Disclaimer : I do not own Naruto
A/N : Maaf telat update!
.
.
.
Chapter 10 : Glory….or is it?
.
.
.
"Shikamaru dan Kankurou benar-benar melakukannya?"
Gaara mengangguk mendengar pertanyaan kakaknya. Temari, si sulung dari tiga bersaudara itu hanya menghela nafas.
"Bukankah kali ini terlalu berlebihan, Gaara?" Temari melipat kedua tangannya didepan dadanya, menatap adiknya yang masih menulis diatas kertas-kertas-nya itu. Gaara menggeleng. Ia pun mengangkat wajahnya untuk menatap kakaknya itu.
"Kau khawatir padanya?" tanya Gaara. Temari menatap Gaara lagi, kemudian mengangguk pelan. Gaara terdiam sejenak, kemudian kembali menulis pekerjaannya. Temari menghela nafas seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding.
"Aku memiliki alasan."
Temari menoleh kearah Gaara. Bingung.
"Alasan?"
Gaara mengangguk tanpa menatap Temari. Ia masih meneruskan aktifitasnya itu. Dengan santai, ia berbicara,
"Tantangan Kankurou, aku menganggapnya sebagai uji kecerdasan. Tantangan pertamaku, aku menganggapnya uji kerjasama dengan Akimichi-san. Tantangan keduaku, aku menganggapnya uji….apakah ia rela melakukan apa saja untukmu. Dan tantangan ini, aku anggap mencakup semua tantangan-tantangan sebelumnya, sekaligus keberanian." Jelas Gaara panjang. Ia menatap Temari dengan bola mata emerald-nya itu. Awalnya, Temari terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum.
"Tantangan-tantanganmu sangat ketat, Gaara. Aku salut kau bisa memikirkan semuanya." Ujar Temari seraya berjalan kearah meja Gaara. Gaara mengangkat bahu.
"Tapi, jika ia gagal dalam tantangan terakhir ini….—"
"Aku tau." Ujar Temari, tersenyum. Ia menatap Gaara dengan tatapan dan senyuman meledek. "Kau sangat menyayangiku 'kan, Gaara?"
Wajah Gaara berubah pucat. Ia terdiam, mengabaikan pertanyaan Temari. Temari tetap menggodanya, menusuk-nusuk bahu Gaara dengan telunjuknya.
"Ayolah, Gaara. Akuilah. Apa salahnya kau sangat protective pada kakakmu yang cantik, hebat, keren, dan manis ini?" goda Temari lagi, membuat Gaara memutar bola matanya, sedikit tidak setuju dengan deskripsi Temari tentang dirinya sendiri. Tiba-tiba, ia membuka laci mejanya, menunjuknya.
"Karasu pernah terjepit disini. Lalu Kankurou berteriak tiga oktaf." Ujar Gaara datar.
Temari memandang Gaara aneh.
"Kau pandai mengalihkan pembicaraan."
~(***)~
"Gah! Sial! Jurus macam apa ini!"
Toshiro memblokir serangan 'bayangan' Shikamaru itu. Para bandit-nya banyak yang jatuh pingsan, kewalahan menghadapi Kankurou dan Shikamaru yang jumlahnya cukup banyak. Kemudian, Toshiro kembali memukul Kankurou dan Shikamaru yang mengerubunginya dengan kayu. Lagi-lagi bayangan.
Toshiro berlari menjauh , kemudian ia melompat dibalik semak-semak, bersembunyi disana. Dengan nafas yang terengah-engah, ia memperhatikan keadaan sekitar. Para bandit-bandit nya memang berjumlah banyak. Tapi, sepertinya jumlah bayangan ini lebih banyak. Padahal, ia sudah menambahkan beberapa bandit andalannya untuk mengalahkan mereka.
Lalu, sesuatu membuat Toshiro sadar.
Kankurou tidak menggunakan bonekanya.
