Summary :
Terjadi saat Sena dan kawan-kawan mulai memasuki Universitas Enma. Bagaimana jika ternyata adik perempuan sang Komandan Setan juga masuk Universitas Enma ?
Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Inagaki-san dan Murata-san. Saya hanya sekedar meminjam nama...
A/N : Cerita ini dimulai setelah pertandingan antara Enma dengan Koigahama berakhir.
Chapter 10 : Sweet Disposition
"Hari ini benar-benar aneh sekali", pikir Kimiko.
Bagaimana tidak? Sebagai kasus pertama, tengoklah Sena dan Suzuna. Mereka selama seharian ini benar-benar dipekerjakan (dengan kata lain, diperbudak) habis-habisan oleh Hiruma. Oke, Hiruma memang sering menyuruh-nyuruh orang, tapi yang kali ini Hiruma sudah agak kelewatan. Masa Sena dan Suzuna disuruhnya untuk memasak sarapan untuk semuanya? Jumlah mereka semua itu kan, sampai berpuluh-puluh orang. Dan porsi beberapa orang tertentu (seperti Kurita, misalnya) tidak bisa dianggap sebagai porsi satu orang. Bukan hanya itu saja, Hiruma juga menyuruh mereka untuk membersihkan semua kamar mandi yang ada di hotel. Hotel mereka memang tidak terlalu besar, tapi tetap saja jumlahnya lumayan besar... Dan sudah tak terhitung berapa kali Hiruma menyuruh mereka bolak-balik ke toko untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Sena dan Suzuna hanya pasrah-pasrah saja disuruh Hiruma. Keanehan terbesarnya? Mamori membiarkan saja tingkah Hiruma. Benar-benar membiarkan. Tidak memprotes, tidak mengoceh, dan sama sekali tidak membela mereka berdua. Sejak kapan Mamori menyebrang ke sisi gelap?
Keanehan lain yang cukup terasa adalah trio Yamato-Karin-Taka. Karin, yang saat ini duduk di tempat biasanya, lebih kebanyakkan mencuri pandang ke arah Yamato daripada menulis di notes-nya. Dan sesekali wajahnya memerah di balik buku. Taka, selama latihan ini, menatap Yamato dengan tatapan yang bisa cukup membuat orang bisa merinding. Yamato, jelas-jelas merasakan tatapan Taka, berusaha sebisanya untuk memandang apapun selain menatap balik Taka. Masalahnya adalah tingkah laku Yamato dan Taka mengakibatkan permainan mereka berantakkan. Mereka berdua tidak sepenuhnya berkonsentrasi di lapangan, sehingga bola itu pun jatuh keluar lapangan.
"Istirahat 20 menit!", perintah Hiruma. Hiruma menaikkan alis matanya dan menghampiri Yamato dan Taka.
"Yang tadi itu apa-apaan?", seru Hiruma, "Masa tidak ada satu pun diantara kalian yang dapat mengambil bola!"
"Maaf, Hiruma. Hal itu tidak akan terjadi lagi", kata Taka datar, melirik Yamato sekejap, lalu pergi meninggalkan Hiruma berduaan dengan Yamato.
Hiruma masih memandang Yamato, mengharapkan keluarnya jawaban dari mulutnya.
"Eh... Aku tadi tidak terlalu berkonsentrasi. Gomen-ne", ucap Yamato pelan. Hiruma menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu", kata Hiruma dengan penekanan di kata mau, "apapun yang terjadi di antara kalian berdua. Tapi apapun itu, aku tidak mau hal itu akan menganggu kerjasama tim. Mengerti?"
