"Kemungkinannya 30% untuk berhasil lolos tanpa komplikasi. Kami akan memantau dua minggu penuh untuk saat ini, dan saya harap anda tidak keberatan dengan jadwal check-up tiap bulan.."

Bocah itu mendengar perkataan appanya pada orangtua sahabatnya, memutar otaknya keras sementara sang kawan baru saja disuntik tidur disampingnya.

Mamanya bilang, Namjoonie akan operasi untuk menutup lubang jantungnya. Itu satu-satunya cara untuk membantu dia. Dan ini adalah operasi pertamanya, itupun setelah dia kolaps- ironisnya, gara-gara mama barunya sendiri.

Namjoon baik-baik saja tadinya sebelum punya mama baru dan hyung. Dia bahkan sering bermain kerumahnya dan merusak barang-barangnya tanpa rasa bersalah. Tapi sejak ada mama baru dan hyungnya, Namjoon lebih berhati-hati dengan banyak hal.

Namjoon jadi pendiam lagi.

Bukan. Namjoon memang pendiam- tapi pendiam-nya yang sekarang adalah diam yang berbeda dari yang biasa.

"Ini pengawasan jangka panjang, Jihye-ssi. Saya berharap banyak pada perkembangan Namjoon. Operasi ini...biar kita melakukannya terlambat, tapi saya berharap akan ada kabar baik-"

"Namjoon-ie pasti bertahan."

Hoseok mengangkat kepalanya, mendengar perkataan optimis wanita itu yang bahkan masih menangis.

Pasti. Aku tahu dia akan bertahan."

Hoseok menurunkan pandangannya, menatap wajah polos kawannya dan meremat tangannya seperti dia akan pergi.

Namjoon sanggup, pasti.

XXX

Deep in Your Heart

by. SummerChii

.

.

.

AU! Typo! Semoga alurnya jelas~

BTS milik keluarganya dan kita semua, saya cuma pinjem nama

.

.

Warning: Bromance/bxb/chaptered

10 : Just One DayXXX

Biar Namjoon sudah membuka mata tiga hari lalu, Seokjin masih belum bisa bernafas tenang.

Sekarang tiap melihat yang lebih muda, dadanya sesak.

Namjoon sendiri masih bersikap seperti biasa. Entah dia memang tidak peka atau Seokjin mulai pandai menyembunyikan perasaan, dia tidak tahu. Anak itu baik- baik saja dan kelihatannya.

Seokjin baru tahu, kalau Namjoon yang sedang sakit jadi banyak maunya.

"Hyung, aku mau apelnya dikupas."

Dan Seokjin akan melakukan apapun yang dia mau- mulai dari membawakan telur mata sapi supaya bisa dimakan bersama bubur sampai membawakan celana dalam gantinya yang warnanya hitam dengan karet longgar, membawa boneka ryan-nya ke laundry, menyalin catatannya, mencuci seprainya, membeli roti isi soba bersama Taehyung, dan lainnya.Dalam waktu dua hari ini.

"Hyung, setelah ini, boleh carikan lemon? Infuse water sepertinya segar..."

Kemarin sih, Seokjin menurut saja dan mengikuti semua kemauan yang lebih muda mengingat dia juga nganggur saja. Tapi lama-lama dia lelah juga bolak balik kesana kemari gara-gara ulah adiknya yang brengsek. Padahal ada ibunya atau appanya yang datang, tapi anak itu seperti sengaja melimpahkan tugas kepada Seokjin.

"Aku tahu kau sedang sakit, Namjoon.."

Yang lebih muda menoleh, mengunyah apel yang gundul dikupas Seokjin dengan wajah santai yang membuat Seokjin mendidih sampai ubun-ubun. Tangannya meremat erat gagang pisau dan wajahnya sudah sangat merah.

"Ah, tidak hyung...aku sudah merasa sehat sekarang-"

"TAPI. KAU. KENAPA. MEMPERLAKUKANKU. SEPERTI. PEMBANTU?"

