Disclaimer : Ilana Tan
Character :
Chanyeol
Baekhyun
In a Blue Moon
Bab Sepuluh
BAEKHYUN tersenyum menatap foto yang dikirim Park Chanyeol ke ponselnya. Foto raspberry citrus cheesecake yang disajikan hiasan indah, disertai pesan yang berbunyi,
"Menggugah selera, bukan? Tidakkah kau berharap kau ada di sini bersamaku sekarang?"
"Berita bagus?"
Baekhyun mengangkat wajah, mengalihkan pandangan dari layar ponsel dan menatap Jongin yang duduk di hadapannya.
"Maaf, apa?"
Jongin menggerakkan dagu menunjuk ponsel Baekhyun.
"Wajahmu berseri-seri. Apakah kau baru saja menerima kabar baik?"
"Oh, tidak juga." Baekhyun memasukkannya kembali ke dalam tas tangan, lalu meraih menu di hadapannya. "Apakah kau sudah siap memesan?"
"Tentu." Jongin mengangkat tangan memanggil pelayan dan mulai memesan, "Dua chili..."
"Satu saja," sela Baekhyun cepat ketika ia menyadari Jongin hendak memesan untuk mereka berdua, seperti yang selalu dilakukannya dulu. "Aku akan memesan sup labu."
Alis Jongin terangkat. "Kukira kau tidak suka labu."
Baekhyun hanya tersenyum kecil dan berkata ringan, "Selera bisa berubah."
Miranda bertopang dagu di atas meja dan menatap Chanyeol dengan heran. "Aku baru tahu kau suka memotret makanan," komentarnya.
"Aku suka melihat makanan yang disajikan dengan indah," gumam Chanyeol tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Tapi aku memotret ini untuk seseorang."
"Siapa?"
Chanyeol tidak menjawab sementara ia sibuk mengutak-atik ponselnya. Beberapa saat kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Miranda. "Kau yakin kau tidak mau mencoba cheesecake ini? Kata orang cheesecake di restoran ini yang terbaik di Chicago."
Miranda menatap cheesecake yang dipesan Chanyeol dan bergidik.
"Tidak, terima kasih. Kau tahu aku tidak bisa makan makanan seperti itu."
Chanyeol mengangkat bahu. "Baiklah," gumamnya dan mulai mencicipi kuenya.
"Kita akan pergi ke mana setelah ini, Chanyeol?" Tanya Miranda.
"Terserah kau saja. Apa yang ingin kaulihat?"
"Aku pernah mendengar tentang 360 Chicago. Bagaimanakalau kita pergi ke sana?" usul Miranda penuh semangat.
"Oke."
"Setelah itu Millennium Park dan Navy Pier. Kita bisa makan malam di sana. Oh, ya, kudengar selalu ada kembang api di Navy Pier di malam Tahun Baru..."
Chanyeol melirik jam tangan dan berkata, "Aku tidak bisa menemanimu makan malam hari ini, Miranda."
"Oh." Miranda terdiam sejenak. "Kenapa? Kau punya acara lain malam ini?"
"Ya."
Miranda menunggu Chanyeol mengajaknya menghadiri acara apa pun yang akan dihadirinya malam ini, namun Chanyeol tidak berkata apa-apa dan kembali menyantap kuenya dengan nikmat. Tunggu, ini sama sekali tidak sesuai rencana Miranda. Tujuan utamanya datang ke Chicago adalah untuk menghabiskan waktu—dan malam Tahun Baru—bersama Chanyeol. Kalau begini... "Acara apa?" tanya Miranda dengan nada yang diusahakan terdengar sambil lalu. Chanyeol tidak suka apabila ia terlalu banyak bertanya.
"Reuni dengan teman-teman seangkatanku di SMA," sahut Chanyeol.
"Apakah aku tidak boleh ikut?" tanya Miranda lagi.
Chanyeol menatapnya dengan alis terangkat. Miranda buru-buru menambahkan, "Maksudku aku tidak mengenal siapa pun di Chicago dan aku juga tidak ingin menghabiskan malam Tahun Baru sendirian di kamar hotel."
Chanyeol terlihat ragu. "Tapi kau tidak mengenal teman-teman sekolahku, Miranda. Apakah kau tidak akan merasa canggung?"
Giliran Miranda yang mengangkat sebelah alis. "Aku? Canggung?" balasnya sambil menegakkan punggung, agak tersinggung. "Chanyeol, aku pernah menemanimu ke berbagai acara di New York. Kurasa kau tahu aku bukan orang yang mudah canggung di tengah orang-orang yang tidak kukenal."
"Well, kurasa kau benar," aku Chanyeol. "Kau salah satu orang paling percaya diri yang pernah kukenal."
"Jadi?" Miranda menatap Chanyeol. "Apakah aku boleh ikut pergi?"
Apa pun jawaban Chanyeol untuk pertanyaan Miranda tidak terucap karena saat itu seorang pria bertubuh tinggi besar muncul dan menyapa Chanyeol dengan gembira.
"Park Chanyeol! Senang sekali bertemu denganmu lagi," kata pria itu dengan suaranya yang berat.
