My Only Girl
.
.
.
Sumarry : Donghae, seorang penyanyi terkenal istri pewaris tunggal Choi Entertainment terjebak cinta segitiga. Siapakah yang akan dia pilih? Choi Siwon, suaminya kah? Atau Kim Kibum, actor tampan teman semasa kecilnya?
Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.
Pairing : SiHae (Siwon Donghae) or KiHae (Kibum Donghae) ?
Other cast: HanChul (orang tua Siwon), KangTeuk (orang tua Donghae), yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D
Rating: T to M (buat jaga-jaga)
Genderswitch Donghae, HeeChul, Leeteuk, Sungmin, Ryeowook.
Don't like don't read, no flame, no copas, review please (author baru soalnya, mohon bimbingannya)
.
.
.
^^ Saranghaeyo Super Junior ^^
-two months later-
Seorang namja berperawakan atletis nan tampan didampingi seorang namja di belakangnya –yang tak lain adalah sang sekretaris- melangkahkan kakinya menuju ruang kerja pribadi miliknya. Senyum menawannya yang dihiasi oleh dimples di kedua pipinya senantiasa terpatri di bibir kissable nya. Tak jarang pula ia menyamput sapaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Di pagi yang cerah ini, suasana hatinya sedang sangat baik. Mengingat tiga bulan belakangan- setelah kesalahan besar yang ia lakukan pada sang istri- hubungannya dengan wanita pujaannya itu semakin membaik, sang istri juga bertambah manja padanya. Ya, namja tersebut tak lain dan tak bukan adalah Choi Siwon, pewaris tunggal Choi Entertainment.
"Kibum-ah, bagaimana kabar orang tuamu? Sudah dua bulan ini eomma mu di rumah sakit, bukan? Bagaimana keadaannya?"
Telinga Siwon menangkap suara yang dikenalnya, suara manager Kibum –manager Park. Rasa penasaran menghampirinya, ia ingin mendengar lebih lanjut percakapan mereka selanjutnya. Siwon menghentikan langkahnya di balik pintu kantor manager Kibum yang sedikit terbuka, sekretarisnya pun ikut berhenti dan tidak berniat membuka suara. Ia tahu atasannya itu bermaksud untuk menguping. Yah, tidak sopan memang. Tapi apa boleh buat? Lebih baik diam daripada merusak mood atasannya yang sedang baik dan membangkitkan amarahnya.
"Keadaan eomma sudah membaik, manager hyung, tapi eomma belum sadar dari komanya. Aku anak yang tidak berguna, hyung, di saat mereka membutuhkanku aku tidak ada di samping mereka." Jawab Kibum dengan suara yang lemah, menggambarkan kesedihan yang ia rasakan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau anak yang baik, kau sudah melakukan apapun yang kau bisa. Apa pelaku tabrak larinya sudah ditemukan?" manager Park kembali mengajukan pertanyaan.
"Kata appa sudah, hyung, proses hokum sedang berjalan."
"Kita doa kan saja semoga eomma mu cepat sehat kembali. Beliau orang yang kuat dan tegar, pasti bisa melalui masa komanya." Hibur manager Park.
"Ne, hyung, gomawo kau selalu ada di sampingku."
"Cheonma. Aku dan Donghae-sshi akan selalu ada kapan pun kau membutuhkan sandaran dan semangat."
Siwon kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tujuan awalnya setelah sempat tertunda. Kini senyumnya sudah tidak dia pamerkan kembali, wajah stoic lah yang menggantikan senyum ramah itu. Sesuatu menyusup relung hati Siwon. Rasa bersalah. Ya, ia merasa bersalah kepada yeoja yang sangat ia cintai, Donghae – istrinya. Sekarang ia bisa menyimpulkan sesuatu, ia telah salah paham pada Donghae. Malam itu Donghae tengah menghibur dan menenangkan Kibum yang sangat bersedih karena keadaan eommanya, ditambah lagi Kibum tidak bisa mendampingi eommanya dikarenakan pekerjaan yang melilit dirinya. Penyesalan kembali menghampirinya. Andai saja malam itu ia dapat berpikir jernih seperti saat ini, pasti janin dalam kandungan Donghae tidak akan terancam keguguran.
Siwon menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya dan mengusap kasar wajahnya. "Mianhae, Hae-ya." Bisiknya.
.
.
