Ayame + Yuri : KONNICHIWAAAA MINNA-SAMAAA!
Hizumi : akhirnya mereka balik lagi ke sini..
Kanon : itu setelah kita ancam kalau cerita ini gak diselesain kita bakal masuk ke mimpi mereka lagi…
Yuri :dan itu lebih serem dari pada mimpi yang horror..
Ayame : lupakan! Soalnya kita sudah ada di sini^^
Yuri : haaaai!
Ayame : Nah Hanon-chan~ Iris-chan~ sudah siapkah kalian balas dendam? XD
Iris :bukannya kita ketembak?
Hanon : kok balas dendam?
Eyes : Dia lagi kena Marchen syndrome…
Yuri : Oke! Mulai detik ini nggak ada kata bercanda! Yang bercanda akan aku kelitikin sampai mati! Ahahahaha
Ayame : e-eh… kalo gitu… seperti biasa.. Nah Iris-chan~ Hanon-chan baca mantranya^^
Hanon, Iris : Menurut kabar yang tersebar Kanon itu chainnya mereka berdua…
Hanon : lalu Onii-chan itu furniturenya Yuri-sama^^
Iris : menurut dongeng yang aku baca, si air putih accessoriesnya Ayame-sama…
All chara : mari kita mulai ceritanya~
Last Hope
Kiyotaka tersenyum kecut melihat Blade Children menjatuhkan pistol yang telah mereka gunakan untuk mencoba menembak dirinya. Kedua gadis yang ada di depannya terjatuh pula dengan tak berdaya. Dengan sigap pria berambut coklat itu menahan mereka berdua dengan kedua tangannya. Teriakan-teriakan yang memanggil keduanya mungkin tak bisa mereka dengar lagi.
"PANGGIL AMBULANS!" perintah Ayumu.
.
.
Arigatou… Aku tidak pernah menyesali semuanya. Aku senang, sampai saat terakhirku, aku bisa menghilangkan rasa dendam ini. Tidak ada lagi yang bisa kugambarkan. Aku senang bisa bertemu dengan teman-teman seperti kalian, terutama Hizumi dan Hanon-chan. Terima kasih… Terima kasih telah menerimaku. Kini, aku tidak merasa aku sendirian lagi. Mungkin dengan ini pula semua dosaku pada orang-orang yang kubunuh saat itu terhapus. Sekali lagi, aku tidak pernah menyesal terlibat dalam lingkaran takdir yang Kiyotaka-sama buat. Lingkaran takdir ini membuatku bertemu dengan teman-teman yang sangat berharga.
Begitu banyak waktu yang kulalui bersama kalian berdua, Hizumi, Hanon-chan. Aku senang bisa bertemu kalian. Kalian sangat berarti bagiku. Tidak ada yang bisa menggantikan kalian di hidupku.
Untukmu Hizumi, apapun akan kulakukan agar kamu tidak menderita lagi. Maaf mungkin aku hidup dengan diburu waktu namun dengan ini semua penderitaanmu, Ayumu dan Blade Children berakhir. Aku berharap kita bisa bertemu lagi nanti. Mungkin saat itu, Aku akan menepati janjiku pada diriku sendiri. Janji di mana aku takkan meninggalkan Hizumi selamanya. Tapi, Hizumi… Yakinlah, jangan salahkan dirimu atas sikapku yang egois ini. Aku.. mencintaimu…
Untukmu Hanon-chan, sahabat pertama dan terakhirku. Mati bersamamu adalah impian terbesar dalam hidupku. Sampai saat ini juga, kau mengajariku banyak hal. Maafkan aku, di awal kita bertemu aku selalu mencelakaimu. Demo, sikapmu yang tulus memaafkanku itu membuat hatiku luluh, dan rasa dendamku berubah menjadi sayang. Aku harap jika kita bisa terlahir kembali nanti, kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Dengan lebih baik. Terakhir, setelah ini kita akan terus bersama 'kan? Ya… aku harap kita selalu bersama karena, persahabatan kita abadi 'kan? Nee?
.
.
Salju.. di duniaku.. sedang turun salju dengan hening. Suara-suara perlahan menjauh, nafasku pun sudah tak terdengar lagi.. Apakah ini akhir dalam kehidupanku?
Jika ini memang akhir dari kehidupanku, tak apa.. Tidak ada yang harus kusesalkan lagi. Ini semua adalah jalan yang kupilih dengan Iris-chan. Tapi.. jika diberi kesempatan lagi, aku ingin meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada semuanya.. Iris-chan, Aniki, Onii-chan, Ayumu-kun, Hiyono-san, Rio-chan, Kousuke-kun, Ryo-chan.. Terima kasih karena kalian selalu membuatku tersenyum dam membuat hidupku bahagia. Maaf jika selama ini aku yang lemah dan cengeng selalu merepotkan kalian semua. Terlebih lagi pada Iris-chan, Aniki dan Onii-chan.. kalian membuatku merasa hidupku berarti dan tak sia-sia.
Iris-chan.. terima kasih.. terima kasih untuk semua kenangan yang telah kau berikan padaku. Kau telah mengajariku banyak hal, kau sudah mengajariku arti sahabat yang sesungguhnya. Sabahatku satu-satunya.. Maaf aku sampai melibatkanmu dalam rencana bodohku. Apa kau masih hidup? Aku harap kau selamat. Tapi, rasanya mati bersamamu seperti ini pun membuatku sangat bahagia. Tidak, kita akan terus bersama. Jika kita dilahirkan kembali.. kita pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti.. karena aku percaya.. persahabatan kita abadi. Berkat kau.. aku mengerti arti hidup yang sesungguhnya.
