.
Just Like Now
By
Deushiikyungie
Cast :: Sehun/Kai/Chanyeol, Sehun/Lay, Kris/Suho, dll...
Disclaimer :: para pemain milik diri mereka masing-masing, keluarga mereka dan agensi masing-masing. Author Cuma meminjam nama mereka. jangan di plagiat ya?
Genre :: Brothership, Family, lilt Romance, lilt humor
Summary :: Banyak yang ingin ia sampaikan tapi entah kenapa tiba-tiba saja lidah nya kelu dan sulit untuk bersuara. Yang keluar hanya bisikan lirih. "Miss you, my love..." lirihnya.
Warning :: Shonen-ai/BL dan sejenisnya, GS, penulisan sesuai keinginan author, OOC, GaJe... awas Typo...
a/n: saya mengambil sudut pandang dari ketiga main cast dan author pov. Jadi mian kalau sedikit membingungkan…
tidak suka? Jangan maksa baca... tinggal back ajah...
Happy riding,,,.
.
-Author POV-
Duk duk duk
"Sehun ah, lempar pada ku!"
Teriakan Chanyeol sontak mengalihkan tatapan tajam Sehun dari dua namja di depannya yang masih menghadangnya untuk melakukan shoot. Dengan gesit, Sehun melewati dua lawannya dan melihat ruang kosong, iapun tanpa ragu melempar bola itu dengan keras kearah Chanyeol di ujung lapangan. Dan-
Shyuuut
Shhht
"Eh!"
Saking kerasnya bola itu di lempar membuat namja tinggi itu terdiam saat bola orange itu melewati sisi kiri tubuhnya dengan cepat dan sesaat setelahnya terdengar oleh mereka suara benturan keras.
Buakh!
Bola itupun tepat menghantam kepala Jongin.
"Aaaghh…. hyung-"
"Jo… Jongin! Ya ampun. JONGIN!"
hyuuuung
Hap.
"Ya Tuhan, Jongina!"
"Jongin ah! Jongin, kau- kau…"
Sontak Baekhyun dan Jongdae terkejut bukan main saat melihat dengan jelas bola basket itu menghantam kepala Jongin, keras. Jongin limbung dan dengan cepat Baekhyun menangkap tubuh remaja itu sebelum terhempas ke tanah. Semua yang ada di lapangan basket berseru kaget dan berlari kearah pemuda yang kini berada di pelukan Baekhyun.
"Jo- Jongina… saeng, kau baik-baik saja? Jongin ah!" panik, Baekhyun berseru memanggil Jongin dan sebelah tangannya memegang perlahan sisi kepala Jongin. Meraba dengan lembut berharap rasa sakit itu sedikit berkurang.
"Hyu-" lirih remaja manis itu, menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya. Sakit. Amat sakit.
Di tengah lapangan, Sehun, hanya bisa menahan nafasnya melihat sang kembaran terbaring menahan sakit di pelukan Baekhyun. Terbata, lidahnya kelu. Ingin melangkah tapi tubuhnya tiba-tiba kaku. Hanya sesaat karena suara berat Chanyeol mengejutkannya.
"Jongin!"
Pemuda tinggi itu langsung menerobos kerumunan dan langsung meringgis melihat kondisi Jongin.
"Jongin- Jo-Jongin maafkan aku! Jongin- yak, yah! Kenapa semua diam?! Ce- cepat bawa dia ke rumah sakit! Cepat!" teriakan panik Chanyeol kembali membuat tubuh kaku itu tersentak dan dengan gerakan lambat, Sehun pun hanya bisa mengikuti kerumunan yang membawa sang kembaran pergi.
Tubuh itu. Tubuh lemah itu, lemas di pelukan pemuda tinggi itu.
Sehun- entah apa yang dipikirkan remaja itu sekarang. Namja itu merasa kepalanya berputar-putar. Wajah putih itu perlahan semakin pucat, ia merasa sesak, pusing dan-
Grep.
