Author's: Maaf untuk update yang sangat lama. Dan maaf juga untuk '29' yang sempat terbengkalai. Jangan khawatir, saya akan segera menyelesaikannya.
Saya mau berterima kasih secara spesial buat semua yang telah membaca, me-review, mem-fave, bahkan mem-watch saya. ^_^ THANX VERY MUCH FOR YOU ALL!
So, please enjoy!
Death Note (c) Tsugumi Ohba
Genre: Friendship
Note: No chain, setting dimana Light belum mengingat siapa dirinya sebagai Kira [I just love this line. Don't complain, please].
Notice
Chapter Ten: Flying Dust
Ada decitan liar yang muncul tiba-tiba. Kemudian suara sesuatu yang—sepertinya—retak atau patah. Lalu jeritan yang beterbangan dalam keheningan.
Dan kemudian kesunyian.
.
Entah sudah berapa lama kesunyian itu berlangsung, mungkin lima detik, atau mungkin satu abad, namun, saat dia membuka mata, segala kesenyapan itu langsung menghilang.
Dia mengerjapkan mata dua kali kemudian memperhatikan obyek yang ada di di atasnya karena sedetik kemudian ia sadar bahwa ia tengah terbaring.
Beberapa menit kemudian, ia berusaha mengumpulkan memorinya dan mulai mengingat peristiwa terakhir yang berlangsung pada dirinya.
Setelah mengerahkan kemampuan terbaiknya, ia ternyata hanya bisa mengingat beberapa detil saja. Itu pun tidak terlalu jelas.
Awalnya, yang paling diingatnya, adalah bunyi keras yang memekakkan telinga. Kemudian disusul dengan bunyi lain yang tak kalah hebatnya... oh ya lalu rasa sakit di sekitar lengannya, lengan kirinya... dan kemudian kepalanya... setelah itu bunyi lagi... dan setelah itu baru kesunyian.
Kesunyian total selama entah berapa lama.
Rasanya aneh sekali, karena selama kesunyian itu, dia tidak dapat mengingat apa yang dilakukan dan juga apa yang terjadi di sekitarnya. Semuanya hanya... sunyi.
Kemudian, setelah acara-sesi-mengingat selesai, ia berpikir untuk mencoba menegakkan diri.
Ia mengumpat saat kepalanya serasa seperti terbelah.
Ternyata masih sangat sakit. Karena tidak mau mengambil risiko kehilangan kepala, ia tidak mencobanya lagi.
Ia menyentuh kepalanya dan menyadari ada perban yang melilit kepala bagian atasnya.
Tampaknya ia berada di sebuah Rumah Sakit. Tampak jelas dari ruangannya.
Ia menenangkan diri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Lagipula tak mungkin kan dia tengah berada di ruang aneh seperti saat Alice tersadar di film Resident Evil?
Atau mungkin?
Pintu terbuka dan seseorang masuk.
Ia mendelik malas saat orang di ambang pintu itu sekilas berhenti dan menatapnya.
.
"So..." kata orang diambang pintu.
"Jadi..." sambung si pria di tempat tidur, "Aku tahu apa yang terjadi... jangan beritahu lagi."
Si pemuda di pintu menyipitkan mata. "Tapi kau tak tahu kan, berapa lama kau terbaring?"
"Mungkin beberapa hari..."
Si pemuda di pintu memasuki ruangan dan duduk di dekat tempat tidur.
"Sebaiknya kau cepat pulang... ada hal yang harus dikerjakan bila kau masih ingat... kau tidak amnesia, kan?" tanya si pemuda was was.
"Kau beri tahu aku."
"Mereka berkata kau hanya memiliki gegar di kepalamu... lumayan parah... tapi tidak cukup untuk membunuhmu... selain itu, lengan kirimu, tulangnya retak... jadi mereka harus membetulkannya... selain itu tidak ada yang kritis..."
"Berapa lama aku masih harus tinggal disini, Light? tanya si pemuda terus terang.
"Mungkin selama enam hari... atau lebih... tapi tidak lebih lama dari itu... oh ya, ada yang harus kuberitahu..."
"Silakan."
"Mereka akan mengamputasi lenganmu, Ryuzaki."
Sunyi.
"Oke, Light... aku mau tidur, rasanya aku mengalami mimpi yang meresahkan belakangan... tolong tinggalkan aku dan berharaplah aku tidak bermimpi apa pun sekarang..." kata Ryuzaki seraya membelakangi Light.
"Hey... tidak lucu ya?" Light tertawa.
"Tolong pergi, Light... sayang kau tidak mengatakan bahwa mereka akan mengambil kepalaku, jika kau katakan begitu, mungkin aku akan percaya..."
Light menyipitkan mata.
.
