhyun dan Zhoumi hanya berdua di dalam ruangan.
"Kyuhyun-ah... aku ingin minta bantuan sebagai kakak dari sahabat masa kecilmu. Kumohon pikirkan masa depan macam apa yang akan kau hadapi jika perusahaan ini hancur. Pikirkan bagaimana aku dan Amber akan hidup nanti. Sungmin dan eunhyuk adalah duri dalam daging perusahaan ini. Kau tahu apa yang harus kau lakukan pada mereka berdua. Kau bisa memenangkan diri Lee Sungmin, dan kuharap kau juga bisa mengedalikan kakaknya."
;;;;;
Kyuhyun mengendara dengan kecepatan tergila dalam hidupnya. Ia marah, merasa terhina, dan bahkan unuk alasan yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan. Tepat di hadapan batang hidungnya, Zhoumi dengan jelas meminta ia untuk menyingkirkan dua Lee bersaudara. Rencananya sejauh ini berjalan dengan mulus. Namun serupa dengan apa yang diucapkan sang presiden direktur, baik Sungmin ataupun eunhyuk adalah duri dalam daging. Tapi perbedaannya adalah definisi 'menyingkirkan' yang dimaksud Zhoumi dengan Kyuhyun.
Ia tidak akan membiarkan Zhoumi menyakiti Sungmin walaupun itu harus membiarkan eunhyuk bertarung sendiri di dalam arena yang sudah Kyuhyun persiapkan. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah pertarungan yang hanya akan membuat keduanya kalah. Karena 'ending' dari drama ini sudah ditentukan dan tidak akan dapat dirubah oleh siapapun.
"Kyuhyun?" Sungmin sedikit terkejut dengan tamu tengah malamnya.
Kyuhyun tidak ingin berbasa basi mengucapkan selamat malam atau semacamnya. Pria itu masuk bahkan sebelum diundang. Menarik diri Sangmin dalam dekapan dan menumpahkan segala beban yang ada dengan begitu egois. "Berjanjilah padaku. Jangan lakukan apapun. Diam di tempatmu dan tunggu aku menyelesaikan semuanya. Aku harus melakukannya, Sungmin. Kau masih ada di pihakku bukan?"
Sungmin tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kejadian pagi ini di perusahaan sudah pasti ulah Kyuhyun. Entah apa dan bagaimana pria itu merencanakan semuanya. Tapi sejauh ini eunhyuk tidak berbohong. Kyuhyun benar-benar akan menghancurkan Hyung Seung. Orang yang tengah memeluknya ini tidak akan berhenti sampai kapanpun.
"eunhyuk pergi. Dan aku tidak tahu dimana ia berada saat ini. Aku mengkhawatirkannya." Sungmin hampir menangis dalam pelukan Kyuhyun. Seperti apa yang seharusnya terjadi pada batu bara saat berhasil memberikan kekuatan pada kapal besar. Dirinya melemah dan hanya menunggu waktu sampai ia benar-benar hancur dan menjadi abu.
Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Ia tahu Sungmin bahkan mulai tidak bisa berdiri dengan kekuatannya sendiri. Mengapa ia harus mencintai Sungmin dan membalas dendam dalam satu proses yang bersamaan? Dapatkah ia memisahkan keduanya? Sungmin harus tetap bersamanya.
"Jangan libatkan kakakku. Kau harus tahu betapa menderitanya eunhyuk untuk membuat hidup kami tidak lagi terinjak. Kau harus tahu betapa keras ia berusaha berdiri dalam dendam kami."
Kyuhyun menatap Sungmin yang tidak lagi fokus. "Sungmin? Kau baik-baik saja?"
"Jangan libatkan kakakku." Sungmin mengulangi dengan air mata. "Kumohon."
Beribu rasa yang mereka hadapi kali ini hanya membuat rasa sakit kian bertambah. Tapi keduanya masih memiliki cinta. Tidakkah cukup? Bukankah Tuhan menciptakan rasa cinta untuk menghilangkan dendam? Tapi mengapa tidak berlaku untuk diri Kyuhyun, eunhyuk, dan juga Sungmin? Apa yang sudah mereka lewatkan hingga teori itu tak lagi berlaku?
