Unperfect Kyungsoo

.

.

Cast : All member EXO

Other Cast

Genre : Tragedy, Romance

Rate : T

Typo(s), abal, no plagiat!, plot pasaran, tidak suka jangan dibaca!

.

.

.

Namja tampan dengan setelah jas rapi tengah berjalan dengan penuh kharisma. Wajah tenang dan pembawaan santai menambah menarik sosoknya yang mempesona. Dibelakangnya, ada dua orang penting yang setia mengikuti dan memberikan petunjuk atas apa saja yang harus Ia lakukan. Jongdae, sang Direktur muda, datang dengan penuh pertanyaan serta desisan dari para karyawan. Baru tadi pagi ada salah satu pegawai kantornya yang ditemukan tewas disini, dan sekarang Ia datang seperti tak memiliki beban.

Sebenarnya Ia tahu apa yang tengah dipikirkan mereka. Keraguan atas tanggung jawab yang harus Ia pikul mengingat Ia hanyalah seorang siswa SMA tingkat akhir biasa. Tapi mereka salah jika meremehkan seorang Jongdae. Statusnya boleh seorang pelajar, tapi pengalamannya dalam berbisnis tak kalah dengan seluruh anggota direksi penting di Perusahaan ini.

Jongdae, Sekertaris Park dan Paman Oh tengah menunggu lift untuk menuju ruangan baru milik Jongdae. Namja berahang tegas itu merasakan jika suasana mulai tenang, tak ada lagi bisikan dan desisan dari para karyawan ketika Ia menolehkan pandangannya kesegala arah. Tentu saja, pegawai mana yang ingin ditatap tajam oleh sang Direktur?

"Anda sudah dengar berita tentang kematian satpam Perusahaan kita, Tuan Muda Jongdae?" Sekertaris Park mengeluarkan suaranya membuat fokus Jongdae kembali pada pria yang tengah berdiri disamping kirinya itu.

"Aku mendengar dari televisi tadi pagi" jawabnya santai.

"Apa anda akan melayat kerumah duka, Direktur?" tanya Sekertaris Park lagi.

"Tentu. Aku akan melayat setelah ini. Anda mau menemaniku, Sekertaris Park?" tanya Jongdae dengan senyum dibibirnya.

"Tapi bukankah kita akan melakukan rapat setelah perkenalan anda, Tuan Muda?" sela Paman Oh sebelum Sekertaris Park sempat menjawab.

"Bukankah aku menjawab setelah ini, Paman Oh? Itu bukan berarti benar-benar 'setelah ini' kan?"

Kena!

Seringaian kecil mencuat dari bibir Jongdae. Sebelum Ia memasuki lift yang telah terbuka, namja berahang tegas itu menyempatkan melirik cctv yang telah tertempel benda kecil yang semalam telah timnya pasang. Seringaian kembali tercipta hingga lift kembali tertutup.

.

.

.

"Kau terlihat begitu menyayangi Taeoh?" pertanyaan dari Xiumin mengalihkan atensi namja bermata bulat itu dari sosok bocah kecil yang masih tertidur damai diranjang rawatnya. Ia menoleh dan menemukan dokter yang telah merawat Taeoh tengah menyodorkan secangkir coklat hangat padanya. Kyungsoo tersenyum menerima cangkir coklat itu.

"Ini akan membuatmu merasa rileks" ucap Xiumin sambil mendudukkan dirinya dikursi sebelah Kyungsoo.

"Gomawo" ucapan tanpa suara itu terlihat begitu tulus dari wajah manis Kyungsoo.

"Terkadang hidup begitu sulit untuk dimengerti" Kyungsoo mengerutkan dahinya. Ia menatap wajah dokter imut yang tengah menerawang jauh didalam pikirannya "Kita tidak pernah tahu kapan akan kehilangan dan kapan akan menerima. Benar 'kan?"

Kyungsoo masih menatap wajah Xiumin dalam diam hingga akhirnya Ia berinisiatif untuk menuliskan sesuatu pada buku kecilnya.

"Aku tidak tahu apa yang tengah kau rasakan, tapi aku rasa kau pernah mengalami apa yang saat ini aku alami" Kyungsoo menyodorkan hasil tulisannya pada Xiumin.

Setelah membaca isi dari tulisan itu, Xiumin tersenyum singkat.

"Kau benar" ucapnya.

"Aku pernah kehilangan orangtua dan adikku secara bersamaan. Mereka tewas dibunuh" Xiumin menatap hampa pada Taeoh yang masih terdiam didalam tidurnya.

"Saat itu aku masih sangat muda. Kehilangan keluarga adalah pukulan berat untukku. Terlantung-lantung tak tentu arah karena seluruh harta dari kedua orangtuaku dirampas paksa oleh Pamanku sendiri. Kau tahu, bahkan aku pernah memakan makanan dari tong sampah waktu itu" Xiumin tertawa miris mengingat masalalunya yang sangat menyedihkan.

