The New Journey
Chapter 10: Iwatodai Go!
Minako: Hai! Maaf authornya lagi pergi. Dia bilang maaf apdetnya lama, soalnya udah mulai masuk sekolah dan tugas mulai menumpuk lagi.
Minato: Nih author alesan mulu.
Minako: Ehem... ehem... oiya, untuk chapter ini Minako Arisato akan muncul. Dan sebelum ke cerita kita bales review dulu!
Eqa Skylight : 'Minato: Ooyy Messiah itu punyaku, main pake Persona orang aja.' 'Minako: E-eh jangan berantem Ya disini aku wild card kok, kata author sih dia mau ngeluarin theo makanya dia jadiin aku wild card.' 'Minato: duh, theo muncul juga?' 'Minako: Yup! Anyway! Arigatou buat riviewnya Eqa-san.'
raymond21: 'Minako: Yup, aku wild card dab untuk Persona, kata author niatnya bentuk Personanya mirip Orpheus punyaku, tapi namanya di ganti jadi Eurydice. Hmm di sini author bilang dia juga masih bingung' 'Minato: duh nih author bener-bener... ck, ck, ck.' 'Okay, arigatou untuk riviewnya Raymond-san!
Minako: Ok! Riview sudah di balas, selamat menikmati ceritaa!
Disclaimer
Pesona series owned by Atlus.
Genres
Friendship, Family, Slight Romance.
"Minato-san!? Apa yang kau lakukan?
"Minato! Apa yang kau pikirkan!?" tanya Labrys.
"Bukan apa-apa. Sekarang panggil personamu Yu dan kalahkan Thanatos. Kalian juga, bantu pemimpin kalian ini. Aku ingin melihat kemampuan kalian semua."
"Umm... kau yakin Minato-san?" tanya Rise.
"Tentu saja." Ucap Minato. Thanatos kali ini mengeluarkan katananya dari tempatnya dan mengibaskannya ke arah Yu. Secara refleks, Yu mengarahkan evoker yang ia pegang ke kepalanya dan menarik pelatuknya. Aura biru mengelilingi dirinya dan Izanagi-no-Okami muncul dihadapannya mengahadang tebasan pedang Thanatos dengan katananya sendiri. Thanatos menarik kembali pedangnya seraya mundur dari Izanagi, begitu juga dengan Izanagi.
"Hmm... tidak buruk. Kita lihat bagaimana Dewa Kehidupan menghadapi kematian. Thanatos! Vorpal Blade!" Thanatos melakukan apa yang dikatakan oleh tuannya, ia mulai menyerang Izanagi. Kekuatan Thanatos saat menggunakan Vorpal Blade tidak dapat ditandingi, jadi Yu menyuruh Izanagi untuk menghindari serangannya dari pada mengambil resiko menahan serangannya. Tapi walaupun begitu Yu tidak tahu kalau Thanatos adalah Persona tercepat yang Minato punya. Serangan Thanatos setidaknya akan mengenai Izanagi dan... PRANK!
"Heh, aku tidak akan membiarkanmu bertarung sendiri partner." Ucap Yosuke dengan evoker yang diarahkan ke keningnya. Susano-o muncul dan memukul Thanatos hingga Thanatos terdorong kesamping. PRANK! Swisss! Tebasan senjata dari Suzuka Gongen, persona Chie sudah pasti mengenai Thanatos jika Thanatos tidak menghindar.
"Agh... aku hampir saja mendapatkannya!" ucap Chie sedikit kecewa. PRANK! PRANK! PRANK!
"Serangan fisik tidak terlalu efektif untuk melawannya! Gunakan sihir! Aku akan mencoba mencari kelemahannya." Ucap Rise memberikan bantuan support kepada teman-temannya!
"Sihir, huh? Kalau begitu, setrum dia! Ziodyne!" ucap Kanji. Dairoku Tenmaou pun menyerang Thanatos dengan Ziodyne dan kali ini serangan itu mengenainya.
"Biarkan aku menambahnya! Agidyne!" Buaarr! Agidyne yang diberikan oleh Amaterasu milik Yukiko juga mengenai Thanatos. PRANK!
"Biarkan aku menambahnya lagi Teddyne!" ucap Teddie. Persona Teddie pun mengeluarkan Bufudyne dan juga mengenai Thanatos.
