.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA MINSEOK DAN LUHAN
Kau mendapat sebuah paket kiriman. Aku yang menandatanganinya dan paketnya sekarang ada di tempatku.
Terima kasih. Aku akan mengambilnya saat aku kembali. Bagaimana kabarmu?
Baik, hanya bekerja. Bagaimana Irlandia?
Baik . Bagaimana kabar kucing gila itu?
Baik. Aku menangkapnya saat mencoba untuk memanjat dinding. Dia masih mencari Purina. Merindukannya.
Ku rasa percintaan mereka tidak akan berhasil.
Mungkin tidak...Meskipun dia tak akan melupakannya dalam waktu dekat. Mungkin harus ditambah ransum catnip-nya.
Jangan terlalu berlebihan. Tak ada yang suka kucing yang tidak bisa diajak ngobrol.
Aku sebenarnya agak takut padamu.
LOL. Jangan takut. Tunggu sampai aku menawarimu permen.
Jika aku melihatmu memakai jas hujan aku akan lari dari mu! Btw kapan kau pulang?
kangen padaku?
Tidak, aku ingin menggantung kembali beberapa lukisan di dinding di atas kepala ranjangku dan aku ingin tahu berapa banyak waktu yang kupunya.
Pulang dalam 2 minggu. Jika kau bisa menunggu selama itu, Aku akan membantumu. Itu setidaknya yang bisa kulakukan.
Setidaknya, dan aku akan menunggu. Kau sediakan palunya, Aku akan menyediakan minuman koktail-nya.
Penasaran pada paluku, ya?
aku menendang pintu mu.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA BAEKHYUN DAN MINSEOK
Girls, coba tebak? Rumah kakek Sehun bisa dipakai bulan depan. Kita dalam perjalanan ke Tahoe, baby!
Bagus! Itu pasti akan menyenangkan. Aku sudah sangat ingin pergi bersama kalian.
Kami sedang berpikir untuk mengundang para pria...apa kau setuju?
Tidak apa-apa. Kalian berempat akan menikmatinya.
Idiot, sudah jelas kau masih diundang.
Aw trims! Aku akan senang menemani dua pasang kekasih di akhir pekan yang romantis. FANTASTIS!
Jangan jadi orang brengsek. Kau benar-benar masih diajak. kau tidak akan jadi obat nyamuk. Ini akan sangat menyenangkan! Apa kau tahu Kris bisa main gitar? Dia akan membawanya dan kita bisa bernyanyi bersama!
Apa ini...kemping? Tidak trims!
.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA BAEKHYUN DAN TAO
Hei, Pria Besar, apa yang kau lakukan pertengahan bulan depan?
Hei, Pendek. Belum ada rencana. Ada apa?
Kakek Sehun mengijinkan kita memakai rumah peristirahatannya di Tahoe. Kau ikut? Tanyai Kris juga...
Hell Yes! Aku datang. Aku akan tanya pada si Culun apa dia mau ikut.
Aku akan coba ajak bicara Minseok agar dia mau ikut juga.
Bagus! Makin banyak makin meriah. Kita jadi pergi minum-minum dengan Sehun dan Kris malam ini?
Ya, sampai nanti.
Ok , Kiddo.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA LUHAN DAN TAO
Berhentilah bertanya tentang Jimat Keberuntungan.
Si Pria Kecil itu selalu membuatku tertawa setiap saat! Hei, kapan kau pulang? Kami akan pergi ke Tahoe untuk acara akhir pekan bulan depan.
Aku akan pulang minggu depan. Siapa yang akan ikut?
Sehun dan Baekhyun, aku dan Kris. Mungkin Minseok. Gadis itu lumayan juga.
Yah, dia cukup lumayan ketika dia tidak jadi cockblocker (penghalang). Tahoe, huh?
Ya, kakek Sehun punya rumah di sana.
Keren.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA LUHAN DAN MINSEOK
Kau akan ke Tahoe?
Bagaimana kau bisa tahu?
Kabar tersebar...Tao cukup bersemangat.
Oh, aku yakin dia begitu. Sehun akan ada di bak mandi air panas – tidak terlalu sulit untuk mengetahuinya mengapa ia begitu bersemangat.
Tunggu, kupikir dia pacaran dengan Baekhyun.
Oh, memang, tapi dia jelas membayangkan Sehun ada di dalam bak air panas, percayalah.
Apa-apaan ini?
Hal-hal aneh sedang terjadi di San Francisco. Mereka pacaran dengan orang yang salah.
Apa?
memang mengejutkan. Baekhyun tidak bisa berhenti membicarakan Kris, yang biasanya menatap kearahnya seperti anak anjing yang minta dikasihani. Dan Sehun begitu sibuk melamunkan tangan Tao si Manusia Menyebalkan hingga Sehun tak sadar bahwa Tao menatap tepat ke arahnya. cukup lucu dan menggelikan melihat mereka seperti itu.
Kenapa mereka tidak tukar pasangan?
Itu kata orang yang punya selir...tidak semudah itu
Tunggu sampai aku pulang, aku akan mengurusnya.
Oke, Mr. Fix-It. Sebelum atau sesudah kau menggantung lukisanku?
Jangan khawatir, Gadis Bergaun Tidur Pink. Aku akan segera masuk ke kamar tidurmu.
Mendesah.
Apakah kau barusan benar-benar mengetikkan kata mendesah?
Mendesah...
Apa kau akan ikut ke Tahoe?
Tidak jika aku bisa mencegahnya. Meskipun itu cukup sepadan untuk menonton kekacauan ketika mereka akhirnya menyadari masalah mereka.
Memang.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA MINSEOK DAN SEHUN
Apa-apaan ini, kudengar kau tidak ikut ke Tahoe?
Ugh! Apa masalahnya?
Tenang, Trigger. Apa yang sedang mengganggumu?
Aku tidak mengerti kenapa hal ini menjadi penting ketika aku memutuskan untuk tidak ikut. Yang benar saja aku harus menemani kalian semua di akhir pekan romantis. Aku sangat senang untuk pergi pada kesempatan berikutnya. Pergi dengan kalian di sini adalah satu hal yang berbeda. Ikut bersama kalian ke Tahoe? Kurasa tidak.
Tidak akan seburuk itu. Aku janji.
