"Hm, Sehun-ssi apa kau tidak mengenaliku?"
"Memangnya kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu atau bahkan mendengar namamu. Jadi jangan berlagak seperti kau kenal baik denganku, lagipula aku tidak ada banyak waktu, jadi cepat katakan ada apa kau memanggilku dan hyungku kesini."
"Berjanji bersama? Otakmu dimana? Jangan berharap banyak padaku Xiao Lu.
"Mungkin ini adalah waktu terakhirku untuk bisa menatapmu Hun-ah, kalau kau senang tanpa adanya diriku disini, aku ikhlas."
SUMMARY : Apa arti cinta sebenarnya? Perasaan seperti apa? Maniskah? Atau hanya akan membuat sakit.
CAST : HunHan, ChanBaek, KaiSoo, + another member + OC.
PERINGATAN : CERITA INI MURNI HASIL KARYA SENDIRI. APABILA TIDAK SUKA JANGAN DIBACA. NO BASH! PLEASE REVIEW. GOMAPTA.
LeeJihye
Presents
"Cinta membuatmu gila ya?"
"CINTA BUKAN HANYA PERUMPAAN KATA. CINTA BISA MEMBUAT HAL YANG TIDAK MUNGKIN MENJADI MUNGKIN. CINTALAH YANG MEMPERSATUKAN MEREKA"
"Seyoul-ah" Luhan berbisik. "Aku ingin berbicara denganmu, hanya berdua."
"Hm? Eoh? Baiklah. Oh Sehun, adikku yang paling manis, bisakah kau menunggu disini? Aku ada sedikit urusan dengan tamuku."
"Manis? Aku tampan hyung. Hm, arraseo."
Luhan dan Seyoul bergegas keluar café.
"Seyoul-ah, apa yang terjadi selama Sehun berada di luar Korea, huh? Kenapa dia tidak mengenaliku?"
"Hm? Mianhae Han-ah, bukannya aku bermaksud untuk tidak memberitahumu tentang sesuatu, tapi itu sangat diluar perkiraanku sekarang."
"Apa maksudmu? Tolong jangan berbelit, cukup katakan saja."
"Kau ingat, apa tujuan Sehun mengasingkan dirinya ke Jerman?"
"Dia berobat bukan mengasingkan diri, tolo diralat sedikit, Tuan."
"Haha, iya iya. Kau tahu kan apa alasannya?"
"Dia menyembuhkan kankernya?"
"Tepat. Tapi setelah beberapa bulan dia menjalani operasi dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilang ingatan. Semua ingatan lama terhapus begitu saja, dan sekarang ia hanya bisa mengingat orang-orang seperti aku, eomma, appa, dan Chanyeol cs. Tapi maaf, dia tidak bisa mengingatmu."
"Naega wae?!"
"Sudah aku bilang ini diluar kemampuanku Lu, dokter bilang bahwa Sehun mengalami sedikit guncangan pada pikirannya saat kecelakaan, itu yang membuat sebagian ingatan Sehun tentang hal yang membuatnya bahagia hilang begitu saja, layaknya asap. Bussshhh. Sudah kukatakan ini diluar kemampuanku, sebagai psikiater, aku tidak bisa membuatnya ingat tentang dirimu Lu."
"The hell! Ups, mianhae. Bagaimana bisa, itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa seseorang yang hilang ingatan sebagian hanya melupakan kejadian indah dalam hidupnya?" Luhan terdiam.
"Tunggu, maksudmu? Kenangan indah, jadi maksudmu kenangan Sehun bersamaku termasuk?"
"Yap, kenangan Sehun bersamamu bisa dikategorikan sebagai salah satu kenangan indah, tapi aku tidak mengerti dengan Sehun sekarang. Kenangan indah antara kami bersama appa dan eomma sangatlah banyak, tapi Sehun tidak melupakan pelakunya. Sedangkan kau?"