Ya. Padahal, Sabaku no Kankurou terkenal akan gaya bertarungnya dengan boneka-bonekanya. Juga, Nara Shikamaru, si jenius Konohagakure itu, tidak pandai dengan jurus Kagebunshin. Jurus andalannya adalah Kagemane. Dan seingatnya, Kankurou juga tidak menguasai jurus Kagebunshin.
Kedua matanya membulat lebar.
Seseorang yang ia ingat….menguasai jurus ini adalah….
SIIIING.
Tubuh Toshiro tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Kedua matanya membulat panik. Tubuhnya keringat dingin. Dengan berat, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Ia menggigit kecil lidahnya, kesal.
Shikamaru dan Kankurou yang asli berada dibelakangnya. Tersenyum puas akan tertangkapnya ketua bandit ini.
"Kalian! Sudah kuduga kalian bersembunyi dibalik semua ini!"
Kankurou tertawa kecil. "Ya memang. Aku menunggumu menyadari semua ilusi yang kami ciptakan ini."
Toshiro mengernyitkan dahinya. "Genjutsu?"
Shikamaru menurunkan tangannya yang semula membentuk segel. Kemudian, ia berkacak pinggang. " pemikiranmu tidak jauh sampai sana. Tapi kuakui, menambahkan beberapa bandit itu sangat licik."ujar Shikamaru datar. Toshiro mengernyitkan dahinya, kesal.
"Darimana kau—"
"Kau adalah bandit. Kebetulan ayahku pernah bertarung seperti ini. Jadi, aku mengetahui trik-trik kalian." Jelas Shikamaru. Kankurou tersenyum kemenangan. Ia berjalan mendekat kearah Toshiro kemudian meletakkan kedua tangannya didalam saku celananya. Toshiro terlihat takut. Karasu terlihat dibelakang Kankurou, menatap Toshiro dengan memberikan tatapan deathglare—atau memang mungkin bentuk wajahnya memang seperti itu.
"Sepertinya kami menang, Toshiro-san." Gumam Kankurou santai. Ia menggerakan jari-jarinya, membuat Karasu bergerak. Toshiro mulai terlihat tambah ketakutan.
"T-tunggu! Jika ini bukan Genjutsu—"
Karasu pun menyuntikkan cairan penidur ke kulit Toshiro, bersamaan dengan Shikamaru yang melepaskan jurus bayangannya. Kankurou menolehkan kepalanya kearah Shikamaru, kemudian tersenyum.
"Sepertinya kau lulus, bocah."
Shikamaru menguap. Kemudian, meletakkan kedua tangannya diatas kepalanya. "Hn. Kita harus berterimakasih pada Naruto."
~(***)~
"Lihat! Ketua kalian sudah kalah melawan kami. Menyerahlah sekarang." Seru Kankurou keras didepan para bandit. Mereka semua tampak tercengang melihat ketua mereka yang terkulai lemas tak berdaya disamping Kankurou. Salah satu dari mereka dibarisan terdepan tampak marah.
"Apa yang kalian lakukan pada boss!" pria itu berseru, menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang mereka. Shikamaru menolehkan kepalanya pada Kankurou, menatapnya tajam. Kankurou balas menatapnya.
Shikamaru memberikan tatapan apa-yang-kau-lakukan-padanya?. Kankurou mengangkat bahu, dan membalas dengan tatapan bukan-apa-apa. Shikamaru mengernyitkan dahinya, curiga.
Jika kau membunuhnya, boneka kesayanganmu itu akan kuberikan pada anjing Kakashi-sensei. Ujarnya dalam tatapannya. Kankurou menatapnya marah, kemudian bingung.
Mengapa kita bertelepati?
Shikamaru tampak bingung. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah para bandit.
"Aku memberikan sebuah racun, tapi tidak membahayakan. Jika kalian tidak menyerah, boss kalian ini akan tertidur selama lima hari….em….dan ketika ia terbangun….em…..ia akan sakit perut, diare, dan bolak balik ke toilet!" para bandit mulai terlihat panik. Lima hari? Apa yang akan mereka lakukan tanpa boss-nya selama lima hari?
