Naruto©Masashi Kishimoto.

RATE : M

WARNING : LIME, TYPO(S), AU, OOC, ALUR CEPAT, DRAMA BERANTAKAN DAN YANG PENTING JANGAN PERNAH MEMBACA APAPUN YANG TIDAK KALIAN SUKAI. ^_^ *WINK*

SAYA INGATKAN SEKALI LAGI, SAYA ADALAH SEORANG PENGEMAR YAMANAKA INO.

~Last Heaven~

Pagi sudah sepenuhnya menyapa, seorang wanita dengan rambut berwarna pirang, dibiarkan tergerai indah, tanpa takut rambut itu akan kusut, kini ia tengah memelankan mobilnya yang sejak tadi ia kendari dengan cukup kecang. Mobil Sport yang sejak fajar ia kendarai, kini telah berhenti sepenuhnya, di depan rumah bak istana dengan pagar yang mejulang tinggi mengelilingi hunian bergaya barat.

Pagar besi yang memisahkan keadaan di dalamnya, namun tak bisa menyembunyikan kemewahan rumah megah dengan halam luas itu.

Yamanaka Ino memutuskan menghela napas sejekan sebelum mumutuskan turun dari dalam mobil. Menggigit bibir bawahnya hanya untuk mengurangi kegugupannya. Bagaimanapun juga ini untuk pertama kalinya, ia akan menemui kedua orang tuanya sejak delapan tahun lamanya.

Memastikan bahwa penghuni rumah di depannya ini masih Yamanaka, dengan melihat plangkat nama disisi kiri pintu gerbang.

Banyak perasaan yang tidak bisa ia katakan satu persatu saat ini, tapi Sasuke tidak akan menunggu lebih lama lagi. Ia harus cepat.

Mencoba memencet bel yang ada disisi kanan atas pintu gerbang berulang kali. Seorang petugas keamana yang ia kenal bernama Genma yang sudah berkerja di rumah itu sejak lama membuka pintu gerbang, setelah mengetahui siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini.

"Nona Ino?" Pria itu memastikan.

Ino hanya menunjukan senyum yang terpaksa. "Aku ingin bertemu dengan papa." Meski ini rumahnya tapi dirinya sekarang sudah seperti orang lain, jadi ia harus mengatakan maksud kedatangannya kali ini dan tentu untuk minta ijin.

Pria bernama Genma itu mengangguk. "Tentu nona, silakan masuk." Ia menyingkir dari depan pintu untuk mempersilakan si nonak lewat.

Ino berterimakasih sebelum ia berjalan pelan menyusuri halaman yang memiliki banyak jenis bunga, tidak heran karena sang mama sangat menyukai bunga, seperti halnya dirinya. Lalu rumput hijau yang seolah menjadi karpet alami halaman dan ditambah adanya beberapa pohon Ginkgo yang tumbuh tinggi menambah kesan cantik disepanjang jalan yang Ino lewati.

Ia merindukan suasana rumah yang begitu asri ini, memutuskan berhenti dan menghela napas seolah lupa tujuan awalnya, saat menatap kedepan dimana rumah dengan dua pilar yang berdiri kokoh untuk mempertegas bangunan yang berdesain barat itu Ino seolah dicubit.

Ia memutuskan berlari, melewati jajaran pohon Ginkgo tanpa peduli ia tak memakai alas kaki dan Kimono yang tak rapi. Cukup melelahkan memang bila harus berlari dari pagar depan sampai pintu utama rumahnya, karena jaraknya cukup jauh.

Dulu biasanya ia akan membawa mobilnya terparkir tepat didepan rumah yang tau jauh dari garasi. Namu kali ini, itu tidak mungkin, karena sekarang kedatangannya adalah sebagai tamu bukan putri pemilik rumah.

Masih dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun. Ia mengetuk pintu bercat putih di depannya.

Pintu terbuka, seorang pelayan yang juga cukup ia kenali menyambutnya.

"No-nona?" Ucapnya yang sedikit terbata karena kaget. Bagaimana tidak, nonanya ini sudah lama sekali tidak berkunjung sejak kejadi pengusirannya dulu. Sebenarnya cukup disanyangkan, karena ia jadi merasa kesepian karena hal itu.

Tapi apa yang ia lihat didepannya ini jauh dari kata seorang nona muda, apa kehidupan yang sekarang ia alami begitu sulit?

"Ayame, diamana papa?" Tanya Ino langsung, tak mempedulikan sikap terkecut sang pelayan.

Wanita bernama Ayame itu masih diam dengan apa yang ia lihat. Tidak berlebihan.

"Ayame?" Ino kembali mencoba memanggil.

Wanita itu hanya mengerjap beberapa kali sebelum mempersilakan masuk. "Masuklah no-nona, Inoichi-sama ada didalam."

Ino mulai masuk dengan pandangan yang langsung tertuju pada tangga utama yang menghubungan lantai yang sekarang ia pijak dengan kamar orang tuanya. Rumah itu masih sepi, bahkan belum ada aktivitas dari penghuni rumah.

Benar, baru saja Ino akan menginjakan kakinya menuju tangga, seseorang pria tua dengan piyama tidur yang masih melekat ditubuhnya, menyambutnya dengan tak kalah kaget seperti kedua orang yang tadi ia temui dirumah itu.

Yamanaka Inoichi, memutuskan berhenti ditengah lantai tangga. Apa yang ia lihat pagi ini membuat alis pirangnya menekuk. Putrinya, Yamanaka Ino ada didepannya dengan penampilan yang jauh dari kata rapi dan bersih.

Rambut pinrang panjangnya dibiarkan tergerai, memakai Kimono yang tak berObi, dan tanpa alas kaki. Ditambah dengan noda darah yang ada di tangan dan dibagian Kimononya. Semua itu menandakan betapa kacaunya putrinya sekarang.

Sebenarnya apa yang terjadi? Benak seorang ayah menerka. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Namun ia tidak perna mengira Inonya akan seburuk ini.

"Apa yang terjadi?" Tanya Inoichi tenang, setelah menguasai keterkejutannya.

Ino yang bereaksi sama, ditambah dengan napas yang masih belum teratur ia kembali kehilangan kendali akan air matanya. Air bening itu kembali membasahi pipinya.

Inoichi semakin dibuat binggung dengan sang putri. Matanya yang bengkak dan wajah yang dipenuhi dengan jejak air mata. "Ino apa yang terjadi?" Ia mulai turun, mendekati wanita yang masih diam didepannya.

"Papa?" Ia ingin mengatakan apa yang membawanya kemari tapi sesak dadanya menyulitkannya bicara.

"Anata ada apa?" Seorang wanita yang ia kenali sebagai ibunya muncul dari tangga yang sama dengan sang ayah. Reaksi Megumi tak kalah kaget melihatnya. "Ino?" Memastikan. Buru-buru wanita yang jauh sudah rapi dari sang suami itu turun dan ikut mendekat.

Ino hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mengurangi isakannya. Ini bukan acara reuni keluarga, ia tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang.

"Tolong aku papa." Disela tangisannya ia mencoba berucap.

Kedua orang tua yang ada didepannya salin memandang satu sama lain dengan diam. Mungkin mereka masih belum mengerti maksudnya.

"Tolong selamatkan temanku, dia kritis sekarang. Aku mohon." Akhirnya ia bisa sedikit menjelaskan kedatangannya kali ini.

Namun tak kunjung mendapat respon dari keduanya.

"Ino apa-apaan kau ini, ayo rapikan penampilanmu dulu." Ajak sang mama kemudian. "kau bisa menjelaskannya nanti."

Namun Ino menggeleng, bahkan menapik tangan sang mama yang terurur padanya. "Tidak, aku tidak punya banyak waktu."

Inoichi menhela napas, mungkin ini memang darurat sampai membuat putri yang telah meninggalkan rumah datang meminta bantuannya. "Siapa temanmu?" Tanya Inoichi akhirnya.

Ino menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, sedikit takut. "Sasuke, Uchiha Sasuke."

Mata kedua orang tua didepannya menyipit dengan perubahan raut wajah yang sangat ketera. Mereka berdua kembali diam, mendengar nama Uchiha yang keluar dari mulut sang putri. Seolah nama itu adalah bencana terbesar bagi mereka.

"Aku tidak punya urusan dengannya." Inoichi sudah hendak berbalik meninggalkan Ino dan sang istri.

"Aku mohon." Pinta Ino, yang mulai mencegah sang ayah berbalik pergi. "Aku mohon lakukan sesuatu," Tangannya sudah bertaut didepan dada memohon.

Namun sang ayah masih diam, bahkan memandangnya pun tidak.

Kini ia memutuskan untuk berlutut di depan sang ayah. "Aku mohon papa, aku akan melakukan apapun, apapun yang papa dan mama inginkan, tapi aku mohon selamatkan Sasuke."

"Apapun?" Inoichi berbalik memastikan.

"Apapun." Ino Meyakinkan, bersamaan doa yang terucap dalam hati, semoga keputusannya ini tidak membuat ia menyesal nanti.

