Aku membuka mataku yang terasa masih begitu berat. Hembusan angin yang menerpa kulit polosku dalam sepersekian detik membuatku menyadari semuanya. Semua.. yang baru saja ku lakukan dengan Uzumaki-san.

Aku menelan ludah saat perasaanku campur aduk. Dan satu hal yang kusadari, sebelum aku melepaskan mahkotaku untuknya… aku menyadari jika aku… memiliki perasaan padanya.

Jantungku kembali berdetak cepat kala aku memikirkan hal itu. Tangan Uzumaki-san yang kini melingkar di pinggangku membuat ingatan akan setiap sentuhannya kembali terbayang dan itu sangat berhasil membuatku begitu terbuai.

Aku mendongak dan menatap sendu wajahnya yang tertidur lelap. Begitu tenang dan nyenyak tanpa ada mimpi buruk yang menganggu. Perlahan tanganku terangkat dan meraih pipinya, pipi bergaris itu terasa begitu hangat. "Uzumaki-san," aku tau jika dia sudah memintaku memanggil namanya, tapi mungkin itu hanya permintaannya di tengah nafsu semata, jadi kurasa tidak masalah kalau aku kembali memanggilnya dengan formal, meski kuakui jika sangat menyenangkan bisa menyebut namanya langsung.

'Apa memang… yang ku lakukan tidak berguna?' inginku mengatakan hal ini langsung, tapi meskipun dia tertidur rasanya suaraku tidak mampu keluar. 'Aku sangat ingin kau sembuh. Tapi jika benar kalau kehadiranku tidak membantu, aku rela jika harus meninggalkanmu.'

'Yang ku inginkan kau bisa terbiasa dengan semua perempuan, bukan hanya denganku. Dan seperti kata Sasame-san, jika aku menjauh darimu bisa membuatmu dekat dengan banyak perempuan lain dan membuatmu sembuh dari traumamu… maka…'

"Maaf. Maaf, maafkan aku.. maaf." Air mataku mengalir entah sejak kapan. Mungkinkah pemikiranku begitu egois? Atau keputusanku salah? Tapi aku juga tidak ingin memanfaatkan kondisinya hanya untukku seorang.

Aku sadar jika aku mencintainya, tapi Uzumaki-san… dia tidak mencintaiku. Dia melakukan semua ini hanya sebagai bentuk usahanya untuk sembuh. Tapi ternyata ini semua juga tidak berhasil. Jadi lebih baik jika aku… pergi.

Tunggu… bagaimanapun, setidaknya Uzumaki-san sudah berhasil. Apa yang baru saja kami lakukan membuktikan jika dia berhasil melawan rasa takutnya. Meski tetap saja jika mungkin dia hanya bisa melakukan itu denganku. Jika dia terus-terusan hanya terbiasa denganku dan tergantung padaku, maka Uzumaki-san tidak akan sembuh.

Benar! Mungkin sebaiknya aku pergi dari sini. Setelah ini, Uzumaki-san pasti lebih bisa mengendalikan rasa takutnya dan akan baik baginya bila bisa dekat dengan banyak perempuan lain tanpa aku. Ya,,, Uzumaki-san harus menemukan perempuan lain yang dia cintai.

Tes…

Aku menggigit bibirku saat isakan itu ingin keluar. Sebisa mungkin aku menutup mulutku dan menyeka air mata ini. Rasanya begitu menyakitkan. Tapi jika itu demi kebahagiaan Uzumaki-san…

Dengan pelan aku menggeser tangannya dari pinggangku dan bergerak turun. Aku meringis saat sakit di selangkanganku kembali terasa. Tahan, Hinata! Aku harus bertahan dan secepatnya pergi dari sini.

Dengan sepelan mungkin aku memungut pakaianku yang berserakan di lantai dan mengendap keluar dari kamarnya tanpa suara.

Biarlah!

Semoga kau bisa menemukan orang yang kau cintai, Uzumaki Naruto.

.

.

.

Lean On You

Naruto © Kishimoto Masasi

Naruto x Hinata

.

.

.

Normal Pov's

Matahari belum kembali ke tempatnya untuk menerangi bumi, langit masih terlihat gelap dan hembusan angin di pagi buta hari itu membuat semua terasa membeku. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi saat Naruto membuka matanya. Bukan berarti dia baru bangun dari tidurnya, kenyataan yang sebenarnya ialah… dia tidak tidur semalaman.

Ya, mana mungkin dia bisa tertidur setelah apa yang dia lakukan. Sesuatu yang tak pernah dia duga akan bisa dia lakukan, nyatanya berhasil dia lakukan. Dan dengan keberadaan wanita itu dalam pelukannya tanpa busana, Naruto lebih memilih untuk menikmati saat itu daripada harus menghabiskan waktu untuk tidur. Jadilah dia hanya memandangi wajah cantik di pelukannya dengan seribu bayang-bayang kebersamaan mereka sembari menunggu permata perak itu terbuka menatapnya.

Tapi…

…disaat permata perak itu terbuka, keputusan Naruto untuk pura-pura tidur membuatnya sedikit menyesal. Jika saja Naruto tahu wanita itu akan pergi, mungkin dia tidak akan pernah membiarkan wanita itu berpikir di tengah tidurnya.

Tangannya terkepal, menarik dan menggenggam erat seprai kasur yang berantakan di sisinya, merasakan dinginnya sisi yang tadi di tempati oleh wanita itu. Wanita yang sudah Naruto putuskan untuk dia jadikan miliknya. "Hinata."

Suaranya pelan penuh kekesalan meski raut wajahnya mengeras penuh penyesalan.

Sejujurnya, Naruto ingin sekali menahan wanita itu untuk tidak pergi. Tapi… mendengar isakan kecil wanita itu membuat hatinya teriris. Berpikir jika wanita itu menangis karena menyesal dengan apa yang mereka lakukan. Mungkin juga wanita itu menyesal dan sedih karena telah memberikan mahkota berharganya pada pria seperti Naruto. Dan pemikiran itulah yang membuat Naruto tak mampu menahan wanita itu untuk tidak pergi.

Mungkin memberikan wanita itu waktu beberapa saat adalah pilihan yang baik, karena nyatanya Naruto juga butuh waktu untuk beberapa hal.

Tapi meski begitu, tak dapat Naruto sangkal rasa sakit di dadanya setiap kali dia mengingat gambaran wanita itu yang memungut pakaiannya tanpa suara dan dengan mengendap berjalan pergi meninggalkannya. Sejujurnya… Naruto terluka. Wanita itu meninggalkannya setelah apa yang mereka lakukan. Apa Naruto memang… seburuk itu?

"Kh," Naruto menarik surai pirangnya yang berantakan, tak perduli dengan rasa sakit yang dia rasakan akibat tarikan itu, karena hatinya… jauh lebih sakit.

.

.

.

"Naruto?"

Sasame menghela nafas karena lagi-lagi Naruto mengabaikannya.

Suasana kereta tampak ramai meski masih terlihat teratur. Di salah satu sisi tengah di samping jendela, kini keduanya duduk berdampingan. Bukan karena di sengaja, tapi karena kursi yang lainnya penuh.

Saat pertama kali Naruto mengucapkan jika dia ingin pulang ke Iwa hari itu juga, Sasame sudah terkejut setengah mati. Di tambah fakta jika mereka harus duduk bersebelahan dengan jarak yang dekat, jujur saja membuat Sasame sedikit was-was. Takut jika-jika Naruto mengamuk di tengah jalan.