Seokjin memukulkan kepalan tangannya ke meja makan, sampai potongan-potongan apel itu melompat sedikit dari piring dan adiknya terbatuk heboh karena tersedak karena Seokjin memukul-mukul mejanya dan menggeramkan pertanyaan itu dengan wajah merah. Dia memandangi Namjoon yang masih terbatuk, minum sambil menepuki dadanya dan mengatur napas baik-baik.

"Yya! Aku bisa mati, hyung!"

Dongsaengnya masih menaruh tangan di dada-yang dia ragu, apakah jantungnya benar-benar sakit biarpun dia tidak teriak dan hanya tampang wajah seram (menurutnya) atau si adik sialan itu memanfaatkan keadaannya saat ini. Seokjin sudah kesal setengah mati.

"Mwo?! Kau pikir aku tidak bisa mati? Aku robot? Tukang delivery?! Kurir paket?! Tidak bisakah kau biarkan aku duduk disini istirahat? Atau dirumah?! Hah?! Aku bisa mati gara-gara mengatur jadwalku yang dipadati! Gara-gara siapa?! INI! BOCAH TENGIK YANG MAKAN APEL GUNDUL SEENAK PERUTNYA!"

"Nak, ini rumah sakit..."

Seorang bibi- sama-sama penjenguk dari bangsal sebelah menatap mereka tajam, membuat keduanya buru-buru meminta maaf ke penjuru ruangan. Lalu keduanya dibalut hening.

"Ppft.."

Seokjin nyaris tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Namjoon sudah gila, pikirnya. Anak itu tertawa sampai tidak ada suaranya dan bulumatanya basah gara-gara airmata. Dia menepuk bahu Seokjin pelan-langsung ditepis, membuatnya makin hebat tertawa. Sebelah tangannya yang tidak di-infus menepuk dada pelan, sedikit meremas kemeja birunya.

"Diam, bodoh. Nanti kau serangan jantung lagi."

Dan Namjoon berangsur berhenti-biar sesekali masih terkekeh polos didepan wajah Seokjin sambil menyeka airmatanya.

"Aduh. Perutku sakit."

Lalu hening. Seokjin diam saja dengan wajah kesal dan mengupas apel kasar-kasar sambil menggerutu. Dia tidak peduli mata pisaunya mengarah pada Namjoon atau apapun. Seokjin benar-benar kesal.

Dia merasa dikerjai yang lebih muda.

"Aku senang kau sudah bisa marah-marah lagi, hyung."

Seokjin terdiam. Jemarinya langsung terhenti mengupas apel dan dia langsung mengangkat kepalanya menatap yang lebih muda.

"Gila-"

"Maaf ya, membuatmu lelah. Aku cuma mau memastikan kau tidak macam-macam selama aku tidak ada."

Ah, Seokjin takut kalau Namjoon mengatakan kata-kata seperti itu. Dia yang tadi marah-marah langsung diam membisu sambil menatap Namjoon dalam-dalam.

Dia membuatnya sibuk supaya tidak punya kesempatan untuk bunuh diri.

Dia membuatnya berjalan panjang bersama Taehyung yang bawel supaya tidak ada waktu buat merenung.

Dia membuatnya bolak-balik supaya setelah sampai rumah dia akan makan malam dan tidur nyenyak karena tubuhnya kelelahan.

Tersirat.

Karena dia dan Namjoon dipisahkan jarak dan dinding dingin kamarnya dengan kamar rumah sakit yang beberapa kilometer jauhnya, sehingga yang lebih muda tidak akan bisa berlari ke kamarnya kalau Seokjin kenapa-kenapa.

Padahal Namjoon adalah orang yang ada pada ambang kenapa-kenapa daripada Seokjin.

Entah anak itu tahu, atau tidak tahu.

Nafasnya kembali sesak memikirkan itu.

Dia masih diam, memasang wajah datar sambil menghela napas berat dan membiarkan Namjoon menatapnya dalam-dalam. Hening kemudian menyusul, karena Seokjin tidak marah atau menggerutu lagi.

Tapi yang lebih muda malah mengangkat sebelah alisnya, dia menaikkan dagu kakaknya sensual, tersenyum manis dengan tampang sok-sok-an.