"Kau pasti sangat putus asa saat itu" tulis Kyungsoo

"Ya. Bahkan aku sempat berpikir untuk bunuh diri" mata doe milik profesor manis itu kembali menatap kosong "Saat itu aku merasa jika dunia begitu kejam padaku. Mereka membunuh keluarga dan mengambil hartaku, membuangku dijalanan tanpa belas kasihan sedikitpun. Hingga saat dimana aku ditemukan oleh Tuan Wu" Xiumin kembali memfokuskan pandangannya.

Kyungsoo masih terdiam, menunggu kelanjutan cerita dari Xiumin.

"Tuan Wu adalah pemilik markas besar ini. Beliau yang memungutku dan merawatku hingga aku menjadi seperti sekarang. Aku sangat beruntung"

Ucapan itu membuat Kyungsoo mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan. Ya, iya baru menyadari jika ini bukan Rumah sakit. Melainkan tempat yang disebut dengan 'markas' oleh namja manis itu.

"Kau tahu, Kyungsoo-ssi. Tidak semua yang terjadi dalam hidupmu adalah hal terburuk" Kyungsoo kembali menatap Xiumin. Tatapan mereka bertemu. Sangat lama dan begitu lekat.

"Kau hanya perlu mengikuti alur permainan jika kau menginginkan keadilanmu. Menghadapi semua resiko yang bahkan tak kau mengerti sekalipun"

Ahh...sepertinya Kyungsoo mulai mengerti arah pembicaraan ini. Pasti ini ada hubungannya dengan pekerjaan kedua saudaranya dan mereka yang ada disini. Kyungsoo ingat saat dimana Ia menemukan Jongin yang terluka, dan dugaannya saat itu adalah karena ada proyektil yang menembus dagingnya. Mungkin itulah salah satu resiko yang dimaksud Xiumin.

"Kau mungkin akan sedikit kaget dengan pekerjaan kami. Tapi mengingat kau telah berada disini bersama Taeoh, jadi aku akan mulai menjelaskan padamu"

Xiumin menatap serius wajah yang tak kalah manis dengannya itu. Ia mulai menceritakan apa dan bagaimana pekerjaan mereka. Siapa saja yang bersedia bekerja disini dengan resiko yang tidak bisa dibilang kecil, bagaimana sistem keamanan yang dapat melindungi mereka dari incaran polisi, Xumin menjelaskan semua tanpa cela sedikitpun. Tujuannya? Tentu saja karena Kyungsoo adalah objek terpenting misi mereka kali ini. Paling tidak Kyungsoo harus mengetahui seluk beluk mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.

Kyungsoo mendengarkan dengan seksama penjelasan Xiumin, sesekali menyesap coklat hangatnya hingga tak tersisa sedikitpun.

"Jadi, kau hanya perlu berdiam diri. Biar ini semua menjadi urusan kami" kalimat itu menjadi penutup penjelasan Xiumin. Kyungsoo terdiam sesaat. Pikirannya terlalu diforsir untuk mengerti dan memahami setiap ucapan dari profesor muda itu.

"Aku harap kau mau menuruti apa yang aku sarankan padamu, Kyungsoo-ssi" Xiumin menepuk pelan bahu Kyungsoo dengan senyum tulus diwajah chubbynya sebelum akhirnya Xiumin bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.

'Apa ini akan baik untuk Taeoh' batin Kyungsoo

.

.

.

"Bagaimana?" tanya suara diseberang earclip

"Aku menemukan sesuatu yang janggal disini" suara itu terdengar lirih.

"Kau menemukan orangnya?" Jongin-suara dari seberang earclip terdengar antusias.

"Ada beberapa keganjilan dari beberapa karyawan. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu" ucap Jongdae sambil meneliti layar laptop yang menampakkan beberapa gambar disudut-sudut ruangan.

"Kau mengenal siapa karyawan itu?" tanya sosok lain dari seberang clip

"Tuan Yongjae, memiliki peran besar dibagian keuangan. Tuan Jungkook pengacara pribadi Do Corp, dan Paman Oh Changmin" terangnya

"Ap-apa? Semua orang penting itu-" Chanyeol tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia kaget meskipun kemungkinan-kemungkinan itu memang bisa saja terjadi.

"Aku mengira jika salah satu dari mereka mengetahui siapa Taeoh" ucap Jongdae sambil mengklik salah satu gambar dilayar laptopnya untuk memperjelas kegiatan yang tengah dilakukan oleh objek pengamatannya.

"Apa ada hubungannya dengan Direktur Kim Corp?" tanya Kris tiba-tiba

"Belum dapat dipastikan. Tapi kemungkinan iya" jelas Jongdae.

"Bagus. Lanjutkan pengamatanmu Jongdae, karena markas kita mulai terdeteksi oleh mafia lain. Kita harus segera memecahkan ini semua sebelum kita diserang" ucapan itu membuat semua yang mendengar dari seberang earclip menegang.

