Hari keempat.. salah, mungkin kelima. Atau satu minggu?

Tsugaru tidak bisa lagi menentukan berapa lama waktu berlalu sejak kejadian itu. Selalu begitu, sebenarnya, setelah kornea matanya dia donorkan untuk adiknya.

Bangun dan tidur sama saja. Sama-sama gelap.

Dia tersenyum masam sambil bangun dari posisi tidurnya, duduk bersandar ke kepala ranjang. Tangan kanannya meraih jam weker di nakas, tapi jemarinya malah membentur gelas berisi air, yang kemudian terguling jatuh ke lantai, dan pecah. Air tumpah kemana-mana. Suara beling berdenting membentur lantai terdengar nyaring di telinga Tsugaru, seolah mengejeknya.

Lagi-lagi..

Desahan panjang kecewa keluar dari mulutnya, lebih ditujukan pada diri sendiri daripada siapapun. Tsugaru tersenyum ketika perawat datang membantu, tapi dalam hatinya dia masih merutuk dirinya sendiri.

Bukan karena telah merelakan dirinya sendiri buta, bukan.

Lebih karena dia tidak ingin terlihat selemah ini ketika Psyche nanti datang menjenguknya. Tidak boleh. Psyche akan sedih jika dia menunjukkan kelumpuhannya, dan dia sama sekali tidak pantas bersedih lagi. Cepat atau lambat, Psyche akan mengunjunginya, dia yakin. Dia sendiri sudah siap secara mental, tapi ternyata tidak begitu halnya dengan badannya.

Lalu perawat itu pergi, dan dia sendiri lagi.


Di sisi lain gedung, Psyche sedang menatapi dirinya sendiri di cermin kamar mandi. Senyumnya tetap tersungging di wajahnya, membuat Psyche muak karena senyum itu seolah mengejek suasana hatinya yang sedang dipenuhi kepulan kegelisahan.

Tidak semua anggota badan Psyche berfungsi sempurna, tapi setidaknya semuanya masih utuh.

..Tapi memangnya badan ini milik siapa? Dia membantah pikirannya sendiri.

Tangan dan kaki ini bekerja baik karena Tsugaru yang membujuknya dulu.

Mata ini punya Tsugaru. Psyche merebutnya.

Dan ini.. Psyche menggigit bibir bawahnya, tanpa sadar meremas bagian dada baju putih tipis yang dia kenakan. Hati Psyche, walau punya Psyche, tapi yang dipanggilnya setiap saat adalah nama Tsugaru…

Lantas milik siapa hati itu?

Sepelan apapun isakan Psyche saat itu, pastilah tetap terdengar oleh Ibu, karena Ibu segera datang dan memeluknya. Memang sejak hari itu Ibu tinggal untuk menjaga Psyche, kalau-kalau sesuatu terjadi.

"Tidak apa-apa,Psyche.."suara Ibu lembut menenangkan, seraya tangan hangatnya mengusap-usap punggung Psyche."Ada apa..?"

"Kembalikan.." ucap Psyche lirih di sela-sela isakannya.

"Kembalikan..?" Ibu menengadah untuk menyeka airmata Psyche yang mulai membasahi seluruh wajahnya, baru sekarang menyadari betapa anaknya telah tumbuh besar.

Psyche menatap Ibu dengan mata kemerahannya yang digenangi air mata. Hati Ibu menciut melihat kemeranaan yang disampaikan Psyche dalam pandangannya, kesedihan, keputusasaan—dan setitik harapan yang juga dia tuturkan dalam sorotan matanya.

Harapan, dan permohonan yang sungguh-sungguh, yang akan membuat Ibu merasa jahat jika Ia sampai hati menolak apapun itu permohonannya.

"Kembalikan Psyche.." cicitnya pelan. "…Kembalikan Psyche pada Tsugaru."


Bagian selanjutnya akan dipublish dalam waktu dekat! Dijamin bebas penderitaan!