"Hey, hyung. Aku mungkin baru sadar. Kau canti-"

"YYA! AKU TAMPAN! DASAR KURANG AJAR!"

Namjoon tahu benar cara menghempaskan emosi Seokjin dan membuatnya tidak murung.

XXX

"SEOKJIN-HYUNG!"

Dua hal yang berubah dari sekolah sejak masa skorsingnya habis.

Satu, dua orang adik kelas jadi lengket padanya-sebenarnya hanya Jackson, Hoseok kelihatannya hanya dipaksa si pirang ikut-ikutan. Kadang Seokjin merasa tidak enak pada Hoseok jadinya.

Dua, tidak ada Lee Jaehwan di kelasnya lagi.

Anak itu menghilang ditelan bumi-entah kemana, sementara kacung-kacungnya dia juga tidak tahu ada dimana. Yang pasti, Seokjin dipindah kelaskan. Dan Lee Jaehwan dia harap sudah punah dari dunianya.

Kelasnya bebas merdeka dari anak-anak berisik, menyisakan kumpulan anak-anak normal (sepertinya) yang acuh satusama lain. Mereka tidak peduli Seokjin, dan Seokjin sendiri tidak peduli dengan mereka.

Seokjin mulai tidak peduli dia dipandang orang-orang seperti apa. Ia belajar kilat dari seorang guru yang hebat- Yoongi. Bahkan belakangan ini siswa-siswi langsung menyingkir kalau dia lewat karena Yoongi suka tiba-tiba muncul dan memberikannya soda, atau kopi, atau minuman tidak sehat lainnya. Keduanya (mungkin) bisa dibilang teman, karena mereka jadi sekelas dan duduk samping-menyamping.

Yoongi cukup menyenangkan bagi Seokjin-dia cool, tidak banyak gaya dan irit bicara. Sekali bicara kata-katanya mengena di hati dan langsung membanting setir pikiran Seokjin. Cocok sekali untuk tempat bercerita saat dia tidak butuh komentar. Anak-anak pada takut dengannya, entah karena wajahnya datar, atau karena dia terlalu putih, atau karena dia memiliki hawa-hawa gaib, atau karena dia adalah ketua kedisiplinan.

Bicara soal Yoongi, ternyata anak itu tinggal dekat dengan dia.

Jalan kaki (ukuran jalan kaki adiknya itu) lima belas menit, kata Namjoon. Mungkin kalau jalan super-speednya Hoseok bisa sampai dalam tujuh atau delapan menit.

Ternyata juga, dia teman dekatnya Namjoon.

Yoongi, Hoseok, Jackson. Bertiga, teman dekatnya Namjoon. Sejak anak itu masih pakai celana dalam superman.

Hoseok yang paling lama mengenal Namjoon. Mereka saling kenal sejak keduanya masih masuk kedalam kantung kresek belanja bulanan yang paling besar. Jackson sering bercerita kalau keduanya lengket sejak dulu karena Hoseok adalah anak dokter Jung. Dan rumahnya adalah tempat penitipan ter-aman buat Namjoon.

Dunia sempit buat Seokjin.

Dia jadi tidak heran kalau misalnya Hoseok benci pada dia. Anak itu pasti tahu kalau dia suka semena-mena pada Namjoon dulu. Seokjin tidak banyak bicara dengan Hoseok karena hal itu. Canggung, tentunya.

"Mau makan apa, huh? Kau harus makan yang banyak. Jangan sampai kurus, cantik."

Sial. Tidak temannya, tidak Namjoonnya, punya otak miring semua. Seokjin jadi ingin mencibir.

"Aku laki-laki, Jackson. Dan itu bukan cantik, tapi tampan."

Jackson tersenyum miring, merangkul Seokjin nyaman.

"Buatku Seokjin-hyung tetap cantik mau laki-laki atau perempuan."

Biadab itu mau mencium kening yang lebih tua kalau saja pantatnya tidak ditendang dari belakang-entah Yoongi atau Hoseok yang berbuat, Seokjin tidak tahu.

"YA! KUDA! PANTATKU! FUCK-"

"Wang Jackson, bicaramu."