Aniki.. bukan.. Kanon Hilbert. Gomen nasai.. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu. Aku selalu menjadi bebanmu selama ini. Kau selalu bersusah payah melindungiku agar tak terlibat urusan Blade Children meski tau tahu cepat atau lambat aku akan ikut dalam roda takdir tanpa harapan ini. Kau adalah Malaikat yang selalu menjagaku. Kau tidak pernah menghiraukan seberapa sakitnya dirimu. Dan yang kau inginkan adalah kebahagiaanku. Terima kasih selama ini kau terus menjagaku dan mencintaiku apa adanya. Maafkan aku yang tak membalas perasaanmu meskipun aku tahu benar apa yang telah kau rasakan sejak dulu. Dengan melindungimu seperti inilah yang bisa kulakukan untuk membalas semua jasamu meski aku tahu hatimu akan semakin hancur. Maafkan aku.. tapi inilah jalan yang kupilih.
Eyes Rutherford.. kau adalah bintang bagiku.. pada awalnya.. meski kau selalu menjauhiku.. selalu menghindari kontak denganku, tapi kau selalu ada dan mengawasiku dari jauh. Kau selalu ada di saat aku membutuhkanmu. Meski pertemuan kita begitu singkat, tetapi tanpa aku sadari, mataku selalu tertuju pada dirimu. Memanggilmu kembali dengan 'Onii-chan' adalah suatu anugerah bagiku. Meski sejujurnya aku menginginkan lebih dari menjadi sesosok adik di matamu. Egoiskah aku? Aku tahu, Aku selalu membuatmu menderita dengan kehadiranku. Tapi tak apa, setidaknya penderitaan terberatmu usai sudah. Onii-chan.. bukan.. Eyes-kun, Aku mencintaimu.. sangat. Tapi aku sudah tak bisa mengatakannya lagi.
.
.
Ayumu menatap langit yang mendung. Ia berpakaian serba hitam dan melihat Blade Children yang terlihat murung. Pada akhirnya ia tidak bisa menyelematkan siapa-siapa. Anikinya terlalu sempurna untuk ia kalahkan, atau Anikinya terlalu lemah sampai-sampai ia dilindungi kedua gadis yang seharusnya terus hidup hingga saat ini?
Pemakaman. Dilihat dari sisi mana pun begitu menyedihkan. Bunga krisan bertebaran di setiap sudut ruangan. Bunga krisan yang berwarna putih itu seolah melambangkan ketulusan hati kedua gadis yang tertidur dengan tenang di dalam peti mati. Tidak terdapat bunga-bunga lain, kecuali beberapa tangkai bunga Iris yang Kiyotaka genggam di tangannya. Ia terlihat sangat menyesalkan kejadian ini. Namun, tak ia sangka pula kedua gadis itu mengikuti perintah dari suratnya. Hanon dan Iris.
"Bunga-bunga ini aku persembahkan untuk kalian berdua…" kata Kiyotaka sambil menaruh bunga Iris itu di sisi masing-masing peti Iris dan Hanon. Lalu menatap sisi peti kedua sahabat itu.
Di sisi peti kedua gadis itu, tiga orang pemuda terus meneriakkan nama gadis yang berarti bagi mereka. Beharap kedua gadis itu menjawab panggilan mereka dan tersenyum hangat pada mereka. Mereka berharap semua ini hanyalah ilusi belaka. Tapi percuma.. ini adalah kenyataan. Meskipun pedih, inilah keadaan yang harus mereka hadapi. Kedua gadis itu - gadis yang mereka cintai, telah tiada. Seberapa banyakpun air mata yang terus mengalir dari mata mereka, sampai kapanpun mereka meneriakkan nama kedua gadis itu, Iris Weisheit dan Hanon Hilbert tak akan pernah membuka mata mereka lagi.. selamanya.
"Iris.. Iris.." Hizumi terus menggumamkan nama Iris sambil menatap wajah gadis yang dicintainya. Air matanya tak kunjung berhenti meski sudah berpuluh-puluh orang yang menghiburnya. Satu-satunya orang yang berharga bagi dirinya kini telah tiada. Gadis yang selama ini menjadi alasannya untuk hidup telah meninggalkan dirinya sendirian. Lalu, untuk siapa dia hidup sekarang?
"Hanon.. kenapa.. kenapa kau harus beakhir seperti ini? Ini semua salahku.. Maafkan aku Hanon.. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu.." kata Kanon bersimpuh di tepi peti Hanon, bahkan ia tak menyadari kehadiran Sang Dewa di dekatnya. Yang dirinya pikirkan hanyalah Hanon, Hanon dan Hanon.
Eyes terlihat lebih tenang dibandingkan Kanon. Ia lalu mengusap air mata Kanon yang menjatuhi muka Hanon yang terlihat tertidur itu. Tapi tak ada yang memungkiri perasaan hancur dan kehilangan yang dirasakan pemuda beriris biru itu. Selama ini ia terus menahan perasaannya terhadap satu-satunya gadis yang membuatnya jatuh cinta itu. Ia berusaha menjauh agar tak terjadi sesuatu pada gadis yang dicintainya itu karena terperangkap dalam roda takdir Blade Children. Tapi usahanya selama ini sia-sia jika akhirnya seperti ini.
