Copyright (Naruto) : Masashi Kishimoto
Copyright (Unleashed) : SylvanEnchanter
Chapter X : Lights
Tanda petik satu (') adalah Inner
Paragraf center alignment adalah flashback.
Semua gelap. Tak peduli ke arah manapun ia mengarahkan pandangannya, yang bisa ia lihat hanyalah warna hitam yang begitu pekat menelimuti dan menutupi seluruh horizon. Apa ini ? Seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri. Sangat sulit sekali untuk bergerak barang sedikit saja. Ia merasakan tubuh milik nya tergeletak di atas sesuatu yang keras. Pikirannya masih setengah sadar setelah sebelumnya ia kehilangan kesadaran secara total. Apa ? Siapa ? Ugh, rasanya kedua telinganya mendengar sesuatu. Sayup sayup terdengar dari kejauhan seseorang meneriakkan namanya berkali kali untuk membawanya kembali dari alam bawah sadar. Perlahan tapi pasti, pikirannya kembali ke keadaan normal, hingga akhirnya sedikit demi sedikit ia bisa membuka matanya. Apa yang ia lihat pertama kali adalah sesosok pria berambut kuning yang sedang menatapnya intens sekaligus khawatir. Kedua kalinya ia membuka mata, indera penglihatannya perlahan kembali. Jelas sekali ia melihat wajah Minato menatapnya khawatir.
Snap.
Orochimaru datang, Orochimaru membawa pasukan jenderalnya, Orochimaru berhasil membangkitkan The Black Orchid dan sekarang Orochimaru dapat membangkitkan seluruh jenderal yang dulu sudah mati sebanyak apapun yang ia inginkan.
Hanya sedetik, semua ingatan itu langsung terlintas di benak nya. Ia langsung terduduk tegap walaupun seluruh tubuhnya terasa sulit sekali untuk digerakkan. Ia menatap sekitar, ternyata keadaan belum berubah, bahkan bertambah buruk. Ia melihat ke kanan dan ke kiri dengan kedua matanya yang berwarna tak senada. Yang ia lihat hanyalah sebuah kepedihan. Semua teman-teman dan muridnya tergeletak tak berdaya, bahkan tak sedikit dari mereka yang bersimbah darah. Keadaannya masih terbengong dan shock tidak membuat para musuh memberikannya kesempatan untuk sejenak bersedih dan meratapi teman-temannya. Sebuah serangan meluncur dari Zabuza, salah satu jenderal terkuat Orochimaru. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk mengelak, atau bahkan menangkis serangan itu karena keadaannya memang sangat tidak memungkinkan. Namun pria kuning yang sejak tadi berada di dekat nya masih memungkinkan untuk bergerak, ia langsung meluncur dengan kekuatan terakhirnya tepat ke hadapan partnernya. Menghalangi tebasan pedang patah milik Zabuza agar tidak mengenai tubuh partnernya.
Slash.
Ia hanya bisa memejamkan kedua mata yang tak berwarna sama yang ia miliki. Ia tidak bisa menghindar ataupun menangkis serangan yang datang. Namun beberapa detik berselang, ia masih tidak merasakan apapun mengenai tubuhnya. Padahal, ia yakin seharusnya tebasan pedang milik Zabuza mengenai tepat di bahunya.
Tes, tes...
Ia segera membuka kedua matanya ketika ia merasakan sesuatu benda cair menetes ke wajahnya. Kedua mata miliknya menangkap siluet seorang pria yang sedang merentangkan kedua tangannya lebar lebar tepat di hadapannya. Cahaya silau dari belakang menghalangi si pria silver untuk mengenali siapa yang sedang berdiri tegap di hadapannya. Tunggu dulu, di hdapannya ? Bukankah itu berarti.
Bruk..
"Ha... ha... ha... k-kau h-harus hi-hidup, Kakashi. Ma-masih ba-banyak hal yang k-kau bisa l-lakukan.. ha.. ha.. ha...".
"Oh, manis sekali... mungkin kalian berdua akan lebih damai jika kalian pergi ke neraka bersama sama...!!".
Tap.