Dan Jackson langsung diam kalau sudah diancam Yoongi. Dia berbalik dan kembali merangkul Seokjin.

"Jangan cari kesempatan, tengik!"

Kali ini Hoseok yang bicara, menabok tangan Jackson sampai merah dan membuat Seokjin kaget.

"Kenapa tidak boleh? Kau takut disalip? Makanyaa, jangan kaku, dong!"

Namja itu mengatakannya dengan nada main-main, sembari menggoda Hoseok yang ada disampingnya. Jackson sangat pecicilan biarpun ini di kantin- di depan umum. Dan tentu Seokjin tidak mau kena imbas ulah aneh-anehnya, jadi dia menyingkir agak jauh namun masih memandangi yang lebih muda. Salahnya sendiri tidak fokus saat Jackson menggoda Hoseok dengan pukulan-pukulan kecil sampai besar- membuat Seokjin terhuyung karena pinggulnya membentur meja, dan Hoseok sepertinya ikut didorong kuat-kuat sama Jackson.

Sehingga, saat Seokjin bangun, bibirnya yang basah mendarat di pipi yang lebih muda dengan tidak elit.

"O-oh! A-aku tidak bermaksud! Maaf!"

Seokjin kaget, memandang Hoseok horror, takut anak itu marah atau malu, karena mereka dilihat seisi kantin akibat ulah Jackson yang dorong-dorong tadi.

Seokjin langsung merutuki dirinya dan berjalan cepat-cepat meninggalkan keduanya- Yoongi menyusul dia dengan cuek dan meningalkan dua sohib yang masih terpukul. Hoseok yang membatu dan Jackson yang cengengesan.

Sementara Hoseok berusaha menahan ekspresinya tetap datar biar hatinya sudah terbang-terbang seperti bulu. Memasang wajah keras karena di sisi lainnya dia merasa kepalanya menyuruh dia berhenti menerbangkan bulu.

Bahkan dia masih merasakan hangat dan basahnya bibir Seokjin.

Harusnya itu tidak boleh.

XXX

Namjoon keluar dari rumah sakit di pertengahan musim dingin yang beku tahun itu. Dia menaruh tiga hotpack di dua kantong jaket di dadanya-Seokjin mengikutinya dan dia merasa Namjoon hebat sekali menemukan metode itu. Mereka berjalan melewati salju yang tebal, dengan sang mama didepan bersama Taehyung.

Namjoon sudah berkali-kali minta diturunkan. Dia merasa sanggup berjalan dengan kakinya sendiri dan dia mau main salju dengan Taehyung yang antusias.

Wanita itu menggeleng, membiarkan Seokjin mendorong kursi Namjoon pelan-pelan di belakang sebelum mereka naik ke atas taksi. Mereka hening sekali selama perjalanan. Hanya Namjoon yang membuka pembicaraan sedikit dan disahuti Taehyung ataupun Seokjin. Eommanya hanya diam didepan sambil memandangi jalan dan tersenyum sedikit.

Seokjin merasa janggal.

Dan dia rasa Taehyung juga sadar. Bocah itu terus memandangi hyungnya bingung.

Keadaan dirumah juga tidak memadai.

Semuanya hening, biar Seokjin sudah mencoba membantu adik-adiknya membuka topik, tetap saja kedua orangtuanya hening. Mereka berasumsi keduanya bertengkar-atau mungkin sedang ada kesalah pahaman kecil. Dan itu berlanjut sampai esok paginya.

Dan keadaan pecah esoknya. Mereka duduk di meja yang sama seperti saat mereka makan malam di hari-hari sebelumnya.

Tepat sesaat makan, sang ayah memecahnya.

"Mulai besok, kau akan kesekolah bersama Seokjin. Berangkat, bersama."

Seokjin mengangkat kepalanya, menghentikan tangannya yang ingin mengambil kimchi dan memandang bingung Namjoon. Anak itu menatap ayahnya lurus, sorot matanya dalam dan tenang.

"Pakai kursi roda."

