Sorry telat Update. Sabtu kemarin gx nulis RT karena aku ngeRock setengah hari penuh (Karoke booo, ngilangin stres). sedangkan hari minggu adalah hari yang paling enak untuk hibernasi. Aku sangat suka dengan kasurku, Sangat, sangaaaaaat suka.
Karena aku baru bangun sekitar jam tujuh sore kemarin, aku lapar, aku butuh makan, aku butuh mengumpulkan moodku dan aku baru bisa nulis tadi malam dan update sekarang.
.
.
-Red Thread-
.
.
.
Asklepios Clinic Barmbek - Hamburg, Jerman.
18:34 JT
Banyak sekali hal yang Yoongi fikirkan sekarang, hatinya sakit mendengar kebenaran mengenai skandal video Jung Hoseok. Hubungan mereka memang seperti itu, saling sex dengan yang lain untuk menghilangkan rasa rindu mereka masing-masing. Namun sekarang Yoongi sadar bahwa itu hanya cara Hoseok memanipulasi hubungannya dengan sang produser. Fakta mengenai hubungan Hoseok dan produsernya dimulai lebih awal dari hubungannya dengan Hoseok membuat Yoongi menyimpulkan bahwa ia hanyalah prioritas kedua bagi Hoseok. Apa yang Hoseok lakukan selama ini, dimata Yoongi menjadi salah, Yoongi berfikir kalau Hoseok menerima cintanya hanya demi dana sponsor yang Yoongi berikan untuk Hoseok, seperti yang dikatakan ibunya. Yoongi mersa terhianati sekarang, ia merasakan luka yang diberikan Hoseok lebih sakit daripada tulang punggungnya.
Memikirkan video sex Hoseok ia kembali teringat dengan sexnya bersama Jimin. Yoongi ingat bagaimana ia mengeluarkannya didalam tubuh Jimin, dan Jika ibunya mengatakan Yoongi Koma selama hampir tiga minggu maka kehamilan Jimin juga berusia sekitar tiga minggu. Yoongi sangat Yakin bahwa Jimin hamil sekarang, tapi apa yang harus ia lakukan? Jika dahulu alasannya adalah Hoseok sekarang ia tak punya alasan lagi untuk menampik kehamilan Jimin. Yoongi merasa kejadian kemarin sudah membuat wajahnya hancur dimata Jimin. Yoongi dulu ingat bahwa Jimin berniat membesarkan bayinya Jika Jimin hamil, dan jika tekat Jimin dulu begitu, maka sekarang ia yakin Jimin juga sedang mempertahankan bayinya. Yoongi menutup matanya, mencoba menghapus memori saat mereka bercinta. Yoongi merasa bodoh karena melakukan lagi bersama Jimin dan membuatnya 100% hamil sekarang.
"Apa terasa sakit?!" tanya yang melihat Yoongi memejamkan mata seperti menahan sakit.
"Tidak!,,," Yoongi bohong, merasa sakit sekarang. fisiknya tak sakit karena penghilang rasa sakit yang diokter berikan, tetapi sakit dikepalanya sekarang sungguh membuatnya merasa lelah. Yoongi kembali terdiam, ia tiba-tiba ingat Jungkook. Mereka kecelakaan bersama bukan? maka kemungkinan besar Jungkook juga dirawat. "Eoma! Bagaimana keadaan Jungkook?! Apa dia sudah sadar?!"
"Dia juga koma sepertimu tapi, kondisinya tak seburuk dirimu, jadi hanya kau yang dibawa kemari. Jika mengingat siapa yang paling parah disini, seharusnya Jungkook lebih dulu sadar daripada kau."
Penjelasan ibunya membuat Yoongi berfikir untuk menelfonnya dengan meminjam ponsel ibunya nanti. Sungguh, Yoongi ingin mengetahui bagaimana keadaan perusahaannya di korea. Yoongi kembali memejamkan matanya sejenak, kini ia merasa kembali jadi jahat. Bagaimana bisa Yoongi berfikir mengenai perusahaan disaat kondisi mereka seperti itu, seharusnya ia menelfon Jungkook untuk menanyakan keadaanya. Itulah yang seharusnya Yoongi lakukan.
.
.
-RT-
.
.
