Disclaimer : Masashi Kishimoto

Tittle : Between Hate and Love

Genre : Drama, Romance

Rate : T.

Warn(!) : OOC, typo(s), ide pasaran, Gaje, Gender-bender, Fem!Naru.

Don't like, don't reading!

Selamat membaca~

.

.

.

Menatap jalanan dari balik kaca jendela mobil mungkin adalah pilihan terakhir seorang gadis pirang yang kini duduk di samping kursi mengemudi mobil milik seorang pemuda yang beberapa waktu lalu masih bertatus musuh atau orang yang paling dibencinya sealam semesta. Gadis itu merungut dalam hati, menyembunyikan rasa malunya di balik helaian pony pirangnya yang kini semakin memanjang. Entah kenapa sekarang gadis itu merasa dirinya adalah orang yang paling tidak tahu malu sedunia.

Beberapa waktu yang lalu ia dengan bengis menampar pemuda yang duduk di sampingnya itu di hadapan ratusan pasang mata dan sekarang, pemuda itu malah mengantarnya pulang. Apa sekarang ia sudah kehilangan akal sehatnya? Dimana sikap sinis yang selalu ia tunjukan kepada pemuda itu?

"Maaf"

Sial! Gadis itu terus-terusan mengumpat mengingat bagaimana lembutnya suara pemuda tersebut saat masih di ruang kesehatan sekolah tadi. Dan yang lebih memalukannya lagi, setelah mengucapkan kata itu, Sasuke langsung pergi meninggalkannya dengan rasa terkejut yang bahkan hampir membuat detak jantungnya berhenti. Tidak sampai lima belas menit, pemuda itu kembali membawa dua buah tas yang gadis itu yakini bahwa salah satu tas itu adalah miliknya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi teman-temannya saat Sasuke masuk kedalam kelas hanya untuk mengambilkan tas miliknya. Naru ingin sekali memukul atau membenturkan kepalanya sendiri karena bisa menerima begitu saja perlakuan lembut Sasuke yang begitu tiba-tiba ini.

Terlalu sibuk dengan pikirannya yang menyalahkan dirinya sendiri, ia bahkan tidak sadar bahwa pemuda yang sedang memegang setir di sampingnya itu, sesekali mencuri-curi pandang lewat ekor matanya sambil sesekali tersenyum tipis.

Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara sepanjang perjalanan hingga sampai di depan rumah sederhana Naru. Gadis pirang itu lalu mengerjap-ngerjapkan mata karena tidak sadar mereka sudah sampai. Entah kenapa perjalanan dari KHS ke rumahnya yang biasanya hanya memakan waktu dua puluh menit terasa seperti setahun. Helaan napas keluar dari mulut si pirang karena terlalu mendramatisir.

Sasuke membukakan pintu untuk Naru dengan lebar. Mata biru gadis pirang itu menatap tepat ke kedua onyx Sasuke.

"Turunlah!" ujar Sasuke terdengar seperti perintah, tidak lupa wajah sarkastik yang ia pasang entah apa maksudnya. Naru menganga lebar mendengar perintah si Uchiha itu. Di mana kepala pantat ayam Sasuke terbentur hingga menyebabkan pemuda itu amnesia, batin Naru tidak percaya.

"Apa kau sudah lupa aku tidak bisa berjalan, Uchiha Sasuke-san?" cetus Naru berusaha tidak terdengar sinis namun memberi penekanan di bagian suffix nama Sasuke, bermaksud membuat pemuda itu mengerti bahwa ia sedang berusaha untuk bersikap sopan.

Sasuke tersenyum sarkatis membuat si pirang benar-benar harus menahan kekesalannya dengan cara meremas ujung roknya. Baru saja mereka terlihat seperti pasangan romantis, Sasuke malah bertingkah menyebalkan seperti ini.

Wait!

What?

Pasangan romantis? Apa-apaan pikirannya itu? Naru membuang jauh anggapan nistanya jauh-jauh. Sepertinya lain kali dia harus hati-hati memilih ramen instan, siapa tahu ada salah satu dari ramen itu yang membuatnya berpikir gila seperti tadi.

Sasuke lalu memposisikan tangannya di punggung dan perpotongan lutut Naru membuat gadis itu terbelalak. Ia menatap wajah Sasuke yang juga melakukan hal yang sama. Wajah mereka sangat dekat.

"Apa aku harus mengulang kalimat yang sama?" tanya pemuda itu dengan suara yang terdengar sangat sensual, Naru hampir tidak mengenali pemuda yang kini bersikap begitu intim padanya itu.

"Lingkarkan tanganmu di leherku, atau kau akan jatuh!"