"Hah.." helaan nafas itu terdengar dari Sasame. Naruto memang tidak mengamuk, tapi pria itu juga tidak bersuara bahkan sejak awal mereka melangkah pergi dari rumah Naruto.

Sasame tidak mengerti apa yang terjadi. Tadi, dia berkunjung ke rumah itu cukup pagi, hanya sekedar ingin melihat kegiatan Naruto di pagi hari. Tapi yang dia temukan adalah Naruto dengan sebuah koper besarnya dan sangat mudah mengajaknya pulang ke Iwa. Tentu saja Sasame senang karena Naruto ingin pulang tanpa di paksa, tapi semua terasa aneh. Keabsenan perempuan Hyuuga itu juga menjadi salah satu hal yang membuat Sasame penasaran.

Ingin sekali Sasame bertanya banyak hal pada Naruto, tapi pria itu tidak menjawab satupun. Keputusan Naruto yang lebih memilih naik kereta juga tidak memungkinkan mereka bicara di depan orang banyak secara leluasa. Jadilah, sikap Naruto yang terasa lebih dingin harus Sasame tahan selama perjalanan mereka hari itu.

.

.

.

"Ini, minumlah dulu."

"Terima kasih, Matsuri." Dengan pelan Hinata meraih segelas minuman hangat yang di sodorkan oleh Matsuri, teman dan tetangga di apartemen yang dia tinggali sebelumnya –sebelum dia tinggal di rumah Naruto.

Matsuri mendesah dan menopang dagunya di meja rendah yang ada di depan mereka sekarang, ruangan kecil itu terlihat cukup nyaman dan lebih baik daripada apartemen bobrok yang mereka tinggali dulu. Hal itu membuat Hinata hanya tersenyum tipis, disaat temannya mencari apartemen lain yang lebih layak, dia malah dengan mudahnya tinggal di rumah sang atasan secara gratis.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau tiba-tiba menelponku pagi-pagi buta dan meminta menjemputmu di halte bis, setelah itu kau langsung menangis. Apa terjadi sesuatu selama kita tidak bertemu?"

Kepala Hinata hanya bisa menunduk mendengar pertanyaan itu. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi selama hampir dua bulan ini, yang tidak mungkin Hinata ceritakan semuanya satu persatu secara rinci. "Maaf sudah merepotkanmu, Matsuri."

"Hah, kau ini, masih saja selalu sungkan atas segala hal. Santai saja, Hinata." Matsuri menoleh dan melihat rebusan air yang dia gunakan untuk masak telah mendidih lalu membuatnya kembali berdiri. "Aku akan memasak sesuatu untukmu, kelihatannya kau belum makan. Tunggulah sebentar."

Hinata hanya mengangguk singkat. Kembali dia meneguk minuman hangat di tangannya. Pandangannya berubah sendu, pikirannya kembali terulang pada malam hangatnya bersama sang atasan. Malam panjang yang pastinya tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Malam pertama dia melepaskan mahkota berharganya pada seorang pria yang dia cintai meski… pria itu tidak mencintainya.

'Sekarang Uzumaki-san sedang apa ya? Apa dia sudah berada di kantor tanpa memperdulikan aku yang pergi? atau… mungkin dia mulai membuka diri dan mulai mencoba dekat dengan perempuan lain? Sasame-san misalnya?'

Gumaman dalam hati itu membuat Hinata terbayang pada sosok gadis berambut pirang yang kemarin datang dalam daftar orang yang dia kenal, ikut makan malam bersamanya dan Naruto, bahkan mengatakan hal yang membuatnya kini berada disini, di apartemen kecil Matsuri dan pergi meninggalkan Naruto.

.

Flashback – Hinata's Pov

Malam tadi seusai makan malam…

"Boleh aku bertanya satu hal?" Sasame-san menundukkan kepalanya saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya, aku melihat langkah Uzumaki-san yang berhenti menunggu. "Wanita di hadapanku saat ini… siapa dia?"

Tatapanku dan tatapannya bertemu dalam diam menunggu jawaban Uzumaki-san, tak ku sangkal perasaan gugup yang tiba-tiba saja ku rasakan.

"Dia tinggal di sini, kan?" lagi Sasame-san bertanya.

"Ya." Uzumaki-san menjawab mantap tanpa menoleh. "Dia tinggal di sini dan dia… kekasihku."

Mataku melebar mendengar hal itu, mulutku terbuka dan pandanganku kosong seketika. Jantungku, berdetak semakin cepat. Setitik rasa senang menjalar di seluruh tubuhku meski aku berusaha kuat untuk menyadarkan diriku jika hal itu adalah kebohongan.

"Kekasih… huh?"

Aku tersentak saat pertanyaan dengan suara dingin itu terdengar, membuatku linglung sesaat dan menyadari jika Uzumaki-san sudah pergi dari ruang makan yang saat ini ku tempati membuatku hanya berdua saja dengan Sasame-san. "A-aku akan membereskan meja." Ucapku mengalihkan pembicaraan. Sesuatu membuatku ingin segera menjauh dari perempuan ini.

"Kau menghindar?" gerakanku terhenti saat pertanyaan itu terdengar. "Aku tahu jika kau bukanlah kekasihnya, tapi kenapa kau bisa tinggal di sini?" aku menelan ludah dan menatapnya ragu. "Tenang saja, aku juga mengetahui kondisi Naruto. Aku yakin kau juga sudah mengetahuinya, bukan?"

Aku menundukkan kepala dan mengangguk singkat.

"Jika memang kau sudah mengetahuinya, kenapa kau masih tinggal disini? Kau tidak takut dia membunuhmu? Yang ku tahu, dia selalu memandang rendah pada perempuan seolah ingin mencekik setiap perempuan."

"Tidak!" dengan cepat aku menyela, "Uz-uzumaki-san tidak sekejam itu –maksudku, dia bukan orang yang seperti itu. Aku yakin meski dia selalu memandang dingin pada perempuan, tapi aku percaya dia belum pernah menyakiti seorang perempuan pun."

Mata Sasame-san menyipit tidak suka. Aku tidak mengerti bagian mana dari perkataanku yang tidak dia sukai.

"Lalu… kau belum menjawab kenapa kau tinggal di sini?"

"Itu… uhm… aku… ada disini… untuk membantu Uzumaki-san agar dia terbiasa dengan perempuan."

"Hooo…" aku memandang tidak suka dengan respon itu. "Aku sudah dengar jika kondisinya mulai membaik akhir-akhir ini. Tapi Hyuuga-san, dari yang ku lihat, Naruto masih sama dengan beberapa tahun lalu saat aku menemuinya. Dia masih memandang jijik padaku, dan lihat? Bahkan jarak kursiku lebih jauh sekarang. Jadi… bukankah itu berarti bantuanmu tidak berguna?"

Aku menelan ludah mendengar hal itu. Benarkah jika… bantuanku tidak berguna? "Ta-tapi Uzumaki-san mulai terbiasa akan kehadiranku, mungkin dengan begitu dia akan terbiasa dengan kehadiran setiap perempuan di dekatnya."

"Ya!" Sasame-san menyela cepat, "Dia terbiasa dengan kehadiranmu. Tepatnya, kau hanya membuatnya terbiasa dengan kehadiranmu saja. Jika begitu, kau tidak membuatnya sembuh, Hyuuga."

Bagai di siram air dingin dengan suhu terendah, tubuhnya kaku seketika. Aku.. membuat Uzumaki-san hanya terbiasa padaku saja, katanya? "Ti-tidak. Aku ingin dia sembuh. Aku ingin dia terbiasa dengan semua perempuan, bukan hanya padaku saja. Aku tidak ada niat seperti itu."

