.

.

.


"Kataomoi"

Disclaimer: Semua chara Kurobas ada berkat tangan Fujimaki Tadatoshi-sensei, saia minjem doang buat mewujudkan imajinasi liar saia, .w.)/

Warning: OC, OOC, AU, word tak tentu, Ejaan Yang Diragukan, ruwet, muter-muter, lebih kaya curcolan, de-es-be-de-es-be~

~CHAPTER FLASHBACK~

Summary: Mempunyai cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, apalagi jika orang yang kau sukai malah tidak tahu soal perasaanmu. Akankah kau mampu mempertahankan perasaanmu? Atau memilih untuk mencari cinta yang baru?/RnR?


.

.

.

Satu tahun berlalu sejak kejadian kecil yang mengubah seratus delapan puluh derajat kehidupanku... Tentu saja aku masih menjalani masa mudaku dengan bahagia. Jalan-jalan, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bersenang-senang, stress dengan pelajaran dan ujian, tapi semuanya berjalan dengan baik dalam kehidupan normalku saat ini. Aku tetaplah gadis biasa dan normal. Apalagi karena suatu kejadian, aku jadi harus menggunakan kacamata karena penglihatanku menurun. Itu menambah kesan nerd padaku, tapi aku tidak terlalu peduli. Setidaknya aku tetap bisa menikmati kehidupan sekolahku.

Kehidupan percintaanku sih lain cerita lagi.

Sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan orang yang kusuka, Kagami Taiga-kun. Tentu saja kami masih sekelas, jadi itu membuatku selama tiga tahun penuh satu kelas dengan Kagami-kun. Aku dan Kagami-kun tetap—entah bagaimana—masih sering satu kelompok dan menjadi partner dalam tugas. Saat senggang pun aku sering tidak sengaja bertemu dengannya, apalagi sekarang dia menjabat sebagai wakil ketua kelas dan aku bendahara, jadi kami makin sering berinteraksi. Awalnya di luar bayangkan memang Kagami-kun menjadi seorang wakil ketua kelas, tapi entah bagaimana hasil voting kami menunjukkan seperti itu. Ah, tapi tenang saja, dia melakukan tugasnya dengan baik kok!

Ah, terus Yuna ya? Aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya. Setelah aku menyuruhnya menemui Kagami-kun saat kelas satu dulu, aku sudah tidak tahu lagi kabarnya. Kata Kagami-kun sih, sementara Yuna harus pindah sekolah karena urusan keluarganya. Tapi setiap ditanya soal Yuna, wajah Kagami-kun seperti merasa bersalah begitu, jadi kami sekelas sepakat tidak pernah membahas Yuna lagi bila ada Kagami-kun. Rumor mengatakan sih kalau Kagami-kun galau karena baru saja pacaran, belum-belum sudah ditinggal merantau duluan. Ha ha ha

Ahem, aku juga masih satu kelas dengan Miho beserta teman-temanku yang lain. Dan dengan berat hati aku tetap menyembunyikan fakta kalau pacar yang kuceritakan adalah sebuah kebohongan belaka. Terkadang sih, aku terpaksa menyeret Miho untuk menutupi kebohonganku yang satu itu... Oh iya, Miho sendiri sudah mulai dekat dengan Akashi-kun. Aku juga sudah pernah diajak ke SMP Teikou satu kali saat sepupu Miho, Kuroko Tetsuya-kun berhasil masuk grup pertama dan kami menyeret makhluk phantom satu itu untuk pesta kecil-kecilan.

Kuroko-kun adalah pribadi yang menyenangkan, kami sering cocok saat mengobrol tentang buku. Oh, aku masih tetap pecinta anime, game, manga, dan novel. Itu sudah mendarah daging sekarang. Yah, terkadang karena hal itulah aku sering berpuasa karena uang jajanku keburu habis untuk membeli game atau anime, manga, dan novel. Tentu saja, dia masih irit ngomong dan bagai setan karena tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja.