Naru merutuki dirinya yang merasakan panas di kedua pipi hingga telinganya karena terngiang ucapan Sasuke di ruang kesehatan saat pemuda itu melakukan hal yang sama. Sial sial! Dengan menanggalkan kembali harga dirinya yang tinggi untuk kedua kalinya dalam sehari ini, Naru melingkarkan tangannya dengan ragu-ragu di leher putih pemuda itu. Rasa hangat kulit leher Sasuke yang bersentuhan dengan kulit tangannya seperti menjalar ke seluruh tubuhnya menghantarkan perasaan-perasaan aneh yang akhirnya berkumpul di perut dan membuatnya mual, saking gugup.

Sasuke tersenyum samar. Tanpa aba-aba ia mengangkat gadis pirang itu hingga jeritan tertahan terdengar karena Naru hampir saja terjatuh jika saja ia tidak mengeratkan tangannya di leher pemuda itu. Demi Kami-sama, gadis itu tidak pernah bermimpi akan melakukan hal seromantis ini dengan pria yang pernah di bencinya. Pernah? Ia bahkan masih membenci pemuda itu.

Sasuke menutup pintu mobilnya dengan kaki dan membawa Naru menuju pintu. Seriously, kini mereka terlihat seperti pengantin baru.

"Kau bisa membukanya?"

Naru mengangguk dan mengeluarkan kunci yang ada di sakunya dan segera membuka pintu tersebut. Sasuke lalu membawa gadis itu masuk ke dalam kamar tanpa diarahkan karena Sasuke sudah hapal detail rumah sederhana milik gadis itu meskipun baru pernah sekali datang kerumah ini.

Wajah Naru begitu menempel di dada Sasuke membuatnya bisa mendengar detak jantung tidak karuan pemuda itu.

"Uchiha?" panggil Naru pelan, ia masih menempelkan telinganya ketika pemuda itu membuka pintu kamarnya. Sasuke berhenti di ambang pintu mendengar gadis itu memanggil namanya.

"Hn?" sahutnya dengan datar. Menyembunyikan rasa aneh yang menyeruak di balik dadanya. "Kenapa jantungmu berdetak sangat cepat?" tanya gadis pirang itu dengan binar mata penasaran.

Mata Sasuke sedikit melebar mendengar pertanyaan Naru. Sekarang pemuda itu sadar bahwa si pirang yang ia gendong itu ternyata sengaja menempelkan wajah di dadanya hanya untuk mendengar debaran jantungnya yang menggila. Dengan gerakan cepat pemuda berambut model pantat ayam itu membawa Naru ke tempat tidur dan membaringkan gadis itu dengan cara yang sangat tidak berperikemanusiaan.

Bisa dibilang, ia seperti melempar gadis itu bak melempar bantal ke tempat tidur membuat ringisannya keluar karena kaki yang terkilir terhentak cukup keras di kasur.

"Teme! Kau ingin membunuhku?" semprot Naru garang. Well, akhirnya umpatan kasar gadis itupun keluar. "Hn!" Sasuke mendengus sambil memalingkan wajahnya pongah, membuat gigi gadis pirang itu bergemelutuk keras. "Dasar pantat ayam! muka tembok! Bastard!" maki si pirang sambil melemparkan bantal ke arah pemuda itu.

Sasuke mengabaikan si pirang dan berjalan keluar dari kamar itu dan menganggap sumpah serapah Naru yang membuat telinganya sedikit sakit seperti angin lalu. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai mengetik sesuatu. Setelah itu ia kembali memasukan ponselnya dan berjalan menuju dapur. Ia merasa sedikit kehausan berurusan dengan gadis pirang itu.

...

Naru memegangi perutnya yang berbunyi seperti genderang. Ia sangat lapar, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak bisa berjalan. Selain itu, rumahnya terasa sangat sepi, seperti jika ia hanya seorang diri. Apa si Sasuke itu sudah pulang, pikirnya. Cih, dasar tidak punya etika, setidaknya kan dia harus pamit kalau ingin pulang, gerutu gadis itu kesal.

Lagi-lagi perutnya berbunyi dengan cukup keras. Matanya kemudian menatap miris kakinya yang terbalut perban. Mau bagaimana lagi, dia tetap harus melakukannya semua sendiri. Saat akan berniat turun, pintu kamarnya terbuka. Gadis itu menoleh. Terkejut? Pasti. Dia pikir Sasuke sudah pulang, ternyata dia masih ada disini. Pemuda itu masuk membawa sebuah bingkisan. Matanya memicing tajam menatap gadis itu.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan suara dingin, dengusannya terdengar seperti bison yang siap menyerunduk mangsanya. "Aku lapar, aku ingin memasak" jawab Naru santai, ia mulai menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Sasuke meletakkan bingkisan yang dibawanya di lantai, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati si pirang keras kepala yang begitu percaya diri ingin ke dapur untuk memasak. "ke dapur? Dengan kondisi seperti itu?" cibir Sasuke sarkastis membuat si pirang mendengus sebal.