.
-Siwon POV-
Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri ku. Sudah lewat tengah malam ternyata. Haaah, pekerjaan di kantor menumpuk, banyak berkas-berkas yang harus ku periksa dan juga meeting dengan beberapa client. Aku yakin pasti Donghae chagi ku sudah terlelap. Kulangkahkan kaki ku perlahan menuju kamar, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun agar tidak menganggu tidur nyenyaknya. Donghae chagi pasti lelah, mengingat dia masih mengambil beberapa pekerjaan tentu saja yang tidak terlalu menguras tenaga mengingat sekarang usia kandungannya sudah menginjak bulan ke lima. Aku tidak ingin terjadi hal yang membahayakan dirinya dan juga aegya kami.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian ku dengan piyama, ku baringkan tubuhku di sampingnya di ranjang kami. Kuamati wajah damai yeoja yang telah merebut hatiku, menelusuri setiap detail paras cantiknya. Kedua mata polos yang -sekarang tersembunyi- mampu memenjarakanku di dalamnya, pipi porselennya, hidung mancungya, dagunya dan bibir tipis pinknya yang tak pernah bosan untuk ku kecap rasa manisnya, benar-benar sempurna sosok di hadapanku ini. Betapa beruntungnya aku memiliki malaikat seperti dia di sampingku.
Kukecup lembut bibirnya, hanya sekilas, tak ingin membangunkannya. Kembali pandangi paras cantiknya, kedua sudut bibirku terangkat membentuk lengkungan yang disebut senyum. Perlahan dikerjapkannya kedua matanya lucu guna beradaptasi dengan cahaya lampu karena Donghae chagi ku tidak akan bisa tidur dengan lampu padam kecuali ada yang menemani, neomu kyeopta, sepertinya tidur nyenyaknya terinterupsi akibat ulahku tadi.
"Siwonnie." Ucapnya setelah kedua matanya terbuka sempurna.
"Ne, chagiya."
"Kau baru pulang?"
"Beberapa menit yang lalu."
"Kenapa tidak tidur? Kau pasti lelah kan?" tanyanya sarat kekhawatiran.
"Rasa lelahku menguap seketika saat melihat kecantikanmu, chagiya."
Donghae chagi terkekeh. "Gombal."
"Hei, aku jujur. Kau adalah obat yang paling ampuh di saat aku sakit, lelah, marah, sedih, cemas. You are my everything, Hae-ya." kukecup keningnya, menyalurkan rasa cintaku yang begitu besar padanya.
"Gomawo." Bibirnya menyunggingkan seulas senyum manis.
Sekelebat bayangan akan pembicaraan Kibum dan manager Park menyambangi pikiranku, rasa bersalah itu kembali menyelinap.
"Mianhae, chagiya, jeongmal mianhaeyo." Ku usap lembut kedua pipi mulusnya dengan ibu jariku, kutatap sendu manic karamelnya.
"Untuk?" Donghae chagi mengerutkan keningnya heran.
"Aku telah melakukan kesalahan yang besar."
Dia masih mengernyit bingung, menunggu kata-kataku selanjutnya.
"Aku telah salah paham padamu dan Kibum sehingga.." aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, suaraku tercekat di tenggorokan dan tidak bisa keluar, ".. sehingga uri aegya.."
"Sssttttt…!" Donghae chagi membungkam mulutku dengan telunjuknya.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk mengubur kenangan pahit itu, hmm?" senyum tipis mengembang di bibir plum nya.
"Gomawo, chagiya, kau memang berhati malaikat. Mianhae aku tidak tahu kalau eomma Kibum sedang kritis saat itu."
"Jadi?" Donghae chagi berpikir sejenak, "Jangan bilang kau cemburu pada Kibum, Wonnie-ya," tebaknya tepat sasaran.
"Euhm, mianhae. Malam itu aku melihatmu memeluknya sangat erat, pikiranku tidak bisa berpikir dengan jernih."
Donghae chagi menghela napas. "Bukankah aku sudah bilang padamu kalau-"
"Kalau kau menganggapnya namdongsangmu." 'tapi tidak dengan dia, chagiya.' Lanjutku dalam hati.