Aku juga sudah ketemu orang-orang yang diberi julukan Generation of Miracles itu, menurutku mereka punya kepribadian unik masing-masing sih. Selain itu, rambut mereka seperti pelangi, full color banget. Apalagi ada orang yang suka banget membawa barang-barang aneh bin ajaib yang dicap sebagai barang lucky item dan selalu dia bawa kemana-mana. Lucu, 'kan? Aku paling senang menggodanya kadang, karena dia tsundere~

Saat ini sudah hampir memasuki winter, festival kebudayaan sekolah kami sudah selesai. Dan agenda yang menunggu selanjutnya adalah ujian. Karena itulah aku sekarang berada di perpustakaan sekolah untuk belajar bersama dengan teman-temanku, walaupun kadang yang sebagian kami lakukan adalah ngerumpi.

"Ne, ne, nomor ini bagaimana mengerjakannya?"

"Oh, yang itu di halaman dua ratus empat."

"Huh? 'Must' dan 'have to'? Bukannya artinya sama-sama 'harus'?"

"Ah, soal itu sih... penggunaannya yang berbeda. 'Must' digunakan kalau hal itu merupakan kewajiban kita, sedangkan 'have to' biasanya memiliki kaitan sebab-akibat, sederhananya sih begitu,"

"Huh? Aku masih tidak mengerti,"

"Contohya begini, 'We must study hard for final examination.' dan 'You have to work hard or the company will fire you.'"

"Hoo, aku mengerti sekarang,"

"Yes, aku selesai!" seru Rui, aku menghentikan acara menulisku sejenak dan menoleh ke sumber suara.

"Jangan berisik, ini perpustakaan." Peringatku, Rui cemberut.

"Mou, serius sekali. Memangnya kau kenapa? Ada masalah dengan pacarmu?" ucap Rui, aku langsung menengang.

"Ah iya, sudah lama tidak mendengar ceritamu tentang pacarmu itu. Bagaimana kabarnya?"

"Apa hubungan kalian lancar?"

"Kapan kau mengenalkannya pada kami?"

Ukh, dasar Rui menyebalkan!

"Maa, maa, minna. Ayo selesaikan ini dulu baru mengobrol, nanti keburu jam perpusnya habis." Ucapan Miho itu berhasil membuat teman-temanku mengalihkan perhatian mereka.

"Arigatou," ucapku dengan suara pelan kepada Miho yang duduk di sampingku. Miho mengangkat satu alisnya dengan senyum lelah.


"Ah, apa hari ini kau akan ke SMP Teikou lagi, Miho?" tanyaku saat kami berkemas. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan teman-temanku yang lain sudah pulang duluan karena sudah menyelesaikan tugas mereka.

"Iya, Akashi-kun memintaku datang bagaimanapun caranya hari ini," balas Miho, aku mengangguk.

"Perlu kutemani?" tawarku, Miho terdiam sejenak.

"Apa tidak apa-apa? Bukannya nanti kau akan kemalaman pulangnya?" aku tersenyum menanggapi pertanyaan khawatir Miho.

"Tenang saja, tidak apa-apa kok! Jadi boleh aku ikut?" Miho pun akhirnya mengangguk. Aku pun segera menggandeng lengan Miho. "Ne, ne, memangnya untuk apa Akashi-kun memanggilmu hari ini?"

Miho mengangkat bahu, "Aku juga tidak tahu,"

"Hmm," aku menaruh telunjukku di dagu. "Apa dia ingin menyatakan perasaannya padamu?"

Miho langsung berhenti berjalan. Aku pun menghentikan langkahku spontan.

"J-jangan berkata sembarangan!" wajah Miho memerah. Aku menyeringai.

"A~~h, pasti menyenangkan kalau dia benar-benar menembakmu~" gurauku. Miho mengerucutkan bibirnya.

"Su-sudah kubilang jangan berkata sembarangan, nanti kalau aku terlalu berharap bagaimana? Mau tanggung jawab?" ucap Miho. Aku terdiam dan tertawa hampa.

"M-maaf," balasku.

.

.

.

.

.

Tak terasa, kami sudah sampai di depan gerbang SMP Teikou. Tentu saja kami langsung menuju tempat tujuan, yaitu gym tempat latihan basket. Di tengah jalan, aku melihat helaian berwarna pink dan biru tua. Huh? Momo-chan dan Aomine-kun?