"Mungkin kau tidak sadar akan hal itu, tapi kau sudah melakukannya. Jika kau memang ingin dia terbiasa dengan semua perempuan, seharusnya kau memberinya kesempatan dan waktu agar dia juga bisa menghabiskan waktu dengan perempuan-perempuan lain. Tapi apa? Tadi kau bilang jika kau sekretarisnya, itu berarti kau bersamanya baik di kantor maupun di rumah. Lalu apa kau memberinya waktu untuk bersama perempuan lain? Dari yang ku lihat, kau justru membantunya untuk tidak terlalu dekat denganku sejak tadi."

"Itu… itu karena Uzumaki-san terlihat kurang nyaman ji-jika dekat denganmu." Suaraku lirih menjawab.

"Jika dia tidak nyaman berdekatan dengan seorang perempuan maka kau membantunya untuk menghindar? Bukankah itu berarti kau memang tidak berniat membantunya untuk sembuh? Jika kau memang ingin dia sembuh," tatapanku dan tatapan Sasame-san bertemu sesaat, "Jauhi dia!"

Mataku melebar dan tiba-tiba saja dadaku sesak.

"Jauhi dia sebelum dia benar-benar bergantung padamu. Menghilanglah dari pandangannya dan biarkan dia mengenal lebih banyak perempuan di luar sana."

Apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku… tidak sanggup membayangkan jika Uzumaki-san dekat dengan perempuan lainnya?

Jika memang yang di katakan Sasame-san benar kalau kehadiranku tidak membantu, maka… apa memang sebaiknya aku pergi saja?

Sret… aku masih hanya diam saat Sasame-san berdiri dan meraih tasnya. "Maaf, Hyuuga. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan pendapatku karena itulah yang aku rasakan. Naruto terbiasa berada di dekatmu tapi nyatanya dia masih memandang jijik dan tidak nyaman akan keberadaanku. Pikirkanlah sekali lagi apa yang harus kau lakukan jika kau ingin dia benar-benar sembuh. Aku permisi."

Dan aku hanya bisa duduk diam setelah dia pergi.

.

Aku benar-benar bingung. Bagaimana perkataan Sasame-san sungguh merasuk ke dalam pemikiranku, bahkan membuatku tidak sadar jika setelah makan malam tadi, Uzumaki-san tidak keluar lagi dari kamarnya.

Aku menoleh dan melirik jam dinding yang menunjukkan angka sebelas malam. "Apa Uzumaki-san sudah tidur?" pelan aku menurunkan kakiku dari ranjang dan menapak pada lantai keramik putih kamar itu.

Mataku menyisir ruangan itu. Kamar yang ku tempati saat ini adalah bagian dari rumah Uzumaki-san. Kenapa aku tinggal disini? Pertanyaan Sasame-san kembali terngiang. Apa benar aku hanya berniat membantunya? Awal aku tinggal disini adalah karena tidak ada tempat tinggal lain dan Nara-san memaksaku untuk tinggal disini.

Sejak saat itu, sudah berapa lama waktu berjalan?

Banyak hal yang sudah terjadi antara aku dan Uzumaki-san.

Aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari kamar itu secara perlahan, mematri setiap sisi rumah itu. Rumah yang menjadi saksi hubungan aneh kami. Hubungan formal atasan dan bawahan yang terkadang melebihi dari itu. Apalagi sejak aku mengajukan diri untuk membantunya, kami lebih sering melakukan kontak fisik meski berakhir dengan terdorongnya tubuhku.

"Hah," helaan nafasku tidak tuntas saat aku melihat pintu kamar Uzumaki-san sedikit terbuka. Penasaran, aku berjalan mendekat dan mengerutkan alis saat samar ku dengar suaranya yang lirih. "Apa Uzumaki-san tengah bermimpi buruk lagi?"

Segera saja aku masuk tanpa izin dan mendapatkan jika perkiraanku benar. Dia lagi-lagi mengalami mimpi buruk di tengah tidurnya. "Uzumaki-san," aku berjalan mendekat dan menatapnya intenst tanpa ku sadari, bahkan aku tidak sadar jika kini aku duduk di pinggir ranjangnya dan mengulurkan tanganku untuk menyentuh rambutnya. "Kenapa kau begitu menderita? Aku tahu jika kau orang baik, semua penderitaan ini tidak pantas untukmu."

Mata perakku melirik, melihat tangannya yang terkepal erat membuatku bergerak dan menggenggam kepalan tangan itu. "Tanganmu hangat." Senyum tipis hadir di wajahku, "Mungkin kau sebenarnya pribadi yang hangat, hanya saja semua luka itu membuatmu membeku."

"Hinata.."

Aku berkedip saat panggilan itu terdengar. Tiba-tiba saja aku sadar dengan apa yang sudah ku lakukan. Dengan segera ku tarik tanganku dan menatap wajahnya yang terlihat masih terlelap dalam mimpi buruknya. "Uzumaki-san, Anda… memanggil Saya?"

Keningnya berkerut, nafasnya memburu dan aku tidak salah dengar saat namaku terucap berulang kali dari bibirnya. Begitu menyenangkan dan membuatku tidak ingin meninggalkannya. "Uzumaki-san."

Kenapa jantungku jadi berdebar?

"Hah," aku melirik dan melihat Uzumaki-san membuka matanya tiba-tiba saat dia terbangun dari mimpi panjangnya. Tubuhnya pasti sudah terlalu lelah hingga semua ingatan masa lalu masuk ke dalam mimpinya.

"Uzumaki-san, Anda baik-baik saja?" aku segera bertanya khawatir dan ku lihat dia sedikit berjengit akan suaraku barusan. "Maaf Saya masuk tanpa izin. Saat Saya lewat depan kamar Anda, Saya mendengar Anda mengigau dan terlihat sedang mimpi buruk, jadi Saya mencoba membangunkan Anda. Anda tidak apa-apa?"

Aku hanya bisa diam saat Uzumaki-san menatapku tanpa bicara. Dan tak ku sangkal jika tatapannya semakin membuat jantungku berdetak cepat. Dan semakin cepat saat dia mendudukkan dirinya tanpa melepaskan pandangan matanya dariku. "Kau… kau bilang ingin membantu, bukan?" aku mengernyit saat tiba-tiba pertanyaan itu dia ajukan, tapi aku tetap mengangguk "Aku ingin mencobanya sekarang."

Hah? Apa maksud Uzumaki-san? Belum sempat aku berpikir, aku sudah merasa jika dia menarikku semakin dekat. Tubuhku tidak sanggup menolak dan saat dia mengucapkan… "Cium aku, Hinata." …darahku terasa berdesir menyenangkan.

Tanpa sempat aku merespon, tengkuk ku sudah di tarik lebih dulu dan kurasa ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Tubuhku semakin kaku seketika di saat wajah tampan dengan mata terpejam itu begitu dekat denganku.

Tak lama dia melepaskan ciumannya sejenak, "Lagi." ucapnya dan kembali menarikku mendekat. Kali itu bukan hanya kecupan biasa, tapi Uzumaki-san mulai melumat pelan bibirku.

Pikiranku kosong seketika. Sekelebat ingatan saat Uzumaki-san memperingatkanku tentang resiko itu kembali melayang di pikiranku, sukses membuatku mengerti dengan jelas kemana arah sentuhan ini nantinya.

Tapi… kenapa aku tidak bisa menolak?