Yamato menelan ludahnya sebelum mengangguk kecil. Merasa puas, Hiruma pergi meninggalkannya sendirian. Yamato mendesah. Dia pasti bermain benar-benar buruk hari ini jika Hiruma sampai menegurnya secara pribadi. Tapi, siapa pun juga akan susah berkonsentrasi jika ada orang yang menatapmu dengan tatapan seperti pembunuh. Dan tatapan ini keluar dari orang paling tenang yang dikenal Yamato. Taka. Entah bagaimana caranya, Taka berhasil mengetahui rencana Yamato kemarin. Kelanjutan ceritanya sudah bisa ditebak. Mereka berdua beradu mulut. Taka marah karena Yamato menyembunyikan acara jalan-jalannya dengan Karin dan Yamato merasa bahwa hal itu sama sekali bukan urusan Taka. Perdebatan itu selesai, setidaknya untuk sementara, hanya karena pada akhirnya Taka memutuskan untuk pergi tidur saja. Tadinya, Yamato berpikir semuanya akan kembali menjadi normal pada keesokkan paginya. Yah, dia salah besar. Sebenarnya, diam-diam Yamato merasa heran juga. Taka bukan tipe orang yang marah hanya karena kejadian kecil seperti itu. Sepertinya masih ada penyebab lain yang membuat Taka begitu marah. Tapi apa?
Bukan hanya Yamato saja yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Jumonji juga sedang melakukan hal yang sama dengan Yamato. Terjadi perdebatan dalam dirinya sendiri tentang gadis berambut hitam tertentu.
"Apakah sebaiknya aku menghampirinya sekarang? Atau lebih baik menunggu nanti saja? Kita seharusnya pergi... err... kencan hari ini, kan? Bagaimana kalau ternyata dia lupa? Bagaimana kalau—Sudahlah, aku tanyakan langsung saja padanya", pikir Jumonji.
Sayangnya, begitu Jumonji memutuskan untuk menghampiri Kimiko ternyata sudah ada orang lain yang lebih dulu menghampirinya. Agon. Atau si Dread Sialan kalau mengikuti istilah Hiruma. Jumonji pelan-pelan mendekati mereka. Tidak terlalu dekat, tapi setidaknya masih cukup dekat untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Boleh aku duduk di sampingmu?", tanya Agon dengan senyum yang selalu menjadi andalannya dalam merayu gadis.
"Eh... Itu...", kata Kimiko masih berusaha merangkai kata.
Tanpa menunggu selesai perkataan Kimiko, Agon langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya.
"Nah, kalau begini kita jadi lebih enak untuk mengobrol, kan? Jadi, bagaimana keadaanmu selama ini? Kita sudah tidak bertemu selama... empat tahun jika ingatanku tidak salah", tanya Agon dengan ekspresi ramah yang tampak asing di wajahnya.
"Mereka berdua pernah bertemu? Yah, setidaknya itu menjelaskan mengapa Agon tahu tentang Kimiko", batin Jumonji.
"Seperti yang dapat kau lihat sendiri, masih bernapas dengan baik. Sekarang permisi, aku masih harus melakukan sesuatu terlebih dahulu", kata Kimiko yang segera bangkit dari tempatnya. Tetapi dia melupakan satu hal. Pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang terkenal akan refleksnya yang super cepat. Belum sempat Kimiko bangun, dia sudah ditahan terlebih dahulu oleh Agon. Agon merangkulnya dan memegang tangannya.
Di belakang sana, Jumonji menggertakkan giginya keras-keras. Kedua tangannya sudah terkepal erat-erat. Sudah terpikir banyak cara untuk menghajar Agon. Beraninya dia. Naluri preman sekolahnya yang sudah lama tidak muncul kembali lagi.
"Ayolah. Jangan begitu dingin padaku. Kau sebenarnya juga merindukanku, bukan? Kimiko-chan~?", kata Agon dengan nada dimain-mainkan pada bagian "Kimiko-chan". Kalau tatapan bisa membunuh, maka Agon pasti sudah kehilangan nyawanya daritadi. Baik karena tatapan Kimiko maupun karena tatapan Jumonji di belakang mereka. Kimiko melepaskan tangannya dari Agon.
"Jangan pernah panggil aku Kimiko-chan lagi. Panggilan -chan hanya diperuntukkan bagi orang dekat saja. Dan kau jelas-jelas tidak termasuk daftar orang dekatku", kata Kimiko dingin. Agon mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan gerakan menyerah.