Shikamaru menolehkan kepalanya kearah Kankurou. Kankurou balas memandang Shikamaru dengan wajah innocent. Shikamaru menatap Kankurou bingung, mulutnya terbuka, wajahnya terlihat aneh. Kankurou mengangkat bahu. "Itu sebuah ancaman," bisiknya. Shikamaru memutar bola matanya bosan. Ancaman bodoh.
"Baiklah! Kami menyerah! Berikan penawarnya!" seru salah satu bandit. Kankurou tertawa puas. Shikamaru membuka mulutnya lebar. Bandit macam apa mereka? Bodoh sekali.
Dan setelah itu, Kankurou memberikan sebuah penawar—yang sebenarnya adalah cairan untuk membangunkan orang yang sedang tidur—dan kemudian, Toshiro terbangun. Para bandit mengerubunginya cemas.
"Boss!"
Toshiro memegang kepalanya, meringis kesakitan. Kemudian, ia menatap anak buahnya itu. "Apa yang terjadi?"
Anak buahnya hanya menggaruk-garuk kepalanya, kemudian menatap teman-temannya, yang berwajah panik, sama sepertinya. Ia kembali menatap Toshiro. "Kami…menyerah. Jika tidak begitu, boss akan…."
"BODOH! KENAPA KALIAN MENYERAH BEGITU CEPAT?"
"Tapi, boss—"
"Ah, racun itu sangat berbahaya, Toshiro. Seharusnya kau berterimakasih pada anak buahmu yang menyelamatkanmu." Ujar Kankurou berlebihan. Shikamaru memutar bola matanya bosan. Ya, sangat berbahaya bagi seekor cicak.
Toshiro mengernyitkan dahinya kesal, dan menatap Kankurou marah. Ia mengepalkan tangannya keras, dan kemudian, ia menunduk dalam-dalam.
"Baiklah. Kami kalah. Kau boleh mendapatkan Ayame."
Kankurou tersenyum kemenangan. Shikamaru pun sama.
Para bandit itu pun membantu Toshiro berdiri. Dengan kesal, Toshiro menepis tangan mereka. Ia berjalan cepat untuk kembali ke markasnya. Kemudian, para anak buahnya mengikutinya.
Shikamaru menghela nafas, kemudian menatap langit yang cerah. Sinar matahari tertutup oleh pepohonan yang membuat suasana sejuk diantara mereka berdua. Kankurou pun sama, menikmati sejuknya udara di hutan ini, dan kesejukan di hatinya, yang akhirnya dapat berkencan dengan Ayame. Shikamaru tersenyum, akhirnya, ia bisa mendapatkan Temari dengan restu kedua adiknya. Kankurou menatap Shikamaru, tersenyum. Sementara, si rambut nanas itu membalas tatapannya, terdiam sejenak, kemudian tersenyum lemah.
"Bisa kalian hentikan itu? Kalian tampak seperti gay."
Mata mereka berdua, kemudian menatap satu sama lain dengan jijik. Mereka pun menolehkan kepalanya kearah anak laki-laki pirang yang berjalan kearah mereka dengan cengiran puas. Shikamaru tersenyum.
"Naruto. Terimakasih banyak atas bantuanmu." Ucap Shikamaru seraya menepuk bahu Naruto. Naruto langsung merangkulkan tangannya pada Shikamaru.
"Tak masalah, kawan!" serunya bersemangat. Kankurou melemparkan senyum kearah Naruto.
"Tapi…." Naruto memasang wajah heran, kemudian menatap Shikamaru bingung. "Bukankah jika seperti ini namanya curang?"
Shikamaru tersenyum simpul. "Tidak. Ia juga membawa bandit dengan jumlah lebih. Maka dari itu, aku meminta bantuanmu. Tiga orang melawan seratus lebih bandit. Adil, bukan?"