Aku sudah dengar Luhan saat menggedor dinding ketika dia pulang. Aku tak perlu mendengar Kris menyetubuhimu di kamar sebelah, atau Baekhyun dianiaya.
Apakah kau pikir dia menganiaya Baekhyun?
Apa?
Tao . Apa kau pikir dia menganiaya Baekhyun?
Dia melakukan apa?
Oh, kau tahu apa yang kumaksud...
Apa kau benar-benar bertanya padaku jika teman baik kita Baekhyun berhubungan seks dengan mainan pria barunya?
Ya! Aku bertanya!
Kenyataannya, tidak. Mereka belum main kasar. Tunggu, kenapa kau bertanya? kau sudah tidur dengan Kris kan? Ya kan?
Aku harus pergi.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA SEHUN DAN KRIS
Apakah aneh kalau kita hanya pernah pergi keluar saat kencan ganda dengan Baekhyun dan Tao?
Apa?
Apakah aneh?
Aku tak tahu. Apa begitu?
Ya. Malam ini kau harus datang, sendirian, dan kita menonton film.
Ya, Mam.
Btw, katakan pada Luhan untuk datang ke Tahoe.
Ada alasan tertentu mengapa aku harus melakukannya?
Ya.
Mau memberitahuku?
Tidak. Bawa popcorn.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA KRIS DAN LUHAN
Apa kau sudah rindu rumah?
Aku siap untuk pulang, ya. Penerbanganku paling lambat besok malam. Atau malam ini. Sial, aku tak tahu.
Sehun memintaku secara resmi menanyakan padamu apa kau ingin datang ke Tahoe. Kau ikut?
Tahoe, huh?
Ya. Kupikir Minseok juga ikut.
Kupikir dia tidak akan ikut.
Kau sudah bicara dengan si cockblocker itu?
Sedikit. Dia lumayan juga. Gencatan senjata tampaknya berlanjut.
Hmmm. Jadi, Tahoe?
Biar kupikirkan. Selancar angin akhir pekan ini?
Yep.
.
.
.
PESAN TEKS SINGKAT ANTARA LUHAN DAN MINSEOK
Aku diundang ke Tahoe. Kau akan ikut?
Kau diundang? Ugh...
Tebakanku kau masih belum menerima gagasan itu?
Aku tak tahu. Aku senang pergi ke sana dan rumahnya cukup fantastis. Kau akan ikut?
Kau akan ikut?
Aku yang tanya duluan.
Jadi apa?
Kekanakan. Kukira aku akhirnya akan ikut.
Bagus! Aku suka suasana di sana.
Oh, kau jadi ikut sekarang?
Mungkin. Kedengarannya menyenangkan.
Hmm, kita lihat saja nanti. Pulang besok, ya?
Ya, penerbangan malam lalu tidur selama setidaknya satu hari.
Kabari aku kapan kau bangun. Aku punya paket untukmu.
Akan kulakukan.
Dan aku memanggang roti zukini malam ini. Aku akan menyisihkan untukmu. Kau mungkin tak punya bahan makanan sama sekali, kan?
Kau membuat roti zukini?
Yup
Mendesah...
.
.
.
.
Aku tiba-tiba terbangun dan mendengar musik yang datang dari rumah sebelah. Duke Ellington. Aku melihat jam ku dan mendapati sekarang sudah lewat jam dua pagi. Monggu menjulurkan kepalanya keluar dari bawah selimut dan mendesis ke arahku.
"Oh, tutup mulut. Jangan cemburu," Aku balas mendesis.
Dia memelototiku, menunjukkan padaku pantatnya saat ia berbalik dan menggeliat masuk di bawah selimut, ia memasukkan kepalanya lebih dulu menyusul badannya yang lain. Aku juga meringkuk lebih dalam ke dalam selimutku dengan senyum dibibirku sembari mendengarkan musiknya.
Luhan sudah pulang.
.
.
.
.
Keesokan paginya aku bangun dengan perasaan senang karena sekarang hari Sabtu yang mana artinya itu adalah hari libur untukku. Aku telah mengerjakan segalanya: tak ada pakaian yang harus dicuci, tak ada tugas untuk dilakukan. Hanya satu hari untuk dinikmati dan bersantai. Fantastis.
Aku memutuskan untuk memulai dengan mandi berendam yang lama dan menyenangkan, setelah itu aku akan memutuskan apa yang harus kulakukan hari ini. Aku berpikir untuk jogging di Golden Gate Park sore nanti. Musim gugur di San Francisco begitu cantik ketika cuaca bagus. Atau aku mungkin hanya membawa buku dan menghabiskan seluruh sore disana sembari membaca buku.
Aku menyiapkan bak mandi dan Monggu datang untuk menemaniku. Dia menyelinap keluar masuk di kakiku saat aku menjatuhkan piyamaku di lantai dan mengeong saat ia menjelajahi bagian atas bak mandi. Dia sangat suka duduk di tepi bak sementara aku mandi. Dia tidak pernah jatuh, meskipun kadang-kadang ia akan mencelupkan ekornya. Kucing konyol —suatu hari dia akan mencelupkan lebih dari ekornya.
Aku mengetes suhu airnya dan bersiap untuk berendam dalam bak mandi raksasa ketika memutuskan aku butuh sedikit kopi sebelum aku berendam. Aku melangkah keluar menuju dapur—telanjang dengan bebasnya—untuk membuatkan diriku sendiri secangkir kopi. Aku menguap saat menakar biji kopi ke dalam mesin penggiling. Aku memasukkan beberapa sendok ke dalam penyaring dan pergi untuk mengambil air. Segera setelah aku menyalakan kerannya suara lengkingan terdengar.
Pertama, aku mendengar Monggu mengeong tidak seperti sebelumnya, ada nada kesal dan marah dalam meongannya. Lalu aku mendengar percikan. Aku mulai tersenyum, berpikir akhirnya dia jatuh ke dalam bak mandi ketika akhirnya air dari wastafel menyemprot langsung tepat ke wajahku.
Aku mengerjapkan mata habis-habisan, bingung sampai aku menyadari air menyembur keluar dari bagian atas keran, menyemprot ke seluruh dapur.
"Sial!" Aku menjerit, berusaha untuk mematikannya. Dan sialnya aku tidak beruntung.