"Sehun, kau disana?" tanya Jongdae yang belum mendengar suara anggota barunya itu.

"Ya. Aku masih disini" jawab Sehun

"Apa yang sudah kau dapatkan?" tanya Chanyeol tak sabaran

"Aku mendapatkan beberapa keterangan dari sidik jari dikertas yang ditemukan Jongin saat itu" jawab Sehun

"Kau telah memastikannya?" kini giliran Jongin

"Aku sedang berada dikantor polisi sekarang" Sehun sedikit berbisik.

"Sidik jari siapa?"

Hening

Diseberang clip Sehun terlihat tengah berpikir. Ia tidak mempercayai ini, tapi niat dan tekadnya sudah bulat untuk membantu Kyungsoo.

"Sehun" panggilan dari Jongdae menyadarkan namja berkulit pucat itu. Sehun menghela napas berat sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Appaku"

.

.

.

"Sial! Koneksi dari penyadap itu terputus!" erang sosok pria bertubuh tinggi yang tengah menatap layar laptopnya.

Ia menggemeratakkan rahangnya saat mengetahui usahanya gagal. Dengan gerakan tergesa, pria itu meraih ponselnya yang ada diatas meja kerjanya. Memencet beberapa tombol dan meletakkannya didepan telinga.

"Yeoboseyo"

"Apa yang sedang kau kerjakan, brengsek! Bagaimana bisa objek pengamatanku hilang!" suara pria itu meninggi

"Maafkan saya, Direktur. Kami sedang mengusahakan agar sem-"

"Aku tidak mau tahu! Apapun alasanmu aku hanya ingin kau melakukan pekerjaanmu dengan benar!" raut wajah yang memerah menandakan jika pria itu tengah dalam mood yang sangat buruk.

"Baiklah, Direktur. Saya mengerti"

"Satu lagi" pria itu menjeda kalimatnya "Ambil kembali umpanku"

Pip

Dan panggilan itu Ia putus secara sepihak.

"Sial! Kesempatanku hilang hanya dalam satu gerakan!" pria itu meremas ponselnya hingga membuat buku-buku jarinya memutih.

"Apapun yang terjadi Do Corp dan Zhang Grub harus menjadi milikku!"

.

.

.

"Kau datang?" tanya sebuah suara halus pada sosok namja tan yang membawa paperbag ditangannya.

"Ne, hyung. Bagaimana keadaan Taeoh?"

"Masih belum sadar. Tapi dia sudah jauh lebih baik dari kemarin" jawab Xiumin tanpa menolehkan pandangannya pada Jongin. Tangannya yang mungil tengah sibuk meracik beberapa formula dengan sangat telaten.

"Baiklah. Aku keruang rawatnya dulu"

"Kkamjong" panggilan itu membuat langkahnya terhenti. Ia kembali menoleh pada Xiumin yang tengah menatapnya serius.

"Aku rasa, aku tahu siapa yang sudah membuatmu berubah" mata Xiumin melirik paperbag yang berada ditangan Jongin. Jongin tersenyum singkat menanggapi namja yang telah Ia anggap sebagai hyung itu sebelum akhirnya Ia kembali melangkah menjauh.

Ceklek

Namja tan itu membuka pintu ruang rawat dengan sangat pelan. Pandangannya langsung tertuju pada bocah kecil yang masih setia memejamkan matanya. Disana, disebelah ranjang Taeoh, Ia menemukan sosok lain yang juga tengah tertidur sambil menelungkupkan kepalanya diatas ranjang sementara tubuh mungilnya terduduk dikursi. Jongin berjalan mendekat, meletakkan paperbagnya diatas meja nakas dan berdiri disebelah Kyungsoo yang tertidur. Ia menghela napas berat.

"Badanmu akan sakit jika posisi tidurmu seperti ini" gumamnya entah pada siapa.

Jongin menundukkan tubuhnya, mengarahkan tangannya diantara kaki mungil Kyungsoo dan belakang lehernya. Dengan sekali hentakan Jongin telah berhasil mengangkat tubuh Kyungsoo kedalam gendongannya.

Namja tan itu berjalan kearah sofa yang ada diruang rawat Taeoh. Dengan sangat hati-hati Jongin merebahkan tubuh mungil Kyungsoo disana.

Deg

Getaran itu hadir lagi.

Jongin memposisikan dirinya berjongkok didepan tubuh mungil Kyungsoo. Ia tersenyum saat menatap wajah damai yang tengah terpejam itu. Menelusuri setiap lekuk wajah yang telah dipahat dengan sangat indah oleh Tuhan. Tanpa Ia sadari tangan kokohnya bergerak untuk mengelus pipi gembil Kyungso. Jongin kembali tersenyum.

"Bagaimana bisa wajahmu semanis ini?" Ia bergumam kembali

Tangan kokohnya kini bergerak untuk menyentuh sisi wajah Kyungsoo yang lain. Bibir.