Memutuskan menghela napas sebelum berbalik dan berkata. "Aku ganti baju dulu." Kemudian melirik kearah sang putri. "Bersihkan dirimu dulu Ino, lihat penampilanmu." Inoichi kembali menaiki tangga menuju kamar. Tujuannya tentu saja mengganti piyama tidurnya dan pergi menolong nama yang sebenarnya telah ia blacklist dari daftar pasien yang harus ia tolong.

Namun mengabaikan hal itu, sebab sang putri memberi penawaran yang menarik.

Ino menggeleng setelah ia berdiri dari berlututnya.

~Last Heaven~

Suasana pagi diruang Gawat Darurat Senju Hospital, kali ini jauh lebih menegangkan. Sebab pagi-pagi sekali sang pemimpin Rumah Sakit dibuat kaget dengan banyak orang Uchiha yang berkumpul di ruangan itu. Belum lagi setelah ia melihat salah satu dokter mudahnya yang ia kenal bernama Haruno Sakura, sedang menggendong seorang bocah laki-laki.

Namun setelah mendengar penjelasan dari si rambut merah jambu, sang pemimpin mulai tau apa yang terjadi. Sekarang ia hanya menunggu orang yang diharapkan bisa menolong.

Haaah...

Wanita dengan ikat dua itu menghela napas. Akhir-akhir ini kelompok Yakuza sering membuat masalah.

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan UGD dan turunlah dua orang yang sangat ia kenali.

Yamanaka Inoichi sang dokter emergency handal dan Yamanaka Ino.

Wanita yang menjabat sebagai pemimpin Rumah Sakit itu tersenyum, melihat Ino berhasil meyakinkan ayahnya.

"Inoichi-sensei?" Sapa Tsunade kemudian dan dibalas oleh Inoichi dengan membungkukkan badannya sekilas.

Sang dokter spesialis emergency itu langsung menuju pasien yang terbaring tak berdaya. Setelah memeriksa percepatan nadinya dan suhu tubuhnya mulai menurun. Mata tuanya meenyimpit, ada dua luka fatal ditubuhnya.

"Kita lakukan operasi sekarang juga, Tsunade-sensei kau yang akan membantuku." Serunya kemudian dan membuat Tsunade melebarkan matanya.

"Tapi Inoichi-sensei, kondisinya tidak mendukung." Jelas Tsunade.

"Dia masih sadar, kalau kita biarkan akan terjadi pembekuan darah, dan dia akan mati sia-sai tanpa dilakukan penanganan."

"Apa kau ingin mebunuhnya?" Ucap Madara, lirih namun jelas terdengar ditelinga Inoichi.

Sang dokter menoleh, mengamati satu per satu wajah orang-orang Uchiha yang sedang berkumpul disana. Lalu memberikan senyum miring.

"Kalau aku ingin membunuhnya, aku tidak akan repot-repot mau datang kemari." Ia berkata kemudian. Dan kembali berbalik menghadap Tsunade. "Baiklah, biarkan saja, kita tunggu sampai sejauh mana dia bisa beertahan hidup."

Sebenarnya ia muak dengan orang-orang Uchiha.

Semua orang yang ada di tempat itu, memberikan tatapan tak mengerti dengan maksudnya. Termasuk Ino yang melebarkan matanya.

"Papa?" Seru sang wanita cantik itu.

Inoichi memandang putrinya sejenak.

"Aku tidak suka diragukan, kalian yang tidak tau apapun soal tindakan emergency lebih baik diam." Kini ia kembali menoleh kearah Tsunade. "Siapkan operasi darurat sekarang, aku yang bertanggu jawab."

Uchiha Sasuke, sedang merbaring lemah diruang operasi yang telah disiapkan secara mendadak pagi itu juga. Operasi darurat itu dipimpin oleh seorang dokter senior yang cukup berpengalaman dalam tindakan emergency, yaitu Yamanaka Inoichi.

Dokter yang telah berumur lebih dari lima puluh tahun itu, hanya ditemani seorang dokter bedah dan juga berstatus sebagai pemimpin rumah sakit itu, Senju Tsunade. Dan dua orang perawat kamar operasi.

Namun segala tindakan sepenuhnya hanya dilakukan oleh Inoichi, dan itu memang tugasnya sebagai dokter emergency yang memang harus bisa segala penanganan tindakan darurat.

Termasuk melakukan operasi dadakan. Tsunade yang menjadi dokter bedah pun hanya dibuat terdiam dengan segala tindakan yang cukup berani, yang dilakukan oleh Inoichi. Ia tidak bisa mendebat, karena meski ia sudah terlalu sering memimpin operasi pada segala macam pasien tapi ia tidak pernah satu tim dengan Yamanaka Inoichi.

Disinipun ia hanya diam dan seolah tidak dibutuhkan oleh sang dokter. Dari mulai anestesi sampai pembedahan, Inoichi lakukan seorang diri dalam satu kali kedipan mata. Terlalu cepat untuk Tsunade berpikir apa yang akan terjadi pada pasien yang dalam kondisi buruk seperti ini tapi masih tetap ddilakukan tindakan operasi?

Namun keahlianya sebagai spesialis emergency memang tidak patut dipertanyakan lagi. Melihat kondisi Uchiha Sasuke dengan terluka yang terbuka cukup parah dibagian perut bagian kiri, tepat dibagian bawah sinus Costophrenicus kiri yang Tsunade tebak akibat tusukan sebuah pedang dan ditembah dengan luka pada dada atas tepat dibawah apex paru, luka tembak dengan peluru yang masih bersarang disana. Yang kini sedang coba dikeluarkan oleh Inoichi.

Dokter senior itu, cukup ahli melakukan tindakannya sendiri. Bius lokal yang dilakukannya masih mampuh membuat Sasuke menjaga kesadarannya dengan Inoichi sendiri yang memastikan. Dengan segala kegiatan yang penuh dengan ketelitihan itu Inoichi masih berkerja ganda dengan tetap memastikan kesadaran Sasuke dan masih berkerjanya otak dan dengan tetap memastikan jalannya napas.

Ia tak banyak membantu dalam penanganan darurat ini. Ya, mungkin itulah memang keahliannya yang luarbiasah yang dimiliki oleh seorang Yamanaka Inoichi.

Sebuah peluru yang menembuh dada Sasuke telah berhasih dikeluarkan oleh Inoichi. Masih diam dengan tindakannya, ia mulai menjahit luka yang disebabkan oleh peluru tersebut, dengan sekali mengawasi kondisi Sasuke. Peluru yang mengenainya tidak terlalu dalam sampai merusak organ vitalnya, apexnya pun masih aman begitu pula dengan jantung dan parunya. Setelah kembali menutup luka yang baru ia lakukan pembedahan pada bagian dada atas, tanpa mempedulikan kediaman Tsunade, Inoichhi kembali melanjutkan luka dibagaian perut.

Kali ini luka tusukan itu cukup dalam, ada keraguan pada diri Inoichi, ketika melihat luka terbuka di perut. Ia ragu, apa pasien bisa bertahan selama operasi darurat ini dilanjutkan, apa ia harus menunggu sampai kondisinya stabil baru melanjutkan operasi? Darah keluar cukup banyak pada kedua luka dan kondisi Sasuke terlihat semakin melemah, mungkin karena pendarahan.

Tapi bila ia memilih menunda operasi, ini akan berdampak pada kemungkinan lain. tidak ada waktu untuk berpikir, mengabaikan kemungkinan resiko terjadi hipotermia, dan pembekuan sampai gangguan keasaman darah. Inoichi mulain dengan cepat membersihkan luka dan melakukan secepat mungkin perbaikan minimum yang dapat ia kerjakan sekarang, sebelum melakukan tindakann selanjutnya.

"Inoichi-sensei, apa tidak lebih baik kita menunda operasi lanjutan?" Ucap Tsunade ketika Inoichi selesai membersihkan luka.

Dokter Yamanaka itu menoleh sekilas, sebelum menjawab. "Tak apa kita lanjutkan, nadi dan jantungnya masih normal. Aku yakin dia masih bisa bertahan, aku akan membiusnya total." Terang sang dokter Yamanaka itu.

Tak ada komentar lagi setelahnya, Tsunade hanya diam menurut aba-abanya. Segala yang telah disiapkan telah memudahkan tindakan cepat dari dokter senior itu. Cairan pembius yang telah diinjeksikan mulai berkerja secara total. Sasuke mulai tak sadarkan diri, bahkan saat sebuah pisau bedah mulai memperlebar lukanya dan sebuah alat untuk menahan luka agar tetap terbuka selama sang dokter memeriksa rongga dalam perut ia abaikan, seolah hal itu tak sedikitpun menyakitinya.

Hal yang didapat Inoichi membuatnya bernapas lega, taka ada organ vital dalam rongga perut yang perlu dilakukan operassi perbaikan. Mungkin karena tusukan itu tidak sampai mengenain organ-organ didalamnya, meskin tusukan yang didapat cukup dalam.

