Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC. SasuIno. RUSUH. Gaje. Typo. I warned you.

Tidak ada unsur kesengajaan jika ada kemiripan ide cerita. Tolong beritahu ketika menemukan kesamaan.

Sebagai hiburan dikala hati sedang kelam.


THERAPY

- Serenity

"Aku tidak akan memaksamu," bisik Sasuke lembut. "Jadi, mari lakukan pelan-pelan saja."


Cit . . cit . . cuit . .

Nyanyian burung di pagi yang cerah terdengar seperti alunan melodi indah untuk mengawali hari.

Bahkan tak jarang, suara alam itu dapat dijadikan sebagai musik terapi otak untuk menenangkan diri dari kepenatan dunia.

Seharusnya sih begitu.

Namun, romansa semesta tersebut tidak dapat merenyuh suasana hati Yamanaka Ino saat ini.

Di pagi yang damai itu, di saat dedaunan pun belum meneteskan butiran embun terakhirnya, juga dikala hangat sinar mentari belum sepenuhnya menyapu udara lembab di awal hari tersebut . . si gadis malah sudah berada di salah satu ruang kelas sekolahnya yang masih kosong.

Alasannya? Karena Ino sedang mendapat giliran piket pagi bersama sahabatnya. Jadi, ia sengaja untuk berangkat pagi-pagi sekali.

Ya, tetapi itu hanya alasan saja.

Sebenarnya gadis berambut pirang itu hanya sedang berdalih agar tidak perlu berangkat sekolah dengan sang pacar, Uchiha Sasuke. Ia bahkan sampai pergi duluan meninggalkan Sakura, sahabatnya, karena takut keburu ada yang menjemputnya.

Padahal pada kenyataannya, Ino sama sekali tidak berniat untuk membantu piket. Setibanya di ruang kelas, ia langsung menghempaskan diri ke atas bangku dan tidak terlihat bergerak lagi untuk beberapa puluh menit selanjutnya.

Ino sedang merasa lelah, gundah dan gelisah. Sudah beberapa malam ini ia susah tidur. Kepalanya terasa berkabut, hatinya cenat-cenut tanpa alasan dan dadanya suka tiba-tiba mengeluarkan suara berisik seperti dentuman genderang yang ditabuh kencang. Terutama dikala benaknya merungsingkan kelakuan Sasuke yang makin kesini semakin bertambah aneh saja. Hhh. Ganggu saja memang.

Setelah gerbang sekolah Konoha Gakuen mulai dimasuki segelintir siswa yang kerajinan, Sakura akhirnya tiba di ruang kelas yang dijadikan sebagai meeting place mereka. Gadis Haruno itu menggeser daun pintu kelas, lalu segera melonjak kaget saat mendapati pemandangan tidak mengenakan di depan sana.

Gadis bersurai pink tersebut sontak menjerit, "Demi Neptunus! Kau kenapa lagi Ino-pig? Pagi-pagi sudah terkapar mengenaskan begitu!"

Sakura kini melihat seonggok jasad –yang ia yakini sebagai Ino- sedang terkulai lemas di bangkunya. Dahi mulus gadis Yamanaka itu ditempelkan pasrah ke ujung meja, dengan rambut pirangnya yang tak beraturan dibiarkan tergerai ke depan untuk menutupi seluruh wajah dan kepalanya. Dan kini sedang menjuntai panjang sampai menyentuh lantai.

Namun rupanya, Ino keliatan masih bernyawa. Sambil kepalanya bergerak sempoyongan, gadis itu segera mendongak dan berkata, "Aku mabok bau mawaaaaaar," lirihnya.

"H-ha?" Sakura mengernyit, kurang paham. Ia melihat wajah sahabatnya itu nampak sedang memerah sekarang. Namun bukan karena rona, melainkan akibat jejak kulit putih mulusnya yang habis tergilas garis meja.

"Jangan bilang, Sasuke-kun mengirimimu buket mawar merah lagi?" duga Sakura.

Tepat sasaran.

Ino mengangguk miris. "Kini bukan hanya belasan atau puluhan tangkai lagi, tapi ratusan! Kamarku sudah seperti kebun mawar saja sekarang!"

"W-wow." Takjub Sakura. Dikiranya ada apa. "Pasti semerbak mewangi sekali harumnya." Komentarnya, membayangkan.

Ino mengangguk, lalu tubuhnya kembali lunglai menangkup meja. "Aku sudah tidak tahan lagi, jidat . ." Dengusnya. "Aku harus bagaimana?"

"Loh, kenapa? Harusnya kau senang kalau kamarmu dihiasi banyak mawar kan? Mana gratisan lagi. Bukannya kau suka sekali bunga?" ujar Sakura santai sambil berjalan untuk menyimpan tasnya di bangku yang terletak di sebelah tempat Ino. Ia baru akan melangkah menuju loker di belakang kelas untuk mengambil peralatan kebersihan, saat Ino menimpuk punggungnya keras.

"Apanya yang bagus?!" bantah Ino cepat, membuat Sakura memekik. "Bisa kau bayangkan betapa puyengnya aku saat tiap pagi harus terbangun karena mencium aroma semerbak bau mawar yang menyengat? Belum lagi hadiah bantal bulu dan boneka unyu-unyu yang kini mempersempit kasurku itu! Kau pikir aku tidak terganggu?" cerocosnya sewot.

Sakura mengerutkan alis. "Kalau kau segitu terganggunya, kenapa barang-barang pemberian dari Sasuke-kun itu tidak disimpan di luar kamarmu saja? Atau buang saja sekalian!" ia tak kalah sewot.

Jleb.

Ino dibuat diam. Lalu ia mengalihkan pandang. "Tidak bisa. Harus kusembunyikan dari Santa-jiisan kan. Lagipula aku tidak tega jika harus main buang begitu saja, kan sayang. Jadinya . ." Gumam si gadis pelan.

Euhh. Sakura tepok jidat.