"Biarkan aku membantu." PRANK! Persona dengan kepala tengkorak dan jubah serta kepalanya ditutupi kap jubahnya muncul di depan Haru.
"Deimos, mudoon!" Deimos pun mengarahkan tongkat emas dengan kepala tengkorak di ujungnya ke arah Thanatos. Namun, serangan dari Deimos sama sekali tidk berpengaruh terhadap Thanatos.
"Tch. Kegelapan tidak bekerja." Ucap Haru. Walaupun serangan mudoon Deimos tidak berpengaruh pada Thanatos, namun tiga serangan berturut-turut yang sebelumnya membuat Thanatos kewalahan.
"Ughh... tidak buruk. Heheh." Ucap Minato menahan rasa sakit yang ia rasakan karena serangan mereka terhadap Thanatos. Minato pun menunjukkan seringainya.
"Ahh! Aku menemukan kelemahannya! Naoto-kun gunakan Hamaon!" ucap Rise tiba-tiba.
"Hamaon... baiklah kalau begitu." PRANK! Naoto menembakkan evoker ke kepalanya. Personanya pun muncul dan menyerang Thanatos dengan Hamaon.
"Heh, itu tidak akan berhasil." Ucap Minato sambil melemparkan sebuah boneka, Homunculus, ke depan Thanatos. Homunculus pun menghilang akibat Hamaon, menggantikan Thanatos. Thanatos pun kembali bangkit setelah menerima serangan berturut-turut yang mereka lontarkan.
"Tadi itu kombinasi yang sangat bagus. Tapi, ini baru saja dimulai." Ucap Minato melihat ke arah sembilan Persona yang berdiri di hadapannya dan Thanatos.
"Hei, kau yakin akan melawan sembilan Persona-user sekaligus? Tidak membutuhkan bantuan?" tanya Junpei kepada Minato.
"Nah, kalian tahu kalau Thanatos adalah salah satu dari tiga Persona terkuatku. Dia tidak akan bisa dijatuhkan dengan mudah." Ucap Minato.
"Oh... baiklah kalau begitu." Ucap Junpei.
"Serang!" perintah Minato kepada Thanatos, Thanatos pun maju ke arah delapan Persona yang ada didepannya dengan katana di tangan. Slash!
.
.
"Huff... huff... huff... m-man tadi itu melelahkan." Ucap Kanji sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Huff... y-yeah... sangat melelahkan." Ucap Chie.
"Wow! Kalian benar-benar hebat!" ucap Fuuka.
"Huff... yah... huff... aku ucapkan selamat pada kalian karena telah mengalahkan Thanatos." Ucap Minato kelelahan.
"Huff... yeah, kita berhasil." Ucap Yu yang juga kelelahan.
"Hahaha... mereka benar-benar mengalahkanmu Minato! Aku pikir kau akan menang." ucap Junpei.
"Heh... aku belum mengeluarkan kemampuanku yang sebenarnya. Dan lagi pula Thanatos bukan Ultimate Personaku. Tapi dengan mengalahkan Thanatos, itu sudah cukup membuktikan kalian sangat kuat dan kerja sama kalian sangat baik." Ucap Minato.
"Thanks Minato-san."
"Oh ya, aku ingin memberi tahu kalian kalau Sabtu ini kami akan pergi ke Iwatodai." Ucap Minato.
"Untuk apa, kuma?" tanya Teddie.
"Kami ingin menjemput teman kami, ia akan membantu kita menyelesaikan kasus ini." Ucap Junpei.
"Bolehkah aku ikut? Kakek sudah meminta kerja sama dengan kepolisian di Iwatodai untuk mencari pelaku itu dan aku harus mengurusi beberapa hal." Ucap Naoto.
"Tentu saja boleh. Ah! Mitsuru-senpai bagaimana kalau kita mengajak mereka semua ke Iwatodai?" tanya Yukari.
"Ya aku berharap kau membolehkan mereka ikut, Mitsuru-san." Ucap Labrys dengan sedikit nada memohon.
"Ya, aku pikir tidak ada salahnya kita membiarkan mereka ikut." Ucap Akihiko menambahkan.
"Baiklah, baiklah. Kita semua akan pergi." Ucap Mitsuru sambil tersenyum.
"Yahooo! Ini akan menyenangkan, kuma! Aku harus mengajak kencan para wanita dari Shadow Operatives saat sampai di Iwatodai." Ucap Teddie dengan suara yang menurutnya hanya bisa didengar olehnya, tapi ternyata Minato mendengar perkataan Teddie lalu memberi death glare pada Teddie.