Amethys-ku terpejam saat ciuman itu semakin intenst dan mengalirkan sentruman kecil di sekujur tubuhku. Bahkan tanpa aku sadari, Uzumaki-san sudah menggiring tubuhku untuk terbaring di atas kasur dengan dia yang menindihku.

Kami-sama, kenapa aku begitu menginginkan sentuhan ini? Rasanya begitu menyenangkan dan tak sedikitpun mampu ku tolak. Kenapa aku… juga sangat menginginkan hal ini?

Apa aku…

.

End Flashback and Pov

.

Tes

"Eh?"

Tes.. tes..

Hinata menunduk dan memandang tangan di pangkuannya yang basah oleh beberapa tetes air. Kemudian tangannya bergerak menuju pipinya yang terasa basah. "Aku… menangis?" dia bergumam seolah tak sadar. Selanjutnya senyum miris hadir di wajahnya yang semakin basah karena air mata. "Kh, haha… kenapa aku menangis?" tanyanya pelan entah pada siapa.

"Hinata?" Matsuri langsung mendekat saat mendengar gumaman aneh temannya dan saat dia melihat jika Hinata menangis, hanya tatapan heran yang dia tujukan.

"Hiks.. hiks… haaaa…. Hiks… hhaaaa-hhaaa…"

"Hinata… astaga, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" dengan segera Matsuri membawa Hinata dalam pelukannya, mencoba menenangkan meski dia sendiri tidak yakin.

.

.

.

Tok tok tok

"Masuk."

Suara pintu yang di ketuk lalu di buka membuat Kakashi menghentikan gerak tangannya yang sedang membubuhkan tanda tangan pada sebuah berkas di depannya. Menoleh dan melihat Iruka masuk dan memandangnya dengan ekspresi yang menurutnya aneh. "Ada apa, Iruka?"

"Maaf, Kakashi-san. Aku baru mendengar kabarnya dan ternyata mereka sudah sampai di sini."

Alis Kakashi hanya naik mendengar omongan Iruka yang menurutnya tidak jelas. "Siapa yang kau bicarakan, Iruka?"

"Siapa lagi? Tentu saja anakmu, Naruto dan Sasame. Mereka baru saja tiba disini."

Mata hitam Kakashi melebar dan dia langsung berdiri. "Kau yakin? Bukankah kita memberi waktu seminggu pada Sasame? Lalu kenapa mereka sudah kembali sekarang? Apa Naruto pulang dengan keinginannya sendiri tanpa dipaksa? Kau yakin dia tidak pulang karena diikat dan di paksa ikut kesini?"

Iruka sweatdrop, "Kakashi-san, aku yakin jika Sasame bukan seorang gadis yang suka mengikat-ikat orang."

"Tapi… kenapa?" Kakashi kembali mendudukkan dirinya. "Sudah bertahun-tahun aku memintanya pulang tapi dia tidak mau, dia juga menolak kehadiranku disana, lalu kenapa sekarang dia dengan mudahnya pulang kesini?"

Iruka menghela nafas mendengar semua hal itu. "Mana aku tahu? Tidakkah sebaiknya sekarang kau menyambut mereka, Kakashi-san?"

"Oh? Oh iya, kau benar." Kakashi kembali berdiri dari kursinya dan berjalan menuju arah pintu menghampiri Iruka. "Apa penampilanku baik, Iruka? Bagaimana pun dia adalah anakku dan kami sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Kira-kira seperti apa dia sekarang?"

Iruka hanya tersenyum tipis mendengar hal itu. Ya, Iruka mengerti perasaan Kakashi. Iruka juga sangat tahu betapa sayangnya Kakashi kepada Naruto. Kakashi dulu adalah yatim piatu yang bertemu dan diajak Minato untuk tinggal di rumahnya, diberikan biaya sekolah dan pekerjaan, bahkan selalu memperlakukan Kakashi seperti keluarga sendiri.

Saat Minato dan Kushina meninggal, Kakashi tanpa ragu langsung mengatakan jika dia akan merawat Naruto dan mengangkat Naruto sebagai anaknya. Kakashi tidak menikah dan memberikan semua waktunya kepada Naruto. Kakashi memberikan semua yang Naruto inginkan dan sangat memanjakan bocah pirang itu.

Tentu saja Kakashi juga tidak lupa jika dia adalah seorang laki-laki dewasa yang membutuhkan sesuatu tersendiri. Tapi dia mengerti dan selalu menjaga semua sikapnya. Dia tidak pernah membawa wanita penghibur ke rumah ataupun menunjukkan pada Naruto jika dia dekat dengan wanita mana pun.

Tapi malang baginya, ketika dia mabuk di klub malam itu, seorang wanita yang menemaninya dengan lancang mengantarnya pulang dan tidur di kamarnya hingga paginya…

"Iruka!"

Iruka tersentak dari lamunan panjangnya karena panggilan Kakashi yang cukup kuat. Dia menoleh dan melihat Kakashi yang sudah berada beberapa langkah keluar dari pintu ruangan kerja itu. "Kakashi-san?"

"Kenapa kau malah melamun? Apa kau tidak ingin bertemu Naruto? Ayo!"

"Oh… baiklah."

…kejadian yang terkutuk itu membuat Kakashi menyesal bahkan sampai saat ini. Iruka mengetahui segalanya termasuk betapa depresinya Kakashi setelah itu. Bahkan sejak saat itu, Kakashi tidak ingin lagi berurusan dengan para wanita jalang diluar sana. Dan setelah Naruto mulai tumbuh lalu memilih pergi jauh darinya, Iruka mengerti jika saat itu perasaan Kakashi layaknya seorang Ayah yang di tinggal mati Putra kesayangannya.

Dan sekarang Iruka hanya bisa berharap, Naruto sudah mulai bisa kembali membuka hatinya hingga bisa mengurangi sedikit rasa bersalah Kakashi selama ini.

.

.

.

Naruto mengabaikan seorang pelayan yang ingin membawakan kopernya, dan dengan satu tangan dia membawa sendiri koper itu.

Perjalanan yang memakan waktu sampai empat jam membuatnya cukup lelah hingga istirahat adalah opsi pertama pilihannya begitu sampai di rumah utama sang Ayah angkat. Seorang pelayan datang menyambutnya begitu dia sampai dan juga pelayan itu nampak akrab dengan Sasame, tapi Naruto tidak perduli dan langsung melangkah masuk, hingga disinilah ia sekarang, berjalan sambil mematri setiap sisi sudut rumah itu. Rumah yang menjadi tempatnya tumbuh dan merupakan rumah yang sudah dia tinggalkan selama bertahun-tahun.

Sebenarnya, rumah itu adalah milik orang tuanya. Naruto tidak sedikit pun mempermasalahkan tentang siapa yang tinggal di rumah itu sekarang, karena baginya rumah itu hanyalah bagian dari masa lalunya yang ingin dia kubur. Mungkin disana juga terdapat kenangannya bersama kedua orang tuanya, tapi Naruto yang saat itu masih kecil tidak bisa mengingat apapun selain luka yang ia dapatkan di rumah itu.

"Naruto."

Langkah Naruto berhenti seketika saat suara itu masuk ke dalam indra pendengarnya. Suara seseorang yang sangat ia kenali meski sudah lama tak bertemu. Dia meluruskan tatapannya ke depan, melihat tanpa ekspresi dua orang pria yang kini ada tiga meter di depannya. Satu orang yang dia kenal sebagai 'Ayah' dan satu orang lagi yang dia kenal sebagai 'Paman bermain'.