"Kau tidak terlalu berubah tampaknya. Tetap ketus seperti dulu. Meskipun memang bertambah cantik. Katakan, maukah kau pergi bersamaku siang ini? Setelah latihan melelahkan ini selesai?", tanya Agon. Kimiko menatapnya sebal.
"Aku tidak mau pergi denganmu. Lagipula, aku sudah ada acara setelah latihan ini", jawab Kimiko singkat.
"Dengarkan aku dulu sampai selesai. Siang ini. Hanya kita berdua. Di Nishiya Cakeshop. Traktiranku. Dan kau tahu pasti Nishiya Cafe paling terkenal dengan cheesecake-nya", kata Agon menyeringai, yakin Kimiko tidak akan menolaknya kali ini.
"Menurut si Pirang Sialan itu, dia penggemar berat cheesecake kan? Mana mungkin dia menolak tawaranku ini", pikir Agon. Kimiko memandangnya dengan pandangan kapan-kau-akan-menyerah.
"Aku tetap menolak. Lebih baik aku makan sendirian dan membayar sendiri daripada aku harus makan berdua denganmu, ditraktir sekalipun. Dan juga, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku sudah ada acara. Sekarang, aku harus benar-benar pergi", desis Kimiko, bangkit berdiri. Agon ikut berdiri. Seringai di wajahnya lenyap seketika.
"Kau! Dasar gadis—" Agon berhasil menelan susah payah kata kasar yang akan diucapkannya. Dengan masih menahan amarah, Agon bertanya, "Memangnya acara macam apa sih yang harus kau datangi sampai-sampai kau menolak ajakanku?"
"Acara kencan bersamaku", jawab Jumonji, akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Agon dan Kimiko tampak terperanjat akan kehadirannya.
"Kau?", tanya Agon, tidak percaya.
"Ya, aku", jawab Jumonji tenang.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Mata Agon yang penuh kemarahan bertemu dengan mata Jumonji yang tampak tenang-tenang saja, tidak terintimidasi oleh Agon. Lalu Agon menendang keras-keras yang tadi diduduki mereka sampai terjungkal balik, sukses membuat berbagai barang yang diatasnya jatuh berantakkan dan beberapa pasang mata yang mengalihkan perhatiannya ke arah mereka. Setelah itu, mengabaikan pandangan penuh tanya yang tertuju ke arahnya, Agon pergi meninggalkan lapangan.
"Kau jelas-jelas mempunyai nyali besar", kata Kimiko. Jumonji melangkahkan kakinya mendekati Kimiko.
"Kuanggap itu sebagai pujian. Tapi kalau ternyata kau cukup tertarik dengan penawaran Agon—" Kimiko langsung memotong perkataan Jumonji, menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Kau sudah berada di sana mendengar percakapan kita, bahkan dari awal. Memangnya kau perlu menanyakan hal itu lagi padaku, ya?", kata Kimiko. Jumonji tersentak kaget.
"K-Kau sudah tahu?", tanya Jumonji tidak percaya. Kimiko mendesah.
"Lain kali jika ingin menguping pembicaraan orang, carilah tempat yang lebih tersembunyi lagi. Seperti di balik pohon itu", kata Kimiko menunjuk sebuah pohon tidak jauh dari mereka. Jumonji menyengir lebar.
"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari dia", pikir Jumonji.
"Jadi... Siang ini, setelah latihan, kutunggu kau di depan hotel?", tanya Jumonji.
"Deal", jawab Kimiko tersenyum, "Kalau begitu... Sampai bertemu lagi"
"Ya, sampai bertemu lagi", balas Jumonji juga ikut tersenyum.
Hiruma tak kuasa menahan tawanya lagi setelah Jumonji dan Kimiko benar-benar pergi. Terutama setelah mendengar perkataan "di balik pohon" Kimiko. Mengapa? Karena perkataan Kimiko tadi itu sebenarnya untuk menyindir Hiruma, yang sama seperti Jumonji, ikut juga menguping. Hanya saja dia memilih untuk bersembunyi di balik pohon.