Kyuhyun membawa dirinya dan Sungmin dalam satu tarian hangat dengan malam dan sunyi sebagai saksi. Untuk yang kesekian kali dan entah apakah untuk yang terakhir kali. Tubuh mereka menyatu tanpa penghalang. Banyak emosi tertumpah, dan banyak rasa sakit mereka lepaskan. Sungmin tidak lagi menahan diri dan terus mendesah—bahkan berteriak ketika Kyuhyun tidak lagi peduli dengan seberapa cepat hantaman dalam tubuh di bawahnya. Kyuhyun mungkin sudah gila saat menginginkan lagi dan lagi suara Sungmin memanggil namanya dengan nada serak dan puncak tak tertahankan. Terus dan terus... hingga lantai dingin tak luput dari gulatan, desahan, bahkan cairan peluh dan gairah.
Sungmin tak pernah bisa mengistirahatkan jutaan otot-otot pada tubuh bagian bawahnya. Ia lelah membuka kakinya dan bertahan dalam posisi itu. Namun seperti halnya Kyuhyun, Sungmin juga menginginkan lagi dan lagi. Dirinya bahkan hampir yakin bahwa kematiannya akan datang saat itu juga. Ketika malaikat maut mencabut nyawamu dalam keadaan kotor, bukankan tak akan ada tawar menawar untuk segera menjebloskanmu ke adalam neraka terdalam?
Dua napas dalam satu nada, campuran peluh, dan sperma. Dosa mereka sungguh besar atas nama cinta terlarang.
Kyuhyun menatap Sungmin yang terlelap dengan banyak bekas air mata. Saat itulah dirinya benar-benar menangis. Begitu berat beban atas masa lalu sambil menuntun cinta dari orang terkasih di hadapannya sekarang.
;;;;;
"Kau yang melakukan semua ini, kan? Katakan eunhyuk!"
Zhoumi semakin meradang saat mendengar kekehan dari orang di seberang sana. Ia tidak menyangka eunhyuk bahkan berani menghubunginya lebih dulu.
"Aku tidak tahu kalau kau terlalu naif, Zhoumi. Apa kau benar-benar berpikir semua ini adalah perbuatanku?" eunhyuk tertawa lagi. "Tapi aku menghargainya. Rasanya tidak buruk saat melihat kalian menjadi berita utama di setiap media. Pengaruhnya benar-benar besar."
"Kau ada di mana?"
"Aku? Tidak jauh." Eunhyuk merubah nada suaranya menjadi lebih berat dan serius. "Dan jangan pernah berpikir aku tengah melarikan diri. Kau sangat tahu aku tidak akan pernah melakukan itu sampai mendapatkan apa yang kuinginkan. Dan kupastikan akan benar-benar memanfaatkan arena pertarungan yang sudah disiapkan oleh siapapun di luar sana."
"Apa kau sedang bicara dengan Zhoumi?"
Zhoumi seakan kehilangan kesabarannya ketika mendengar suara Amber di sana. Gadis itu tengah bersama dengan eunhyuk. Apa yang harus ia lakukan? Jadi maksud pesan singkat yang adiknya kirimkan malam tadi adalah dia mulai berkencan dengan eunhyuk?
"Tidak. Hanya rekan kerja."
"Wanita?"
"Kau cemburu?"
"Kupastikan kau tidak akan bisa merasakan wajahmu jika ketahuan berselingkuh."
Kemudian terdengar tawa ringan dari pria itu. Zhoumi tidak lagi menduga. Semua sudah jelas.
"Aku akan menghubungimu lagi. Semoga harimu menyenangkan."
Zhoumi merasa dirinya adalah orang paling bodoh di dunia saat ini. Bagaimana bisa semua usahanya untuk yang terbaik kini berbalik menjadi sebuah bencana. Dan satu hal lagi, ia benci kenyataan bahwa eunhyuk sama sekali belum mengakui bahwa skandal tentang pencucian dana kompensasi bagi para korban tragedi di pabrik Hyung Seung Chemical bertahun-tahun lalu serta data-data penggelapan uang kesejahteraan para buruh adalah ulahnya.