Kali ini ia menatap Ino dengan ekspresi hambar. "Kalau begitu kau tak perlu protes segala dong!" seru Sakura, sambil menoyor tempurung kepala sahabatnya itu.

Ino meringis.

Padahal bilang saja kalau sebenarnya memang suka sama hadiah-hadiahnya Sasuke, cuma gengsi mengaku saja. Pfft.

"Tapi ini sudah keterlaluan!" lanjut Ino tak mau kalah. "Dia tak perlu sampai mengirimi ucapan 'selamat tidur cinta', 'mimpi indah sayang', 'luv yu muahh muahh' yang menjijikan tiap malam kan? Mana pakai banyak sekali emoticon cium segala, idiiihhh. Mataku sampai sakit melihatnya!" Si gadis dibuat merinding hanya dengan mengingat-ingat.

"S-serius?" Sakura drop jaw. Ia menilik ekspresi Ino jikalau gadis itu hanya sedang mengada-ngada.

"Sumpah!" Tegas Ino serius, sampai menyilang jarinya. "Aneh kan? Dia niat sekali mengganggui hidupku, sampai nekat berakting seperti gadis perawan yang baru ngerasain jatuh cinta saja! Dasar aktor kawakan!"

"Ha . . ha." Sakura tertawa garing mendengarnya.

Refleks ia mencoba membayangkan imej Sasuke yang bertingkah seperti gadis perawan yang baru merasakan jatuh cinta itu, tapi gagal. Imajinasinya tidak sampai sana. Berusaha melamunkan ekspresi Sasuke saat bilang luv yu muahh muahh saja, Sakura tak mampu.

Lalu Ino mendadak menggebrak meja dengan memasang ekspresi serius. "Aku jadi merasa Sasuke-kun yang sekarang bukanlah Sasuke-kun yang dulu. Dia benar-benar berbeda. Berubah menjadi sangat aneh. Apalagi tingkahnya itu."

"Yahh, katanya cinta mampu merubah seseorang. Mungkin Sasuke-kun sudah terkena virus-virus cinta jadi-"

"Aku tahu!" Ino memotong dengan gelengan mantap. "Pasti dia sudah diculik alien dan dicuci otak, makanya jadi lebay begitu."

". . ."

Sakura kembali memandang datar Ino. Ia paham sekali bahwa kelakuan si sahabat lah yang sudah pasti jauh lebih aneh dan lebay, menurut pandangan manusia normal.

"Saranku, hilangkan semua pikiran negatifmu itu, Ino. Bagaimana kalau Sakuke-kun memang benar-benar tulus suka padamu?"

Ino langsung membuat gerakan ingin muntah. "Itu mustahil!" bantahnya. "Kau tidak ingat dia bahkan pernah mengataiku menjijikkan di depan semua orang? Aku yakin dia sedang mempermainkanku saja." Keukeuhnya. "Sasuke-kun pasti senang melihatku tersiksa begini." Ino mulai meraup mukanya dengan telapak tangan. "Lagipula, 'suka' macam apa yang harus maksa-maksa begitu . ."

Sakura menghela napas. Ia tahu ini memang tidak akan berjalan mudah bagi gadis seunik Ino. Sekrup di kepala gadis pirang itu pasti sudah karatan karena terlalu banyak mengidap androphobia, makanya jadi tidak peka begini. Oh, Sasuke yang malang.

"Kau memang harus dicekoki cinta biar androphobiamu sembuh." Celetuk Sakura.

Tapi diabaikan sang sahabat.

Sambil memasang ekspresi resah, Ino memukul-mukul meja dengan telapak tangannya, "Pokoknya ini mengerikan, jidat. Mengerikaaaan!"

"Lalu sekarang mau bagaimana?" ucap si gadis bermanik emerald. "Kau tidak bisa terus-terusan menghindarinya dengan alasan-alasan konyol seperti 'piket pagi lah, tugas lah, bantu guru lah, belajar bareng teman lah' lagi. Itu cara yang sudah basi untuk berdalih, tahu."

"Aku tidak tahu lagi, huweee." Isak Ino. Lagi-lagi ia mengistirahatkan kepalanya di meja. Lehernya serasa tak bertulang.

"Lagipula kenapa sekarang kau mati-matian menjauhinya lagi sih? Bukannya phobiamu sudah jauh lebih baik sekarang?"

Ino menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu pun tidak tahu kenapa sekarang ia niat sekali menjauhkan diri dari Sasuke. Ino sampai rela bangun lebih pagi dan berangkat lebih cepat ke sekolah selama beberapa hari ini. Ia pun sampai berubah menjadi kutu buku sepanjang jam pelajaran supaya tidak kepikiran soal Sasuke dan mengarang banyak alasan supaya bisa pulang lebih siang atau bahkan maksa pulang bareng teman. Semua itu ia lakukan supaya tidak perlu lama-lama bertemu dengan si pemuda.

Barangkali karena Sasuke mengancamnya untuk tidak kabur, membuat Ino malah semakin berusaha lari menjauh.

Entahlah.

Hanya saja, alih-alih merasa mual dan ingin muntah, hati Ino kini terasa berubah menjadi sangat resah jika pemuda itu mendekat. Wajahnya memanas dan batinnya kacau. Ia merasa tidak tenang hanya dengan betatapan dengan Sasuke saja.

Terlebih, Ino tidak suka melihat dirinya yang tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa jika pemuda itu sudah mendiktatorisasi dirinya seenaknya.

Si gadis mengacak rambutnya sambil mendesah gelisah.

Apa yang sedang menimpanya?

.

.

Sepasang obsidian gelap milik seorang pemuda tampan sedang menatap serius layar ponsel pintarnya. Pemandangan yang sungguh tidak biasa, karena seorang Uchiha Sasuke bukanlah tipe pemuda yang betah memainkan telepon genggamnya itu lama-lama, terutama saat berada di lingkungan sekolah seperti sekarang.