Jin memeluk Taehyung saat Jungkook sedang diperiksa tem medis. Ia bisa melihat bagaimana adiknya merespon setiap perkataan dokter Uhm. Jin menatap Taehyung, ia merasa bahwa keberadaan Taehyunglah yang membuat Jungkook sadar. keajaiban, Jin percaya mengenai itu, karena ia sering melihatnya langsung dari pasyennya selama Jin bekerja menjadi seorang dokter. Kini Jin bisa merasakan bagaimana keajaiban itu, dan Jin yakin bahwa Taehyung adalah orang yang membawakan keajaiban tersebut. Jin dan Taehyung mendekati Jungkook begitu pemeriksaan selesai. Jungkook terlihat nyaman di kasurnya dan menatap dua wanita itu dengan senyuman.
"Hi! Kau tidur lama sekali!" Jin mengelus kepala adiknya dengan penuh kasih, memperlihatkan betapa besar rasa cintanya terhadap adiknya tersebut. ",,,Bagaimana perasaanmu?!"
"Rasanya aku seperti terbangun dari tidur selama bertahun-tahun." Jungkook menatap Taehyung dan rasanya ia sangat membutuhkan penjelasan mengenai masalah Jimin. "Noona! Bisakah aku bicara dengan Taehyung-ssi berdua saja?!"
Jin terkejut, ia merasa kecewa dan penasaran bersamaan. Ia baru saja melihat adiknya sadar dan ingin menikmati waktu berdua tapi ia malah diminta untuk keluar karena adiknya ingin berbicara berdua dengan gadis berambut orange disampingnya. Jin menatap Taehyung dan tersenyum melihat wajah pucat gadis itu. Jin mengusap rambut gadis itu dan pergi keluar. Namun ia tak benar-benar pergi, karena Kupingnya kini menempel di celah pintu yang sengaja tak ia tutup dengan benar. Jin penasaran dengan apa yang akan adiknya katakan pada Taehyung.
"Maaf menahanmu sebentar. Tapi bisakah kau jelaskan apa maksud perkataanmu barusan?!"
"Jungkook-ah! Tolong Jangan katakan pada Min sajang karena aku tak ingin dia menyakiti harga diri Jimin lagi. Seperti yang kau dengar, Jimin Hamil. Mereka melakukannya lagi saat liburan di Jeju kemarin, dan entah bagaimana Mr. Min mengetahuinya. Jimin baru saja mengatakan bahwa Mr. Min memberi Jimin uang. Sungguh Jungkook, aku tak mengerti bagaimana cara keluarga Min menyelesaikan masalah. Tidakkah menurutmu itu kejam?!"
Jungkook terdiam. Ia mengakui bahwa keluarga Min memang sangat arogan dan kejam. Mereka bisa melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah mereka dengan cepat. Jungkook kenal keluarga Min bahkan sampai ketulang-tulang mereka. Bagaimana cara bosnya menyelesaikan masalahpun mengikuti apa yang Mr. Min lakukan dan ajarkan. Jungkook tau bahwa sebenarnya bosnya dalah orang yang sangat penuh dengan perasaan tapi bagaimana ia didik oleh ayahnyalah yang membuat bosnya jadi terlihat kejam. Lalu bagaimana ia akan mengatakan fakta ini pada bosnya ketika ia juga tak takut bahwa bosnya akan melakukan hal yang sama lagi. Namun satu fakta yang membuat Jungkook bisa berfikir lain, yaitu fakta mengenai bosnya tidur bersama wanita yang sama. Selama Jungkook bekerja ia tak pernah melihat bosnya akan tidur begitu saja dengan seseorang. Bosnya akan memintanya menyelidiki gadis yang akan ia tiduri terlebih dahulu dan meminta gadis itu tes kesehatan sebelum mereka melakukan hubungan semalam, tetapi tidak dengan Park Jimin. bosnya telah melakukan begitu saja terlebih itu dengan gadis yang sama. Jika memang demikian Jungkook mengira bahwa tanpa sadar bosnya memiliki ketertarikan tersendiri dengan Park Jimin.
"Tolong jangan katakan ini pada Min sajang! Biarkan Jimin sendiri yang mengatakannya!"
Jungkook membenarkan perkataan Taehyung. Memang cara yang terbaik adalah membiarkan Jimin berbicara sendiri dengan bosnya. Karena itu terdengar lebih baik. "Aku mengerti Taehyung-ssi. Terimakasih sudah memberitahukannya padaku dan terimakasih sudah menjengukku."
"Iya! Tapi sampai kapan kau akan memanggil aku dan Jimin dengan panggilan formal seperti itu?! Panggilah aku Tae dan panggil Jimin dengan sebutan Jimin saja. Karena itu terdengar lebih santai."
"oh! Baiklah! Tae-ah." Jungkook mengucapkannya, dan ia merasa memanggil Taehyung seperti itu memang terasa lebih nyaman di lidahnya.