Hiruma sudah curiga sejak Agon tiba-tiba saja pergi waktu istirahat tadi. Maka mengikuti nalurinya, Hiruma memutuskan untuk mengikuti Agon. Dan benar saja kecurigaannya. Agon berusaha untuk mendekati adik sialannya itu. Kalau saja tadi Jumonji tidak muncul, Hiruma sendiri yang akan keluar dari tempatnya dan menghajar sendiri Agon. Terutama setelah mendengar Agon ingin memaki adiknya. Memangnya dia pikir siapa dia. Tapi, rencana pembalasan Agon bisa dipikirkan belakangan. Ada hal mendesak lain yang harus dipikirkan. Seperti kencan adiknya dengan salah satu lineman timnya.
"Jangan terlalu keras pada Jumonji, Hiruma", kata Mamori lembut, seperti bisa membaca pikiran Hiruma.
Cerita Hiruma masih belum selesai. Hiruma juga ikut mengajak Mamori saat sedang menguping Agon. Sebenarnya, istilah mengajak di sini juga kurang tepat. Pada saat sedang membuntuti Agon, Mamori ternyata menyusulnya. Jadi agar tidak ketahuan oleh Agon, Hiruma ikut menyeret serta Mamori.
"Kenapa harus, Manajer Sialan?", tanya Hiruma keras kepala. Mamori menghela napas.
Menghadapi Hiruma yang seperti ini mau tak mau membuat Mamori menjadi teringat akan dirinya sendiri dulu. Saat dia masih over protektif terhadap Sena. Tidak, untungnya Hiruma masih belum mencapai taraf itu atau bahkan terkena sister-complex. Mamori merinding membayangkan Hiruma terkena sister-complex. Terlalu ajaib untuk dibayangkan. Tetapi poin Mamori adalah, dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan menerima fakta bahwa... Semua orang perlahan tapi pasti, akan tumbuh. Lihat saja Sena sebagai contohnya. Sena Kecil sudah tidak kecil lagi.
"Mereka berdua sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, Hiruma. Jumonji pria yang baik, lebih baik dari Agon malah menurutku. Lagipula, kau tidak bisa mengharapkan Kimiko akan tetap menjadi adik kecilmu, bukan?", jawab Mamori mencoba memberikan alasan.
Hiruma tetap terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Jumonji terus melirik jam tangannya. Sudah dari tadi dirinya tak bisa diam. Rasanya seperti ada semut yang merangkak di punggungnya saja. Dia mengingat kembali latihan hari ini. Latihan hari ini lebih lama dari latihan sebelum-sebelumnya. Bukan hanya itu saja. Di antara semua anggota tim, entah mengapa, Hiruma selalu mengomelinya. Bahkan tentang masalah kecil sekalipun. Yah, yang jelas tepat setelah latihan selesai Jumonji langsung cepat-cepat mandi dan bersiap-siap. Setelah itu, dia langsung pergi ke depan hotel, mondar-mandir menunggu Kimiko.
"Apa yang membuatnya lama, ya?", pikir Jumonji melihat lagi jam tangannya. Menurut jam tangan itu, dia sudah menunggu kedatangan Kimiko selama... Lima menit. Lima menit yang terasa seperti berjam-jam.
"Hei", kata suara perempuan di belakang Jumonji. Jumonji memutar badannya dan mendapati Kimiko berdiri di hadapannya.
"Sudah menunggu lama?", tanya Kimiko. Jumonji terperangah melihat Kimiko. Dia memang sudah sering melihat Kimiko sewaktu latihan, tapi melihat Kimiko bukan di baju olahraga seperti biasanya adalah hal yang sama sekali berbeda. Baju kaos yang biasa dipakainya berubah menjadi tank top pink berhias pita kecil di atasnya. Celana trainingnya berubah menjadi celana pendek putih. Rambutnya yang terbiasa digerai kali ini diikat dengan tusuk konde.
"Halo? Masih ada orang di sana?", tanya Kimiko lagi, memetikkan jarinya.