"Harapan kedua gadis ini terkabul, namun mereka sendirilah yang harus mengorbankan diri mereka demi semuanya tercapai." ucap Kiyotaka sembari beranjak dari panggung terakhir Hanon dan Iris.
"T-Tunggu!" seru Hizumi yang tiba-tiba bangkit, "Hanya ini? HANYA INI YANG BISA KAU BERIKAN PADA DUA ORANG GADIS YANG TELAH MENYELAMATKANMU, HAH?" Hizumi mencoba menguatkan hatinya.
"Bunga Iris itu... memiliki berbagai arti, terlebih bunga yang ada di samping mereka berdua. Cinta dan Harapan yang membutuhkan pengorbanan besar." gumam Kiyotaka, "Mereka hebat... mereka bagaikan bunga Iris yang akan terus mekar di sepanjang waktu."
"J-Jangan bercanda! kalau bukan karena permainanmu... Iris ... Iris mungkin masih ada di sini!" Hizumi kini berlari menghantam Kiyotaka dari belakang, namun Ayumu menghadangnya.
"Hentikan Hizumi, kau tidak mau mengotori pengorbanan Hanon dan Iris 'kan?" ucap Ayumu menenangkan, "Aniki... Kau kalah, kau kalah dari kekuatan yang dimiliki Hanon dan Iris, kau menyadarinya..."
"Ya.. mereka adalah gadis yang hebat.." kata Kiyotaka kembali menatap peti kedua gadis itu.
.
"JA-JANGAN TEMBAK!" teriakan ketiga pemuda itu tak dapat menghentikan peluru-peluru yang terlanjur ditembakkan tepat ke arah Kiyotaka. Tapi di depan Kiyotaka, berdiri dua orang gadis yang sedang menrentangkan tangan mereka - berusaha melindungi Kiyotaka. Tak ada keraguan dalam iris kedua gadis itu. Dengan kecepatan sepersekian detik, dua peluru telah menembus badan Iris dan tiga lainnya bersarang di tubuh Hanon.
Tubuh Blade Children, Ayumu serta Hiyono mendadak lemas. Mereka pun menjatuhkan pistol mereka masing-masing. Ini berada di luar rencana mereka maupun rencana Kiyotaka. Mereka tak menyangka bahwa Hanon dan Iris yang benar-benar baru pulih bisa ada di hadapan mereka dan melindungi Sang Dewa. Tubuh kedua gadis itu pun ambruk, namun di tahan oleh Kiyotaka.
"IRIS" teriak Hizumi melempar pistolnya dan berlari menghampiri Iris.
"HANON!" Kanon dan Eyes berteriak secara bersamaan.
Ketiga pemuda itu berlari menghampiri Kiyotaka yang menangkap tubuh kedua gadis itu. Hizumi terduduk lemas di hadapan Kiyotaka. Ia menggapai tubuh Iris dan memeluk gadis yang mengorbankan dirinya itu demi Kiyotaka. Sementara itu, Kanon segera mencengkram kerah Kiyotaka yang sebenarnya merasa bersalah. Tanpa segan lagi, sang pemuda bermanik coklat itu memukul wajah Kiyotaka, sampai Kiyotaka tersungkur di tanah.
"PUAS KAU DENGAN SEMUA INI? DEWA APANYA?" seru Kanon sambil terengah-engah.
Yang dipukul hanya diam dan memandangi kedua gadis yang tak sadarkan diri itu. Ayumu juga hanya bisa menyesali semuanya. Kini apa yang telah mereka lakukan itu menyebabkan kematian dua gadis yang seharusnya tidak terlibat dalam hal ini lagi.
"Hanon masih bernafas!" kata Eyes dengan nada bergetar sambil memangku Hanon yang nafasnya tersenggal-senggal.
"Iris! bertahanlah!" kata Hizumi sambil terus mengenggam erat tangan Iris.
"Iris-chan! Hanon-chan! Gomen nasai.. gomen nasai.." kata Rio terisak seraya menghampiri kedua gadis yang tengah sekarat itu
"PANGGIL AMBULANS!" perintah Ayumu dengan lantang.
Tanpa perlu diperintah untuk kedua kalinya, Hiyono segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirimkan mereka Ambulans. Tak perlu menunggu lama, Ambulans pun segera datang. Iris dan Hanon akan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Yang ikut di dalam Ambulans tentu saja Hizumi, Eyes dan Kanon. Ayumu dan lainnya akan menyusul setelah menyelesaikan urusan dengan Kiyotaka.
".. O..Onii...-chan.." terdengar suara Hanon. Hanon tampak mulai sadarkan diri.
"Hanon!" Eyes dan Kanon bersyukur karena 'imouto' mereka telah sadarkan diri.
"Gomen ne.. lagi-lagi aku merepotkan kalian." kata Hanon tersenyum lemah. Suaranya kini menjadi sangat pelan.
"Dasar Bodoh.. Jangan membuat Aniki takut.. Aku tak mau kehilangan dirimu." kata Kanon dengan suara bergetar. Ia benar-benar tak ingin kehilangan Hanon, karena ia tak mau kehilangan keluarganya lagi dalam lingkaran takdir Blade Children yang menyedihkan ini.
"Apa alasanmu melakukan ini, Hanon?" tanya Eyes sambil mempererat genggaman tangannya pada tangan Hanon yang semakin dingin. Hanon hanya kembali tersenyum lemah.