Aku berlari ke kamar mandi masih mengumpat dan menemukan Monggu bersembunyi belakang toilet, basah kuyup dan keran bak mandi menyemburkan air dengan liar keseluruh kamar mandi.
"Apa—?" Seruku, mencoba lagi untuk mematikan air. Lalu aku mulai panik. Rasanya seperti seluruh apartemen mengalami kekacauan secara bersamaan. Ada air yang menyemprot kesegala arah dan Monggu masih melengking sekuat tenaga.
Aku telanjang, basah kuyup, dan panik.
"Motherf*ckingcocksuckershitdamndamn!" Aku menjerit dan menyambar handuk. Aku mencoba untuk berpikir dan berusaha menenangkan diri. Pasti ada katup untuk mematikan airnya di suatu tempat dimanapun itu. Aku sudah sering mendesain ulang kamar mandi, Demi Tuhan.
Berpikir, Minseok! Berfikirlah!
Kemudian aku mendengar suara gedoran datang dari suatu tempat di apartemenku. Tentu saja yang pertama terpikir olehku adalah kamar tidur—secara alami. Tapi tidak, sekarang yang digedor adalah pintu depan. Membungkus handuk kesekeliling tubuhku dan masih memaki begitu kasar sehingga cukup mampu membuat seorang pelaut tersipu ketika mendengaranya, aku berjalan melintasi lantai, untungnya tidak tergelincir oleh genangan air dan dengan marah membukakan pintu.
Tentu saja itu Luhan.
"Apa kau sudah gila? Kenapa teriak-teriak?" Aku sebenarnya tidak memperhatikan celana boxer hijau kotak-kotak, rambut sehabis tidur, atau tonjolan otot perutnya.
Sebenarnya…
Oh, Lupakan itu. Seketika mode bertahan hidup ku menyala ketika aku tersadar apa yang sedang terjadi pada apartemenku. Dengan serta merta aku mencengkeram sikunya saat ia mengusap matanya dan menyeretnya secara paksa masuk ke dalam apartemen. "Di mana sebenarnya letak katup untuk mematikan kran di apartemen ini?" Jeritku.
Dia melihat kekacauan yang terjadi: air menyemprot dari arah dapur, air di lantai yang berasal dari kamar mandiku, dan aku yang memakai handuk bergambar Snoopy Camp, yang mana handuk pertama yang bias kusambar.
Bahkan dalam kondisi krisis Luhan masih sempat menatap selama 2,5 detik pada tubuhku yang nyaris telanjang. Oke, aku mungkin sudah menatap tubuhnya 3,2 detik.
Kemudian kami berdua segera beraksi. Dia berlari ke kamar mandi seperti pria yang punya misi penting dan aku bisa mendengar dia mengetuk sesuatu. Monggu mendesis dan berlari keluar, langsung menuju ke dapur. Menyadari bahwa disana sama basahnya, ia melompat melintasi ruangan dalam gerakan akrobatik dan mendarat di atas lemari es. Aku mulai berlari ke kamar mandi untuk membantu dan bertabrakan dengan Luhan saat ia berlari ke arah dapur.
Tidak terpengaruh akan tabrakan itu, ia meluncur di bawah lantai dan membuka pintu di bawah wastafel. Dia mulai melemparkan perlengkapan pembersih milikku ke seluruh lantai dan aku menduga dia sedang berusaha untuk meraih katup menutupnya. Aku mencoba untuk tidak memperhatikan bagaimana bagian belakang celana boxernya menempel ketat dipantatnya. Aku berusaha sangat keras untuk itu. Dia sekarang juga basah oleh air dan kemudian kaki yang menyangga tubuhnya terpelesat sehingga membuatnya terjatuh ke lantai.
"Aduh," katanya dari bawah wastafel, kakinya sekarang terentang di lantai dapurku yang basah. Lalu ia berguling. Dia basah kuyup dan sedikit terpampang.
"Kemarilah dan bantu aku. Aku tak bisa mematikan yang satu ini," pintanya diantara suara semburan air dan kucing mengeong.
Mengingat bahwa aku hanya memakai handuk, aku dengan hati-hati berlutut di sampingnya dan mencoba untuk tidak menatap tubuhnya yang basah, tinggi, ramping yang sangat dekat dengan tubuhku. Satu semburan air yang langsung mengenai bola mataku sudah cukup untuk menyadarkanku dari lamunan dan aku memfokuskan diriku pada kekacauan yang terjadi.
"Apa yang bisa ku lakukan?" Teriakku.
"Apa kau punya kunci inggris?"
"Ya!"
"Bisakah kau mengambilnya?"
"Tentu!"
"Kenapa kau berteriak?"
"Aku tak tahu!" Aku duduk di sana, mencoba untuk melihat kebagian bawah wastafel.
"Well, ambillah, Demi Tuhan!"
"Baiklah. Baiklah!" Aku berteriak dan berlari menuju ke lemari di lorong.
Ketika aku kembali, aku sedikit terpeleset di ubin basah dan meluncur ke sampingnya.
"Ini!" Teriakku dan menyodorkan kunci inggris ke bawah wastafel.
Aku melihat dia bekerja, wajahnya tak terlihat. Lengannya mengencang dan aku bisa melihat betapa kuatnya dia. Aku menyaksikan dengan takjub ketika perutnya mengeras dan menampilkan enam tonjolan perut. Ups, jadi delapan. Dan kemudian V muncul. Halo, V...
Ia mendengus dan mengerang secara bersaman dan ototnya mengencang saat ia mematikan katup, seluruh tubuhnya terlibat dalam usahanya. Aku menyaksikan bagaimana ia berjuang dalam Pertempuran Melawan Katup dan akhirnya menang. Aku juga mengamati dengan cermat pada boxer kotak-kotak hijaunya yang ketika basah menempel ketat seperti kulit kedua. Kulit yang basah, dan mungkin juga hangat, dan —
"Selesai!"
"Hore!" Aku bertepuk tangan saat air akhirnya berhenti. Dia mengeluarkan satu erangan terakhir yang anehnya terdengar akrab dan santai. Aku menyaksikan bagaimana ia meluncur keluar dari bawah wastafel.