"Sehun- Sehun ah, tenang ne? Tenanglah, kuatkan dirimu, saeng. Jongin baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja…" tiba-tiba Seokjin mendekap tubuh Sehun. Menenangkan si remaja Wu bahwa sang kembaran baik-baik saja. Ya, Jongin baik-baik saja. Meski keraguan memenuhi isi kepalanya.
"Jongina…"
.
-…Just Like Now…-
.
Entah berapa lama mereka menunggu di depan pintu ruang rawat. Menunggu kepastian dari dokter yang tengah memeriksa kondisi seseorang yang tengah mereka cemaskan. Seseorang yang satu jam yang lalu mendapat hantaman keras dari sebuah bola yang- jujur, ini semua adalah kecelakaan. Kecelakaan yang tidak bisa dihindari meski bisa dihentikan. Namun rasa bersalah terus saja memenuhi pikiran dan hati kedua namja tampan itu.
Chanyeol duduk di kursi tunggu dengan diam. Menundukkan kepalanya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Menghakimi diri sendiri atas apa yang terjadi pada sosok remaja yang mulai menarik hatinya itu. Merasa bersalah dan menyesal- kenapa, kenapa dia tidak bisa menangkap bola itu? Kenapa ia membiarkan bola itu melewatinya dan- dan kenapa bola itu harus mengenai Jongin? "Bodoh!" gumamnya dengan rasa penyesalan memenuhi hatinya.
Tak jauh berbeda dengan Sehun. Remaja itu terlihat lebih pucat dan membuat beberapa orang disana menatap prihatin pada si remaja Wu.
Sehun berdiri bersandar tepat disamping pintu. Menunduk dalam, menatap kosong ujung sepatunya. Berbagai pikiran memenuhi isi kepalanya. Melihat dengan mata kepala sendiri bola itu mengenai kepala Jongin membuat Sehun mati rasa. Hatinya sakit dan- dan lagi-lagi rasa bersalah menguasai dirinya. Karena dirinya, sang kembaran- Jonginnya kembali terbaring lemah.
Karena dirinya yang kembali tidak becus melindungi Jongin. Karena dirinya, seharusnya ia tidak melempar bola itu kearah Chanyeol. Seharusnya ia tidak-
"Sehun!"
Pikiran menghakimi dirinya tiba-tiba saja terhenti saat teriakan orang yang ditunggu-tunggu terdengar. Kris, pria itu langsung menghampiri sang anak dan menangkup wajah pucat itu dengan perasaan risau dan cemas.
Kris rasanya ingin bunuh diri setelah mendengar kabar jika putra tan-nya terkena lemparan bola dan itu di kepala. Terdengar berlebihan memang, tapi itu lah yang terlintas dipikirannya dan siapa yang tidak takut dan berpikiran buruk jika itu menyangkut bagian kepala?
Kris langsung pergi ke rumah sakit saat Baekhyun mengiriminya pesan ketika dirinya masih bersama Junmyeon di toko buku.
Pria itu menatap dalam Sehun yang masih enggan dan takut menatapnya. Perlahan dengan lembut Kris bertanya, "Sehun? Apa yang terjadi nak? Kenapa, hum? Kenapa bisa Jongin-"
"Daddy, mian- mianhae…mianh-"
Sehun memotong ucapan Kris dengan nada suaranya yang mulai bergetar. Entah kenapa dadanya sesak dan pandangannya mulai mengabur. Sungguh sesak dan-
"Mian…Hikss, daddy… mi-mianhae.. in-ini salah ku. Jong, hiks Jongin-" tak tahan, Sehunpun akhirnya terisak pelan. Menahan sekuat tenaga tagis yang mendesak. Rasa bersalah, khawatir dan cemas melingkupi remaja itu dan sontak membuat Kris tertegun. Sungguh, ia tak menyangka melihat Sehun sesedih dan serapuh ini. Sehun, putra tampannya ini yang terkenal dingin, menangis.