Deg

Lagi, detak jantungnya berderu dengan sangat kencang. Tiba-tiba nafasnya memburu tanpa sebab. Apa yang tengah terjadi pada jantungnya?

Jongin mengelus bibir tebal yang sedikit terbuka itu dengan sangat perlahan. Mengamati bagaimana bibir tebal berwarna pink alami itu tidak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali bibirnya.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati Jongin mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo. Ia tergoda untuk sekedar menempelkan bibirnya pada belahan bibir namja mungil itu. Tangan kokohnya menggenggam tangan mungil Kyungsoo yang tergeletak disamping tubuh tak berdayanya. Semakin dekat, dan...

Chu~

Jongin menempelkan bibirnya pada belahan bibir tebal milik Kyungsoo. Masih terasa manis seperti saat itu, pikirnya. Jongin memejamkan matanya menikmati lembutnya bibir Kyungsoo. Ia ingin lebih. Dengan lembut, namja tan itu mulai melumat bibir bawah manis itu. Melumatnya sangat lembut dan penuh kehai-hatian, takut jika sanga pemilik bibir manis terbangun dari tidurnya.

"Eungh" lenguhan yang hampir tak terdengar itu membuat Jongin berjingkat. Ia segera melepaskan tautan bibir mereka saat menyadari pergerakan tak nyaman dari Kyungsoo.

Jongin masih setia menatap wajah manis itu hingga bola mata bulat milik Kyungsoo mulai terbuka. Jongin tersenyum manis menyambut kesadaran saudara tirinya itu.

"Kau sudah bangun?" tanya Jongin lembut.

Yang ditanya masih sibuk mengerjap-ngerjapkan matanya lucu membuat Jongin gemas tanpa alasan. Setelah beberapa saat Kyungsoo mengangguk.

"Hyung~" suara serak khas anak-anak baru bangun tidur menyita atensi mereka. Pandangan mereka mengarah pada ranjang Taeoh, dan mendapati bocah kecil itu tengah terduduk dengan kedua mata bulatnya yang berbinar.

"Taeoh" Jongin dan Kyungsoo segera bangkit dari posisinya dan mendekati Taeoh. Tanpa aba-aba Kyungsoo segera memeluk bocah kecil itu dengan erat, menyalurkan rasa lega yang tengah menyeruak didalam dadanya.

Tangan mungilnya mengelus helaian rambut Taeoh yang terasa halus ditelapak tangannya.

"Taeoh merasa ada yang sakit?" pertanyaan dari Jongin menyadarkan Kyungsoo. Ia lupa menanyakan keadaan bocah kecilnya dan justru memeluknya dengan sangat erat.

Taeoh menggeleng sambil tersenyum membuat Jongin dan Kyungsoo merasa lebih lega lagi.

"Hyung, apa hyung sedang sakit sepelti Taeoh?" mata bulat Taeoh menatap Kyungsoo dengan raut polosnya. Kyungsoo menggeleng atas pertanyaan itu. Sebenarnya Ia yang lebih bingung, Taeoh baru sadar dan malah menyanyainya sedang sakit atau tidak.

"Memangnya ada apa, Taeoh?" tanya Jongin sambil mengelus kepala Taeoh sayang.

"Bibi yang memasak dilumah seling bilang, jika sakit akan mendapat satu ciuman dali bibi. Tadi Taeoh melihat Jongin hyung mencium Kyungsoo hyung, jadi Taeoh pikil Kyungsoo hyung sedang sakit sepelti Taeoh"

Deg

Ucapan polos itu membuat Jongin memaku ditempatnya. Dengan cepat Kyungsoo menoleh kearah Jongin, dan dibalas senyum kikuk oleh namja tan itu.

"A-apa Taeoh baru bermimpi?" Jongin mencari alasan. Bisa gawat jika Kyungsoo tahu bahwa yang dikatakan Taeoh itu benar.

"Le-lebih baik aku panggilkan Xiumin hyung dulu" segera melangkah pergi setelah Ia mengatakan hal itu. Tentu saja tingkah Jongin yang aneh membuat kedua makluk mungil itu menatap penuh kebingungan.

"Jongin hyung aneh"

.

.

.

"Apa kau tahu sesuatu tentang Appamu sebelumnya, Sehun-ah?" tanya Jongdae setelah beberapa waktu lalu memutuskan untuk bertemu dengan timnya disebuah cafe-minus Jongin dan Xiumin.

Sehun menggeleng.

"Ada yang tidak beres disini" Chanyeol menarik kesimpulan dan diangguki oleh Kris.

"Aku tahu siapa Appaku. Tidak mungkin dia yang melakukan semua ini" bela Sehun dengan suara lemahnya. Jongdae menghela napasnya kasar.

"Sehun-ah, kau yakin dengan apa yang kau katakan?" Chanyeol memastikan

"Apa wajahku terlihat seperti seorang pembohong!" Sehun menatap tajam pada namja tiang listrik itu.

