"Kasihan Soonyoung..."

Wen Junhui mendecak di tempatnya. Sudah berapa kali Seokmin mengucap kalimat itu berulang-ulang? Seolah menyimpan simpati padahal boleh dipastikan sebenarnya Seokmin tidak peduli-peduli amat dengan keadaan Soonyoung.

"Dari tadi ngomongin itu terus. Tidak ada niat untuk nyusul atau bantu dia mencari Jihoon, gitu?"

Seokmin menggeleng disertai senyum lebar.

Tuh, kan! Jun cuma bisa memutar mata."Dasar."

Suara gumaman Jun terendam suasana ramai kala itu. Mereka di restoran hotel, duduk berhadapan bersama Minghao dan Joshua yang kini sibuk dengan kudapan mereka.

Langit telah mencapai warna biru kehitaman, dan Soonyoung masih belum kembali bersama Jihoon juga Dino yang tanpa kabar.

Sedari tadi Seokmin terus mempertanyakan ketiganya—takut didamprat tetua Seungcheol kalau sampai duo makhluk unyu dan satu manusia dari geng idiotnya itu hilang di keramaian Busan.

Tapi namanya juga mager, Seokmin tidak ada niat untuk nekat keluar mencari mereka. Maaf saja, lagipula dia bukan masokis yang membiarkan diri tersesat di Busan macam Soonyoung.

"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau misalnya mereka bertengkar, semua akan lebih mudah." Seokmin buka suara.

"Siapa yang bertengkar dengan siapa?"

"Tentu saja Soonyoung hyung dengan Jihoon hyung."

"Kau berharap mereka bertengkar?"

"Bukan begitu." Seokmin mengibaskan tangan di depan wajah.

"Lalu?" Minghao memiringkan kepala bingung.

"Ahh... susah dijelaskan. Pokoknya kalau dari kejadian ini mereka bisa peka satu sama lain, kita harus menangih pajak pada mereka."

"Pajak apaan?"

"Pajak jadian." Seokmin berkedip jahil.

"Mereka bakal jadian?!" Joshua mendongak heboh.

"Shuuuuttt!" tiga orang di depannya mendesis bersamaan.

"MASA IYA MEREKA JADIAN DISINI?!" giliran Jun yang teriak.

"Lah terus mau dimana lagi? Dari pada tidak sama sekali?"

Jun menggaruk kepalanya yang tak gatal—benar juga, sih.

"Bahkan kami yang kerjaannya cuma melihat taktik ngode mereka selama ini saja lelah, hyung. Kami butuh kepastian."

"Berhenti mendramatisir suasana, Seokmin."

Seokmin hanya tertawa sebelum akhirnya Seungcheol datang bersama Junghan. Keduanya membawa makanan mereka dan mengambil duduk.

"Hai, hyuuungg~"

"Tadi kenapa ketawa-tawa?"

"Bukan apa-apa." Seokmin tersenyum kalem.

"Pertanyaannya kenapa hanya ada enam orang disini?" Junghan menatap mereka dengan mata mengernyit lucu.

Joshua menaruh cangkir tehnya dan bersiap menjelaskan.

"Seungkwan dan Hansol masih di kamar, tidak mau keluar, sibuk main Uno. Mingyu dan Wonwoo ke pantai, tidak tahu sedang apa, sampai sekarang belum pulang. Soonyoung mencari Jihoon, entahlah mungkin dia tersesat. Jihoon dan Dino jalan-jalan, belum pulang tapi sepertinya tidak mungkin mereka tersesat."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Jihoon kan, titisan daerah sini."

"Oh ya, benar."

"Hyung tidak mau mencari mereka?" tanya Minghao.

"Tidak, mereka pasti pulang."

"Yakin pulang dengan selamat?"

Seungcheol mengangkat bahu. "Tahu, deh."

Seokmin hanya mendesah lega karena dipastikan Seungcheol tidak akan marah-marah dalam waktu dekat.

"Pokoknya kalau sampai pukul sembilan mereka tidak kembali, kau yang mencari mereka." telunjuk Seungcheol tepat terarah di kedua matanya.

"Sendiri?" Seokmin sontak melepaskan sedotan dari bibir.

"Kenapa? Takut?"

"Ini kan, daerah orang! Bagaimana kalau aku tersesat juga? Hyung tidak paham perasaanku!"

Seungcheol kemudian menyemburkan tawa.

"Bercanda. Nanti kita cari mereka bareng-bareng."

Seokmin menghela nafas. "Gitu dong."

"Ngomong-ngomong aku tidak mau makan salad."

Lima pasang mata menoleh menatap Junghan. "Kenapa tidak mau? Lagipula kalau memang tidak mau untuk apa diambil?"

"Oh, tolonglah. Bukan aku yang mengambil menu ini." Junghan mendorong helaian hijau salad dengan ujung garpunya.

"Biar kutebak siapa." keempat dongsaeng-nya mengerling satu sama lain.

"Kau itu terlalu kurus. Jangan cuma makan seperti biasa saja, kau juga harus menambah sayuran."

Nasihat dari Seungcheol untuk Junghan membuat empat dongsaeng-nya kesemsem dadakan. Mereka saling melempar senyum ejek dan menaik-turunkan alis diam-diam. Ada yang lagi care sama calon.

Namun tetap saja, Junghan menggeleng. "Tidak mau. Aku sudah sehat, kok!"

"Aku tidak bilang kau sakit-sakitan."

"Kalau begitu terima kasih makanannya."

"Hei, tunggu!" tangan Jungan ditarik kembali oleh Seungcheol agar sosok itu duduk di kursi.

"Tidak baik menyisakan makanan di piring."

"Itu bukan milikku." Junghan cemberut tidak rela.

Seungcheol tidak mengubris. Ia mengambil sesuap salad dengan sendok miliknya. Disodorkannya makanan itu tepat pada Junghan.

"Buka mulutmu..?"

Junghan tidak membuka mulutnya, atau bahkan tidak mau menatap Seungcheol.

"Ayoo...?"

Junghan hanya melirik dengan bibir tetap cemberut. Ngambek mode on.

"Apa aku harus pakai pesawat-pesawatan? Hiiinngg...! Pesawatnya dataaangg! Syuuttt..! Buka mulutmu, Junghannie..."

Seungcheol—yang tidak kehabisan cara untuk membujuk Junghan—sedikit mengayunkan sendoknya seolah meniru lintasan pesawat sebelum akhirnya kembali menyodorkan salad di depan Junghan.

Ia kini seperti orang tua yang menyuapi bayinya.

Luluh dengan tingkah manis Seungcheol, Junghan tertawa kecil sebelum akhirnya menerima satu suapan. Sedangkan Seungcheol terkekeh karena mengingat aksinya sendiri, sekaligus tak bisa menahan tawa melihat Junghan yang begitu menawan karena malu-malu.

Keduanya saling membalas tatapan—melupakan empat orang jomblo yang hanya bisa menyuap makanan mereka dengan tangan masing-masing.

Dunia serasa milik berdua, ya.

v

v

v

© himailee

Seventeen – Couples – Meanie

Enjoy!

v

v

v

Busan, Musim Panas 20xx

Soonyoung menahan segala yang ingin ia ungkapkan ketika membawa Jihoon kembali pulang bersama Dino.

Padahal ia ingin bicara, ia ingin menatap Jihoon dan menggenggam tangan mungilnya erat. Bahkan Soonyoung juga inin memeluk sosok itu.

Tapi kenapa rasanya begitu berat? Seperti ada yang mengganjal dan Soonyoung tahu benar bahwa itu adalah gengsinya.

Tidak ada yang berbicara, bahkan ketika mereka telah melewati banyak tikungan dan hampir mencapai hotel. Jihoon seolah mendadak bisu, begitu pula Dino.

Soonyoung tahu keadaan menjadi seperti ini juga karena dirinya—dirinya yang mendadak dimakan ego dan tidak mau mencairkan suasana.

Ini bukan Kwon Soonyoung yang biasanya bersifat terbuka—Ini Kwon Soonyoung dengan sisi egois, dan ia benci dirinya sendiri.

Ini bukan salah Jihoon sepenuhnya. Sosok itu berhak melakukan apapun yang dimau tanpa ada yang menghalangi, termasuk bersenang-senang di daerah rumahnya sendiri. Mungkin Jihoon memang terlalu bersemangat hingga berjalan-jalan sampai larut.

Tapi kalau akhirnya jadi seperti ini, maka Soonyoung tidak menyalahkan dirinya juga yang terlalu khawatir.

Nyatanya Jihoon terluka dan tidak akan ada yang bisa menolongnya kalau Soonyoung tidak memaksakan diri nekat keliling Busan.

Jadi ini juga bukan salah Soonyoung.

Lihat? Bahkan sekarang ia apatis dan jual mahal.

Kalau diingat-ingat, sebenarnya yang menderita nyeri kaki bukan hanya Jihoon. Kaki Soonyoung sudah gemetar sejak mereka mencapai taman besar Busan. Perihnya menjalar tak henti-henti, namun Soonyoung juga tidak ada niat untuk berhenti berjalan. Letak hotel ada di seberang taman, dan Soonyoung bertanya-tanya apakah luas taman ini mencapai satu hektar.

"Bertahanlah, Kwon. Kau harus kuat sekuat egomu yang sudah menguasai diri."

Soonyoung tidak peduli—mereka harus pulang. Tangannya semakin dieratkan satu sama lain untuk menggendong Jihoon yang membisu, sedangkan kakinya terus dipaksa untuk menopang beban.

Tinggal sedikit lagi, batin Soonyoung.