"Nah, kau mengerti. Kibummie di sini seorang diri, Wonnie-ya, Kim ahjusshi dan ahjumma berada di Amerika bersama yeodongsaengnya. Aku memiliki kewajiban menjaganya dan selalu berusaha ada di sampingnya saat ia membutuhkan sandaran. Arraseo?" jelasnya panjang lebar. Ya, aku sudah sering mendengar itu.
"Arra, chagiya." Ciuman ku layangkan ke hidung mancungnya. Donghae chagi tersenyum lebar.
"Oh iya, Siwonnie, aku punya surprise untukmu. Ayo tebak."
"Apa, chagiya?"
"Tebak dulu, Wonnie~" rengeknya manja.
"Nan mollayo."
Donghae chagi mendesah sebal sembari mem-pout-kan bibirnya imut.
"Jangan seperti itu, chagiya, kau membuatku ingin memakanmu." Ujarku seduktif.
"Yack! Wonnie pervert!"
"Hanya dirimu yang bisa membuatku pervert, chagi. Lalu apa surprise untuk ku? Kau akan memuaskan ku mala mini?"
'pletak' jitakan manisnya berhasil mendarat di kepalaku.
"Appo, chagiya." Rengekku.
"Siapa suruh jadi namja pervert."
"Iya iya, chagiya, aku bertaubat." Dia hanya tersenyum menanggapi.
Donghae chagi meraih tanganku yang bertenggar di pinggangnya, membimbing tanganku menuju perutnya yang buncit. Membuat gerakan memutar perlahan di sana.
"Kau tahu, Wonnie-ah? Di dalam sini ada dua uri aegya kita." Rona bahagia tergambar jelas di paras cantiknya, membuatnya berkali-kali lebih cantik.
Wait..
Loading process..
0%
.
25%
.
50%
.
75%
.
100%
.
Loading complete
"Du-dua, chagiya?" aku membulatkan kedua mataku.
"Euhm." Donghae chagi mengangguk antusias.
"Kita akan mempunyai aegya kembar?"
"Iya, Siwonnie."
"Jeongmal?"
"Ne."
"Kyaaa.. gomawo chagiya. Nan haengbokhaeso!" kupeluk malaikatku erat. Aku benar-benar bahagia mendengar kabar bahwa aegya yang ada di dalam rahim istriku ini kembar.
"Wonnieeh.. sse-saaakhh…" rancaunya.
"Ups, mian chagiya." Aku hanya tersenyum tanpa dosa.
"Kau lupa kalau aku sedang hamil, eoh?"
Aku bangkit dari tidurku dan mengarahkan kepalaku ke perutnya, mencoba berkomunikasi dengan dua aegya kami di sana. "Maafkan daddy, baby, appa sangat bahagia. Kalian harus tumbuh sehat dan jangan membuat mommy repot, ne? Daddy dan mommy menantikan kehadiran kalian." Kucium perutnya dan mengusapnya lembut.
"Aku sudah meminta maaf pada uri twins aegya dan juga menasehatinya agar tidak merepotkanmu, chagiya." Aku kembali merebahkan tubuhku di hadapan istriku tercinta dan menatapnya, kuselami manic dark brown polosnya. Dia tersenyum manis.
"Gomawo, chagiya." Aku pun juga ikut tersenyum, lebuh lebar malah.
"Poppo~" rengeknya manja seraya memasang ekspresi yang imut.
Itu dia sifat manjanya yang aku suka selama Donghae chagi mengandung. Dia suka sekali meminta kiss dariku, tentu saja aku tidak akan keberatan dan dengan senang hati akan memberikannya.
Donghae chagi memejamkan matanya, bersiap menerima kiss dariku. Kudekatkan wajahku dengan wajahnya, mengeliminasi jarak yang tercipta antara bibirku dan bibir plum pink menggodanya.
Cuuup~
Kini bibir kami berdua menempel sempurna, dapat kurasakan deru napas hangatnya menerpa wajahku. Perlahan kulumat bibir manisnya, menyesap semua rasa manis yang tersaji di bibirnya tanpa tertinggal se-inchi pun. Aku ikut memejamkan mata, menghayati setiap lumatan yang kuberikan padanya. Donghae chagi mulai membalas lumatanku. Tanganku yang bebas –yang tidak menjadi bantalannya- bergerak mengelus punggungnya yang tersembunyi di balik piyamanya. Ku jilat bibir bawah dan atasnya bergantian. Mengerti akan maksudku, dibukanya mulutnya dan tanpa membuang kesempatan, ku sisipkan lidahku ke dalam rongga mulutnya yang hangat, menjelajahi semua penghuni yang ada di dalamnya. Suara kecipak saliva akibat aktivitas French kiss kami pun mendominasi kamar.