Dan saat ini. Masalah terbesar adalah adiknya.
Zhoumi memijat keningnya saat memutar kembali pembicaraan singkat dengan Amber.
"Kurasa aku mencintainya."
Ia sama sekali tak menyadari jika pria itu adalah eunhyuk. Bukan Sungmin.
...
Belum sempat pria jangkung itu menenangkan diri, pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Donghae muncul dari sana dengan amarah yang mungkin hampir meluap. Sikapnya dapat segera diprediksi saat lelaki itu menarik kerah baju Zhoumi.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Donghae bertanya dengan geram.
"Amber?"
"Kau pikir aku tertarik dengan masalah lain selain adikmu?!" Nada suara itu sudah meninggi. Mungkin hanya butuh sedikit konfrontasi untuk bisa membuat Donghae menghajar Zhoumi. Pria itu mungkin lebih tinggi, tapi Donghae terlihat lebih kuat darinya.
"Semua ini tidak akan terjadi jika kau menerima tawaranku sejak lama. Kini kau kehilangan Amber, dan aku hampir kehilangan perusahaan. Apa itu cukup?"
Donghae melemah. Mungkin benar bahwa semua ini berawal dari sikapnya yang pengecut. Hyung Seung Chemical seharusnya ada dalam tanggung jawab pemuda itu. Namun karena dosa besar yang dilakukan orang tuanya, ia bahkan membenci apapaun yang berhubungan dengan semua. Bahkan memutuskan untuk tidak terlibat sedikitpun. Donghae melepaskan Hyung Seung. Dan kini 'mahkota' besar itu diperebutkan. Entah untuk dimiliki seutuhnya, ataupun dibinasakan.
"Aku akan mencari Amber. Jangan pernah memintaku untuk terlibat dalam masalah perusahaan. Aku tidak ingin ikut dihukum akibat keserakahan para orang tua."
Kemudian Donghae pergi tanpa bermaksud mendengarkan apapun lagi yang keluar dari mulut Zhoumi.
;;;;;
Kyuhyun tahu ia berbohong pada Sungmin untuk tidak melibatkan eunhyuk. Bukan kesalahannya jika orang itu masuk tiba-tiba dalam rencana yang sudah ia persiapkan sejak lama. Eunhyuk hanya tidak beruntung jika menjadi kambing hitam atas perbuatannya saat ini. Sudah tidak akan bisa dicegah jika Zhoumi sudah benar-benar mempercayai pikirannya sendiri bahwa eunhyuk adalah dalang dari semua ini.
Kecuali jika dirinya mengaku.
"Hentikan. Kakakmu akan baik-baik saja." Kyuhyun merebut ponsel dari tangan Sungmin. Sudah hampir satu jam pemuda itu mencoba menghubungi sang kakak. Namun eunhyuk seperti hilang ditelan bumi.
"Kau tidak ke kantor?" Sungmin bertanya seolah ia merasa terganggu dengan adanya Kyuhyun di rumah. Benar-benar melupakan apa yang sudah terjadi semalam.
"Kau sendiri?" Kyuhyun mencoba bersikap biasa walaupun menyebalkan mengetahui suasana hati Sungmin selalu berubah dengan cepat.
Pemuda itu terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun. Berharap jawabannya nanti tidak akan membuat Kyuhyun menemukan pertanyaan lagi. "Aku mengambil cuti sementara waktu sampai kejaksaan memintaku datang untuk memberikan keterangan."
Entah hanya perasaannya sendiri atau memang Sungmin tengah menyembunyikan sesuatu. Kyuhyun melihatnya lebih santai pagi ini. Mereka bahkan mengobrol seperti pasangan normal tanpa masalah tentang perusahaan atau semacamnya. Di satu sisi hal ini membuat Kyuhyun senang, karena setidaknya ada sedikit masa dimana mereka tak harus memikirkan apapun selain hubungan ini. Namun di sisi lain, semuanya tidak akan sesederhana itu.