"Teddie, aku akan mengirimmu ke neraka kalau kau berani menyentuh mereka." Ucap Minato dengan nada datar namun cukup untuk membuat Teddie merinding.
"*Gulp* a-aku hanya bercanda." Ucap Teddie ketakutan sambil ngesot err... melangkah sedikit, menjauhi Minato.
"Pertemuan hari ini sudah selesai, kalian bisa pergi sekarang. Lagi pula hari sudah mulai gelap, kalian harus pulang."
"Ya, aku hampir lupa kalau aku harus membantu di Junes malam ini." Ucap Yosuke.
"Well, selamat bekerja Yosuke." Ucap Teddy.
"Hei, jangan katakan kau lupa kalau kau juga ikut membantu Teddie."
"APAAA!?" teriak Teddie.
"Geez, kau a-kan mem-ban-tu-ku di Ju-nes ma-lam i-ni." Ucap Yosuke dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Baiklah kalau begitu, kami akan pergi. Terima kasih atas evokernya Kirijo-san." Ucap Yu seraya menundukkan tubuhnya sedikit.
"Bukan masalah."
"Sampai jumpa besok Naoto, ah ya aku akan menunggumu di tempat biasa saat makan siang." Ucap Yu.
"Ah, ya. Tunggu aku di sana kalau begitu. Hati-hati di jalan Senpai." Jawab Naoto. Naoto tersenyum ke arah Yu dan Yu juga tersenyum kepada Naoto.
"Sampai bertemu lagi, Labby-chan."
"Sampai bertemu lagi, Teddie dan kalian semua."
"Sampai bertemu besok Minato-san." Ucap Haru sambil menyunggingkan senyum.
"Hm? Ah ya." Jawab Minato singkat.
Anggota IT plus Haru pun pergi ke arah pintu masuk rumah itu dan keluar, kembali ke habitat umm... ke rumah mereka masing-masing. Setelah mereka semua pergi, naoto menghampiri Minato.
"Onii-san, keberatan kalau kau ikut denganku sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua saja denganmu." Bisik Naoto kepada Minato. Minato melihat ke arah Imouto-nya itu, merasa bingung dan heran (Author = sama aja perasaan._.). Mengesampingkan perasaan herannya itu, Minato mengangguk, lalu ia pergi mengikuti Naoto ke lantai dua dengan tatapan heran yang diberikan oleh teman-temannya.
Naoto's POV
Aku naik ke lantai dua rumahku dengan Onii-san di belakangku sesaat teman-temanku telah pergi. Aku memutuskan kamarku sebagai tempat untuk berbicara dengan Minato-nii. Sesaat kami berdua telah masuk, aku menutup pintunya. Aku pun menghadapkan diriku padanya. Minato-nii masih menatapku heran, aku pun memulai berbicara.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Soal kemarin malam, kenapa kau tidak mau menjadi detektif?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Hm? Kenapa? Aku ingin menjadi sesuatu yang lain." Ucap Minato-nii.
"Apa itu?"
"Aku akan masuk ke jurusan psikologi saat kuliah nanti. Kau bisa menebak apa yang aku inginkan dari sana."
"Aku ingin menjadi sesuatu yang lain. Aku tahu itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Aku tahu alasanmu, kau tidak bisa berbohong padaku sekarang. Bahkan kau berpikir kalau aku hanya anak kecil bukan? *Sigh* aku bukan anak kecil lagi Onii-san."
"Aku tidak pernah berpikir begitu."
"Lalu kenapa? Kau berpikir kalau kau menjadi detektif maka kesempatanku untuk menjadi detektif akan hilang. Aku memang bukan anak tertua dari ayah, dan aku memang bukan seorang laki-laki. Tapi kau tahu... aku benci diremehkan. Jadi... Onii-san, kalau kau kakakku tolong berhenti melihatku dari sudut pandang orang-orang yang meremehkanku." Ucapku sambil menundukkan kepala dan menatap ka lantai. Untuk suatu alasan aku berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Onii-san ku.
"Maafkan aku... kau benar. Secara tidak langsung aku sudah meremehkanmu. Dulu aku pernah berkata padamu, kalau aku akan menjadi detektif yang hebat suatu saat nanti. Kalau dipikir-pikir lagi sepertinya perkiraanku benar. *Chuckle* kau sudah menjadi detektif yang hebat sekarang." Ucap Minato-nii sambil tersenyum. Minato-nii pun mengatakan sesuatu lagi kepadaku.