Hanya saja, ia tak kunjung mendapat balasan chat dari pacarnya. Sudah belasan pesan berantai yang dikirimnya sedari pagi tapi tetap nihil jawaban. Ditambah lagi, Ino kini membalas pesannya barang bedugan. Mungkin chatnya baru akan di-read saat jam istirahat siang nanti.

Sasuke menghembuskan napas sangat pelan, menyembunyikan kekecewaannya.

Sudah beberapa hari ini, sang pacar bersikap seolah mereka sedang bermain petak umpet saja. Susah dihubungi, apalagi ditemui. Apa ia sedang sengaja menjauh?

Sasuke merasa kesal, jengkel, dongkol, tapi kebanyakan rindunya sih.

Mereka hanya sesekali bertemu di sela-sela jam istirahat, itu juga mana sempat berlovey dovey mesra layaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara. Uluhh.

Ah, menyebalkan sekali. Jadinya hubungan mereka tetap tak ada kemajuan kan.

Kenapa Ino mendadak sesibuk itu sih?

Sasuke sampai perlu menyewa jasa pos kilat hanya untuk mengiriminya barang.

Kini mulut si pemuda mulai mengeluarkan decakan. Tapi bukan perihal si gadis penyebabnya, melainkan karena terganggu oleh ocehan Naruto -yang sedari tadi ia abaikan- terdengar semakin menjengkelkan saja.

Membuyarkan fokusnya pada lamunan yang jarang ia lakukan ini.

"Ayolah teme, apa susahnya belajar bareng denganku?" Mohon pemuda berambut kuning jabrik di depannya, yang sudah dilontarkan lebih dari dua puluh kali sekarang.

Sasuke tetap bungkam.

"Aku tahu kau tidak perlu belajar karena otakmu sudah jenius dari lahir, tapi kumohon kali ini saja ajari aku!" Naruto memohon sampai pada titik urat-urat di kepalanya menyembul keluar seolah ia sedang berusaha menelan semua harga dirinya.

Akhirnya Sasuke mulai menggeser onyxnya dari layar handphone, hanya untuk memandangi Naruto yang sedang membungkukkan dahinya ke atas meja berkali-kali, sampai jidatnya dipenuhi bekas merah. Pemuda berambut raven itu menaikkan alis.

Karena si wakil kapten yang merangkap menjadi sahabatnya itu terlihat sangat menyedihkan sekarang, Sasuke memutuskan untuk menimpali, setelah 30 menit pengabaian.

"Kenapa kau tiba-tiba tertarik untuk belajar setelah 18 tahun hidup bahagia dalam kebodohan?" tanyanya penuh sarkas, dengan nada sinis yang biasa.

"Hei, jangan kasar gitu dong!" sontak Naruto mendongak. Tapi ia segera memelankan suaranya lagi, sadar dengan kondisinya. "Sebentar lagi mau ujian. Belum terlambat kan kalau baru mulai belajar sekarang?"

Sasuke menaikkan alis. "Ah." Seolah ia baru ingat.

Naruto mengernyit, "Iya deh, orang pintar macam kau mah tak perlu ingat-ingat sama ujian." Gerutunya. "Jadi, sudikah baginda berbagi ilmu kepada rakyat jelata semacam hamba?"

Sasuke masih menatap kawannya datar. "Sejak kapan murid berandalan semacammu mempermasalahkan ujian?"

Ugh. Naruto sempat mengernyit lagi, lalu mendesah panjang. "Aku hanya tidak mau liburan semester nanti harus ikut kelas remedial cuma karena tidak lulus ujian." Ungkapnya.

Sasuke hanya merubah rautnya dari datar menjadi hambar, membuat Naruto kembali melanjutkan. "Geezz. Baiklah aku ngaku! Aku sudah membuat serangkaian janji kencan dengan Hinata-chan selama liburan. Jadi aku bertekad untuk lulus di semua pelajaran."

Sasuke masih diam. Rasanya lucu juga menyaksikan temannya itu serius membicarakan pelajaran, tapi si pemuda sedang tidak ada mood untuk menertawakan.

"Kenapa kau tidak minta pacarmu saja untuk menemanimu belajar?"

Refleks Naruto memekik, "Mau ditaruh dimana harga diriku? Hinata-chan akan tahu betapa bodohnya aku. Itu memalukan!"

"Apa peduliku?" Komentar Sasuke singkat. Ia kembali mengangkat ponselnya tapi Naruto segera menahan.

"Ini akan menjadi kencan pertama kami semenjak resmi jadian, ayolah teme. Aku memang tak bisa meminta Hinata karena OSIS sedang sibuk-sibuknya, belum lagi tugas akhir! Lagipula katanya dia punya kelompok belajar dengan gengnya. Berarti barengan sama Ino-chan juga, kan? Makanya, sebagai cowok yang nasibnya sama-sama ditinggal pacar jadi bla bla bla"

Sasuke berkedip. Bareng Ino, katanya?

Ah, sebentar lagi ujian semester? Pantas saja pacarnya jadi sibuk ditemui begini. Memang belakangan ini si gadis selalu dikelilingi teman-temannya. Ternyata alasan belajar bareng itu bukan karangan belaka, toh?

Kini Sasuke nampak mulai berminat pada ucapan Naruto, yang tiba-tiba saja memberinya ide.

"Belajar bareng pacar ya, boleh juga." Gumam pemuda Uchiha itu. "Aku akan belajar dengan Ino, kalau begitu. Jadi maaf saja ya, dobe." Tuturnya.

Benar juga, dengan begini ia jadi punya alasan lagi untuk berdua-duaan sesuka hati dengan gadis itu kan. Terlebih, Sasuke merasa pede-pede saja jika urusan pelajaran. Ia yakin keberadaannya dibutuhkan, membuat Ino tak ada alasan untuk menolak menemuinya lagi. Ha ha.

"HA?" si pemuda Uzumaki melonjak. "Kenapa jadi begitu kesimpulannya?!"