Dalam hati Naruto bertanya, sudah berapa lama dia tidak pulang dan menemui kedua pria itu? Lihatlah raut menua di wajah itu! Tampak jelas jika usia telah membuat kedua pria di depannya tampak seperti kakek-kakek walau nyatanya mereka belum setua itu.

"Kau sudah besar." Kakashi kembali membuka suaranya tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari Naruto. Bocah kecil yang dulu sering ia gendong kini sudah tumbuh dewasa. Terakhir kali Kakashi melihatnya mungkin sekitar empat tahun yang lalu saat Naruto menyelesaikan S1-nya. Tapi saat itu Kakashi hanya bisa hadir dan melihatnya dari jauh, pandangan Naruto yang menatapnya dingin membuat Kakashi enggan melangkah maju dan memeluk putranya juga memberikan selamat.

Bahkan dari sepuluh tahun yang lalu saat Naruto keluar dari rumah, mereka sudah sangat jarang berkomunikasi. Jelas sekarang terasa sangat canggung, tapi kali ini Kakashi tidak ingin menyerah, dia akan merajut kembali hubungan mereka dan akan meminta maaf berulang kali sampai Naruto kembali menerimanya.

Disisi lain, Naruto masih diam di tempatnya sambil membalas tatapan Kakashi padanya. Tatapan penuh rindu dari Kakashi, ia balas dengan tatapan datar tanpa arti.

Cukup lama hingga membuat Iruka merasa lebih canggung sendiri. "Oh, kau semakin tampan ya, Naruto?!" itulah Iruka, dia tidak mengerti bagaimana mencairkan suasana, dia hanya berpikir sedikit kalimat santai bisa membuat mereka sedikit melepas ketegangan yang ada. "Apa kau mau minum dulu, Naruto?"

Tanpa sedikit pun respon, Naruto masih tetap di posisinya tanpa suara. Hal yang membuat pandangan penuh harap Kakashi yang sebelumnya ada, kini sirna. Dengan sedikit tersenyum miris dia mengalihkan tatapannya sejenak.

"Tadaima."

Deg

Kakashi dan Iruka melebarkan mata mereka saat satu kata itu meluncur dari bibir Naruto. Mereka menatap pria pirang disana dengan pandangan tak percaya, terutama Kakashi yang merasa senang, bingung, dan haru yang bercampur.

"O-oh.. okaeri, Naruto." Senyum Kakashi kembali melebar dengan sorot matanya yang kembali hidup. "Akhirnya kau pulang."

Naruto mengangguk sekali sebagai respon. Tak Naruto sangkal perasaan hangat yang menelusup di hatinya. Hanya karena salam singkat yang biasa dan sederhana, Naruto merasa hangat dan merasa benar-benar pulang. Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan jika pulang dan mendapati Hinata yang tersenyum menyambut –hah, Naruto menghela nafas pelan dan memejamkan matanya saat bayang-bayang Hinata benar-benar tidak lepas darinya seharian ini.

"Maaf, aku… lelah." Gumam Naruto lirih, matanya yang sempat terpejam sejenak kembali terbuka dan menatap Kakashi. "Aku ingin istirahat di kamar."

Tanpa jeda Kakashi langsung mengangguk, "Tentu saja, kau pasti lelah setelah perjalananmu. Kamarmu masih yang dulu dan selalu di rapikan setiap hari jadi kau bisa langsung menempatinya." Jawab Kakashi dengan panjang dan penuh nada senang.

Membuat Naruto menyadari betapa pertemuan ini sangat di harapkan oleh Kakashi. Tak ia pungkiri rasa rindu itu ternyata ada meski berusaha ia tutupi. Dengan tarikan nafas, Naruto kembali melangkah menuju sebuah kamar di lantai dua yang masih dia hafal persis tempatnya. Melangkah tanpa menoleh, meninggalkan Kakashi dan Iruka yang hanya bisa mengikutinya dengan pandangan mata.

Kakashi menghembus nafas lega setelah Naruto tak lagi terlihat. "Aku bersyukur dia terlihat mulai mau menerimaku, Iruka."

Iruka tersenyum mendengarnya, "Ya, semoga ini awal yang bagus."

Kakashi mengangguk dan menoleh saat seseorang tiba-tiba datang menyusul. "Sasame?" dengan tersenyum Kakashi berjalan lebih dekat menuju perempuan berambut pirang itu. "Terima kasih karena kau sudah membawa Naruto untuk pulang."

Sasame menatap Kakashi sejenak sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya kearah lain. Dia merasa ucapan terima kasih itu tidak pas untuknya, karena Sasame yakin alasan Naruto ingin pulang bukanlah karena dia. Apalagi mengingat kehadiran perempuan Hyuuga itu yang sudah tidak ada lagi di rumah Naruto tadi pagi, Sasame rasa kepulangan Naruto bahkan tidak ada kaitannya dengan dia sedikit pun.

"Sasame-san, kenapa kau diam saja?" lagi Kakashi membuka suara.

Menggeleng pelan, Sasame hanya tersenyum tipis. "Tidak apa Kakashi-san. Aku ingin pulang ke rumah dulu."

"Begitu? Baiklah, terima kasih sekali lagi. Kalau bisa, datanglah untuk makan malam nanti dan kita bisa berkumpul bersama."

Ajakan itu hanya di balas anggukan singkat dari Sasame sebelum dia berbalik dan melangkah pergi.

Makan malam bersama, huh? Untuk apa? Membicarakan perjodohan yang di maksud? Tentu saja dalam hati Sasame sudah yakin seratus persen jika hal itu mustahil terjadi.

.

.

.

'Uzumaki-san… Uzumaki-san… Uzumaki-san…'

"Ck, siaaalll… kenapa suara itu terus terdengar sih?" Naruto menelentangkan tubuhnya di kasur. Sudah hampir tiga puluh menit dia di kamar itu dan berusaha memejamkan matanya untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan Hinata. Tapi saat matanya terpejam, justru suara wanita itu tidak pernah lepas dari kepalanya.

Drrtt… kepalanya menoleh saat satu getaran di ponselnya menandakan satu pesan. Segera dia raih dan membuka isi pesan itu…

'Dia berada di tempat tinggal temannya di jalan Sarutobi dekat terminal ketiga dari terminal utama.'

…Naruto hanya terdiam melihat pesan itu dan kemudian kembali memejamkan matanya.

"Hinata."

.

.

.

Tuk tuk tuk

Shikamaru menopang dagunya dengan pandangan kesal. Jemarinya ia ketukan di atas meja sang atasan. Kursi milik atasan yang merangkap sahabat pun kini ia duduki tanpa rasa takut sedikit pun.

Helaan nafas berulang kali keluar dari mulutnya bersamaan dengan kerutan yang semakin banyak di keningnya.

"Bocah sialan!" umpatnya kesal. "Dia menghilang, dan kali ini dia membawa sekretarisnya. Rumahnya kosong, ponselnya tak bisa di hubungi. Apa dia baru saja di telan bumi?" ocehan kesal yang sejak lima belas menit lalu selalu ia ucapkan nyatanya semakin menambah tingkat kekesalannya karena ulah sang sahabat.

"Kali ini apa lagi yang dia lakukan? Hah, Naruto… setidaknya bilang padaku jika kau masih mempunyai tiga janji rapat dan dua belas berkas yang perlu di kerjakan!" teriakan dan tepukan keras tangannya di meja menggema di ruangan luas nan mewah itu.