Dari sebuah pagi yang buta beranjak ke siang yang tenang, Ryuzaki dan Watari pergi ke suatu tempat menggunakan mobil.
Karena saat itu mungkin mereka sedang tidak diikuti dewa keberuntungan, maka mereka mendapat 'kejutan' dari sebuah mobil lain di jalan.
Akhirnya, pada sebuah titik antara butik ekslusif dan toko olahraga, mobil malang itu tergelincir.
Selanjutnya serangkaian prosedur umum sebuah kecelakaan pun terjadi.
Ryuzaki tidak tahu harus menyalahkan Watari atau dirinya sendiri.
Yang pasti, ia bersyukur ia masih bisa memiliki kepalanya.
.
[Rumah Sakit 22:12]
[Day one after Ryuzaki had awake]
Malam itu jam berkunjung telah berakhir. Setelah memastikan dokter jaga keluar dari pintu ruangannya, Ryuzaki segera membuka komputernya.
Ia sudah bisa berjalan dan tentu saja ia langsung merasa bosan. Rumah Sakit sangat tidak cocok untuknya.
Setelah beberapa menit berkutat dengan laptopnya, ia mulai bosan.
Ryuzaki menyingkirkan laptopnya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Ia membuka pintu dan lorong sepi langsung membuka di depannya. Dan tanpa sadar ia telah berjalan menyusurinya.
Saat pikirannya mulai memikirkan tentang pantai, ia menghentikan langkahnya.
Lorong sepi itu berderit.
Ryuzaki mendengar sebuah suara.
Satu ruang di depannya, adalah sebuah kamar pasien. Ruangan itu tampak terbuka pintunya.
Suara bernada marah itu terbang keluar dari ruangan tersebut.
Ryuzaki tampak terdiam. Wajahnya tampak kosong sama sekali.
.
Ryuzaki melangkah ke pintu yang terbuka.
Ruangan itu hampir mirip seperti ruangannya, hanya saja aromanya berbeda.
Ruangannya sama sekali tidak berbau apa pun kecuali aroma obat yang menyengat. Sedangkan ruangan ini dipenuhi oleh aroma lain yang sedikit manis.
Ryuzaki menyukai aromanya.
Apakah ini parfum?
Wanita itu tengah duduk di tempat tidurnya, dan ia tampak menatap ke arah lain. Dari sudut ini Ryuzaki hanya bisa melihat sedikit wajahnya.
Sebuah pecahan kaca tampak tercerai berai di bawah tempat tidurnya.
Mungkin tadinya itu adalah sebuah gelas.
Saat ketika Ryuzaki memikirkan apakah ia harus masuk atau tidak, wanita itu menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Wanita itu rupanya seorang asing. Rambutnya berwarna silver. Bergelombang sepanjang punggung. Dan satu hal yang pasti, usia wanita ini tidak lebih muda dari Ryuzaki. Setidaknya wanita ini telah berada di dunia ini tiga puluh tahun lamanya.
Matanya berwarna biru pucat dan ia menatap Ryuzaki intens.
Mungkin mereka saling tatap seperti itu selamanya, hingga kemudian wanita itu berbicara.
"Apakah kau adalah iblis?"
.
Ryuzaki bahkan tidak percaya wajahnya tidak membuka sebuah reaksi, namun hatinya jelas-jelas bereaksi.
Ada yang mengira ia sebagai iblis. Oh bagus, pasti Light lupa memberitahukannya bahwa mungkin ia telah menjalani operasi wajah.
Iblis?
No kidding.
"Aku melihat pintu anda terbuka..." Ryuzaki berkata.
Wanita itu mengerutkan kening dan ia tampak kesal.
"Pergi kau." kata si wanita.
Ryuzaki terkejut. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi.
Setelah memberikan tatapan marah dan kekesalan pada Ryuzaki, wanita itu membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan menoleh ke arah berlawanan.
Ryuzaki masih berdiam diri disana hingga kemudian ia merasa lelah berdiri.
Setelah menutup pintu di depannya perlahan, ia berjalan kembali ke ruangannya.
Saat kembali ke tempat tidurnya, ia menyadari bahwa pikirannya telah memiliki sebuah data baru.
.
[Day two]
[14:15]
Ryuzaki kini mendapati seorang lain di ruangan si wanita.
Seorang wanita tua tengah berdiri di dekat meja di dalam ruangan.
Ia tengah mengupas apel.
Saat berbalik ia mendapati Ryuzaki di ambang pintu.
.
"Sebuah diagnosis yang menyedihkan." kata si wanita tua.
"Aku mengerti." kata Ryuzaki.
Mereka tengah berada di sebuah balkon Rumah Sakit. Bersama-sama berbagi pemandangan segar di depan mereka.