"Aku..." Hanon tampak ingin mengatakan sesuatu, "Kiyotaka-san memberikan buku hariannya padaku.. Dari buku itu, aku dapat merasakan bahwa Kiyotaka-san sendiri sudah menyerah dengan hidupnya. Dia menyesal.. sangat menyesal dan merasa bersalah dengan Blade Children.. Untuk itulah dia mengirimkan kalian surat, dia ingin mengakhiri hidupnya meski sebenarnya ia takut. Tapi kemarin ia datang ke kamarku dan mengatakan keadaannnya yang sebenarnya."
"Lalu dia memerintahkanmu untuk melakukan semua ini?" kata Kanon
"Iie.. Ini semua kulakukan atas kehendakku dan Iris-chan. Aku tak ingin kalian mengorbankan nyawa yang selama ini kalian perjuangkan. Dan Kiyotaka-san memberikanku surat yang berisi kalau akulah harapan terakhir Blade Children. Pertarungan final kalian kali ini tidak akan berdampak banyak karena sepak terjang kalian memperjuangkan Blade Children sudah terlalu banyak. Hanya aku sajalah "pemain" yang belum turun dalam panggung Blade Children. Semua tergantung pada tindakanku. Aku pun memutuskan untuk ikut turun ke dalam panggung dan melindungi kalian dengan cara seperti ini. Mungkin.. inilah pertunjukan pertama dan terakhir bagiku.." kata Hanon menceritakan keadaan yang sebenarnya dengan panjang lebar.
"Cukup.. yang seharusnya melindungimu itu adalah aku.." kata Kanon lirih
"Jangan berkata seperti itu Hanon.." kata Eyes sambil merapikan poni yang menghalangi manik coklat Hanon
"Daijoubu.. aku sudah tahu resiko terburuknya." kata Hanon sambil tersenyum lemah lalu terbatuk, darah keluar dari mulutnya.
"Hanon!" Eyes dan Kanon kini sedikit panik melihat keadaan Hanon yang semakin memburuk.
"Daijoubu desu.. aku harap.. setelah kepergianku, kalian bisa menemukan harapan dan impian kalian masing-masing.. Temukanlah kebahagian bagi diri kalian.." kata Hanon masih terus tersenyum
"Tidak.. kau harus bertahan Hanon.." kata Kanon
"Iris-chan.. Iris-chan wa doko?" tanya Hanon mengalihkan pembicaraan, ia berusaha menggerakkan badannya meski ia merasa sangat kesakitan ketika tubuhnya bergeser sedikit saja karena peluru yang ada dalam tubuhnya.
Di sisi lainnya, terlihat Iris yang masih belum sadarkan diri. Hizumi yang biasanya tampak tenang dalam keadaan segenting apapun kini tampak murung. Ia terus menggenggam tangan Iris tanpa berbicara apa-apa.
"Hizu-kun.." Hanon berusaha memanggil Hizumi dengan segenap suara yang ia miliki, lalu ia berkata dengan sangat menyesal, "Maaf aku melibatkan Iris-chan.."
"... daijoubu, Hanon-chan. Ini adalah jalan yang dipilihnya sendiri. Dan bukankah niat kalian tulus untuk melakukan semua ini?" kata Hizumi sambil tersenyum sedih.
"Hizu.." terdengar suara Iris memanggil Hizumi
"Iris! Daijoubu yo.. kita sudah ada di dalam Ambulans." kata Hizumi dengan suara yang bergetar karena bahagia.
".. Hizu.. maaf, tapi.. mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita.. Tolong jangan buat image 'gadis gagah'-ku rusak." kata Iris setengah bercanda lalu tersenyum lemah.
"Cukup.. jangan berkata seperti itu lagi.." kata Hizumi sambil meletakkan telapak tangan Iris di pipinya. Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Dasar cengeng.. Bagaimana jadinya setelah aku sudah tiada? Kau itu tak bisa apa-apa ya tanpa bantuan orang lain.. Dengar Hizumi, kau tak boleh menyerah.. Aku melakukan ini demi dirimu dan Hanon-chan.. aku.." kata-kata Iris tak selesai karena Hizumi membungkam mulut Iris dengan kecupan yang hangat namun menyesakkan. Air mata Hizumi mengalir perlahan ke pipi Iris yang merona.
"Mou.. yada.. jangan berkata seperti itu lagi." kata Hizumi dengan lirih. Iris tampak sangat malu, ia sudah kehabisan kata-kata untuk memarahi atau menghina Hizumi yang sesungguhnya sangat ia cintai. "Aku... pada akhirnya aku tidak bisa melindungimu... gomen.. gomen..."
"Tidak Hizumi... Bagiku, Kau adalah malaikat bersayap hitam yang selalu melindungiku... ukh" ucap Iris yang merasakan sakit yang amat sangat. Ia sadar, waktunya sudah tiba.
"cukup... Jangan bicara lagi, kau harus.." ucap Hizumi dengan nada yang bergetar. Tangan Iris yang ia genggam sudah dingin.
"Tidak... Hanon-chan.." panggil Iris pada Hanon yang ada di sisi lain, "Terima Kasih... untuk kenangan ini..."
"Iri..s-ch..an aku..."
"Sebaiknya kalian jangan bicara dulu." kata Eyes sambil terus menatap kedua gadis itu dengan cemas.
Hanon dan Iris, keduanya saling memberikan isyarat. Sebuah senyuman manis tergambar di wajah Iris, ia benar-benar tahu, ini saatnya. Saat di mana ia harus meninggalkan dunia yang telah berubah akibat pengorbanan dari sahabatnya, Hanon.