Naruto mengangkat alisnya, berfikir sejenak. Kemudian cengiran puas terlukis diwajahnya. "Kau benar-benar jenius, Shikamaru!" serunya. Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan bosan.
"Itu trik biasa."
"Ehm. Bocah, bagaimana sekarang kita pergi ke Ichiraku Ramen? Kemudian, melapor ke Gaara. Dengan begitu, semua tantanganmu selesai." Ujar Kankurou. Shikamaru menatapnya sejenak, kemudian mengangguk.
"Baiklah. Ayo, Naruto. Aku akan mentraktirmu makan." Ujar Shikamaru. Naruto memasang tampang bahagia.
"Yosh! Arigatou, Shikamaru!"
~(***)~
"Ah, kau ini. Gak laki."
"Memang kau sendiri jantan?"
"Jika aku tidak jantan, aku tidak mungkin mengajak kakakmu berkencan! Sekarang, kau hampiri dia, bilang kau suka padanya, bilang kau sudah mengalahkan Toshiro, lalu ajak dia kencan!" seru Shikamaru pada Kankurou yang masih memeluk kedua lututnya diatas sofa lobby hotel. Shikamaru berkacak pinggang, kemudian menatap keluar jendela.
"Hari sudah mau hujan. Aku tidak mau pakaianku basah hanya karena mengantarmu."
"Ah, diamlah, nanas! Aku sedang berfikir!"
"Jika wajahmu seperti itu, aku yakin kau tidak berfikir, melainkan panik."
"Tentu saja aku panik, bocah!"
"Karena itulah cepat fikirkan!"
"Tidakkah kau membantuku? Dasar, tuan sok."
"Tadinya aku ingin membantumu, tapi gak jadi."
Kankurou mengepalkan tangannya, menatap kesal Shikamaru. Shikamaru menatapnya menantang. Kankurou mengurungkan niatnya untuk menghajar anak ini, kemudian kembali berfikir.
"Hey, saat kau meminta Temari sebagai pacarmu, kau bilang apa?" tanya Kankurou, wajahnya sedikit memerah. Shikamaru mengelus dagunya dengan jemari telunjuk dan tengahnya, tampak mengingat-ingat.
"'Temari, aku suka padamu. Maukah kau menjadi pacarku?'. Lalu dia bilang 'Ya,'. Mudah bukan?" jawab Shikamaru dengan senyuman memaksa. Kankurou menatapnya aneh.
"Kuyakin aslinya tidak seperti itu." Gumam Kankurou seraya membawa tangannya untuk mengacak-acak rambutnya. Ia sangat panik.
"Memang, ia menyiramku dengan air putih." Ujar Shikamaru jujur. Kankurou mengangkat wajahnya. Kemudian tertawa terbahak-bahak seraya menunjuk-nunjuk Shikamaru dengan telunjuknya. Shikamaru merengut bosan.
"Mungkin kau disiram ramen." Gumam Shikamaru sekenanya. Kankurou langsung terdiam. Memucat.
"Terimakasih telah mengurungkan niatku." Shikamaru mengangkat bahu.
"Sama-sama."
Lima menit, Kankurou masih berfikir. Shikamaru menunggunya, mengetuk-ngetuk lantai dengan kakinya. Sepuluh menit, Kankurou masih berfikir keras, wajahnya berkeringat. Shikamaru menguap bosan, masih menunggu. Lima belas menit, Kankurou menggigit jarinya, panik, tidak mendapatkan samasekali ide untuk mengajak Ayame berkencan. Shikamaru menatapnya kesal. Padahal, Ayame sudah berkata 'Mau' saat Kankurou pertama kali mengajaknya. Dua puluh menit, Kankurou menundukkan kepalanya, menggebuk meja frustasi, kemudian mengacak-acak rambutnya. Dua puluh lima menit, Shikamaru sudah menyiapkan kuda-kuda untuk melempar Kankurou dengan vas bunga.