Dia berbaring di sampingku di lantai, basah dan hanya memakai celana boxer. Aku duduk di sampingnya, basah dan hanya memakai handuk. Monggu duduk di atas lemari es, basah dan marah.
Monggu terus berteriak dan mengeong, dan kami terus saling menatap, terengah-engah— Luhan karena perjuangannya dan aku...karena perjuangan Luhan. Monggu akhirnya melompat turun dari kulkas ke meja dan tergelincir di dalam genangan air. Dia menabrak radioku, memantul, dan jatuh ke lantai. Suara keras Marvin Gaye memenuhi dapurku yang basah saat Monggu mengibaskan tubuhnya dan berlari ke ruang tamu.
"Let's get it on (Mari bercinta)..." Marvin menyanyikannya seperti dia bersungguh-sungguh menyindir kami, sedangkan Luhan dan aku saling tatap satu sama lain, wajah kami seketika berubah warna menjadi merah membara.
"Apa kau bercanda?" Kataku.
"Apa ini nyata?" katanya, dan kami berdua mulai tertawa—pada kekacauan, pada kekonyolan, semata-mata merujuk pada kegilaan yang baru saja terjadi dan fakta bahwa kami sekarang berbaring setengah telanjang di dapurku, tertutup air, mendengarkan lagu yang mendorong kami untuk kembali pada kenyataan "bercinta," dalam arti lain dan tertawa terbahak-bahak.
Aku akhirnya duduk tegak sambil menyeka air mata yang mucul karena tawaku. Dia duduk di sebelahku masih memegangi perutnya.
"Ini seperti satu episode yang buruk dari sitkom Three Company." Dia terkekeh.
"Memang iya. Aku berharap seseorang memanggil Mr. Furley." Aku terkikik, menarik handuk lebih ketat ketubuhku.
"Bagaimana kalau kita membersihkannya?" tanya Luhan, berdiri. Aku menyadari bahwa celana boxer-nya dan apa pun yang mungkin berada di dalamnya, sekarang berada di depan mata ku. Tenanglah, Minseok.
"Ya, kukira kita harus membersihkannya." Aku tertawa lagi saat ia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku tidak bisa mendapatkan tumpuan sedikitpun, jadi aku berpegangan pada tangannya dan sialnya kakiku tergelincir di atas lantai.
"Ini tak akan pernah bisa berhasil," gumamnya dan menyambar tubuhku. Dia menggendongku ke ruang tamu kemudian menurunkanku. "Hati-hati di sana. Snoopy-nya melorot sedikit," katanya, menunjuk ke bagian yang menutupi kedua payudaraku.
"kau suka itu, kan?" godaku sembari menarik handukku lebih ketat.
"Aku akan ganti pakaian dan aku akan membawakanmu beberapa handuk kering. Cobalah untuk tetap keluar dari masalah." Dia mengedipkan mata dan kembali ke apartemennya. Aku tertawa lagi dan pergi ke kamar tidur di mana Monggu sekarang hanya terlihat seperti gundukan di bawah selimut.
Aku melihat cermin diatas meja riasku saat aku mencari sesuatu untuk dipakai. Aku benar-benar terlihat bercahaya dan nampak segar. Huh. Pasti efek karena terkena semprotan air dingin yang membasahiku tadi.
.
.
.
.
Satu jam kemudian segalanya sudah terkendali. Kami membersihkan air, memperingatkan orang-orang di lantai bawah jika seandainya ada kebocoran di bawah, dan menelepon petugas pemeliharaan. Kami mulai merambah menuju pintu depanku, mengepel sisa air terakhir dengan handuk yang dengan murah hati disediakan oleh Luhan.
"Benar-benar kacau!" Seruku ketika bangkit dari lantai dan menjatuhkan diriku ke sofa.
"Bisa saja lebih parah. Kau bisa-bisa saja berurusan dengan ini setelah tidur hanya tiga jam dan terbangun karena seorang wanita yang berteriak sekeras-kerasnya," katanya, menghampiriku untuk duduk di lengan sofa. Aku melengkungkan satu alis padanya dan dia menarik kata-katanya. "Oke, contoh yang buruk karena skenarionya merupakan sesuatu yang kau kenal dan alami. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku tak tahu. Aku harus tetap tinggal di sini dan menunggu orang yang akan memperbaiki kekacauan ini. Sekarang, aku tak punya air yang berarti tidak ada kopi, belum mandi, dan tidak ada apapun. Menyebalkan," gumamku sambil bersidekap.
"Well, aku akan di seberang lorong, minum kopi dan memikirkan tentang showerku, jika kau butuh sesuatu," katanya, melangkah menuju ke arah pintu.
"Brengsek, kau harus membuatkan aku kopi."
"Apa kau juga menerima ajakanku untuk ke kamar mandi?"
"kau tidak akan berada di sana denganku, tahu."
"Kurasa kau bisa mendapat salah satunya. Ayolah, cockblocker kecil," katanya gusar, menarikku bangun dari sofa dan menuntunkudi seberang lorong. Monggu mengeluarkan satu teriakan marahterakhirnya padaku dari kamar tidur dan aku mendesis kearahnya.
"Ups, tunggu. Biar aku ambilkan sarapan." Aku menyambar bungkusan foil dari meja.
"Apa itu?" tanyanya.
"Roti zukini-mu." Aku bersumpah ia hampir menggigit bibir bawahnya. Ia pasti benar-benar suka roti zukini.
.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian aku duduk di meja dapur Luhan dengan kaki ditekuk, minum kopi giling Prancis dan sambil menggeringkan rambutku dengan handuk. Luhan tampak benar-benar santai dan senang, dia melahap seluruh potongan roti zukini. Aku baru makan setengah potong ketika ia menyambarnya dariku, seluruh potongan menghilang di mulutnya.
Dia mendorong kursinya mundur menjauh dari meja dan mengerang, menepuk-nepuk perutnya yang penuh.
"Kau ingin rotinya lagi? Aku memanggang banyak, dasar rakus." Aku mengerutkan hidungku padanya.
"Aku akan mengambil apa pun yang ingin kau berikan padaku, Gadis Bergaun Tidur Pink. Kau tak tahu betapa aku sangat suka roti buatan sendiri. Tak ada yang membuatkanku roti seperti ini selama bertahun-tahun." Dia mengedipkan matanya dan mengeluarkan sendawa kecil.