"Hizumi.." panggil Iris dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Panggil... aku.. panggil aku dengan nama panggilan itu.." Tangan kanan Iris meraih wajah Hizumi dan menghapus air mata yang masih mengalir.
"...eh?" Hizumi nampak terkejut, ia terdiam sejenak, "Iris...an ba.." Ia menghentikan perkataannya dan menyadari bahwa mata Iris sudah tertutup. Suara nafasnya yang berat pun tak terdengar lagi. Nadinya sudah tak berdenyut lagi. Tubuh Hizumi melemas bagaikan tak ada yang menopang tubuhnya itu. "Iris... Iris... IRIIIIIIIS!" Hizumi berteriak sekeras-kerasnya. Ia memeluk tubuh gadis berambut merah muda itu dengan erat. Air mata pemuda itu tidak bisa berhenti mengalir.
Hanon hanya bisa memandangi tubuh Iris yang kini tidak memberikan tanda-tanda kehidupan lagi. Kanon juga Eyes bisa terdiam dan semakin mengkhawatirkan keadaan Hanon yang semakin memburuk. Tapi sebaliknya, Hanon tampak sangat tenang seolah semua akan baik-baik saja meski ia tahu, tak lama lagi ia akan pergi menyusul Iris.
"Onii-chan.. Aniki.." Hanon tampaknya hendak mengucapkan salam perpisahan pada kedua 'kakak'nya itu.
".. Jangan berkata seperti itu Hanon.." kata Eyes sambil mengusap lembut pipi Hanon.
"Onii-chan.. gomen ne.. tapi ini sudah saatnya aku mengucapkan salam perpisahan." kata Hanon tersenyum. Tapi kesedihan pun tergambar jelas di wajahnya yang pucat.
Tiba-tiba, Eyes mencium kening Hanon dengan lembut. Kanon, hanya tertegun melihat perbuatan Eyes yang tak menahan diri seperti biasanya. Hanon terbelalak karena perlakuan 'Onii-chan'nya yang berbeda. Eyes lalu tersenyum lembut pada Hanon lalu memainkan jemari Hanon yang lentik dengan lembut. Kanon tak bisa berbuat apa-apa, ia tak enak hati jika memisahkan kedua insan yang saling jatuh cinta itu.
"Hizumi saja boleh.. aku juga boleh kan memberikan kenangan manis di saat terakhir bagimu?" tanya Eyes dengan matanya yang mulai terlihat menyedihkan itu.
"Onii-chan..." ucap Hanon pelan.
Eyes kembali tersenyum, "Bisakah kau memanggilku dengan namaku?" pinta Eyes lembut.
"...Eyes-kun" panggil Hanon dengan lembut. Intonasi yang tak pernah didengar oleh Kanon selama ini. Satu-satunya intonasi khusus yang hanya akan ditujukan untuk Eyes, intonasi yang penuh dengan perasaan cinta yang tulus dan dalam. Kanon merasa ia sudah tak mungkin maju lagi. Ia sudah kalah mutlak.
"Hanon... maafkan Anikimu ini. Aku, aku selalu menahanmu bila ingin bertemu Eyes. Aniki... Aniki tahu Aniki itu egois." ucap Kanon tiba-tiba, "Meski Aniki tahu seberapa kuat cinta kalian berdua.. sampai kapanpun, Aniki hanya akan menjadi Aniki bagimu, Hanon.." Biarpun hatinya terasa sakit, tapi inilah yang harus ia lakukan. Mendukung kisah cinta Eyes dan Hanon. Mungkin dengan itu, Hanon akan bahagia.
"Iie... Aku yang selalu egois... aku... ukh" jawab Hanon dengan sisa tenaga yang ia punya.
Kini pikiran Kanon dan Eyes semakin rumit melihat Hanon yang kembali terbatuk-batuk. Cairan-cairan merah segar yang lazim disebut darah itu begitu banyak keluar dari mulut sang gadis. Suhu tubuh gadis itu pun berubah dingin. Sepertinya ia tidak bisa menahan rasa sakit yang dirasakannya itu. Pandangannya semakin menjauh namun Hanon mencoba tetap terjaga. Masih banyak, masih banyak yang ingin ia sampaikan pada kedua kakaknya itu.
Perlahan mata Hanon tertutup, "Aniki... Eyes-kun... aku tidak bisa bersama kalian lagi... " sebuah senyuman tergambar di bibir mungil sang bidadari penyelamat Blade Children itu, "selamat.. tinggal..."
"Sayonara janai.. Mata Ne.. boku no ai" ucap Eyes dengan nada yang bergetar.
"Aishiteru yo.. imouto.. ja mata.." kata Kanon dengan berlinang air mata, ia berusaha menghapus air mata yang terus menerus mengalir dari kedua matanya itu.
Hanon masih bisa mendengar kedua ucapan Eyes dan Kanon, ia merasa senang dan tidak memiliki beban, dan berkata "ariga..tou" bersamaan dengan itu, matanya tertutup dan ia benar-benar meninggalkan Eyes dan Kanon yang ia sayangi untuk selamanya.
.
"souka... Kami akan segera ke sana.." Ayumu menutup telepon dengan tangannya yang bergetar.
Sementara Blade Children hanya bisa menangis menyesali hal yang baru saja terjadi. Hiyono sang gadis berkepang terduduk lemas dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi mendengar kabar yang sangat menyedihkan itu. Lalu, Kiyotaka hanya memandangi langit yang perlahan berubah menjadi gelap. Kini, Ia menyadari bahwa kekalahannya sudah mutlak.