Naru meringis saat kakinya yang terkilir menapak di lantai, dengan sekuat tenaga ia berdiri dan mulai berjalan. Namun belum satu langkah, dia hampir saja terjatuh jika saja Sasuke tidak segera menahannya. Napas gadis itu sampai terdengar tidak beraturan karena rasa sakit di kakinya yang menjalar hingga pangkal pahanya membuatnya hampir menangis.

"Dasar keras kepala! Kalau kau tidak bisa, kenapa kau harus memaksakan dirimu?" raung Sasuke kesal, sambil membantu gadis itu duduk. Naru menunduk, tangannya terkepal di atas paha. Dia tidak menyangka bisa selemah ini di hadapan pemuda yang sangat ia benci.

Sejak kecil, Naru selalu bisa mengatasi semuanya sendiri. Ia tidak pernah merepotkan Shizune maupun orang lain saat tinggal di panti dulu. Bahkan untuk menghindari merepotkan orang lain, ia memilih untuk tinggal seorang diri di rumah sederhana yang bisa ia beli ketika memenangkan salah satu lomba ketika SMP.

"Memangnya apa yang bisa ku lakukan? Aku tinggal sendiri, aku tidak memiliki siapa-siapa! orang tua, saudara, kerabat, aku tidak punya! aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tidak seperti kau! Kau pasti memiliki puluhan pelayan yang bisa kau perintah seenaknya jika mengalami kondisi seperti ini!"

Sasuke hanya terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis pirang itu. Rasanya seperti ia sedang di tampar, kata-kata itu membuatnya sadar bahwa selama ini dia memang hanyalah pemuda manja. Sasuke lalu memeluk gadis itu. Sedikit terkejut, dan berniat untuk mendorong pemuda itu namun hatinya menolak. Pelukan Sasuke terasa hangat, membuatnya merasa tenang meskipun Sasuke adalah musuhnya.

"Maaf.."

Lagi-lagi kata maaf itu keluar dari mulut pemuda berdarah uchiha itu. Seumur hidupnya, ia hanya pernah mengucap kata maaf kepada Ibunya saja. Air mata Naru mengalir melintasi pipi putihnya. Ia tidak tahu kenapa ia menjadi secengeng ini.

"Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi, kau bisa melukai dirimu sendiri" bisik Sasuke sambil membelai lembut rambut pirang gadis itu. "Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku." sambungnya lalu melepas pelukannya pada gadis itu. Hatinya sedikit mencelos melihat jejak air mata di pipi putih si piarng. "Aku kira kau sudah pulang tadi" cicitnya sambil menunduk. Tidak sanggup membalas tatapan sendu Sasuke kepadanya. Tangan sasuke terangkat untuk menghapus bekas air mata di pipi gadis itu. Mereka saling menatap satu sama lain hingga Sasukelah yang terlebih dahulu memutus kontak mata mereka saat mengambil bingkisan yang sebelumnya ia letakkan di atas lantai.

"Aku pergi membeli ini" ujarnya sambil mengeluarkan kotak makanan dalam bingkisan tersebut. Dengan telaten ia membuka kotak itu dan memberikannya kepada Naru. "Makanlah!" Naru mengangguk lalu meraih sumpit dan memisahkannya. Naru pun mulai memakan makanan yang di berikan oleh Sasuke. Gadis itu begitu menikmati makanannya hingga tidak sadar Sasuke dari tadi mengamati dirinya.

Oh, Naru sampai lupa untuk menawarkan makanan itu kepada Sasuke saking kelaparannya. "Kau tidak makan?" tanya gadis pirang itu. Sasuke menggeleng. "Aku tidak lapar" ujar pemuda itu. Tangannya lalu terulur untuk membersihkan sisa nasi yang belepotan di sudut bibir si gadis pirang. Mata safir Naru membola dengan wajah yang memerah. Secepatnya ia mengalihkan wajah dan meredam rasa malunya dengan cara menyumpalkan makanan sebanyak mungkin ke mulut hingga membuatnya tersedak.

"Dasar bodoh!" ejek Sasuke sambil menyodorkan botol air mineral. Naru mendelik tidak suka namun tetap menerima botol tersebut dan segera meminumnya.

Hening.

Keduanya terjebak di situasi canggung.

"Uchiha, kenapa kau berbuat baik kepadaku? Bukankah kau membenciku?" tanya Naru tiba-tiba memecah keheningan di antara keduanya membuat Sasuke seperti membeku di tempat. Pertanyaan itulah yang sejak tadi ingin Naru keluarkan. Kenapa Sasuke berubah hingga sebaik ini kepadanya

"Apa ini salah satu rencanamu untuk menghancurkanku?" lagi-lagi pertanyaan yang begitu menohok Sasuke dilontarkan oleh gadis itu. Sasuke menunduk, untuk memikirkan jawaban setiap pertanyaan Naru. Wajahnya lalu terangkat untuk menatap lurus kedalam dua bola mata biru indah gadis pirang itu.