Serangan Zabuza lagi-lagi terhenti. Namun bukan manusia yang menghentikannya kali ini, melainkan tangan kegelapan milik Hinata yang muncul dari bawah tanah. Tangan itu cukup besar untuk menangkap dan menahan pedang patah milik Zabuza. Zabuza berusaha mencabutnya, namun sepertinya ia sedikit kesusahan. Kesempatan itu digunakan oleh Hinata untuk mencekik leher Zabuza dengan mengeluarkan tangan kegelapan yang lain dari dalam tanah. Setelah berhasil mencekiknya, ia langsung melempar tubuh Zabuza jauh ke belakang.
"Huff... huff... Ka-kakashi-sensei... ap-apa kau baik-baik saja ?".
"Uhm, Hinata. Terima kasih".
Kakashi kembali mengalihkan pandangan ke arah tubuh yang tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Ia segera menyobek kemeja yang ia pakai kemudian membelit luka menganga yang di derita oleh Minato di daerah bahu dikarenakan tebasan pedang milik Zabuza. Setidaknya ini yang bisa ia lakukan untuk menjaga Minato tetap terjaga dan tidak pingsan. Bau amis dan anyir dari darah Minato makin tercium oleh hidung Kakashi, tanda bahwa semakin banyak darah yang keluar dari tubuh pria blonde yang sedang tergeletak di atas rangkulannya. Mata biru miliknya begitu sayu, dan wajah cerahnya sekarang begitu pucat.
"K-kakashi. To-long dengarkan aku sebentar sa-ja".
"Tidak usah banyak bicara. Kau akan bertahan aku yakin".
"Aku t-tidak tahu ap-apakah aku bertahan atau ti-tidak. Jad-jadi... dengarkanlah, wa-laupun sebentar".
"Jangan berbicara seakan kau akan mati dasar Baka Minato".
"A-aku ingin meminta maaf dari mu, Kakashi. Aku, a-ku tahu apa yang kau pikirkan beberapa ha-ri belakangan ini. A-aku min-minta maaf ji-jika kau me-merasa ak-aku hanya mem-permainkan perasaanmu. Aku sungguh ti-tidak bermaksud untuk melakukannya. In fact, a-aku ti-tidak bi-bisa melupakan kejadian malam i-itu ke-tika aku bersamamu. Ke-ketika aku melakukannya malam itu, a-aku sadar dan a-aku memegang kendali penuh atas kesadaranku. Bu-bukan karena aku mabuk atau y-yang semacamnya. Yang aku ingin katakan adalah. Maaf, Ka-Kakashi. A-aku, aku benar-benar... mencin... ugh...".
Mata birunya terpejam, kedua tangannya pun melemas. Minato sudah benar-benar kehilangan kesadaran secara total karena kehabisan banyak darah. Dengan cepat Kakashi memegang tangan Minato dan mendengarkan detak jantungnya. Kakashi memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Yap, Minato masih hidup, walaupun denyut nadi dan detak jantungnya sangatlah lemah.
Dada Kakashi terasa sesak. Seakan ada perasaan sesak yang ingin menendang keluar dari dadanya. Rasanya seperti dihujam dengan ratusan jarum, melihat orang yang paling dekat dengan dirinya saat ini tergelatk begitu lemah bersimbah dengan darah. Kakashi memggenggam tangannya dan berusaha bangkit berdiri. Seluruh tubuhnya nyeri dan kaku sulit untuk digerakkan. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa hanya untuk berdiri tegak menatang para iblis.
Namun apa daya, ia memang seorang pemegang kontrak dengan dewa. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kekuatan dan kemampuan. Ia kembali terhuyung dan berlutut karena tak mampu lagi berdiri. Air mata mulai menetes dan mengalir dari kedua matanya. Bukan air mata kesedihan, bukan air mata ratapan dan menyerah, akan tetapi air mata kekesalan dan dendam. Air mata kemarahan karena ia tidak mampu berbuat apa apa ketika orang yang paling dekat dengannya membutuhkan pertolongan. Ia meninju tanah sekeras yang ia bisa, meluapkan semua emosi dan kekesalannya pada tanah yang tak bersalah.
"Aku, Hatake Kakashi. Pemegang kontrak dengan Ares, dewa perang. Aku bersumpah aku akan membantai kalian semua dan membakar kalian hidup hidup".