"Eeumgghhhh…" desahan pun lolos dari mulutnya, dibalik lumatan-lumatan yang kuberikan aku tersenyum puas menyadarinya begitu menikmati ciuman kami.
Beberapa saat kemudian kurasakan pukulan-pukulan kecil di bahuku. Aku menangkap sinyal darinya dengan baik. Ku jauhkan wajahku darinya, mengakhiri sesi ciuman kami. Aku bertekat sepenuh hati tidak akan menyakitinya lagi dan membuatnya menitikkan air mata. Ku jilat salivayang menetes di sudut bibirnya. Napasnya terengah-engah akibat French kiss tadi. Bibir plumnya yang sedikit bengkak terbuka kecil, kedua mata mata sayunya belum terbuka secara sempurna. Ah, neomu neomu kyeopta!
"Once again, chagiya?" tanyaku.
"Shireo, enough. Wonnie-ah~" rengeknya manja –lagi-
Aku tahu setelah ini Donghae chagi akan meminta sesuatu lagi dariku. Kuharap bukan hal yang merepotkan. Tapi perasaan tidak enak menghampiriku.
"Ne, chagiya." Aku menunggu permintaannya dengan was-was.
"Aku lapar, belikan bebek panggang dan jajangmyeon." Pintanya masih dengan sikap manja ditambah fishy puppy eyes andalannya yang sulit sekali untuk ku tolak, curang sekali dia menggunakan jurus itu. Kekhawatiranku menjadi kenyataan. Dia meminta yang aneh-aneh. Tidak mungkin kan aku menyuruh Mi Sun ahjumma yang tengah beristirahat untuk membuatnya.
"Tapi ini sudah lewat tengah malam, chagiya. Besok saja, ne? Mi Sun ahjumma sudah tidur." bujukku.
"Aniyo, aku mau sekarang. Aku tidak menyuruhmu membangunkannya. Beli di luar, Siwonnie. Kuberi waktu 30 menit."
"Besok saja, ne? Aku berjanji besok akan segera membelikannya, chagiya."
"Ini keinginan uri aegya, Wonnie-ya. Siwonnie sudah tidak menyayangi kami bertiga?" dipasangnya wajah sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja aku sangat amat menyayangi kalian, chagiya. Aku sangat lelah." Tuturku lembut dan penuh kesabaran.
"Kau bilang sudah tidak lelah karena aku adalah obat lelahmu. Bilang saja kalau tidak mau. Aku menelpon Chullie eomma saja." Donghae chagi beranjak hendak meraih iPhone nya yang tergeletak di meja nakas sampingnya.
Haaah, inilah yang aku tidak suka dari kebiasaan ngidam nae chagiya, meminta yang aneh-aneh tak kenal waktu dan harus dituruti. Dan curangnya lagi dia selalu mengatasnamakan aegya di dalam rahimnya. Mendengar nama eommaku disebut bulu kudukku merinding seketika. Omona, licik sekali mau mengadu pada eomma. Aku tidak mau mati muda di tangan eomma ku yang super cerewet dan galak itu. Apalagi aegyaku belum lahir dan menyia-nyiakan malaikat cantik di hadapanku ini. Andwaeyo!
"Ne, chagiya, aku akan pergi membelinya." Kugenggam pergelangan tangannya sebelum ia berhasil menghubungi eomma.
"Jinjja? kyaaa~ saranghaeyo Siwonnie." Teriaknya riang seraya memelukku sebentar.
Cuuup~
Dikecupnya bibirku sekilas.
"Cha! Pergilah sekarang." Didorong-dorongnya tubuhku agar turun dari ranjang.
Huuufh… bersabarlah Choi Siwon, lakukan demi aegya dan istrimu.
Kusambar jaket dan kunci mobil kemudian melangkah keluar daari kamar.
"Be careful, Wonnie-ya!" teriaknya sebelum ku tutup pinta kamar kami.
"Ne!" balasku dengan menekan sepenuhnya emosi dan rasa lelah.