Namun nyeri tak bisa diajak kompromi, rasa sakit ini sudah menderanya bahkan sejak satu jam sebelum ia bertemu Jihoon.

Padahal Soonyoung berpikir ketika ia bertemu Jihoon, rasa sakit ini akan hilang seolah sudah terobati. Tapi kenapa malah semakin perih?

Di satu sisi, Jihoon yang tetap bungkam menyadari bahwa langkah Soonyoung semakin melambat. Kaki yang menopangnya dapat dirasakan sedikit gemetar, dan Jihoon tahu Soonyoung telah mencapai batasnya.

Ia ingin buka suara, mengucapkan bahwa dirinya baik-baik saja agar diturunkan dari gendongan. Tapi pertanyaannya, apa Soonyoung akan mendengarkannya?

Jihoon tidak lugu, ia tahu perkataan 'diam' Soonyoung tadi hanya sebagai bentuk kalau sebaiknya Jihoon tidak berkomentar apapun saat itu dan membiarkan Soonyoung menggendongnya.

Tapi entahlah, Jihoon mendadak ingin menuruti perkataan Soonyoung dan menahan diri untuk bicara.

Tapi, sial.

Kenapa mereka mendadak sangat bisu satu sama lain seperti ini?

Langkah kaki Soonyoung yang semula menapaki jalan batu di pinggir taman mendadak berbelok. Sosok itu menyusuri rumput hijau taman, berjalan diantara pepohonan rindang yang tersiram cahaya bulan.

Tapak demi tapak dipijaki oleh Soonyoung yang tidak mengubris apapun. Nyeri terus menggerogoti kaki membuat langkahnya gemetar walau berusaha tegar.

Jihoon gigit bibir. Soonyoung sudah benar-benar mencapai batasnya. Bagaimana kalau gantian sosok itu yang jatuh celaka?

Rasa sesak tiba-tiba memenuhi relung hati. Sudah cukup. Jihoon benci keheningan ini. Ada apa sebenarnya dengan Soonyoung? Ini bukan Kwon Soonyoung yang ia kenal!

Saat kedua belah bibir Jihoon terbuka untuk mengucapkan sesuatu, langkah Soonyoung terhenti. Jihoon merasakan tubuhnya merosot jatuh, dan ketika ia sadar, ia sudah duduk di salah satu bangku taman yang dingin.

Jihoon berkedip.

Soonyoung harus belajar lebih cepat untuk tidak memaksakan diri.

Jihoon membiarkan dirinya bagai boneka hilang di atas bangku. Soonyoung berdiri di satu sisi, mengipasi tubuhnya dan menatap sekitar—mengecewakan sekali bahkan sosok itu tidak mau menatapnya. Sedangkan Dino ikut berdiri di sisi yang lain, dengan pose kaku dan tidak tahu harus melakukan apa.

"Ummm... hyungdeul?"

Jihoon menoleh dan Soonyoung hanya melirik.

"Hm?"

Ditatapi seperti itu, Dino mendadak kikuk. Maknae itu menggaruk tengkuknya seolah berusaha mencari kata.

"A-aku akan membeli minuman. Tu-tunggu, ya..."

Seketika sosok Dino yang menjauh hilang diantara banyak orang. Menyisakan Jihoon dan Soonyoung yang masih diam—awkward setengah mati.

Jihoon menunduk. Kakinya yang masih sedikit nyeri bergerak tak nyaman dan kedua tangannya saling terkait erat.

Padahal kaki Soonyoung sedang sakit, tapi kenapa sosok itu tidak mau duduk disampingya? Bahkan Soonyoung menatapnya saja tidak.

Apa yang harus ia lakukan?

Jihoon gigit bibir dan terus menunduk.

"Kau kemana saja?"

Suara datar Soonyoung menyapa inderanya. Jihoon sontak mengangkat kepala, mata membulat dan bibir terkatup tak percaya. Namun ia masih tidak bisa mengucapkan apapun.

"Hah...?" hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Soonyoung mendecak keras sekali.

"Jangan berlagak bodoh seperti itu seolah kau tidak mengalami apapun!"

Lagi-lagi suara itu. Suara yang tidak mencerminkan sosok Soonyoung yang dikenalnya. Dan untuk pertama kali, Soonyoung membentaknya.

"Apa maksudmu...?"

"Kau paham apa yang sudah kau perbuat, hah?! Bagaimana pun ini daerah lain, Lee Jihoon! Sadar diri! Kau tidak ada apa-apanya disini!"

"Aku tidak—"

"Ya. Kau tidak seharusnya keluar seenaknya seperti itu! Tidak membawa siapapun yang sekiranya bisa menjagamu lalu berkeliaran bebas bahkan hingga larut malam? Kau sadar kalau itu berbahaya?!"

Wajah Jihoon bersemu menahan kesal. "Berhenti membentakku! Apa kau sadar kalau kau sudah berlebihan?!"

"Katakan padaku dari sisi mana aku berlebihan?!"

Soonyoung kini berdiri di hadapannya, nafas menderu namun di wajahnya menorehkan raut yang tidak bisa dijelaskan.

"Aku bukan anak kecil!" seru Jihoon.

"Heh, lucu sekali! Mau kuulang?! Kau tidak ada apa-apanya disini!"

Jihoon tidak membalas, terlalu lelah dengan segala cekcok ini. Jantungnya berdegup keras.

"Lihat dirimu! Bagaimana pun kau itu kecil, bagaimana jika kau sampai hilang?! Lihat sekitarmu! Asing dan ramai, ini bukan rumahmu. Siapa yang akan kau temui nanti tidak bisa diprediksi. Kau sadar itu, Lee Jihoon?"

Kata demi kata dari mulut Soonyoung terasa seperti menusuk hatinya. Jihoon muak. Ia seolah disadarkan dari kesalahan terbesar yang pernah diperbuatnya.

Jihoon meremas kedua tangan.

"Berhenti!"

"Orang-orang bisa saja mengincarmu. Dan kau sendiri tanpa penjagaan. Tidak heran barangmu dicuri dan kau tidak bisa mengambilnya kembali!"

"Kubilang berhenti mengoceh, Kwon Soonyoung!"

Jerit tertahan Jihoon lepas menyela segala perkataan Soonyoung. Sosok itu menunduk—memutus kontak mata dengan Soonyoung lalu membiarkan air mata merembes keluar.

Namun sosok Kwon Soonyoung belum menumpahkan seluruh hal yang mengganjalnya.

"Kau tahu kau tidak bisa berkeliaran begitu saja di luar sana. Walau ini daerahmu, tapi tetap saja ini asing. Kau paham bahwa bahaya bisa datang kapan pun. Dan kau sendirian, tidak ada yang menemani, tidak ada yang menjagamu." nada suara Soonyoung memelan.

"Bagaimana kalau kau sampai mengalami hal yang lebih parah dari ini? Bagaimana kalau tidak ada aku untuk menolongmu?"

Linangan air mata Jihoon menetes diantara jemarinya yang terkait.

"Kau tahu aku mengkhawatirkanmu, Lee Jihoon?"

Soonyoung berjongkok di hadapannya. Jihoon enggan mengangkat kepala dan tangisannya tidak berhenti. Hatinya sesak entah kenapa.

Soonyoung menangkup kedua pipi Jihoon lalu mengusap air mata disana dengan ibu jarinya. Wajah Jihoon memerah dan matanya membengkak, bahunya bergetar dan ia terus sesegukkan.

Kasihan juga melihatnya. Soonyoung jadi tidak tega sudah mengeluarkan unek-unek sebegitu parahnya pada Jihoon.

"Maaf, sungguh. Sudah ya...? Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Aish, kau ini terlihat sedih sekali."

Soonyoung gantian mengusap pucuk kepala Jihoon yang tertunduk. Melihat Jihoon yang berusaha menghentikan tangis walau bahunya tidak berhenti bergetar sepertinya lucu juga. Soonyoung diam-diam mengukir senyum geli sebelum akhirnya memeluk sosok itu.

"Maafkan aku, sungguh. Aku tidak bermaksud membentakmu."

Bahu Jihoon kembali bergetar. Namun perlahan kedua lengan mungil Jihoon terangkat membalas pelukan Soonyoung.

"Soon—Soonyoung... aku... Huueeeee..."

Soonyoung tersenyum kecil. "Maaf, maaf. Aku tidak benar-benar marah padamu. Aku hanya khawatir, seriusan."

"Maafkan aku... aku bodoh sekali... hikss... aku salah, aku bodoh. Aku minta maaf..." lirih Jihoon dengan suara tertahan tangisan.

Soonyoung melepas pelukan dan kembali menangkup kedua pipi Jihoon. "Ini salahku. Tidak seharusnya aku membentakmu. Aish... kau pasti kaget sekali, ya?"

Jihoon menggangguk kecil. Tingkah manis itu membuat Soonyoung akhirnya mencubit hidung mungil Jihoon yang memerah.

"Jangan menangis lagi, oke?"

Jihoon kembali mengangguk lalu menghapus air matanya.

"Kupikir kau membenciku... hikss... maafkan aku."

"Jangan terus-terusan minta maaf. Aku tidak mungkin membenci Jihoonie..." Soonyoung kembali mengusap kepala Jihoon. "Dan ini bukan hanya salahmu, salahku juga."

"Tapi serius... kupikir..." Jihoon menahan sesegukkan. "... kau menyeramkan."

Hening. Soonyoung tidak berkata lagi. Seketika sosok itu berdiri, membuat Jihoon langsung mendongak.

"YA! Lee Jihoon!" suara berat Soonyoung kembali menyentak Jihoon.