Chanyeol berdiri dan menjabat tangan pria itu sambil tersenyum lebar. "Toby," kata Chanyeol dengan nada terkejut, "kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa kabar?"
"Baik, sangat baik." Saat itu Toby Grant menoleh ke arah Miranda. "Oh, halo."
Miranda menyunggingkan seulas senyum ramah yang terlatih sempurna dan balas menyapa, "Halo."
"Apakah aku mengganggu?" tanya Toby kepada Chanyeol.
"Kau tidak mengganggu. Kami juga sudah selesai makan," kata Chanyeol.
Toby Grant mengulurkan tangannya kepada Miranda.
"Toby Grant, teman lama Chanyeol," katanya memperkenalkan diri.
Miranda menyambut tangan pria itu. "Miranda Young. Senang berkenalan denganmu."
Toby menoleh kepada Chanyeol. "Omong-omong, kau akan datang ke reuni malam ini, bukan?"
"Ya."
"Bagus. Kita akan mengobrol panjang lebar nanti. Oh, ya, Max juga akan datang." Toby kembali menatap Miranda.
"Dan kau tentu akan datang bersama Chanyeol?"
Miranda menatap Toby dan Chanyeol bergantian. "Oh, itu reuni sekolah dan aku tidak ingin mengganggu..."
Toby mengibaskan tangan. "Omong kosong. Kau harus datang. Pasti menyenangkan."
Miranda menatap Chanyeol dengan alis terangkat samar. Chanyeol tidak menjawab selama beberapa saat, hanya membalas tatapan Miranda sambil tersenyum kecil. Lalu ia berkata,
"Aku akan meyakinkan Miranda, Toby. Jangan khawatir."
Mereka berjabat tangan sekali lagi. "Aku harus pergi sekarang," kata Toby, "tapi kita akan bertemu lagi nanti malam."
Miranda mengamati Toby berjalan keluar dari restoran, lalu matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di ujung jalan. Ia bergegas mengalihkan pandangan, pura-pura tidak memperhatikan dan menyibakkan rambut merahnya yang indah ke belakang bahu. Lalu dengan kedua lengan bertumpu di atas meja, ia mencondongkan tubuh di atas meja ke arah Chanyeol sambil tersenyum lebar. "Jam berapa kau akan menjemputku?" tanyanya.
Chanyeol tertawa kecil dan menggeleng-geleng. "Kau selalu mendapatkan apa yang kauinginkan, bukan?"
Miranda menggerakkan sebelah bahunya dengan anggun.
"Aku berusaha sebaik mungkin."
In a Blue Moon
PESTA akhir tahun yang diadakan kantor Jongin ramai dihadiri berbagai tokoh penting dalam bidang ekonomi dan politik negara. Tidak ketinggalan pula para wartawan dan reporter yang sering muncul di layar kaca. Obrolan yang terdengar di sekeliling Baekhyun sebagian besar berkisar tentang masalah negara. Baekhyun bukan orang bodoh. Ia memahami topik yang dibicarakan, namun itu tidak berarti ia tertarik ikut berdiskusi tentang keputusan Senat dan kondisi saham di Wall Street.
Seolah-olah bisa membaca pikiran Baekhyun, Jongin terkekeh di samping Baekhyun dan berkata, "Pestanya akan lebih meriah beberapa saat lagi, setelah semua orang memegang sampanye dan anggur. Kau tahu bagaimana sedikit alcohol dalam tubuh selalu membuat orang-orang lebih... santai dan terbuka."
Sebagai jurnalis ekonomi, Jongin sangat cocok berada di lingkungan seperti ini. Jongin berotak tajam. Kecerdasannya terlihat dari cara bicara dan sikap tubuhnya yang penuh percaya diri. Itulah yang dulu membuat Baekhyun terpesona padanya, walaupun harus diakui bahwa kadang-kadang Baekhyun juga merasa agak terintimidasi.
Jongin tidak pernah mengajak Baekhyun menghadiri acaraacara seperti ini sebelumnya, bahkan dulu ketika mereka masih menjalin hubungan. Inilah pertama kalinya Baekhyun melihat Jongin dalam dunianya. Dan hal itu membuatnya menyadari betapa banyak yang belum diketahuinya tentang Kim Jongin.
Satu hal lain yang dilakukan Jongin yang belum pernah dilakukannya selama ini adalah ia memperkenalkan Baekhyun kepada para rekan kerja dan kenalannya. Mungkin sulit dipercaya, namun selama Baekhyun berhubungan dengan Jongin dulu, ia sama sekali tidak mengenal teman-teman Jongin.
Alis Baekhyun berkerut samar sementara ia berpikir betapa banyak yang diketahui Jongin tentang dirinya namun betapa sedikit yang diketahuinya tentang Jongin. Kalau dipikir-pikir, hubungan mereka dulu benar-benar tidak seimbang.
"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanya Jongin.
Baekhyun menatapnya dan berkata, "Hanya berpikir tentang betapa tidak seimbangnya hubungan kita dulu."
Jongin balas menatapnya dengan pandangan bertanya. Baekhyun tertawa kecil. "Kurasa aku harus berterima kasih kepadamu karena menolak lamaranku dulu," katanya dengan nada sambil lalu. "Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku saat itu, jadi aku bertindak tanpa berpikir." Jongin terdiam sejenak, menyesap minumannya, lalu berkata,
"Tapi kini aku justru berharap aku menyetujui usulmu."