"Itu baru seksi." Aku mengerutkan kening dan membawa cangkir kopiku ke ruang tamu, melongok keluar lorong untuk melihat apakah petugas pemeliharaan sudah datang atau belum.
Luhan mengikutiku dan duduk di sofa besarnya yang nyaman. Aku berjalan berkeliling, melihat semua foto-fotonya. Dia memiliki serangkaian foto hitam putih di salah satu dinding, beberapa foto dari seorang wanita yang sama di sebuah pantai. Tangan, kaki, perut, bahu, punggung, kaki, jari kaki, dan akhirnya sebuah foto dari wajahnya. Dia sangat cantik.
"Ini sangat cantik. Salah seorang selirmu?" Tanyaku, menegok kearahnya.
Dia menghela napas dan mengusap rambutnya. "Tidak setiap wanita naik ke tempat tidurku, tahu."
"Maaf, aku bercanda. Dimana foto ini diambil?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Di salah satu pantai yang ada di Bora-Bora. Aku sedang mengerjakan sebuah seri fotografi perjalanan, pantai paling indah di Pasifik Selatan, bergaya sangat retro. Suatu hari dia ada di pantai, ia gadis lokal dan cahayanya sempurna jadi aku bertanya bisakah aku mengambil beberapa foto dirinya. Hasilnya bagus sekali."
"Dia sangat cantik," kataku sembari menyeruput kopiku.
"Ya," dia setuju dengan senyum manis yang terparti dibibirnya. Kami menyesap kopi dalam diam dan nampak nyaman-nyaman dalam kesunyian yang terjadi di antara kami.
"Jadi apa rencanamu hari ini?" tanyanya.
"Maksudmu sebelum pipa airnya bocor dan membuat kekacauan?"
"Ya, sebelum serangan itu." Dia tersenyum dari tepi bibir cangkirnya, mata hitamnya bersinar.
"Sebenarnya aku tak punya banyak rencana. Aku berencana akan pergi jogging, mungkin duduk di luar dan membaca buku sore ini." Aku mendesah, merasa hangat, nyaman dan tenang. "Bagaimana denganmu?"
"Aku berencana untuk tidur sepanjang hari sebelum mengurusi segunung cucian."
"Kau bisa pergi tidur, kau tahu. Aku bisa menunggu di apartemenku sendiri." Aku mulai bangkit. Pria malang, ia pulang tengah malam dan aku membuatnya tidak tidur.
Tapi dia melambaikan tangannya dan menunjuk ke arah sofa. "Tapi aku lebih tahu. Jika tidur aku akan terkena jet lag sepanjang minggu. Aku harus kembali pada waktu Pasifik-ku secepat mungkin, jadi mungkin itu sesuatu yang baik saat pipamu bocor."
"Hmm, kurasa iya. Jadi bagaimana Irlandia? Menyenangkan?" Tanyaku, sambil duduk kembali.
"Aku selalu menikmati ketika aku bepergian."
"Ya Tuhan, pekerjaan yang menakjubkan. Aku ingin melakukan perjalanan seperti itu, hanya membawa koper, melihat dunia, luar biasa..." Aku terdiam, melihat-lihat lagi semua fotonya. Aku melihat rak kecil di dinding seberang dengan botol-botol kecil di atasnya.
"Apa itu?" Tanyaku, berjalan menuju rak kecil yang menarik perhatianku. Masing-masing botol berisi sesuatu yang terlihat seperti pasir. Ada yang putih, beberapa abu-abu, beberapa pink, dan salah satunya hampir hitam pekat. Masing-masing diberi label. Saat aku mengamati botolnya aku merasa, bukannya melihat, dia bergerak di belakangku. Napasnya terasa hangat di telingaku.
"Setiap kali aku mengunjungi pantai baru, aku membawa pulang sejumput pasir—sebagai pengingat dimana dan kapan aku berada di sana," jawabnya, suaranya rendah dan sendu.
Aku mengamati lebih dekat pada botol-botol itu dan kagum pada nama-nama yang kulihat: Harbour Island-Bahama, Prince William Sound-Alaska, Punaluu-Hawaii, Vik Islandia, Sanur-Bali, Patura- Turki, Galicia-Spanyol.
"Dan kau sudah pernah ke semua tempat-tempat ini?"
"Mmm-hmm."
"Dan kenapa membawa pulang pasir? kenapa bukan kartu pos, atau lebih baik lagi, foto yang kau ambil? Bukankah itu sudah cukup sebagai suvenir?" Aku menoleh untuk memandangnya.
"Aku mengambil foto karena aku menyukainya, dan kebetulan itu menjadi pekerjaanku. Tapi ini? Ini berwujud, dapat diraba, ini nyata. Aku bisa merasakan ini, ini adalah pasir dimana aku pernah benar-benar berdiri di atasnya, dari setiap benua di planet ini. Ini membawaku kembali ke sana, seketika," katanya, matanya terlihat menerawang.
Jika diucapkan oleh pria lain, dalam suasana apapun, itu akan jadi sangat murahan. Tapi dari Luhan? Pria ini punya pemahaman yang mendalam. Sialan.
Jemariku terus menelusuri semua permukaan botol—nyaris tak bisa dihitung. Ujung jariku berlama-lama pada beberapa botol dari Spanyol dan ia melihatnya.
"Spanyol, ya?" tanyanya.
Aku berbalik untuk memandangnya. "Ya, Spanyol. Aku selalu ingin pergi kesana. Suatu hari aku akan kesana." Aku mendesah dan melintasi ruangan dan kembali ke sofa.
"Apa kau sering melakukan perjalanan?" tanyanya, tenggelam di sofa di sampingku lagi.
"Aku mencoba untuk pergi ke suatu tempat setiap tahun. Tidak semewah atau seseringmu, tapi aku mencoba untuk pergi ke suatu tempat setiap tahunnya."
"Kau dan teman perempuanmu?" Dia tersenyum.
"Kadang-kadang, tapi beberapa tahun terakhir ini aku menikmati bepergian sendiri. Ada sesuatu yang menyenangkan saat mengatur ritmemu sendiri, pergi ke manapun kau mau dan tak perlu mengajukannya pada orang lain setiap kali kau ingin pergi keluar untuk makan malam, kau tahu?"