"Sedangkan Sehun melupakan semua kenangan kami saat masih di bangku kuliah dulu hingga sekarang? Mengejutkan untukku, tapi mungkin tidak baginya."
"Lu jangan mulai."
"Baiklah, mungkin kehadiranku disini pun tidak berarti apa-apa kan? Lebih baik aku pulang dan berusaha untuk melupakan dia."
"Lu jangan seperti ini-"
"Seperti bagaimana? Sudah cukup aku merasakan sakit selama tiga tahun kehilangan dia, dan disaat satu-satunya kesempatanku bertemu dengannya dia malah tidak mengingatku sama sekali."
"Baiklah Lu. Aku akan membantumu sebisaku, aku akan terapi Sehun kembali disini, kau tidak perlu khawatir."
"Tidak usah melakukan hal yang tidak perlu kau lakukan Youl, cukup berhenti disini. Aku permisi."
"Luhan kau harus tahu, kehilanganlah yang akan menyatukan kalian kembali!" teriak Seyoul, walaupun dia tahu bahwa Luhan tidak akan mendengarkannya.
Luhan langsung berlari ke mobilnya dan menjalankan mobilnya sekencang mungkin dijalan Seoul yang lumayan senggang siang ini.
"Aku berani bertaruh Sehun memang benar-benar melupakanku. Kau bodoh Lu! Untuk apa kau berharap Sehun masih mengingatmu, mungkin saja kecelakaan dan hilang ingatan itu hanya bualan mereka."
"Kyungsoo..kyungsooo.."
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi beep."
"Ya Do Kyungsoo kau dimana! Cepat hubungi aku kembali aku ada urusan penting yang harus dibicarakan! Apartemenku jam tiga sore, kalian semua!"
Brakk!
Luhan langsung membanting ponselnya di dashboard mobil dan menambah kecepatan mobilnya.
"Tunggu sebentar lagi Oh Sehun dan kau akan merasakan sakit yang sama yang kurasakan cepat atau lambat." Sebuah smirk tercipta indah di wajahnya.
Luhan's Apartment. 06:00 KST
Ting Tong
Ting Tong
"Sabarlah sedikit bocah!"
Kriett..
Bugh!
"Siapa yang kau bilang bocah?" ucap Kai sembari melempar tasnya kearah Luhan.
Bugh
"Siapa yang memberi perintah datang cepat kesini dan marah di telefon." Ucap Kyungsoo sembari melempar paper bag pada Luhan.
Bugh
"Siapa yang membuka pintu dengan sangat lamban." Ucap Baekhyun setengah berlari.
Bugh
"Aku hanya mengikuti mereka, sumpah!" ucap Chanyeol dan langsung berlari menghampiri Baekhyun.
"Ya! Kalian mau mati sekarang!"
Brakkk!
"Kenapa dijatuhkan bodoh?" teriak Kyungsoo, Kai dan Baekhyun.
"Don't care!"
Kyungsoo dan Baekhyun sibuk di dapur, Kai, dan Chanyeol sibuk dengan joystick ditangan masing-masing. Sedangkan Luhan berkutat penuh dengan tablet kesayangannya.
"Makanan siap!" teriak Kyungsoo.
"Akhirnyaa!"
"Luhan, cepat ceritakan masalahmu pada kami."
"Hari ini aku bertemu dengan-"
"Sehun?" potong Chanyeol.
"Hoh? Kau..bagaimana?"
"Aku menghubungi Seyoul untuk menanyakan jadwal rapatku minggu depan, dan tidak sengaja Seyoul menceritakan semuanya, bahwa kau!" Chanyeol sambil menunjuk Luhan. "menggunakan ponselku untuk berkirim pesan dengan Seyoul dan memintanya untuk bertemu dengan berkedok ingin mempekerjakan Sehun di kantorku? The hell! Tanggung jawab siapa sekarang?"
"Aku ganti pulsamu bodoh, pelit sekali."