"Sudah saatnya mengakui kekalahanmu, Aniki. Iris dan Hanon sudah mengalahkanmu telak." kata Ayumu dengan dingin. Kiyotaka hanya bisa mengangguk dan menghela nafasnya.
"Tak ada waktu untuk menangis sekarang. Kita harus memberikan penghormatan terakhir kita kepada Pahlawan kita semua." kata Ayumu dengan tegas lalu berjalan meninggalkan gudang tempat pertempuran tersebut.
Satu per satu Blade Children pun bangkit dan berjalan mengikuti Ayumu dengan tatapan lesu. Yang terakhir mengangkat kakinya dari gudang itu adalah Kiyotaka. Sebelum meninggalkan gudang tersebut, sekali lagi ia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut di gudang itu.
"... perjalanan roda takdir yang mengerikan sudah terputus.. perjuangan kalian selama ini tidaklah sia-sia, Blade Children.. selamat tinggal mimpi burukku." kata Kiyotaka seraya menutup pintu gudang itu.
.
.
Bau khas tanah yang baru saja digemburkan masih tercium. Pemakaman Iris dan Hanon baru saja selesai dilaksanakan. Para pelayat pun sudah mulai meinggalkan pemakaman. Kini, hanya ada 3 pemuda yang masih berdiri mematung menatapi kedua gundukan tanah yang masih baru itu. Masing-masing dari mereka masih menggenggam buket bunga. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir mereka kepada dua malaikat yang kini tertidur dalam peti yang kini terkubur itu secara pribadi.
Hizumi lah yang pertama kali menggerakkan kakinya berjalan mendekati makam Iris sambil berusaha menguatkan hatinya. Ia pun meletakkan buket bunga Iris berwarna merah muda yang senada dengan rambut Iris. Hizumi terus berusaha untuk tidak menangis. Tapi semakin ia berusaha untuk tidak menangis, semakin banyak pula air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. Ia benar-benar hancur tanpa Iris.
".. biarpun kau berkata untuk tidak menangis.. kau tahu aku pasti hancur tanpamu.. dasar bodoh." kata Hizumi tak bisa membendung luapan kesedihannya lagi.
"Sudahlah Hizumi.. semua tak perlu disesalkan lagi.. Jangan menyesali kematian mereka. Kau hanya akan membuat Iris bersedih di alam sana." kata Kanon dan Eyes berusaha menghibur salah satu rekannya itu.
"Kalian tahu apa? Kalian tak akan mengerti bagaimana rasanya menjadi aku!" kata Hizumi menepis tangan Kanon dan Eyes
"Angkat kepalamu Hizumi." kata Kanon dengan dingin
"Untuk apa? Iris-ku ada di bawah sini." kata Hizumi
"Angkat kepalamu!" bentak Kanon. Hizumi yang merasa terganggu dan kesal pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap kedua pemuda yang ada di hadapannya itu.
Hizumi tertegun melihat kedua pemuda tersebut. Ia tidak sendirian. Tidak hanya dirinya yang merasa hancur karena kehilangan. Kedua pemuda di hadapannya - Kanon dan Eyes, mereka memiliki ekspresi dan tatapan kesehidan dan putus asa yang sama dengan dirinya. Bukan hanya dia yang merasa kehilangan. Bukan hanya dia yang hancur. Bukan hanya dia.. Hizumi pun menyesali perbuatannya tadi. Kini perasaannya bercampur aduk, hanya dengan menangislah ia dapat mengekspresikan perasaannya.
"Iris.. Iris..." Hizumi tampak sangat menyedihkan, dia bukanlah Hizumi yang biasanya, "kenapa.. kenapa harus Iris?"
"Ukh.. Hanon.." Kanon pun kini tak dapat menahan dirinya lagi untuk menangis. Eyes pun menepuk pundak Kakak satu ayahnya itu yang mengisyaratkan bahwa dirinya tak perlu menahan diri lagi. Air mata pun meleleh dari manik coklat yang sangat persis dengan milik Hanon.
"..." Eyes tak berkata apa-apa ia hanya bisa berlutut di sisi makam Hanon dan memberikan penghormatan terakhirnya pada orang yang dicintainya dengan meletakkan sebuket mawar biru di dekat nisan milik Hanon. Ia tak terisak seperti Hizumi dan Kanon, tapi air mata pun mengalir di pipinya. Ia menangis dalam keheningan.
A/N :
Yuri : Yaaaah.. pada nangis berjama'ah mereka.
Ayame : Tau tuh.. =3= Pada cengeng..
Kanon : Alah! Yuri juga cuma nonton anime #sensor# aja nangis.
Yuri : Eeekh?
Seminggu telah berlalu dari upacara pemakaman kedua gadis yang telah menjadi pahlawan bagi Blade Children. Tidak, bukan hanya Blade Children tetapi untuk Kiyotaka, Ayumu dan Hizumi pula. Suasana berkabung masih dirasakan oleh Ayumu yang sedang melihat Hizumi di apartemen kediaman keluarga Narumi itu. Sang pemuda bermanik coklat itu menyapu pandangannya ke arah Kiyotaka yang sedang asyik memasak ditemani oleh kakak iparnya, Madoka.
"Ayumu... Hizumi belum makan dari seminggu yang lalu bukan?" tanya Madoka lembut "Bukankah, itu malah menyiksa dirinya sendiri?"
Ayumu menghela nafasnya, "mau bagaimana lagi, baginya Iris itu segalanya... Mungkin Eyes dan Kanon pun sedang seperti ini sekarang."