"Kau bahkan ingin sekali menendangku ku da-"

Sasuke meletakkan jari telunjuknya di bibir Naru untuk menghentikan ocehan gadis pirang itu. Lama mereka saling bertatapan hingga akhirnya Sasuke membuka mulut.

"Karna aku sudah terpesona padamu, Naru!"

...

"Bagaimana ya keadaan Naru, sudah tiga hari dia tidak masuk" celetuk Ino sambil mengaduk jus jeruknya. Rumor yang gadis pirang pucat itu dengar dari beberapa teman sekelas Naru [termasuk Hinata] bahwa Naru mengalami cedera saat pelajaran olahraga, dan Sasuke yang masuk kelas 3-B untuk mengambil tas salah satu sahabatnya itu, sukses membuatnya syok berat tiga hari yang lalu.

Hinata dan Sakura saling berpandangan sebentar, lalu mengangguk seakan memiliki pemikiran yang sama.

"Bagaimana kalau kita ke rumahnya hari ini? Aku khawatir, Naru kan tinggal sendiri" Sakura menyarankan, Hinata mengangguk cepat. Ino memegang dagunya sebentar, terlihat berpikir. "Tapi hari ini aku ada Les piano, sepertinya aku tidak bisa ikut" sesalnya dengan wajah sedih. Gadis pirang pucat itu sepertinya tidak rela jika ia tidak ikut ke rumah salah satu sahabatnya yang sedang sakit, namun apa boleh buat, ia tidak mungkin membuat Ibunya murka gara-gara membolos dari les ketat itu.

"Um, tidak apa-apa Ino-chan. Nanti kami akan menyampaikan salammu ke Naru-chan" ujar Hinata, disambut senyum terharu Ino. "Arigatou, Hinata" balasnya dengan mata yang berbinar senang. Ia menggenggam tangan gadis bermarga Hyuuga itu erat.

Ketiga gadis itu pun kembali menikmati makan siangnya, sebelum sebuah suara menginterupsi ketiganya.

"Hinata!"

Hinata mendongak, wajah sang kakaklah yang pertama kali ia lihat. Di belakang pemuda berambut panjang itu juga ada Gaara dan Shikamaru, sahabat sang kakak dan sekomplotan Sasuke tentu saja.

"Ada apa, Neji-niisan?" tanya gadis itu heran. Jarang sekali kakak sepupunya itu mendatanginya jika tidak ada keperluan yang penting.

"Aku dengar kau ingin menjenguk Naru?" Hinata mengernyit bingung, sejak kapan kakaknya suka menguping pembicaran sekelompok gadis di kantin sekolah. Apa jangan-jangan kakaknya itu sudah gila akibat mendapat peran Snow White? Pikir Hinata lebay.

"Iya, kami akan menjenguknya. Ada masalah dengan itu?" cetus Sakura sinis, sepertinya gadis berambut pink itu kesal karena ketiga pemuda tampan itu adalah teman-teman Uchiha Sasuke yang notebene adalah orang yang paling berjasa dalam membuat sahabatnya menderita.

"Calm down, Haruno. Kau tidak usah berujar sinis seperti itu" kali ini Gaara yang angkat bicara, tidak biasanya pemuda pencinta buku tebal itu mau meladeni cibiran seorang wanita. Shikamaru yang jarang tertarik dengan kejadian sosial di sekitarnya, bahkan menatap Gaara tak percaya. Sakura mendengus tidak suka, ia memalingkan wajahnya kesal.

"Maa maa, sebenarnya ada apa Niisan?" Hinata menengahi, jangan sampai perseteruan antara Naru dan Sasuke memiliki generasi baru.

Neji mendesah pelan. Ia memijat tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku. Hinata semakin menatap sang kakak yang gelagatnya makin mencurigakan.

"Kami juga ingin pergi menjenguknya"

Ha?

Ha?

Gadis-gadis itu terkejut secara bersamaan, minus Hinata. Hinata terkejut, namun tidak sampai melongo seperti Sakura dan Ino. Sakura bangkit dan menggebrak meja itu dengan keras hingga menarik perhatian para murid lain yang sedang menikmati makan siang mereka.

"Rencana apalagi yang kalian sediakan untuk mencelakai Naru, hah?" hardik si pinky geram. Sudah cukup selama ini ia diam melihat sahabatnya dibuat menderita. Napas gadis itu terlihat memburu, emosi yang ia sembunyikan akhirnya meletup-letup di ubun-ubunnya.

"Jangan menuduh sembarangan Haruno, kami tidak pernah terlibat di perseteruan Sasuke dan Naru, kalau kau ingin tahu!" ujar Neji berusaha kalem. Meskipun ia harus mengakui, baru kali ini ia melihat anak semata wayang dr. Haruno itu sekesal ini.