"Hentikan itu, Kakashi..!! Kau tahu betul jika kau terbawa perasaan dalam pertarungan sama sekali tidak baik. Kau harus kuat. Yang bisa kita harapkan adalah mereka tidak memburu Naruto yang sedang sendirian".
"TEMAN-TEMAAAAAANNN...!!! IBLIS BRENGSEK...!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA TEMAN-TEMANKU ??!!!".
"Itu... bukankah...". (Hinata).
"APA KAU BODOH, NARUTO...!!! KAMI BERTARUNG MATI-MATIAN HANYA UNTUK MELINDUNGIMU. DAN SEKARANG KAU MALAH KELUAR DARI PERSEMBUNYIAN DAN MENAMPAKKAN DIRI SENDIRI DI HADAPAN MUSUH..!!! APA KAU MAU BUNUH DIRI...!!!".
"Eh, tuan Tobirama...".
"LARILAH NARUTOOOOOOO...!!!".
"Bukankah itu... itu adalah... ayah ?".
"AYAH..!!!".
Ziiiing
"Tidak akan ku maafkan. Tidak akan ku maafkan... KU BUNUH KALIAN SEMUA...!!!".
Tubuh Naruto terangkat dan melayang melawan gaya gravitasi bumi. Di bawah dan di atas tubuhnya muncul lingkaran pola sihir berwarna kekuningan dan bercahaya dengan sangat terang. Mata Naruto yang sebelumnya berwarna biru laut berubah menjadi kuning pucat dan sangat bening juga bercahaya.
"Oh, ini yang aku tunggu-tunggu". (Orochimaru)
"Dasar bocah yang bodoh". (Tobirama)
Naruto meletakkan kedua tangannya di dadanya dan merapal mantra di udara. Namun ketika Naruto sedang dalam keadaan lengah seperti itu, salah satu jenderal Orochimaru memanfaatkan keadaan Naruto untuk menyerang dan menjatuhkan Naruto. Ia segera melancarkan teknik sihirnya ke atas, tepat di mana Naruto sedang berkonsentrasi.
"Ini tidak baik. Aku belum bisa bergerak, ugh". (Kakashi).
"Sial, tidak akan sempat...!!!".
"Elemen kegelapan, Blade Shower...!!".
Iblis itu merubah elemen kegelapan yang ia miliki menjadi ribuan belati tajam yang sial menyerbu Naruto. Ribuan bilah belati sihir itu meluncur ke arah Naruto dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Snap.
Naruto telah selesai dan langsung membuka matanya. Kurang dari sedetik, semua belati itu terhempas kembali ke tanah dan menancap kuat di atasnya. Sebuah cahaya kuning muncul dari atas dan menyilukan seluruh pandangan makhluk yang ada di arena pertarungan. Iblis maupun para pemegang kontrak, seluruh mata mereka kesulitan melihat karena cahaya yang begith menyilaukan.
"Apollo. Tier 4 last step. Holy Shield, Miracle Healing, Prayer".
Dalam langkah terakhirnya di tier keempat, Naruto menggunakan tiga kekuatan sihirnya sekaligus. Yaitu Holy Shield, Miracle Healing dan Prayer.
Holy Shield merupakan kekuatan Apollo untuk membentuk tameng dan perisai dari cahaya dan melindungi para pemegang kontrak dewa yang lain dari serangan apapun yang dilancarkan oleh musuh. Perisai ini bahkan 10 kali lebih kuat dari kekkai (pelindung) milik Azel. Perisai ini bening dan sangat fleksibel. Ia bisa berubah bentuk menjadi bentuk apapun sesuai dengan kebutuhan.
Miracle Healing dan Prayer dasarnya sama, yaitu mengobati. Akan tetapi dengan cara yang berbeda. Miracle healing akan mengobati seluruh luka-luka fisik yang di derita oleh orang lain. Dan Prayer yang menghilangkan rasa sakit dari luka yang mereka derita. Naruto akan menukarnya sehingga ia lah yang akan menanggung semua rasa sakit dari luka teman-temannya.
"Jika ini tier keempat, berarti Naruto...".
Ya. Naruto terbang dengan sepasang sayap milik Apollo. Di tier keempat sayap yang dimiliki oleh Naruto di tubuhnya hanya sepasang. Akan tetapi itu sudah cukup bagi Naruto untuk terbang dan bermanuver ke sana kemari dan dengan lincah menghindari serangan demi serangan yang mengarah kepada dirinya.