"Sudah seharusnya kau memiliki orang yang bisa terus menjagamu. Kau tidak boleh bertindak seenaknya hingga dapat menyulitkan dirimu sendiri. Kau paham itu?"

Jihoon—dengan wajah polos dan mata masih basah karena air mata—mengangguk lugu membuat Soonyoung gemas namun berusaha menahan diri.

"Janji padaku?"

Soonyoung mengeluarkan kelingkingnya. Disambut oleh Jihoon yang segera mengaitkan kelingking keduanya.

"Janji."

"Bagus..." Soonyoung melempar senyum gentle pada Jihoon yang balas tersenyum hangat.

"Satu lagi."

"Ya?"

"Karena kau butuh orang yang bisa menjagamu, maka akulah yang akan menjadi orang itu."

Soonyoung menepuk dadanya dengan bangga. Berdiri menjulang dihadapan Jihoon yang mematung. Speechless, Jihoon berkedip. "Hah?"

"Tinggal bilang 'iya' saja..." Soonyoung menggerutu ketika aksinya tidak menimbulkan reaksi yang memuaskan.

"Kau mendadak garing."

"Dih. Aku menawarkan kebaikan padamu, tahu!"

"Maksudku, untuk apa kau tiba-tiba berkata aneh begitu? Memangnya yang menjadi penjagaku harus kamu, gitu?"

"Tentu saja. Aku akan menjadi ksatria untukmu!"

Wajah datar Jihoon membuat Soonyoung akhirnya berhenti membanggakan diri. Lelaki itu berdiri berkacak pinggang. "Aku bosan single terus."

"Terus?"

"Kau jomblo, aku jomblo. Taken yuk?"

Soonyoung kembali berlutut di depan Jihoon. Mengeluarkan puppy eyes andalan dan tersenyum merajuk.

"Ya? Ya? Terima aku... hm? Ya?"

Jihoon hanya tertawa melihatnya.

Ah... kenapa Soonyoung bisa dengan mudah mengembalikan mood-nya? Kenapa ia bisa merasakan sejuta ekspresi hanya dengan Soonyoung? Padahal semula ia menangis cengeng karena dibentak, lalu merasakan kehangatan ketika Soonyoung memeluk dan menghiburnya, dan mendadak malu-malu karena disuguhkan adegan ala drama seperti ini.

Kurang drama sih, soalnya Soonyoung tidak menyodorkan cincin berlian di hadapannya. Eh.

Tapi mau jawab apapun juga Jihoon tidak bisa menolak.

Maka ia menoyor dahi Soonyoung sambil terkekeh sebelum menghambur dalam pelukan lelaki kesayangannya itu.

Soonyoung—yang memutuskan untuk mengajak Jihoon berdiri guna mencegah limbungnya mereka ke tanah—membalas pelukan gulali mungilnya dengan setengah terkejut, disusul kebahagiaan berjuta-juta watt.

Jihoon—masih melingkari lengannya di leher Soonyoung—berbisik pelan disana.

"Kau tahu, akhirnya aku di notice."

"Hah?"

"Dasar tidak peka!" Jihoon memukul punggung Soonyoung dengan tawa kecil.

Soonyoung terkekeh. "Ujung-ujungnya kisah cintamu masih dalam taraf kisah cinta impian karena yang menembak itu pangerannya."

"Siapa ya, pangeran?" Jihoon menjauhkan tubuhnya dari Soonyoung.

"Aku."

"Mupeng banget, sih." cibir Jihoon.

Soonyoung mencubit kedua pipi Jihoon lalu berkata. "Katanya kalau status seseorang sudah lebih dari teman, mereka boleh berciuman."

"A-APA—?"

"Aku serius."

"Eh, tunggu, tunggu! Soonyoung—"

"Kenapa, sih? Tidak ada siapa-siapa, kok—"

"Hyungdeul!"

"Hentikan, Soonyoung! Kau akan menodai generasi penerus bangsa jika melakukannya!" Jihoon mendorong wajah Soonyoung menjauh sambil berbisik kecil.

"Peduli apa—"

"Hentikan." bisik Jihoon lalu menyikut Soonyoung.

"ADUH!"

"Hyungdeul?"

Jihoon berbalik secepat badai. "Oh... ehehehe... HAI, DINO-YA!"

Dino yang melambai dengan tiga kaleng cola di tangannya berhenti dengan tatapan bingung. Itu kenapa hyung-nya mendadak bersuara bahagia seperti itu?

"Hyungdeul? Kalian tidak apa-apa?"

Jihoon menebar senyum kelewat lebar—berdiri tegap di sebelah Soonyoung yang sakit tersikuti oleh Jihoon sambil sedikit-sedikit melempar senyum paksa.

"Oh, yeah... hahahaa... tentu saja kami baik-baik saja."

"Sudah baikan?"

"Apa maksudmu sudah baikan? Kami baik-baik saja, iya kan?"

Dino tidak bodoh untuk menyadari saat ia pergi, konflik mereka pasti mencapai puncak. Namun ia pura-pura inosen dan berakhir menyerahkan dua kaleng cola pada kedua hyung-nya.

"Kapan kita pulang?" tanya Dino.

"Oh, ya. Benar. Ayo pulang." Jihoon tidak jadi membuka kaleng cola-nya. Ia menarik tangan Soonyoung ke bawah. "Ayo pulang."

Soonyoung yang tidak mengerti mengapa tangannya ditarik-tarik, hanya mematung. Jihoon yang melihatnya mendelik tak sabaran.

"Apa?" Soonyoung memberi pandangan penuh tanda tanya.

Jihoon mem-pout dan menunjuk tanah. "Jongkok."

"Kau pikir aku apa?"

"Pangeran kuda putih yang menuruti kemauan putrinya."

"Bagus sekali. Kau mau apa?"

"Gendong aku! Kau lupa sedari tadi kau yang mengoceh berkata bahwa aku harus memiliki orang yang bisa terus menjagaku? Aku sakit, bawa aku hingga hotel."

Soonyoung mendesah berat. Ia melirik sengit Jihoon yang cuma senyum-senyum penuh kemenangan di tempatnya. Sebelum Soonyoung menekuk lutut untuk kesekian kalinya, ia menyempatkan diri menggusak gemas helaian pinkish Jihoon.

"As your wish, Princess."

Jihoon tersenyum lebar, kemudian menjatuhkan diri pada punggung Soonyoung yang entah mengapa kali ini terasa berlipat ganda lebih hangat. Melingkarkan kedua tengannya di leher sang kekasih, Jihoon membiarkan kepalanya bersandar di bahu Soonyoung selagi yang lebih tua kembali memijak tanah menuju ke hotel.

Sedangkan Lee Chan, berdiri mengekor di belakang keduanya dengan wajah benar-benar inosen, memikirkan 'mengapa Jihoon hyung mau digendong-gendong sama Soonyoung hyung' dan 'mengapa Soonyoung hyung berani megang-megang kepalanya Jihoon hyung' juga 'mengapa keduanya senyum-senyum seperti sepasang couple gitu'.

Tapi Dino tidak bertanya. Jika itu memang bisa membuat kedua hyung-nya bahagia, maka ia tidak akan mengungkit apapun.

Malam yang menanjak semakin kelam tidak menghapus kebahagiaan Soonyoung. Tidak akan bisa, bahkan hingga ribuan hari ke depan yang akan dijalaninya.

Siapa sangka dari aksi pahitnya dimakan nyeri karena nekat keliling Busan, sekarang ia mendapat hal yang lebih manis dari apapun di dunia ini.

Memang benar, rasa sakit dalam dirinya hanya bisa disembuhkan oleh sosok Lee Jihoon.

Lope lope untuk Jihoonie, begitu gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.

Tiba-tiba, pipinya disentuh oleh telunjuk Jihoon. Si pemilik jari muncul tepat di sisi wajahnya. Begitu dekat dan membuat jantung Soonyoung berdegup.

"Soonyoung?"

"Panggil aku Soonyoungie."

Jihoon menggembungkan pipi. "Soonyoungie?"

"Ya?"

"Lihat." telunjuk Jihoon beralih pada langit di atas keduanya.

Soonyoung yang agak kesusahan untuk mendongak karena harus menggendong Jihoon, akhirnya hanya bisa melirik sekilas apa yang ada di atas sana.

"Kenapa?"

"Bulannya bagus, ya..."

Soonyoung tertegun. Detik berikutnya, ia tersenyum miring. "Menurutmu?"

Jihoon terkikik. "Memang benar, kok."

Kembali menyandarkan kepalanya di bahu Soonyoung, Jihoon melirik Dino yang diam-diam terus memperhatikan aksi mereka.

Senyum selebar matahari yang diyakini belum pernah dilihat Dino sebelumnya kemudian terulas di wajah tembam Jihoon.

.

.

.

.

.

.

My tone is getting intense and excited

I can only 'push and pull' to eventually get you

When you leave me I have no energy to cheer

But when you're close to me

I have no choice but to smile (That's right)

And it's more than just the height difference

With only you, follow me, let's walk in the same direction

Meeting on the streets

Under the red lights

What do you think about kissing?

.

.

.

.

.

.

Bunyi 'pop' kecil terdengar seantero kamar duo maknae yang duduk berhadapan. Dalam nada pelan, suara si bule memecah keheningan.

"Popsicle?"

"Buat kamu saja. Aku diet."

"For God's sake, Boo Seungkwan. Hari gini? Kau? Diet?"

"Apa? Terus kenapa?"

"Kau diet. Haha. Lelucon terbesar abad ini." Hansol memutar gagang esnya yang sudah habis sebelum mengeluarkan kartu pamungkas terakhirnya. "Uno game."