"Bukan masalah pelit, melainkan kebohongan bodoh! Kau pikir semudah itu mempekerjakan orang yang belum kau kenal secara pribadi? Disaat dia baru sembuh dan masih harus menjalani terapi?" Seketika raut wajah Luhan berubah. Air mukanya berubah tegang.
"Kupikir Seyoul sudah memberitahumu kan tentang Sehun? Well, kesimpulanku sempurna. Kau memanggil kami semua kesini hanya untuk mengadu bahwa Sehun tidak bisa mengingat dirimu, lalu kau berusaha untuk membuat Sehun mengingat dirimu dengan cara membantunya terapi kan?"
"Yeol hajima." Baekhyun berusaha menengahi.
"Lalu untuk apa kau membantunya terapi? Kalau alasan sebenarnya adalah bahwa kau hanya ingin balas dendam pada Sehun. Agar dia merasakan sakit hati yang sama denganmu dengan cara kau berpur-pura menjadi terapis untuknya, membuatnya jatuh cinta padamu, dan meninggalkannya begitu saja. Dimana harga dirimu?"
"Oh kau cukup pintar Tuan Park."
"Jangan lupa aku mantan anggota tim penginterogasi tahanan di kepolisian Amerika. Aku bisa membaca pikiran mereka hanya dari mimik wajah saja."
"Well, kesimpulanmu tepat dan sangat sempurna. Itulah yang aku inginkan, balas dendam!"
Buuurrr…
Kai mengeluarkan minuman di dalam mulutnya dengan satu semburan.
"Jinjja! Kau yakin? Kau bilang kau mencintainya kan? Kenapa ingin balas dendam?"
"Jinjja jinjja matamu Kkamjong! Lihat apa yang kau lakukan pada wajahku!" teriak Baekhyun.
"Ups. Mianhae hyung. Saranghaeeeee~" Detik itu juga Kai dan Baekhyun terlibat lomba lari.
"Cinta ataupun tidak itu tidak penting sekarang. Yang aku inginkan hanya Sehun bisa mengingatku apapun caranya."
"Termasuk menyiksanya dengan memaksakan kehendakmu itu?"
"Oh Kyung, tolonglah-"
"Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan dia bisa mengingat hal tertentu dengan cepat atau tidak sama sekali. "
"Tapi-"
"Sepertinya aku harus lebih sering membawamu ke gereja bersama Siwon hyung."
"Cih, kau membicarakan si anak bibble itu sekarang."
"Panggil dia dengan sopan!"
"Hajiman! Kalian berisik sekali tahu? Baiklah Lu, apa yang ingin kau lakukan?"
"Izinkan aku bekerja dengan Seyoul. Maksudku, sama-sama membantu Sehun terapi."
"Lalu?"
"Bila itu tidak berhasil, kau harus siap untuk membantuku dalam rencana lain."
"Kyungsoo aku butuh izinmu."
"Park Chanyeol tolong-"
"Ayolah Kyung, sekali ini saja, demi aku."
"Terserah kalian." Kyungsoo beranjak dari ruang Tv.
"Itu aku artikan sebagai jawaban persetujuan."
Tiga hari setelah kesepakatan antara Luhan dan Chanyeol, Luhan sudah mulai bekerja sebagai terapis bersama Oh Seyoul.
"Kau gila Lu, aku tidak habis pikir denganmu."
"Kau yang bilang sendiri ingin membantuku kan? Ini wujud bantuanmu."
"Dengan menjadi terapis? Kau bahkan tidak mengetahui sesuatu pun tentang piskologi Lu."
"Semalaman aku belajar tentang itu bersama Chanyeol, tenang saja, kemampuan otakku di atas rata-rata manusia normal."
"Semoga Tuhan membantumu."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Hari ini aku hanya akan memutar beberapa video film pendek tentang keluarga kami, dengan itu dia bisa mengumpulkan kembali memori memori kehidupannya, layaknya menyusun puzzle."