"Bocah, bantu aku!"
"Kau ini membuatku kesal. Memangnya kau tidak ada pengalaman sama sekali dengan wanita?"
Kankurou menggeleng pasrah. Shikamaru menghela nafas kesal.
"Kenapa kau tidak mengencani bonekamu saja? Siapa namanya? Karasu?"
Kankurou memberikan Shikamaru deathglare.
"Karasu adalah laki-laki." Tegas Kankurou dengan nada serius.
Shikamaru berkedip berkali-kali, tampak bingung. "Benarkah?"
"AH! Kau sama sekali tidak membantu!" Kankurou berteriak kesal. Ia mengacak-acak rambutnya lagi.
Kemudian Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya. Kali ini, ia berfikir untuk Kankurou. Rasanya tidak tega jika melihat Kankurou depresi seperti ini. Yah—mengingat ia adalah calon adik ipar-nya. Beberapa detik kemudian, Shikamaru menatap Kankurou serius.
"Katakan kau suka padanya, dan alasan mengapa kau menyukainya. Kemudian ajak ia berkencan. Kurasa ia akan berkata 'Ya'." Ujar Shikamaru, membuat Kankurou mengangkat kepalanya.
"Bagaimana kalau ia menolak?"
Shikamaru tersenyum. "Kau tanyakan, apa alasan ia menolakmu. Kemudian, jika alasan itu masuk akal bagimu, kau harus menerimanya dengan lapang dada. Karena masih banyak wanita diluar sana yang—tolong jangan tatap aku seperti itu…"
Kankurou mengalihkan pandanganya dari Shikamaru, kemudian melipat kedua tangannya didepan dadanya. Shikamaru menghela nafas, kemudian melanjutkan.
"Saat kau berkencan dengannya, cobalah santai. Kau tidak perlu menjadi laki-laki gentleman atau berlebihan. Karena menurutku, Ayame akan menyukai dirimu yang sebenarnya."
Kankurou mengangkat wajahnya, menatap Shikamaru terpana. Kemudian, ia tersenyum. Shikamaru merasa canggung ketika mengatakan hal seperti itu pada Kankurou. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, kemudian menunjuk Kankurou.
"Maka dari itu, hapuslah cemong anehmu itu."
Senyuman Kankurou pudar, wajahnya berubah menjadi kesal. "Kau benar-benar tahu bagaimana caranya merusak mood, ya."
Shikamaru mengangkat bahu. "Setidaknya aku membantu."
Kemudian, keheningan menyelimuti mereka berdua. Kankurou tampak berfikir. Kemudian, ia mengangguk. Kankurou berdiri dari sofa, kemudian menghampiri Shikamaru, dan menepuk pundaknya pelan.
"Arigatou….kurasa, aku mulai menyukaimu."
SYUUUNG.
Shikamaru terdiam, menatap Kankurou. Kemudian, Shikamaru menepis tangan Kankurou, dan menjauh. Wajahnya terlihat takut.
"Maaf….aku…-"
"Geez, bocah. Bukan itu maksudku!"
Tampaknya akan sangat merepotkan jika mereka menjadi satu keluarga.
~(***)~
Gaara mengetuk-ngetuk meja kerja di penginapannya itu. Mata emerald-nya menatap tajam kedua mata onyx Shikamaru.
"Jadi….kau berhasi."
Shikamaru mengangguk. Temari menatap mereka berdua dengan tegang. Ia berkali kali mengganti posisi duduknya di sofa, tak nyaman.
Gaara mengangguk.
"Dimana Kankurou?"
Shikamaru memasang tampang pokerface. "Kukira…anda menyuruhnya untuk mengajak Ayame-san berkencan?"
Gaara memasang tampang datar, namun terlihat dingin di mata Shikamaru. "Aku memberimu tugas untuk mengatur rencana kencan Kankurou, bukan hanya mengalahkan para bandit."