Alis Baekhyun terangkat. "Apa?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu, Baekhyun," lanjut Jongin. "Apakah kau masih menungguku?"
Baekhyun ingat Jongin pernah bertanya seperti itu di dalam taksi ketika Jongin muncul setelah empat tahun menghilang. Saat itu ia tidak menjawab karena ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Kau tidak memintaku menunggu, Jongin," gumam Baekhyun pelan pada akhirnya.
"Bisakah kita memulai lagi dari awal, Baekhyun?" Tanya Jongin sambil menatap mata Baekhyun dengan sungguh-sungguh.
"Aku berjanji akan melakukan segala sesuatunya dengan benar sekarang."
"Maksudmu?"
"Kita tidak akan menyembunyikan apa pun lagi, terutama dari kakak-kakakmu." Jongin tersenyum kecil dan menambahkan,
"Aku bersedia mengambil risiko ditembak oleh mereka."
Baekhyun tertawa pendek. "Kau terlalu berlebihan."
"Bagaimana, Baekhyun? Apakah kita bisa memulai lagi?"
Sementara Baekhyun menatap mata biru muda Jongin yang hangat, ia mendadak berpikir bahwa mata biru sebiru langit malam lebih menarik daripada warna biru langit cerah di siang hari. Ia mengerjap, menyingkirkan mata biru gelap Park Chanyeol dari pikirannya, lalu mengalihkan pandangan dari Jongin. "Aku tidak tahu, Jongin," sahutnya.
"Tidak apa-apa," kata Jongin sambil mengangguk mengerti.
"Kau tidak perlu menjawab sekarang. Tapi pikirkanlah."
Otak Baekhyun ingin menerima usul Jongin. Jongin pria yang baik dan Baekhyun menyukainya, walaupun mungkin tidak dengan cara menggebu-gebu seperti dulu. Jongin juga pastinya masih memiliki perasaan untuk Baekhyun apabila ia sendiri yang mengusulkan agar mereka kembali bersama. Tidak ada salahnya mereka mencoba lagi, bukan? Mungkin sekarang Baekhyun bisa belajar mengenal Jongin lebih baik. Kakak-kakaknya juga pasti tidak keberatan karena mereka sudah mengenal Jongin sejak dulu. Tidak, tidak ada salahnya mereka mencoba lagi. Hanya ada satu masalah kecil. Hati Baekhyun tidak berdebar-debar.
Tidak semua orang suka menghadiri reuni, namun Chanyeol termasuk salah satu dari mereka yang menikmati reuni. Ia suka bertemu kembali dengan teman-teman lama dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi selama bertahuntahun setelah mereka lulus sekolah. Tetapi mungkin ia menikmati reuni karena sejak dulu sampai sekarang ia masih tetap populer di kalangan teman-temannya, terutama wanita.
Dalam dua jam terakhir ia sudah didekati oleh tiga orang wanita yang menunjukkan minat mereka dengan jelas. Dan salah satunya adalah Chloe Sanders, gadis yang dulu pernah menarik perhatiannya selama beberapa saat. Sampai ia bertemu Byun Baekhyun.
Byun Baekhyun yang saat ini sepertinya terlalu sibuk berpesta dengan mantannya sampai tidak mengangkat telepon dari Chanyeol. Chanyeol melotot menatap ponselnya sebelum memasukkannya kembali ke saku bagian dalam jasnya sambil menggerutu pelan.
Saat itu Toby muncul di sampingnya di bar dan berkata,
"Kau, Teman, sungguh beruntung bisa mendapatkan kekasih secantik itu. Di mana kau menemukannya?"
Chanyeol menyesap minumannya sebelum balas bertanya, "Apa?"
Toby menggerakkan dagu menunjuk ke arah Miranda yang sedang berdansa dengan Max di tengah ruangan, bersama pasangan-pasangan lain.
"Oh, dia? Di New York," sahut Chanyeol ringan. Ia menatap Toby yang masih tidak bisa melepaskan pandangan dari Miranda, lalu menambahkan, "Omong-omong, dia bukan kekasihku. Jadi kau bisa mendekatinya kalau kau mau." Toby menoleh menatap Chanyeol dengan alis terangkat tinggi.
"Bukan?"
Chanyeol menggeleng tegas. "Bukan."
"Tapi..." Toby kembali menatap Miranda. "Tapi katanya dia bersamamu. Tidak?"
"Tidak."
"Oh." Toby mengangkat bahu. "Kurasa kau perlu meluruskan hal itu dengannya." Chanyeol tidak berkomentar.
"Jadi," lanjut Toby, "kau tidak punya kekasih? Tidak ada wanita yang berhasil menarik minatmu?"
Chanyeol kembali menyesap minumannya. "Sedang kuusahakan."
"Jawaban macam apa pula itu?" protes Toby.
"Omong-omong," kata Chanyeol, "kau masih ingat pada Byun Baekhyun?"
Dahi Toby berkerut. "Byun Baekhyun? Kenapa nama itu terdengar tidak asing?"