Sasuke mengedikkan bahu. Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan kembali mengangkat ponselnya, berniat untuk menghubungi gadisnya. Juga sebagai isyarat untuk memungkas percakapannya dengan Naruto.

"Tunggu dulu!" Naruto menggebrak meja. "BUAT APA KALIAN MAU BELAJAR BARENG SEGALA? MAU SENGAJA BUANG-BUANG WAKTU HAH?" Naruto sewot, membuat Sasuke mendelik.

"Memangnya kenapa?"

Wajah datar Sasuke membuat Naruto mengernyitkan pelipisnya. "K-kenapa katamu?" pemuda berkulit sawo matang itu menelan ludah. "ASTAGA TEME! Kau pura-pura lupa atau memang tidak tahu? PACARMU ITU KAN CEWEK TERPINTAR DI ANGKATAN KITA! DIA SUDAH TIDAK BUTUH DIAJARI OLEHMU!"

Sasuke berkedip.

"Huh?"

.

.

.

Jangan salahkan Sasuke jika ia tidak tahu dengan urutan ranking siswa seangkatannya. Ia memang tidak pernah peduli.

Apalagi perihal kemampuan akademik gadis yang saat ini sedang menjadi pacarnya. Ia bahkan tidak pernah menaruh perhatian pada makhluk bernama perempuan sebelum ini, tanpa pengecualian.

Sekarang saat ia sudah tertarik pada Ino, entah mengapa lagi-lagi penyesalan muncul di hatinya. Dipikir-pikir lagi, Sasuke memang hampir tidak tahu apapun mengenai gadis itu.

Jadi selain cantik, manis, lucu, imut, dan menggemaskan, gadisnya itu juga pintar?

Ah, Sasuke jadi makin sayang saja rasanya. Calon istri idaman, pfftt.

Karena moodnya yang memang sedang naik turun sejak pagi, saat ini Sasuke sedang tidak ada minat berdiam di kelas dan setuju saja saat Naruto menghasutnya untuk ikut membolos jam siang itu. Cacat emang si Naruto.

Maka disanalah dua siswa populer itu sekarang, jalan-jalan menyelinap berduaan di koridor sekolah yang sepi. Hendak pergi ke kantin.

Namun setibanya di persimpangan, Naruto mendadak berhenti.

"Hinata-chan!" pemuda berambut pirang itu sedikit terkesiap saat melihat pacarnya tiba-tiba muncul dari balik tembok koridor.

"N-naruto-kun?" si gadis bermanik ametis sama kagetnya. Sedetik kemudian, beberapa gadis lain teman satu geng Hinata menghampiri.

"Ah," gumam Sasuke singkat, saat melihat Ino ikut memunculkan diri di antara kelompok itu. sementara Ino, kentara sekali melonjak. Dengan kedua safir biru yang melebar, Ino menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara. 'S-s-s-s-sasuke-kun?' desisnya dalam hati. Ia langsung berniat untuk memutar badan dan segera pergi dari sana, tapi sepertinya sudah terlambat karena onyx Sasuke sudah terlanjur terpancang penuh minat padanya. Maka dengan berat hati ia mengurungkan niat kaburnya tersebut.

Ino hanya bisa menelan ludah.

"Kalian mau kemana?" tanya Naruto, jelas kesenangan dengan pertemuan tak terduga tersebut.

"Perpustakaan," jawab pacarnya. "Guru kami sedang ada perlu, jadi kami diberi tugas mandiri."

"Jam belajar mandiri ya? Wah asyiknya!" respon Naruto kelewat ceria.

Hinata mengangguk, pipi tembamnya sedang tersipu-sipu manis. "Umm, kalian sendiri, mau kemana?"

Cengiran di mulut Naruto sedikit mereda. Tanpa sadar satu tangannya mulai menggaruk-garuk gaje belakang kepalanya, "Er, kita baru akan pergi ke toilet." Bualnya, mengundang tatapan curiga beberapa pasang mata di depannya.

Agak aneh memang saat dua murid lelaki pergi ke toilet berjamaah, tapi Naruto tak sempat memikirkan bualan lain. Ia tak bisa bilang kan kalau sebenarnya mereka sedang membolos mau pergi ke kantin? Maka, pemuda Uzumaki itu langsung menoleh ke arah Sasuke untuk meminta bantuan, "Ya kan teme-"

Tapi Naruto hanya menemukan Sasuke yang jelas sudah mengabaikannya dan sekarang sedang menyeringai menatap pacarnya sendiri. Netra hitam Sasuke memandang paras cantik Ino dan peralatan tulis yang sedang dipangku gadis itu secara bergantian.

"Aku akan ke perpustakaan." Putus Sasuke cepat, membuat Naruto drop jaw sekaligus memekik, "He?"

Sementara Ino, langsung merasa napasnya tercekat.

BAHH. 'M-mau apa dia?'

.

.

Tempat yang dikelilingi oleh rak-rak buku itu tampak sepi. Tentu saja, karena jam pelajaran siang memang sedang dimulai semenjak tadi. Hanya ada segelintir siswa yang menempati tempat tersebut sekarang, termasuk dua kelompok siswa yang tak sengaja bertemu tadi.

Sasuke dan Ino kini sudah duduk memisahkan diri di sudut paling pojok belakang ruangan perpustakaan itu. Taulah ya siapa yang memilih tempat tersebut.

Si pemuda duduk menghadap Ino yang sedang sibuk menenggelamkan diri pada buku tugasnya. Sebelumnya, ia sempat memindai singkat ruangan perpustakaan tersebut. Rupanya, tempat itulah yang selama ini menjadi tempat persembunyian Ino dan selalu berhasil menelan keberadaannya. Membuat gadis itu hilang dari pandangan dan selalu sulit dicari. Karena Sasuke memang belum pernah memijakkan kaki di tempat itu, jadi ia tidak tahu. Dan sepertinya memang tidak akan pernah . . jika bukan karena Ino.

