Tao sangat kaget karena suaminya sudah mengetahui masalah yang dihadapi Suho. Ia sudah mencemaskan kalau suatu hari nanti rahasia ini pasti akan terbongkar. Chanyeol dan Baekhyun pun tak pernah menyangka adiknya akan berbuat seperti itu.

"I… Itu… Ti… tidak benar kan?" tanya Chenyeol terbata. Namun tak seorang pun yang menjawab pertanyaannya.

Sehun terkikih. "Semua anggota keluarga sudah menungguku di sini dan akan menghakimiku atas perbuatan yang telah kulakukan di usian empat belas tahun." Sehun menghela nafasnya. "Baik aku akan memulainya. Waktu itu aku berumur empat belas tahun. Aku dan Luhan bermain pengantin-pengantinan. Lalu apa masalahnya? Tak ada yang pernah memberitahuku bahwa apa yang kulakukan bisa menyebabkan Luhan hamil dan akhirnya jadi seperti ini."

Wufan semakin jengkel dengan sikap Sehun. "Kau pantas mati. Luhan menjadi seperti ini karena makhluk brengsek sepertimu."

Baekhyun menghampiri Sehun, mengelus pundaknya. "Tahan emosimu. Lebih baik bicara terus terang dengan ayah. Dan lihat apa yang bisa kita lakukan untuk Luhan."

Sehun dengan segera menepis tangan Baekhyun. "Semua sudah terjadi. Aku memang brengsek dan tak tau membalas budi." Kemudian Sehun meninggikan suaranya. "Aku memang mengaku salah."

"Lihat, putramu sudah hampir gila karena masalahnya." sahut Tao.

"TUTUP MULUTMU!" bentak Wufan. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Sehun. "Kenapa aku bisa memiliki anak sepertimu? Suho dan Yixing melihatmu tumbuh besar dan sangat melindungimu saat kau kecil. Tapi apa yang kau lakukan? Kau mencelakai Luhan. Kau tidak lebih buruk dari binatang buas!"

"Tapi kala itu Sehun masih kecil…" Tao terus membela Sehun.

"Sudah kubilang tutup mulutmu! Kenapa kau masih berani bicara Huang Zitao?!" Wufan melempar tubuhnya di atas sofa. "Tadinya keluarga kita akan memiliki cucu, tapi sekarang sudah berubah menjadi abu."

"Apa yang appa inginkan dariku? Aku sama sekali tidak tau apa-apa. Kejadian itu sudah lama. Dan tiba-tiba Kai memberitahuku bahwa Luhan pernah melahirkan anak lalu sakit jiwa. Aku bingung. Apa memang itu perbuatanku?" Sehun membela diri. "Saat itu aku tak paham apa artinya membuat aib. Hanya larut dalam perasaan cinta monyet. Kenapa sekarang aku harus membayarnya dengan harga yang semahal ini?"

"Benar tak ada buktinya. Siapa tahu keluarga paman Suho mencoba melemparkan tanggung jawab pada Sehun. Sehun sedang difitnah."

"Sudah jangan memperkeruh suasana, umma." Baekhyun mencoba menenangkan ibu mertuanya.

"Aku sangat yakin jika Sehun sedang difitnah orang. Semua ini karena Kai yang pandai bicara hingga semuanya seperti nyata." Tao berkelakar. "Menurutku Luhan itu ceroboh. dan Kai mengetahuinya. Kemudian ia memanfaatkan kejadian dan melemparkan kesalahan pada Sehun. Terus terang saja Suho melakukan ini tentu saja untuk mendapatkan uang."

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tao. Baekhyun segera menghampiri Tao dan memeluknya.

"Kenapa kau menamparku? Apakah aku salah bicara? Kau tak melindungi putramu sendiri malah lebih percaya kebohongan orang."

Wufan menatap tajam Tao. "Selama empat tahun ini aku sudah tertipu. Dan hari ini aku sadar. Kau sudah bernyali besar dan membuat masalah besar. Menutupi fakta pengusiran Suho dan keluarganya dari rumah ini."

"Tak ada kejadian seperti itu. Kapan aku mengusir Suho? Bukankah mereka sendiri yang ingin pergi dari sini. Apa kau sudah lupa?" sangkal Tao.

"Kalian berdua berani berbuat tapi tak berani bertanggung jawab. Nama baik keluarga kita telah kalian cemari."