Jadi yang perlu ia lakukan hanya menjahit otot dinding perut berserta kulit lapis demi lapis hingga kulit terluar. Operasi darudarat itu selesai.

Tsunade setelah melihat jahitan terakhir yang dilakukan Inoichi pada perut Sasuke, dokter cantik itu bisa bernapas lega. Tak membuang waktu Tsunade juga mengikuti Inoichi melepas segala pelindung yang ada ditubuhnya dan berjalan keluar, setelah menyuruh kedua perawat memindahkan Sasuke pada ruang intensif dan memastika kondisinya.

Pintu ruang operasi itu terbuka, menampilkan kedua dokter yang telah mereka tunggu begitu lama. Mikoto yang juga sudah datang langsung ingin mendekat namun sang ayah mertua dan sang suami sudah mendahuluinya.

"Bagaimana?" Tanya Madara didepan Inoichi.

Namun ketidak sukannya pada kaum Yakuza masih terlalu kuat melekat pada diri Yamanaka Inoichi, jadi sang dokter hanya melewatinya. Menyerahkan segala keterangan yang perlu diketahui oleh mereka pada Tsunade.

"Operasinya berhasil, Sasuke akan dipindahkan ke ruang Intensif sampai kondisinya stabil." Jelas Tsunade mewakili Inoichi.

Barulah seluruh Uchiha yanga ada di tempat itu bernapas lega, termasuk Ino. Wanita bermanik biru itu seperti seolah baru saja mengangkat beban berat yang menindi jalannya pernapannya. Ia memandang ayahnya kemudian.

Namun kelegaannya tak bertahan lama, setelah sang ayah mulai berseru. "Kita pulang Yamanaka Ino." Dengan penuh penekanan pada namanya.

Fokus Madara yang semulai ia tujukan pada Tsunade kini ia tolehkan pada Inoichi medengar seruannya. Tadi ia sempat lupa siapa yang menjadi penyelamatnya itu, ayah dari wanita yang telah membuat kedua cucunya jatuh cinta. Ironis.

Ino masih diam dengan mendekap erat sang buah hati. Jujur ia ingin sekali melihat kondisi Sasuke saat ini, tapi ajakan sang ayah membuat ia dalam dilema.

"Kau tidak lupa dengan ucapanmukan?" Ucap Inoichi lagi, kembali mengingatkan Ino. Kini kepala bersurai pirang itu menoleh kearah Ino.

Ucapannya yang terlontar kembali muncul bahwa ia akan melakukan apapun yang diinginkan oleh ayahnya. Tidak masalah asal Sasuke selamat. Toh sekarang yang ayahnya inginkan adalah kepulangannya bukan? Maka ia akan ikut pulang. Dia bisa melihat Sasuke nanti dilain waktu.

Ia memutar tumitnya yang tak beralas kaki, mengikuti jejak sang ayah yang telah lebih dulu keluar dari tempat itu, dengan masih menggendong sang putra.

"Ino?" Suara lirih Sakura ia abaikan, tidak sepenuhnya karena ia tersenyum pada sang sahabat. Mencoba mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Namun suara lantang Shisui menghentikannya. "Ino, apa kau tidak ingin melihat Sasuke terlebih dahulu? Aku yakin dia akan senang saat melihatmu nanti."

Ino berhenti dan kembali menoleh kearah sang Uchiha. "Aku akan melihatnya nanti." Tidak ada kalimat lain selain itu yang bisa ia katakan, itu bukan janji tapi itu adalah keinginannya. Meski ia tidak tau nanti itu kapan.

Tak ada yang kembali bersuara sampai kedua orang itu meninggalkan tempat dan sampai sebuah suara deru mesin mobil yang mulain berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit terdengar dan menghilang.

Angin musim ini kembali membawanya pulang ke rumah orang tuanya, dengan keadaan yang berbeda. Masih ada kecanggungan dan kenggannan yang tersirat cukup nyata pada diri wanita berusia dua puluh delapan tahun itu.

Setelah sampai tadi, ia disambut oleh sang mama, dan menyuruhnya untuk membersihkan dirinya. melihat penampilannya itu ia tak perlu pikir pajang untuk menurut pada ucapan sang mama.

Ino mulai membersihkan dirinya sendiri dan sang buah hati. Kembali menginjakan kakinya kedalam kamar yang telah lebih dari delapan tahun ia tinggalkan. Seperti bernostalgia dengan dirinya sendiri melihat isi dan suasan kamar yang tak pernah berubah.

Masih tetap bersih dan rapi dengan warna yang didominasi soft purper, dan sebuah ranjang besar yang ada ditengah ruangan dengan diapit oleh dua nakas kecil dengan lampu yang menempel pada dinding diatas tempat tidur. Disisi lain ada satu set sofa yang menghadap televisi disisi pintu yang menghubungakan dengan balkon. Ditambah dengan lemari besar disamping pintu kamar mandi.

Kamar yang dimilikinya dulu itu memang sangat besar untuk ia huni seorang diri. Ino sangat ingat, dulu dia adalah ratu diruamhnya tapi sekarang ia datang seperti tamawan untuk sebuah janji.

Tidak ia tidak menyesal, ini belum berakhir, ia masih mempunyai banyak waktu dan kesempata untuk melihat dan bertemu dengan Sasuke, setelah dia dinyatakan selamat. Ia memang pantas berterimakasih pada sang ayah.

Setelah memandikan sang anak, dan memakaikan baju dengan baju yang sama yang dikenakannya mulai kemarin, Ino mendudukan Hiko diranjang. Berbeda dengan dirinya, ia bisa berganti baju dengan baju lamanya yang tersimpan dilemari miliknya.

Sebuah celana pendek diatas lutut dan sweater rajut yang cukup longgar ia pilih. Untuk Hiko, ia memang tidak membawa baju ganti untuknya, ino juga belum sempat untuk membelikan baju, karena tidak mungkin ia kembali ke rumahnnya dalam waktu dekat. Mungkin nanti ia akan belanja untuk keperluan dirinya dan sang buah hatinya.

"Ma?" Suara kecil Hiko, kembali membuat Ino, menatap manik onyx itu. "Ini dimana?" Tambahnya polos. Dan Ino hanya tersenyum, sebelum mulai mengangkat Hiko pada pangkuannya.

"Ini adalah rumah kakek dan nenek, orang tua mama." Jelas Ino, mencoba membuat Hiko tidak merasa tak nyaman ataupun takut.

Karena beberapa hari ini dengan segala yang telah mereka alami, Ino tidak ingin membuat sang buah hati trauma. Anaknya yang masih berumur tujuh tahun itu memang pendiam jadi ia tidak akan banyak protes ataupun mengespresikan ketakutannya. Jadi saat Hiko mulai bertanya maka ia akan mejelaskan sedikit demi sedikit.

Waktu terlalu cepat bergerak, dari pagi mulai kesiang dan merayap kesore hari. Ino terbangun, membuka kelopak yang menyembunyikan warna matanya dengan malas. Setelah paham ada dimana ia sekarang, ia menoleh kesampingnya, anaknya masih tertidur pulas disana, diranjang yang sama. Ia tersenyum membelai surai hitam lalu meciumnya pelan.

Ia bersyukur putranya baik-baiknya. Ia memutuskan untuk turun dari ranjang, berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk keluar kamar dan menemui orang tuanya. Namun sebuah ketukan pada pintu kamarnya memuat ia harus beranjak juga dari ranjang.

Seorang wanita yang menjadi replika dirinya denga wajah yang lebih tegas berdiri didepan pintu.

"Papamu sudah menunggu untuk makan malam turunlah dan ini baju untu putramu." Ucap sang mama dengan menyerahkan dua paper bag kepada Ino sebelum kembali berbalik dan pergi bahkan belum sempat Ino berterimakasih.

Kembali memasuki kamar untuk meletakan paper bag. Ia tidak tau kalau sekarang sudah waktunya makan malam, jadi ia sudah tidur terlalu lama. Ia memutuskan turun tanpa membangunkan sang anak, ia bisa membawakan makan malam untuknya nanti. Karena alasan ia tidak tega membangunkan tidur pulasnya ditambah, mungkin makan malam ini bukan menjadi momen penuh canda dalam sebuah keluarga.

Dan benar apa yang ia pikirkan, setelah makan malam selesai, mamanya mulai berucap yang diawal terlihat berjalan lancar tanpa kalimat apapun yang memberatkannya namun kini ia harus menyiapkan mental.

"Ino?" Seruan itu dapat menahannya berdiri dari kursi. "Papamu sudah memutuskan," Ino memasang mendengarannya. "Kau akan melanjutkan study spesialismu di Amerika." Kalimat itu berhasil menyumbat jalan napasnya detik itu juga.

"Amerika?" Ia mencoba mematikan.

"Ya, jangan pernah berhungan dengan Uchiha lagi, dan putramu akan tetap disini bersama kami."