"Dasar curang." Seungkwan melempar sisa lima kartunya ke karpet begitu saja, kemudian bangkit. "Tidak menyenangkan."

"Kupikir makan akan lebih menyenangkan."

"Benar. Ayo makan."

Hansol mencibir—dasar sok labil, katanya tadi diet—hal itu tentu saja tidak diucapkan, kalau diucapkan ia akan menyusuri lorong sendirian untuk cari makan.

"Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dengan ini."

Kaki Hansol berhenti tepat di samping boks besi yang tergeletak di bawah kasur Seungcheol. Isinya kosong, tiga belas toples sudah berpindah ke kamar pemiliknya.

Begitu pula miliknya, tergolek diantara selimut yang berserakan di kasur dan belum tersentuh. Sama saja dengan milik Seungcheol dan Junghan yang ditinggal pergi entah kemana.

Seungkwan hanya melirik dan meraih pintu.

"Tidak tahu. Lupakan saja dulu, makan lebih utama. Setelah itu kau mau mengais pasir pantai Busan untuk diisi di situ juga tidak masalah."

"Hmm... benar." Pandangan Hansol yang tertuju pada nakas kini beralih. Ia mengekori punggung Seungkwan. "Ayo keluar."

Lorong-lorong panjang hotel membawa langkah mereka menuju lift. Keduanya menunggu sambil sedikit berbicara, kemudian dikejutkan dengan hadirnya rombongan hyung-line selepas dari ruang makan.

"Yo!" itu Seungcheol.

"Yeah..." dan ini Hansol. Seungkwan cuma senyum kalem.

"Mau kemana malam-malam begini?" Joshua berucap santai.

"Cari makan..."

"Keluar?"

Seungkwan mengangguk.

"Ikut."

Rombongan itu memenuhi lift yang membawa mereka menuju lantai bawah. Lobby tampak sepi, mereka melangkah pelan tapi pasti untuk melawan angin asing Busan. Iseng-iseng mereka memutari taman belakang hotel untuk mencapai gerbang utama.

Disana mereka menemukan Trio Warriors yang sibuk makan bakpau.

Sok kenal sok dekat, Junghan mengambil satu tempat di sebelah Jihoon. "Habis dari mana saja? Sepertinya asyik sekali memutari Busan dari pagi hingga malam."

Jihoon—dengan mulut menggembung penuh bakpau—menjawab tenang. "Nonton bioskop. Tiga film. Seru semua."

"Actions?" Jun menyela.

"Dino menolak kuajak nonton horor."

Dipikir bukan hal penting yang harus terus dibahas, Seungkwan mencari topik lain.

"Jadi apa yang kalian lakukan sekarang?"

"Makan."

Dino menelan bapkaunya lalu bangkit berdiri. Seketika ia mengguncang lengan Seungcheol dengan wajah polos sambil menunjuk Soonyoung yang sedang mengunyah dengan khidmat.

"Seungcheol hyung, tadi—"

Berhenti sebentar, tarik nafas, meyakinkan kalau makanannya sudah tertelan semua. Baru Dino lanjut nyerocos.

"Tadi Soonyoung hyung bikin Jihoon hyung nangis...! Soonyoung hyung kayak marah-marahin Jihoon hyung, seriusan seram sekali! Terus—hmmmmm, sebenarnya aku tidak terlalu tahu juga—akhirnya Jihoon hyung dipeluk! Tapi Jihoon hyung tidak marah-marah kayak biasanya. Jihoon hyung malah membalas pelukan dan mereka jadi persis teletubbies!"

Seungcheol menaikkan alis, berbagi tatapan dengan Junghan.

"EHEM!" dehaman keras Jihoon mengiringi semu merah yang merambat di wajahnya.

Sedangkan Soonyoung tentu saja memberikan aksi berbeda. Lelaki itu memberikan cengiran terlebarnya dan mengangkat peace percaya diri.

Seungkwan dan Seokmin menyerap cepat maksud senyum tersebut. Keduanya mendadak excited, seolah siap berteriak untuk menyampaikan berita panas ini ke seluruh Busan.

"JADI MAKSUDNYA KALIAN—"

"KITA JADIAANN!"

"WAAAHHH BENARKAH!?"

Jihoon mengusap wajahnya lelah. Menjitak puncak kepala Soonyoung sebelum berbalik dengan wajah penuh rona merah, ia mengambil satu gigitan besar bakpau sambil merengut lucu.

Reaksi mereka itu lebay. Jihoon jimayu, deh.

"Selamat, ya." itu Junghan. Orang pertama yang merayakan status baru mereka. Jihoon cuma mengangguk, diam-diam berusaha memutuskan ekspresi wajah apa yang harus ia tunjukkan.

"Kau senang atau tidak?"

Jihoon menoleh pada Junghan yang tersenyum kalem. Bisikan itu pasti hanya terdengar olehnya. "Senang apa?"

Dalam diam, Junghan menunjuk Soonyoung yang sedang tertawa di sisi Jihoon dengan dagunya.

Apa Jihoon senang bersama Soonyoung?

Ah... Jihoon jadi tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku senang, kok."

Junghan tersenyum semakin lebar. "Tentu saja. Tentu saja kau harus senang."

Jihoon hanya membalasnya dengan senyum kecil.

Obrolan bisik-bisik mereka berakhir ketika Dino menyela ribut. "Jadi maksud hyungdeul?"

"Mereka pacaran." telunjuk Hansol tepat berada di depan hidung Soonyoung.

Sang maknae terlihat agak berpikir, sebelum akhirnya mengangguk mengerti dengan wajah polos. "Berarti traktiran, dong?"

"BENAR! ITU DIA! TRAKTIRAN!"

Soonyoung melempar bungkus bakpau ke wajah Seokmin yang terus berkoar. "Uangku habis, tahu! Lagi pula, Lee Chan, kau sudah kutraktir bakpau."

Lee Chan memiringkan kepalanya. "Benar juga."

"Sebaiknya kita jangan berisik disini. Ayo keluar."

Seungcheol berjalan lebih dulu menuju gerbang hotel. Disusul Junghan yang hanya bisa pasrah, lalu Joshua. Seluruh dongsaeng-nya mengekor. Mereka ramai-ramai keluar gerbang seperti anak berandal siap tawuran, tapi yang ini versi gantengnya dan mereka tidak bawa clurit.

"Kita mau ngapain, hyung?"

"Jalan-jalan."

"Ke?"

"Musim panas begini belum lengkap kalau tidak ke pantai. Kita ini di Busan, lho."

Seungkwan hanya mengangguk. Batal niatnya cari makan malam bareng Hansol. Soalnya sudah keburu kenyang dicekoki humor recehan teman-temannya sedari tadi.

"Bagaimana dengan Mingyu dan Wonwoo?" kata Junghan.

Seungcheol menoleh. "Mereka honeymoon."

"Bohong." Joshua menyela cepat, tak percaya kalau satu per satu temannya jadian semua.

"Ya kali, tidak tahu juga." Seungcheol cengengesan dan angkat bahu. "Yang punya pulsa telepon coba."

"Ga ada yang punya." itu Jun. Asli pengertian banget dia, tahu persis teman-temannya pada kanker.

"Kira-kira di Busan ada telepon umum tidak, ya?"

"Tanyalah si Jihoon."

"Ada tidak, hyung?" Seokmin menoleh pada Jihoon yang berjalan di belakangnya.

Jihoon hanya menyahut sewot. "Sini mana tahu."

"Sudahlah. Kalau kalian memang ingin ke pantai, ke sana saja dulu. Mingyu dan Wonwoo bisa di telepon nanti. Ayo cari bus, keburu malam." Sekali lagi, komando Seungcheol adalah mutlak.

Maka mereka kembali berjalan menyusuri malam yang penuh riuh rendah kebahagiaan.

Tidak ada salahnya menciptakan kenangan manis walau dengan cara yang salah. Kabur dari masalah memang bukan sesuatu yang baik, tapi mereka paham bahwa inilah yang terbaik. Masing-masing dari mereka hanya ingin merasakan bagaimana rasanya bernafas bebas tanpa kekangan.

Mungkin mereka tidak akan meminta lebih lain kali. Mungkin juga mereka tidak mengharapkan apapun lagi.

Jadi, tidak ada salahnya, kan? Sekali ini saja. Untuk pertama kalinya, biarkan musim panas mereka berlalu dengan senyum tulus tanpa ada perih yang tersimpan diam-diam.

-0-0-0-

"Woooww... pantai Busan!"

"Indah sekali!"

"Pantainya penuh kelap-kelip! Terlihat seperti cahaya bintang."

"Menakjubkan sekali."

Yap. Mereka sudah sampai di pantai Busan. Yang mereka lakukan hanya berjongkok di pinggiran pantai seperti anak kecil, membiarkan jemari kaki mereka dijilati ombak yang terasa dingin.

Tadinya Soonyoung ingin langsung komplotan dengan Seokmin dan Seungkwan untuk menceburi Dino, tapi batal ketika tahu tidak bawa baju ganti. Kasihan kalau Dino harus duduk cemberut di bus dengan baju basah dan dilempari pandangan sinis oleh para penumpang. Makin kecil nanti dia.

Dan di saat keheningan menimpa kesebelasan manusia itu, datang mendekat dua sejoli baru.

"Ya, Jeon Wonwoo, Kim Mingyu! Kemana saja kalian?" sembur Seungcheol.