Dan Seokjin tidak bisa memberikan reaksi lain selain menjatuhkan rahang bawahnya, membelalakkan matanya dan meremas sumpitnya erat. Matanya ganti menatap yang lebih muda, dia masih diam, tidak berubah. Ekspresinya juga tidak berubah. Menatap ayahnya lurus.

Namja itu menghela napas berat, tertawa sinis.

"Apa-"

"Dokter Jung ingin kau membatasi gerakan juga kegiatan. Dia bilang, tidak apa kalau duduk manis di kursi roda. Tidak membebani tubuh-"

"Aku tidak mau."

Namjoon tidak mengubah wajahnya. Tapi pasti, Seokjin tahu pasti ada sirat kecewa dari tatapan adiknya.

"Kau harus mau. Ini buat kebaikanmu, Namjoon. Turuti saja-"

"Tidak."

Sang ayah berhenti menyuap nasinya, menatap adiknya tajam dan menghela napas berat.

"Lalu kau mau appa seperti apa? Tukar jantung biar kau sehat? Cari obat dewa biar kau sembuh dengan cepat?"

Pria itu masih tenang, tapi kata-katanya tidak ada beda dengan Yoongi yang kelewat tajam. Seokjin menatap ayahnya, membuka mulutnya dan mengatakannya pelan-pelan.

"Appa, bukannya aku keberatan... tapi, bukankah itu berlebihan? Maksudku... Namjoon masih baik-baik saja. Dia masih bisa jalan sendiri-"

"Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku masih bisa jalan sendiri...Aku sehat, sungguh, appa."

Namjoon menginterupsi, memotongnya dengan nada yang begitu perih sampai Seokjin tidak mau mendengarnya, tapi sang ayah malah menggeleng, kembali pada makanannya dan secara tersirat menolak.

"Kenapa memaksa-"

"Kau mau membuat kami semua panik satu rumah karena kau kolaps tiba-tiba?! Serangan jantung, Namjoon. Dan kau menyembunyikannya, dua kali? Itu bisa membunuhmu, biar kecil juga. Kelakuanmu makin aneh-aneh saja. Minum obat sesukamu sampai dosisnya lewat. Minum obat tidur.. Adu tonjok biar seperti jagoan... Lalu apa lagi nanti? Mau ikut lomba marathon? Mau terjun ke laut? Berenang? Tahu diri, Namjoon! Kau itu sakit keras! Badanmu tumbuh besar tapi jantungmu tidak berubah, masih sama rusak-"

"IYA! AKU SAKIT, IYA! AKU MAU MATI KAN?! AKU TAHU!"

Seisi ruangan langsung diam melihat si tengah Kim meledak, melihat anak itu membanting sumpitnya dan memukul meja makan sampai bergetar. Nafasnya tidak teratur, matanya mengedar pada satu-persatu ekspresi di ruangan itu. Jemarinya mengerat di atas meja makan- membuat kepalan di tangan.

"Tolong... jangan diperjelas seperti itu."

"Kim Namjoon-"

"Tolong."

Taehyung yang pertama kali memecah keheningan, memeluk kakaknya erat-erat sambil membenamkan wajah di lengannya. Namjoon memandang eommanya, memohon pertolongan.

"Kalau memang aku sudah mau mati, tolong, beri aku kebebasan. Jangan begini... jangan memperlakukanku seperti orang sekarat.."

"Namjoon-ie... maaf... tapi... eomma..."

"Tolong, aku cuma minta itu saja, appa, eomma. Aku tidak akan minta apa-apa lagi."

Seokjin masih terpaku, menatap adiknya dengan airmata tumpah ruah. Ayahnya terlihat menahan emosi- entah marah-entah sesak, Seokjin tidak tahu. Atmosfirnya jadi terasa sangat berat, begitu sakit. Menusuk pedih.

"Tolong..."

Ayahnya tidak menjawab, pertanda dia tidak setuju dengan apa yang dimau anaknya. Hanya diam, memandang lurus si tengah Kim dengan wajah perih.

"Nak, bagiku juga berat untuk mengatakannya. Tapi kau tidak punya pilihan. Kami hanya berpikir untuk mengikuti arahan dokter Jung. Dia paling tau yang terbaik buatmu. Dan kami juga tidak berpikir kearah sana. Jangan begini, Namjoon."