Jumonji tersadar bahwa dirinya belum menjawab pertanyaan Kimiko.
"Masih belum terlalu lama, kok. Jangan khawatir", jawab Jumonji. Kimiko tersenyum manis.
"Siap untuk pergi?", tanya Jumonji, mengulurkan tangannya. Kimiko mengambil uluran tangannya. Keduanya tersenyum dan berjalan meninggalkan hotel.
Tempat tujuan mereka terletak cukup jauh juga dari hotel. Mereka harus menaiki kereta terlebih dahulu. Untung saja perjalanan di kereta tidak terlalu memakan waktu lama. Saat ini mereka sedang berada di Stasiun Shukugawa.
"Jadi, dimana tempat tujuan kita?", tanya Kimiko.
"Kebetulan ada taman yang cukup terkenal dekat stasiun. Sudah tidak terlalu jauh dari sini, kok", jawab Jumonji.
Sesuai perkataan Jumonji, memang tak lama kemudian mereka tiba di taman. Lebih tepatnya, Taman Shukugawa. Ada banyak pepohonan di sana, membuat udara terasa lebih sejuk. Angin sepoi-sepoi bertiup. Langit berwarna biru cerah, tipikal musim panas Jepang. Terdengar suara gemericik air, dari sungai di sana. Singkatnya, tempat itu benar-benar indah.
"Coba ceritakan aku tentang keluargamu", kata Kimiko.
"Apa, ya?", gumam Jumonji, "Aku seorang anak tunggal. Ayahku bekerja sebagai hakim dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa"
"Anak tunggal? Pasti kau cukup dimanja waktu kecil, ya?", goda Kimiko. Jumonji mengangkat bahunya.
"Tidak juga. Malahan, sebenarnya ayahku cukup ketat. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bagaimana kehidupan dengan Hiruma?", tanya Jumonji balik. Kimiko tertawa kecil.
"Mungkin kau akan terkejut, tapi sebenarnya dia kakak yang baik", jawab Kimiko.
"Benarkah?", tanya Jumonji sangsi. Kimiko mengangguk yakin.
"Saat aku masih SD, aku sering dikerjai temanku. Aku menjadi pesuruh mereka. Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Pernah suatu ketika, aku berpapasan dengan You-nii saat melakukan suruhan mereka", cerita Kimiko.
"Lalu, apa yang terjadi?", tanya Jumonji mulai tertarik.
"Dia hanya terdiam saja melihatku kerepotan sana-sini", kata Kimiko terkekeh. Jumonji mengrenyitkan dahi. Di bagian apanya yang termasuk kakak baik? Kimiko melanjutkan kembali ceritanya.
"Keesokkan harinya, tidak ada satu pun diantara mereka yang bahkan berani melihatku. Mereka benar-benar memperlakukanku seperti putri", kata Kimiko tertawa lebar.
"Hiruma bahkan sudah belajar mengancam sejak SD?", pikir Jumonji, "Pantas saja sekarang dia begitu"
"You-nii tidak pernah mengakui dirinya ikut andil dalam peristiwa itu. Tapi yah... Memangnya siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu?", kata Kimiko tersenyum kecil. Jumonji juga ikut tersenyum.
Keduanya melanjutkan jalan-jalan taman mereka. Lalu tak lama kemudian, ada sebuah tempat yang menarik perhatian mereka. Batting center.
"Tertarik?", tanya Jumonji menyeringai.
"Kita bertaruh. Siapa pun yang pertama kali mendapat home run, dia yang jadi pemenangnya", kata Kimiko.
"Dan pemenangya berhak?", tanya Jumonji lagi.
"Pemenangnya boleh meminta apa saja sampai hari ini berakhir", jawab Kimiko.
"Kau pikir aku takut? Kuterima tantanganmu", kata Jumonji.
"Yah, kita lihat nanti saja siapa pemenangnya", kata Kimiko tersenyum misterius.