*two hours later*
Huuufh… setelah berkeliling kota Seoul akhirnya aku mendapatkan pesanan Donghae chagi. Segera kulangkahkan kakiku ke kamar kami di lantai dua. Kubuka kenop pintu eboni dengan ukiran rumit bergaya Eropa. Kedua mata ku mendapati sebuah gundukan di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher. Haaah, tertidur ternyata. Aku duduk di sisi ranjang.
"Chagiya, ayo bangun. Aku sudah membawakan bebek panggang dan jajangmyeon." Ku elus pipinya lembut berusaha membangunkannya.
"Eungh." Donghae chagi melenguh dan menggeliat di balik selimutnya. Perlahan dibukanya kelopak matanya sehingga menampilkan manic caramel polosnya.
"Kau sudah kembali?" tanyanya masih sedikit mengerjapkan matanya.
"Ne, aku sudah mendapatkan apa yang kau mau. Ayo dimakan dulu."
"Tidak mau."
"Eh?" alisku terangkat bingung.
"Kau terlalu lama, Wonnie-ah, aku sudah tidak lapar. Aku ingin tidur jangan ganggu aku." Donghae chagi kembali memejamkan matanya dan menarik selimutnya hingga batas hidung.
Aku yang melihat tingkah plin-plan nya hanya be-sweetdrop ria. Kyaaaa~ menyebalkan sekali! Sabar Choi Siwon, ini adalah ujianmu sebagai seorang daddy dan suami yang baik. Kuelus dadaku dan mengumpulkan kesabaran sebanyak-banyaknya. Jerih payahku sia-sia. Padahal di jalanan tadi sudah beberapa kali aku hampir meregang nyawa. How poor you are, Choi Siwon..
-Siwon POV ends-
.
.
.
*four months later*
"Aarrrgghhh! APPOOO…..!" teriak seorang yeoja yang tengah berbaring di ranjang ruang operasi salah satu rumah sakit ternama di Seoul. Peluh bercucuran di wajahnya, kedua tangannya mencengkram erat seprei putih yang sekarang tampak sangat kusut dan acak-acakan, bibir merah marunnya kini berubah menjadi putih pucat.
"Tahan, chagiya, kau pasti bisa!" seorang namja yang berada di sampingnya –mengenakan baju biru dan tutup kepala biru ala kegiatan operasi- memberikan semangat pada sang yeoja yang tak lain adalah istrinya yang tengah menjalankan proses melahirkan. Diusapnya peluh di kening sang istri dan menggenggam tangannya yang disambut dengan cengkram erat dari sang istri.
"Ayo terus dorong Nyonya Choi. Hampir. Sedikit lagi." Seorang dokter yeoja ber-name tag 'Song' memberi panduan.
"Aaaaaaa…..! Siwooonniiiieehhhh!" suara yeoja itu naik hingga 8 oktaf. Kini tangannya yang tidak mencengkram tangan suaminya itu beralih menjambak rambut cepak sang suami. Ya, yeoja yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan buah hatinya ke dunia tersebut adalah Lee Donghae, istri sekaligus ibu dari anak-anak Choi Siwon.
Siwon pun merintih kesakitan saat rambutnya dijambak oleh Donghae dan tak lupa tangannya juga terdapat luka bekas cakaran yang tak lain Donghae lah pelakunya. Tapi Siwon sangat memakluminya. Rasa sakit yang Donghae rasakan ribuan kali lebih sakit daripada dirinya.
"Aku di sini, chagiya. Ayo, chagiya! Berjuanglah!" seru Siwon menyemangati Donghae.
"Aaaaaah…!"
"Oeeek oeeek!"
Seiring dengan teriakan Donghae, hadir pula tangis seorang bayi yang sangat kencang. Bayi laki-laki.
Eits, tunggu dulu. Baru satu bayi yang lahir, bukan kah janin yang dikandung Donghae kembar? Berarti masih ada satu lagi.
"Dorong lagi, Nyonya Choi. Lebih kuat." Seru dokter Song yang membantu proses kelahiran kedua anak Siwon-Donghae sekaligus merangkap menjadi dokter yang merawat dan mengawasi janin dalam rahim Donghae selama hamil.
"Sekali lagi, chagiya. Ayo, kau pasti bisa!" Siwon tak henti-hentinya memberi kekuatan tambahan pada Donghae.
Donghae mengerahkan seluruh tenaganya, mendorong janin yang masih ada di dalam rahimnya.