"Baiklah, aku akan mengambil kasus itu. Hmmm... bagaimana kalau kita jadi partner?" ucap Minato-nii sambil tersenyum. Aku terkejut dengan tawaran Minato-nii. Berpartner dengan Minato-nii, aku sangat menginginkan itu waktu aku kecil dulu. Bisa menyelesaikan kasus bersama kakakku.
"Menjadi partner? Sungguh?" tanyaku, memastikan kalau yang aku dengar bukanlah kesalahan.
"Ya, kau bisa menunjukkanku beberapa hal. Lagi pula sudah lama aku tidak melakukan pekerjaan ini, aku pikir aku akan membutuhkan beberapa arahan."
"Tanpa arahan pun aku sangat yakin kau sudah sangat ahli dalam memecahkan kasus. Tapi, baiklah. Lagi pula akan lebih menyenangkan kalau menyelesaikannya bersama." Ucapku sambil tersenyum. Ya kasus ini akan lebih menyenangkan kalau diselesaikan bersama.
"Bagus kalau begitu. Aku akan membawa berkas itu bersamaku untuk ku lihat malam ini."
"Ah ya, sebentar aku akan mengambil berkasnya." Aku pun berjalan ke arah meja belajarku dan menarik salah satu laci meja itu hingga tebuka. Aku mengambil berkas-berkas yang terusun rapi di dalam sebuah map dan menutp kembali laci meja itu.
"Ini berkasnya. Kita masih membutuhkan bekas-berkas dari Mitsuru-san untuk dapat mempelajari ini lebih lanjut."
"Ya, aku akan meminta berkas-berkas itu pada Mitsuru nanti. Kalau begitu aku akan kembali ke bawah."
"Baiklah kalau begitu."
Minato-nii pun berjalan dan membuka pintu kamar. Ia berhenti saat setelah membuka pintu itu dan berkata padaku.
"Oh Naoto. Terima kasih." Ucap Minato-nii sambil tersenyum. Senyuman tulus yang hanya ia berikan pada orang yang dekat dengannya saja.
"Ah ya, umm sama-sama." Ucapku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Minato-nii pun menutup pintu. Sekarang aku tidak perlu khawatir lagi. Hmm, aku pikir aku akan pergi mandi sebelum makan malam.
End of POV
.
.
Malam telah tiba. Seluruh penghuni rumah itu telah terlelap dalam mimpi. Begitu juga dengan protagonis kita. Ia sedang berada dalam mimpi sekarang, bukan sembarang mimpi. Minato terduduk di sebuah kursi, ia berada di sebuah tempat seperti di dalam sebuah kendaraan, penuh dengan botol minuman, seperti wine, sampanye, dan bir. Di depannya ada sebuah meja dan dua sofa. Ia dapat melihat empat orang yang tak asing baginya. Yang pertama memiliki hidung panjang, seakan-akan ia adalah putra tunggal dari Pinokio, hanya saja ia tidak terbuat dari kayu. Mungkin kakek pembuat pinokio kehabisan kayu (?). Lupakan bagian Pinokio itu. Ia memakai sebuah setelan jas hitam dengan kemeja putih, bola matanya juga terlihat besar seperti sebuah mata boneka. Hmm mungkin pria ini akan lucu dalam bentuk boneka... Err, tapi kalau dipikir-pikir lagi tidak akan ada anak-anak yang mau main dengan boneka berbentuk seperti dia (#digetokIgor). Ehem... ehem. Mari kita lanjutkan, orang selanjutnya yang ia lihat memiliki rambut yang bergelombang cukup panjang serta berwarna platina, ia juga memiliki mata berwarna kuning emas. Ia juga memakai sebuah seragam berwarna biru dan memegang sebuah buku yang ukurannya seperti kamus oxford bahasa inggris hanya saja lebih besar. Lalu orang selanjutnya terlihat seorang pria. Ia terlihat seperti pria berumur 20 tahunan dan yang pasti terlihat lebih muda dari wanita berambut bergelombang di sebelahnya. Pria ini memiliki warna mata yang sama dengan wanita di sebelahnya dan rambut putih (atau silver?) pendek. Pria ini juga mengenakan pakaian dengan desain yang sama dengan wanita di sebelahnya, hanya saja ia memakai sebuah topi dan ia terlihat seperti seorang bell boy. Ia juga memegang sebuah buku yang sama besarnya dengan wanita di sebelahnya. Lalu yang terakhir, orang yang tidak asing bagi Minato bahkan sangat dekat dengannya. Seeko―ehem seorang wanita dengan rambut blonde pendek yang memakai sebuah satu set seragam biru lengkap dengan topi, tentu saja desainnya sama dengan dua orang lainnya. Ia terlihat lebih muda dari wanita berambut bergelombang dan pria beramput putih (atau silver?) itu. Tapi walau ia kelihatan lebih muda, sebenarnya ia sedikit lebih tua dari pria berambut putih (atau silver?) itu.