Untuk pertama kalinya, Jumonji merasa bersyukur Kuroki sering membawa bat. Dengan begitu dia sudah tidak terlalu asing lagi dengan benda itu. Setidaknya dia bisa memukul dengan baik. Sudah ada beberapa pukulannya yang mengenai bola. Berbeda dengan Kimiko. Gadis yang ada di sampingnya ini cukup kewalahan dalam memukul bola. Tadinya, dia pikir Kimiko pasti cukup mahir. Apalagi dia sendiri yang mengajak untuk taruhan.
Kimiko berdecak kesal. Dia sudah hampir frustasi ingin melempar bat itu jauh-jauh. Dan masih ada juga taruhan bodoh yang dibuatnya sendiri... Dia benar-benar jatuh ke perangkapnya sendiri. Jumonji menatapnya geli. Dan fakta Kimiko bertambah semakin sebal hanya membuat Jumonji semakin geli saja.
"Bukan begitu, Kimiko. Kau harus memukul bat setelah bola itu dilemparkan, bukan sebelumnya. Dan kau bahkan salah memegang bat", kata Jumonji setengah tertawa. Kimiko cemberut.
"Sini, kuajarkan. Tangan yang kiri letakkan disini, lalu tangan kanan dibuat dalam posisi seperti ini...", kata Jumonji menggerakkan tangan Kimiko. Posisi mereka berdua dekat sekali. Kimiko bahkan bisa merasakan hembusan napas Jumonji di belakangnya. Pikiran yang baru saja membuat pipinya sedikit memerah.
"Dan kau baru melempar pada saat..."
Mesin pelempar bola menembakkan bola. Bola itu terus meluncur, mendekati ke arah mereka. Dekat, dekat, dan semakin dekat hingga...
"Seperti ini!", seru Jumonji, mengayunkan bat bersama-sama Kimiko. Terdengar bunyi pukulan bola. Bola itu terus melambung tinggi, dan mengenai sebuah tombol merah bertuliskan "Home Run".
"Selamat! Anda berhasil mendapatkan home run!", kata suara dari sebuah speaker di sana. Jumonji dan Kimiko tercengang.
Kejadian berikutnya adalah mereka berdua berdebat untuk menentukan siapa pemenang taruhan mereka. Kimiko bersikeras Jumonji-lah pemenangnya karena dialah yang membantunya memukul bola sementara Jumonji berpendapat bahwa dia hanya sekedar mengajarkan saja. Bola itu tetap dilempar oleh Kimiko. Akhirnya, penentuan pemenang ditentukan dengan cara yang sama sekali tidak ada hubungannya. Dengan suit.
"Gunting, batu, kertas!", seru Jumonji dan Kimiko bersamaan.
Jumonji mengeluarkan gunting, sementara Kimiko mengeluarkan batu. Kesimpulannya, Kimiko memenangkan adu suit itu. Maka, pemenang taruhan mereka adalah Kimiko.
"Jadi, apa permintaanmu?", tanya Jumonji, ketika mereka berdua pergi meninggalkan batting center.
"Hmm... Apa ya? Aku tahu! Aku mau es krim saja", jawab Kimiko tersenyum ceria.
"Kalau begitu, ke toko es krim tempat tujuan kita berikutnya", kata Jumonji.
Tidak jauh dari batting center, mungkin hanya sekitar beberapa blok saja, ada toko es krim yang buka. Penjaga toko es krim tersebut adalah seorang bapak-bapak gendut dengan kumis lebat.
"Apa yang bisa saya bantu untuk pasangan serasi seperti kalian ini?", tanya bapak itu, berhasil membuat rona merah muncul di pipi Jumonji dan Kimiko.
"E-Es krim strawberry-nya satu", pesan Kimiko masih terpengaruh oleh perkataan bapak itu.
"Aku pilih es krim rasa nougat saja", kata Jumonji.
Bapak itu memberikan pesanan es krim mereka dan Jumonji mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Setelah itu, mereka duduk di bangku taman, asyik menikmati es krim.