Kyuhyun akhirnya beranjak untuk memakai pakaian lengkapnya. "Baiklah, tidak menyenangkan bicara denganmu jika seperti ini. Aku tahu kau gugup dengan interogasi itu. dan perihal eunhyuk, kurasa dia sedang berlibur bersama Amber. Jangan terkejut. Mereka berpacaran saat ini. Aku tidak tahu apakah ada maksud lain dia mendekati adik presdir atau mereka benar-benar berkencan."
Sungmin diam. Kemungkinan pertama lebih besar. Ia sangat mengenal eunhyuk.
"Kau mandi. Lalu sarapan. Pergilah berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran. Kemana saja selain rumah sakit. Kau sudah tidak memerlukan anti depresi atau semacamnya lagi. Jadi jangan coba-coba membelinya secara diam-diam. Hubungi aku jika kau perlu dijemput." Kyuhyun mengucapkan serentetan pesan sebelum dirinya berangkat kerja.
"Aku bukan anak kecil. Pergilah." Pesan-pesan Kyuhyun cukup mengganggunya.
Kyuhyun memberikan kecupan singkat untuk Sungmin, "Sampai bertemu nanti."
Pria itu sudah akan keluar kamar saat Sungmin mengatakan sesuatu, "Jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Kau tidak akan tahu kapan eunhyuk akan kembali."
Kesunyian beberapa detik sebelum Sungmin melanjutkan.
"Aku yang akan datang ke rumahmu."
;;;;;
Penyelidikan terhadap Hyung Seung Chemical terus berjalan. Beberapa isu bahkan menyebutkan jika orang pengadilan tidak akan memerlukan waktu lama karena setiap hari akan datang bukti-bukti melalui surat kaleng. Sudah beberapa kali petugas mencoba menelusuri siapa pengirimnya. Namun tetap nihil karena pelaku terlihat begitu ahli.
"Terima kasih atas waktunya, Tuan. Aku akan memulai dengan pertanyaan dasar. Kuharap kau bisa bekerja sama."
"Aku siap."
"Nama?"
"Sungmin. Lee Sungmin."
...
"Kecelakaan yang terjadi di pabrik Hyung Seung murni adalah akibat tidak teraturnya kontrol setiap instalasi baik mesin-mesin besar ataupun fasilitas bagi buruh. Jaminan kesehatan terlalu kecil untuk satu jiwa yang mungkin akan terkena dampak langsung dari bahan-bahan kimia fabrikasi. Bahkan beberapa saksi mengungkapkan pernah melihat buruh yang meninggal karena komplikasi saluran pernapasan karena kanker. Kondisi minimnya perlengkapan keamanan bagi setiap pekerja memperkeruh semuanya. Lalu kebakaran besar itu merupakan puncak."
Zhoumi tahu permasalahan mengenai keselamatan kerja karyawan sudah sejak lama ia bereskan. Namun akibat penyelidikan ini, mulai bermunculan korban-korban dari masa lalu yang ia sendiri bahkan tidak tahu berapa banyak.
Tapi ia beruntung karena Kyuhyun cukup pandai bernegosiasi hingga tidak banyak kehilangan para investor yang mulai ketakutan akan jatuhnya perusahaan. Para dewan direksi dari banyak anak perusahaan juga mulai melakukane hal serupa.
Zhoumi bahkan terlihat lebih bodoh saat mempercayai Kyuhyun.
"Kyuhyun. Apa yang akan kau lakukan jika salah satu dari keluargamu adalah jorban dari kecelakan Hyun Seung beberapa tahu lalu? Apa kau juga akan datang menuntut kami?"
Kyuhyun menghentikan kegiatan mengamati angka bursa saham melalui ponselnya. Pertanyaan yang cukup memancing. "Tentu saja." Jawabnya singkat.
"Namun bukankah dengan begitu tidak akan mengembalikan hidup para korban?" Zhoumi memandang langit-langit ruang tamunya. Kini kedua orang itu berada di kediaman Zhoumi. Kyuhyun diundang untuk sekedar menikmati anggur mahal.