"Welcome to the Velvet Room." Ucap Pria berhidung panjang yang memiliki nama Igor. Pria itu mengucapkan kata-kata ajaib yang sudah tak asing di telingan Minato. Tentu saja, waktu dua tahun yang lalu setiap kali Minato masuk ke Velvet Room, sudah pasti kata-kata ini yang ia dengar pertama kali. Entah karena pengetahuan Igor tentang vocabulary sangat kecil atau ia terlalu malas berpikir untuk membuat kalimat sambutan baru.
"Lama tak bertemu Igor." Ucap Minato sambil tersenyum, tak menyangka ia akan bertemu dengan orang yang membantunya dulu.
"Ya, lama tak bertemu Master Minato. Aku senang bisa melihatmu lagi." Balas Igor.
"Master Minato! Aku tidak sempat mengatakan ini, selamat datang kembali." Ucap wanita berambut blonde pendek yang bernama Elizabeth dengan nada riang gembira.
"Senang kau kembali. Master Minako pasti akan senang mendengar berita ini." Ucap pria berambut putih (atau silver?) yang bernama Theodore atau sering kali dikenal sebagai Theo.
"Selamat datang kembali, Master Minato." Ucap Wanita dengan rambut bergelombang yang tidak lain bernama Margaret.
"Thanks. Aku pikir kontrak kita sudah selesai. Jadi, ada apa kau memanggilku kemari? Tidak mungkin kau memanggilku hanya untuk mengucapkan selamat datang kembali."
"Ya, kontrak kita memang telah selesai. Tapi kau telah kembali dan aku ingin memberitahumu kalau kau sekarang berada dalam petualangan baru. Kembalinya kau ke dunia ini bukanlah tanpa arti. Kau kembali di saat suatu kejadian muncul dan menimpa teman-temanmu serta penerusmu, Master Yu Narukami, dan teman-temannya. Ada tujuan yang harus kau penuhi dalam petualanganmu yang baru, dan aku ingin memberitahumu kalau aku akan ada di sini untuk membantumu."
"Begitu. Ah ya ngomong-ngomong, kenapa aku bisa kembali? Apa yang terjadi dengan Nyx?"
"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu yang pertama."
"Apa maksudmu?"
"Well, kaulah yang harus menjawab pertanyaan itu sendiri. Ada beberapa hal di dunia ini yang sebaiknya kau temukan sendiri, dan pertanyaanmu yang pertamalah salah satunya."
"Baiklah, kalau begitu jawab pertanyaanku yang kedua. Apa yang terjadi dengan Nyx?"
"Untuk Nyx. Kau tidak perlu khawatir dengannya. Erebus tidak akan muncul hingga tahun depan, jadi kau tidak perlu khawatir tentang Nyx sementara ini. Sekarang aku sarankan, sebaiknya kau fokus dengan apa yang sedang kau hadapi saat ini, Master. Dan aku ingatkan berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitarmu."
"Ya, terima kasih atas peringatanmu."
"Hanya itu yang ingin kuberitahu. Sampai kita bertemu lagi, selamat tinggal."
.
.
|Sabtu, 13 Mei 2012|
Buuuuuuuzzzzzzzhhhhhh (#Author: itu suara pesawat, maklum author gak pernah naik pesawat jadi begitulah hasilnya.) Bandara dipenuhi oleh hiruk pikuk orang-orang baik yang mau pergi atau pun yang baru turun dari pesawat. Protagonis kita dengan teman-temannya, minus anggota IT dan Haru yang sedang jalan-jalan di Port Island bersama dengan Labrys sebagai pemandu mereka, sedang berada di suatu area untuk menunggu Minako yang sebentar lagi akan sampai. Minato mengenakan sebuah jaket dan menutupi kepalanya dengan kap jaketnya itu. ia memakai pakaian itu supaya ia sulit dikenal oleh beberapa temannya di Iwatodai. Bisa gawat kalau semua temannya tau kalau Minato hidup kembali.