Kini Sasuke sedang menumpu dagunya dengan satu tangan, sementara onyxnya masih betah memandang ke depan. Hanya itu yang ia lakukan selama lima belas menit ini. Memandangi paras cantik pacarnya tanpa bosan.

Sementara Ino tahu ia sedang di perhatikan. Guratan jengkel mulai berdenyut-denyut di pelipisnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera merentangkan dua kaki jenjangnya di bawah meja, dan langsung mendorong mundur kaki kursi yang sedang diduduki Sasuke dengan keras.

GUBRAK!

Alhasil Sasuke dibuat terjungkal dengan tidak elitnya. Sementara Ino ngakak jahat menertawakannya.

Tuk.

Ino berkedip. Tapi sayang, adegan itu hanya imajinasi dalam kepalanya belaka. Karena sebenarnya saat ini Ino bahkan tidak berani sekedar untuk mengangkat kepalanya dari buku catatan.

Si gadis kembali mengutuk semesta. Apa yang salah dengannya?

Tak lama kemudian, terdengar suara helaan napas yang keluar dari mulut Ino. Sebelum gadis itu mulai mendongak dan balik menatap Sasuke.

"A-apa liat-liat?" tanya Ino, berusaha terdengar ketus. "Kalau tidak ada kerjaan, balik ke kelas saja sana!"

Tapi malah dibalas dengan seringaian tipis oleh Sasuke. "Jangan pedulikan aku. Fokus saja pada tugasmu." Ia melirik singkat buku catatan Ino yang baru diisi beberapa baris coretan. "Kuperhatikan kau sama sekali belum mengisi satu soal pun sejak tadi."

Jleb. Ino refleks menelan napas. SALAH SIAPA COBA PIKIRAN INO TIDAK BISA FOKUS DARI TADI?

Ino menggerak-gerakan matanya acak, mendadak gugup. Si gadis mendecak. "Bagaimana bisa aku fokus saat kau terus menatapku seperti itu hah?!" ujarnya.

Jujur saja, ia memang tidak bisa duduk tenang dari tadi. Tubuhnya tak bisa berhenti bergerak tidak nyaman. Entah mengapa rasanya grogi sekali. Apalagi saat onyx setajam mata elang itu tampak terus mengincarnya. SESEORANG TOLONG JELASKAN BAGAIMANA BISA INO DUDUK MANIS DENGAN TENANG SEKARANG?

Mati-matian Ino menghindari Sasuke, eh tiba-tiba malah terjadi pertemuan tak terduga ini. BATIN INO BELUM SIAP, YALORD.

Lalu, si gadis agak tersentak saat melihat Sasuke malah bangkit berdiri dan mulai berjalan mengitari meja. "M-mau apa kau?" tanyanya waspada.

Sementara, dengan santainya Sasuke menghampiri tempat Ino dan segera mendudukkan dirinya pada kursi di samping gadis itu. "Sini biar kubantu." Ujarnya, sembari menarik buku.

"Ha?" Ino membelalakan mata. Ia refleks hendak menggeser kursinya, tapi ditahan oleh Sasuke.

"Kalau kau tidak mau terus dipandangi, jadi biarkan aku duduk disini dan ikut mengerjakan soal." Ujar si pemuda santai. "Akan lebih cepat kalau dikerjakan berdua, kan?"

Ino masih memandang Sasuke dengan mata melebar untuk beberapa saat. Lalu ia memalingkan muka sambil mendengus. "T-terserah!"

Sasuke terkekeh jahil, lalu sengaja menyondongkan tubuhnya ke arah Ino. Ah, modus.

Pundak mereka mulai beradu, menyebabkan lengan atas mereka bersentuhan. Ino langsung terkesiap dan segera meluruskan punggungnya. Ia mengernyit.

Asdfghjkl. TERLALU DEKAT. Tapi entah mengapa rasanya Ino tidak bisa menghindar.

Tuhan, cobaan apa ini?

Dan ketika Sasuke mulai membawa tangannya untuk menangkup tangan Ino yang sedang memegangi bolpoin, sontak Ino melonjak dan refleks melepaskan genggamannya atas benda itu. "Gyaaah-" Ia hampir berteriak.

"Sstt, ini perpustakaan." Bisik Sasuke mengingatkan, membuat Ino menelan jeritannya sambil mengerjap-kerjap.

Klutuk. Tuk. Tuk.

Bolpoin itu menggelinding malang di atas meja.

Si gadis menoleh ke arah Sasuke. Disaat Ino panik, pemuda itu tetap terlihat kalem-kalem saja. Ah, sial.

Aquamarine dan onyx berpandangan.

"Berapa cosinus 90 derajat?" Sasuke tiba-tiba bertanya demikian, sambil mengambil alih bolpoin milik si gadis.

Ha? Ino menganga.

"N-nol?" Jawabnya, bingung karena Sasuke tiba-tiba bertanya demikian.

Sasuke mengangguk.

"Sinus 90 derajat?" tanya Sasuke lagi, sekarang mulai menangkap tangan kanan Ino yang sedang terangkat itu, dengan tangan kirinya sendiri.

Gadis itu mengerutkan alis pirangnya, tambah heran.

"Satu." Jawab Ino lagi.

Mereka sedang membahas soal fungsi integral, kenapa Sasuke malah menanyakan nilai fungsi trigonometri yang sudah pasti ia hapal di luar kepala? Sedang mengetes kadar kepintarannya?

"Kalau tangen 90 derajat?" si pemuda kembali bertanya.

Ia mulai menurunkan tangan Ino yang sekarang digenggamnya ke bawah meja. Lalu ia mengistirahatkan tangan itu di pangkuan salah satu pahanya.

Sementara Ino hanya menelan ludah, masih belum sadar. Apa-apaan sih ini? Tentu saja Ino bisa menjawab pertanyaan mudah semacam itu. Apa ini jebakan?