"Pantas saja dia menyuruhku untuk membawa ini." Ujar Luhan sembari mengeluarkan kotak cd dari dalam tas nya.
"Jangan bilang kalau Chanyeol yang memintamu membawa ini?"
"Hm, memang dia. Kenapa?"
"Si brengsek itu. Yasudah, aku akan panggil Sehun kemari dan kita mulai terapinya, anggap saja kita akan menonton film bersama."
Tak lama kemudian Sehun dan Seyoul memasuki ruang theatre di rumah Seyoul.
"Hari ini kita akan menonton beberapa film pendek yang Ayah buat untuk kita saat kita kecil."
"Benarkah? Sepertinya menarik, apa disan- Ya! Untuk apa kau kesini?"
"Yak Sehun-ah, jangan begitu, dia temanku sekarang sopanlah sedikit."
Sehun tidak bergeming dan memilih untuk duduk didepan layar tv plasma.
Seyoul berbisik pada Luhan. "Lu, sekarang kau masukan cd yang ada di atas meja ke dalam player, cepat."
Luhan segera beranjak dan menyalakan player setelah itu ia berdiri disamping Seyoul dan memperhatikan film yang diputarnya.
30 menit berjalan dan Sehun terlihat masih menikmati film yang diputar.
"Hyung, ini saat kita masih berumur 6 tahun kan, saat kita berlibur ke universal studio. Wah, uri appa daebak."
"Sepertinya ia mulai sedikit mendapatkan memorinya Lu."
"Aku anggap itu kabar baik Youl."
45 menit berlalu. Sehun tampak bosan.
"Hyung, apa kau masih ingin menonton lagi? Aku lelah."
"Satu film lagi Hun, jangan beranjak dari sofamu."
Seyoul menghampiri player dan memasukan cd yang dibawa oleh Luhan. Player kembali memutar film pendek, dan kali ini tentang kehidupan Luhan dan Sehun.
Sehun yang awalnya malas tiba-tiba terlonjak dari duduk nyamannya saat melihat film yang diputar, lain halnya dengan Sehun, Luhan malah membekap mulutnya berusaha untuk tidak menangis didepan Sehun.
Itu adalah kumpulan video tentang awal pertemuan Sehun dan Luhan saat kuliah dulu, video tersebut digabungkan dan menjadi sebuah film untuk Luhan dan Sehun. Video berdurasi 60 menit ini mengisahkan semua tentang Luhan dan Sehun saat dikampus secara detail, mungkin selama ini Sehun dan Luhan tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang mengamati mereka dan merekam semua kegiatan mereka.
Sampai pada akhir cerita, disinilah Luhan mengetahui siapa yang melakukan ini semua.
Ini adalah sebuah film dengan judul "Different Love, Different Life" sebuah kisah cinta yang berbeda yang membuat kehidupan kita juga berbeda. Terasa asing memang saat pertama kali merasakannya, tapi tiba pada saat yang tepat, kau akan mengerti mengapa kau dipilih untuk jadi berbeda, karena tidak semua hal yang berbeda itu buruk. PCY.
"Damn it Yeol, kau brengsek." Batin Luhan.
"Sudah selesai kan? Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hun, kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu orang asing. Lebih baik kau keluar dari rumahku, ini rumah keluarga Oh, bukan rumahmu. Sadar dirilah, kau bukan siapa-siapa disini dan aku tidak mengenalmu sama sekali. Aku tahu film tadi memang sengaja ingin kau perlihatkan padaku kan, tapi sayang itu tidak merubah apapun antara kita. Dan aku tidak tahu dengan cara apa kau merayu Hyungku sehingga ia mau menuruti permintaanmu."
"Jaga mulutmu Oh Sehun. Sopan sedikit pada temanku."
Setelah itu Sehun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Seyoul, aku berani bersumpah aku tidak tahu tentang cd itu."
"Aku tahu Lu, ini memang perbuatan Chanyeol. Semuanya."