"Percaya atau tidak, sedari sore kami hanya mutar-mutar di daerah sini. Kami sudah mampir ke sini tiga kali dalam empat jam terakhir, hyung. Kami juga sudah mau pulang, tapi ternyata kalian ke sini." jawab Mingyu diiringi tawa kecil.

"Terus? Kalian ngapain?" Joshua ikut mengintrogasi.

Mingyu—sebagai lelaki yang baik—menjawab lagi. "Ya sudah. Kami tidak ngapa-ngapain. Jalan-jalan saja."

"Ooohh..."

Minghao yang paling dekat dengan Wonwoo, menyenggol bahunya dan berkata. "Sudah tahu kabar?"

"Apa?"

"Soonyoung hyung dapat hubungan."

"Eh?! Seriusan, hyung?! Syukur dong, tidak lajang sepanjang masa. Sama siapa?" celoteh Mingyu dengan tawa mengejek.

"Pakai nanya. Ya siapa lagi kalau bukan kejarannya selama ini?" sahut Seokmin. Mereka tertawa berduaan puas mojokin Soonyoung.

"Sama Jihoon?"

Soonyoung memberikan tatapan mengiyakan disertai senyum-senyum sok hebat pada Wonwoo yang tampak tak percaya. Lalu Wonwoo melempar pandangan pada Jihoon yang cuma elus dada—tapi mengangguk juga dia, berarti memang benar mereka jadian.

Wonwoo kemudian tersenyum kecil. "Selamat, deh." hanya sepotong kalimat, tapi mereka tahu itu tulus.

"Makasih..." Jihoon malu-malu lagi. Menggebuk pelan bahu Soonyoung yang dibalas dengan elusan kepala dan tawa kecil oleh si pemilik bahu.

"Selamatin orang padahal kita juga jadian, lho."

"HAH?"

Kesebelasan manusia itu shock lagi.

"Eh iya? Demi apa Mingyu dapat pacar?"

"Bumi gonjang-ganjing dong?"

Mingyu mencibir pada dua Seokmin-Soonyoung yang gantian mengejek.

"Ini kenapa jadi pada taken semua? Busan love story gitu ya... so sweet amat."

"Bagaimana caranya kalian jadian?"

"Ya... aku confess-lah." Mingyu menggaruk tengkuknya sambil tertawa kecil.

Semua tahu memang Wonwoo bukan tipe orang yang sering bicara, apalagi memberikan kalimat-kalimat cheesy perihal romansa. Berbeda dengan Mingyu yang terbuka dan kadang blakblakan, bisa dikatakan kalau mereka menyatu akan menjadi seperti uang logam—satu benda dengan sisi yang berbeda.

"Kok pada diam?"

Junghan tertawa. "Tidak apa-apa."

"Iya. Kita shock saja, ternyata hari ini bakal dapat banyak traktiran."

Mingyu menjulurkan lidah. "Maunya."

"Tapi seriusan lho, aku lapar. Belum jadi makan malam." Seungkwan mendengus sambil mengusap perutnya. "Cari makanan, dong!"

"Semangka, yuk?" tawar Jihoon.

Soonyoung menoleh. "Semangat kakak!"

"Bukan itu, bodoh."

Soonyoung merengut. "Jihoonie tetap saja galak, ya."

Jihoon cuma angkat bahu acuh. "Pada mau tidak?"

"Yang nawarin yang beli, ya."

"Ah, tidak jadi deh." gantian Jihoon yang merengut di tempat. "Maksudku, itu tidak setia kawan. Memangnya kalian tidak mau jajan-jajan yang lain, gitu...?"

Semua saling berpandangan.

"Jajan?"

-0-0-0-

Sepuluh menit kemudian, tiga belas bocah itu tiba di suatu minimarket lumayan jauh dari pantai. Suasananya agak sepi dikarenakan malam yang semakin larut, namun tidak menyurutkan niat makan-makan mereka.

"Kukira kalian akan beli semangka yang masih bulat."

Kepala Wen Junhui menyembul diantara bahu pendek Jihoon dan Junghan yang berdiri di konter buah-buah. Di tangan mereka terdapat beberapa potongan rapi semangka yang telah dilapisi plastik ala minimarket.

"Kita tidak punya pisau untuk membukanya nanti, Jun."

Sibuk menimbang-nimbang mana yang mengandung biji paling sedikit sekaligus semangka paling besar, Junghan benar-benar terlihat seperti mama shopping.

"Kenapa kita tidak makan apel juga?"

Junghan menoleh. "Andai aku bawa uang banyak, kau boleh saja membelinya."

Jun tertawa mendengarnya. "Tidak, aku bercanda. Lagipula semangka sudah cukup."

"Benarkah? Kalau begitu ketika pulang aku akan membelikanmu." Diiringi senyum, Junghan menepuk bahu Jun dan kembali memilih.

Lihat? Junghan benar-benar mama yang baik.

"Aku akan beli bubble tea." ujar Hansol, tiba-tiba muncul dan menggeret Jun mengajaknya keluar.

"Pastikan anak-anak yang lain menunggu di luar dan tidak menggembel di depan toko orang." peringat Jihoon tanpa mengalihkan perhatian dari jajaran buah.

"Sip, hyung!"

Kembali dengan Jihoon, akhirnya mereka membeli beberapa semangka potong dan menuju kasir.

Di teras minimarket, ada Seungcheol yang duduk menunggu bersama Minghao juga Seungkwan. Mereka berbincang singkat tentang masalah sekolah. Di salah satu stand, Hansol dan Jun membeli bubble tea. Lalu berjalan sedikit keluar dari arena minimarket, di palang besi pembatas jalan, duduk manis Mingyu-Wonwoo. Dan di warung seberangnya, ada Seokmin-Joshua-Dino yang entah membeli apa.

Keheningan menimpa dua sejoli Mingyu-Wonwoo yang hanya duduk-duduk. Awalnya hening, sebelum suara Seokmin menyahut.

"Tangkap, Mingyu!"

Refleks Mingyu mengambil sesuatu yang dilempar Seokmin—padahal lelaki itu berada di seberang jalan, hebat sekali dia. Mingyu membuka tangan dan menemukan sebungkus gulali kapas. Senyumnya terkembang. "Gomawo!"

Wonwoo yang melihat makanan itu kemudian menaruh kepalanya di bahu Mingyu. "Aku mau."

Mingyu terkekeh. "Diam-diam hyung suka hal-hal manis, ya."

Wonwoo hanya memajukan bibir bawahnya dan menunggu Mingyu membuka bungkus gulali.

"Aaaa~" niatnya Mingyu mau menyuapi, tapi Wonwoo malah menarik kepalanya lalu merebut gulali di tangan Mingyu.

Dan gulali itu masuk bulat-bulat ke mulut Wonwoo tanpa sisa. Mingyu menatap Wonwoo dalam-dalam, tepat ke matanya. Dibalas dengan Wonwoo yang juga tak mau menurunkan pandangan.

"Apa? Mau? Telat." Wonwoo menjulurkan lidah.

"Lucu banget siihh hyung~" Mingyu mencubit pipi kanan Wonwoo yang menggembung karena sedang mengunyah.

Wonwoo mendecak risih dan menggelengkan kepala hendak melepaskan cubitan Mingyu, namun tiba-tiba merasakan Mingyu maju mendekat.

Chu~

Semua terjadi begitu cepat.

Wonwoo mematung. Bibirnya terkatup sedikit dan matanya tidak berkedip. Mingyu terkekeh menang.

"Apa, hm?" kata Mingyu. Suara beratnya menembus keheningan malam.

"Apa?" balas Wonwoo datar.

"Ya apa? Mau lagi?"

Wonwoo menyentuh pucuk hidungnya dan mendengus. Mengalihkan pandangan salting sekaligus masih agak terkejut, Wonwoo seenak jidat mengambil seluruh isi gulali dan memakannya cepat. Mood attack.

Iya, itu tadi kenyataan. Wonwoo masih tidak percaya. Mingyu menciumnya. Bukan bibir, kok. Hanya pucuk hidungnya.

Tapi kan... swear ya, Wonwoo belum pernah dicium siapapun kecuali orang tuanya.

Mingyu yang menggodainya lalu tiba-tiba menciumnya... persis seperti kisah-kisah shoujo manga. Mingyu si Tiang itu pasti tidak memikirkan apapun. Lihat saja, ia masih tertawa-tawa penuh kemenangan.

Wonwoo mendengus. "Bodoh."

.

.

.

Jihoon sedang mengantri di kasir. Sendirian. Junghan meninggalkannya keluar karena di panggil Seungcheol. Jadilah ia berbaris sambil menenteng keranjang seperti anak kecil hilang.

Sebenarnya ia tidak sendirian. Ada Soonyoung. Iya, Soonyoung. Kekasihnya itu sedang berburu gummy atau mungkin saja es krim.

"Jihoonie! Lihat! Gummy yang ada di iklan!"

Jihoon hanya bisa geleng kepala. "Dasar bocah."

"Boleh aku membelinya?"

"Hei, Kwon, kita membeli ini pakai uang Junghan hyung. Sebaiknya kau cepat kesini dan bantu aku!"

Kwon Soonyoung—diantara rak-rak besar makanan manis—menatap kecewa gummy incarannya yang tidak direstui masuk ke keranjang belajaan. Tapi bukan Soonyoung namanya kalau ia dengan mudah nurut perintah.

Si surai putih kepirangan itu malah melangkah semakin dalam ke minimarket, berjalan ke deretan pendingin berisi puluhan es krim di belakang rak-rak.

"Wah... lihat es krim-es krim ini. Mahal tidak ya?" Soonyoung bermonolog. Matanya berbinar-binar menatap berbagai variasi rasa dari tumpukan es krim.