"Jangan bohong! Sasuke itu sahabat kalian kan, mana mungkin kalian tidak terlibat atas apa yang sudah terjadi pada Naru selama ini?" tuduh gadis itu semakin bengis, sudah tidak ada lagi sopan satun dari gelagat putri dokter ternama di konoha itu.

Gaara maju selangkah, menatap sang Haruno dari dekat, membuat gadis itu berjengit.

"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas kami ingin menjenguk Naru. Kenapa kau begitu keberatan?" Gaara membalas sinis. Sakura sudah merasakan ubun-ubunnya berasap.

"Cukup, cukup. Sakura-chan, mereka benar. Mereka tidak terlibat sama sekali" Hinata menengahi, jika dibiarkan benar-benar akan terjadi perang dunia kesekian kalinya.

Sakura menatap Hinata tidak percaya. Jadi sekarang salah satu sahabatnya berhianat, eh?

"Kau membela mereka?" tanya Sakura dengan nada tercekat. Hinata menghela napas pelan.

"Tentu saja tidak. Aku tidak membelanya, kau tau sendiri kan mereka ini sering berada di rumahku, aku bahkan pernah dengar mereka ingin merencanakan sesuatu untuk menghentikan tingkah pongah Uchiha-san" ujar Hinata panjang lebar. Sakura terdiam. Selain itu, Neji menatap adiknya sengit, siapa yang mengajari gadis itu menguping obrolan para pria, pikirnya.

"Nah, masih keberatan kami ikut?" Neji menimpali. Sakura membuang muka dan meninggalkan kantin, disusul oleh Ino yang sedari tadi hanya diam.

Sudah tidak terhitung entah berapa kali Hinata menghela napas akibat ulah orang-orang di sekitarnya.

"Kalau begitu, kita ke rumah Naru sepulang sekolah" ujar gadis itu, Neji mengangguk. Hinata pun menyusul kedua sahabatnya, meninggalkan ketiga pemuda yang masih setia memandangi punggungnya.

"Oi, Gaara!" panggil Shikamaru. Si pemuda berambut merah darah itu menoleh, dahinya berkerut. "Apa?" tanyanya datar, ekspresinya tidak jauh berbeda dengan muka tembok Sasuke. Shikamaru menguap, lalu menggaruk tengkuknya. "Tumben kau bicara sepanjang itu di depan perempuan. Apalagi Haruno, apa ada sesuatu?" tanya pemuda bertampang malas itu terlihat sedikit tertarik. Neji ikut tertarik, sedangkan Gaara sudah menghadiahi pemuda berambut nanas itu sebuah deathglatre mematikan yang bahkan lebih menyeramkan dibanding milik Sasuke.

"Apa yang kau pikirkan?" Gaara berlalu. Shikamaru dan Neji saling berpandangan.

"Jangan-jangan?" tebak Neji, Shikamaru mengangkat bahunya ringan. Apapun yang dipikirkan Neji saat ini, Shikamaru setuju.

"Pppffft" keduanya menahan tawa, lalu menyusul si panda merah itu ke kelas.

...

Mata biru Naru melotot garang ke arah seorang pemuda yang seenak jidat dan tak tahu malunya berganti pakaian di hadapan seorang gadis. Si pelaku, Uchiha Sasuke, lelaki yang merasa dirinya sangat tampan dan memiliki tingkat rasa kepercayaan diri melebihi batas kewajaran itu tidak peduli sama sekali dengan bola mata seorang gadis pirang yang sudah hampir keluar gara-gara memelototinya.

"Hati-hati, dobe. Nanti kau makin terpesona jika kau terus-menerus melotot ke arahku"

Perempatan imajiner muncul di pelipis si pirang. Demi apapun, ia lebih suka melihat monyet bugil daripada si rambut pantat ayam tidak tahu malu yang sudah tiga hari ini menginap di rumahnya itu.

"Demi Tuhan, Uchiha. Tidak adakah ruangan di rumah ini yang bisa kau tempati untuk mengganti pakaian?" kesal si pirang. Meskipun rumahnya tak begitu luas, hanya terdiri dari tiga buah ruangan, tapi tetap saja selain kamarnya ada ruangan lain yang bisa digunakan si rambut pantat ayam itu untuk berganti pakaian. Sasuke menoleh dengan tatapan mencemooh. "Cuma di di sini yang ada cerminnya. Berbeda dengan rumahku, setiap sudut pasti ada cermin" kilahnya tak mau di salahkan disertai dengan ejekan yang membuat gigi Naru bergemelutuk keras.

"Lalu kenapa kau tidak pulang saja ke rumah mewahmu itu, hah?" teriak Naru tidak terima rumahnya dibanding-bandingkan dengan rumah orang kaya, sangat dramatis. Jujur saja, menghadapi Sasuke yang sekarang jauh lebih merepotkan daripada Sasuke yang dulu. Setidaknya Sasuke yang dulu tidak akan menginap di rumahnya selama tiga hari dan bahkan sampai ikut bolos sekolah hanya karena alasan TIDAK AKAN MENINGGALKAN DOBE SENDIRIAN!