Walaupun seorang healer, bukan berarti Apollo tidak memiliki sihir untuk menyerang. Naruto menengadahkan kedua tangannya seakan ia menadah air di atas kedua tangannya. Kemudian ia menutup kedua tangannya dan mendekatkan kedua tangannya ke mulutnya.
"Cahaya Apollo, bersinarlah...".
Ketika Naruto membuka kedua tangannya, muncul dari dalam tangannya ribuan bola-bola cahaya kecil seukuran seukuran bola baseball. Bola bola cahaya itu kemudian terbang dengan kecepatan tinggi menuju barisan para iblis dan menyerbu mereka.
"Aku akan menghapus makhluk kegelapan dengan cahaya suci yang aku miliki. ENYAH KALIAN SEMUA IBLIS KEPARAT...!!!".
'Hei hei.. Naruto...!! Jangan sering berkata kasar seperti itu...!! Image ku sebagai dewa cahaya yang sangat indah dan baik hati akan rusak nantinya'.
'argggghh.. biar saja. Aku sudah muak melihat wajah mereka. Aku akan mengusir mereka sebelum efek rebound dari Prayer menjalari tubuhku'.
Ziiiing...
Debum... debum... DEBUM...!!!!
"Belum selesai".
Naruto masih di udara, mengarahkan satu tangannya ke barisan para iblis. Daerah mereka masih sedikit tertutupi debu karena ledakan cahaya yang ia tinbulkan tadi. Naruto menggunakan lima pola sihir sekaligus pada satu tangannya. Naruto begitu berkonsentrasi, ia tidak mengalihkan pandangannya dari debu yang menutupi para pasukan iblis barang sedikitpun. Segera setelah ia melihat sedikit saja bagian tubuh Orochimaru muncul dari balik debu yang menutupi mereka, ia melancarkan serangan terakhirnya.
"KELUAR DAN MENGAMUKLAH...!!! FAFNIR...!!!".
Ziiiiing.
Lima pola sihir yang berada di tangan Naruto bersatu sehingga membentuk satu pola sihir yang sangat besar. Seekor naga keluar dari pola sihir Naruto dan mengamuk. Naga yang bernama Fafnir adalah naga Western dengan kedua kaki yang besar dan kedua tangan yang lebih kecil. Rentangan sayapnya mencapai 6 meter. Di lehernya terdapat kristal berwarna biru muda yang dinamai The Sky. Naga itu tampak gagah namun juga sangat indah.
"Nggh...".
"Sasuke... Sasuke... kau sudah sadar ?? Sasuke... jawab aku...!!".
"Ugh... tuan Hahsirama...".
"Syukurlah. Kau sudah sadar. Apollo sudah bangkit dan dia mengobati kita semua".
"Apollo ?".
Sasuke mengarahkan pandangannya ke atas langit. Ia menemukan 2 objek yang sedang melayang di atas udara. Yang satu adalah naga dan yang satunya lagi adalah seorang anak laki-laki memakai piyamanya.
'Naruto...'. Sasuke tersenyum. Namun ia menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu, tuan Hashirama. Apakah itu berarti Naruto...".
"Aku benci mengatakannya Sasuke, tapi ya. Ia menukar rasa sakit yang kita derita untuk ia tanggung sendiri".
"Akan tetapi jumlah kita begitu banyak dan luka yang kita derita juga bukanlah luka yang ringan".
"Aku tahu. Aku hanya bisa berharap semoga ia bisa melalui nya dengan baik".
"Naruto... NARUTOOOOOOO...!!!".
Perlahan luka yang di derita oleh para anggota pemegang kontrak sembuh dan menghilang. Benar-benar menghilang tanpa bekas seakan tak pernah terluka sama sekali. Rasa sakit yang mereka rasakan pun perlahan hilang dan mereka tak merasakannya kembali. Mereka yang pingsan dan kehilangan kesadarannya perlahan kembali sadar dari pingsan mereka.
"Ugh". (Kiba)
"Kiba, kau baik-baik saja".
"Iya. Tiba-tiba saja tubuhku ini bisa digerakkan kembali. Ada apa gerangan ?".