Chanyeol tidak menjawab, membiarkan temannya berpikir.
"Oh!" seru Toby tiba-tiba. "Byun Baekhyun! Dia gadis kecil aneh yang—"
"Aku akan berhati-hati dengan ucapanku kalau aku jadi dirimu," sela Chanyeol datar.
"Oh?" Toby menatap Chanyeol sejenak. "Jadi kau bertemu dengannya lagi?"
Chanyeol mengangguk. "Dan aku ingin kau meminta maaf padanya karena telah bersikap mengerikan padanya di sekolah dulu."
"Apa?" Mata Toby melebar. "Meminta maaf untuk apa? Seingatku kau yang memulai serangan atas dirinya, Teman. Aku bahkan tidak melakukan apa-apa."
Chanyeol mendengus. "Kau pernah menjegal kakinya dan membuatnya jatuh terjerembap di koridor di depan semua orang."
Toby mengernyit. "Benarkah? Oh, astaga. Aku sudah lupa."
"Untuk sementara ini kau boleh meminta maaf secara tertulis. Kau dan Max, karena Max juga bukannya tidak berdosa."
Toby melirik Chanyeol. "Kau serius?"
Chanyeol menatap temannya dengan serius. "Sangat."
"Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh... enam... lima... empat... tiga... dua... satu... SELAMAT TAHUN BARU!"
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan di tengah-tengah konfeti yang betebaran dan bunyi terompet. Baekhyun juga ikut bersorak dan tertawa. Ia menoleh ke arah Jongin dan berseru, "Selamat Tahun Baru!" sebelum merangkul laki-laki itu. Ia melakukannya secara otomatis, karena semua orang di sekeliling mereka juga saling berpelukan singkat. Namun, ketika ia melepaskan rangkulannya sedetik kemudian, lengan Jongin masih merangkul pinggangnya.
Baekhyun mengangkat wajah dan mendapati Jongin sedang menatapnya sambil tersenyum kecil. "Selamat Tahun Baru, Baekhyun," gumamnya
Oh, astaga. Dia akan menciumku, pikir Baekhyun tiba-tiba.
Jangan menciumnya.
Baekhyun mengernyit. Kenapa pula kata-kata Park Chanyeol kembali terngiang-ngiang di telinganya. Oh, sial. Jongin mulai menunduk dan Baekhyun mulai panik. Apa yang harus dilakukannya?
Tepat pada saat itu Baekhyun merasa dirinya ditarik dengan tiba-tiba, membuat dirinya terlepas dari Jongin dan berputar ke dalam pelukan seseorang dengan keras. Baekhyun mendongak dan langsung berhadapan dengan wajah Nic yang berseri-seri.
"Selamat Tahun Baru!" seru Nic lantang. Ia memeluk Baekhyun erat-erat, lalu mengangkatnya dari lantai dan memutarnya satu kali sambil bersorak. Ketika ia akhirnya membiarkan kaki Baekhyun kembali menginjak lantai, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Baekhyun dan berkata, "Aku datang tepat pada waktunya, bukan? Berterimakasihlah kepadaku nanti."
"Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh... enam... lima...empat... tiga... dua... satu... SELAMAT TAHUN BARU!"
Sementara teman-temannya bersorak dan saling berpelukan, Chanyeol berjalan ke sisi ruangan, menjauhi keramaian. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada Baekhyun.
"Selamat Tahun Baru."
Ia agak kaget ketika balasan dari Baekhyun masuk beberapa detik kemudian.
"Selamat Tahun Baru, Park Chanyeol."
"Aku akan kembali ke New York lusa," ketik Chanyeol.
"Hubungi aku kalau kau sudah tiba."
Balasan Baekhyun membuat senyum Chanyeol mengembang.
"Sampai jumpa di New York."
Setelah itu ia pun bergabung dengan teman-temannya dan saling mengucapkan Selamat Tahun Baru, saling berjabat tangan, menepuk punggung, dan berpelukan. Di tengah-tengah kemeriahan itu, ia melihat Miranda berjalan menghampirinya. Chanyeol baru hendak mengucapkan selamat Tahun Bar kepadanya ketika Miranda tiba-tiba menangkup wajah Chanyeol dan menempelkan bibirnya ke bibir Chanyeol.
In a Blue Moon
"BO, di mana Alison?" tanya Baekhyun kepada Bo yang saat itu sedang memberikan instruksi kepada salah seorang karyawan dapur. Bo menegakkan tubuh dan memandang berkeliling, lalu bertanya kepada seorang karyawan magang yang sedang belajar menghias kue, "Mitch, bukankah tadi dia bersamamu?"
"Dia keluar beberapa menit yang lalu," sahut Mitch. "Katanya ada yang ingin dibicarakannya dengan Christina."
Bo kembali menoleh ke arah Baekhyun. "Akan kupanggil dia."
Baekhyun menggeleng. "Tidak usah. Biar aku saja yang menemuinya."