"Andaikan uang Jihoonie tidak hilang, dia pasti membolehkanku beli—aduuhh!"

Soonyoung mengusap lengannya yang bertubrukan dengan manusia. Ia mengangkat pandangan, menemukan seorang bertubuh besar yang tampak garang. Di tangan orang itu terdapat keranjang berisi banyak cola dan bir, serta rokok dan makanan instan.

Pertanyaannya, kenapa manusia seram macam ini bisa ada di supermarket dengan wajah adem ayem tanpa menimbulkan kecurigaan?

Bergidik ngeri, Soonyoung yang hendak menunduk minta maaf mendadak berhenti. Matanya menyalang pada dompet di tangan si preman.

Tangannya terangkat menunjuk. "Maaf, tapi bukankah itu..."

"Apa? Untuk apa kau masih disini, anak muda?"

"Dompet itu?"

Si preman menatap Soonyoung dengan pandangan tajam. "Ada apa dengan dompetku?"

"Dompetmu?"

Soonyoung mengangkat alis. Lalu tertawa meremehkan. "Bohong. Itu milik orang lain. Berikan padaku."

Tentu Soonyoung tahu kebenarannya. Itu dompet Jihoon. Walau ia tidak tahu bagaimana kejadian dan siapa yang mencuri dompet itu, tapi Soonyoung tidak salah keyakinan. Itu jelas dompet Jihoon.

"Dengar ya, anak muda. Dompet seperti ini banyak macamnya—"

Salah. Dompet itu tidak akan pernah di jual dimana pun. Karena itu dompet pemberian dari Soonyoung spesial untuk Jihoon. Ketika ulang tahunnya yang ke-12 dan ketika pertama kali Soonyoung memasuki kelas menjahit.

Pandangan Soonyoung menajam dan suaranya berubah begitu dalam. "Berikan padaku, tuan!"

Dua kaleng cola terlempar langsung padanya, untung Soonyoung bisa menghindar. "BOCAH SIALAN—"

Suara berisik itu jelas mengundang banyak orang untuk menoleh. Si penjaga kasir mendadak berteriak lalu memanggil manajernya.

"Ck." Soonyoung mendecih.

Kwon Soonyoung yang memang pada dasarnya tidak suka ikut masalah, dengan secepat kilat mengambil dompet dari tangan si preman lalu kabur.

"HEI!" bentak sang preman.

Soonyoung melesat diantara rak-rak tinggi. Pandangannya menuju pada Jihoon yang kaget dan bengong.

"Lee Jihoon! Lupakan kembaliannya dan cepat kabur!"

"Hah—apa?! Soonyoung!"

Jihoon tak bisa berbuat apapun ketika pergelangan tangannya digenggam erat dan ditarik keluar minimarket. Barang belajaan ia pegang erat-erat. Soonyoung terasa seperti mengayunnya ketika lelaki itu berbalik badan menutup pintu kaca minimarket.

"KEMBALI KAU, BOCAH!"

Suara menggelegar itu jelas mengagetkan manusia-manusia yang menunggu di parkiran. Seungcheol yang sedang duduk, menatap heran pada Soonyoung yang tampak panik.

"LARI, HYUNG!"

Seungcheol menoleh ke minimarket, menemukan preman yang ngamuk dan hendak mengejar. Otomatis ikutan panik, Seungcheol menggebrak meja dan menarik Junghan juga Seungkwan beserta Minghao untuk kabur.

"SEBENARNYA APA YANG TERJADI!?" teriak Seungcheol namun tidak digubris Soonyoung.

Hansol dan Jun seperti diterpa angin ketika Soonyoung melesat bersama Jihoon di depan mereka. Lalu Seungcheol-Junghan-Seungkwan-Minghao juga tak kalah cepat disertai wajah kebingungan sekaligus panik.

"Heh, ini kalian pada kenapa—?"

"LARI, HANSOL, JUN!"

Tepat ketika Seungkwan mengatakan itu, Hansol dan Jun mendengar suara ribut dari minimarket. Maka mereka ikutan lari karena premannya kelewat seram.

Di tikungan, mereka menemukan Seokmin-Joshua-Dino yang membawa plastik berisi makanan ringan. Wajah ketiganya bahagia, namun sirna tatkala melihat seluruh teman-teman mereka berlarian dengan wajah panik.

"KABUR!"

"Hah?! Apaan—hyung ini pada kenapa?!"

"LARI SAJA, JOSHUA, SEOKMIN! PASTIKAN DINO TIDAK TERTINGGAL!"

"KALIAN BOCAH SIALAN! KEMBALI!"

"What the hell!" ketika Seokmin bertemu pandangan dengan bapak preman menyeramkan, spontan ia menepuk bahu Joshua keras-keras dan menggandeng Dino untuk kabur.

Kesebelasan itu melesat di depan Mingyu dan Wonwoo yang asyik-asyik duduk di palang. Mereka menunduk ke bawah dan menemukan Soonyoung berteriak.

"LARI!"

Mingyu dan Wonwoo melirik ke belakang. Sontak panik bukan main ketika sadar ada preman. Dan parahnya, preman itu telah memanggil komplotannya. Keduanya sontak melompat turun dan berlari mengikuti Soonyoung yang paling depan.

Mingyu dan Wonwoo yang berada paling belakang berteriak. "MEREKA MASIH NGEJAR!"

"INI BELOKNYA KE SEBELAH MANA?!"

"KANAN!"

"SEREM BANGET SUMPAH!"

"MAMPUS, SOONYOUNG! SEBENARNYA KAU MELAKUKAN APA?!"

Soonyoung menoleh sekilas lalu kembali berlari. "MEREKA YANG MENCURI DOMPET JIHOONIE!"

"HAH?! MEMANGNYA DOMPET JIHOON HILANG!?" tanya Junghan.

"YA INI SUDAH KETEMU LAGI!"

"CEPETAN WOI! KALAU KITA TERTANGKAP TAWURAN MASSA NANTI!" sela Mingyu tak rela ia jadi penjaga barisan belakang.

Derap langkah mereka menggema di malam kelam. Mereka terus berlari. Deru nafas lelah membelah keheningan, namun tak dipungkiri canda tawa tetap menghiasi setiap inci langkah mereka menjauh dari daerah sepi minimarket menuju daerah penuh kerlap-kerlip cahaya.

"Pasti kau seenaknya merampas makanya dia marah begitu."

"Yam au gimana lagi. Saya juga ngeri sama preman."

"Hahaha...! Bodoh, sih!"

"Woles ah. Yang penting semangkanya dapat."

Lima menit mereka berhenti untuk mengatur nafas kelelahan. Sebelum akhirnya lima menit kemudian, tikar digelar dan mereka menyamankan diri diantara belaian angin malam yang sejuk.

.

.

.

.

.

.

We joked around and walked

Like fools on that unlith path

So we wouldn't be crushed

By the loneliness and anxiety we held

Ran between the night of summer

Gazing up from the pitch black world

The night sky seemed like it was raining star

.

.

.

.

.

.

"Ini pertama kalinya aku ke pantai."

Suara pelan maknae mereka membuat segala ocehan berisik hyungdeul-nya agak berhenti. Dino memakan satu gigitan besar semangka sebelum melanjutkan. "Dan aku senang bisa ke sini bareng hyungdeul."

"Omong-omong kita memang belum pernah jalan-jalan sejauh ini."

"Bukankah asyik? Kabur bersama-sama dari masalah yang kita hadapi bersama. Lalu nanti kita pulang bersama lagi dan masih saja menghadapi masalah yang sama."

"Ngomong apaan, sih?" gerutu Soonyoung mendengar ucapan berbelit Seungkwan.

"Tapi kalian senang, kan? Anggap saja jalan-jalan."

"Kita memang jalan-jalan. Aku tidak menyebutnya kabur."

"Kurasa jika memang Tuan Kim akan melakukan sesuatu nanti, kita sudah siap menghadapinya bersama. Seperti sebelum-sebelumnya, kan?" ujar Seungcheol.

"Iya, benar! Kita juga sudah sering kena amarah dari Tuan Kim! Kita tidak perlu takut lagi." sepuluh orang lainnya mengangguk setuju.

Kecuali Mingyu yang tertegun di tempat. Dan Wonwoo—yang jelas saja tidak mengerti bagaimana tipe amarah Tuan Kim.

"Tentu saja. Benar, kan? Mingyu?"

"Ah?" dipanggil mendadak, Mingyu tampak gugup sekilas sebelum akhirnya mengulas senyum tipis. "Ya. Kurasa begitu..."

Nada itu tampak mengadung keraguan. Dan Mingyu kembali menunduk setelah mengucapkannya. Bahkan bisa dipastikan senyum Mingyu tadi itu palsu.

Dalam diam, satu-satunya orang yang memperhatikan semua itu hanyalah Wonwoo.

"Semangkanya habis."

"Namanya juga dimakan."

Joshua merongoh kantong bawaannya dan mengeluarkan sesuatu. Popsicle. "Kalian mau?"

"Oh yeah! Musim panas memang belum lengkap tanpa popsicle!" Mereka berebut mengambil popsicle kesukaan. Dalam sekejap, kantong plastik kosong dan siap menjadi tempat sampah.

Wonwoo yang ikut berebut kini kembali ke tempatnya semula. Di sebelahnya masih setia Mingyu menunduk, berkelut dengan pikirannya sendiri. Wonwoo tahu mungkin Mingyu punya masalah pribadi, tapi itu bukan haknya untuk menguak masalah tersebut.