Ino melebarkan mata birunya mendengar setiap kalimat yang diucapkan orang sang ibu. Ia menggeleng karena suranya seolah tercekat. "Ta-tapi kenapa? A-aku tidak bisa bila harus meninggalkan Hiko disini."

Ya ia tidak akan meninggalkan sang putra, mungkin melarangnya untuk bertemu dengan Uchiha bisa ia pertimbangkan tapi dengan buah hatinya, itu tidak mungkin. Apa orang tuanya ingin membunuhnya dengan cara itu.

"Membawa putramu bersamamu hanya akan menghambat studymu. Jadi biar kami yang menjaganya."

"Tidak mama, aku bisa melanjutkan sekolah disini."

"Keputusan ini sudah final Yamanaka Ino, seharusnya kau ingat apa yang kau ucapkan waktu kau datang dengan memohon pada papamu untuk menyelamatkan Seorang Yakuza. Membuat ayahmu melanggar sumpahnya."

Air matanya sudah deras turun tanpa ia inginkan. Kenapa, kenapa orang tuanya begitu kejam, apa kebencian pada Yakuza sampai separah ini, mengabaikan tindakan kemanusian dan kebangaan saat menyelamatkan nyawa seseorang dan membuatnya tersudut seperti ini?

"Kenapa kalian begitu membenci Yakuza? Mereka juga manusia dan mereka berhak mendapatkan pertolongan." Ia mulai berteriak.

"Manusia? Berhak ditolong? Hn?" Inoichi yang kini bersuara. "Mereka tak lebih dari sampah masyarakat. Membuat masalah, apa kau tau dari mana luka yang dia peroleh? Kalau bukan dari perbuatannya sendiri."

Ino hanya menggeleng lemah. "Tidak. Tidak semua Yakuza seperti itu."

"Kau akan merasakan apa yang papamu rasakan bila kau telah mengalaminya sendiri Ino." Megumi kembali membuka suara. Ia menoleh pada sang suami sebelum kembali memandang sang putri yang telah menangis dengan kekeras kepalaan yang mengatakan Yakuza adalah manusia baik. Namun tentu tidak ada Yakuza yang layak disebut baik dimata pasangan Yamanaka itu.

"Kenapa, kalian tidak pernah meenjelaskan alasan kalian membenci Yakuza padaku kalian hanya memvonis mereka tanpa alasan yang jelas, apa mereka pernna menyakiti kalian?"

"Kau ingin tau, apa yang papamu alami dengan mereka?" tanpa menunggu Ino untuk menjawab, Meguni melanjutkan. "Ini terjadi dulu, waktu papamu dianggap berhasil menyelamatkan seorang pasien, dia anggota Yakuza yang masuk gawat darurat karena terluka parah. Tentu saja ada kebahagian sendiri akan hal itu, namun hal itu dirusak oleh Yakuza lain. Pasien yang mati-matian diselamatkan oleh papamu dibunuh saat itu juga didepan matanya. seperti seorang moster, mengabaikan orang-orang yang ada. Disisi lain keluarganya menangis." Megumi berhenti untuk mengatur napasnya dan mengamati Ino. "Mengabaikan segalanya, mengabaikan perjuangan seorang dokter. Tidak menghargai nyawa dan selalu menambah masalah. Itulah Yakuza, seandainya papamu masih mencoba melindungi pasiennya mungkin nyawanya yang terbunuh oleh para bedebah itu."

Ino tidak dapat bersuara selain hanya terisak dengan menutup mulutnya dengan tangannya, mendengar setiap cerita yang mamanya sampaikan. Karena itu kah orang tuanya membenci Yakuza sampai sekarang? kebahagian seorang dokter saat berhasil menyelamatkan nyawa seseorang? Ia juga pernah mengalaminya beberapa waktu lalu, dan dikecewakan dengan fakta yang diperolehnya juga sempat membuat ia pesimis untuk menolong Yakuza. Orang yang ia selamatkan ternyata adalah orang yang membunuh suaminya. Adilkah itu? Mungkin trauma yang dialama sang papa memang tidak akan mudah bisa memandang baik pada kaum Yakuza. Lalu sekarang ia bisa apa?

Keduanya berdiri meninggalkan Ino tetap menagis ditempat. "Kalau kau ingin kembali berkumpul dengan putramu, selesaikan studymu dengan cepat, hilangkan segala pikiran yang tidak perlu, kami akan mengunjungimu setiap bulan sekali." Setelah itu Megumi benar-benar pergi menyusul sang suami.

Apa sekarang ia benar-benar tidak punya pilihan lain? Bisahkah ia berpisah dengan putranya? Apa ini bukan salah satu rencan orang tuanya untuk memisahkannya dengan anaknya? Dadanya saat ini sangat sesak, apa kenginannya untuk menyelamatkan Sasuke harus ia bayar semahal ini? Apa sekarang ia menyesal?

Apa ini juga karma untuknya? Karena kemarahan Itachi kah? Suaminya itu dulu ingin ia menjaga buah hati mereka apapun yang terjadi, tapi saat ia jatuh cinta pada seorang pria dan mencoba untuk menyelamtakan nyawanya sampai ia melupakan segalanya, melupakan bahwa hidupnya adalah untuk putranya dan juga mengabaikan fakta bahwa Sasuke adalah adik dari suaminya. Yang seharusnya tidak boleh ia jatuh cinta pada adik suaminya. Ya, ini adalah hukuman untuknya.

Ino menjatuhkan kepalanya dimeja makan, dan menangis disana, mencoba menumpahkan segala kegundahan hatinya yang meluap.

~Last Heaven~

Sudah lebih dari tiga minggu Sasuke terbaring di salah satu ruang VIP rumah sakit senju. Untuk pemulihan paska operasi pada dua bagian tubuhnya yang terluka parah, dan sekitar satu minggu yang lalu ia keluar dari ruang intensif care.

Sekarang keadaannya sudah lebih baik, dari minggu-minggu sebelumnya. Namun selama itu ia tidak sekalipun melihat wanita yang ia harapkan kedatangannya, mengunjunginya, ia sempat juga bertanya pada ibunya tapi, sang ibu menjawab mungkin Ino sedang sedang sangat sibuk. Tapi apa sesibuk itu, sampai tidak ada waktu barang sebentar untuk mengunjunginya, dan lagi bukankah Ino praktek di rumah sakit ini juga?

Kakek dan ayahnya yang sibuk mengurus pembenahan Uchiha saja bisa ia lihat sering mengunjunginya, bahkan pamannya Kagami dan bibinya juga mengunjunginya. Tak jarang ia juga melihat beberapa kali gadis Hyuga juga datang, tapi wanita yang sangat ingin ia lihat malah tidak kelihat batang hidungnya.

Sasuke hanya mendengus saat memikirkan hal itu. Pagi ini kamarnya masih kosong ibu dan sepupunya belum ia lihat kedatangannya, namun ia sudah terlalu sehat untuk sekedar bangun dan bersandar tanpa bantuan dari siapapun.

Mata onyx-nya bergerak memandang bekas luka yang ada diperut dan bahunya, ia tidak tau separah apa lukanya itu satu bulan yang lalu, yang ia tau hanya rasa sakit dan panas. Hanya samar-samar yang dapat ia ingat saat Ino menangis untuknya. Tapi benarkah air mata itu untuknya? Karena nyatanya wanita itu tak pernah datang. Kini ia membawa pandangannya jauh keluar jendela, sampai suara pintu kembali mengalihkannya.

Shisui, sepupunya itu telah datang, seorang diri, tanpa sang ibu.

"Kau sudah bangun?" Sapa Shisui dengan senyum.

"Hn."

"Dokter bilang hari ini kau sudah bisa pulang." Shisui memberitau setelah berdiri dekat ranjang Sasuke.

Sasuke hanya memandang sepupunya itu tanpa suara, namun kata dokter yang keluar dari mulut Shisui membuat ia ingat, apa yang ingin ia tanyakan pada sang sepupu.

Namun belum sempat ia membuka mulut, pintu kembali terbuka, kini kedua orang tuannya dan kakeknya yang datang.

"Kau sudah siap untuk pulang?" Tanya Shisui lagi.

"Sebelum pulang aku ingin menemui Ino, dia selalu dinas pagi. Kau bisa mengantarku ke UGD Shisui?" Mata onyx-nya menatap Shisui yang berdiri disampingnya.

Semua orang diam, hanya Shisui yang kemudaian berani berucap.

"Dokter Sakura bilang, Ino sudah tidak prakterk disini lagi." Menjawab penuh hati-hati dan tenang, mencoba menyampaikan pada sang sepupu apa yang telah terjadi, tanpa dianggap bercanda olehnya.

Kedua alis Sasuke mengerut mendengarnya. "Sejak kapan?"

Belum sempat Shisui menjawab, Sasuke sudah kembali bertanya. Kini matanya memandang penuh curiga kepada kedua pria tua yang duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu.