Hah. Tentu saja, Kris. Pria Wu itu merasa tertampar dan hatinya berdenyut sakit. Sehun pasti ketakutan sekarang dan mereka masih belum tahu kondisi Jongin seperti apa. Sehun, tentu saja ikut merasakan rasa sakit yang sama meski bukan ia yang kini terbaring lemah. Putra kembarnya… haa..
Grepp.
Tak sanggup melihat sang anak yang terlihat menderita, pria tampan itupun memeluk tubuh bergetar Sehun erat. Mengusap sayang dan berucap menenangkan bahwa ini semua bukan salah Sehun. Bukan, yang terjadi sebenarnya adalah kecelakaan.
"Tenanglah.. Hun-ah, tenanglah… ini bukan salahmu. Ini kecelakaan, kau tidak sengaja, ne? jadi ini bukan salahmu… nak." Ya ia merasa ini memang bukan salah Sehun ataupun orang lain karena menurut penjelasan Baekhyun yang ia dapat sebelumnya, bola yang dilempar sang anak seharusnya dapat ditangkap oleh Chanyeol, tapi karena cepatnya bola itu dan terlebih tidak ada yang menyadari jika Jongin berdiri di belakang Chanyeol. Dan kejadian itupun terjadi…
Haah… ia tidak tau mengapa kejadian seperti ini harus terjadi? Kenapa harus Jongin-nya? Kenapa harus putra nya yang manis itu?
Kris tetap mengelus punggung Sehun dan mengalihkan pandangannya pada beberapa pemuda di depannya. Ada Baekhyun, Seokjin dan dua pemuda lain yang belum ia kenal dan juga Junmyeon yang berdiri di sisi Seokjin, menatap dalam diam dirinya. Entah kenapa tatapan pria bertubuh mungil itu seakan menenangkannya.
Dan tak lama kemudian dokter pun keluar.
"Dokter Min, bagaimana keadaan putra saya?" tanya Kris langsung. Sehunpun ikut melihat sang dokter. Sungguh berharap Jongin baik-baik saja.
Sebelum bicara, sang dokter menatap penuh arti kepala keluarga Wu. Kris sedikit menangkap maksud dari tatapan itu dan sesaat tubuhnya menegang dan beruntung Sehun tidak menyadari itu.
"Syukurlah, Jongin tidak apa-apa. Dia hanya mengalami luka gores dan lebam, tidak terjadi pendarahan yang terlalu serius. Untung saja kalian bisa membawanya lebih cepat dan bisa langsung ditangani." Ujar sang dokter bername-tag Min Yoona.
"Be-benarkah? Dia baik-baik saja? Dokter-" Sehun menuntut penjelasan lebih namun tersendat saat Yoona tersenyum menenangkan. Mengerti bagaimana perasaan pemuda yang menjadi bagian dari pasien yang ia tangani. Wu Sehun, saudara kembar non-identik Wu Jongin yang menjadi pasiennya selama hampir tiga tahun ini.
Dua pemuda yang berbeda namun satu dan ia paham- sungguh paham bagaimana ikatan antar saudara yang dimiliki Wu bersudara itu. Dan selama yeoja cantik itu mengenal mereka, perlahan ia menyadari ada ikatan lain selain hubungan sedarah dari dua remaja tampan itu.
Suatu ikatan yang sepertinya rumit… atau cukup sederhana…? Entahlah.
Dan Yoona rasa 'ikatan' itu belum di sadari oleh Kris, sang ayah dari si kembar.
"Ya. Kau bisa melihat Jongin, Sehun ah. Untunglah ia cepat sadar." Ujar sang dokter.
Yoona tersenyum menatap Sehun yang menatapnya dalam kemudian mengalihkan pandanganya paa Kris yang masih terdiam. "Dan Kris-ssi, ada yang ingin saya sampaikan. Silahkan ikut saya."
Kris ingin bertanya namun pria itu sedikit tersentak saat merasakan jemari yang terasa dingin mengenggam jemarinya dan sepasang mata tajamnya menatap Sehun. "Ya, Sehun? Masuk lah dulu. Daddy akan bertanya pada dokter Min bagaimana kondisi Jongin."