Hari ini adalah hari pertama Alison mulai magang di toko kue Baekhyun, karena hari ini juga adalah hari pertama George bekerja di Ramses. Baekhyun sering mempekerjakan remaja-remaja yang ditemuinya di Jump Start untuk menambahpengalaman kerja mereka sebelum mereka mulai merambah ke hal-hal yang lebih besar. Namun, sepertinya Alison termasuk orang yang tidak bisa diam, lebih bersemangat apabila berhadapan dengan banyak orang, dan tidak suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Mungkin sebaiknya Baekhyun menempatkannya di depan toko bersama Christina untuk melayani pelanggan.
Baekhyun melihat Alison sedang berbisik-bisik dengan Christina di belakang meja kasir.
"Alison, kenapa kau meninggalkan pekerjaanmu begitu saja?" tanya Baekhyun.
Alison berbalik dengan cepat dan langsung menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
Alis Baekhyun terangkat. "Ada apa?" tanyanya. Ia menatap Christina yang terlihat agak aneh, lalu kembali menatap
Alison yang serbasalah. "Apa yang kalian bicarakan tadi?" Alison menggigit bibir dan melirik Christina. Setelah ragu sejenak, Christina berkata kepadanya, "Tunjukkan saja padanya, Alison. Kurasa Baekhyun harus tahu."
Baekhyun semakin heran. "Apa? Apa yang harus kuketahui?"
Alison mendesah, lalu memperlihatkan ponselnya yang tadi disembunyikan di balik punggung. "Ini," katanya sambil mengacungkan ponselnya kepada Baekhyun. "Lihatlah."
Baekhyun menerima ponsel Alison dengan kening berkerut.
"Apa yang...?" Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, matanya menangkap judul artikel tabloid online yang terpampang di layar ponsel.
LIBURAN ROMANTIS MODEL MIRANDA YOUNG DAN TUNANGAN
Mata Baekhyun langsung beralih ke tiga foto di bawah tajuk utama. Foto-foto itu mungkin diambil secara diam-diam, namun karena kualitasnya bagus Baekhyun dengan mudah bisa mengenali Park Chanyeol di dalam foto-foto itu.
Foto pertama memperlihatkan Miranda dan Park Chanyeol di dalam restoran. Miranda mencondongkan tubuh ke arah Chanyeol sambil tersenyum sementara Chanyeol duduk bersandar.
Foto kedua adalah foto mereka berdua yang sedang menyusuri trotoar. Miranda berjalan—nyaris menempel—di samping Chanyeol. Baekhyun tidak bisa melihat dengan jelas apakah Miranda menggandeng lengan Chanyeol, namun si penulis artikel sepertinya beranggapan begitu.
Foto ketiga membuat Baekhyun terkesiap dan tangannya mencengkeram ponsel Alison lebih kuat. Setelah menatap foto itu selama beberapa detik, matanya beralih membaca isi artikel pendek itu dengan cepat.
...Model cantik Miranda Young tertangkap basah berlibur di Chicago bersama koki peraih bintang Michelin dan pemilik salah satu restoran terkenal di New York, Park Chanyeol. Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya, pasangan itu memang sudah berhubungan dekat selama beberapa bulan terakhir dan ia yakin Park akan segera melamar Miranda. Pasangan romantis itu melewatkan malam menjelang Tahun Baru di acara reuni sekolah Park dan berciuman dengan mesra tepat ketika jam berdentang dua belas kali...
"Aku yakin ini hanya salah paham." Christina memecah keheningan. Suaranya tidak terdengar terlalu yakin.
"Tapi bagaimana dengan foto ketiga itu?" desak Alison.
"Di sana mereka jelas-jelas berciuman!"
"Alison."
Baekhyun melirik foto ketiga yang mengganggu itu, lalu mengerjap, mengembuskan napas dengan pelan, dan mengulurkan ponsel itu kembali kepada Alison. "Kembalilah bekerja, Alison," katanya datar.
"Kau baik-baik saja, Baekhyun?" tanya Alison cemas.
"Tentu," sahut Baekhyun singkat.
Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Baekhyun terlonjak kaget. Ia memejamkan mata dan mendesah pelan sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya. Ia menatap nama yang muncul di layar sejenak, lalu memutuskan hubungan tanpa menjawab telepon. Ia mengangkat wajah kembali menatap Alison. "Kembali bekerja," ulangnya.
Alison melirik Christina sekali lagi sebelum berjalan dengan patuh melewati Baekhyun ke arah dapur. Ketika kembali ponselnya berdering, Baekhyun langsung memutuskan hubungan dan mematikan ponselnya sama sekali. Chanyeol sedang menurunkan ponsel dari telinga dengan alis berkerut ketika Jared muncul di ambang pintu ruang kerjanya di Ramses.
"Selamat Tahun Baru!" sapa Jared riang dan melangkah masuk. "Bagaimana liburanmu bersama keluarga?" Chanyeol menyentuh layar ponselnya sejenak, lalu kembali menempelkannya. "Seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada yang baru," sahutnya. Beberapa saat kemudian ia menurunkan ponselnya dan bergumam, "Ke mana dia?"
"Menelepon siapa?" tanya Jared.
"Baekhyun," jawab Chanyeol dan mencoba menghubungi toko kue Baekhyun.
"A Piece of Cake," suara Christina yang ramah menyapa di ujung sana. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Hai, Christina," Chanyeol balas menyapa. "Ini Park Chanyeol. Selamat Tahun Baru."