"Rutherford-kun itu.. Ia baru saja membuat lagu untuk mengenang Hilbert-san, kan? Alunan pianonya begitu indah namun menyedihkan" ucap Madoka.
Kiyotaka yang sedang menguliti kentang pun berhenti, ia meletakkan pisau dan berjalan ke arah Hizumi yang ada sedang duduk di dekat jendela, "Hizumi, Iris pun tak akan suka jika kau terus-menerus seperti ini." ujar Kiyotaka seraya mengacak-acak rambut pemuda yang sedang tenggelam dalam kesedihannya.
"..." Hizumi tetap diam, kemudian ia menggenggam tangan Kiyotaka yang sedari tadi tak kunjung berhenti mengacak-acak rambut mintnya itu. Kiyotaka terkejut melihat ekspresi wajah Hizumi yang berubah, "Daijoubu yo!" ucap Hizumi dengan sebuah senyuman yang seperti dipaksakan, "Aku bukan anak kecil lagi dan..." Ia menghela nafasnya lalu melanjutkan perkataannya yang menggantung itu, "Aku harus pergi sekarang.."
"Kembalilah kapan saja, kami selalu menerimamu di sini." kata Madoka dengan senyumannya itu.
"Hizumi..." Ayumu memandangi pemuda berambut jabrik yang sudah berada di ujung pintu, "Hati-hati di jalan."
Hizumi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ayumu dengan sebuah senyuman yang tak pernah Ayumu lihat seminggu ini. Kiyotaka pun segera kembali ke posisi awalnya, yaitu mengupas kulit kentang.
"Ingat Hizumi.. Kalau kau jatuh cobalah bangkit tanpa bantuan orang lain. Iris ingin kau tak bergantung dengan orang lain kan?" kata Kiyotaka pada Hizumi yang telah membuka pintu keluar.
Hizumi berhenti sejenak dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman keluarga Narumi itu. Ia berjalan dengan wajah yang terlihat murung. Hanya satu tempat tujuannya saat ini. Setelah sampai di depan gedung apartemen yang megah itu, ia memanggil taksi, dan pergi makam orang yang ia cintai.
.
.
Hizumi melihat dua sosok pemuda yang sedang berdiri di depan dua makam. Mereka nampak terdiam dan sama seperti Hizumi, mereka masih jatuh dalam keterpurukan akibat ditinggal oleh orang yang sangat mereka cintai. Hizumi kembali melangkah mendekati para pemuda itu. Nampaknya, dua pemuda itu menyadari keberadaan Hizumi dan memperhatikan pemuda berambut jabrik itu sampai Hizumi berhenti di depan mereka berdua.
"Yo!" sapa Hizumi dengan senyumannya. "Ternyata kalian datang juga ke tempat ini, Eyes, Kanon!"
"Nampaknya kau sudah cukup tenang Hizumi." kata Kanon membalas senyuman Hizumi
"Bukankah Iris dan Hanon mengatakan bahwa kita tak boleh terlalu lama terpuruk?" kata Hizumi seraya meletakkan bunga Iris di makam kekasihnya yang telah tiada itu.
"... meski kau sedikit bodoh, tapi kau adalah orang yang kuat." kata Eyes sambil tersenyum tipis. Raut kesedihan masih membekas jelas di wajahnya
"Kau itu.. kau berniat untuk memuji atau menghina sih?" kata Hizumi sedikit kesal dengan perkataan Eyes, "Oh iya.. Kudengar kau membuat album baru ya? Dan Madoka-nee-san dan Kiyotaka-san sering mendengarkan lagu pertama di album itu tapi aku tak tahu judulnya. Apa judul lagu itu?"
"... Hanon." jawab Eyes singkat lagi-lagi kesedihan terpancar dari manik birunya.
"Judul lagu itu adalah Hanon." kata Kanon tersenyum lembut seraya menatap makam Hanon.
".. Begitu.." kata Hizumi, ia tak ingin kedua rekannya itu terus terlarut dalam kesedihan meski ia tahu, kedua rekannya itu selama ini terus menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaan mereka pada Hanon, tidak seperti dirinya yang bisa terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Iris meski sering dianggap main-main.
"Seperti katamu tadi.. kita tak perlu terlarut dalam kesedihan. Aku yakin Iris dan Hanon-chan akan kecewa jika kita terus menjenguk mereka dengan muka muram seperti ini. Mereka telah memberikan kesempatan bagi kita untuk meneruskan hidup kita. Melihat dunia yang lebih luas lagi. Menemukan mimpi kita yang sesungguhnya. Kita harus membayar jasa mereka dengan memenuhi keinginan terakhir mereka. Kita semua harus hidup." kata Eyes panjang lebar. Tak ada yang menimpali perkataan Eyes. Hizumi dan Kanon hanya diam tertegun sambil menatap Eyes.
"Kenapa?" tanya Eyes. Ia merasa ia tak mengatakan hal yang salah.
"Puah.. entah kenapa melihatmu bicara panjang lebar begitu rasanya kurang cocok, Eyes.." kata Hizumi berusaha menahan tawanya.
"Apalagi dengan kata-kata bijak seperti itu. ahahaha.. kau seperti orang tua, Eyes." kata Kanon tak bisa menahan tawanya lagi. Tampaknya Hizumi pun sudah sampai limit-nya ia pun ikut tertawa bersama Kanon. Eyes hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum jengkel melihat kelakuan Kanon dan Hizumi yang menertawakan dirinya.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang untuk makan siang - bagaimana lagi, sudah seminggu mereka tidak makan. Meski makanan itu akan terasa sedikit hambar, tapi mereka harus bertahan hidup. Mereka harus memenuhi keinginan terakhir dari Iris dan Hanon. Angin berhembus menerpa wajah ketiga pemuda itu, meski pelan, tapi mereka bertiga tersentak mendengar suara khas Iris dan Hanon yang memanggil nama mereka.