Wonwoo menempelkan popsicle itu ke pipi Mingyu. Yang bersangkutan kaget dan menoleh. Diberikan pandangan Wonwoo yang tersenyum tipis sambil mengulurkan popsicle seperti bocah.

"Mau?"

Mingyu menunduk. Di bungkus itu tertulis rasa kesukaannya. Sontak Mingyu terkekeh dan mengambilnya. "Thanks, hyung."

Wonwoo cuma mengangguk. Lalu menatap ke depan dan mengemut popsicle-nya. "Kau sedang banyak pikiran."

"Mungkin?" balas Mingyu.

"Kau bilang kita harus bersenang-senang dan jangan pedulikan apapun. Dasar bullshit."

"Haha... oke. Maaf kalau begitu." Mingyu tertawa dan menggusak rambut Wonwoo gemas.

"Jangan diam seperti tadi lagi. Kau jadi terlihat seperti orang kuper nan pemurung. Bukan imejmu sekali. Menggelikan."

Mendadak Mingyu menunjuk Wonwoo tepat di hidungnya. "Nah, hyung sadar kan, kalau kuper nan pemurung itu menggelikan? Harusnya hyung berkaca dulu!"

"Maksudmu aku kuper?" Wonwoo menoleh sengit.

"Iya!"

"Dan pemurung?"

"Banget!"

"Terus aku jelek gitu?"

"Iya—eh?! Bukan, bukan begitu maksudku!"

Wonwoo menjitak kepala Mingyu. "Makan tuh, jelek!"

"Aduuuh...! Sakit tahuuu~" ringis Mingyu.

"O."

"Cium, nih!"

"Menjauh, bocah sialan!"

"Mingyu, Wonwoo! Apa yang kalian lakukan?" teriakkan Seungcheol menyela tingkah keduanya.

"Bukan apa-apa, hyung!" Wonwoo melepaskan diri dan mendorong Mingyu menjauh.

"Cepat serahkan batang popsicle kalian, jangan dibuang."

Wonwoo dan Mingyu saling berpandangan bingung. "Untuk apa?"

"Dari tadi tidak dengar, ya? Kita mau main."

"Main apa?"

"Pocky game."

"Hubungannya dengan popsicle?"

"Sudah cepatlah!"

Alhasil, Mingyu harus merelakan popsicle-nya habis begitu saja tanpa dinikmati. Batangan popsicle itu dikumpulkan di sebuah plastik kemudian Seokmin berkata.

"Lihat, popsicle ini ada tiga warna. Biru, merah, dan kuning. Yang kuning hanya ada dua. Siapapun yang mengambil warna kuning, dia yang main pocky game-nya."

"Aku baru tahu ada yang beli pocky?"

"Ayo diambil! Jangan lupa sambil tutup mata!"

Mereka berebutan lagi merongoh plastik. Seokmin sampai kewalahan karena ia yang memegang.

Soonyoung menarik satu batangan dan mundur ke belakang. Menunggu aba-aba dari Seokmin untuk membuka mata, ia berharap-harap cemas. Tapi Soonyoung tak mengerti, hatinya labil antara ingin atau tak ingin mendapatkan warna kuning.

"Hana, dul, set!"

Soonyoung hanya membuka sebelah mata—takut disertai ragu. Dan setelahnya, terdengar jeritan Jihoon.

"Puji syukur, selama itu bukan aku, betapa indahnya dunia ini!"

"Hahaha~"

"Aku ditakdirkan untuk tetap suci malam ini."

"Ayooo... yang dapat kuning, maju pocky game!"

Soonyoung menunduk dan menatap batangan popsicle-nya. Mingyu di sebelah tampak bergerak-gerak, entah kesenangan atau bagaimana.

Lalu pandangan Soonyoung jatuh pada Jihoon yang juga menunduk.

"Dapat apa, Jihoonie?"

Keduanya saling pandang. Jihoon mengangkat tangan, popsicle tergenggam erat disana. Semula wajahnya tampak datar, sebelum akhirnya senyum lebar dan bahagia terukir manis disana.

"Kita samaan."

Soonyoung ikut tersenyum. "Iya."

"Dapat apa, hyung?" Mingyu melirik.

"Biru." Soonyoung kemudian tertawa keras. "Cieee~ Junghan hyung sama Seungcheol hyung maju, gih!"

Sip. Seungcheol siap mengkode incarannya kali ini.

-0-0-0-

"JANTUNGKU!"

"Belom, Seokmin. Belum mulai."

"Oh..."

Iya. Padahal Junghan dan Seungcheol hanya baru duduk berhadapan. Para dongsaeng-nya rapi mengelilingi. Suasana terasa seperti mereka sedang menyaksikan proses eksekusi. Mereka mati penasaran.

"Pokoknya ya, hyung, kalau kalian gagal kalian harus traktir kami hanwoo."

"Apalah maumu." Seungcheol menerima satu pocky dari tangan Seungkwan sebelum akhirnya benar-benar berhadapan dengan Junghan.

"Gigit, Han." tatapan Seungcheol tepat menuju mata Junghan.

Junghan memajukan bibir bawahnya, sejenak ragu kemudian maju dan menggigit salah satu ujungnya.

"TUHANKUUU~"

"Soonyoung apaan, sih! Belum mulai."

"SIAP NIH YA?!" Seungkwan memberi aba-aba. Tapi sumpah gak bohong dalam hatinya sendiri ia degdegan bukan main. Padahal bukan dia yang bakal pocky game.

(Anjaay~~~ sini juga ngetiknya degdegan setengah hidup)

Seungkwan sudah bilang 'mulai'. Namun yang dilakukan Junghan malah berbisik sangat pelan. "Aku malu."

"Malu atau isi dompetmu hangus?" balas Seungcheol tak kalah pelan.

"Ini menyangkut harga diri, tahu!" Junghan merengut lucu.

Seungcheol mengangkat bahu acuh, lalu maju satu gigitan.

"Seungcheol! Apa yang kau lakukan?!" Panik, Junghan hampir saja melepas gigitannya sebelum akhirnya menguasai diri.

"Main game-nya, lah..."

Junghan tidak bisa membantah apapun lagi. Sudah nasibnya dapat warna kuning. Nasibnya juga ternyata dipasangkan dengan Seungcheol. Nasib, nasib...

"DEMI APAPUN—"

"HAMPIR HABIS! HYUNG, HYUNG, ASTAGA—"

"TOLONG YA! MAKNAE KALIAN INI MASIH POLOS, KAWAN!" Dino bahkan ditutupi jaket oleh Minghao dan Hansol.

"Tapi ini sweet seriusan."

Soonyoung menoleh. "Sepikiran kita."

Mingyu dan Soonyoung saling high five.

Dan tepat ketika bibir keduanya hampir bersentuhan, Seungcheol menarik diri. Junghan yang kaget cepat-cepat menadahi pocky-nya agar tidak jatuh. Pandangannya menatap bingung pada Seungcheol yang menutup mulutnya dengan punggung tangan.

"Kenapa?" tanya Junghan. Suaranya pelan namun terdengar jelas.

"Appa bilang kita tidak boleh mencium sembarang orang."

Mendengarnya, raut wajah Junghan berubah. Ekspresinya tak terbaca, namun ada sedikit perasaan kecewa disana. Tapi Seungcheol memang benar.

"Begitu. Jadi sudah selesai?"

Junghan menunduk. Menguatkan hatinya bahwa ini bukan apa-apa. Lagipula ia tidak punya hak untuk kecewa. Dan lebih lagi, ini hanya game—tidak mengandung arti apapun.

Menatap pocky yang sudah tinggal segigit, berniat memakannya saja sebelum pergelangannya di tahan Seungcheol.

"Kok pocky-nya mau dimakan?"

"Bukannya sudah selesai? Kalau dilanjut, kau akan menciumku. Kau tidak boleh mencium orang lain begitu saja—"

"Appa bilang aku boleh mencium orang yang telah menjadi milikku."

Junghan tertegun. Tatapannya menatap lurus pada Seungcheol yang tersenyum.

"Hah?"

"Iya. Aku boleh mencium orang yang menjadi milikku."

Junghan memiringkan kepala.

"Kalau kau menerimaku, maka kau akan menjadi milikku. Dan aku boleh menciummu."

Kalimat itu terngiang dalam pikiran.

Drama. Junghan tahu ini seperti kisah dalam drama. Tapi boleh kan, Junghan terlena oleh keindahan kisahnya?

Ah... lihat senyum itu. Senyum hangat itu.

Senyum Seungcheol akan menjadi satu-satunya senyum favorit Junghan di dunia ini. Satu-satunya senyum yang membuatnya nyaman dan tenang. Senyum yang bisa membuatnya tergila-gila dan terus kepikiran, namun—masokis memang—Junghan menyukainya. Sangat menyukainya.

"Jadi maksudmu kalau aku bilang 'iya', kau bisa menyelesaikan game ini?"

Seungcheol tertawa. "Harga dirimu itu tinggi sekali, ya. Kupikir begitu. Jadi apa jawabanmu?"

"Iya."

Seungcheol dan Junghan saling tatap. Berbagi senyum dalam diam namun penuh arti. "Gigit lagi, tuh."

"Kekecilan, sudah tidak bisa digigit." gerutu Junghan.

"Yasudah."

Seungcheol memajukan tubuhnya dan kemudian jerit para dongsaeng-nya menggema.

Junghan menjauh sambil menunduk, tak berani mengangkat kepala karena wajahnya sudah merah padam. Seungcheol hanya tertawa kecil. Menyisipkan poni Junghan ke telinga lalu mengusap kepalanya.