Sehun ingin bertanya tapi melihat tatapan Kris yang meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, pemuda tampan itupun masuk. Kris hanya mengehala nafas pelan setelah pintu di tutup dan berbalik melihat orang-orang yang menatapnya, menuntut penjelasan.
"Ehm, jadi… seperti yang dokter katakan, Jongin baik-baik saja. Hari sudah gelap kalian semua bisa pulang," kata Kris, menatap satu persatu pemuda di sana dan Junmyeon.
"Tapi, ahjushi. Maaf, ak- aku… aku ingin melihat Jongin, aku ingin minta maaf. Ini salahku- aku-" "Jadi kau yang bernama Chanyeol?" Kris tiba-tiba memotong kata-kata Chanyeol dan sontak membuat pemuda tinggi itu tersentak kaget mendengar suara berat pria itu. Baekhyun ingin bicara namun Kris menyela.
"Baekhyun sudah menceritakan apa yang terjadi. Ahjushi sudah memaafkanmu, ini semua kecelakaan. Jangan merasa bersalah lagi." Ujar Kris tenang. Kris mengerti apa yang terjadi dan ia tidak ingin ada yang merasa bersalah karena masalah ini. Dan sepertinya ia harus segera menemui dokter Min.
"Kalian bisa pulang sekarang, terima kasih sudah mengantar Jongin." Kata Kris dan sesaat setelahnya pria Wu itupun berlalu. Pergi meninggalkan mereka yang menatap ayah dari si kembar Wu dengan berbagai arti.
Chanyeol terpaku. Ia tidak tau harus berkata apa dan bereaksi seperti apa. Kris memaafkannya dengan mudahnya setelah membuat putra Wu yang manis itu terkena lemparan bola dan bahkan masuk rumah sakit. Tanpa memberikan penjelasan apa yang terjadi dan berlalu begitu saja.
Baik sekali? Padahal pemuda itu sudah berpikir negatif jika pria dewasa itu akan memukulnya atau membentaknya. Chanyeol tidak mengerti.
Huh, bisa tampar Chanyeol sekarang?
"…Yeol? Yak, Chanyeol ah! Kau ingin pulang atau tinggal di sini?" teriakan Jongdae menyadarkan Chanyeol dari pikiran-pikiran memusingkannya. Menatap Jongdae, Baekhyun dan Seokjin yang balik menatapnya cemas, pemuda tinggi itu hanya mengangguk pelan.
"Aku ingin pulang, hyung." Gumamnya namun, masih bisa terdengar.
"Haah.. yasudah. Lebih baik kita pulang, besok kalian bisa menjenguknya." Ujar Junmyeon dan melangkah pergi.
Chanyeol masih berdiri, terlihat enggan untuk melangkah. Sejenak pemuda itu menatap pintu kamar rawat Jongin dan setelahnya ia pun pergi.
Haah… untunglah Jongin baik-baik saja. Besok aku harus melihatnya.
.
-…Just Like Now…-
.
Entah berapa lama waktu berlalu dengan hanya saling menatap. Tanpa berkata apapun, hanya saling menatap manik masing-masing, mereka tau apa yang mereka rasakan dan kesunyian itupun sedikit terusik oleh pergerakan halus dari sang pemuda manis.
Jongin meraih jemari Sehun yang masih setia mengusap kepalanya yang di perban. Padahal ia yakin kepalanya tidak berdarah dan ah- entahlah ia tidak mengerti dunia medis meski hampir selama hidupnya hingga detik ini selalu berkaitan dengan yang namanya rumah sakit.
Jongin tersenyum lebar hingga gigi-gigi rapih itu terlihat dan kedua mata bulat itu menyipit lucu membuat wajah tan manis itu terlihat cerah dan menawan.
Jongin terseyum dan berharap senyum lebarnya itu dapat mengubah wajah datar menyebalkan Sehun. Sungguh, ia ingin sekali mencubit pipi putih itu dan menarik kuat-kuat bibir tipis itu agar tersenyum.