"Oke, jika kau yakin Appamu tidak terlibat, maka lakukan tugasmu" Chanyeol memberikan selembar kertas pada Sehun.

Sehun mematung ditempatnya. Ia menatap kertas itu dengan tatapan datar.

"Aku tidak mau" sanggahnya kemudian

"Astaga! Mengapa ini begitu rumit" Kris mengusap wajahnya kasar. Ia terlalu frustasi. Terlalu banyak hal yang satu-persatu bermunculan dan masih belum ada titik terang sama sekali. Dan sekarang Sehun menolak peerintah tugasnya.

"Kau harus mau, Sehun. Hanya kau satu-satunya orang yang paling dekat dengan Tuan Oh Changmin" Chanyeol memberi tatapan yang tak kalah dingin dari Sehun.

Jongdae hanya menyaksikan perdebatan ini tanpa mau menyuarakan apa yang ada dihatinya. Ya, Ia memiliki pemikiran yang sama dengan Sehun maupun Chanyeol. Satu sisi, mereka tidak mungkin memojokkan Sehun, tapi disisi lain perkataan Chanyeol benar. Karena hanya Sehun yang paling dekat dengan Paman Oh.

"Itu sama saja kau menuduh Appaku tanpa bukti, brengsek!" Sehun berdesis tajam.

"Sehun, tenangkan pikiranmu. Kau hanya akan merusak suasana jika terbawa emosi" akhirnya Kris menengahi acara perdebatan ini.

"Aku tidak mau, Kris. Jika aku melakukan ini, sama saja aku menghianati Appaku sendiri!"

Jleb

Bagaikan ditancap duri, hati ketiga namja tampan itu meretak. Mereka sama-sama seorang namja, mereka sama-sama memiliki Appa, dan mereka adalah rekan kerja, bagaimana mungkin mereka tega melihat rekan mereka sendiri tersiksa dengan kenyataan ini.

"Kau telah mengambil keputusan dari awal. Apapun resikonya, kau harus tetap berjalan, Sehun-ah. Kami tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi ini demi keadilan untuk Kyungsoo, untuk sahabatmu. Kau menyelidiki Appamu bukan berarti kau menghianatinya. Kau hanya memastikan" Sehun menatap Jongdae setelah ucapan itu terlontar dari bibir namja berahang tegas itu.

Hening

Tidak ada jawaban maupun bantahan lagi dari Sehun. Hingga satu anggukan kecil darinya memberikan kelegaan dihati mereka.

.

.

.

"Taeoh sudah boleh pulang karena keadaannya yang sudah membaik. Ia hanya mengalami sedikit shock sehingga Ia merasakan sakit dikepalanya. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa" Xiumin yang baru saja memeriksa keadaan bocah kecil itu tersenyum riang didepan Kyungsoo dan Jongin.

"Apa ada kemungkinan sakit dan pusingnya akan kembali lagi?" tanya namja berkulit tan itu khawatir

"Kemungkinan iya, tapi tidak akan separah yang sebelumnya"

"Apa benal Taeoh sudah boleh pulang?" pertanyaan polos itu menyita atensi ketiga namja yang tengah berbincang itu.

"Tentu saja, Taeoh-ya. Kau sudah boleh pulang dan bisa bermain lagi sekarang" ucap Xiumin dengan senyum ramahnya

"Yeaayy!" riang bocah itu membuat Kyungsoo tersenyum lebar.

Piuw Piuw...

Tiba-tiba suara alarm berbunyi sangat nyaring. Jongin dan Xiumin saling tatap, mereka mengetahui jika ini adalah tanda bahaya

"Ada apa, hyung?" tanya Jongin

"Aku tidak tahu. Sepertinya masalah koordinat markas kita yang telah terlacak. Aku akan melihatnya. Dan sebaiknya segera bawa Kyungsoo dan Taeoh pergi dari sini" ucap Xiumin kemudian berlari meninggalkan ruangan itu.

Jongin menatap Kyungsoo dan Taeoh yang memasang wajah bingung mereka.

"Kyungsoo hyung, kita harus segera pergi dari sini" ucap Jongin tergesa. Ia segera menggendong Taeoh dan menggenggam tangan Kyungsoo erat untuk membawanya menjauh dari markas itu. Jika alarm peringatan telah berbunyi, itu artinya keadaan markas memang sangat tidak baik.

Kyungsoo tidak sempat bertanya pada Jongin, Ia hanya bisa mengikuti langkah namja tan itu yang sepertinya terburu. Beberapa lorong mereka lewati, sepanjang itu mata bulat Kyungsoo menangkap lalu lalang orang-orang yang tengah sibuk dengan earclip dan juga alat-alat asing ditangan mereka.

Jongin melepaskan genggaman tangannya pada Kyungsoo saat mereka berdiri disudut lorong dengan pintu kaca blur disana. Kyungsoo melihat tangan kanan Jongin yang Ia tempelkan pada sisi kanan pintu yang membentuk telapak tangan, sedikit menekannya dan keluarlah cahaya berwarna merah dari sana.