Ketika berbalik, sekilas terlihat sosok Iris dan Hanon yang sedang tersenyum lembut pada ketiga pemuda itu. Mereka pun bertatapan dengan heran. Lalu Eyes memberikan senyuman yang penuh arti kepada kedua pemuda lainnya. Kanon dan Hizumi yang mengerti arti senyuman Eyes pun membalas senyuman Eyes.
"Kami pulang dulu.. Iris.. Hanon.. mata ashita. Suatu saat.. kita pasti akan bertemu lagi." kata ketiga pemuda itu lalu melanjutkan kembali langkah mereka.
Perjalanan mereka masih panjang. Harapan dan kesempatan untuk hidup yang diberikan oleh Iris dan Hanon bagi Blade Children dan semua orang tak boleh mereka buang sia-sia. Meski sakit.. meski perih. Mereka harus tetap melangkah ke depan menjalani hidup ini, karena hidup akan berjalan seiring dengan waktu. Kini saatnya bagi mereka, Blade Children, The Next God dan The Next Devil meneruskan perjuangan kedua gadis itu yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka semua adalah harapan baru bagi umat manusia di bumi ini.
Tidak, bukan hanya mereka. Namun semua manusia adalah harapan bagi sesama. Kehidupan ini hanyalah sandiwara belaka. Baik buruknya dunia ini tergantung kita sebagai manusia yang memegang peranan yang sangat penting di dunia ini. Karena manusia adalah pemeran utama dalam kehidupan ini. Layaknya sebuah sandiwara, manusia tak bisa melakukan segalanya sendiri. Manusia adalah makhluk egois yang rapuh dan tak bisa mementaskan sandiwara di panggung kehidupan ini sendirian. Manusia adalah makhluk lemah yang sering kehilangan arah dan tujuan hidupnya.
Manusia memiliki dua pilihan untuk kehidupan yang akan mereka jalani. Tetap menjadi manusia yang lemah dan egois. Manusia yang selalu berharap menunggu adanya pertolongan tanpa mau berbuat apa-apa. Atau menjadi manusia yang kuat, manusia yang dapat berguna bagi orang lain meski harus mengorbankan dirinya. Manusia yang dapat menjadi harapan bagi orang lain. Manusia yang selalu mengulurkan tangannya jika melihat sesamanya yang sedang kesulitan.
Nah.. perjalananmu baru saja dimulai. Jalan manakah yang akan kau ambil?
.The End.
Ayame : a-Akhirnya... cerita ini selesai juga *nangis terharu*
Yuri : i-iya... tanpa kita sadari chapter 10 ini galau banget...
Kanon : TUNGGUUU! APA-APAAN ITU? KENAPA HANON MENINGGAL HAH?
Hizumi : Iya! Kenapa Iris yang harus meninggal? Hidupin lagi dia! DX
Ayame : Eeeh? Kok gitu? Emang begini ceritanya kok!
Yuri : Iya! Suka-suka kita dong! Mereka OC kita ini!
Eyes : ... hidupin.. atau kalian yang aku matiin(?)
Yuri : Aww~ mau dong dimatiin Eyes~ #plak
Ayame : Yuri-chan.. =="
Kanon : Kenapa harus mereka yang mati? Kan di cerita asli aku yang mati! Kenapa nggak aku aja yang mati!
Hizumi : Iya! Kenapa nggak Kanon aja yang mati? DX
Iris : Baka! Kamu juga di cerita asli kan mati!
Hanon : Yah.. setidaknya aku dan Iris-chan meninggal dengan damai.. ^^
Yuri : Enak ya yang pada diciumin.. buuu.. buu.. =3= .. yah, anggep aja mereka itu sacrifice karena Kanon sama Hizu nggak mati di cerita ini. Ya kan Aya-chan~
Ayame : Setuju Yuri-chan! XD
Kanon : *nelepon Rio buat nyediain AK-40* BUNUH MEREKA!
Yuri : Berani? *nelepon manager buat ngedatengin AKB-48*
Ayame : Yuri-chan.. Kayaknya kamu salah strategi deh ==" Daripada kita dibunuh, mending kita kabur lagi aja yuk.. =="
Rio : Itu mereka! Ayo kita bom mereka! *nunjuk Ayame dan Yuri*
Ayame : Oke~ Kayaknya cerita Bloody Iris sampai di sini dulu Minna-san.. ^^
Yuri : Makasih buat dukungannya selama ini~ Sampai jumpa di Season 2~ XD #plak Kita mau kabur sebeluum jadi daging cincang~ Mata ne~ XD *kabur*
Hizumi : Eeeeh? ada Sesaon 2nya? Lo kira sinetron? Tunggu woooy! Jawab pertanyaanku dulu! *ngejar Ayame dan Yuri bareng Blade Children yang lainnya*
Iris : Dasar.. mereka bahkan lupa minta review saking bahagianya cerita ini udah kelar.
Hanon : Ahahaha.. Maafkan kedua Authors ngaco itu. ^^" Mohon reviwenya minna-san ^^
Iris : Dan makasih udah baca cerita dua Authors abal itu ^^