Shino menunjuk ke arah langit. Terlihat Naruto masih terbang di dekat seekor naga yang ia panggil dengan sepasang sayap milik Apollo.
"I-itu...".
"Yap. Itu teman kita, Naruto. Ia telah bangkit dan menyelamtkan kita".
"Huh ? Lukaku hilang".
"Sakura kau baik-baik saja ? Kau sempat pingsan".
"Ya. Tiba-tiba saja semua luka di tubuh ku hilang. Begitu juga rasa sakit yang sejak tadi aku derita. Ada apa, Hinata ?".
"N-naruto".
"Tidak mungkin. Itu berarti...".
"Iya. Dia melakukan pertukaran itu".
"Tapi kita terlalu banyak dan luka kita begitu parah. Apa ia yakin ia bisa menanggung semuanya sendirian ?".
"E-entahlah. Aku ju-juga sangat khawatir dengan ke-keadaan Naruto".
Plak...
"Kakak...!!! Bangun...!!! Kita sudah diobati oleh Naruto, kenapa pula kau masih pingsan...?! Hoi... bangun...!!".
"Nghhh...".
"Istrimu sedang marah dan menuju ke sini untuk membangunkanmu".
Snap.
"Aku bangun. Ada apa ?".
'Geez... di saat seperti ini masih saja'.
"Apa kau lupa, kakakku yang bodoh. Kita sedang berada di tengah-tengah pertarungan melawan raja iblis dan 50 jenderalnya".
"Oh ya. Mana mereka ? Apa yang terjadi ?".
Sigh.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya aku marah-marah. Kau lihat saja sendiri sekitarmu. Aku akan memeriksa keadaan yang lain". (maksudnya Shikamaru)
"Sai kau baik-baik saja ? Kau bisa bangun ?".
"Itachi ? Loh ? Aku tidak lagi merasa sakit. Apa yang terjadi ?".
"Naruto...".
"Oh. Syukurlah. Akhirnya ia bisa menggunakan kekuatannya".
"Iru... Iruka... Iruka, apa kau bisa mendengar ku ? Iruka... apa kau baik-baik saja ?".
"Nghh... eh... loh... Asuma ? Kau sudah sadar ? Eh, luka-luka ku ? Semuanya hilang. Apa kau sekarang memiliki kekuatan sebagai seorang healer ?".
"Bukan. Lihatlah ke atas".
"Naruto... itu Naruto...!!!!".
"Yap".
"Itu berarti...".
"Yap, ia menukar semua rasa sakit yang kita derita".
"Ugh. Aku benar-benar menyesal aku sampai terluka. Aku berharap aku bisa meringankan sakit yang ia derita. Keponakanku yang malang...".
"Aku tidak akan mengampuni para iblis terkutuk itu. Aku akan menggunakan tier 5 bila perlu untuk membakar habis mereka semua dengan kekuatan api yang aku miliki".
"Lukanya telah tertutup, namun ia telah kehilangan banyak darah. Apakah ia akan baik-baik saja ? Aku masih khawatir dengannya walaupun setelah ia ditolong dengan kekuatan Apollo".
Kakashi kembali memegangi pergelangan tangan Minato untuk memeriksa denyut nadinya. Ia juga menidurkan kepalanya di atas dada Minato untuk mendengarkan denyut jantungnya.
"Semuanya sudah kembali normal, tapi ia belum juga sadar".
"Apa aku harus terluka hingga sekarat seperti tadi untuk membuatmu akhirnya perhatian padaku, Kakashi ? Heee... kalau begitu aku ingin terluka lagi saja".
Twitch.
'ORANG BODOH INI...'.
"Mati saja kau, baka MINATO-SENSEI".
Kakashi segera menarik kepalanya kembali dari dada bidang Minato dan melepaskan tangannya. Ia segera beranjak berdiri dan meninggalkan Minato yang masih terbaring terlentang di atas tanah. Namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan ada sebuah tangan yang menahannya. Tangan itu kemudian menarik tubuhnya ke belakang. Spontan ia menghadap ke belakang untuk segera meluncurkan protes kerasnya. Namun semua terjadi begitu cepat. Bukan tanpa alasan mereka menyebut Minato si kilat kuning.
Cup.