"BERKATILAH MATAKU INI!"

"O. may. gat."

"SWEET CIEEE~"

"TRAKTIRANNYA NAMBAH!"

Berbagai komentar, berbagai reaksi. Akhirnya ya... tetua kita ini confess juga.

"Saranghae?" tanya Seungcheol.

"Ne~" balas Junghan pelan.

Terima kasih pada Seokmin yang mencetus ide main pocky game. Terima kasih pada popsicle kuning yang membuatnya senasib dengan Junghan. Terima kasih pada Joshua yang telah membeli popsicle. Eaaaa... Josh yang beli~ gak ada misunderstanding ya~

"Senang pangkat kubik pulang-pulang ke Seoul dapat tiga traktiran sekaligus."

"Aku sudah menyelesaikan game-nya. Jadi aku bebas traktiran."

"Tidak bisa begitu dong, hyung! Pajak jadian!"

"Sialan." Seungcheol mendengus, namun tak lama ia tersenyum juga. Luluh dengan tingkah kekanakan para dongsaeng-nya yang mengemis minta makan. "Jjajangmyeon saja, ya?"

"Boleh tuh. Yang penting makanan."

Jadilah rencana pertama mereka ketika sampai ke Seoul adalah makan besar.

-0-0-0-

"Terus kita mau ngapain lagi? Tengah malam masih lama, lho."

Semua saling berpandangan. Hening dan bingung, memikirkan apa yang harus dilakukan.

"Tidak ada rencana."

"Kehabisan ide."

"Sama. Aku capek."

"Mau pulang."

"Dino beli kembang api."

"MANA, MANA?!"

Dino mengambil satu bungkus kembang api. Ketika di buka, Soonyoung merebut dan berkata. "Satu orang ambil satu!"

"Mau bakar-bakar disini?" tanya Joshua.

"Woles, sih. Tidak ada orang."

"Soonyoung hyung banyak dosa, ih." sembur Minghao.

"Tidak apa-apa. Asalkan aku disayang Jihoonie~"

Jihoon hanya mencibir. "Aku membencimu."

"Aku juga cinta Jihoonie!"

Setelahnya, Soonyoung slapped by Jihoon.

"Bagi-bagi beginian mau dinyalain pakai apaan?"

Soonyoung yang asyik membagi-bagi kembang api mendadak mematung.

"Bodoh." itu Jihoon. Tahu Soonyoung pasti tidak berpikir panjang.

"Aku menemukan korek. Hanya tersisa sedikit, sih."

"Ya sudah tidak apa-apa!"

Seungcheol—sebagai tertua yang baik—menyalakan korek dan mengitari dongsaengnya satu per satu untuk membagi api. Hati-hati agar tidak melukai siapapun, setelahnya Seungcheol kembali membuang korek itu.

"Kalau api kalian mati tengah jalan, itu resiko. Tidak ada api lagi."

Masing-masing kembang api mereka dinyalakan. Mereka mengangkat tinggi-tinggi layaknya anak kecil. Sinar terangnya terlihat begitu indah di tengah gelapnya malam.

Soonyoung dan Jihoon saling menempelkan kembang api mereka. Seungcheol dan Junghan hanya berdiri bersisian, namun tidak melepas senyum bahagia sambil memperhatikan bagaimana kembang api itu habis dilalap api.

Namun tak lama, keadaan tampak hening karena mereka tenggelam dalam permainan kembang api masing-masing.

"Hei, kupikir ini pertama kalinya kita menghabiskan musim panas bersama-sama semeriah ini." suara Seungcheol diiringi berhembusnya angin pantai memecah keheningan.

"Ya. Ini benar-benar pengalaman baru dan pengalaman paling menyenangkan."

"Ayo kita satukan kembang api kita."

Mereka membentuk lingkaran. Menyatukan ketiga belas cahaya di bawah langit musim panas. Cahaya kerlap-kerlip api begitu indah. Terpantul dalam binar mata mereka yang memancarkan rasa senang bukan main.

Seolah ini kesenangan pertama dan terakhir mereka. Seolah akan menjadi kenangan paling indah seumur hidup. Tercipta dari mereka dan untuk mereka. Dan tidak akan bisa terlupa.

"Kapan kita ke Busan lagi, hyung?"

"Kalau kita berumur panjang, Dino-ya. Ayo kita ke sini lagi bersama-sama." Junghan tersenyum hangat, membalas tatapan Dino yang samar-samar.

"Katakan padaku, hyung. Semuanya akan baik-baik saja, kan?"

"Tentu, Hansol-ah. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita melewati segalanya bersama, bukan?"

"Tidak boleh menangis."

"Iya, jangan menangis. Kita dilatih oleh takdir untuk menjadi manusia yang kuat."

Mendengar segala hal itu, Mingyu kembali menundukkan kepalanya. Hatinya bergejolak hebat. Perasaan bangga dan senang bisa bertemu dengan mereka semua.

Mereka yang semula bukan siapa-siapa, kini berubah menjadi sesuatu yang tidak mungkin Mingyu lepas dalam kehidupannya. Mereka yang semula lemah dan putus asa, kini benar-benar kuat dan bahkan saling meyakinkaan satu sama lain untuk melewati arus hidup.

"Mingyu?"

Mingyu mendongak. "Ya, hyung?"

"Kau tahu, kau itu memiliki hati yang paling kuat diantara kita. Jangan murung. Cahayamu hampir redup."

Mingyu menemukan kembang apinya hampir mati, kalau saja api disekelilingnya tidak membantu miliknya kembali hidup.

Sama seperti dirinya. Ia bisa saja mati. Namun ternyata mereka membantunya tetap hidup.

"Dan Jeon Wonwoo, mungkin memang terlambat mengatakan ini. Tapi, kalau kau butuh bahu, kau bisa mendapatkan dua belas bahu untuk ribuan masalahmu."

Wonwoo hanya membalasnya dengan senyum. Kecil namun tulus. Dan diam-diam, Wonwoo merasakan hatinya menghangat.

"Semuanya...?" panggil Seungcheol lembut.

"Ya, hyung?"

"Fighting!"

Senyum Seungcheol mengawali senyum-senyum lain untuk merekah. Mereka mengkaitkan jemari mereka yang dihiasi cincin—keculai Wonwoo, tapi itu bukan masalah sama sekali—diatas api yang tetap menyala terang.

"Hamkkehaja?"

"Neee~!"

Mereka tertawa bersama dan tidak beranjak. Membiarkan diri mereka diterpa angin dingin pantai seiring dengan malam yang semakin menanjak. Bintang-bintang tetap setia menemani, memperlihatkan bagaimana cincin-cincin mereka memantulkan sinar keemasan penuh keindahan.

Mereka sama halnya dengan para bintang. Akan terus bersinar indah dalam kegelapan namun tidak akan padam dilekang waktu.

Senyum-senyum itu serupa dengan bintang di langit. Bahkan mungkin lebih indah lagi.

.

.

.

.

.

.

I see you, hesitating

I guess we're still young

The little space between us won't fill

We're like parallel lines

But we can't be, I know we'll end up together somehow

Promise me this, I hope you don't change

I want you to smile at me like you do now

If only I could run through time and grow up

I'd holds your hands in this crazy world

.

.

.

.

.

.

Mingyu tidak perlu ragu dengan hidupnya.

Ia tak perlu cemas dengan apapun. Semua pasti akan berjalan baik.

Selama mereka tetap disisinya, dan selama ia bisa menjaga Wonwoo, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Wonwoo benar. Ia pasti bahagia.

Karena hidupnya dikelilingi mereka yang juga berbahagia.

.

.

.

.

.

To be continued~


A/N:

Jeng jeng jeeenggg~~

Sudah berapa bulan saya tidak muncul? huehuehue ini epep udah ga keliatan lagi di timeline ffn, udah tenggelem jauh banget wkwkwkwkwkwk

myanhe myanhe hajimaaaaa buat kaliaannn... saya sibuk suer dah :"(( sebulan lebih jujur aja ga sempet megang leptop dan ga sempet ngetik. pas saya dapet jatah libur tiga hari kemaren dari jumat, saya akhirnya bertekad(?) untuk semangat ngetik dan akhirnya nyelesein 4k+ dalam sehari :"D alhamdulillah sini tidak berakhir bongkok.

Dan untuk publish chap berikutnya, saya ga berani jamin bakal rilis dalam waktu dekat. Apalagi bentar lagi april-IYA APRIL MUEHEHEHE KATANYA SEBONG BABIES KAMBEK PAKE FULL ALBUM GYAHAHAHA APA KABAR DUIT SAYA-enggak deng, bukan itu. april bakal padet sama uambn uam ujian praktek seleksi berkas buat lulus dan mei awal udah un. buat saya un itu mirip ama kim minwoo, sama-sama siake /plak/ bikin full depressed.

sekali lagi hime minta maap. kesannya jadi kayak php gini niihhh ga enak ;_; tapi saya bakal tamatin epep ini kok ciusan deh. soalnya dapet kabar bulan juni/juli kan udah mulai puasa tuh, dan pas puasa sekolah hime libur ampe satu bulan haha peace udah mikir libur aja ujian kek belom.

pokoknya hime minta maaf bangetttt /bow/

oya ada isu katanya svt kambek konsepnya bad boy, tapi ini isu doang sih gatau juga kebenarannya. saya mah apa atuh kalo uji ampe nunjukkin muka muka songong sangar gitu /lambaikan tangan ke kamera/

.

Thanks for all the reviews, follows, likes and everything.

At last, review please?

.

.

btw lagu kambeknya OMG yang [one step two step] enak banget hihiw ^^