Biip... biip... biip.
"Moshi... moshi..." ucap Akihiko.
'Aki! aku ingin memberi tahu kalau aku sudah sampai di bandara.' Jawab Minako dari seberang telepon. Akihiko pun memberikan handphone-nya kepada Minato dan berkata atau lebih tepatnya berbisik kepadanya.
"Buat dia terkejut. Hehe..."
Minato pun mengangguk dan mengambil handphone-nya. Sementara itu Minako sedang berjalan sambil membawa kopernya. Ia bingung kenapa Akihiko tidak menjawab lagi.
"Aki? Kau masih di sana?"
'Kami ada di tempat tunggu, cepatlah kemari.' Ucap Minato. Tuut tuut tuut. Minako dapat mengetahui kalau teleponnya telah di putus. Tapi rasanya itu tidak seperti suara Akihiko, tapi ia yakin kalau yang pertama kali menjawab teleponnya adalah Akihiko.
"Hmm... itu bukan suara Akihiko, tapi suara itu tidak asing... apa itu Junpei? Tidak suaranya tidak seperti itu saat dia meneleponku tiga hari yang lalu. Ahh aku tahu! Itu pasti suara Ken, mungkin suaranya sudah memberat. Tapi... Ken tidak pernah sedingin itu kalau berbicara dengan orang lain. Hmm..." Gumam Minako sambil berjalan ke tempat dimana teman-temannya menunggu seraya menenteng kopernya.
"Hei! Mina-tan! Di sini!" teriak Junpei sesaat ia melihat Minako.
"Sshhh Stupei, jangan berteriak di tempat umum..."
"Hei berhenti memanggilku 'Stupei' Yuka-tan."
Minako pun berjalan mendekati mereka semua dan Akihiko memeluknya sesaat ia berada dalam jarak yang dekat. Akihiko pun dengan berat hati melepaskan pelukkan singkatnya dengan Minako. Minako pun melihat tubuh Akihiko dari kepala hingga kaki.
"Senpai, apa yang kau lakukan selama satu tahun ini? Kau terlihat... umm." Ucap Minako setelah melihat tubuh Akihiko yang lebih besar dan berotot itu. Bukan berarti Minako tidak menyukai Akihiko yang sekarang, hanya saja ia penasaran bagaimana Akihiko bisa berubah begitu pesat dalam waktu satu tahun yang singkat.
"Tentu saja aku berlatih. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu?"
"Aku sangat baik." Ucap Minako sambil tersenyum.
"Hei Minako, aku sangat merindukanmu kau tahu." Ucap Yukari sambil memeluk sahabatnya itu lalu melepaskannya.
"Ya aku juga sangat merindukanmu Minako-chan." Ucap Fuuka yang juga memeluk Minako lalu melepaskannya.
"Ya aku juga sangat merindukan kalian semua." Ucap Minako dengan nada riang gembira khas miliknya.
"Hei Aigis!" ucap Minako dan lalu memeluk Aigis sesaat menyapanya.
"Minako-chan! Senang kau kembali, kami semua sangat merindukanmu." Minako pun melepaskan pelukkannya.
"Hei Minako, bagaimana kalau kau memberikan sahabat baikmu sebuah pelukkan juga." Ucap Junpei, sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya.
"Hah! Itu hanya terjadi dalam mimpimu Junpei. Aku tidak akan pernah membiarkan Minako memeluk laki-laki lain." Ucap Akihiko dengan super duper protektif mode on.
"Hehe... masih The Old Pervert, Junpei Iori. Kau tidak pernah berubah Junpei." Ucap Minako tersenyum.
"Kenapa aku harus berubah, ayolah semua orang lebih suka The Funny Junpei Iori yang dulu hingga sekarang." Ucap Junpei dengan percaya dirinya.
"Sheesh, Stupei." Ucap Yukari sweetdropped.
"Hahaha, well well Iori. Ngomong-ngomong, aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Tapi, apakah tidak apa-apa untukmu mengambil liburan lebih awal dan kembali ke Jepang untuk membantu Shadow Operatives?"