Maskernya terbuka dan Minato mencium bibirnya. Kakashi melongo memproses kejadian yang begitu cepat terjadi di depan matanya. Kemudian terbelalak ketika ia menyadari bibir Minato sudah melumat bibirnya. Tanpa sadar ia telah membuka mulutnya seakan memberikan lampu hijau bagi Minato untuk maju lebih jauh lagi. Minato maju lebih jauh, namjn hanya sebentar. Ia melepaskan ciumannya dalam keadaan Kakashi masih melongo menatapi dirinya.
"Kalau kau tidak ku beginikan, kau tidak akan mau mendengarkan. Aku belum menyelesaikan kalimat terakhirku tadi, Kakashi. Kakashi, aku mencintaimu. Bisakah kau memelukku sekarang ?".
POW...!!!
"Ittai, Kakashi...!!! Mengapa kau malah memukul kepalaku ?".
"Apa kah kau BUTA...!! Kita sedang berada di tengah-tengah pertarungan dan anakmu sedang berada di atas sana berjuang melawan para iblis, dan kau di sini malah mencium dan merayuku ? Kita bicarakan ini setelah semuanya selesai".
"Berarti, kau memaafkan aku, Kakashi ?".
"Entahlah. Kita bicarakan itu nanti".
"Shikamaru. Kau baik-baik saja ? Kau terluka cukup parah tadi".
"Iya, Tobirama-san. Semua lukaku telah sembuh total. Hanya saja kemeja kesangayangan ku menjadi sobek dan sepertinya tidak bisa diperbaiki lagi. Benar-benar merepotkan".
Buagh.
"Itte, Tobirama-san... mengapa kau memukul kepalaku ?".
"DASAR BOCAH RUSA SIALAN, AKU SEGERA DATANG KE SINI SEGERA SETELAH SEMUA LUKAKU SEMBUH HANYA UNTUK MELIHAT KEADAANMU, DAN DI SINI KAU HANYA MENGKHAWATIRKAN KEMEJA BODOHMU ITU, DASAR BOCAH SIALAN...!!".
"Eh ? Itu berarti To-tobirama-san mengkhawatirkan ku ?".
Tobirama menggali lubang kuburnya sendiri.
Blush.
"Y-ya bu-bukan be-begitu. Bu-bukannya aku juga khawatir tent-tang keadaanmu... ya... tapi... uhm... ya... begitulah...".
"Aku tidak mengkhawatirkan tentang diriku sendiri, karena aku yakin Tobirama-san akan datang menyelamatkanku. Se-merepotkan apapun masalah yang aku alami. Kau pasti akan datang menolongku, benar bukan ?".
"JANGAN TERLALU PERCAYA DIRI, BOCAH SIALAN...!!! AKU HANYA...".
Hug..
"Aku senang Tobirama-san baik-baik saja".
Blush
"Te-tentu saja. A-aku ini wakil ketua tau... aku memiliki kekuatan y-yang luar biasa".
Sementara itu di udara, tubuh Naruto mulai merasakan efek Prayer yang ia gunakan untuk menyembuhkan seluruh pemegang kontrak. Rasa sakit mulai menjalari seluruh tubuhnya. Ia pun mulai turun mendarat karena merasa sakit dan tidak kuat lagi untuk terbang.
"Fafnir. Berjanjilah kau akan bertarung sampai akhir".
Naga itu mengangguk tanda setuju. Naruto pun mendarat dengan kedua kakinya di atas tanah.
"Ugh".
"Sepertinya efek kekuatanmu itu mulai terasa, Apollo. Menyedihkan sekali, kau mengobati mereka dengan mengorbankan diri sebagai wadah rasa sakit mereka. Sekarang ini kau tidak lebih dari sekedar dewa yang sedang berada dalam pesakitan. Useless".
Orochimaru merentangkan tangannya bersiap untuk melancarkan gelombang serangan yang kedua. Para pemegang kontrak pun berdiri tegap dan bersiap dengan seluruh senjata dan kekuatan yang mereka miliki.
"Aku siap untuk bertarung kembali". (Kiba).
"Jangan gegabah. Kita harus bekerja sama untuk memperkecil risiko untuk terluka dalam pertarungan. Kita sebaiknya tidak membebani Naruto lebih dari ini".