Jin yang mendengar pembicaraan tersebut dengan jelas, ia memegang dadanya shock. Jin menutup mulutnya dan pergi dari tempatnya menguping untuk mencari minum. Jin merasa butuh air saat itu juga.
"Bagaimana keadaanmu?!"
Mr. Min menanyakan kabar pada Yoongi dengan nada yang terdengar lembut dan itu membuat Yoongi sedikit merasa asing dengan perasaan itu. Yoongi mengangguk dan menjawab pertanyaan ayahnya yang ada dibalik panggilan tersebut.
"Lebih baik dari kemarin!,,," Yoongi jujur. Ia memang merasa lebih baik dari kemarin walaupun badannya masih terasa sakit meski dokter sudah memberinya penghilang rasa sakit. ",,,Bagaiman perusahaan, appa?!" ini adalah basa-basi cara mereka berkomunikasi.
Mrs. Min yang satu-satunya orang normal dikeluarga Min, ia menatap kesal pada anaknya. Ia tak pernah mengerti bagaimana kedua bagian dari hidupnya berkomunikasi dengan cara yang tak pernah ia fahami. Jujur sampai sekarang Mrs. Min masih belum bisa menerima sifat suaminya yang keras kepala, dingin dan arogan itu menurun pada putera tunggalnya. Ia mengawasi perubahan wajah puteranya yang kini terlihat murung. Mrs. Min yakin suaminya pasti mengatakan sesuatu yang tajam seperti yang biasa suaminya katakan pada anaknya.
Yoongi memejamkan matanya, terlihat kerutan muncul di keningnya. Yoongi merasa bebannya bertambah ketika ia mendengar penjelasan ayahnya mengenai kehamilan Jimin. ayahnya akan memakinya seperti yang biasanya ayahnya lakukan ketika ia melakukan kesalahan. Ayahnya terdengar kesal dan mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan masalah yoongi tapi entah mengapa Yoongi tak yakin dengan cara apa yang akan dipakai ayahnya nanti. Yoongi sedikit keberatan karena itu adalah masalah yang ia buat sendiri dan yoongi masih menyadari bahwa itu adlah kesalahannya. Buakn Jimin yang menggodanya, ia ingat bahwa ia yang menyeret Jimin ke kamarnya, sama seperti kejadian sebelumnya. Yoongi menyadari bahwa ia jugalah yang menyeret Jimin ke hotel. Yoongi mengatakan pada ayahnya bahwa ia akan menyelesaikan masalahnya sendiri dan Yoongi menutup panggilan secara sepihak.
Namjoon berdiri di depan pintu bersama buket bunga yang ia pegang. Ia menekan bell dan menunggu Jin keluar. Ia tak menunggu lama sampai sang pemilik hunian tersebut keluar dan seketika waktu kembali melambat bagi Namjoon. Ia terpaku melihat betapa cantiknya Jin dengan dress berwana pink yang lembut, warna yang sangat pas dengan kulit Jin yang putih terawat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Namjoon, ia merasa otaknya berhenti berfikir. Hanya Jin, otaknya membeku dan hanya menatap betapa cantiknya Jin dengan rabut cokelatnya yang terurai sangat rapi.
"Kemana kita hari ini?!"
Mendengar Jin bertanya, Namjoon menggelengkan kepalanya. Ia mencoba membangunkan otaknya yang baru saja mati. "Dans le noir!" Hanya kata-kata itu yang sanggup Namjoon ucapkan sebelum ia terpaku menatap Jin lagi.
Jin yang merasa canggung diperhatikan Namjoon seperti itu memecah keheningan dengan melihat bunga yang Namjoon pegang. "Bunga yang cantik!"
Namjoon kembali tersadar, ia memandang buket bunga yang ia pegang dan ia berikan pada Jin. "Purple Rose. Pesona yang tak tertahankan saat pertama kali melihatnya. Untukmu!"
Jin tersenyum dan tersipu menerima bunga tersebut. Itu adalah kata-kata paling romantis yang pernah Jin dengar selama ia hidup, dan Itu menyentuh hatinya. Jin merasa Namjoon sangat mengagumkan. Ia bahkan tak tahan di perhatikan Namjoon dengan tatapannya yang penuh cinta. Kesan pertama kencan yang berhasil sebelum mereka makan dalam suasanya yang kembali membuat Jin canggung karena tatapan Namjoon.
"Berhentilah menatapku!" Pinta Jin sebelum melahap steaknya. "Kau membuatku malu!"