"Bukan kami yang mencemari nama baik keluarga, tapi Suho dan keluarganyalah yang mencemari nama baik keluarga kita. Mereka ingin menikmati harta keluarga kita sampai-sampai harus memakai Luhan untuk merayu Sehun. Aku tak bisa membiarkan mereka menghancurkan hidup Sehun. Kulakukan semuanya untuk melindungi Sehun."

Sehun terperanjat mendengar penjelasan ibunya. Seingatnya ibunya pernah mengatakan bahwa Luhan pindah ke luar kota dan menikah di sana. "Jadi semuanya benar? Bukankah umma bilang Luhan pergi ke luar kota dan menikah di sana?"

"Kalau benar memangnya kenapa? Jika aku tak mengatakan hal itu, anak bodoh sepertimu mana mau melepaskan Luhan. Kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu. Jika masalah lama dipermasalahkan lagi rasanya sungguh aneh. Berikan mereka uang yang mereka butuhkan, aku yakin mereka akan tutup mulut."

Wufan semakin geram. "Kau masih berani untuk bicara seperti itu?"

Semua yang berada di ruangan itu menunduk. Tak ada yang berani menatap Wufan. Baru kali ini mereka melihat Wufan semarah itu.

"Suho sudah berbakti denngan keluarga kita bertahun-tahun dan ia juga sangat setia. Kalian berdua makhluk berhati busuk, sudah mencelakai mereka sampai hancur dan menempuh jalan buntu. Suho memang tak bisa melakukan apapun pada kalian, tapi aku bisa melakukannya. Kali ini aku tak akan mengampuni kalian."

Wufan meraih sebuah payung yang tergeletak di sudut ruangan dan akan memukulkannya pada Tao dan Sehun. Namun Baekhyun dengan cepat menghalangi.

"Appa jangan gunakan kekerasan. Kekerasan tak akan menyelesaikan masalah."

"Minggirlah Baekhyun! Jangan halangi aku."

"Appa kumohon… Umma sudah bersamamu lebih dari dua puluh tahun. Dia sudah melahirkan anak-anak untukmu. Dia juga sudah melewati suka dan duka bersamamu." Kali ini Chanyeol ikut memohon belas kasihan Wufan utnuk adik dan ibunya.

Tao menangis tersedu. "Benar dua puluh tahun sudah aku hidup bersamamu dan melahirkan anak-anak untukmu. Kapan aku tak melayanimu? Hari ini demi Suho kau memukulku?"

"Benar. demi Suho aku akan memukul kalian yang tidak tau diri."

BRUUKK! Wufan mulai memukuli Tao dengan payung yang ia genggam. Memukulinya berkali-kali hingga Tao jatuh tersungkur di lantai.

"Appa jangan!" Chanyeol menahan tangan Wufan. "Meskipun ayah memukuli Sehun dan Tao sampai mati, Luhan tetap tak akan bisa selamat lagi."

"Justru karena itu, akau akan memukul mereka sampai mati."

Beberapa pukulan melayang ke arah Sehun dan Tao. Mereka berdua sama sekali tak melawan. Chanyeol bergegas menghampiri Tao dan memeluknya, namun naas jutru dialah yang terkena pukulan.

"Chanyeol, ibumu tak pantas kau lindungi. Mereka semua adalah musuh bagiku."

Chanyeol merangkak ke arah Wufan dan berlutut di hadapannya. "Kumohon ayah… Jangan gunakan kekerasan lagi. Mereka adalah anak dan istrimu."

Wufan menghela nafas dan membuan payung itu ke sembarang arah. "Keluar! Aku tak pernah memiliki anak sepertimu!"

"Baik! Aku akan pergi dari rumah ini!" Sehun segera meninggalkan rumah itu. Ia tak mempedulikan Tao yang terus memanggilnya dan memohon agar dia ia tetap tinggal.

"Aku akan mengejar Sehun. LEbih baik kau tenangkan umma dulu." saran Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk.

.

.

.

Tao menangis di kamarnya, meratapi ulah Wufan padanya.

"Umma, sudah jangan menangis lagi." hibur Chanyeol. "Ayah sedang dalam keadaan emosi yang tidak baik. Jangan memperburuk keadaan."

Tao terdiam mendengar ucapan Chanyeol.

"Sekarang appa ada di ruang kerja. Dia sangat sedih dan kesepian. Bertahun-tahun ini apa umma tak bisa memahami appa? Di luar appa memang sangat galak. Tapi hatinya sangat lemah. Masalah paman Suho jangan diungkit lagi. Mengaku salah saja di depan ayah."