Dan hening kembali menyapa mereka, mencengkram leher masing-masing sampai rasanya mencekik.

"A-aku akan menenangkan diri. Terimakasih makanannya... dan..maaf teriak-teriak."

Namjoon beranjak, melepaskan Taehyung yang lengket dengannya secara paksa, membuat anak itu terpaku ditempatnya. Jihye sudah tidak sanggup bicara, dia hanya memandang dinding menghadapi kekacauan itu.

Seokjin awalnya diam, terpaku kemudian memandangi satu persatu keluarganya yang frustasi. Dia ikut pergi, mengejar adiknya-sebelum Namjoon angkat kaki dari rumah. Anak itu tidak boleh kelelahan, dia baru keluar dari rumah sakit kemarin pagi dan sekarang sudah dihadiahi jackpot.

Ini berat. Seokjin tahu orangtuanya khawatir. Dan mereka mungkin berpikir Namjoon akan menurut begitu saja. Ya... siapa yang kira Namjoon akan mengelak? Dia selalu penurut.

Tapi Seokjin mengerti, Namjoon kecewa.

Dua orang yang paling dia hormati malah menjatuhkan dia segitu dalamnya. Membiarkan dia sendirian merenung.

Namjoon tidak akan sendirian. Seokjin tidak akan membiarkan dia sendiri.

XXX

"Hei."

Seokjin menutup jendela dan membiasakan diri di kamar Namjoon yang hangat. Namjoon tidak membukakan pintu buatnya-membuat Seokjin beralih pada jendela dan membukanya. Syukur, jendelanya tidak dikunci (Seokjin tahu Namjoon tidak mengunci jendela saat dia mengambil dan mengembalikan ryan-nya yang di laundry) seperti dugaannya. Dan dia juga bersyukur karena kasa nyamuk adiknya mudah dibuka dari luar juga.

Setelah masuk, yang dia dapati adalah Namjoon yang terlentang dengan pakaian yang sama-bahkan masih pakai sandal rumah. Anak itu merentangkan tangannya, memejamkan mata tenang seperti orang tidur.

"Kau baik-baik saja, Namjoon?"

Hening. Seokjin tidak mendapat jawaban apapun dari yang lebih muda. Anak itu hanya diam, tenang seperti biasa dan tiba-tiba berguling menyamping, meraup gulingnya.

Dan dia masih tidak bicara, hanya memeluk guling dalam diam, memberikan punggungnya untuk dipandang yang lebih tua dan meringkuk seperti udang pancet.

Kaus putihnya terangkat kemana-mana, membuat Seokjin bisa melihat lapisan kulit keemasan Namjoon yang tertutup baju. Dia pikir adiknya itu lebih coklat karena belang terjemur matahari atau bagaimana, tapi pada kenyataan, kulit Namjoon warnanya jauh lebih merata daripada kulitnya.

Yang lebih tua menyadarinya ada garis putih halus di bagian pinggang belakang adiknya-mungkin itu bekas kelakuan gila bapak kandungnya dulu yang diceritakan Jihye- panjangnya sekitar tujuh senti dan warnanya lebih terang dari kulitnya.

Ini yang membuat Jihye melacuri bapaknya.

Ini yang membuat mamanya bunuh diri.

Luka ini.

Seokjin menyentuhnya, membuat yang lebih muda berjengit dan menatap hyungnya heran. Matanya menatap Seokjin dalam- sementara Seokjin masih tetap menyentuh itu biarpun yang lebih muda sudah duduk.

Irisnya menatap mata coklat gelap Namjoon-yang nyaris hitam.

Yang lebih muda balas menatapnya, sendu. Seokjin- entah kenapa- memajukan wajahnya, menutup matanya spontan dan membiarkan bibirnya menyentuh yang lebih muda lembut, dan melepasnya sepersekian detik kemudian.

"Semuanya akan baik-baik saja, ne?"

Dengan percaya dirinya dia- entah darimana kepercayaan dirinya itu- mengatakan hal seperti itu setelah mencium lembut bibir Namjoon, membiarkan anak itu kaget dan menatap dia dalam penuh penjelasan.