Shikamaru sweatdropped. Temari menatapnya dengan pandangan aneh, seraya membatin, 'Jadi….ia belum menyelesaikan tugasnya…'.
Gaara menunggunya untuk berbicara. Shikamaru meneguk ludahnya berat.
"A…ano…Kazekage-sama…."
"Jadi kau meninggalkan Kankurou dan membiarkannya mengatur kencannya sendiri?"
"Sebenarnya….saya sudah membantunya untuk menyusun kata-kata…."
"Hanya itu?"
Shikamaru kembali meneguk ludahnya, berat. Mengapa disaat seperti ini Gaara memberikan tatapan deathglare padanya? Benar-benar aura yang tidak enak….
Shikamaru mengangguk dengan ragu-ragu. Gaara terdiam sejenak, kemudian menurunkan tangannya yang semula menopang wajahnya.
"Kalau begitu, kau gagal, Nara-san. Maaf."
Ketika Gaara mengatakan itu, hati Shikamaru rasanya seperti ditusuk oleh panah tertajam di dunia. Temari jawdropped, matanya membulat tidak percaya. Ia mencari kata-kata untuk dikatakan pada Gaara. Namun tatapan adiknya itu membuatnya membisu seribu kata. Shikamaru menarik nafas dalam-dalam, kemudian berbicara.
"Saat ini juga, saya akan menyusul Kankurou-san. Tolong jangan buat keputusan secepat itu, Kazekage-sama!" pinta Shikamaru. Wajahnya menggambarkan kepanikan. Wajah Gaara, masih seperti biasa, datar dan dingin. Tanpa ekspresi.
"Maaf, Nara-san. Jika kau mendengarkan sedikit—"
"Kumohon, Kazekage-sama! Berikan aku kesempatan!" mohon Shikamaru. Ia menunduk dalam-dalam, memejamkan matanya. Gaara menatapnya dengan serius.
"Nara-san…"
"Maaf, Kazekage-sama. Aku sudah memperjuangkan kakak anda sampai disini. Aku tidak bisa kalah disini. Tidak dengan masalah sesepele ini! Sekali lagi, maafkan aku, Kazekage-sama. Tapi…..aku terlalu menyayangi kakak anda."
Gaara membulatkan matanya. Ia tidak menyangka bocah pemalas ini akan mengatakan hal seperti itu didepannya. Temari membuka mulutnya tidak percaya. Ia menatap punggung Shikamaru lekat-lekat. Pria didepannya ini…benar-benar menyayanginya. Temari memandang Gaara sejenak. Gaara membalas tatapannya datar. Temari memberikan tatapan memohon pada Gaara, kemudian menggerakan mulutnya, bergumam 'Kumohon,'pada adiknya itu. Gaara terdiam sejenak, kemudian memusatkan kembali pandangannya pada Shikamaru.
"Baiklah. Kejar Kankurou. Sekarang."
Shikamaru mengangkat wajahnya. Gaara melemparkan senyuman simpul kearahnya. Dengan semangat, ia mengangguk, dan langsung berlari keluar, melewati Temari yang kini tersenyum lega kearahnya.
Temari menatap Gaara, tersenyum.
Dengan santai, Gaara kembali menulis pekerjaannya.
"Lihat. Orang pemalas itu juga bisa bersikap seperti tadi." Ujar Gaara datar. Temari tersenyum, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa dibelakangnya. Ia mengangguk pelan, yang tak bisa dilihat oleh Gaara. Tanpa sepengetahuan Temari, Gaara tersenyum lembut.
"Aku mengerti sekarang. Alasan mengapa kau menyukainya." Gumam Gaara. Temari menoleh kearahnya, kemudian tersenyum.