"Apa ada Uchiha yang melarangnya untuk menemuiku Shisui? Selama aku disini aku belum pernah sekalipun melihatnya mengunjungiku." Pertanyaan itu ia ajukan kepada sang sepupu meski tatapannya ia tunjukan pada sang kakek dan ayahnya. Sedangkan sang ibu yang telah mengemasi barang-barangnya berhenti sejenak setelah mendengar pertanyaan dari putranya.

"Tidak Sasuke." Jawab Shisui jujur. Membuat pandangan Sasuke kembali ia arahkan pada Shisui untuk meminta penjelas. Apa yang terjadi sebebarnya selama ia sekarat satu bulan yang lalu.

"Lalu kenapa ia tidak pernah datang? Siapa yang menyelamatkanku?" Dari sini perasaan Sasuke memburuk.

"Ayah Ino yang menyelamatkanmu, Ino sendiri yang datang meminta bantuan pada ayahnya."

Dan benar, pikiran buruknya terjadi, kemungkinan ada kesepakatan yang dibuat oleh Ino dan sang ayah. Wanita itu, dasar seenaknya sendiri. Tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras.

Selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, Sasuke sibak, ia turun dari ranjang mengabaikan penampilannya, yang hanya mengenakan kimono berwana gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Dan mengabaikan nyeri pada luka jahitan dikedua sisi tubuhnya.

"Berikan kunci mobilnya." Tangannya sudah menengadah pada sang sepupu.

Namun belum sampai Shisui memberikannya suara Madara sudah mengintrupsi.

"Kau mau kemana Sasuke, lukamu belum sembuh sepenuhnya." Namun Sasuke tidak pernah menuruti perkataan siapapun, apa yang ia ingin, itulah yang akan ia lakukan.

"Shisui?" Tambahnya tak sabar.

"Sasuke? Ibu mohon, jangan membuat masalah, kau belum pulih sepenuhnya nak." Suara lembut Mikoto menyapa gendang telingannya.

"Ibumu benar, ini sudah menjadi keputusannya dan mungkin ini adalah yang terbaik. Sekarang pikirkan keadaanmu dan Hinata, kau tau gadis itu selalu menunguimu." Sang ayah menambahkan.

Namun kalimat yang keluar dari mulut ayahnya, hanya ia tanggapi dengan dengusan dan senyum miring yang meremehkan.

"Keputusannya? Hn, Apa kalian sadar, kalian yang membuat Ino melakukan ini. memohon pada ayahnya untuk menyelamatkanku yang sedang sekarat dan melakukan perjanjian, yang aku tidak tau." Sasuke sudah berteriak, "Mungkin berjanji untuk tidak menemuiku lagi." Ia menambahkan pelan. "Berikan kunciku Shisui." Tangannya kembali mengadah pada sang sepupu.

"Aku antar." Jawab Shisui setelah memberikan kunci mobil pada Sasuke.

"Tidak perlu." Sasuke mulai melangkah.

Tidak ada pilihan lain, selain mengijinkan Sasuke menyelesaikan apa yang ingin ia selelsaikan. Dulu seingatnya Ino pernah mengatakan bahwa ia akan melihat Sasuke nanti, tapi sampai detik Sasuke sadar wanita itu tak pernah terlihat. Ya, mungkin Sasuke benar, bahwa Ino telah melakukan perjanjian pada sang ayah, mengingat ucapan sang ayah pada Ino setelah operasi selesai.

Unit Gawat Darurat adalah tempat tujuan Uchiha Sasuke, untuk menemui, seorang dokter yang ia tau sebagai sahabat dari Ino. Pasti sedikit banyak dokter itu tau dimana ia bisa menemui wanita berambut pirang itu.

Sakura mengernyit melihat Sasuke menghampirinya. "Sasuke-san?" Sapanya.

"Apa aku menganggumu?" Tanya Sasuke basa-basi, meski ia lebih suka pada inti.

Sakura menggeleng. "Tidak, apa ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, bukankah biasanya Ino yang dinas pagi ini?" Pertanyaan Sasuke sengaja ia buat mengantung.

Sakura hanya tersenyum, pria didepannyanya ini memang cukup mempesona dengan keadaan sakitpun auranya masih terpacar kuat. Dan benar Sasuke begitu mirip dengan Itachi. Jadi tidak salah kalau sahabatnya itu bisa jatuh begitu mudah pada sosok Sasuke.

"Ino sudah tidak praktek disini lagi, dia akan melanjutkan study spesialisnya."

"Sejak kapan?" Tanya Sasuke tenang dengan alis yang bertaut memandang intens pada Sakura. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Shisui.

"Satu bulan yang lalu, ia sudah memutuskan untuk dirumah dulu mengurus Hiko, sebelum ia disibukan untuk sekolahnya."

"Dirumah?"

"Dirumah orang tuanya." Sakura meralat.

"Boleh aku meminta alamatnya?" Tanya Sasuke kemudian penuh harap.

Sebuah kertas Sakura ambil didekat tumpukan map berisi riwayat pasien, dan menulis disana, sebuah alamat dari sahabatnya. "Distrik Minato, kawasan Azabu." Jawab wanita berambut merah jambu itu seraya menyerahkan sebuah kertas pada Sasuke.

Sasuke menerimanya, dan tanpa menunggu, ia langsung memutar langka untuk pergi, namun baru beberapa langkah, ia menoleh kearah Sakura. "Arigatou." Ucapnya kemudian, dan dihadiahi dengan sebuah senyuman dari sang dokter.

~Last Heaven~

"Ingat pesan mama." Wanita cantik berambut pirang itu tengah duduk menemani seorang anak laki-laki yang tengah makan. Dengan segala ocehannya yang sejak tadi ia suaran untuk sang putra.

Yamanaka Ino wanita yang tengah bicara dengan menyangga dagunya dengan sebelah tangan, mata birunya menatap intens putra didepannya. "Kau mengerti?" Nanun, sebanyak itu ia bicara, masih belum mendapat jawaban dari sang putra selain diam dan masih melanjutkan makan pagi menjelang siangnya.

"Hiko?" Sampai Ino kembali memanggilnya. Wajah tampan khas anak-anak itu menoleh, namun masih belum mau berbicara.

"Kenapa aku tidak boleh ikut dengan mama, kenapa mama harus pergi?" Akhirnya ia berbicara juga.

Memang dari kemarin-kemarin neneknya sudah mengatakan, dan sekarang Ino tinggal menegaskannnya saja pada sang putra. Karena besok ia harus sudah berangkat, semua persiapannya sudah disiapkan oleh sang ibu.

Wanita cantik itu tersenyum, membelai pipi sang putra dengan tangan yang tak ia gunakan untuk menyangga dagunya.

"Kau akan mengunjungi mama satu bulan sekali, dan jangan nakal." Itu pesannya, Ino rasanya ingin menangis tapi kalau ia sampai menangis itu hanya akan menambah kekalutan perasaanya. Memangnya siapa yang ingin meninggalkan sang buah hati jauh darinya. Tidak, jujur ia tidak ingin, hanya saja ia tidak mempunyai pilihan.

Ditambah dengan fakta yang baru tadi pagi ia dapat, saat tanggal yang biasanya menunjukan tanda menstruasinya telah lewat, dan mual yang melandanya beberapa hari terakhir sampai puncaknya tadi pagi saat bangun tidur ia memutuskan untuk memastikan ketakutannya. Tanda dua strip garis merah di alat test pack kehamilan membuat ia melebarkan matanya.

Dia tengah hamil, mungkin baru empat minggu, dan alasan itulah yang membuatnya menetapkan pilihannya. Meninggalkan Jepang dan rela meninggalkan sang putra hanya untuk menutupi kesalahannya yang ia buat untuk kesekian kalinya.

Ino tidak berpikir untuk menggugurkannya dan ia juga tak berpikir untuk memberitau Sasuke, pria yang ia yakini sebagai ayah biologis dari janin yang ia kandung saat ini. Karena ketika pria itu mengetahuinya, itu hanya akan menambah rumit hidupnya.

Iris yang berbeda warna itu saling menatap lama tak ada suara, sampai suara seorang pelayan mengintrupsi mereka.

"Nona!" Panggil Ayame sang pelayan.

Ino menoleh dan bertanya, "Ya?"

"Ada yang mencari." Jelas pembantu muda itu.

Alis pirang Ino bertaut penasaran. "Siapa?"

Si pembantu hanya menggeleng, menandakan bahwa ia juga tidak tau dengan sosok orang yang mencari sang majikannya itu. "Katanya namanya Sasuke." Ya, hanya nama yang diberikan oleh sosok itu padanya.

Ino melebarkan matanya. Dan karena tak ingin membuat orang yang mencarinya menunggu lama, Ino segera berdiri dari kursi, bergegas berjalan untuk menemui sosok itu.

Hiko pun tersenyum mendengar nama paman yang sangat ia rindukan. Namun ia tidak ikut turun, karena ia yakin sang mama pasti akan membawa pamannya itu untuk menemuinya, jadi ia hanya perlu menunggu disini.