"Kenapa aku harus mengaku salah?"

"Seseorang memiliki anak yang gila karena Sehun. Dan anaknya pun meninggal karena kita tak merawatnya. Ini terjadi karena keluarga kita. Bagaimanapun kita semuasalah. Ayah tak akan bisa memaafkan kesalahan yang sudah umma lakukan. Apa umma sudah tidak menginginkan appa lagi?"

"tentu saja. Bertahun-tahun aku hidup dan hanya mencintainya. Mana mungkin aku tak menginginkannya lagi."

"Kalau begitu, biar aku bicara pada appa terlebih dahulu…"

"Mana Sehun?" potong Tao. Terlihat jelas bahwa ia sangat mengkhawatirkan putra bungsunya itu.

"Umma tak perlu mencemaskan Sehun. Baekhyun sedang berusaha membujuknya."

.

.

.

Chanyeol masuk ke dalam ruang kerja Wufan dengan segelas teh di tangannya.

"Mau apa kau kemari?" hardik Wufan. "Mau membela ibu dan adikmu yang tidak becus itu?"

Chanyoel menarik nafas dalam-dalam. "Aku hanya ingin mengantar teh ini untuk appa. Appa pasti lelah. Dari tadi kulihat appa sama sekali belum beristirahat." Chanyeol meletakkan cangkir teh itu di atas meja. Lalu ia mendudukan dirinya di depan ayahnya.

Untuk beberapa saat tak ada yang berbicara sepatah kata pun, hingga Chanyeol memecah keheningan di antara mereka. "Appa jangan marah lagi. Kejadian hari ini adalah sebuah pukulan telak untuk keluarga kita. Apalagi untuk Sehun. Aku tau bagaimana perasaan appa pada keluarga paman Suho. Aku juga tau, appa pasti menyesal dan merasa sangat bersalah. Tapi semua ini sudah terjadi. Meskipun umma dan Sehun dipukul sampai mati, semua itu tetap tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Lebih baik kita berdamai dan memikirkan cara yang tepat untuk menebus dan memperbaiki semuanya."

Wufan tersenyum sinis. "Apakah masih ada cara?"

"Hidup paman Suho beberapa tahun ini memang sangat mengenaskan. Tapi bukankah dia masih memilikimu? Kesempatan untuk merubah keadaan sudah tiba. Mengusir Sehun hanya membuat masalah tak terselesaikan."

Wufan terdiam memikirkan semua perkataan Chanyeol. Sesaat, ia meraih cangkir teh yang tergeletak di atas meja. Menyerupt sedikit cairan di dalamnya untuk menenangkan diri. Mungkin apa yang dikatakan Chanyeol ada benarnya juga. Ia memandang Chanyeol dengan tatapan sendu.

"Apakah itu sakit?" Wufan menanyakan bekas pukulan di pelipis Chanyeol.

Chanyeol tersenyum. "Jika appa tak marah. Luka ini tak akan terasa sakit."

"Kau anak yang baik. Tapi aku terlalu mengabaikanmu. Dan maafkan appa, ketika kau pulang ke rumah, kami malah menyambutmu dengan cara seperti ini."

Pintu ruang kerja dibuka. Chanyeol dan Wufan menoleh dan melihat Tao masuk ke dalam.

"Apapun yang sudah kulakukan, kau telah melampiaskannya dengan memukulku bukan? Sekarang kau sudah tidak marah lagi kan?"

Wufan diam tak memberikan respon apa-apa.

"Waktu itu aku hanya ingin melindungi Sehun. Kesalahan terbesarku semata-mata hanya untuk melindungi Sehun."

Wufan tetap diam. Ia hanya menatap Tao dengan pandangan dingin.

.

.

.

"Sehun! Tunggu! Kau mau pergi kemana?" panggil baekhyun. Namun Sehun tak menghiraukan.

"Sehuunnn…" panggil Baekhyun sekali lagi.

Lagi-lagi Sehun tak menghiraukan. Justru Baekhyun semakin kehilangan jejaknya karena sekarang Sehun telah menghilang bersama taksi yang membawanya entah ke mana.

.

.

.

Sehun mondar-mandir di hadapan Kai yang hanya duduk memperhatikan sikap temannya itu.

"Sekarang apa kau sudah merasa puas?" bentak Sehun pada Kai. "Di hadapan Kyungsoo aku seperti bukan manusia lagi. Di hadapan Luhan juga tak pantas. Di depan appa apa lagi. Di hadapan siapapun aku tak pantas di sebut manusai."