Tapi Ino memutuskan menjawab lagi, "Tak terhingga."

Kemudian Sasuke tersenyum.

DUAARR. Ino menelan napasnya.

"Baguslah kalau kau masih bisa berpikir jernih," ucap si pemuda.

Di bawah meja, jari Sasuke mulai mengelus jemari si gadis dalam genggamannya. Lalu ia melanjutkan, "Karena otakku seperti mendadak sedang blank sekarang." Bisik Sasuke.

CEILEEEEHHHH, gombal.

Ino sempat melebarkan bola kristal birunya, sebelum ia cepat-cepat memalingkan muka. 'A-apa-apaan itu?' ringisnya dalam hati.

Pipi si gadis mulai merona.

Sedetik kemudian, Ino membelalakkan mata lagi saat akhirnya ia sadar bahwa tangannya sedang digenggam mesra sekarang. AAAAAAAA. SITUASI APA INI TUHAN?

Deg. Deg. Deg.

Ino merasa dadanya mulai engap, dan mengeluarkan suara berisik. Jangan bilang . . jantungnya sedang dag dig dug der seperti gadis normal sekarang? Ia mencoba menarik tangannya, tapi Sasuke malah menggenggamnya tambah erat. Si gadis menggigit bibirnya.

"K-kalau otakmu KOSONG begitu, kau sama sekali tidak akan berguna dong!" ceplos Ino.

Glek. Sasuke kejengkang.

"Terus untuk apa menawarkan diri untuk membantuku segala?" tambah Ino. "Pergi saja dari pada GANGGU!"

Ukh. Sasuke sweatdrop.

Gadis ini benar-benar tidak peka, ya? Tidak bisa baca suasana? Tidak mengerti apa, Sasuke sedang berusaha menggombal? Sekilan Sasuke jadi sia-sia kan! Ah, malah jadi senjata makan tuan begini.

"Jangan meremehkanku." Ujar Sasuke, mendengus kesal. Ia langsung memonopoli buku catatan Ino. Setelah itu, si pemuda mendadak bungkam seribu bahasa.

Piuhh.

Akhirnya Ino bisa merasa sedikit lega saat kini Sasuke sudah berhenti memandanginya. Diam-diam si gadis melirik ke arah pemuda yang sedang fokus pada soal tugas sambil memasang muka cemberut itu.

Oalah, sedang manyun begitu saja dia masih kelihatan tampan.

Hn? Ino mengerjap. Mikir apa ia barusan?

Ino segera menelan ludahnya lagi, sambil mengedikkan kepala.

Tubuh mereka masih menempel sekarang, dan tangan Ino juga masih digenggam. Rasanya . . kok hangat-hangat nyaman gimana gitu ya?

ASTAGA! MIKIR APALAGI INO BARUSAN?!

Gadis itu segera menggeserkan pandang ke arah buku catatan, berniat untuk mengalihkan fokusnya. Tetapi, ia malah kembali dibuat mengerjap.

Ebuset, cepat sekali! Ino mengerutkan dahi saat melihat Sasuke sudah mengisi sepertiga dari soal tugasnya. Belum juga lima menit kelewat! Duh gusti, jadi pemuda itu memang benaran jenius? Entah mengapa Ino langsung merutuk dalam hati.

Rupanya, Sasuke memang tidak punya cela.

Kalau begini terus, sampai kapan Ino akan bertahan?

.

.

ASDFGHJKL!

Sial. Sial. Sial. Batin Ino merutuk.

Lagi-lagi si gadis jatuh ke dalam akal-akalan si pemuda.

Kini Ino harus menuruti keinginan Sasuke, sebagai balasan karena tugasnya sudah dikerjakan, katanya. Argh. Licik sekali kan? Padahal semesta juga tahu kalau pemuda itulah yang tadi menawarkan diri tanpa diminta. Tapi seperti biasa, Ino selalu tak punya kuasa untuk menolak.

Gadis itu menghela napas, mencoba menenangkan diri.

"T-taman hiburan?"

Ino melongo ketika aquanya menatap dua lembar tiket bergambar biang lala yang disodorkan Sasuke. Lalu ia mendongak untuk memandang si pemuda sambil mulutnya masih menganga.

Pemuda dengan imej sedingin dan sestoik Sasuke, dan taman hiburan? Sungguh perpaduan yang janggal.

"Pfftt," Ino jadi tak tahan ingin tertawa.

Sasuke memalingkan muka, semburat rona merah muncul samar-samar di pipinya. "Sudah kubilang itu titipan dari mamaku kan? Jangan melihatku seperti itu!" dengusnya kesal.

Sebelumnya Sasuke memang sudah menolak 'hadiah' dari sang mama itu. Kenapa ia harus menyetujui untuk pergi kencan ke taman hiburan? Kenapa pula harus taman hiburan coba? Gengsi dong, kekanak-kanakan sekali kan! Tapi mama Mikoto -yang penuh dongeng dan drama itu- tetap memaksa dan tentu saja Sasuke mana bisa menolak. Pesan sang mama : perempuan yang sedang hamil muda harus banyak-banyak dibahagiakan hatinya.

Tuh kan Sasuke jadi ditertawakan! Jatuh sudah harga dirinya sekarang.

Sambil sewot, Sasuke menarik lagi dua tiket yang tadi disodorkan tersebut. "Yasudah kalau tidak mau!"

Tapi segera ditahan oleh Ino. "Aku mau!"

Sasuke memutar kepalanya ke arah Ino lagi. Ia menaikkan alis.

"Aku belum pernah pergi ke taman ria!" seru gadis itu, matanya mendadak berbinar-binar.

JIAAHH.

Sepertinya Ino langsung lupa pada rutukannya semenit lalu.

.

.

Tapi . .

"Mana antusiasmu yang tadi?" sindir Sasuke saat mendapati gadis itu langsung tumbang ke bangku taman sesaat setelah mereka memasuki gerbang 'Konoha Land' itu.