'Deteksi sidik tangan berhasil'

Pip

Secara otomatis pintu itu terbuka.

Jongin kembali menggenggam tangan Kyungsoo dan mulai menariknya kembali. Awalnya Kyungsoo mengira jika itu adalah pintu keluar markas ini, namun dugaannya salah.

Mata bulat Kyungsoo melebar saat Ia menemukan berjejer-jejer mobil sport berbagai merk dan warna tertata rapi disana. Jongin mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku celana dan...

Pip pip

Ia menemukan dimana mobilnya. Segera Jongin membuka pintu mobil berwarna merah itu dengan sangat tergesa dan mendudukkan Taeoh dijok kursi belakang, sementara Jongin meminta Kyungsoo duduk disebelah kursi kemudi.

Sebenarnya sangat banyak pertanyaan dikepala Kyungsoo, namun melihat keterdiaman Taeoh dan juga Jongin membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya. Mungkin memang belum saatnya, pikirnya.

"Pasang sabuk pengamanmu, hyung. Aku akan sedikit kebut"

.

.

.

"APA?! Bagaimana bisa terjadi?" Kris melirihkan suaranya saat kalimat terakhir itu diucapkan.

"Belum ada kejelasan tentang semuanya, Kris. Kau harus segera ke markas" suara gugup dari seberang membuat Kris mengerutkan dahinya. Ia panik sekarang.

"Bagaimana dengan Appa?"

"Tuan Wu sedang dalam perjalanan dari Kanada ke Seoul. Beliau sudah berada di pesawat"

"Baiklah, kami akan segera kesana"

Pip

"Ada apa?" tanya Chanyeol tak sabaran

"Markas dikepung. Mereka mafia yang sama dengan anggota SWAT gadungan yang pernah disewa Kim Corp" Kris mengusakwajahnya kasar.

"B-bagaimana..." Chanyeol hanya bisa menganga.

"Kita harus segera kemarkas sekarang" ucapan dari Jongdae mendapat anggukan dari Kris dan Chanyeol. Tanpa perintah lagi, mereka segera bangkit dan berjalan meninggalkan cafe. Jogdae masih akan beranjak sebelum suara datar itu menyapa telinganya.

"Aku tidak ikut"

Jongdae menoleh kearah Sehun.

"Kau hanya perlu melakukan bagianmu, Sehun-ah. Masalah markas, itu urusan kami" jawab Jongdae dengan senyum diwajahnya.

"Jaga Kyungsoo ku, hyung" namja datar itu menatap penuh harap pada Jongdae.

"Pasti" setelah megelus pelan pundak Sehun, Jongdae segera memacu langkahnya menyusul kedua rekannya yang lain. Sementara Sehun, dia hanya tersenyum. Senyum yang hanya dia sendiri yang dapat mengartikannya.

.

.

.

Jongin menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Cuaca yang sedikit mendung membuat langit malam kota Seoul tak dihiasi bintang satupun. Ini sudah hampir pukul 8 malam, dan Jongin lupa jika Kyungsoo dan Taeoh belum makan sesuatu apapun sejak siang. Ia ingat jika tadi Ia membawakan makanan untuk mereka, tapi apa daya paperbag berisi makanan itu tertinggal di markas.

"Apa kalian lapar?" tanya Jongin memecah keheningan setelah dirasajauh dari lokasi markasnya.

"Taeoh lapal, hyung~" rengekan manja dari belah bibir bocah mungil itu.

Jongin terkekeh sebentar lalu tersenyum lembut.

"Baiklah, kita beli makanan di toko sebelah tikungan itu, ne?"

Taeoh mengangguk semangat sambil bersorak, sedangkan Kyungsoo hanya terdiam. Mata bulatnya menatap kaca spion mobil yang menampakkan dua buah mobil berwarna hitam yang sedari tadi mengikuti mereka. Ah, atau mungkin hanya perasaannya saja.

Jongin menghentikan mobilnya didepan toko makanan cepat saji. Ia memutuskan untuk membeli makanan itu sendiri sementara Kyungsoo dan Taeoh tetap berada di mobil. Suasana dijalanan ini sudah mulai sepi karena jam terus bergerak semakin larut, dan cuaca yang dingin membuat orang-orang lebih memilih duduk didepan penghangat rumah mereka sambil menyesap coklat hangat dari pada harus berkeliaran malam-malam seperti ini.

Tok tok

Mata bulat Kyungsoo menoleh kearah kaca jendela mobil yang baru saja diketuk. Mata bulatnya menangkap dua orang pria tengah menatapnya dengan tatapan aneh. Kyungsoo segera membuka kaca jendelanya untuk menanyakan ada keperluan apa mereka mengetuk kaca jendela mobilnya. Kyungsoo mengeluarkan buku kecilnya dan mulai menulis.