Ino berhenti hanya untuk memastikan orang yang ia lihat didepannya sekarang benar sosok pria yang begitu ingin ia temui.

Sasuke berdiri diam didepan pintu kediaman Yamanaka. Masih dengan mengunakan Kimono dan tatanan rambut yang berbeda, rambut yang biasanya menolak gravitasi itu kini jatuh, dan penampilan itu baru Ino lihat hari ini, selama ia mengenal pria didepannya itu.

Membawa bibirnya untuk tersenyum simetris, melihat penampilan Sasuke kali ini. dimata Ino, Sasuke jauh terlihat lebih dewasa dengan rambut seperti ini. Lalu mengabaikan pesona akan penampilan itu, Ino mendengar pria didepannya berucap.

Sasuke langsung mersuara setelah melihat wanita yang ingin ia temui ada didepannya, berbeda dengan Ino yang kehilangan kata. "Aku ingin bicara denganmu."

Namun Ino mengabaikannya, ia malah semakin mendekat kearah Sasuke. "Aku akan menemuimu nanti, berikan ponselmu."

Kalimat Ino hanya membuat Sasuke menautkan kening tanda tak mengerti. "Apa-apaan kau ini, akun ingin bicara sekarang bukan nanti." Ketidak sabaran Sasuke memaksa, karena begitu banyak yang ingin ia bicarakan dengan wanita keras kepala ini.

"Aku tau, maka dari itu," Ino mengantungkan kalimatnya hanya untuk menatap mata hitam pria didepannya. "Tunggu aku di Four Season, aku akan menemuimu disana." Wanita cantik itu menjelaskan, berharap dengan itu pria didepannya bisa cepat meninggalkan kediaman Yamanaka.

Ino memutuskan untuk mengatakan tempat itu secara sepontan, karena ia tidak sedang membawa ponsel dan sepertinya pria didepannya itu juga tidak membawa alat komunikasi itu. Benda itu ia butuhkan untuk mengetikan tempat yang akan membuat mereka nyaman berbicara.

Namun Sasuke keras kepala, dan merasa kurang puas dengan hasilnya ini, jadi ia tetap bergeming. Memandang objek didepannya dengan berbagai perasaan yang berkecambuk didadanya.

Dua orang dewasa itu terdiam cukup lama dengan pikiran meraka masing-masing. Sampai suara bocah dari arah belakang Ino membuat pikiran mereka terpecah.

"Paman Sasuke?" Teriak Hiko sambil berlari, bermaksud untuk menghambur kearah pria dewasa itu.

Namun Ino segera berbalik, untuk mencegah putranya mendekati Sasuke. Setelah Hiko sampai didepan Ino, wanita bak boneka itu langsung menangkap sang buah hati lalu menggendongnya.

"Kau harus menyelesaikan makanmu dulu." Bujuk Ino. Namun hanya ditanggapi oleh gerutuan dari sang bocah.

Tadi, Hiko berharap, mamanya akan membawa paman Sasuke menemuinya, tapi setelah cukup lama keduanya tak kunjung menghampiranya diruang makan, jadi ia memutuskan untuk melihatnya langsung. Namun yang didapat malah, mamanya seolah melarangnya untuk bertemu sang paman.

"Tapi aku ingin bertemu dengan paman Sasuke."

Dari kejauhan Sasuke masih bisa mendengar samar rancauan dari keponakannya itu. Jujur bukan hanya Ino yang ingin ia temui tapi sang bocah itu jugalah alasannya datang kemari. Namun sepertinya Ino tidak mengijinkannya barang sebentar untuk sekedar menyapa keponakannya itu.

Uchiha Sasuke masih diam ditempat. Dengan memikirkan kalimat terakhir yang ia dengar dari Yamanaka Ino, Four Season Hotel. Apa ia harus menuruti kalimat yang memintanya untuk menunggunya disana? Tapi benarkah Ino akan menemuinya disana?

Mengabaikan segala hal yang belum pasti, bungsu Uchiha itu berbalik, dan mulai berjalan menuju pintu utama kediaman Yamanaka yang belum genap tiga puluh menit ia datangi.

~Last Heaven~

Kamar yang baru Sasuke pesan itu ada di lantai 54 dengan pemandangan yang langsung mengarah pada Tokyo Tower. Dengan jendela kaca besar tanpa niat untuk menutup tirai yang mengantung disana.

Ia tidak yakin, apa Ino benar-benar akan datang tapi tidak ada salahnya ia mengikuti kalimat yang keluar dari bibir wanita itu. Kalaupun wanita itu berbohong sekalipun, mungkin Sasuke tidak akan menyesal.

Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, rasanya badannya itu lengket semua, ditambah ia masih menggunakan Kimono yang ia gunakan di rumah sakit.

Saat air dingin shower yang jatuh membasahi rambut dan tubuhnya, Sasuke memilih memejamkan mata hitamnya. Ribuan air dingin yang ia rasakan tak mampuh mengurangi panas yang bersarang pada pikiran dan perasaannya. Semua ini karena sosok wanita yang seenaknya itu. Yamanaka Ino atau mungkin saja lebih tepatnya Uchiha Ino.

Sasuke tersenyum miring, mengejek dirinya sendiri.

Tadi setelah ia memutuskan pergi dari kediaman Yamanaka, Sasuke langsung menuju tempat yang diminta oleh Ino. Four Season Hotel, yang letaknya memang cukup strategis untuk ia temukan.

Hari masih siang kala itu, setelah ia melakukan check in, dan meninggalkan pesan pada petugas untuk memberikan nomor kamar yang ia tempati kepada wanita yang bernama Yamanaka Ino, bila sang wanita datang dan menanyakan tentang seoarang Uchiha Sasuke.

Setelah melihat kamarnya itu, ia termenung dengan pikirannya, namun tak lama ia menghempaskan pantatnya keranjang king size yang ada di kamar yang ia tempati kini. Mencoba mengistirahatakn segala pikirannya. Dan mulai membawa tubuhnya untuk berbaring dan memejamkan mata lelahnya.

Sampai ia terbangun tiga puluh menit yang lalu dan jam dinding telah menunjukan pukul empat sore, namun keberadaan wanita yang ia tunggu tak kunjung ia jumpai di dalam kamar. Ia sudah tertidur cukup lama tapi selama itu juga Ino membuatnya menunggu tanpa kepastian, apa wanita itu akan datang?

Jadi pria Uchiha itu memutuskan untuk mendinginkan pikiran dan tubuhnya dibawah guyuran shower. Mencoba mengenyahkan pikiran bahwa Ino hanya membual. Karena ia tidak tau apa yang akan ia lakukan apabila Ino membohonginya kali ini. Mungkin kenekatanya bisa mengambil alih.

Karena ia tak begitu suka mandi terlalu lama, maka Sasuke memutuskan untuk mematika air shower, dan mengambil salah satu bathing suit yang tertata rapi didalam kamar mandi dan mengenakannya, setelah itu ia memilih keluar tanpa peduli dengan penampilannya yang hanya menggunakan bathing suit berwarna putih yang sangat kontras dengan rambut ravennya yang masih basah, yang ia biarakan jatuh dengan butiran-butiran air disisi wajah tegasnya.

Suara pintu kamar bernuansa elegan dengan pencahayaan temaram seolah warna coklat dari kayu manis dan cendana yang mendominasi ruangan itu berbunyi tiga kali ketukan.

Tanpa berpikir dua atau tiga kali, kaki sang Uchiha mendekat dan membuka pintu. Didepannya kini berdiri seorang wanita bak barbie setelah pintu itu terbuka.

Wanita yang memang ia tunggu kedatangannya itu tersenyum sebelum bertanya. "Boleh aku masuk?"

Sasuke menyingkir dari pintu, hanya untuk mempersilakannya masuk. Dan kembali menutup pintu didepannya. Lalu berbalik menghadap sang wanita yang kini juga tengah memandangnya.

Bibir semerah jamu itu tersenyum, membuat Sasuke menautkan alisnya tak mengerti apa yang lucu, sehingga membuat Ino tersenyum. Padahal wajah yang ia tunjukan kini adalah jawah marahnya. Wanita didepannya pikir sudah berapa lama ia menunggu.

"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya sang wanita mengawali.

Namun bukan perbincangan soal lukanya yang ingin ia bicarakan dengan wanita itu. Jadi Sasuke tak berminat menjawab, pandangannya masih terarah kesosok didepannya, wanita itu mengenakan minidress selutut dengan dilengkapi mantel yang berwarna sama dengan sepatunya, rambut pirangnya ia biarkan tergerai menambah kesan cantik dimata Uchiha bungsu.

"Kenapa kau menghindariku? Perjanjian apa yang kau buat dengan ayahmu?" Ia memutuskan untuk bertaya tak sabar, mengabaikan pertanyaan dari sang wanita untuknya tadi. Sebuah pertanyaan yang memang sangat ingin ia ketahui jawabannya.