Namjoon tersenyum dan menatap dagingnya "Maaf! Kau terlihat sangat cantik malam ini!"
Jin kembli tersipu, ia menelan makanan yang ada di mulutnya dan minum segelas air yang ada di depannya. Jin bisa mati ditempat jika Namjoon terus melakukan hal-hal yang sangat manis lagi. Namjoon melanjutkan makannya, sembari menanyakan tentang Jin hari ini. Namjoon sengaja memancing percakapan agar Jin bisa bercerita sementara ia bisa menikmati wajah Jin.
Setelah makan malam, Namjoon membawa Jin ke sebuah lantai gedung lain. Namjoon menuntun Jin ke sebuah meja yang dihiasi bunga, lilin dan beberapa snack , Namjoon meminta Jin untuk duduk. Namjoon duduk disamping Jin yang masih penasaran dengan apa yang akan Namjoon lakukan berikutnya. Jin sedikit aneh dengan tempat dimana mereka duduk, Hanya ada kursi dan meja yang kini mereka duduki di pinggir ruangan gedung yang sangat luas. Terlalu luas hanya untuk sebuah meja.
"Kau siap?!" Namjoon bertanya sambil memegang sebuah remot. "Pejamkan matamu!"
Jin menutup matanya sesuai apa yang diperintahkan Namjoon. Ia sangat penasaran dengan kejutan apa yang akan Namjoon berikan padanya. Jin hanya tersenyum menunggu, masih menutup mata sampai namjoon memintanya membuka mata. Jin melihat ruangan yang mereka tempati berubah menjadi gelap, hanya ada gugusan lampu-lampu kecil diseluruh ruangan yang menyerupai bintang yang berkelap-kelip dilangit, dan kumpulan asap dilantai ruangan. Entah bagaimana mereka mendekorasi ruangan tersebut sehingga membuat mereka seolah ada diatas awan yang diterangi cahaya bulan dan bintang. Jin terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang, ia hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya. Sedangkan Namjoon merasa puas dengan melihat reaksi Jin.
"Namjoon-ah bagaimana,,, bagaimana bisa kau ,,,?!" Jin bahkan tak bisa bicara sekarang.
Namjoon tersenyum dan melepas foil yang menutupi tutup botol tersebut lalu membuka penutupnya. Namjoon menuangkan cairan berwarna merah muda itu pada dua gelas yang ada di depan mereka. Ia memberikan gelas berisi wine tersebut pada Jin. "Kau suka?!"
"Sangat! Sangat suka."
"Gunung seorak, aku biasa kesana jika bulan febuari hanya untuk melihat bagaimana keindahan langit disana, aku ingin membawamu kesana jika saja kita bisa punya waktu luang lebih untuk bersama."
Jin menatap namjoon, ia sangat tersanjung dengan kejutan yang diberikan namjoon sekarang ini "Ini sangat indah! Terimakasih!"
Namjoon menatap Jin yang memandangnya, Namjoon tersenyum dan Namjoon menciumnya. Hanya kecupan ringan, kemudian ia menyatakan cinta dan ketika Jin menerimanya, Namjoon melumat bibir Jin dengan ciuman yang halus dan manis. Ia ingin menikmati momen romantis itu dengan ciuman yang tak kalah sempurna.
"Tae-ah kembalilah kerja! Aku bisa mengemasnya sendiri!"
Bagaiman bisa Tae membiarkan Jimin yang sedang hamil membawa barang-barang yang berat. Walaupun usia kandungan Jimin baru menginjak bulan ke dua tapi Taehyung tetap tak tega. Taehyung tak memperdulikan teguran Jimin dan tetap membantu Jimin mengemas barangnya. Butuh waktu sebulan bagi Taehyung menemukan pengganti Jimin dan merekrut karyawan baru. Sampai saat ini tiba, Tae masih tak bisa terima dengan pengunduran diri Jimin. Demi tuhan, Taehyung benci orang-orang yang membuat sahabatnya begini. Taehyung juga masih belum bisa percaya perkataan Min Yoongi bahwa dirinya akan ikut andil dalam hal finansial untuk membesarkan anak Jimin. Taehyung tau Jimin juga tak begitu peduli meski memang biaya rumah sakit atas nama Jimin selalu masuk dalam tagihan Yoongi, dan tentu saja Jungkook yang menjadi perantara mereka berdua.