"Aaarrrrggghh…" Shikamaru menggaruk kepalanya kasar, "Kau harus menaikkan gajiku tiga kali lipat, NARUTOOOOOO…."

.

.

.

Syuuu…

Naruto bergidik saat hembusan angin mengenai tengkuknya. Perasaannya entah kenapa tiba-tiba tidak enak saat selintas bayangan sahabatnya menghampiri. Dengan ekspresi datar dia menutup jendela kamarnya yang beberapa saat lalu menjadi tempatnya untuk melihat halaman samping rumahnya.

"Kuharap Shikamaru tidak membunuhku nanti." Gumamnya pelan lalu berjalan keluar dari kamarnya. Melihat singkat sekelilingnya yang terasa sepi. Jam menunjukkan pukul tiga sore saat itu, dia belum keluar kamar sejak sampai tadi bahkan makan siang pun di antar ke kamarnya.

Sejujurnya, Naruto belum mempersiapkan diri untuk bertemu sang Ayah. Pagi di saat Hinata pergi dari sisinya benar-benar membuat sesuatu terasa sangat dingin di hatinya. Gambaran ketika kedua orang tuanya tidak lagi bisa bersamanya membuatnya benar-benar ingin menangis, dan saat paginya dia menyadari jika Hinata telah benar-benar meninggalkannya, Naruto benar-benar terasa sepi yang entah mengapa membuatnya teringat dengan sang Ayah.

Dulu, disaat kedua orang tuanya tiada, Ayahnya datang dan mengulurkan tangan untuk mendekapnya dengan hangat. Kini, disaat dia ditinggalkan lagi oleh orang yang dia sayangi, rasanya Naruto merindukan sosok Ayahnya itu.

Tapi kenyataan tak semudah yang dia bayangkan. Dia belum memikirkan apapun tentang apa yang harus dia katakan kepada Ayahnya begitu mereka bertemu, makanya dia langsung memilih menuju kamarnya tadi dan baru keluar sore hari.

Taman di samping rumah itu terlihat begitu luas dan sangat menyegarkan dengan tamanan bunga berwarna-warni yang menghiasi. Naruto ingat jika hal itu tidak berubah dari dulu. Bahkan rumah itu pun tak banyak berubah dari terakhir kali ia lihat. Mungkin Ayahnya tidak ingin mengubah apapun yang menjadi peninggalan kedua orang tuanya, hanya itulah kesimpulan Naruto.

Dia berjalan menuju bangku santai di teras samping dan mendudukkan dirinya disana, memandang jauh menuju bayang-bayang masa lalu dimana di taman itu dia sering bermain dengan kedua orang tuanya, dan saat orang tuanya telah tiada, Kakashi yang menemaninya bermain disana. Kenangan indah yang nyatanya sempat ia miliki selain kenangan mengerikan itu.

Dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam guna untuk mengusir segala pikiran yang semakin semrawut di kepalanya. Dan saat dia merasa seseorang muncul lalu duduk di sampingnya, matanya terbuka dan menoleh kearah kirinya, mendapati Iruka yang tersenyum menatapnya. "Paman."

"Apa yang sedang kau lakukan disini?"

Naruto kembali menatap taman di depannya sebelum menggeleng pelan, "Hanya menikmati udara sore."

Iruka mengangguk paham. "Terima kasih." Ucapan itu berhasil membuat kepala Naruto menoleh dengan pandangan bingung. "Terima kasih karena kau sudah mau pulang walau mungkin hanya sebentar. Terima kasih karena kau mau pulang sekarang meski kehadiranmu selalu di tunggu dari bertahun-tahun yang lalu. Terima kasih."

Dengan pandangan sendu, Naruto hanya terdiam.

"Aku tidak begitu tahu apa alasanmu pulang, tapi aku melihat sesuatu yang lain darimu." Iruka kembali menambahkan, "Sepuluh tahun yang lalu saat terakhir kali aku melihatmu, sorot matamu seakan mati, tidak ada lagi yang kau perdulikan dalam hidup, kau seolah menjalani hidup hanya untuk menunggu kematian. Tapi…"

Iruka memejamkan matanya sejenak, mengingat kembali sorot mata Naruto beberapa jam lalu saat pria 25 tahun itu sampai. "..tadi aku melihat sorot mata yang lebih hidup. Kau terlihat ingin hidup karena satu alasan. Dan kuharap, kepulanganmu kesini untuk membagi alasan itu pada Ayahmu dan juga padaku."

Kepala bersurai kuning itu menunduk. Alasan ia ingin tetap hidup? Hanya ada satu jawaban atau tepatnya, hanya berasal dari satu nama. Nama yang dimiliki seseorang yang terus bermain di pikirannya sampai saat ini. "Aku juga berharap alasan itu berbentuk kebahagiaan dan bisa membaginya dengan keluarga terakhir yang ku miliki, tapi aku tidak yakin apa alasan itu masih bisa kuubah menjadi sebuah kebahagiaan. Di samping itu… aku masih memikirkan bagaimana caranya berbicara dengan Ayah tentang alasan itu."

Iruka menepuk pelan bahu Naruto, mencoba memberikan dorongan yang entah bisa sampai atau tidak. Sejujurnya Iruka sedikit canggung dengan keadaan mereka sekarang. Jika dia ingat, mungkin ini adalah pertama kalinya mereka mengobrol dengan serius.

"Kau pulang kesini untuk bertemu dengan Ayahmu, kan?" pelan, Naruto mengangguk. "Kalau begitu bicaralah. Tentang bagaimana caranya tidak usah kau pikirkan, yang perlu kau lakukan adalah melangkahkan kaki menghadapnya dan menatap matanya sembari membuka mulut. Katakan apa saja yang bisa keluar dari mulutmu, mungkin itu bisa menjadi awal yang baik."

"Bisakah?" Naruto menoleh dan menatap Iruka penuh harap. "Aku… ingin memulai kembali hubungan kami. Aku sadar aku yang telah menjauhinya beberapa tahun ini, tapi akhir-akhir ini aku sadar betapa penting dan berharganya jika aku memiliki seseorang yang bisa aku sayangi. Bayangan Ayah dan Paman melintas di kepalaku saat aku berpikir begitu."

Rasanya Iruka ingin menangis saat dia menjadi salah satu orang yang Naruto anggap sebagai keluarga.

"Alasan utamaku pulang kesini mungkin bukan tentang merajut kembali hubungan yang ku katakan tadi, tapi… secara tiba-tiba, aku sangat menginginkan sebuah keluarga. Keluarga yang tidak akan meninggalkan aku lagi."

Iruka mengerti. Semakin Naruto tumbuh dewasa, semakin banyak hal yang di temui Naruto di hidupnya. Mungkin salah satu hal yang dia temui membuat Naruto kembali merindukan sosok keluarga yang bisa selalu ada menemaninya. Setelah bertahun-tahun, mungkin Naruto mulai merasa kesepian dengan kesendiriannya.

"Kau bisa!" Naruto menatap Iruka dengan bingung, "Sama sepertimu, Kakashi-san juga sangat menginginkan hubungan kalian kembali membaik, jadi… kau pasti bisa merajut kembali hubungan itu. Jangan mundur lagi dan berusalah, Naruto!"

Dengan satu senyum yang jarang ia tunjukkan, Naruto mengangguk mengiyakan perkataan Iruka dengan yakin.

.

.

.

Makan malam saat itu berlangsung menyenangkan bagi Kakashi. Setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya dia bisa kembali menikmati makanan di meja yang sama dengan sang Putra. Suasana malam itu lebih terasa hidup meski tak banyak orang yang berbicara.