"Bagaimana denganmu?" tanya si wanita tua.
"Hanya sebuah kesalahan ringan. Kupikir putrimu mengalami sesuatu yang lebih buruk."
"Sheniqua bukan anakku."
"Kupikir juga begitu."
Wanita itu tertawa dan melanjutkan, "Orang tuanga meninggal sejak ia masih sangat muda. Dan kini ia dalam keadaan yang sangat merisaukan."
"Aku menyesal."
"Sungguh... aku juga tidak pernah mengerti mengapa kehidupan selalu berjalan terbalik... seharusnya orang-orang muda itu yang menguburkan kami... bukan sebaliknya."
Ryuzaki tidak pernah menjawabnya.
.
[Day Three]
[23:15]
Ryuzaki membuka pintu ruangan.
Sheniqua yang terkejut menatapnya dari tempat tidurnya.
Mereka bertatapan dalam diam.
"Maaf." bisik Ryuzaki.
"Apakah kau akan menjemputku? Atau tidak?"
Ryuzaki tampak tak paham.
"Kau harus sebagai malaikat atau jangan pernah masuk kemari."
"Aku bukan malaikat."
"Tentu saja kau bukan malaikat. Aku memang tidak pernah mengharapkan malaikat untuk menjemputku. Kau pasti iblis, bukan?"
"Apakah kau pikir kau layak ke neraka?" tanya Ryuzaki.
Sheniqua terdiam.
"Aku pikir kau tidak layak memikirkan kemana kau akan pergi setelah kematian." kata Ryuzaki lagi.
Sheniqua menatap Ryuzaki dan dengan tatapan kemarahan yang menakutkan, ia mengusir pemuda itu.
"Pergi."
Ruangan itu mengendap. Ryuzaki telah menitipkan kesedihan pada setiap sudutnya.
.
[Day Four]
[12:52]
Ryuzaki memutuskan untuk melihat Sheniqua setelah ia makan siang.
Kemudian, saat ia tidak bisa fokus pada sesuatu di laptopnya, ia pun keluar dan kembali ke kamar Sheniqua saat makan malam menjelang.
Saat kemudian tengah malam hampir berlalu, Ryuzaki menemukan dirinya kembali berada di lorong yang sama.
Di depan pintu Sheniqua.
.
[Day Five]
[13:14]
"Jadi... jangan katakan kau menyukainya." kata Light saat berada di kamar Ryuzaki.
"Aku hanya tidak tahu kau melihatku disana."
"Kau berdiri disana seperti mayat hidup. Aku tidak yakin bahwa kau bahkan bernapas. Kau benar-benar seperti berada di lain tempat saat itu."
"Light."
"Ha?"
"Maukah kau membantuku?"
"Ha?"
.
"Demi Tuhan, Ryuzaki!" kata Light kaget.
"Kau ahlinya, bukan. Aku hanya ingin memberitahukan padahnya. Tidak akan ada yang bermasalah kupikir."
"Kau... yang benar-benar bermasalah sekarang." kata Light was was.
"Ayolah."
"Maksudku... lihatlah..." Light tertawa, "Otakmu pasti terbentur..."
Light tertawa dan Ryuzaki mulai kesal.
"Baiklah, aku akan memberikanmu sebuah kesempatan. Sekarang, anggaplah aku wanita itu, dan katakan padanya."
Light menahan tawa dan ia terdiam.
Ryuzaki menatap Light tegang.
"Pfft... hey... aku akan membunuhmu jika kau benar-benar membayangkanku sebagai wanita itu." kata Light geli.
"Kau mau membantuku atau tidak?" Ryuzaki kesal.
"Oke... oke... katakan saja, bung."
Ryuzaki masih menatap Light canggung dan sesaat kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang kembali membuat Light terpingkal-pingkal.
"Aku suka padamu. Ada pertanyaan?" ucap Ryuzaki.
Light masih terpingkal-pingkal saat Ryuzaki berjalan ke arah pintu.
"Oke, oke... hey... maksudku, kau bisa ditikam bila berkata seperti itu pada seorang wanita... astaga Ryuzaki..."
Ryuzaki menyipitkan mata.
"Itulah gunanya aku minta tolong padamu."
.
[Day six]
[22:23]
"Ada yang ingin kukatakan."
Sheniqua menatap Ryuzaki dengan mata biru pucatnya.
Karena ia tidak menjawab, Ryuzaki melanjutkan. "Aku ingin kau sembuh."
Sheniqua masih menatap.
"Kau pikir kau Tuhan? Bahkan Ia telah lama meninggalkanku."
"Aku bukan Tuhan. Aku hanya detektif. Tapi aku ingin kau sembuh."