"Aku mengerti. Aku hanya terkejut," katanya, sedikit mengernyit.
"Terkejut bahwa aku ingin melakukan perjalanan sendiri? Apa kau bercanda? Itu yang terbaik!" Seruku.
"Hell, kau tidak mendapat bantahan dariku. Aku hanya terkejut. Kebanyakan orang tidak suka bepergian sendiri, terlalu berlebihan, terlalu menakutkan. Dan mereka pikir mereka akan menjadi kesepian."
"Apa kau pernah merasa kesepian?" Tanyaku.
"Aku sudah bilang, aku tak pernah kesepian," katanya, sambil menggeleng.
"Ya, ya, aku tahu, Luhan kau sudah mengatakanya, tapi aku harus mengatakan bahwa aku menganggap itu agak sulit dipercaya." Aku memutar seikat rambutku yang hampir kering di jariku.
"Apa kau merasa kesepian?" tanyanya.
"Ketika aku bepergian? Tidak, aku mudah akrab dengan orang lain," jawabku segera.
"Aku benci mengakuinya, tapi aku setuju dengan itu," katanya sambil mengangkat mug-nya ke arahku.
Aku tersenyum dan tersipu sedikit, membenci diriku sendiri karena mengalaminya. "Wow, apa kita menjadi teman?" Tanyaku.
"Hmm, teman..." Dia tampaknya berpikir dengan hati-hati, mengamati diriku dan keadaanku saat ini yang tersipu. "Ya, kupikir kita berteman."
"Sungguh menarik. Dari cockblocker menjadi teman. Lumayan." Aku terkikik dan mendentingkan mug-nya dengan milikku.
"Oh, itu masih harus dilihat apakah status cockblocker-mu akan dicabut atau tidak," katanya.
"Well, lain kali beritahu aku sebelum Spanx datang kemari, oke, teman?" Aku tertawa melihat ekspresi bingungnya.
"Spanx?"
"Ah, ya, well, kau mengenalnya sebagai Katie." Aku tertawa. Dia akhirnya punya kesopanan dengan tersipu dan tersenyum malu-malu.
"Yah, sebenarnya, Nona Katie tidak lagi merupakan bagian dari apa yang kau sebut dengan begitu baiknya sebagai haremku."
"Oh tidak, aku menyukainya! Apa kau menampar pantatnya terlalu keras?" Godaku lagi, cekikikanku mulai tak terkendali.
Dia mengusap rambutnya dengan kalut. "Aku harus memberitahumu, terus terang ini adalah percakapan paling aneh yang pernah kulakukan bersama seorang wanita."
"Aku meragukannya, tapi serius, kemana Katie pergi?" Dia tersenyum tenang.
"Dia bertemu seseorang dan tampaknya benar-benar bahagia. Jadi kami mengakhiri hubungan fisik kami, tapi dia masih teman baikku."
"Well, itu bagus." Aku mengangguk dan diam sejenak. "Bagaimana bisa berhasil, sebenarnya?"
"Bagaimana bisa berhasil apanya?"
"Well, kau harus mengakui, dalam pandangan yang paling baik hubunganmu tidak konvensional. Bagaimana kau melakukannya? Membuat semua orang senang?" Desakku.
Dia tertawa. "Kau tidak serius menanyakan bagaimana aku memuaskan para wanita ini, kan?" Dia menyeringai.
"Tentu saja tidak. Aku sudah mendengar bagaimana kau melakukannya! Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan soal itu. Maksudku, bagaimana bisa tak ada orang yang tersakiti?"
Dia berpikir sejenak. "Kukira karena kami jujur saat akan memasuki hubungan ini. Tapi ini tidak seperti seseorang menciptakan sebuah dunia kecil, ini terjadi begitu saja. Katie dan aku selalu sangat akrab, terutama dengan cara itu, jadi kami masuk begitu saja ke dalam hubungan itu."
"Aku suka Spanx—maksudku Katie. Jadi apa dia yang pertama masuk? Dalam haremmu?"
"Cukup menyebut haremku—kau membuatnya terdengar begitu kotor. Katie dan aku kuliah dalam satu kampus, mencoba berkencan yang sesungguhnya, tidak berhasil. Tapi dia hebat, dia...tunggu, apakah kau yakin ingin mendengar semua ini?"
"Oh, aku siap mendengar dengan seksama. Aku sudah menunggu untuk mengupas lapisan demi lapisan masalah ini sejak pertama kali kau menjatuhkan lukisanku dari dinding dan mengenai kepalaku." Aku tersenyum, duduk kembali di sofa dan melipat lututku.
"Aku menjatuhkan lukisan dari dindingmu?" tanyanya geli sekaligus bangga. Dasar Pria.
"Fokus, Luhan. Berilah info dari orang dalam pada wanita yang sedang menunggu ini. Dan jangan menjelaskannya secara detil— cerita ini lebih bagus daripada HBO."
Dia tertawa dan memasang wajah pendongengnya. "Well, oke, kukira itu dimulai dengan Katie. Kami tidak berhasil sebagai pasangan, tapi ketika kami bertemu satu sama lain setelah kuliah beberapa tahun yang lalu, minum kopi berubah menjadi makan siang, makan siang berubah menjadi minum-minum, dan minum berubah menjadi...well, tempat tidur. Tak satupun dari kami sedang dekat dengan siapa pun, jadi kami mulai bertemu setiap kali aku berada di kota. Dia hebat. Dia hanya...Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Dia...lembut."
"Lembut?"
"Ya, dia montok dan hangat dan manis. Dia hanya...lembut. Dia yang terbaik."
"Dan Purina?"
"Nadia. Namanya Nadia."
"Aku punya kucing yang mengatakan sebaliknya."