"Ada yang bisa saya bantu, Ahjussi"

Pria itu saling berpandangan sebentar sebelum mereka saling mengagguk satu sama lain.

Kyungsoo mengerutkan keningnya, Ia bingung dengan tingkah dua orang yang masih saja berdiam diri di tempatnya sebelum...

Ceklek

Sret!

"Hyung~!"

Mmmpphh...

"Hyung...hyummph...!" teriakan Taeoh begitu menggema ditelinga Kyungsoo. Mata bulatnya melihat Taeoh yang digendong paksa oleh salah satu pria tadi dan dimasukkan kedalam mobil.

Kyungsoo ingin menolong Taeohnya, Kyungsoo ingin mengejar Taeohnya, namun cengkeraman pada tubuhnya dan juga mulutnya yang dibungkam membuatnya sulit untuk bertindak. Kyungsoo terus meronta saat Ia melihat Taeoh yang menangis sambil berteriak memanggilnya.

"Diam cacat! Atau aku akan melukaimu!" pria itu mendekatkan sebuah pisau lipat pada leher Kyungsoo. Kyungsoo tercekat, Ia bingung harus berbuat apa sekarang. Matanya mengedar, mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. Tapi nihil, kawasan ini terlampau sepi hingga tak ada satu orangpun yang melewati jalan ini.

Kyungsoo tidak memperdulikan ucapan pria itu, yang ada dipikirannya hanya Taeoh. Taeoh yang masih berteriak memanggilnya, Taeoh yang sedang membutuhkan bantuannya. Hingga satu tendangan berhasil Ia layangkan untuk pria yang tengah mencengkeram tubuhnya. Pria itu meringis dan memegangi tulang keringnya yang terasa sakit, hingga tanpa sadar melepaskan cengkeramannya pada Kyungsoo.

Menyadari pria itu tengah kesakitan, Kyungsoo segera berlari mendekati mobil yang ada Taeoh didalamnya. Namun baru beberapa langkah Ia berlari, tangannya kembali dicengkeram dan terasa tengkuknya dipukul dengan keras. Kyungsoo tersungkur di atas aspal.

"Sialan kau, cacat!"

Bugh Bugh Bugh!

Tubuhnya ditendang berkali-kali oleh pria yang tak Ia kenal itu. Perutnya, kepalanya, dadanya, semua terasa sakit dan sesak saat tendangan brutal itu mengenai tubuhnya. Kyungsoo memejamkan mata bulatnya menahan sakit, Ia ingin melawan, tapi tubuhnya terlanjur lemah. Darah segar mulai keluar dari sudut bibirnya akibat tendangan keras dari pria itu. Ia mengerang tertahan, Ia ingin berteriak, tapi tak bisa.

"Hyuung~!"

Kyungsoo membuka matanya. Ia melihat Taeoh yang dibungkam paksa didalam mobil. Kyungsoo ingin menangis, Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Taeoh.

Bugh! Bugh!

Pria itu masih saja menendang hingga suara deru mobil berada dekat dengannya. Sedikit melirik, dan Ia mendapati pria yang baru saja menendanginya segera memasuki mobil dan pergi menjauh.

"Astaga, KYUNGIE!" Jongin menjatuhkan plastik makanannya saat baru saja keluar dari toko. Ia kaget mendapati tubuh Kyungsoo yang tersungkur diatas aspal. Ia berlari mendekati Kyungsoo dengan raut khawatir.

"Kyungie, apa yang terjadi?"

"Taeoh" Kyungsoo berucap tanpa suara. Jongin mendelik, Ia segera mengarahkan pandangannya pada mobilnya dan tidak mendapati sosok mungil itu disana.

"Sial!"

Jongin segera membantu Kyungsoo berdiri. Ia memapah namja manis yang telah babak belur itu kedalam mobil.

"Pakai sabuk pengamanmu, kita kejar mereka!" kata Jongin cepat setelah Ia duduk dibelakang kemudi. Kyungsoo menurut, Ia segera memasang sabuk pengamannya dan merasakan mobil Jongin bergerak dengan sangat cepat.

Namja tan itu terlihat sedang mengawasi dua mobil berwarna hitam yang berada didepannya. Ia tahu jika mobil itu yang membawa Taeoh, karena sebelumnya Ia sempat melihat dua mobil itu membuntuti mobilnya. Jongin menginjak gas nya untuk menambah kecepatan. Disampingnya, Kyungsoo terlihat khawatir. Ia tak menghiraukan tubuhnya yang terluka, bibirnya yang mengeluarkan titik darah, yang ada dipikirannya hanya Taeoh.

Mobil Jongin telah berada tepat dibelakang mobil hitam itu. Samar-samar Ia dapat seorang anak kecil yang tengah meronta didalam. Jongin menggemeratakkan giginya, Ia geram, mengapa harus Taeoh?