"Kau CIA. Kau berada disini karena mengalami kecelakaan saat misi di lapangan. Kau mengatakan semua ini karena kau tahu aku akan segera mati, jadi kenapa kau berkata kau ingin aku sembuh? Kau menjijikan."
Ryuzaki terdiam.
"Aku tidak ingin sembuh, aku hanya ingin hidup. Bukankah semua orang memang sakit?"
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan jika bicara denganmu."
Sheniqua tersenyum. "Ada satu hal yang ingin kukatakan."
Ryuzaki menunggu.
"Aku membencimu."
Ryuzaki terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab, "Aku tahu."
.
[Day seven]
Hari itu Sheniqua meninggal.
Ia telah pergi saat jam menunjukkan pukul tiga di sore hari yang panas.
Ryuzaki mendapatkan kebebasannya di hari yang sama.
Saat meninggalkan Rumah Sakit, ia mengunjungi kamar Sheniqua.
Ia berpikir mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.
Ryuzaki memasuki kamar Sheniqua yang sekarang kosong dan ia duduk di kursi di samping tempat tidur.
Ia memandangi tempat tidur selama beberapa menit. Setelah terdiam cukup lama, ia kemudian berbicara.
"Aku mungkin bukan malaikat... aku juga bukan iblis... sepertinya Tuhan belum memilihku untuk menjadi keduanya... tapi aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."
Ryuzaki terdiam.
Matanya yang gelap memandangi tempat tidur dengan intens, seakan ada seseorang disana.
"Aku selalu ingin melihatmu hidup."
.
[Dua hari kemudian]
[HQ]
[14:52]
Light memasuki ruang kerja dan melemparkan sesuatu di meja di depan Ryuzaki.
"Untukmu." kata Light, dan ia kemudian menempati kursi di sebelah Ryuzaki.
Ryuzaki melirik Light sejenak sebelum meraih amplop coklat di meja.
Ia membukanya. Sebuah kertas berukuran cukup besar tampak terlipat di dalam.
Setelah membukanya, Ryuzaki menemukan sebuah gambar. Rupanya itu adalah sebuah gambar buatan tangan.
Ia tidak punya ide siapa objek yang menjadi model di kertas tersebut, tapi ia mengenali bahwa model ini memiliki sayap di punggungnya.
Sayap malaikat dan juga sayap iblis.
Masing-masing sepasang.
Jadi, model ini memiliki empat buah sayap.
Setelah puas mengamati gambar di kertas tersebut, ia membuka sebuah kertas lain yang lebih kecil.
Sebuah surat yang diketik.
'Ada yang harus kukatakan padamu.
Aku membencimu, karena kau tidak pernah membawaku terbang. Tapi tidak apa, aku rasa aku telah melihat temanmu sekarang. Ia mulai muncul setelah kau muncul di depan kamarku. Dan ia berkata ia akan segera mengajakku terbang. Mungkin kau tidak akan pernah mengajakku terbang jauh, tapi aku senang bahwa kau mengutus temanmu. Hanya ada satu hal yang kusesalkan... kau sungguh adalah pecundang sejati. Mengapa kau malah menyuruh temanku untuk membawaku?
Tapi aku tidak kecewa. Semoga kita bertemu di tempat yang tepat setelah ini.
Selamat tinggal.'
Light menatap Ryuzaki tanpa berkedip.
Ia terpana.
"You f*ckin hell... mengapa kisah percintaanmu pun harus begitu rumit, Ryuzaki?"
.
Aku mungkin bukan malaikat... aku juga bukan iblis... sepertinya Tuhan belum memilihku untuk menjadi keduanya... tapi aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu...
Aku selalu ingin melihatmu hidup... dan kini kau akan hidup di dalam hatiku selamanya.
.
Notice, Chapter Ten: Flying Dust - End
Author's: Hanya ingin menuliskan sedikit roman di halaman ini. Ryuzaki bukan orang umum dengan kehidupan biasa maka cerita cintanya mungkin juga sedikit tidak biasa. Menurut saya dia layak mendapatkan kisah percintaan yang berkualitas dan sedikit 'berat' dan tidak umum. Dan tentu saja, lain daripada yang lain.
Intinya, Sheniqua berpikir ia pasti akan dikunjungi oleh malaikat, karena ia tahu bahwa ia akan mati. Namun setelah berpikir, ia ragu apakah dirinya layak masuk ke Eden atau tidak, maka ia beranggapan bahwa Ryuzaki mungkin bukan malaikat. Atau bisa juga keduanya.
Sesungguhnya cerita ini hanya mengetengahkan perasaan depresi seseorang yang diambang kematiannya. Dan kebetulan Ryuzaki memiliki bagian di dalamnya.
Semoga pembaca menikmati kisah kali ini, walau warnanya tidak se-ceria biasanya.
Thanx for read and review.