"Hei, kalian berdua. Jangan bertidak yang aneh-aneh. Kalian tidak boleh terluka parah lagi. Jadi bekerja samalah dengan baik. Saling melindungi satu sama lain. Jika kita kompak, aku yakin kita bisa memperkecil risiko untuk terluka dalam pertarungan". (Asuma)
"Itulah yang sejak tadi aku katakan, Asuma-san". (Shino)
"Sai, kau siap ?".
"Tentu. Aku sudah pulih sepenuhnya".
"Baiklah. Chrono. Dewa pengendali dan penjaga waktu jam langit keempat. Berikanlah aku kekuatan sebagaimana kontrak yang telah kita buat. Lepaskan".
"Pluto, pinjamkan aku kekuatanmu. Lepaskan".
Orochimaru menggunakan 2 lingkaran sihir. Satu berada di bawah kakinya, dan satu lagi berada di atas tangannya. Persis ketika ia menggunakan kekuatannya untuk membangkitkan para jenderalnya yang sudah tewas. Namun secara mengejutkan, lingkaran sihirnya retak, kemudian hancur berkeping-keping. Semua orang, termasuk para pemegang kontrak sangat terkejut dengan kejadian yang mereka lihat barusan.
'Ap-apa yang terjadi, kekuatanku... tidak, tidak hilang. Aku masih bisa merasakan kekuatanku. Lalu apa ini ? Kekuatan yang aku miliki seakan... melemah. Ah...!! Mungkinkah ledakan cahaya itu...'.
"Heh. Aku mungkin bodoh dalam hal pelajaran. Namun jangan remehkan aku ketika aku berkelahi dan bertarung. Karena aku tidak akan kehabisan akal untuk menjatuhkan semua musuhku".
Para anggota pemegang kontrak terkejut dengan suara milik Naruto yang tiba-tiba muncul dari belakang. Pandangan mereka semua teralihkan kepada Naruto. Dengan perlahan dan tertatih Naruto berjalan maju sambil memegangi bagian perutnya. Sebuah senyum penuh kebanggaan terkembang di wajah Naruto, membuat Nagato, salah satu jenderal terkuat Orochimaru berang. Dengan kecepatan tinggi ia menyerbu ke arah Naruto. Namun belum sampai ia mendekati bocah blonde itu, tubuhnya sudah terpental jauh ke belakang.
"Apa kau bodoh ? Aku masih memasang perisai Holy Shield milikku di sini ? Kalian mau menyerang kami ? Hancurkan dulu perisaiku".
Orochimaru sadar betul bahwa keadaannya di sini sangat tidak menguntungkan. Setelah ledakan cahaya milik Naruto, kekuatannya melemah. Membuat lingkaran sihir saja ia tak mampu, apalagi membangkitkan para jenderal yang mati ketika pertarungan kedua pecah. Orochimaru juga yakin, pasti kekuatan para jenderalnya pun menurun drastis. Kalau begini mereka hanyalah sekumpulan sasaran empuk yang bakal porak poranda dalam sekali gelombang serangan. Orochimaru pun memutuskan untuk mundur selagi ia bisa.
"Well, tujuanku di sini sudah tercapai. Tidak ada gunanya melawan kalian sebelum gerhana cincin terjadi. Jadi aku akan kembali ke tempat asalku".
Sebuah pintu besar berwarna hitam tiba-tiba muncul dan melayang di udara. Pintu itu sangat besar dan juga terlihat menyeramkan. Orochimaru membuka pintu besar tadi dengan satu tangannya, kemudian seluruh jenderal nya pun masuk ke dalam pintu tadi, meninggalkan Orochimaru yang masih di luar dan masuk paling terakhir.
"Dan Tobirama, penawaran ku masih berlaku. Aku benar-benar menyukai tubuhmu itu. Kita bisa bersenang-senang lain kali aku datang kemari. Sampai jumpa".
"TUNGGU DULU RAJA IBLIS BRENGSEK...!!!".
"Tobirama. Sudah. Jangan dikejar".
"Tapi... kakak...".
"Lebih baik kita bereskan dulu semua kekacuan yang sudah terjadi di sini".
Tobirama mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Ia baru menyadari bahwa halaman istana yang ia rawat dan sangat ia jaga hancur berantakan. Bekas tebasan dan lubang bekas pertempuran ada di sana-sini. Belum lagi hampir semua pepohonan besar dan rindang terbelah dan tumbang. Beberapa tembok istana juga ada yang bolong dan hancur. Intinya lingkungan kastil rusak berat, dan itu membuat Tobirama (yang selama ini paling sensitif terhadap lingkungan kastil) menjadi geram.