Ah, iya, waktu aku pertama kali berkunjung dan diperkenalkan oleh Miho. Momo-chan adalah orang pertama yang menyambutku dengan sambutan hangat, dan dia bilang jangan bersikap formal padanya jadi aku memanggilnya Momo-chan. Kalau tidak salah sih, Momo-chan itu teman dari kecilnya Aomine-kun ya?

"Ne, ne, Miho. Itu Momo-chan dan Aomine-kun 'kan? Sedang apa mereka di sana?" tanyaku, Miho berhenti sejenak dan menoleh ke arah yang kutunjuk.

"Ah, benar. Mereka kenapa ya?" Miho kemudia berjalan mendekat ke tempat mereka, diikuti olehku.

"Satsuki-chan, Aomine-kun, kalian sedang apa?" tanya Miho dengan suara cukup keras agar mereka berdua bisa mendengarnya. Kulihat Momo-chan dan Aomine-kun terlonjak.

Huh? Ada apa?

"O-oh, Miho. Lama tak jumpa, kenapa kau di sini?" tanya Aomine-kun kaku. Momo-chan tersenyum kaku dan badannya sedikit gemetar.

"Anoo, kau tidak apa-apa Momo-chan?" tanyaku, Momo-chan langsung menoleh ke arahku dan menggeleng cepat.

"Aku tidak apa-apa kok! Kalian mau berkunjung ke gym ya? Ayo kuantar," Momo-chan langsung mendorong kami berdua ke gym.

.

.

.

.

.

"Loh? Bukannya gym-nya berlawanan arah Satsuki-chan?" tanya Miho setelah kami beberapa lama berjalan.

"A-ah, iya, tadi siang gym-nya dipakai oleh klub voli, jadi kami klub basket disuruh latihan di gym lain." Ucap Momo-chan.

"Umm, tapi kenapa kau gemetaran dan terbata-bata Momo-chan?" tanyaku, Momo-chan langsung menegang.

"H-huh? Apa maksudmu? Aku tidak apa-apa kok, hanya perasaanmu saja mungkin," jawab Momo-chan.

.

.

Aneh...

.

.

Ini sangat aneh...

.

.

Hmmm, tapi coba kuikuti dulu deh...

.

.

"Terus, jadi apa Momo-chan mendengar sesuatu dari Akashi-kun tentang kenapa dia memanggil Miho hari ini?" tanyaku, Momo-chan kembali tersenyum kaku.

"Huh? Tidak, Akashi-kun tidak bilang apa-apa kepada kami," jawab Momo-chan.

.

.

.

Pasti ada yang mereka sembunyikan, aku yakin...

.

.

.

"Sampai!" seru Momo-chan keras-keras.

.

.

.

Lah? 'Kan tidak perlu berteriak segala...

.

.

.

Hm? Kenapa aku tidak mendengar bunyi decitan sepatu...?

Aku hampir membuka mulutku untuk bertanya, namun Momo-chan keburu membuka pintu gym itu lebar-lebar. Tiba-tiba, cahaya yang sangat terang langsung membuatku menutup mata. Tetapi sedetik kemudian cahaya itu diiringi sebuah teriakan kompak.

"Happy 365 days, Miho!"

Aku langsung membuka mataku cepat setelah cahaya itu hilang, dapat kulihat lima pemuda warna-warni tengah memegang spanduk besar bertuliskan '365 days with you'. Aku langsung menolehkan kepalaku ke arah Miho, Miho terdiam. Tercenganglah jelas, dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

Aku langsung mendekat ke arah Momo-chan dan berbisik, "Semua ini sudah terencana 'kan?"

Momo-chan langsung tertawa garing, "Apa Miho menyadarinya?"

Aku mengangkat bahu, "Sepertinya tidak, apalagi sekarang dia sudah dikonsumsi rasa terharunya jadi dia sudah tidak bisa memikirkan kemungkinan apapun,"

Momo-chan menghela napas lega, "Habisnya nanti kalau rencananya diketahui Miho, bisa-bisa kami semua dipenggal Akashi-kun,"

Aku mengangkat alis dan tertawa garing, "Segitunya 'kah?"