"Ayo pergi saja." Sasuke memutuskan. Ia memang ingin kencan dengan pacarnya itu, tapi tidak perlu ke taman hiburan juga. Masih ada banyak tempat kece lain, kan. Mana ramai begini, bikin panas dan malas saja.

Tapi Ino -yang kini sedang menangkup wajahnya dengan tangan gemetaran- langsung menggeleng. "Aku ingin sekali pergi ke tempat ini, tapi . . huweeeek," entah kapan terakhir kali ia diserang mual-mual hebat seperti ini, "Ada banyak sekali orang, uweek . . dan laki-laki, aku . . merasa jijik." Lirihnya.

Euhh.

Lalu Ino menarik napas dalam-dalam, dan mulai menurunkan tangannya. "Tapi aku baik-baik saja sekarang." imbuhnya, berusaha tegar. "Ayo."

Sasuke memandang gadis itu datar. "Sudahlah jangan memaksakan. Santai saja."

"Tidak!" Ino menggeleng. "Ini momen langka, aku tidak mau buang-buang waktu!"

Sasuke ikut menghela napas. Terkadang gadis itu memang bisa keras kepala juga. "Yasudah, ayo cari tempat sepi."

Sasuke sudah akan bangkit berdiri, saat Ino menggeleng lagi. "Aku mau naik itu." Tunjuk Ino ke arah atas, sambil nyengir. "Sekarang."

Sasuke mengikuti arah yang ditunjuki Ino. "Ha?"

.

.

Ino memandangi lansekap luar jendela dengan mata yang berbinar. Senyumnya merekah. "Woaahh."

Sementara Sasuke duduk bersedekap di sebrangnya, dengan raut malas ia kembali menggerutu. "Ada banyak wahana keren yang lain, kenapa naik ini?"

"Aku inginnya naik biang lala." Jawab Ino polos, masih tetap memandang ke luar jendela dengan wajah antusias. Padahal beberapa menit lalu, si gadis nyaris pingsan saat mengantri berdesakan.

Bukannya sibuk menghabiskan waktu untuk belajar buat ujian, pasangan muda yang satu itu malah sedang menaiki gondola kincir besar sekarang. Biang lala tertinggi di Konoha Land.

Kini mereka sudah setengah jalan sampai ke puncak.

"Wow, orang-orang mulai terlihat seperti kurcaci." Komentar Ino, sambil terkikik geli. Gadis itu masih mengabaikan keberadaan Sasuke.

Si pemuda ikut melongok ke arah luar, tapi menurutnya tak ada yang istimewa di sana. Pemandangan biasa. Sasuke kembali memandangi gadis di depannya. Tapi kenapa Ino malah terlihat bahagia sekali?

Ini hanya wahana sederhana yang tidak akan memacu adrenalin, tapi si gadis sedang menjerit-jerit takjub sedaritadi. Ekspresinya bebas sekali. Ia terlihat senang sekali.

Karena bosan terus diabaikan, Sasuke mulai bangkit dan memindahkan diri untuk duduk di samping gadis itu. Ino masih belum menyadari pergerakan tiba-tiba tersebut, saat Sasuke kini sudah duduk di sampingnya.

"Wooww!" si gadis kembali berwoah sambil menangkup kaca gondola saat kini mereka sudah berada di puncak. "Langitnya indah." Gumamnya. "Rasanya menenangkan sekali."

Ini pertama kalinya Ino datang ke taman hiburan dan menaiki wahana seperti ini. Tak disangka, rasanya menyenangkan sekali. Ino tak kuasa untuk tidak tersenyum.

Sementara Sasuke, kini memandangi Ino dengan mata yang melebar.

Gadis itu sedang tersenyum cerah sekali. Safir birunya berpendar indah sekali. Wajahnya seolah berkilauan karena tersapu sinar mentari. Cantik . . bagai bidadari.

Baru kali ini gadis itu membuat ekspresi demikian saat bersamanya.

Sambil masih tersenyum sangat lembut, Ino kembali berujar, "Aku tidak pernah merasa seperti ini . . nyaman sekali."

Gyut.

Ino berkedip saat merasakan tarikan di rambutnya. Ia menoleh, dan langsung terkesiap saat mendapati Sasuke kini sudah duduk di sampingnya. Pemuda itu sedang meraup helaian rambut pirang panjangnya.

"Aku juga tidak pernah . . merasakan yang seperti ini." ucap Sasuke. Satu tangannya yang lain mulai menyentuh tangan Ino.

Si gadis berjengit dan hendak menarik lengannya, tetapi tangan Sasuke sudah terlanjur menahannya dengan genggaman kuat.

"Bagaimana pun . . sensasi seperti ini, saat bersentuhan dengan seseorang . . aku tidak pernah memahaminya sampai sekarang." lanjut si pemuda.

Ino hanya bisa melebarkan mata.

Sasuke mulai menyondongkan badannya. "Aku tak bisa mengalihkan pandangan darimu, jantungku rasanya berdetak cepat sekali . ."

Ino mulai menelan ludah, tapi ia pun tidak bisa mengalihkan tatapan safirnya dari wajah Sasuke yang entah mengapa sedang terlihat sangat memikat itu. Mungkin karena efek cahaya matahari di sore itu? Entahlah.

Ino tidak tahu. Ia hanya sanggup untuk berkedip-kedip.

"Aku menyukaimu." Untuk ke sekian belas kalinya, Sasuke kembali mengutarakan isi hatinya. "Apa kau merasakan hal yang sama?" bisiknya. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa belas sentimeter dari Ino.

Ino belum memberikan reaksi apapun, masih tercengang di tempat.

Sasuke menelusurkan jemari -yang sedang meraup helaian pirang gadis itu- ke atas, hingga mulai membelai dahi Ino.

Saat wajah Sasuke terasa semakin dekat, Ino berkedip dan segera mengedarkan pandang.