Sasuke masih bergaya narsis di depan cermin. Si pirang semakin kesal dibuatnya. Sesekali pemuda itu akan menatapnya melalui cermin dan memamerkan wajah angkuhnya yang bahkan ingin sekali Naru rusak menggunakan lilin panas.

"Cukup, Uchiha! Sebaiknya kau pulang. Apa kau tidak memikirkan orang tua mu yang mungkin saja sedang seperti orang gila mencarimu di luar sana?" raung si pirang keras, sebelah tangannya menjambak gemas surai pirangnya sendiri. Sasuke hanya mengangkat bahu ringan.

"Kau tahu, orang tuaku tidak mungkin seperti itu" balas Sasuke acuh. Keluarganya itu Uchiha, ingat? "Aku sudah memberi tahu mereka bahwa aku sedang menginap di rumah Neji karena banyak tugas" lanjutnya lagi dengan tampang tanpa dosa. Kini ia sudah menyandarkan punggungnya di kusen jendela kamar gadis itu, sambil melipat tangan di depan dada.

Naru mengusap wajahnya kasar. Ingatkan ia untuk menjejalkan kepala pantat ayam pemuda itu ke bak cuci piring saat ia benar-benar sembuh. Ia bahkan tidak habis pikir bisa-bisanya Sasuke menipu orang tuanya sendiri. Sudah berapa banyak uang yang ia habiskan untuk menyogok pihak guru untuk tidak melaporkan perihal absennya si putra bungsu pemilik sekolah elit tempat mereka menimba ilmu itu. Cih, Uchiha dan kekuasaannya, cibir si pirang dalam hati.

"Kau sudah membohongi orang tuamu, dasar durhaka!" Naru menyindir dengan tatapan mata sengit, Sasuke balas menatap dengan tatapan bosan "mereka tidak keberatan untuk ku bohongi" acuh Sasuke membuat si pirang makin gatal ingin menarik rambut pemuda itu.

"Dasar ka-!"

Perkataan Naru terhenti saat Sasuke sudah berada di hadapannya. Menatapnya intens. Seketika bulu kuduk gadis itu merinding. Ia sampai harus menelan ludahnya susah payah hanya untuk membahasi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.

"Kenapa, dobe? Kenapa kau belum bisa menerima sikap baik ku?" Naru bisa menangkap nada dingin dari pemuda itu. Ia bahkan merasa tatapan Sasuke benar-benar memojokan dirinya.

"..ha? A-apa maksudmu?" Gadis itu tergagap. Matanya mengikuti setiap pergerakan Sasuke. Pemuda itu kini mendudukan dirinya di tepi tempat tidur Naru lalu makin mendekat ke gadis pirang itu.

"Apa kau lebih suka aku berbuat jahat kepadamu, hn?"

Astaga! Hentikan! Pekik Naru dalam hati, suaranya seperti berhenti di pertengahan tenggorokannya. Sasuke terlalu dekat, saking dekatnya ia bisa merasakan aroma sampo di rambut si uchiha yang masih sedikit basah. Pemuda itu makin merapatkan tubuhnya. Kedua tangan Naru reflek menahan dada bidang Sasuke, menghentikan pergerakan pemuda itu.

"Hentikan, Uchiha!" bisik gadis itu serak. Ia mengutuk suaranya yang malah terdengar aneh.

"Kenapa aku harus ber-"

TING TONG!

Gerakan dan ucapan Sasuke terhenti saat mendengar suara bunyi bel rumah Naru. Kedua insan itu menoleh secara bersamaan. Sasuke bersumpah ingin menendang si pemilik tangan kurang ajar yang berani menekan bel itu. Sedangkan kini di otak Naru, sudah muncul beribu pertanyaan, siapa yang menekan bel pintu rumahnya? Jarang sekali, pikir gadis itu heran.

"Kenapa kau diam saja? Cepat buka pintunya!" perintah si pirang saat mendapati Sasuke tidak beranjak sama sekali. "Aku malas, biarkan saja. Paling itu hanya orang iseng" balas pemuda itu asal-asalan, pandai sekali membuat emosi gadis pirang itu seperti air laut yang pasang surut. "Gah! Minggir, biar aku yang buka" Naru mendorong Sasuke keras hingga pemuda itu bergeser beberapa centi dari tubuhnya. Saat kaki gadis itu menapaki lantai, tangannya dicegat. "Biar aku saja!" Sasuke mendudukkan si pirang lalu berjalan keluar kamar. Naru masih diam, terlihat sedikit syok. Kenapa uchiha itu memperlakukannya seperti orang yang sedang sakit keras, yang jika bergerak sedikit saja tubuhnya akan hancur berkeping-keping? Sialan! Pikiran pemuda itu benar-benar susah sekali ditebak. Kadang jahat, kadang usil, kadang baik, dan kadang bikin melting. Wajah gadis itu merah padam. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Apa yang sedang ia pikirkan?