"Kau aku juga merasa sedih. Aku menyesal membawamu menemui paman Suho. Karena hal itu membuat paman dan bibi semakin merasa sedih. Bahkan mereka ingin pindah dari sini untuk menghindarimu dan menghindari keluargamu." Kai menimpali.

Sehun menatap Kai dengan pandangan tak percaya. "Benarkah? Bukankah kau merasa senang karena sudah menghancurkan aku."

"Apa maksudmu? Aku sama sekali tak pernah berniat untuk menghancurkanmu?"

Sehun tersenyum sinis. "Kau tidak bisa berbohong lagi Kai. Aku tau mencintai Kyungsoo, hingga kau melakukan segala cara untuk memisahkan aku darinya."

"Jaga mulutmu Sehun! Aku tak memiliki perasaan apa-apa pada Kyungsoo. Dia sahabatku. Bahkan aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak."

"Omong kosong!" Sehun mencibir. "Kau taumasalah Luhan, tapi kenapa kau tak mengatakannya dari dulu, sebelum aku bersama dengan Kyungsoo?"

"Maaf aku masuk tanpa persmisi. Dari tadi aku mengetuk pintu tapi tak ada yang menjawabnya." suara seorang wanita menginterupsi perdebatan Sehun dan Kai.

"Noona?" Sehun sedikit kaget dengan kedatangan Baekhyun. Begitu pula dengan Kai.

"Baekhyun-noona? Kenapa kau berada di sini?" tanya Kai. "Bukankah kau berada di Italia bersama Chanyeol-hyung?"

"Aku baru tiba tadi pagi. Dan sudah disuguhi dengan hal-hal semacam ini." gerutu Baekhyun. "Dan kedatanganku kemari untuk mencari Sehun."

"Kenapa kau bisa tau jika aku berada di sini?"

"Tentu saja aku tau. Kau kira aku baru mengenalmu kemarin sore? Jika aku jadi kau…" Baekhyun menunjukk Sehun, "Aku akan menenangkan diri dan berfikir baik-baik. Langkah apa yang seharusnya di ambil."

"Langkah apa yang bisa kutempuh Noona? Aku hanya bisa menunggu sampai mati di sini. Kai tak henti-hentinya beraksi. Dia akan menggunakan masalah ini untuk memisahkan aku dan Kyungsoo. Appa mengusirku." Sehun benar-benar merasa frustasi.

"Kukatakan sekali lagi. Aku tidak pernah punya niat seperti itu pada dirimu. Banyak hal yang berada di luar kendaliku." suara Kai meninggi.

"Dengar baik-baik. Aku benci padamu Kai. Mulai hari ini aku akan bermusuhan denganmu. Jika suatu hari kau sampai jatuh ke tanganku, aku akan membuat hidupmu enggan matipun tak mau."

"Apa Luhan itu tokoh ciptaanku? Anak Luhan memangnya aku yang membuatnya lahir? Memangnya Aku yang membuat Luhan jadi seperti ini?" bentak Kai. "Jika kau berani menyakiti Luhan sekali lagi, aku juga akan membuatmu hidup segan matipun tak mau."

"Sudah jangan bertengkar lagi! Siapa yang berani rebut satu kalimat saja, aku akan membuat kalian hidup segan matipun tak mau." Baekhyun memijat pelipisnya. Ia merasa pusing mendengar pertengkaran dua orang laki-laki di hadapannya. "Sekarang kemarahan appa sudah jauh lebih tenang. Lebih baik kau tinggal di sini untuk beberapa hari dan kembalilah ke rumah setelah masalah ini mereda?"

"Mereda?" Sehuntak mengerti. Bagaimana caranya masalah ini bisa mereda? Rasanya tidak mungkin. Ia merasa justru masalah ini akan semakin rumit.

"Sekarang yang harus kita lakukan adalah memikirkan cara bagaimana caranya membantu ingatan Luhan pulih kembali tanpa melukai perasaan Kyungsoo." saran Baekhyun. "Yah, meskipun aku tidak pernah mengenal siapa itu Kyungsoo, tapi setidaknya kita harus menjaga perasaannya."

"Dia orang yang baik sekali noona. Dia sangat manis. Kau harus bertemu dengannya suatuhari nanti."

Baekhyun tersenyum mendengar penuturan adik iparnya itu.

"Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menikahinya dari dulu." sahut Kai. Rasanya kalimat itu muncul dari lubuk hatinya yang terdalam.

"Cara seperti apa itu? Aku sudah tidak mencintainya lagi. Sekarang aku hanya mencintai Kyungsoo. Jika kau bersedia menikahinya, nikahi saja dia. Aku tak sudi menikahi perempuan gila."

"Sehun!" bentak Baekhyun.

"APA?!" Sehun balas membentak.

"Saat ini Luhan membutuhkan bantuanmu. Dokter Cho Kyuhyun mengatakan bahwa jika ingin sembuh, Luhan harus bisa mengingat kejadian-kejadian di masa lalu yang berhubungan denganmu." jelas Kai.

"Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya mengingatku?"

"Dengan cara apa kita bisa mengingatkan Luhan tentang masa lalunya, bisa kita pikirkan belakangan asalkan Sehun sudah bersedia." Bakehyun mencoba menengahi.

"Aku tidak tau. Yang kupikirkan sekarang hanyalah Kyungsoo. Luhan benar-benar sudah sirna dari kepalaku."

Kai mendengus kesal. Ingin sekali rasanya ia menjitak kepala Sehun. Keadaan sudah seperti ini, tapi ia tetap saja egois. MEmikirkan dirinya sendiri. Tak peduli pada Luhan yang sedang menderita. "Sekarang lebih baik kau berterus terang pada Kyungsoo. Semua rahasia pasti akan terbongkar. Lebih baik dibuka saja dengan segera."

"Ide bagus." Baekhyun menyetujui usulan Kai.

Sehun menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Aku tidak berani melakukannya. Jika rahasia ini terbongkar, aku pasti akan kehilangan Kyungsoo."

"Dari ana kau tau hal itu? Kemampuan seorang wanita untuk menerima kenyataan ada kalanya melebihi apa yang kalian pikirkan." ujar Baekhyun.

"Benarkah?" Sehun terlihat ragu.

Baekhyun mengangguk. Ia mencoba memandang masalah ini dari sudut pandang dirinya sebagai seorang wanita. "Jika Kyungsoo bisa memaafkanmu…"

"Tapi aku sudah melupakan masa laluku bersama Luhan." potong Sehun. "Luhan itu cinta pertamaku. Dak kurasa kami hanya terikat cinta monyet saat itu. Suatu hari seluruh keluarga Luhan pergi. Ibuku bilang Luhan sudah mendapatkan suami. Aku mempercayainya. Ketika itu aku marah sekali pada Luhan. Sejak saat itu aku tidak pernah memikirkannya lagi dan berusaha melupakannya. Dan sekarang dia muncul lagi dengan kondisi yang seperti ini. Ya Tuhan! Aku bisa gila!" Sehun mengacak rambutnya frustasi.

Baekhyun benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Sehun. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. "Jika kau melihat Luhan dengan keadaan yang sekarang ini, tapi sama sekali tidak merasa bersedih dan malah teringat pada Kyungsoo, kau sungguh egois. Jika kau mau, mungkin masih ada kesempatan untuk menolong Luhan."

Kai mengangguk setuju. "Benar. Dokter Cho pernah mengatakan bahwa mantan kekasihnya diharapkan bisa membantu proses penyembuhannya. Tapi sayangnya paman Suho menolak."

"Benarkah?"

"Jika bisa mendapatkan maaf dari Kyungsoo dan membantu menyembuhkan Luhan, bukankah itu terlihat sempurna? Siapa tau ada hikmah tertentu sampai Tuhan memberikan ujian ini."

Mendengar hal itu, Sehun langsung bertekad untuk menemui Kyungsoo. "Aku akan ke rumah Kyungsoo sekarang juga."

"Tapi ini sudah larut malam. Kau kan bisa ke sana besok pagi?" Baekhyun mencegahnya.

"Aku tidak peduli. Aku bisa menunggu di depan rumahnya."

.

.

.

~~~ Bersambung ~~~

Alhamdulillah… Saya udah sembuh bahkan lebih cepat daripada yang diperkirakan :) Jadi saya bisa nulis lagi. Tapi maaf, saya gak bisa nulis panjang-panjang. karena bisanya kalau kepanjangan suka ngaco dan keluar dari jalur. Terimakasih banyak bagi yang sudah membaca dan meninggalkan jejaknya. Akan kuusahakan untuk update kilat. Wo feichang ganxie nimen :)