"Oh." Nada suara Christina agak berubah. "Selamat Tahun Baru."
Chanyeol memutuskan mengabaikan perubahan nada itu.
Mungkin itu hanya perasaannya. "Apakah Baekhyun ada di sana? Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak diangkat."
"Mm. Mungkin dia sedang sibuk."
Jawaban yang tidak jelas. Chanyeol bertanya lagi, "Baekhyun ada di sana?"
Jeda sejenak. "Kurasa dia sedang tidak ingin menerima telepon."
"Apa? Kenapa?"
"Kau tahu kenapa," ujar Christina singkat. "Bagaimana kalau kau menelepon lagi besok? Atau beberapa hari lagi."
Setelah Christina menutup telepon, Chanyeol hanya bisa menatap ponselnya dengan kening berkerut bingung. "Apa pula maksudnya tadi?"
"Ada apa?" tanya Jared.
"Baekhyun tidak mau menerima teleponku," kata Chanyeol pelan.
Ia mengangkat wajah menatap Jared. "Kenapa?" Jared mengangkat bahu. "Bagaimana aku tahu? Apakah kau membuatnya marah?"
"Aku baru kembali dari Chicago. Aku bahkan belum sempat bertemu dengannya atau berbicara dengannya," sergah Chanyeol. Ia terdiam sejenak, berpikir, lalu bergumam, "Aku akan pergi menemuinya untuk mencari tahu."
"Tunggu dulu," sela Jared. "Kalau dia tidak mau menerima teleponmu, kemungkinan besar dia juga tidak akan mau menemuimu. Kenapa kau tidak mencari tahu melalui orang lain?"
"Siapa?"
Jared menggerakkan ibu jarinya ke arah dapur. "Bukankah kita punya karyawan baru yang mengenal gadismu itu dengan baik?"
Lima menit kemudian...
George Morgan, mantan karyawan Baekhyun yang kini bekerja di Ramses, berdiri dengan gugup di ruang kerja Chanyeol. Matanya menatap Jared dan Chanyeol bergantian. "Anda... memanggilku, Mr. Park?" tanyanya dengan nada ragu.
Chanyeol tersenyum ramah. "Halo, George. Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apakah kau menikmatinya?"
"Eh... Ya, Sir." Nada suaranya semakin ragu. "Tapi masih banyak sekali yang harus kupelajari."
"Tidak perlu khawatir. Aku yakin kau bisa bekerja dengan baik," kata Chanyeol ramah. "Omong-omong, aku membutuhkan bantuanmu, George."
Alis George terangkat sedikit. "Bantuan apa?"
Lima menit kemudian...
George mendengarkan cerita Christina di telepon tanpa banyak komentar. Sesekali ia melirik ke arah Park Chanyeol yang duduk bersedekap di sudut meja kerjanya. Kalau cerita Christina benar, tidak heran Bos tidak mau bicara dengan Mr. Park.
"Akan kukirimkan artikelnya kepadamu," kata Christina di akhir pembicaraan.
George menutup telepon dan menatap Park Chanyeol dengan ragu.
"Bagaimana?" tanya Park Chanyeol. "Apa katanya?"
George berdeham pelan dan berkata, "Bos baru saja pergi. Tidak ada di toko saat ini."
"Pergi ke mana?"
"Christina tidak tahu."
"Apa lagi yang dikatakannya?" desak Chanyeol. "Kenapa Baekhyun tidak ingin menerima telepon?"
Saat itu ponsel George berdenting. Ia membuka tautan artikel yang dikirim Christina ke ponselnya dan matanya langsung melebar. Lalu ia mengangkat wajah menatap Chanyeol sejenak sebelum akhirnya mengacungkan ponselnya ke hadapan atasannya itu. "Kata Christina, karena ini, Mr. Park," gumamnya.
Chanyeol menatap layar ponsel George dengan alis berkerut. Sedetik kemudian ia merampas ponsel dari tangan George.
"Apa-apaan ini?" serunya.
"Apa? Ada apa?" tanya Jared sambil berdiri dari kursinya dan ikut melihat dari balik bahu Chanyeol. "Chanyeol, kenapa kau mencium Miranda?"
"Aku tidak menciumnya," geram Chanyeol tajam.
Jared balas menatapnya. "Jadi maksudmu foto itu hasil photoshop?"
Chanyeol tidak menjawab, hanya mencengkeram ponsel George erat-erat dan memberengut menyeramkan sementara ia kembali menatap foto-foto dalam artikel itu. Takut ponselnya remuk di tangan atasan barunya, George berusaha memikirkan cara meminta ponsel itu kembali.
"Maaf, Sir," gumamnya, "ponselku..."
Tatapan yang dilemparkan Chanyeol kepadanya membuat George menghentikan ucapan dan menelan ludah. Sejenak George berpikir atasannya itu akan melempar ponsel itu ke wajahnya, namun akhirnya Chanyeol hanya mengulurkan ponsel itu kembali kepadanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Chanyeol menyambar jas dari sandaran kursi dan berderap dengan langkah lebar keluar dari ruang kerjanya.