Momo-chan mengangguk mantap, kemudian mata Momo-chan berkilau seperti baru saja teringat sesuatu. Dia kemudian tersenyum lebar dan mendekati Miho dengan cepat.

Momo-chan kemudian menarik lengan Miho, "Saa, saa, ayo menjemput kebahagiaanmu!"

Momo-chan mengedipkan mata kirinya kepadaku, aku tersenyum dan akhirnya mendorong punggung Miho. "Nanti kebahagiaanmu keburu terbang,"

"Bo-Apa yang kalian maksudkan!?" tanya Miho histeris.

Namun aku dan Momo-chan hanya tertawa keras tanpa membalasnya, kami berdua pun menyeret Miho ke gym tempat biasa grup satu berlatih basket. Momo-chan membuka pintu masuknya sedangkan aku mendorong Miho memasuki gedung itu. Momo-chan kemudian menutup dan mengunci pintu gym tanpa memedulikan teriakan protes Miho.

"Jadi? Apa Akashi-kun akan menembak Miho?" tanyaku, Momo-chan mengangguk.

"Akashi-kun benar-benar mempersiapkan semuanya! Dia benar-benar hebat tahu!" ucap Momo-chan saat kami berjalan kembali menuju tempat pemuda warna-warni lainnya menunggu.

"Hahaha, seperti yang diharapkan dari Akashi-kun ya? Tapi ngomong-ngomong, apa maksudnya 365 hari?" tanyaku lagi, Momo-chan meletakkan telunjukknya di dagu.

"Kalau tidak salah, hari ini adalah hari dimana Akashi-kun bertemu dengan Miho-chan," jawab Momo-chan.

Aku mengangguk-angguk, "Tapi apa tidak apa-apa menguncinya seperti tadi?"

"Ah, tidak apa-apa, Akashi-kun membawa kunci cadangannya kok," jawab Momo-chan santai.

Gadis merah muda itu kemudian membuka pintu gym saat kami telah sampai.

"Haah, sepertinya aku harus pulang sendiri hari ini," gumamku sambil menghela napas kecil.

.

.

.

.

.

Setelah hari itu, tentu saja Miho mengganti statusnya dari 'single' menjadi 'taken'. Topik tentang aku dan pacarku juga seperti menghilang berkat kabar perubahan status Miho. Aku bahagia? Tentu saja... tapi ada terbesit rasa iri dalam diriku terhadap Miho.

Miho beruntung bisa mewujudkan kisah cintanya, tidak sepertiku yang hanya bisa melihat 'dia' dari kejauhan... menggandeng pacarnya...? Ah, yang benar memikirkan pacarnya.

Miris? Sangat.

Pathetic? Aku sadar kok.

Menyerah? Belum bisa.

Sakit? Pastinya.

Iri? Itu jelas.

Dendam? Kenapa aku harus dendam pada orang lain kalau yang membuat keputusan adalah aku sendiri?

Aku kembali menertawakan diriku sendiri. Aku memang menerima keputusan yang kubuat dan berniat untuk tidak menyesalinya. Tapi ketika aku sekarang berpikir kembali dan merasa ingin memperbaikinya. Jarak yang terbuat sudah terlalu jauh dan memiliki dinding tebal. Dan aku sudah tidak bisa lagi menembusnya...


"There was a place I couldn't reach no matter how much I walked."

Tsukigami Kaito ~ Limited Sky (STARMYU)


A/N::

Minna-san~ Marry Christmas~

Sebenernya niat publis dari kmaren-kmaren sih, cuma ya... gitu deh, =A=

Maa, tapi kesampingin itu semua, minna-san omedetou~

Bener-bener omedetou udah nyelesein chapter penutup dari Flashback Arc~~

Chapter depan udah mulai High School Arc nih~

Udah penasaran sama love rivalnya siapa?~

Hayoo, yang bisa tebak saia bolehin request satu ff deh~ #dor

Maa, maa, pokoknya otanoshimi ni nee~

Tentu aja, buat yang review sama readers sekalian, saia bener-bener ngucapin hontou ni arigatou~

Tetep saty tune dan pantengin cerita ini yah~

Keep calm and review! #hoi