...

Mata Sakura terbelalak saat pintu rumah berwarna coklat milik sahabatnya itu terbuka dan menampilkan sosok seorang pemuda yang sangat ia kenali. Bukan hanya si Pinky, beberapa orang yang juga berdiri di depan pintu itu sama terkejutnya dengan Sakura.

"Sasuke?"

"Uchiha-san?"

"UCHIHA?"

Neji, Hinata dan Sakura berseru dengan kompak. Gaara dan Shikamaru diam, namun mata mereka tidak bisa menampik bahwa kedua pemuda itu juga tidak menyangka hal ini akan ia temui sepanjang sejarah hidupnya, yaitu Sasuke membukakan pintu rumah seorang gadis yang notabene adalah musuhnya.

Sasuke, menatap kelima manusia yang dikenalinya itu dengan tatapan datar. Seakan tidak ada hal menakjubkan yang terjadi sama sekali.

"Ada apa kalian kesini?"

Haaaaa?

Pertanyaan sok macam apa itu? Kenapa kini pemuda itu bertingkah seolah dirinyalah si tuan rumah?

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan di rumah Naru?" teriak Sakura sangat keras dengan tangan yang terangkat ke udara, hingga Sasuke sedikit memundurkan kepalanya dan yang lainnya berjengit.

"Ku rasa itu bukan urusanmu" balas Sasuke sinis. Gaara sampai mendelik ke arah Sasuke, memberi kode kepada sahabatnya itu untuk tidak menabur garam di saat seperti ini. Sasuke hanya acuh, sama sekali tidak peduli. Well, Uchiha.

"Cih! Sudah ku bilang kan Hinata, orang-orang sialan ini memang merencanakan sesuatu terhadap Naru, kau lihat sendiri?" tuduh Sakura keras. Neji sampai memijit pangkal hidungnya karena si Pinky ini suka sekali menuduh orang dengan kejam. Sasuke menaikan alisnya, kurang mengerti dengan apa yang baru saja gadis itu katakan.

"Ada apa ribut-ribut?" tegur seseorang dari dalam.

Semua mata mengarah ke asal suara. Dan Sasuke lah yang bereaksi paling cepat. Dengan langkah lebar ia mendekati si pemilik suara, Naru, dan memegangi gadis itu karena kesulitan berjalan.

"Dasar idiot, sudah ku bilang jangan banyak bergerak dulu"

Neji bersumpah ia tidak mengenal sosok yang mirip secara fisik dengan Sasuke itu. Sejak kapan Sasuke berubah jadi pria gentle yang perhatian terhadap seorang gadis? Sejak kapan?

"Minggirlah! Kenapa kau berlebihan sekali. Sudah ku bilang aku tidak apa-apa"

"Apanya yang tidak apa-apa, kau pincang!"

"Tapi aku baik-baik saja!"

"Tidak usah membantahku!"

"Berisik!"

"Keras kepala!"

"Teme!"

"Dobe!"

"Muka tembok!"

"Rubah liar!"

"Gah!"

"Hn!"

Gaara, Shikamaru, Neji, Sakura dan Hinata mematung. Mereka seakan sedang menyaksikan drama secara langsung di depan mata mereka. Kedua manusia itu bahkan lupa bahwa bukan hanya mereka berdua yang ada di rumah itu sekarang, dan tidak ada di antara mereka berlima yang berniat melerai karena terlalu terpesona dengan interaksi intim kedua anak manusia itu yang sangat-sangat langka. Namun, Gaara lah yang akhirnya jengah terlebih dahulu.

"Kalian! Berhentilah bertengkar seperti pasangan suami istri yang sedang mendebatkan jumlah anak yang akan kalian buat"

Kalimat sinis dari mulut seorang Sabaku Gaara itu sukses membuat adu mulut antara Naru dan Sasuke berhenti berganti dengan tatapan horror keduanya. Benarkah mereka terlihat seperti itu? batin Naru dan Sasuke bersamaan.

"Naru, apa kau tidak ingin mempersilahkan kami masuk?" tanya pemuda tampan berambut merah itu setelah keheningan yang melanda beberapa detik. Naru terhenyak, merasa sudah berbuat kurang sopan karena membiarkan tamunya berdiri cukup lama di ambang pintu. Baru saja Naru akan mempersilahkan mereka masuk, Sasuke sudah menyela.

"Pulanglah! Aku tidak mengijinkan kalian masuk!" mutlaknya, sama sekali tidak ingin dibantah. Mata hitamnya terlihat serius. Oh, ayolah. Pemuda itu hanya ingin menikmati waktunya yang berharga berdua dengan si dobe, meskipun ia sendiri benci mengakuinya.