In a Blue Moon
BAEKHYUN sedang menelusuri retakan tipis di atas permukaan meja dengan telunjuknya ketika Jongin tiba sambil meminta maaf.
"Ternyata wawancaranya berlangsung lebih lama daripada yang kuduga," kata Jongin setelah ia melepaskan jaket dan duduk di hadapan Baekhyun. "Maaf, kau tentu sudah menunggu lama."
Baekhyun tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa."
Katanya dia tidak berencana melewatkan Tahun Baru bersama Miranda.
"Kau sudah memesan?" tanya Jongin sambil meraih menu di atas meja.
Katanya dia tidak berencana mencium Miranda. Atau siapa pun.
"Belum. Aku menunggumu," ujar Baekhyun ringan.
Tapi coba lihat apa yang terjadi?
Jongin menatap Baekhyun dan tersenyum. "Aku senang kau menelepon, Baekhyun," katanya sungguh-sungguh.
Baekhyun balas menatap Jongin sejenak, lalu berkata, "Aku juga."
Kalau dia boleh mencium orang lain, maka Baekhyun juga boleh mencium siapa pun yang diinginkannya. Termasuk Kim Jongin.
Pada saat Baekhyun sedang menikmati makan malamnya di restoran di Nolita, di apartemen Miranda di East Village, Elsie sedang duduk meringkuk di sofa sambil menyesap anggur merahnya.
"Omong-omong, apakah dia sudah menghubungimu, Miranda?" tanya Elsie kepada Miranda yang duduk bersila di satu-satunya kursi berlengan yang ada di ruang duduk.
"Belum," sahut Miranda pendek. Ia meraih remote control, menyalakan televisi dan mencari saluran berita.
"Oh, tolong jangan siaran berita," erang Elsie. "Membosankan."
Miranda mengabaikan temannya. "Silakan saja kalau kau ingin menjadi model berotak kosong," ujarnya dengan nada sambil lalu. Elsie memutar bola matanya dan menggerutu pelan. Teringat kembali pada pembicaraan mereka tadi, ia berkata,
"Sepertinya Park Chanyeol bukan tipe orang yang suka membaca gosip selebriti, Miranda. Aku yakin dia tidak tahu apa-apa tentang artikel dan foto-foto kalian yang beredar di Internet. Jadi kupikir sebaiknya kau yang menunjukkan artikel itu kepadanya."
Ia menyesap anggurnya sejenak. "Memberinya sedikit dorongan untuk... kau tahu, meresmikan hubungan kalian."
Miranda menggigit bibir. Memang ia dan Elsie-lah yang merencanakan semua ini, dengan bantuan seorang teman Elsie yang berprofesi sebagai fotografer dan penulis lepas di salah satu situs gosip online. Tujuan mereka adalah melihat reaksi apa yang akan diberikan Chanyeol terhadap gosip itu.
Apabila Chanyeol tenang-tenang saja, maka itu pertanda bagus yang berarti Chanyeol tidak keberatan dirinya dihubungkan dengan Miranda. Namun, apabila Chanyeol tidak senang... well, itu bukan pertanda bagus.
"Apa yang sedang kaupikirkan, Miranda?" tanya Elsie.
"Tidak ada."
"Kau terlihat galau."
"Oh, diamlah, Elsie. Aku sedang mendengar berita," cetus Miranda.
"Sejak kapan kau mengikuti berita olahraga?" balas Elsie.
Miranda mendengus dan bersedekap, menatap layar televise dengan kening berkerut walaupun ia tidak mendengar sepatah kata pun yang diucapkan si pembaca berita. Apabila memang ada satu hal yang membuatnya agak cemas, itu adalah reaksi Chanyeol ketika ia mencium laki-laki itu di malam Tahun Baru. Walaupun foto hasil jepretan teman Elsie memang terlihat intim, pada kenyataannya bibir mereka hanya bersentuhan satu detik. Bahkan mungkin tidak sampai sedetik. Begitu Miranda berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir Chanyeol, Chanyeol dengan segera menarik diri dan menahan bahu Miranda untuk menjaga jarak. Cara Chanyeol menatapnya saat itu membuat Miranda merasa begitu malu sampai ia harus berpura-pura mabuk.
Mereka tidak pernah membicarakan hal itu. Chanyeol tidak pernah mengungkitnya dan Miranda sendiri juga berpura-pura tidak ingat pernah melakukan sesuatu seperti itu. Namun, penolakan Chanyeol sudah pasti adalah salah satu hal yang paling memalukan yang pernah dialami Miranda.
Pada saat Miranda sedang memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambil, Park Chanyeol sedang duduk dengan ponsel ditempelkan ke telinga di dalam mobilnya yang diparkir di sudut jalan tidak jauh dari Ramses.
Ia mengembuskan napas tidak sabar ketika ia lagi-lagi diberitahu bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Baekhyun masih tidak bisa dihubungi. Gadis itu tidak ada di tokonya, tidak ada di apartemennya, tidak ada di Jump Start, juga tidak sedang bersama Nic. Mungkin Baekhyun sedang bersama kakeknya atau kedua kakaknya. Chanyeol tidak bisa memastikan karena ia tidak tahu nomor telepon keluarga Baekhyun. Sepertinya ia memang harus menyerah untuk sementara dan berusaha menghubungi gadis itu lagi besok. Pilihannya hanya itu atau menunggu Baekhyun di depan apartemennya sampai gadis itu pulang.