"Nah, tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah menyelesaikan cukup banyak mata kuliah jadi aku bisa mengambil libur lebih awal. Kau tidak perlu khawatir Mitsuru-senpai. Oya dimana Ken?" tanya Minako.
"Huh Ken? Dia bilang maaf tidak bisa datang, katanya dia harus mengerjakan tugas bersama teman-temannya." Ucap Junpei.
"Ah begitu, lalu siapa orang yang menjawab teleponku setelah kau Senpai?"
"Oh itu? Orang itu yang menjawabnya." Ucap Akihiko sambil menunjuk ke arah Minato.
"Abaikan saja aku Minako." Ucap Minato kepada Minako. Minako lalu melihat ke arah Minato tanpa mengetahui kalau itu adalah Minato, yap kap jaket yang di pakai Minato membuat Minako agak kesulitan untuk mengenalinya.
"Eh kau... siapa...? Tunggu, jangan katakan kau ini..." ucap Minako seraya membuka paksa kap jaket Minato.
"Onii-chan!?"
"Ssshhh... bisakah kau memelankan suaramu. Geez... kau benar-benar adik yang berisik."
"M-mustahil, kau pasti ha-ha-ha-ha..." Minato sudah menduga apa yang akan dikatakan Minako. Dan tiba-tiba...
"hachoo!" Minako bersin tepat di wajah Minato. Yuck! Minato cepat-cepat mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengelap wajahnya.
"Geez! Apa yang kau lakukan!?" ucap Minato sambil memasukkan sapu tangannya kembali dan memakai kap jakernya.
"Ah maaf, tapi... apa itu benar-benar kau?" tanya Minako sekali lagi untuk memastikan.
"Kau pikir siapa lagi." Ucap Minato. Lalu Minako dengan segera memeluk Minato.
"Aku merindukanmu, Nii-san." ucap Minako berbisik kepadanya.
"Ya aku juga." Jawab Minato. Minako pun melepaskan pelukkannya dan segera menghapus air mata di pelupuk matanya.
"Hehe, bagaimana kau bisa di sini?" tanya Minako.
"Ceritanya panjang, nanti saja ceritanya."
"Ya kau benar, sebaiknya kita kembali ke asrama atau... markas rahasia? *Chuckle*." Ucap Yukari.
Sementara itu di Hagakure.
*Slurp, slurp* *Tak*
"Satu mangkuk lagi! Kumaaaa!"
"Baiklah, satu mangkuk Hagakure Bowl."
"Teddie! Ini sudah ramenmu yang ke-6." Ucap Chie.
"Aww, ramen di sini sangat enak, kuma. Dan lagi pula Mitsuru-san sudah memberikan kita uang, jadi kita tidak perlu khawatir kuma!"
"Ya, aku tahu. Tapi argghh... lupakan." Ucap Chie kesal.
"Oya kalau di pikir-pikir rasanya aneh, aku tidak pernah mengira akan ada banyak orang yang memiliki Persona seperti kita." Ucap Rise.
"Ya kau benar. Orang yang dijemput oleh Minato-san dan yang lainnya juga Persona-user. Kalau tidak salah namanya..." ucap Chie.
"Minako-san, namanya Minako Arisato-san." Ucap Naoto.
"Ah ya itu! Tunggu, nama belakangnya Arisato? Bukankah itu nama belakang Minato-san dulu?" tanya Chie.
"Kakakku pernah bilang kalau ia dan Minako-san sangat dekat, seperti kakak dan adik. Minato-nii sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Dan nama Arisato dikenakan pada nama kakakku dulu karena waktu itu kakakku ditemukan bersama dengan Minako-san dan mereka berdua selalu bersama semenjak itu."
"Ooh... begitu. Kalau kakakmu sudah menganggap Minako-san sebagai adiknya sendiri. Apa kau tidak merasa keberatan? Umm maksudku kau adiknya dan..." ucap Rise.
"Aku tidak keberatan. Onii-san bilang ia orang yang sangat baik dan mudah bersosialisasi. Jadi, kalau Onii-san sudah menganggapnya sebagai keluarga, aku pun akan menganggapnya begitu."
"Hehe, kau benar-benar orang yang baik Naoto-kun." Ucap Yukiko.
"Oh ya, kemana kita selanjutnya, setelah ini?" tanya Yukiko.