Jungkook sudah bisa berjalan meskipun harus menggunakan tongkatnya. Ia sudah tau bahwa Jimin keluar hari ini, sehingga ia datang ke tempat tinggal Jimin. Jungkook merasa ia menggangu Jimin yang sedang berdua dengan lelaki bernama Erik. Jungkook heran bagaimana bisa mereka kembali akrab dan jungkook memikirkan kemungkinan dua orang itu menjadi sepasang kekasih. Jungkook memang tak harusnya peduli hanya saja, dalam hati Jungkook berharap bahwa Jimin akan bisa bersama bosnya.
Yoongi sudah kembali ke korea, ia kembali ke kediaman Min agar kesehatannya bisa dikontrol ibunya. Hal pertama yang ia lakukan adalah pergi dengan kursi rodanya, menuju ruang kerja ayahnya. Ia baru saja mendengar bahwa Jimin keluar dari IbigHit dan ia sudah tau karena siapa itu. Yoongi sungguh tak bisa menerima bagaimana tindakan ayahnya hingga membuat Jimin disangkut pautkan dengan perusahaan. Jimin dan Yoongi melakukan hal yang menurut Yoongi tak ada kaitannya dengan IbigHit, lagipula Yoongi juga tau bagaimana kinerja Jimin di IbigHit.
"Dia sendiri yang memutuskan untuk keluar!"
Yoongi mendengus dan membuang muka. Ia muak sekarang. Moodnya sedang buruk dengan Hoseok, SUGA yang menurun, dan sekarang ayahnya kembali ikut campur dengan urusannya dengan Park Jimin yang dinyatakan selesai.
"Kau memang punya kebiasaan memberi makan lintah. Kemarin Model murahan itu sekarang Wanita yang tak memiliki latar belakang keluarga."
Yoongi menghargai keputusan Jimin yang ingin membesarkan anak mereka, dan Jimin melakukannya atas kemauanya sendiri tanpa melibatkan Yoongi dalam hal itu. Jimin tak mengancam, meminta, ataupun mencampuri urusan Yoongi itulah point kenapa ia memberi Jimin tunjangan. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya. Satu hal yang Yoongi tak pernah suka adalah ketika seseorang mencampuri urusanya dan mulai menghancurkan rencana Yoongi yang sudah ia tata rapih. Apa yang ayahnya lakukan membuatnya muak. Yoongi hanya kembali ke kamarnya, dengan dibantu perawat ia berbaring di kasurnya. Ia ingin tidur dan melupakan sejenak masalahnya.
.
.
-RT-
.
.
"Yoongi menuruni sifat dingin suamiku tetapi entah bagaimana mereka selalu berselisih faham dan bertengkar. Aku ingin sekali melihat mereka bisa berhenti berselisih."
Mrs. Min sangat pusing dengan suami dan anaknya yang tak pernah bisa akur. Ia tak ada lagi teman curhat karena hubungannya dengan Mrs. Jung yang renggang karena puterinya. Sekarang ia hanya bisa meminta bantuan seorang siswa gemuk yang berprofesi sebagai peramal itu.
Lee Guk Joo menatap Mrs. Min meh. "Anjungma! Aku ini peramal cinta. Aku tak bisa meramal hal lain selain hal-hal yang berkaitan dengan asmara."
"oh!" Mrs. Min merasa jadi bodoh sekarang, ia bahkan sering kemari dan membaca tulisan peramal cinta yang tertulis dipintu masuk ruangan ini berkali-kali. "Kalau begitu bagaimana nasib asmara puteraku?! Apakah dia akan mendapatkan gadis yang lebih baik?!"
"Ada detak jantung lain yang merupakan bagian dari nafas puteramu!"
Mr. Min mendengarkan Gukjoo meski tak mengerti. "Puteramu akan hidup dalam kesendirian selamanya ji,,,"
"MWO?!" Mr. Min teriak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Puteraku itu tampan, pintar, dan sangat kaya diusianya yang masih 29 tahun. Bagaimana bisa puteraku hidup lajang seumur hidup?!"
"Aku belum selesai bicara!,,, Anakmu, dia akan hidup bahagia dengan seorang gadis dan seseorang gadis yang menjadi bagian dari dirinya. Tetapi,,,"
"Tetapi?!" Mr. Min memperhatikan Guk Joo untuk menunggu apa yang akan peramal itu katakan lagi.
"Suamimu, dialah yang akan menentukan bagaimana akhir hidup puteramu. Jika suamimu melakukan keputusan yang salah maka puteramu akan mati dalam kegelapan memenuhi hatinya"
Mr. Min menutup mulutnya dengan kedua tangannya ia shock sekarang.
.
.
.
Tbc
.
.
.
follow fav and review if u dont mind