Namun Ino juga tak berminat untuk menjawab pertanyaan yang Sasuke ajukan. Ia hanya memutuskan untuk kembali menyunggingkan senyum. "Tidak ada." Jawabnya berbohong.

Sasuke juga tidak sebodoh itu untuk percaya. "Kau tau aku mencintaimukan? Sekeras apapun kau menghindar aku akan mendapatkanmu juga." Terdengar begitu percaya diri dari kalimatnya dengan sebuah seringai diwajah tanpa celahnya. "Aku sudah mengatakan berkali-kali, aku mencintaimu Yamanaka Ino, menikahlah denganku."

Ino dibuat terdiam dengan kalimat yang penuh makna itu, meski Sasuke mengucapkannya dengan datar. Tapi siapa yang bisa menolak sosok sempurna didepannya ini?

"Kau melamar wanita yang telah menjadi kakak iparmu?" Ino mendelengkan kepalanya ketika mengatakan kalimat itu.

"Ck!" Sasuke mendengus.

"Aku ini kakak iparmu lho Sasuke, kau tau itukan?" Sebelum Sasuke menyangkal Ino sudah menambahkan. "Istri dari Uchiha Itachi." Tekan Ino pada nama sang suami.

"Persetan dengan itu," Sangkal Sasuke datar, yang membuat Ino mengerut tak setuju. "Karena kakaku sudah mati." Tambahnya dengan raut yang terlihat terluka.

Inopun terdiam, tak bisa menyangkal fakta sang suami memang sudah meninggal.

"Aku tidak peduli, meski hal ini akan menyeretku kedasar Neraka sekalipun, aku juga tidak peduli kalau pada akhirnya hanya aku yang akan terlempar kesana, sedangkan kau abadi dengan Itachi di Surga." Memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, kalimatnya terlalu panjang. "Aku hanya ingin membuat Surgaku sekarang, disini, denganmu. Meski nanti saat kita mati kau lebih memilih bersama kakakku." Suaranya melembut.

Ino dibuat mencelos dengan kalimat panjang yang Sasuke ucapkan, itu memang keinginannya dulu, berharap Itachi menunggunya di Surga tempat abadi yang dijanjikan. Tapi sejak mengetahui perasaannya untuk Uchiha bungsu didepannya ini keinginan itu perlahan terlupakan. Sekarang yang membuatnya terdiam, adalah apa ia masih menginginkan mendapatkan tempat disurga bersama sang suami?

Wanita cantik itu menghela napas, lalu memutuskan untuk melepas mantel yang sejak tadi melekat pada tubuhnya dan melemparkannya kesisi ranjang yang tak jauh darinya berdiri yang hanya menyisakan dress tanpa lengan yang ia pakai.

Lalu setelah itu, membawa kaki jenjangnya mendekat kearah pria yang masih berdiri didepannya. Ia sudah memutuskan segalanya akan berakhir malam ini. Bukan hanya Sasuke, tapi dirinya pun sama, menginginkan Surga bersamanya. Tidak peduli kalau ini akan menjadi Surga terakhirnya, karena ia tak yakin kalau dirinya tidak ikut terseret kedasar Neraka nanti.

Yang jelas, ini hanya akan membawanya semakin dalam terlempar ke lubang tanpa akhir itu. Menambah dosa dan kesalahan yang selalu ia buat. Mengabaikan segalanya.

Ino semakin mendekat, hanya berjarak setengah langkah. Sasuke masih menatapnya tanpa suara sampai tangan dingin Ino menyentuh tangannya dan meremasnya erat, seolah emosi ia tumpahkan disana.

Wanita cantik itu memutuskan berjinjit untuk menyatukan bibir mereka. Ino yang memula, dari yang awalnya hanya menempelkan bibir sampai mengecupnya kecil berkali kali dengan air mata yang sudah menetes dari kedua mata Aquamarine-nya.

Namun Sasuke masih diam, tanpa berniat untuk membalas ciuman sang wanita. Sebenarnya ia binggung, apa yang coba Ino katakan dengan tindakannya itu. Ditambah ia tidak akan pernah bisa melepas wanita ini nanti, ia juga tidak ingin melepasnya.

Melihat Sasuke tak membalasnya, membuat Ino kembali berinisiatif, membawa tangannya yang sedang meremas kuat tangan besar Sasuke, naik dengan lembut sampai ketengkuk Sasuke. Dan memutuskan meremas surai raven yang masih basah itu, untuk memperdalam ciumannya berharap pria ini membalasnya.

Biarkan ia bertingkah layaknya jalang kali ini, ia tidak peduli.

Hisapan pada kedua belah bibir sang Uchiha, masih tidak membuat Sasuke membalas ciumannya, pria itu masih diam, tidak juga merengkuhnya. Mungkin Sasuke tidak menginginkan ini, hal itu membuatnya melepas panggutannya. Dan memandang intens mata hitam yang juga tengah menatapnya.

Ino tersenyum, sebelum membawa tangan yang masih bertengger dipundak Sasuke melepas dress yang ia kenakan. Sasuke dibuat mengerut akan hal itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke akhirnya.

Ino sedikitpun tak mempedulikan pertanyaan itu. Dan malah menjatuhkan dress yang ia pakai dibawah kaki jenjangnya tanpa perlu berpikir dua kali.

Kini hanya ada bra dan celana dalam berwana sama yang melekat pada tubuh indahnya. Seolah mengeyahkan rasa malunya, Ino kembali tersenyum dengan mengedipkan satu matanya nakal. "Meminta Surga terakhirku." Terangnya ambigu.

Sasuke masih diam, namun saat Ino mulai menyentuh bathing suit yang ia pakai, Sasuke langsung mencengkram tangan kecil itu, membuat wajah cantik itu mendongak. Dan langsung menariknya kedalam pelukan.

Pelukan erat dari sang Uchiha membuat Ino tersenyum. "Menikahlah denganku." Kalimat itu ia ucapkan dengan lembut, sangat lembut. Ia tidak keberatan memberikan segalanya untuk wanita ini, bahkan seluruh dunia sekali pun asal ia bisa tetap disampingnya, bukan hanya sebuah Surga terakhir, sebanyak apapun Surga yang diinginkan Ino, ia akan berikan.

Ino melepas pelukan untuknya hanya untuk mengamati wajah dingin pria didepannya.

Sasuke pun membisu dengan saling menatap, kedua tangan besarnya ia buat untuk merangkum wajah sang wanita. Tanpa banya kata, ia hanya perlu Ino tau bahwa besaran tak terhingga dari semua angka tak mampuh mendefinisikan perasaannya untuk wanita ini.

Jadi Sasuke memilih mengatakannya dengan mencium keningnya begitu lama, lalu turun dikedua mata indahnya dan terakhir bibirnya. Kedua bibir itu kembali bertemu, namun kini berbeda, bukan hanya Ino yang menghisap namun keduanya saling menghisap, melumat dan membuka mulut membawa lidah mereka bergerak liar.

Lumatan-lumatan semakin menjadi, manakala Sasuke sukses mendominasi, menekan kuat tengkuk Ino hanya untuk memperdalam ciumannya. Sampai suara Ino yang protes karena sesak, membuat Sasuke melepas ciumannya. Namun tak berhenti disitu, karena kini yang menjadi objek cumbuannya adalah leher jenjang Ino. Sedikit menarik rambut pirang yang tergerai itu pelan, hanya untuk mempermudahkannya menjamah area leher.

Tangan kiri Sasuke mulai turun dari tengkuk kepunggung dan pinggang, perut dan naik dengan perlahan ke dada sang wanita.

"Ehg... hh..." Terdengar erangan Ino cukup keras karena ulah Sasuke. Namun Sasuke tak berniat untuk menyudahinya, ia malah lebih memperdalam hisapannya pada leher mulus Ino dan meremas lembut dada sebelah kanan sang wanita yang masih berbalut bra.

Kedua tangannya kini tengah mencoba melepas kaitan bra yang ada dibagian punggung sang wanita. Dan terlepas, namun bra itu masih bertengger disana. Sasuke memutuskan menyudahi ciumannya hanya untuk menatap wajah sayu didepannya.

Ino juga sedang menatapnya, tak ada suara dari keduanya. Itu membuat Sasuke membelai lembut wajah Ino. Cantik dengan wajah yang merona, meski dengan pencahayaan minim, warna merah dikedua pipinya dapat Sasuke lihat dalam jarak sedekat itu.

Itu adalah awal, untuk memulai ciuman bibir selanjutnya. Bibir keduanya kembali saling melumat. Kini kedua tangan Ino, ia lingkarkan keleher Sasuke dan tangan Sasuke berada dibelakan punggungnya, mendekapnya erat.

Sasuke kembali mendominasi dalam ciuman yang mendesak, tanpa ragu Ino pun kembali membuka bibirnya hanya untuk memberi kesempatan Sasuke menjarah mulutnya, ditambah dengan gigitan kecil dibibir bawahnya membuat seluruh pertahanan Ino terurai seketika.