"Nadia dan aku bertemu di Praha. Aku sedang melakukan pemotretan pada suatu musim dingin. Aku biasanya tak pernah melakukan fotografi fashion, tapi aku diminta memotret untuk majalah Vogue—sangat artistik, sangat konseptual. Dia memiliki rumah di luar kota. Kami menghabiskan akhir pekan telanjang bersama-sama, dan ketika dia pindah ke Amerika dia mencariku. Dia sekarang sedang menyelesaikan masternya pada jurusan hubungan internasional. Bagiku ini gila bahwa pada umur dua puluh lima dia berada di ambang akhir karirnya, di dunia modeling, begitulah. Jadi dia bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang lain. Dia sangat cerdas. Dia bepergian ke seluruh dunia dan dia bisa bicara dalam lima bahasa! Dia kuliah di Sorbonne. Apa kau tahu itu?"
"Bagaimana aku tahu itu?"
"Mudah untuk membuat penilaian cepat ketika kau tidak mengenal seseorang, bukan?" tanyanya, menatapku.
"Touche," aku mengangguk, menyenggol dia dengan kakiku untuk meneruskan.
"Dan kemudian Lizzie. Oh boy, wanita itu gila! Aku bertemu dengannya di London, mabuk berat di pub. Dia berjalan ke arahku, meraih kerahku, menciumku habis-habisan, dan menyeretku pulang ke rumahnya. Gadis itu tahu persis apa yang ia inginkan dan tidak takut untuk memintanya." Aku ingat beberapa momen berisik wanita itu dengan sangat rinci. Dia benar-benar agak spesifik tentang apa yang ia inginkan, asalkan kau bisa melewatkan suara cekikikannya.
"Dia pengacara—kuasa hukum—dan salah satu klien utamanya tinggal di sini, San Francisco. Bisnisnya berbasis di London, tapi ketika kami berdua ada di kota yang sama, kami memastikan untuk bertemu satu sama lain. Dan itu saja. Itu akhir dari ceritanya, tidak ada yang lain lagi."
"Itu saja? Tiga wanita, dan hanya itu. Bagaimana mereka tidak menjadi cemburu? Bagaimana mereka semua baik-baik saja dengan keadaan ini? Dan tidakkah kau menginginkan lebih? Tidakkah mereka menginginkan lebih?"
"Untuk saat ini, tidak ada. Setiap orang mendapatkan apa yang mereka inginkan, jadi semua baik-baik saja. Dan ya, mereka semua kenal satu sama lain, dan karena tak ada seorangpun yang jatuh cinta di sini, tak ada yang memiliki harapan yang nyata di luar persahabatan—dengan manfaat sebaik mungkin. Maksudku, jangan salah paham, aku suka mereka semua, dan menyayangi mereka dengan caranya masing-masing. Aku pria yang beruntung. Para wanita ini luar biasa. Tapi aku terlalu sibuk untuk berkencan dengan siapa pun secara serius, dan kebanyakan wanita tidak ada yang tahan dengan pacar yang lebih sering keliling dunia daripada di rumah."
"Ya, tapi tidak semua wanita menginginkan hal yang sama. Tidak semua wanita menginginkan rumah berpagar kayu."
"Setiap wanita yang pernah aku kencani selalu mengatakan dia tidak menginginkannya, tapi kemudian dia bilang sebaliknya. Dan itu boleh saja—aku paham—tapi dengan jadwal kerjaku yang begitu gila, jadi sangat sulit bagiku untuk dekat dengan siapa pun yang membutuhkanku menjadi seseorang yang bukan diriku."
"Jadi kau belum pernah jatuh cinta?"
"Aku tidak mengatakan begitu, kan?"
"Jadi, kau pernah berhubungan asmara sebelumnya, hanya dengan satu wanita?"
"Tentu saja, tapi seperti yang aku bilang, ketika hidupku menjadi seperti sekarang ini—bepergian terus menerus—sulit untuk tetap jatuh cinta dengan tipe pria seperti itu. Setidaknya itulah yang mantan pacarku katakan ketika dia mulai berkencan dengan seorang akuntan. kau tahu, mengenakan setelan, membawa tas kantor, sampai di rumah jam enam setiap malam—sepertinya itu apa yang wanita inginkan." Dia menghela napas, meletakkan kopinya dan duduk lebih santai lagi di sofa. Ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan semua ini, tapi ekspresi muram di wajahnya menunjukkan sebaliknya.
"itu bukan apa yang semua wanita inginkan," balasku.
"Aku koreksi, itu adalah apa yang diinginkan oleh semua wanita yang pernah kukencani. Setidaknya sampai sekarang. Itulah sebabnya apa yang kulakukan sekarang tepat untukku. Para wanita yang meluangkan waktunya denganku ketika aku pulang? Mereka hebat. Mereka senang, aku senang—kenapa aku harus mengguncang perahunya (mengubah situasi yang sudah stabil)?"
"Well, kau sudah kehilangan dua wanita sekarang, dan aku rasa kau akan merasa berbeda jika wanita yang tepat datang. Wanita yang tepat untukmu ini tidak ingin agar kau mengubah apapun tentang hidupmu. Dia tidak akan mengguncang perahunya, ia akan melompat ke dalam dan berlayar denganmu."
"Kau romantis, ternyata?" Dia membungkuk, membentur bahuku.
"Aku seorang romantis praktis. Aku benar-benar bisa melihat suatu yang menarik dari memiliki seorang pacar yang sering bepergian, karena, terus terang? Aku suka ruangku. Aku juga suka menguasai seluruh tempat tidur, sehingga sulit bagiku untuk tidur dengan siapapun." Aku menggeleng sedih, mengingat seberapa cepat aku dulu mengusir kencan semalamku ke pinggir jalan. Beberapa masa laluku tidak jauh berbeda dari Luhan. Hanya saja petualangan seksualnya diikat dalam bungkusan yang lebih rapi.
"Seorang romantis praktis. Menarik. Jadi bagaimana denganmu? Sedang berkencan dengan seseorang?" tanyanya.
"Tidak, dan aku baik-baik saja dengan itu."
"Sungguh?"
"Sangat sulit dipercaya seorang wanita menggairahkan dan seksi dengan karir yang hebat tidak membutuhkan seorang pria untuk membuatnya bahagia?"
"Pertama-tama, bagus untukmu menyebut diri sendiri menggairahkan dan seksi—karena itu benar. Rasanya menyenangkan melihat seorang wanita memberikan dirinya sendiri pujian bukannya memancing pujian. Dan yang kedua, aku tidak bicara tentang menikah di sini, aku bicara tentang kencan. Kau tahu, nongkrong? Dengan santai?"