"Bagaimana kalau Paulownia Mall?" ucap Labrys.
"Ide bagus," jawab Yosuke.
"Baiklah, tujuan selanjutnya Paulownia Mall. Kumaaaa!"
Kembali ke Minato dan kawan-kawan yang sedang mengobrol di limosin.
"Ooh, jadi kau sudah menemukan keluargamu." Ucap Minako.
"Ya begitu lah."
"Kalau begitu aku turut senang." Ucap Minako sambil menunjukkan senyuman khasnya.
"Oh ya, jadi sudah sejauh mana investigasi kalian?" tanya Minako.
"Sejauh ini, kami belum menemukan pelaku sebenarnya di balik kejadian ini. Tapi kami sudah mendapat beberapa petunjuk." Ucap Mitsuru.
"Ahh begitu. Dan Persona-user lain yang kalian temukan?"
"Mereka Persona-user yang kuat sama seperti kita, salah satu dari mereka memiliki kekuatan untuk memanggil multiple Persona namanya Yu Narukami." Ucap Akihiko.
"Wild Card selain aku, Onii-chan, dan Aigis?"
"Ya, oh dan salah satu dari mereka adalah Shadow. Kedengarannya memang aneh tapi Shadow ini memiliki Persona sama seperti kita. Mungkin ini karena akibat dari perkembangan emosi di dalam dirinya."
"Kau pasti bercanda... shadow dengan Persona!? Bukankah Shadow dan Persona adalah hal yang sama?"
"Ini hanya teori sementara tapi mungkin dikarenakan kemampuan emosinya yang seperti manusia, ia jadi pengecualian. Karena perkembangan emosionalnya ia menjadi sama seperti manusia secara psikologi sehingga ia dapat memanggil Persona." Ucap Mitsuru.
"Hmm begitu. Ah lihat kita sebentar lagi sampai." Ucap Minako.
"Huh!?" gumam Fuuka tiba-tiba.
"Ada apa Fuuka?" tanya Yukari.
"Aku merasakan sesuatu. Keberadaan sesuatu yang mengendalikan Labrys dan Sho Minazuki saat itu. Aku merasakan keberadaannya di Paulownia Mall!"
"What the hell!? Bagaimana bisa ia ada di sini?" ucap Junpei
"Hmm, aku pikir secara fisik ia tidak ada di sini. Tapi aku bisa merasakan kekuatannya di Paulownia mall." Jelas Fuuka.
"Bersiap untuk bertarung. Bawa kami ke Paulownia Mall."
"Baik Nona Kirijo." Ucap sang supir.
"Alrighty! Time for action!" ucap Minako bersemangat.
"Oh Labrys dan anggota IT juga ada di sana, dan sesuatu yang aneh terjadi padi Labrys. Sebaiknya kita cepat." Ucap Fuuka sambil mendeteksi dengan kekuatan Juno. (Author: jangan tanya gimana Fuuka bisa manggil Juno dalem limosin.)
Kembali ke Paulownia Mall.
"Hei Labrys sadarlah, ada apa denganmu!?" tanya Yosuke kepada Labrys yang sedari tadi diam di tempat tidak bergerak.
"Gawat, di sini banyak orang dan sepertinya ada sesuatu yang mengendalikan Labrys." Ucap Yu.
"Labrys, kuasai dirimu!" ucap Kanji.
"..."
"Labby-chan!"
"..."
"Labrys!" ucap Naoto.
"..."
"Awas!" ucap Chie mengingatkan.
*Swish* Labrys memukul ke arah Kanji dan hampir mengenainya.
"Whooaa! What the hell? Ada apa denganmu?"
Labrys pun berkonsentrasi dan aura biru mengelilinginya dan anggota Investigation Team sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Labrys jangan!"
Minako: Yah udah selesai... hmm padahal aku baru muncul.
Minato: Ya sudahlah, yang penting kita udah dapet honor.
Minako: Aduh, kakak ini honor aja yang dipikirin
Minato: ya kalo gak ada honor, semua yang ada di cerita ini gak bakal muncul kali.
Minako: umm... iya sih. Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya? Silahkan biarkan author tau pendapat minna-san tentang chapter ini lewat riview.
Minato: ya, minna-san mendingan riview sebelum author nyuruh aku dan yang lain ngelakuin adegan aneh-aneh.
Minako: Ha...ha... Okay, arigatou sudah membaca. sampai bertemu nanti!