"Kurasa, Kankurou juga mengerti. Ia adalah orang yang sulit bersosialisasi sebelumnya. Tapi sepertinya, ia cepat beradaptasi dengan Shikamaru." Balas Temari. Gaara tidak merespon. Ia melanjutkan aktifitas menulisnya.
Semoga berhasil, Nara Shikamaru.
~(***)~
"Gah! Seharusnya aku bilang pada Kankurou, jika ia menolak, paksa agar ia menerimanya!" rutuk Shikamaru kesal.
Shikamaru berlari dengan cepat. Jarang sekali si pemalas dari keluarga Nara ini berlari secepat ini—hanya untuk mengejar si puppetmaster dari Sunagakure.
Ia pun mengerem dengan cepat ketika sampai didepan Ichiraku Ramen.
Matanya tertuju pada laki-laki berpakaian serba hitam yang sedang berhadapan dengan seorang wanita. Shikamaru membuka mulutnya ketika menyadari siapa laki-laki itu. Berambut coklat, berwajah tampan, tanpa cemong.
"Kankuro….."
Dengan spontan, Kankurou menoleh kearahnya. Ia memberikan tatapan deathglare pada Shikamaru, mensinyalkannya agar bersembunyi, asal Ayame tidak melihatnya. Shikamaru mengangguk, kemudian langsung bersembunyi dibalik rumah makan itu.
Dengan samar-samar, terdengar Kankurou berbicara pelan pada Ayame.
"Ah… Ayame-san…. Sesuai perjanjian, jika aku memenangi pertarungan itu…aku boleh mengencanimu…Em…jadi….Ayame-san…aku menyukaimu…"
"K-Kankurou-san…."
"….aku menyukaimu saat kau melayani para pelanggan restoran ayahmu. Aku menyukai bagaimana kau tersenyum. Mata coklatmu yang menawan. Caramu berbicara pada pelanggan, dan…um….maukah kau berkencan denganku?"
Shikamaru menahan tawanya. Kankurou benar-benar mematuhi sarannya. Ia terus mendengarkan perbincangan mereka yang semakin menarik.
"A…aku….tentu saja…Kankurou-san."
Shikamaru tersenyum. Ia mengintip sedikit kearah Kankurou yang sekarang tersenyum puas. Ia tampak menghela nafas lega, dan wajahnya sedikit memerah. Shikamaru memberikan senyuman kemenangan.
"Baiklah….aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti disini. Errr…atau kau mau menentukan waktu dan tempatnya? Aku mengikutimu saja.." ujar Kankurou sambil tersenyum kearah Ayame. Ayame menggeleng.
"Jam 7 tak apa. Aku tidak masalah dimana saja." Jawab Ayame seraya tersenyum manis kearah Kankurou. Kankurou tertawa kecil, dan kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya.
"Baiklah. Sampai nanti malam.." gumamnya, tersenyum. Kemudian, ia mengangkat tangannya untuk melambai kepada Ayame. Ayame membalas lambaiannya dengan malu-malu. Ayame pun masuk kedalam lagi. Kemudian, Kankurou berjalan dengan santai kearah Shikamaru.
Shikamaru muncul didepan Kankurou dengan senyuman meledek.
"Tadi itu drama yang indah."
Kankurou tertawa puas. "Hahaha… .ha…" tawa Kankurou. Awalnya normal, namun lama kelamaan, semakin memaksa. Shikamaru memandangnya aneh.
"Ha ha ha." Shikamaru ikut tertawa memaksa. Wajah Kankurou berubah pucat. Shikamaru memandangnya aneh, lagi. "Em…ada masalah?"
Kankurou mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan Shikamaru.
"Aku baru saja diterima, Shikamaru….." bisiknya, hampir tidak terdengar. Shikamaru mengangkat alisnya.
"Um…ya…aku bisa melihat itu…lalu?"
"DAN AKU TIDAK TAHU HARUS BERBUAT APA JIKA SEDANG BERKENCAN!" Kankurou berteriak di telinga Shikamaru, membuat Shikamaru menutup kedua telinganya dengan wajah terganggu. Ia menatap Kankurou sebal.