"Memang musim panas paling enak makan es krim!", seru Kimiko. Mulutnya berlepotan es krim, membuat Jumonji tertawa terpingkal-pingkal. Sebal, Kimiko mendekatkan es krimnya ke muka Jumonji, membuatnya juga berlepotan es krim. Kimiko tertawa terbahak-bahak. Tidak terima, Jumonji juga membalas Kimiko. Kini keduanya terlibat dalam perang es krim. Sampai pada akhirnya, es krim mereka jatuh ke tanah.
Melihat es krim yang jatuh meleleh dan muka mereka masing-masing penuh dengan es krim... Keduanya tertawa semakin keras.
"Kurasa... Hari ini sudah cukup", kata Jumonji, melihat matahari yang sudah terbenam. "Sayang sekali. Padahal aku masih ingin bersamanya...", pikirnya.
"Kau benar", kata Kimiko yang saat ini sedang berdiri di depan hotel, "Sampai jumpa, Jumonji"
Kimiko berjalan memasuki hotel, akan tetapi Jumonji menahan tangannya.
"Tunggu! Bolehkah aku meminta nomor teleponmu?", tanya Jumonji. Kimiko sempat tercengang sebentar, tapi tetap memberikan nomor teleponnya. Kimiko berjalan lagi memasuki hotel. Tetapi, tampaknya Jumonji masih belum selesai.
"Dan... Bisakah kau tetap memanggilku Kazuki? Seperti kemarin malam?", tanya Jumonji lagi. Kimiko tersenyum kecil.
"Kalau begitu, jaa nee... Kazuki", kata Kimiko, pergi meninggalkan Jumonji. Kali ini, Jumonji tidak menahan Kimiko lagi. Dia berjalan ke belakang hotel, sama sekali belum berniat untuk masuk ke hotel.
"Aku butuh udara segar", pikir Jumonji. Dia bukan satu-satunya orang di belakang hotel. Matanya juga mendapati sosok yang sudah amat tidak asing lagi baginya. Sosok pria berambut pirang jabrik dan bertelinga lancip. Jumonji menahan napasnya. Tepat di hadapannya berdiri Youichi Hiruma. Dan terlihat dari ekspresinya, dia sudah berdiri di sana cukup lama. Cukup lama untuk mendengar percakapannya dengan Kimiko.
"Hiruma...", kata Jumonji berusaha menjelaskan dirinya. Hiruma mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk diam.
"Jaga saja dia baik-baik", kata Hiruma. Pandangan matanya menusuk Jumonji, mengeluarkan pesan lain yang terkandung dalam kalimat itu. Jangan sampai membuatnya terluka. Tetap berusaha untuk tenang, Jumonji mengangguk. Puas dengan respon Jumonji, Hiruma pergi meninggalkannya.
End of Chapter 10
Author's Note :
Taradada! Chapter 10! Sudah tidak berasa ya readers... Jujur saja, ini termasuk updater terkilat yang pernah kulakukan. Dan juga chapter terpanjang. Word chapter ini (tidak termasuk Author's Note, Disclaimer dan Summary) mencapai hampir 3000 kata. I'm just thinking, oh my...
Chapter ini menceritakan kencan KimiMonji (is it sweet enough for you?) dan sedikit bumbu-bumbu perseturuan antara Yamato dan Taka. Kuputuskan untuk dijadikan triangle love saja. I'm still don't know what will I do about them, but I'll give my best try. Maaf kalau nanti YamaKarinTaka-nya kurang greget. Dan disini Agon kubuat sangat menyebalkan. I'm not the big fan of him, really. Dia mungkin sudah berubah sedikit (menjadi rutin latihan), tapi tetap saja sifatnya sangat amat menyebalkan. Oh! And Hiruma's sister-complex! I'm almost rolling in the floor laughing, trying to imagine that Hiruma we all know well, get sister-complex. Must be very amusing, isn't it?
Aku sudah ada beberapa rencana tentang kegiatan khas musim panas lainnya, dan hopefully, bisa di-update cukup cepat. Semakin mendekati Agustus semakin sibuk saya... Lastly, please REVIEW! *puppyeyes
Lady of Gray