Ada empat orang yang menikmati makan malam itu. Kakashi di kursi ujung, Naruto berada di sisi kanannya, Iruka berada di samping Naruto, dan Sasame yang berada di sisi kiri Kakashi berhadapan dengan Naruto.

"Makan malamnya enak." Iruka memilih untuk jadi pembuka di acara itu, mencoba menghidupkan suasana agar terasa lebih ramai. "Bagaimana Naruto? Apa makanannya enak? Ayame yang bekerja disini sangat pintar memasak, kan?"

Naruto terdiam sembari mengunyah makanannya. Pandangan sapphire biru itu mengarah lurus pada makanan di piringnya. Enak? Ya, makanan itu memang enak meski baginya, ada makanan lain yang terasa jauh lebih enak. "Hm, ini enak." Jawabannya singkat.

"Kau tinggal sendirian, kan? Bagaimana makananmu selama ini? Apa kau memasak sendiri atau selalu makan di luar?" mungkin… Iruka berniat mendominasi suasana. Bukannya Iruka tidak tahu jika Kakashi ingin berbicara banyak hal dengan Naruto? Tapi Iruka hanya menyadari jika Kakashi adalah orang yang sulit mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Lihat saja! Kakashi hanya makan dengan tenang tanpa suara, padahal Iruka tahu seberapa senangnya Kakashi saat tadi dia memberitahu jika Naruto sudah menunggu di meja makan. Siang tadi Naruto belum makan bersama mereka, itu membuat Kakashi sedikit kecewa. Makanya dia sangat senang karena Naruto akhirnya mau makan bersama malam ini.

Di tempatnya, Sasame melirik kearah Naruto tanpa suara. Dalam hati dia ragu jika Naruto harus makan di luar kalau nyatanya ada seseorang yang tinggal bersamanya dengan kemampuan memasak yang tidak bisa di remehkan.

Meraih minumannya, Naruto meneguk air putih itu dengan nikmat sebelum membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Iruka. "Aku makan di luar, sesekali aku juga memasak sendiri. Tapi tidak banyak yang bisa ku masak makanya makanan yang ku buat terbatas." Iruka mengangguk mengerti akan hal itu. "Tapi dua bulan terakhir…"

Kakashi dan Iruka melirik saat Naruto menghentikan perkataannya dan terdiam. Dapat keduanya tangkap sorot sendu di sapphire biru Naruto yang terasa seperti sebuah… kerinduan.

"Dua bulan terakhir… kenapa?" Iruka mengajukan suara hatinya yang lumayan penasaran.

Tanpa menjawab, Naruto kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Sukses membuat Iruka hanya bisa menghela nafas karena merasa di abaikan.

Lima menit kedepan, suasana hening merajai.

Lima menit? Ya, karena setelah itu, Naruto menaruh alat makannya dan kembali membuka suara. Terlihat jika yang lain pun memang sudah menyelesaikan makan mereka. "Ayah…"

Rasanya Kakashi ingin menangis seketika saat panggilan yang sudah sangat lama tak ia dengar kembali terucap dari bibir Putranya. Selama ini, meski hanya lewat telpon mereka berbicara, Naruto tidak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan 'Ayah', dan sekarang Naruto memanggilnya begitu secara langsung tentu saja membuat hati Kakashi benar-benar menghangat. Tapi dengan segala kekakuannya karena tak berjumpa setelah sekian lama, Kakashi hanya diam meski dia yakin Naruto tetap akan melanjutkan perkataannya.

"Perjodohan yang Ayah katakan waktu itu…" kembali Naruto memotong perkataannya dan melirik Sasame yang menunduk di depannya. Naruto yakin Sasame sudah mengetahui apa yang akan dia katakan dan sudah mengerti dengan posisinya yang tidak mungkin bisa bersama Naruto.

"Perjodohan…" untuk pertama kalinya Kakashi membuka suara di meja makan itu. "Kenapa dengan perjodohannya? A… A-ayah yakin kau sudah tahu jika Sasame gadis yang Ayah maksud. Dia merupakan teman kecilmu dulu dan kurasa itu tidak masalah untukmu sekarang, kan?"

Dengan sekali tarikan nafas, Naruto menoleh dan menatap lurus kearah Ayahnya, membuat Kakashi sedikit tersentak meski dengan cepat ia atasi. "Kenapa Ayah menjodohkanku? Apa Ayah berpikir aku tidak mampu mencari pendampingku sendiri?"

Kakashi mengalihkan tatapannya, "Maaf jika Ayah terlalu mengatur. Dengan kondisimu yang Ayah kenali, pasti sulit bagimu untuk dekat dengan perempuan. Saat Ayah mendengar kondisimu mulai membaik, Ayah pikir baik untukmu jika kau mulai lebih dekat dengan perempuan. Makanya Ayah memikirkan perjodohan ini hanya untuk sedikit membantu. Sasame juga teman kecilmu dulu, Ayah pikir –"

"Ayah!" Kakashi terdiam dan melirik saat perkataannya di potong. "Aku mengerti niatmu. Tapi itu tidak perlu."

"Maksudmu?"

"Aku tidak bisa bersama Sasame. Aku bahkan tidak mengingat bagaimana kenangan pertemanan kami dulu. Benar yang di katakan Kabuto jika kondisiku mulai membaik, tapi belum sepenuhnya. Saat ini aku memang lebih bisa mengendalikan diriku jika di dekat perempuan, tapi perasaan trauma itu masih ada. Jadi tolong… biarkan aku mencari sendiri calon pendampingku. Aku ingin menemukan seseorang yang benar-benar bisa membuatku tidak merasakan perasaan trauma itu lagi, jadi aku ingin perjodohan ini dibatalkan."

Kakashi diam tanpa bisa bicara lagi. Dari awal dia memang tidak berniat memaksa Naruto untuk itu. Dia hanya berusaha untuk membantu, jika memang Naruto tidak mau, Kakashi tidak akan memaksa. Itulah niatnya dari awal.

Dengan sekali anggukan, Kakashi menyetujui hal itu. "Baiklah, Ayah mengerti."

Hembusan nafas pelan terdengar dari Naruto sesaat sebelum dia berdiri dari kursinya. "Terima kasih makanannya. Maaf, aku ingin lebih dulu ke kamar." Ucapnya dan langsung melangkah pergi tanpa bicara hal lainnya.

Menyisakan tiga orang di sana yang masih terdiam.

"Sasame-san.." Kakashi mulai membuka suaranya. "Aku minta maaf karena perjodohannya batal."

"Tidak apa. Aku sudah bisa menduganya sedari awal." 'Ya, sedari awal aku melihat perempuan itu di rumahnya, aku sudah menduga jika tidak akan pernah ada tempat untukku.' Lanjutnya dalam hati.

"Kau sempat ke rumahnya, bukan?" Sasame berkedip dan mendongak menatap Kakashi. Anggukan dia berikan singkat sebagai jawaban. "Apa Naruto… terlihat dekat dengan seorang perempuan? Tentang perkataannya tadi yang terhenti, aku penasaran dengan pola makannya di dua bulan terakhir yang tidak jadi dia bahas. Apa kau tahu sesuatu?"

Dengan lesu Sasame kembali menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu apa-apa, Kakashi-san. Dan dengan ketidaktahuan itu, aku sudah melakukan kesalahan." Jawabnya lirih.

"Kesalahan… apa maksudmu?" kembali Iruka bersuara.