"Jujur aku tidak keberatan dengan usul appa... kalau itu bisa membuatmu lebih baik. Tapi jika kau kecewa dengan itu. Aku ada di kubu-mu, Namjoon. Apapun itu. Aku akan berusaha membuat kita sama-sama enak, ne?"

Seokjin tersenyum, meremas erat tangan adiknya yang basah dan membiarkan jemari Namjoon yang lebih panjang naik ke pipinya.

Menangkup dua-duanya dan menatapnya dalam-dalam.

"Apapun, hyung?"

Seokjin mengangguk spontan, memberikan senyuman terbaiknya dan duduk bersimpuh didepannya, tegak.

"Kalau bisa membuatmu lebih baik kenapa tidak? Kau membantuku merasa lebih baik, bukannya aku juga harus?"

Mereka diam, membiarkan hening menyelimuti sampai Namjoon tertawa sinis, keras. Seokjin sampai mengerutkan dahi dibuatnya. Anak itu cepat sekali berubah mood-- dan ini bukan Namjoon yang dia tahu.

"Namjoon..."

Seokjin memejamkan matanya saat bibir tebal adiknya berjibaku dengan dia kasar, Namjoon menarik tengkuknya mendekat dan menyeludupkan lidahnya kedalam, menjilati tiap gigi-giginya yang belum digosok malam ini. Menyesap dinding-dinding bibirnya kuat dan merapatkan tubuh mereka sampai Seokjin menempel pada dadanya.

Dia ingin menolak, namun tidak sanggup mengelak.

Namjoon melepaskannya beberapa detik kemudian, menatap matanya yang sayu dan dia yang berusaha mengejar nafasnya. Seokjin yakin wajahnya sudah merah sempurna sekarang. Namjoon menatapnya intens, iris gelapnya jatuh menumbuk mata Seokjin sangat dalam.

"Kau akan melakukan apapun, kan? Itu berlaku seumur hidupku iya?"

Seokjin merasakan ada yang salah dari mata adiknya. Bukan sorot tenang yang biasa dia lihat- namun pada jiwa buas yang meraung sakit didalamnya. Perih, namun juga bengis.

Namjoon tersenyum miring- senyum yang sedih dan jahat. Membenamkan wajahnya ke perpotongan leher Seokjin dan menjilatinya sensual seakan itu permen. Membuat Seokjin harus meremas seprai adiknya karena geli dan terus mundur sampai tubuhnya dihempaskan ke ranjang. Matanya menatap kaget Namjoon yang kembali menyorot dia tajam, mengukungnya dalam kurungan tangan dan lutut yang melebarkan kakinya.

Yang lebih muda menggerayangi telinga Seokjin, mengigit-gigitnya pelan sampai Seokjin memerah sempurna menahan jerit. Membisikinya hal yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Jika seks membuatku lebih baik, bagaimana?"

Seokjin tidak tahu yang dihadapannya Namjoon- adiknya yang asli atau sisi lain dari namja itu.

XXX

A/NOke.Tenangkandiri...

Akhirnya aku nulis ini

Okeh

Mianhe worldwide mianhe eomma aku penuh dosah :")

OtwDiusahakan fast

GA MENJAMIN HAWD

(disaat badai ujian menerpa aku nulis ini... hehehe)

kritik saran review sangat terbukaaa~ yang pedes yang manis yang asin yang kecut akan kuterima dengan lapang :"

buat yang udahh revewww kemaren2, makasih bangettt!!! maaf kalo ada yg gak di balesin... :( aku ttp baca review kalian sambil ngeflai sendiri kogg

soalnya..

aku...

aku lupa udh jawab sampe mana

p.s.s

ohyaguys yg di daerah jabodetabek dan sekitarnyastay save yah :(takut gempanya susulan huhungerasain gempa selasa siang gak? ngewave banget, kaya naek kapalaku gatau antara panic ato ke-ena-an digoyang pas makam ikan td siang.banyak doa guys... aku inget aku punya banyak dosa jadinya...