Tangan besar Sasuke mengusap perlahan punggung mulusnya, semakin naik membuat bra yang masih bertengger disana terlepas dengan tangannya. Dan melempar benda itu kesudut ranjang yang memang tak jauh dari mereka berdiri.

Setela itu ciumannya, Sasuke lepas hanya untuk kembali mengamati sosok yang setengah telanjang didepannya. Dia tersenyum tipis.

Lalu mulai menarik ikat bathing suit yang ada dipinggangnya dan melepasnya. Tak lama bathing suit itu pun menyusul baju-baju mereka setelah Sasuke juga melemparnya kesembarang arah.

Kini keduanya sama-sama telanjang, mungkin hanya Ino yang masih mengenakan celana dalam sebagai kain terakhir yang melekat padanya. Berdiri diam dengan tangan sang wanita yang masih bertengger pada pundaknya, Sasuke merai tangan itu dan menuntunnya keranjang. Mendudukan Ino pada pinggiran ranjang empuk berukuran besar, sebelum membawa tubuh sang wanita tidur terlentang secara perlahan, diikuti dengan kedua kaki jenjang Ino yang Sasuke angkat ke ranjang, hanya untuk memudahkannya membuka kain terakhir yang masih melekat pada tubuh wanitanya.

Setelah kain itu terlepas, Sasuke mulai menindih Ino yang diawali dengan ciuman lembut namun bertambah liar setelah beberapa detik. Ditambah tangan Sasuke yang tak bisa diam, seolah mengiring sensasi baru pada tubuhnya yang sulit ia tolak.

Liar dan panas, mereka saling menyesap satu sama lain, dengan bibir yang sidikit terbuka, napas mereka saling menerpa wajah masing-masing. Ciuman itu melambat hanya untuk menikmati sensasinya. Tanpa sadar hal itu membuat Ino menggeliat, merasa semakin kacau ketika kedua belah kakinya terbuka dan terhimpit diantaranya kaki milik pria diatasnya.

Ciuman Sasuke mulai turun dari leher ke area dadanya, menghisap papila berwarna merah jambu itu lembut dan perlahan. Kegiatan yang dilakukan Sasuke itu memang tak perlu diragukan lagi, karena itu sudah menjadi keahliannya membuat area paling sensitifnya terasa semakin lembab.

"Ssa-ssu-kehh... ahh..." Ino mulai mendesahkan namanya.

Dan hal itu membuat pria yang merasa namanya terpanggil, tersenyum disela hisapannya pada kedua dada Ino secara bergantian. Menggigittnya pelan hanya menambah rasa sakit dan nikmat secara bersamaan.

"Ahh..."

Semakin dibuat tersenyum dengan setiap, desahan yang keluar dari mulut wanita dibawahnya. Sasuke mulai membawa tanganya turun kebawah, kedaerah yang sudah basah karena ulahnya.

Ia bisa merasakan daerah itu sangat basah. Ia kembali tersenyum.

Namun ia urung untuk bermain disana. Sasuke lebih memilih mengangkat kepalanya dari dada Ino dan menatap wanita itu sebelum kembali menunjukan sebuah senyuman tipis. Sasuke memutuskan berguling ke kanan, dan membawa Ino bersamanya. Kini Inolah yang berada diatas tubuh Sasuke.

Ino melebarkan mata birunya, dengan tindakan Sasuke, yang menurutnya tak nyaman ini. bagaimana bisa ia mengatakan nyaman, saat tubuh polosmu terlihat dari sudut manapun, belum lagi posisi mengangkang Ino membuat area basahnya bersentuhan langsung dengan perut six pack bawah Sasuke.

Tanganya ia letakan pada dada bidang pria yang kini tersenyum kearahnya. Hal itu semakin membuat Ino menggigit bibir bawahnya hanya untuk mengurangi ketidak nyamanannya.

Sedangkan tangan Sasuke berada di pinggang belakangnya sedang membelainya pelan. Cukup lama dalam posisi itu, membuat Sasuke begitu mengagumi sosok yang terpahat sempurna yang kini sedang ada diatasnya.

"Kau tidak ingin bergerak?" Ucap Sasuke mencoba menggona Ino dengan seringai yang nyata ia tunjukan. "Kalau aku yang bergerak, aku tidak akan membiarkanmu untuk sekedar beristirahat."

Ino mengerucutkan bibir dibuatnya.

~To Be Continue~

Sebenarnya aku berkeinginan untuk mengakhiri Last Heaven di chap 10 ini, tapi sepertinya akan terlalu panjang, belum lagi omake yang akan melengkapinya jadi terpaksa aku potong dari sini. Dan mengingat satu hari lagi menginjak bulan Ramadhan jadi kemungkinan next chap akan aku up setelah Ramadhan karena berbagai alasan didalamnya. *wink* selamat menunaikan ibadah puasa, Happy Ramadhan minna...

Tanks to :

RnaNIppon : Makasih sudah rnr.

KanonAiko : Hai Kanon-san, makasih ya sudah diingatkan, itu sepertinya sudah menjadi kebiasaanku *pundungdipojokan* maaf mengecewakan. Dan makasih sudah rnr, silakan kalau mau di follow.

Narashikaino : Sudah taukan gimana akhirnya Sasu di chap ini? makasih udah selalu rnr nara-san.

Firdaa : Hahaha entah kenapa aku suka yang nyesek-nyesek. Makasih udah selalu rnr Firdaa-san.

Jung jessica yamanaka : Aku senyum-senyum sendiri pas baca review kamu, hahaha aku sampai penasaran sama itu lagu dan berakhir googling, maklum aku bukan pencinta Korea hehehe. Ok, aku rasa udah kejawab di chap ini, moga seneng ya. N tanks udah rnr.

Winaagustina8f : Apa masih kepo setelah baca chap 10? Makasih ya udah rnr.

Xoxo : Makasih atas semangatnya, ini udah semangat 45 lho. Udah kejawab kan di chap ini. moga suka ya dan engga sedih. Tanks udah rnr.

Yenii : Ini sudah sangat semangat buat ngelanjutin, hahaha dan makasih atas semangat dan doanya. Arigatou juga udah rnr.

Miuino : Aku takut semakin panjang kalau aku buat lama, jadi kilat deh hehehe. Kenapa arigatou bukan gomen? Itu karena Orochi pengen banget berterimakasih secara langsung pada Ino, terlepas dari segala keadaan dan kenyataan yang ada. Oya makasih udah rnr.

Ino-chan : Tarraaaaa... udah tau kan Ino akhirnya hamil di chap ini, semoga suka. Ini sudah aku update dan makasih sudah rnr dan makasi atas semangatnya.

Guest : Ini sudah dinext. Tanks udah rnr.

Chaerin : Ita sudah damai disisihku. Fic GaarIno ya? Itu sudah kurencanakan tapi aku putuskan akan ngepublish GaaIno setelah Last Heaven tamat, jadi ditunggu ya. Makasih udah rnr.

Aya : Gimana ya? Papa Inoichi mau bantu dengan ihklas apa dengan sarat ya? Sudah terjawab kan disini? Makasih udah rnr.

Guest2 : Ini sudah diupdate, makasih udah rnr.

LF : Duh jadi malu, abang Shisui dia jomblo hahaha. Makasih udah rnr dan ini sudah dilanjut, semoga suka ya.

Alfa domani : Makasih sudah suka. Iya, engga aku anggurin kok, ini sudah dilanjut. Makasih udah rnr.

Meenyaaw : Demi apa aku ngakak baca review kamu, "jadi apa dunia tanpan ikemen?" god. Semangat kibar bendera SasuIno. Makasih udah rnr.

Aliaros : Iya, Sasu cinta mati ama Ino. Makasih untuk semangatnya, ini sudah di up, n makasih atas rnrnya.

Juwita830 : *pukpuk juwita830* moga chap ini engga bikin sedih ya. Makasih udah rnr.

Anna : Ada. Dokter umum sebenarnya hanya ada di puskesmas dan UGD rumah sakit kecil. Sedangkan rumah sakit besar, seperti rumah sakit pendidikan misalnya, UGDnya dihuni oleh para PPDS dan Koas. Dan dokter spesialis emergency juga bertugas disana. Dan makasih atas koreksinya. Tanks udah rnr.

Taisho No Miko : Terharu, hiks. Merasa selalu menjadi yang utama dari Ame-nee. Tanks neesan. Ame nee mah suka yang sadis-sadis. Sudah tau kan dichap ini? kalau untuk hubungan mereka itu masih rahasia. Arigatou ame-neechan *wink* ini semangat nee, makasih ya udah selalu rnr. Bahkan disaat nee lagi males pun masih nyempetin buat baca fic abalku ini. *hug*

IstriSasuke : Namamu keren IstriSasuke, hehehe aku suka sad ending tapi untuk akhir Last Heaven masih rahasia. Makasih sudah rnr. Ditunggu ya.

Levio Kenta Uzumaki : Ini sudah dilanjut, makasih sudah menunggu dan atasrnrnya.

See You Next...