"Apa kau menanyaiku kalau aku berhubungan seks dengan seseorang sekarang?" Balasku padanya, dan dia tersedak ke dalam kopinya.
"Benar-benar percakapan teraneh yang pernah kulakukan dengan seorang wanita," gerutunya.
"Seorang wanita menggairahkan dan seksi," aku mengingatkannya.
"Itu sudah pasti. Jadi, bagaimana denganmu? Pernah jatuh cinta?"
"Ini terasa seperti mini seri TV ABC, dengan segala kopi dan pembicaraan tentang cinta," kataku. Aku mungkin telah berdalih.
"Ayo, mari kita rayakan momen ini dalam hidup kita." Ia mendengus, sambil menunjuk dengan cangkir kopinya.
"Apa aku pernah jatuh cinta? Ya. Ya, aku pernah."
"Dan?"
"Dan tidak ada apapun. Itu tidak berakhir dengan cara yang sangat bagus, tapi apa pernah ada akhir yang bagus? Dia berubah, aku berubah, jadi aku keluar. Itu saja."
"Kau keluar, seperti..."
"Tidak ada yang dramatis. Hanya saja dia tidak menjadi seperti yang kubayangkan," Jelasku, meletakkan kopi dan memainkan rambutku.
"Jadi apa yang terjadi?"
"Oh, kau tahu bagaimana kelanjutannya. Kami pacaran ketika aku masih senior di Berkley dan ia menyelesaikan sekolah hukum. Pada awalnya ini hebat dan kemudian tidak, jadi aku pergi. Dia mengajariku olah raga panjat tebing, aku berterima kasih untuk itu."
"Seorang pengacara, ya?"
"Yap, dan ia menginginkan seorang istri pengacara. Seharusnya aku menyadarinya ketika ia menyebut rencana karir masa depanku sebagai 'bisnis dekorasi kecil.' Dia benar-benar hanya ingin seseorang yang terlihat bagus untuk mendampinginya dan mengambilkan kemejanya dari pembersih tepat waktu. Itu jelas bukan aku."
"Aku belum begitu mengenalmu dengan baik, tapi aku tak bisa benar-benar membayangkan kau tinggal di pinggiran kota di suatu tempat."
"Ugh, aku juga. Tak ada yang salah dengan daerah pinggiran, hanya bukan untukku."
"Kau tak bisa pindah ke daerah pinggiran. Siapa yang akan memanggangkan roti untukku?"
"Pfft, kau hanya ingin melihatku memakai celemek."
"Kau tak tahu," katanya sambil mengedipkan mata.
"Sulit untuk mendapatkan semua yang kau butuhkan dari satu orang. Kau tahu apa yang aku maksud? Tunggu, tentu saja kau tahu. Apa yang kupikirkan?" Aku tertawa, menunjuk kearahnya.
Kami berdua melompat saat mendengar ketukan di pintu di seberang lorong. Petugas pemeliharaan akhirnya tiba.
"Terima kasih untuk kopinya, dan kamar mandi, dan penyelamatan pipanya," kataku, sambil menggeliat saat aku berjalan menuju pintu. Aku mengangguk pada pria di lorong dan mengangkat satu jari untuk memberitahu dia bahwa aku akan segera ke sana.
"Tidak masalah. Itu memang bukan cara terbaik untuk bangun tidur, tapi kukira aku pantas mendapatkannya."
"Memang. Tapi terima kasih."
"Sama-sama, dan terima kasih untuk rotinya. Rasanya enak. Dan jika ada roti lain yang diantar ke sini, pasti akan diterima."
"Lihat nanti apa yang bisa kulakukan. Dan hei, mana sweaterku?"
"Apa kau tahu seberapa mahalnya sweater itu?"
"Pffft, aku mau sweaterku!" Seruku, menampar dadanya.
"Well, sebenarnya, aku membawakanmu sesuatu—semacam hadiah terima-kasih-untuk-menendang-pintuku."
"Aku tahu itu. Kau bisa mengantarnya nanti." Aku berjalan di lorong untuk membiarkan petugas itu masuk. Aku mengarahkan dia ke dapur dan berbalik ke arah Luhan. "Teman, ya?"
"Sepertinya begitu."
"Aku bisa menerimanya." Aku tersenyum dan menutup pintunya.
Saat petugas pemeliharaan pergi memperbaiki pipa aku berjalan ke kamarku untuk memeriksa Monggu. Bersamaan ketika aku masuk teleponku berbunyi. Sudah ada satu pesan teks singkat dari Luhan? Aku tersenyum dan menjatuhkan diri di tempat tidur, meringkuk disamping kucingku yang masih ketakutan. Ia langsung mendengkur.
Kau tak pernah menjawab pertanyaanku...
Kulitku seketika memanas saat aku menyadari apa yang ia maksudkan. Aku tiba-tiba hangat dan sedikit menggelenyar, seperti ketika kakimu kesemutan, namun merambat keseluruhan tubuh. Dan dalam cara yang bagus. Sial, ia hebat dalam bermain pesan.
Tentang apakah aku berhubungan seks dengan seseorang?
Ya Tuhan, kau kasar. Tapi ya, teman bisa menanyakan hal itu, kan?
Ya mereka bisa.
Jadi?
Kau menjengkelkan. Kau tahu ini, kan?
Katakan padaku. Jangan malu padaku sekarang.
Saat ini, tidak. Aku tidak melakukannya.
Aku mendengar bunyi dari dinding sebelah dan kemudian terdengar benturan pelan tapi konstan di dinding.
Apa yang kau lakukan? Apa itu kepalamu?
Kau membunuhku Gadis Bergaun Tidur Pink.
Segera setelah aku selesai membacanya suara benturan berlanjut. Aku tertawa terbahak-bahak saat ia membenturkan kepalanya ke dinding. Aku meletakkan tanganku pada dinding di atas tempat tidurku di mana benturan itu terjadi dan tertawa lagi.
Pagi yang aneh...
.
.
.
.
TBC
Nah loh.. wordnya makin menggila. Kemaren 4+ sekarang 5+.
Bosen-bosen dah kalian bacanya. Yang berharep NC. Sabar ya… mereka kan baru mula deket. Ncnya ada kok tapi bukan sekarang.