Menyadari jika ada mobil yang tengah mengikuti mereka, salah seorang pria didalam mobil hitam itu mengeluarkan handgun dari tangannya. Mengarahkan handgunnya kebelakang dan bersiap menembak.

Kyungsoo mendelik mengetahui apa yang tengah diarahkan kemobil mereka. Ia mendengar Jongin mendecih disebelahnya sebelum suara memekakkan itu terdengar.

DOR!

Sreet...

Jongin sedikit membanting stir kekiri, menghindari tembakan yang hampir mengenai mobilnya.

"Sial!" desisnya kesal.

Sementara Kyungsoo, Ia masih terlalu shock atas adegan penembakan ini. Ia belum sempat menghela napas lega ketika lagi-lagi suara itu menggema.

DOR DOR!

Kali ini tembakan itu mengenai kaca mobil bagian depan mobil mereka. Refleks Jongin menginjak rem dan menunduk sehingga memberi jarak yang sedikit jauh dari kedua mobil itu.

Menyadari mobil yang membawa Taeoh semakin jauh, Jongin kembali menginjak gasnya. Ia berusaha berkonsentrasi. Yang terpenting adalah keselamatan mereka dan juga Taeoh.

Jongin mengedarkan pandangan saat melihat dua mobil itu berpencar untuk mengecohnya. Satu mobil kearah kanan, dan satu mobil lagi kearah kiri. Namun bukan Jongin namanya jika Ia tidak memiliki perhitungan yang tepat. Ia berseringai ketika mengetahui sesuatu yang akan mengantarkan mereka pada Taeoh.

"Bersiaplah, Kyungie. Kita dapatkan kembali, Taeoh"

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai..Hai... :D JongSoo hadir membawa Chap 10.

Nulis disela-sela kerjaan yang menumpuk, jadi mungkin feel nya sedikit nggak ngena *eh

.

Rahmah736 : Ini sudah dilanjut, chingu-ya. Kaisoo? Umh...masih rahasia :D

Yessi94esy : Wahh...analisisnya daebak :D tapi belum semua bener ya :D Paman Oh dan Sehun terlibat atau enggaknya, nanti akan ketahuan kok seiring jalannya cerita. Sabar :*

Lian : Udah dilanjut nih chingu. Waah...gomawo sudah menyukai fic nya Jongsoo :*

anisafransiskaa : Udah ketahuan belom nih Paman oh terlibat apa enggaknya? Hayoh ditebak lagi :D

Kim YeHyun : Terlibat nggak ya? Tapi udah ada clue tuh diatas, hayoh tebak. Iya sih, mereka kejam, kan kesian uri baby Tae :'( *lhoh?

meyriza : Bhaak :D Karena ini ada actionnya kira-kira tuh Paman Oh beneran mengabdi apa enggak? Hayo loh?

kaisoomin : Ini sudah dilanjut :) Ada clue nya tuh diatas :D

Sofia Magdalena : He'eh, banyak musuh dalam selimut ini. Kesian baby Tae :(

rakaahmada : Khekhe demi semua naga? *ngakak. Ini sudah dilanjut. Gomawo sudah menunggu :)

kianaevellyn : Khekhe...sudah di UP kok Fic baru nya, genre horror. Terimakasih sudah menanyakan. Selamat membaca :*

yuniawijayanti2002 : Penasaran? Tunggu chap selanjutnya, ya :)

Ji Minsoo : Ini sudah next. Umh, bisa jadi si :D

meliarisky7 : Sudah next nih. Gomawo~

Lovesoo : Ayuk peluk baby Tae bareng2 *eh. Ini sudah next nih. Tae nggak akan disakiti, karena Jongsoo juga kagak tega liat Tae terluka :'(

waiz Snivy : Beneran penasaran ya dek? Haha...ini udah dilanjut nih, Mian membuatmu menunggu sampek begadangan :'(. Paman Oh dan Sehun? Wahh...coba tebak, mereka beneran terlibat apa enggak? Nado saranghae adek :*

Guest : Ini sudah dilanjut. Jongsoo juga gemes ih :D

KrisnaAnggaDewi : Hai...salam kenal juga. Nggak banyak misteri kok, hanya alurnya saja yang memang seperti ini. Biar fic nya bisa tetep jalan *eh :D

kyung1225 : Waah...ini belum sehebat detektif conan kok, Jongsoo masih belajar :D . Ne~nggak masalah, asalkan tetap ripiuw dan mendukung Jongsoo, udah seneng banget akunyah. Gomawo~ :*

SevtrisaV : Pasti akan next terus kok. Gomawo~

Xxxibgdrgn : Yaah...kiss ku udah terlanjut nyampek ke kamu, gimana dong chingu? :D ditunggu ya, ntar end nya bakal kayak gimana.

Dhina395 : Nasibnya Taeoh? Haha...akan ketahuan chap depan.

Jongsoo harap kalian masih mau memberikan coretan saran dan semangat di kolom ripiuw.

Terimakasih...