"Kau tau, kalau kau tetap seperti itu, aku akan memukul kepalamu, Hun." Akhirnya ia pun bersuara, mengubah senyum lebarnya menjadi seulas senyum tipis. Jongin benar-benar tidak tahan dengan ekspresi Sehun saat ini meski tidak jarang ia melihat sirat rasa bersalah, cemas, khawatir dan menghakimi yang tersimpan apik di balik wajah datar sang kembaran. Ia tau, ia paham dan Jongin dapat merasakannya.
Rasa itu. Perasaan itu.
Lagi-lagi ia membuat Sehun khawatir. Haaah…
"Aku baik-baik saja." Ucapnya lembut.
"Aku tau" balas Sehun pelan. Masih dengan wajah datarnya.
Kembali keheningan menyelimuti mereka.
Sehun, banyak yang ingin remaja tampan itu katakan namun ia hanya mampu menatap sepasang mata bulat itu. Meski hati mendesak bertanya namun pikirannya selalu menahan. Takut jika bibir tipis itu berucap yang tidak-tidak karena pikirannya saat ini tengah kacau. Dan Sehun sadar, Jongin paham akan kondisinya saat ini.
Tak banyak bicara, hanya menatap dan menggenggam jemari masing-masing.
Sehun tidak sedetikpun melepaskan pandangannya dari wajah Jongin. Meski tidak pucat namun garis kesakitan masih terukir di sana. Meski wajah itu terlihat baik-baik saja namun Sehun tau, Sehun sadar pemilik wajah manis itu selalu menahan rasa sakit.
Jongin sedikit menarik jemari yang menggenggam jemari mungilnya, membuat Sehun sedikit tersentak. "Sehun ah.." panggilnya.
"Apa? Kau ingin sesuatu?" kata Sehun, mendekatkan tubuhnya pada sang kembaran.
"Ya."
"Apa?"
Remaja manis itu tidak langsung menjawab. Sedikit melirik pintu dan kembali menatap Sehun. "Peluk aku." Ucapnya.
Sesaat Sehun terdiam kemudian seulas senyum terlukis di wajahnya yang membuat pemuda pucat itu terlihat 'hidup'. Sontak membuat tawa dari si pemuda manis. Senang akhirnya wajah menyebalkan itu kembali cerah.
Khh, kenapa ia tidak minta dari tadi?
Jongin sedikit bergeser ke sisi kanan saat pemuda putih itu berjalan memutar dan merebahkan tubuh di sisi kirinya yang kosong. Sehun menghadapkan tubuhnya pada Jongin dan dengan hati-hati ia meletakkan sebelah lengannya di bawah kepala Jongin. Menjadikan lengan itu sebagai bantal. Merapatkan tubuh mereka hingga rasa nyaman melingkupi kedua remaja itu.
Sehun tau, Jongin mengerti keinginannya tanpa diminta sekalipun. Sampai Jongin mengatakannya, Sehun akan terus menatap sepasang manik coklat itu hingga satu keinginan-permintaan- terucap.
Saling memeluk dan memberikan rasa aman dan nyaman itulah yang mereka lakukan. Jongin dengan lembut mengusap sayang lengan putih yang memeluk pinggangnya erat hingga ia merasa Sehun terlelap.
Pemuda tampan itu tertidur setelah sesaat merasakan tubuh sang kembaran dalam pelukannya dan menyadari jika Jongin baik-baik saja membuat hati Sehun kembali tenang dan pikirannya kembali ringan.
Meski rasa khawatir masih merayapi hatinya namun Sehun sebisa mungkin meyakinKan dirinya bahwa Jongin-nya baik-baik saja.
Jongin juga ingin menyusul Sehun yang tertidur, namun suara pintu terbuka mengalihkan atensinya pada sosok di ujung sana.
Sang daddy, berdiri menatap dirinya sendu.
.
.
Tbc…
Mianhae, baru update #boww dan ini pendek. Saya tau, maaf..
Next chap bakal banyak skinship…
Tunggu aja..
Next?
Review ya!