Chanyeol mengetuk-ngetukkan ponselnya ke kemudi. Ia tidak mencemaskan artikel yang menggosipkan dirinya dan Miranda. Ia bukan selebriti dan Miranda bukan model kelas dunia. Gosip tentang kebersamaan mereka tidak akan mengguncang dunia. Gosip remeh seperti ini akan segera lenyap ditelan gosip lain yang lebih menarik. Apabila Baekhyun hanya membaca artikel konyol itu, Chanyeol yakin gadis itu juga pasti tidak akan percaya.
Namun, masalahnya adalah satu foto terkutuk itu. Foto yang memperlihatkan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya foto itu sendiri tidak mengusik Chanyeol, karena ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mencium Miranda. Miranda yang menciumnya, dan itu juga karena mabuk.
Yang membuat Chanyeol resah adalah kenyataan bahwa Baekhyun telah melihat foto itu dan kemungkinan Baekhyun akan berpikiran buruk tentang dirinya. Baekhyun bahkan mungkin tidak ingin berurusan dengannya lagi.
Chanyeol mengernyit ketika merasakan rasa nyeri yang menusuk dadanya. Sialan. Bagaimana kalau Baekhyun tidak percaya padanya? Chanyeol menggeleng. Tidak, Baekhyun harus percaya padanya. Ia akan membuat Baekhyun percaya padanya. Oh, Tuhan, bagaimana kalau Baekhyun tidak percaya padanya? Tiba-tiba merasa sesak napas, Chanyeol membuka pintu mobil dengan cepat dan melangkah ke trotoar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara dingin.
Baiklah. Ia akan pergi ke apartemen Baekhyun sekali lagi setelah menyelesaikan pekerjaannya di sini. Chanyeol berderap ke arah Ramses dan masuk melalui pintu samping yang langsung mengarah ke dapur. Ia hanya mengangguk singkat kepada para staf yang menyapa ketika berpapasan dengannya. Jared, yang sedang berbicara di telepon yang tergantung di dinding koridor, melihatnya dan langsung melambai. "Chanyeol, telepon untukmu," katanya sambil mengacungkan gagang telepon. Chanyeol mendesah.
"Kedengarannya penting," tambah Jared.
"Aku akan menerimanya di kantorku," gumam Chanyeol.
Chanyeol masuk ke ruang kerjanya, menyapu beberapa helai kertas yang menutupi teleponnya di atas meja, dan mengangkat gagang telepon. "Ini Park Chanyeol," katanya.
"Chanyeol," kata suara pria di ujung sana, "ini Byun Joonmyun."
Chanyeol menegakkan tubuh. Byun Joonmyun? Kakak Baekhyun?
"Oh, ya. Ada yang bisa kubantu?"
"Maaf mengganggu..."
"Tidak ap..."
"...tapi apakah Baekhyun sedang bersamamu?"
Chanyeol tertegun sejenak. Suara Joonmyun terdengar aneh. Agak mendesak. "Tidak," sahut Chanyeol hati-hati.
"Oh." Suara Joonmyun terdengar kecewa. "Aku berharap dia sedang bersamamu. Ponselnya tidak bisa dihubungi."
Kemungkinan besar karena dia ingin menghindari telepon dariku, pikir Chanyeol muram.
"Aku juga sedang berusaha menghubunginya."
"Dengar, kalau kau berhasil menghubunginya lebih dulu, tolong minta dia segera menghubungiku atau Jongdae."
"Tentu," sahut Chanyeol. "Maaf, tapi apakah ada masalah?"
Hening sejenak di ujung sana, lalu Joonmyun mendesah dan berkata, "Kakek kami sedang berada di rumah sakit."
TBC
Happy new year everyone !
apakah banyak yang kesel sama miranda sekarang? hehe
seharusnya chapter ini diupdate minggu kemaren, tapi chap ini pas banget tahun baru jadi baru diupdate sekarang deh
almaepark: maaf ya aturan minggu kemaren updatenya, dan makasih my reader-nim setia ku
parkobyunxo : sebenarnya belum jadian, karena baekhyun belum bilang apa-apa, tunggu aja ya say
myrceu : maaf ya mungkin chap ini bikin kesel
Yoon745 : THANK YOU AND I LOVE U SM TOO *muah* *btw dp kamu ehem*
chococaramello : iya bagian itu emang fav hehe
park yeolna : sip udah di next yaa
vichan061 : ini udah dilanjut yaa, tenang aja ini gak berat kok
hyuniee86 : emang ilana tan kalo bikin karakter cowoknya sweet semua, duh
xiudae12 : nyari di dunia nyata mah susah
Guest : sudah di next
pupibekyuni61 : kamu aja baper, apalagi baekhyun wkwk
anittawu : sudah di lanjut yaa
baekkie : yah tapi chap ini gak terlalu sweet
Guest : sudah next
Lee Ludamic : sip sudah di lanjut reader-nim
baekbee : di dunia nyata mah susah nyari yang kaya cy