"Ah, kau ini! Berkencan itu seperti kau makan berdua bersama kakak dan adikmu. Santai saja!"
"Bagaimana aku bisa santai? Ini kencan pertamaku, dan aku panik!"
"Jika kau ingin pipis….—"
"Aku serius, baka!"
Shikamaru memasang tampang pokerface. "Aku juga."
Kankurou mengacak rambutnya lagi. Sama persis seperti saat ia memikirkan bagaimana cara mengajak Ayame berkencan. Shikamaru menghela nafas malas.
"Gaara menyuruhku untuk membantumu sampai kencanmu selesai. Jadi, katakan. Apa yang bisa kubantu?"
Kankurou menatapnya sejenak, berfikir, seraya menganalisa wajah Shikamaru yang tampak bosan itu.
Tiba-tiba, ia memiliki sebuah ide.
Senyuman licik timbul di wajahnya. Shikamaru sweatdropped.
"Hentikan. Kau membuatku takut."
"Hey, Nara. Kau benar-benar membantuku bukan?"
"Sebenarnya, sih, tidak mau. Tapi, yasudah lah."
Kankurou kembali tersenyum licik. Ia merangkul Shikamaru tiba-tiba, membuat Shikamaru memutar bola matanya bosan.
"Kalau begitu…..kita atur kencan untuk kita berdua…"
Kedua mata Shikamaru membulat, mulutnya terbuka lebar, wajahnya terlihat pucat—sangat pucat.
"Kankurou-dono….begini…aku mengerti aku tampan, menawan, keren, jenius, dan semacamnya. Tapi…aku tidak tertarik berkencan denganmu…. Aku normal… Dan sudah cukup aku mendapatkan ancaman kematian dari Gaara-sama karena aku mengejar Temari… Dan sekarang….adiknya? Kumohon, bukalah mata hatimu, Kankurou-dono…. Ingat Ayame…Ingat Ayame…"
Kankurou menatap bosan Shikamaru.
"Pertama, aku tidak gay. Kedua, jika aku gay, aku pilih-pilih. Ketiga, kau biasa-biasa saja. Keempat, jika aku salah, kembali ke pernyataan awal." Jelas Kankurou. Shikamaru memandang Kankurou bingung.
"Wajahmu gay, sih."
"Berhenti mengejekku."
"Aku jujur."
Kankurou memukul keras kepala Shikamaru, membuat Shikamaru merintih kesakitan.
"Maksudku….kita atur kencan untuk kita berdua. Aku dengan Ayame….dan kau bersama Temari-nee. Bagaimana?"
Shikamaru terdiam sejenak, kemudian jawdropped.
"Double date?"
Kankurou mengangguk, kemudian tersenyum kearahnya. Shikamaru menatap Kankurou tidak percaya.
"Kau gila! Kau ingin Gaara membunuhku?"
Kankurou mengangkat bahu. "Sebenarnya sih iya. Tapi karena kau membantuku, kau tidak boleh mati dulu." Ujar Kankurou. Shikamaru mengernyitkan dahinya.
"Lalu aku harus mengajak Temari, begitu?"
"Kau punya simpanan? Aku akan bilang Temari…."
"Eh, nggak! Baiklah, baiklah!"
Kankurou mengeluarkan senyuman kemenangan.
Ini akan menyenangkan….
TBC
.
.
.
A/N : GOMENASAI FOR THE LATE UPDATE! Doh doh doh. Banyak yang marah deh yaampon-_- Maaf yah. Belum sempet bilang waktu itu mau Ujian Nasional, dan Alhamdulillah dapet hasil bagus. Terus, saya juga ngelanjutin fic KakaSaku. Fic ini terlantar begitu saja…. Maaf ya. Oke, kayaknya satu chapter lagi akan tamat. Sekali lagi, sorry for late update.
Review?