Sasame tersenyum miris. "Bukan apa-apa." dia mendongak dan kembali menatap Kakashi. "Kurasa kondisi Naruto lebih baik dari yang terlihat, jadi Kakashi-san tidak perlu memikirkan tentang pendampingnya, karena percayalah pada apa yang dikatakan Naruto. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuknya sendiri."

Meraih tasnya, Sasame berdiri dari kursi yang dia duduki. "Aku minta maaf karena tidak bisa banyak membantu, Kakashi-san. Mungkin aku juga harus meminta maaf pada seseorang dan Naruto sendiri." Perempuan berambut pirang itu menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam. "Aku permisi, Kakashi-san, Iruka-san."

Kakashi dan Iruka hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Sasame. Keduanya bahkan sibuk dengan pemikiran mereka sendiri bahkan sampai Sasame menghilang dari ruangan itu.

"Iruka, apa yang harus ku lakukan?"

Iruka tersenyum tipis, "Menunggu," jawab Iruka singkat. "…dan saat apa yang kau tunggu datang, bicara dan keluarkan semua perasaanmu."

"Hah?" alis Kakashi terangkat. "Apa maksudmu?"

Dengan senyuman yang manis, Iruka mengabaikan pertanyaan Kakashi dengan beranjak pergi.

.

.

.

tbc

.

.

.

Warning! a/n bakalan panjang.

Pertama, maaf aku telat up lebih dari sebulan (yah walau aku tahu banyak fic lain yang bahkan tak di up sampai bertahun-tahun). Bukan aku bermaksud mengabaikan atau tidak punya tanggung jawab, tapi sebulan kemarin tugas kantor penuh banget bahkan sampai sering buat aku begadang, alhasil aku sempat sakit. Akhir-akhir ini juga kepalaku suka tiba-tiba sakit nggak tau kenapa? Aku bukan cari alasan kok, hanya cerita aja. :D

Jadi maafkanlah keterlambatan Zeno Ouryuu ini. Semoga kalian bisa memaklumi dan memahami. Maaf juga karena setelah menunggu sekian lama, mungkin chap ini kurang memuaskan.

Disini aku lebih jelasin tentang hubungan Naruto dan Kakashi karena hubungan mereka juga bagian dari hidup Naruto kan? Sengaja juga buat Hinata pergi karena emang dari ide awalnya gitu sih, lagian mereka melakukan itu tanpa kata cinta, jadi pasti rasanya aneh dan canggung. Ditambah mereka taunya kalau hal itu hanya demi kesembuhan Naruto, pasti sakitlah. Makanya mereka butuh waktu.

Chap ini aku kerjakan nyicil 15 menit sehari. Pengennya sih langsung gabung sampai end tapi kayaknya kepanjangan dan kalian sudah tidak sabar, makanya aku potong dan up disini. Untuk chap depan mungkin chap terakhir dan aku usahakan up tidak lebih dari 10hari. Insya Allah.

Semoga chap ini bisa menghibur, untuk yang minta scene NaruHina lebih banyak, mungkin chap depan. Yang tanya manggil aku apa? Terserah. 'Zeno-san' boleh, 'Ryuu-kun' boleh, 'Zen-chan' boleh, 'Zeno-kun' dan yang lainnya juga boleh, asal enak aja di dengernya. Tentang yang minta lemon? No comment ya?! :D

.

Aku senang dan terima kasih atas pendapat kalian di review kemarin. Semuanya aku baca dan hal-hal yang perlu dipikirkan sudah aku pikirkan. Ini beberapa pertanyaan yg menurutku perlu jawaban.

Q : Kok Naruto tahu marga Hinata 'Hyuuga', kan Hinata besar di panti asuhan?

A : Hinata sudah tahu marganya sejak kecil, Hyuuga Hinata. Naruto tahu marganya dari CV yang Shikamaru kasih ke dia sehari sebelum Hinata kerja.

Q : Menurutku alur awal sedikit membingungkan dan bagian naruto marah karena taruho itu nggak ada flashback yang lebih jelas.

A : Begitukah? Wah maaf ya. Setelah kubaca ulang kupikir kamu ada benarnya juga. Tapi kuharap kamu dan yang lain tetap ngerti maksudnya. kalau ada waktu entar aku perbaiki.

Q : Aku nggak suka Shikamaru sama Ino.

A : Waaahhh,, maaf deh kalau begitu. Rasanya kedepannya, kamu bakal banyak nggak suka nih, karena aku berencana buat yang beda. Di semua fic ku ntar, selain NaruHina, yang lain bakal aku tuker-tuker pasangannya. :D maaf bagi yang nggak suka, lagian aku nggak akan bahas banyak pair lain kok selain NH.

Makasih atas pendapatnya, itulah yang aku harapkan. Entah itu kritik ataupun rasa suka, aku menerima semuanya, asal jangan flame nggak jelas . Asal kritik membangun, aku justru terima kasih.

Makasih sudah tetap menunggu dan suka dengan fic Zeno Ouryuu.

.

Thanks too :

BiNaruHina ; v ; budiii ; hanami ; Isabella ; Nathan D. Rezza ; reonaz ; Lala ; reskan ; whitelily ; Gaara van astrea ; Tanaka-kun ; LisAries ; Liviaddict ; LhyunaSH ; salsal hime ; Guest ; grace ; pecintaNH ; rueurue ; uzumakinaruto ; Hinata Hyuuga Hime ; megane chan ; Anonym ; Ujumaki641 ; fhalikeNaruHina ; Oshop ; ren ; ArmyNHL ; Yeang ; Teoni-mio ; Cecep713 ; dza ; Ichiie NHL as Ekaa648 ; nozora ; pewe ; CR1SH1M4 ; mba bro ; Taupik354 ; echymaretha ; kaze ; nawaha ; yuHime-chaN ; Tu332 ; Irsyad974 ; uchiha wulan ; arisa ; hyuzukaze ; megahinata ; gilangramadhan129357 ; himawariyabe ; jackals ; rainvers ; tzhrxx ; Aika747 ; asparagusgus ; metrix ; Rose Namikaze ; Tisnata404 ; Kaname ; CloverLeaf as Ifanaru ; Helena Yuki ; OHimePanda ; dindra510 ; pengagumlavender ; Dands ; hyugga jessica ; Valentinexxx ; ImeL's383 ; Zaoldyeck13 ; angga ; Nico Andrian ; Azu-chan NaruHina ; lililala2499 ; yuser ; UzumakiIsana ; simple ; Isabella ; HL ; anita777 ; hinata uzumaky ; Tsukasa ; Naruhinalemoncx ; armymey ; kaiLa wu ; ayus8841 ; LuluK-chaN473 ; HiNaru ; NHL ; ken ; leonardoparuntu9 ; ullehime ; hime ; ame ; noy ity ; winter ; khotijahpraja ; alif yusanto ; Hyuuzu Avery ; kushinaa ; dwibumblebee ; Mouri Rini ; DiTa ; Green Oshu ; uzumakiika ; Baenah321 ; anna chan ; yuhi ; reksaa234 ; san ; Anni Lavender ; HimeNara-kun ; pewe ; billyyo566 ; HariwanRudy ; Mitsuko Kei ; Bheeny Angget ; Musasi ; aku ; Oya682 ; locious ; Night ; kipas rusak ; permatadian ; aoi doi ; Avia Hasava ; SelMinho ; zlatan ; ana ; Eve Seven ; room162 ; irfai1891 ; 5udiantar4 ; hinami ; Riu-chan ; evill smirk ; zivia. (Alhamdulillah -_-).