Naru yang mendengar ucapan Sasuke dengan keras menyikut perut pemuda itu keras. Sasuke melotot tidak terima, Naru menatap sinis.

"Bukan hak mu melarang mereka. Ini rumahku!" ujarnya penuh emosi. Sasuke memilih bungkam, mengusap perutnya mungkin lebih bagus daripada melawan Naru untuk saat ini. Akhirnya kelima orang anak manusia itu pun masuk ke dalam rumah setelah Naru mempersilahkan. Tidak dapat mereka tampik, kejadian hari ini benar-benar di luar nalar dan akal sehat mereka.

Sakura dan Hinata duduk di kedua sisi Naru. Gadis-gadis itu terlihat memeriksa tiap inci tubuh Naru, berharap sang sahabat masih memiliki tubuh yang utuh. Dan fokus mereka saat ini bukanlah kaki Naru yang terkilir, tapi seluruh tubuh gadis pirang itu.

"Naru, apa yang Uchiha itu lakukan di sini?" bisik Sakura, matanya melirik sinis ke Uchiha yang kini memperhatikan Naru dengan tatapan mata ala om om mesum, Sakura sampai bergidik ngeri.

Naru menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan hal ini kepada sahabatnya itu.

"Ceritanya panjang, Sakura-chan" dengus si pirang terdengar lelah. "Tapi kau baik-baik saja? Dia tidak melakukan hal yang buruk kepadamu 'kan?" tanya Sakura lagi. Persetan jika ia sekarang terlihat seperti ibu-ibu protektif. Naru menggeleng, senyum tipis nampak di bibirnya. "Syukurlah" desah Sakura lega. Padahal ia sudah sangat ingin menghajar Sasuke, si pria tidak tahu malu itu.

Sedangkan di kelompok laki-laki, Neji terlihat sedang memelototi si bungsu Uchiha, namun yang bersangkutan malah memutar bola matanya bosan.

"Jadi ini alasanmu tidak masuk selama tiga hari?" desis Neji tajam. Ia bahkan tidak habis pikir sahabatnya itu bisa melakukan hal seperti ini. "Hn" sahut Sasuke datar terdengar acuh. Neji memijit tengkuknya yang tiba-tiba pegal. "Aku bingung saat ibumu bertanya apa kau makan teratur selama tinggal di rumahku." Sasuke seedikit menegang kala Neji memberi tahukan perihal pertanyaan Ibunya. Ia memasang wajah tembok, namun telinganya ia fungsikan baik-baik.

"Aku bingung harus menjawab apa, kau saja tidak pernah menginap di rumahku. Kenapa tiba-tiba Ibumu menelfonku dan menanyakan hal itu?" sambung Neji lagi terlihat bingung. Sasuke merubah posisi duduknya, mendekat ke Neji. "Lalu, apa yang kau katakan?" desak Sasuke, Neji sampai meringsut mundur merasakan hawa jelek yang menguar dari tubuh sahabatnya itu.

"Ya aku jawab saja 'Iya'. Lagipula, aku sudah bisa menebak kau pasti sedang terlibat sesuatu yang gila" celetuk si sulung Hyuuga. Samar-samar ia mendengar desahan lega dari Sasuke, ia hanya bisa menghela napas lelah.

Di satu sisi, Sasuke bersorak dalam hati. Ternyata sahabatnya yang satu itu bisa diandalkan juga meskipun wajahnya terlihat idiot, ejek Sasuke dalam hati. Dengan begini, ia tidak akan mendengar ocehan dari sang Ibu yang protektif itu. Ia tersenyum samar-samar.

Sore itu pun rumah seorang gadis pirang terasa lebih ramai dan hangat. Meski tidak terlalu hangat, sih.

Karena obrolan ala anak muda sebenarnya tidak bisa didengar dari sekumpulan remaja itu. Sudah bisa ditebak bahwa sepanjang sore, hanya adu mulut antara Sasuke dan Naru yang terdengar. Saling memaki, mengejek, menghina satu sama lain. Namun berbeda dengan sebelumnya, pertikaian mereka kali ini malah membawa hubungan kedua cucu adam itu semakin intim.

Tidak hanya Sasuke dan Naru saja, Sakura dan Gaara juga terlihat sama. Entah sejak kapan si merah dan si pinky itu saling melempar tatapan sengit dengan mulut yang komat kamit saling mengejek.

Ah, indahnya masa muda.

.

.

.

.

FIN!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uso?

.

.

.

Bercandaaaa :P

.

.

.

.

Bersambung XD

Haha, makasih yang udah baca/review/fav/foll. Ga bisa ngomong banyak, hanya makasih ^^

Chapter ini khusus untuk SasuNaru dulu, chapter depan kyuubi nongol /kayaknya/

Ini aja idenya mentok lol XD

Btw, jangan bosan~

Thanks