"Mungkin terdengar naif jika orang-orang itu menginginkan keadilan. Permasalahannya adalah, uang tidak akan selalu menjadi definisi 'adil' bagi semua." Kyuhyun menyesap sedikit demi sedikit aroma pekat yang kompleks dari minuman fermentasi di tangannya.
"Lalu... apa yang kau inginkan?" Pertanyaan Zhoumi seperti tepat ditujukan kepada Kyuhyun.
"Aku hanya ingin menghancurkan semuanya. Hingga tidak ada lagi yang tersisa untukku bisa mengingat bagaimana rasanya kehilangan."
Zhoumi terkejut dengan jawaban Kyuhyun. Seperti semua datang dari lubuk hati terdalam. Atmosfer ketidaknyamanan cukup terasa meskipun mereka bearada dalam ruangan cukup mewah dengan banyak fasilitas. Dalam keadaan normal, seharusnya ruangan tersebut adalah yang paling bisa membuat seseorang terlelap.
"Jika saja orang yang saat ini berada di balik semua kekacauan berpikir sama sepertimu. Kurasa aku benar-benar akan hancur."
Ada seringaian pahit yang sama sekali tidak tertangkap oleh Zhoumi di ruangan itu.
;;;;;
Amber memeluk sang kakak tepat setelah kakinya menginjak tanah pekarangan rumah. Tidak berapa lama eunhyuk dengan kacamata hitamnya mengikuti dari belakang.
"Aku membelikanmu banyak hadiah. Tidak mahal memang. Tapi kurasa kau akan suka." Amber bicara riang. Dan Zhoumi hanya bisa tersenyum. Sebagian hatinya lega mendapati Amber pulang dan memeluknya. Namun sebagian lagi masih sangat khawatir jika ini adalah permulaan.
"Kau pasti lelah. Istirahatlah." Ujar Zhoumi membelai wajah adiknya. "Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya." Ia menunjuk eunhyuk.
Amber terlihat berpikir, kemudian mengangguk. "Do not talk about me, okay?" setelah mendapat anggukan mantap dan melambai pada eunhyuk, gadis itu berlari menenteng barang bawaannya menuju kamar.
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua sikapmu. Kita harus menyelesaikan semuanya. Kau menginginkan Hyung Seung, bukan? Baik. Aku akan memberikan semuanya. Hentikan semua permainanmu dan buat keadaan kembali normal. Juga... jauhi adikku."
Eunhyuk hanya terkekeh mendengar perkataan Zhoumi. Ia berpikir betapa bodohnya orang ini. "Jadi kau masih berpikir akulah dalang dari semua kekacauan ini." pria itu menggeleng tak percaya. "Aku kasihan padamu."
"Apa maksudmu?" Zhoumi kembali dilanda kebingungan. Amarah kembali tersulut.
"Pikirkan lagi. Aku begitu menginginkan Hyung Seung dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tapi saat ini? Perusahaanmu hampir hancur. Aku tidak akan sebodoh itu menghancurkan semuanya. Mendiang orang tuaku begitu ingin kami membangun suatu yang besar di sana. Jika ingin, aku hanya perlu melenyapkan bangunannya, bukan 'nama'nya."
Eunhyuk diam sejenak hingga Zhoumi dapat melihat emosi di matanya yang berembun. "Lee Hyun Seung. Nama ayahku akan terus hidup. Dan aku hanya perlu menyingkirkan tangan-tangan kotor Diamond dari sana. Termasuk pengaruh ayahmu. Perusahaan itu milikku, milik kedua orang tuaku. Ingat. Itu. baik-baik."
"..."
"Mulailah dari orang yang kau banggakan, Zhoumi. Mungkin saja ada luka yang telah kau lewatkan di sana."
;;;;;
Sungmin why?
Kyuhyun why?
And where is Seohyun? *slaped
Hmm... another boring chapter. Sorry. But, thought that i did reveals (most) everything with this chapter. No more secret i guess. Or... was i sliding over for something? Okay, go warn me then. About what do you want to know. Kkk~
I was being lazy this time and had not beta.
So,,, i'm sorry for any misstyping. I'll do my best on next chapter.
Thank you... I Love you...