"Um," gumamnya pelan.

Dadanya kembali mengeluarkan bunyi berisik, dan wajahnya mulai memanas. Tangannya yang tak sedang digenggam mulai terangkat, hendak mendorong tubuh si pemuda. Suaranya bergetar, "Sasuke-"

Tapi pemuda itu segera memotong ucapan Ino dengan tepukan lembut di puncak kepala si gadis. Ino sontak terdiam.

"Jangan menghindariku lagi, Ino." Bisik Sasuke, "Aku tidak ingin kau menjauh."

Ino kembali menatap Sasuke dengan aqua yang melebar. Ekspresi si pemuda saat ini . . sedang jauh dari kata stoik. Lalu tanpa sadar Ino mengangguk, membuat Sasuke tersenyum. Whoaaa. Napas Ino terasa tercekat.

"Jangan pergi dariku." Pinta Sasuke. Hembusan napasnya mulai menyapu wajah Ino. Onyxnya masih memandang tajam aquamarine gadis itu.

Ah. Bagaimana ini, rasanya Ino gugup sekali. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya juga sedang gemetaran. Ditambah Sasuke malah semakin menutup jarak di antara mereka. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mau kabur pun tidak bisa, mereka sedang terjebak dalam gondola biang lala sekarang.

Saat si gadis merasa kepalanya mulai ditarik mendekat pada Sasuke, Ino tak punya pilihan lain selain memejamkan matanya rapat-rapat.

Sasuke merasakan tubuh Ino menegang, tetapi rasanya . . ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Pemuda itu pun mulai menutup mata.

Cup.

Ino sempat berjengit untuk sesaat.

Tapi . . Eh?

Ino segera membuka matanya lagi ketika Sasuke mulai menjauhkan bibirnya dari . . dahi gadis itu?

Benar. Sasuke baru saja mencium lembut kening si gadis.

Ino berkedip sekali, lalu mendongak. Sasuke telah kembali memandangnya, dan kini sedang menempatkan dahinya sendiri di puncak kepala Ino. Belum mau menjauhkan wajahnya dari sana.

Sementara wajah kaget Ino membuat Sasuke melengkungkan senyum. Ia kembali mengelus lembut kepala gadis itu. "Aku tidak akan memaksamu," bisik Sasuke lembut. "Jadi, mari lakukan pelan-pelan saja."

Untuk kesekian kalinya, aquamarine Ino melebar lagi. Entah mengapa, ada perasaan lega . . dan hangat . . yang muncul di hatinya. Untuk beberapa saat, keduanya masih berpandangan.

Sampai manik biru Ino mulai beriak dan wajahnya semakin memerah. Sudah tak tahan dengan sensasi gugup, grogi, nerves, dan kesalah tingkahan lain yang sedang melandanya sekarang. Maka, gadis itu segera menjatuhkan kepalanya di sela leher Sasuke, untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sedang tampak konyol sekali sekarang.

Sambil malu-malu, Ino menganggukkan kepalanya dua kali.

Sasuke sempat tercengang oleh kelakuan manis gadisnya itu, tapi tidak lama-lama. Ia segera mendekap tubuh Ino dengat erat sambil tertawa.

"Hahaha."

Ah, Sasuke suka sekali perasaan yang sedang ia nikmati saat ini. Apa nama perasaan ini, eh?

Mereka tidak saling menarik diri dan berkata lagi. Keduanya masih sama-sama melayang. Tetap diam dalam kesunyian yang nyaman, sampai gondola kembali menghantar mereka menuju permukaan . . tanah.

"Langitnya memang sedang indah sekali, ya?" Kekeh Sasuke pada akhirnya.

Yeay. Akhirnya Ino berhasil jatuh ke dalam pelukannya juga.

.

.

.

-TBC-


Aaaaaaaaaaaaa. . vika kehabisan komedi. *gagalhumor* #plak/

Maapin karena vika masih belajar nulis, jadi masih kacau balau berantakan. semoga masih bisa bahagia baca fiksi-fiksi buatanku ini. *melow*

OIYA ROMENSNYA GIMANA SEKARAAAANG? UDAH ADA KEMAJUAN KAAAAAH?

Oke, akhir kata . . REVIEW LAGI YAA~ Aku senang sekali saat bacain repiyu kalian~ THANKS^^


-Kolom balas review reader yang tidak login-

xoxo : ino polosnya kaya vika ya xoxo-chan? Wkwkwk *ditendangberjamaah*

itakun : iyaa sasu kubuat ooc tapi muka datarnya masih melekat wkwk. Romens di chap ini sepertinya kurang komedi maapin yaa hiks

sasuino23 : okee makasiih ditunggu juga repiyunya lagi wkwkwk ino udah sayang ma suke yeaay

koalasabo : aaw makasiih koala-chan moga imajinasi vika terus berkembang yaa wkwk doakan aku semoga makin rajin juga ehehe

kaname : okeeey makasih yaaa

Azzura Yamanaka : terus ada bekson lagu india wkwk iya emang si sasu perlu dinistakan! Itu diatas udah kissu ehehe, tapi masih kurang greget ya? wkwk makasih juga yaa

Komengtator : uyeee ulalaaa mari baper berjamaah biar vika senang *lah? Wkwk

JelLyFish : iya nih vika punya beberapa fenfik ongoing yang beda banget genre sama gaya penulisannya, jadi agak kerempongan idenya ngeblen gitu hiks diusahakaan apdet kok XD nah chap ini udah dikurangi komedinya koook

Kiku-chan kawaii : aaw aku juga pengen sasu blushing2 cem gitu wkwk, tunggu tanggal mainnya ya, ntar juga ino goyah imannya, eh androphobianya haha sabaaaarrr okeey makasih yaak

Juwita830 : haha sabar ya, ino emang rada karatan otaknya, jadi harus dicekokin cinta dulu sama suke biar peka dianya XD

See you in next chap.


Updated at 15.11.16