"Ugh. Aku bersumpah akan membunuh mereka karena mereka telah menghancurkan halamanku".
"Syukurlah, semua sudah berakhir".
Brukk...
Kaki Naruto sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Kesadarannya pun hilang karena tak kuat menahan rasa sakit yang harus oa tanggung sendirian. Tubuh Naruto sudah kembali seperti semula dan sepasang sayapnya telah hilang. Tubuh nya ambruk dan langsung menghantam tanah.
Kiba yang berada paling dekat dengan bocah blonde itu langsung berlutut dan menaruh kepala sang bocah di atas pangkuan nya. Bagaimanapun juga, Naruto adalah sahabat terbaik yang ia miliki saat ini, dan ia lah yang telah menyelamatkan dirinya dan semua orang di pertarungan tadi. Kiba menepuk-nepuk pipi Naruto berharap kesadarannya kembali. Sementara para pemegang kontrak yang lain menggeromboli dan melihat dari dekat tubuh Naruto yang tergeletak lemah di pangkuan Kiba.
"Hey, Kalian...!!! Jangan hanya melihat... bantu aku membawa Naruto ke dalam kastil, damn it..!!"'
Shino maju untuk membantu saudara angkatnya membawa Naruto ke dalam kastil. Mereka berdua memapah Naruto dan membawa berjalan menuju gerbang kastil. Sementara yang lain hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang seirus dengan Naruto.
"Itachi. Kembalikan ini semua. Seriously, melihat halamanku seperti ini membuatku jadi gila".
"Baiklah".
Ziiiing.
Itachi menggunakan kekuatan sihir waktu nya untuk mengembalikan keadaan halaman kastil seperti sedia kala. Begitu juga dengan beberapa tembok kasil yang berlubang dan hancur.
"Baiklah... karena ini sudah selesai, bolehkah kami kembali ke kamar kami ? Tuan Hashirama ? Aku ada pr yang belum aku kerjakan". (Sakura)
"Eh, Sakura ? Kau belum mengerjakannya ? Tugas itu kan banyak sekali, dan...".
"HARUNO SAKURA...".
"Ugh. Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku keceplosan".
"Aku kira aku sudah menjelaskannya berkali-kali, tugas harus dikumpulkan besok. Benar atau tidak ?".
"Benar, Asuma-sensei".
"Dan bagi yang tidak mengerjakan akan mendapat hukuman, benae atau tidak ?".
"Benar, Asuma-sensei".
"Tidak ada alasan bagimu untuk tidak mengerjakan tugas dariku. Sekarang cepat kembali ke kamarmu dan selesaikan tugas-tugas mu, Haruno Sakura...!!!".
"B-baik... baiiiiiiik".
"Asuma, apa kau tidak terlalu keras padanya ? Kita baru saja bertarung. Ia pasti lelah".
"Lelah ? Naruto baru saja mengangkat semua rasa sakit dan letih jadi tidak mungkin ia merasakannya, Iruka. Kau terlalu berlebihan".
"Tapi...".
"Sudahlah...".
"Tetap saja...".
"Geez, Iruka...".
(Asuma dan Irula bertengkar di background).
"Hahahahaha... mereka berdua memang tidak pernah berubah". Kakashi tertawa sendiri ketika melihat kedua teman sejawatnya bertengkar layaknya mereka dulu. Tawa Kakashi berhenti ketika ia merasakan seseorang memegang salah satu pundaknya.
Pat.
"M-minato".
"Jadi bagaimana ? Mau bicara sekarang ?".
TBC
Woaaaaaaa... capek... hehe... ngetiknya nyicil nyicil akhirnya jadi sampe segini. Well fic ini sudah hampir mencapai tengah nya. Jadi... (So what thor... ga peduli juga...!!!)
Okay just leave me here to die...
Makasih yang udah baca sampe sini, dan yang udah ngikutin fic ini sampai sejauh ini
Komentar, kritik, saran, rikues, bully, whatever. Coret coret aja di bawah.
Sekian dan terima kasih
Syl out.