"AAAaaaaa!" teriak Donghae lebih keras.
"Oeeek oeeek oeeek!" tangisan kedua terdengar sangat kencang, tak kalah kencang dari tangisan bayi pertama. Bayi yeoja.
Donghae tergeletak lemah di ranjangnya dengan napas yang memburu dan penuh bercucuran di wajah serta tubuhnya.
"Kau hebat, chagiya, daebbak!" Siwon mengusap lembut peluh di wajah Donghae dan mengecup keningnya penuh sayang. Dia sangat kagum pada kegigihan Donghae.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Choi, bayi anda kembar namja dan yeoja." Dokter Song dan seorang perawat menggendong bayi yang tak lain adalah aegya Siwon-Donghae.
"Chagiya, uri aegya begitu manis." Ujar Siwon saat melihat kedua bayinya.
Donghae yang masih sangat lemah setelah melahirkan menatap penuh haru pada kedua buah hatinya dengan Siwon.
"Bolehkah aku memeluk mereka, dokter?" pinta Donghae.
"Tentu, Nyonya Choi, dekapan hangat dari sang eomma sangat dibutuhkan bayi."
Dokter Song dan perawat itu meletakkan kedua bayi tersebut di samping kanan-kiri Donghae. Donghae langsung saja mengeratkan dekapannya pada kedua aegyanya. Menyalurkan kasih sayang yang tiada kira dan abadi sepanjang masa pada buah hatinya.
"Welcome, chagiya. Ini mommy. Saranghaeyo." Donghae menitikkan air mata bahagianya.
"Hi, baby, ini daddy kalian yang tampan." Ucap Siwon narsis yang membuahkan kekehan kecil dari Donghae.
"Mereka sangat menggemaskan dan juga manis sepertimu, chagiya." Imbuh Siwon.
"Tentu saja mereka kan aegya ku, dan aegyamu tentunya." Donghae tersenyum tipis.
"Daddy dan mommy sudah menanti kehadiran kalian. Daddy sangat menyayangi kalian. Jeongmal saranghamnida." Siwon mengecup pipi –sedikit- chubby kedua aegyanya bergantian.
"Maaf, Tuan dan Nyonya Choi, kami akan membawa mereka ke ruang incubator terlebih dahulu." Dokter Song menginterupsi suasana haru yang melanda keluarga kecil tersebut.
"On, ne, kami titipkan kedua malaikat kami, dokter. Tolong rawat dengan baik."
"Tentu, Tuan Choi, kami akan memberikan yang terbaik." Balas dokter Song yang beranjak mengambil kedua bayi itu dibantu dengan perawat tadi.
"See you, baby." Ucap Donghae.
-outside of operation room-
Terlihat seorang yeoja –Heechul- dua orang namja –Hangeng dan Kibum- yang tengah duduk gelisah di luar ruang tunggu operasi. Doa tak henti-hentinya mereka panjatkan agar orang yang mereka sayangi dan cintai –Donghae- dapat melalui proses melahirkan dengan selamat serta dua malaikat kecil yang akan segera datang ke dunia ini sehat. Hangeng tampak menggenggam tangan istrinya –Heechul- dengan erat guna mengurangi kegelisahan dan kekhawatiran yang melandanya serta satu tangannya merangkul bahu Heechul, sedangkan Kibum yang duduk di samping Hangeng –Hangeng duduk diantara Kebum dan Heechul- pun tampak tak tenang tapi masih bisa ia control dengan baik, diremasnya kedua tangannya guna mengurangi kecemasannya.
Jangan ditanya mengapa actor seseibuk Kibum dengan sejuta aktivitas masih menyempatkan diri hadir menunggui Donghae melahirkan. Tentu saja karena dia tidak akan tega membiarkan Donghae, yeoja yang sangat ia cintai, berjuang meregang nyawa sendiri di ruang operasi –meskipun ada Siwon di dalam. Toh dia tidak akan bisa focus menjalani aktivitasnya karena begitu mengkhawatirkan Donghae.
"Yeobo, mengapa operasinya lama sekali? Aku sangat khawatir." Heechul meremas tangan Hangeng yang menggenggamnya.
"Tenangkan dirimu, yeobo, uri Donghae adalah yeoja yang kuat." Hangeng berusaha menenangkan Heechul walaupun tak ia pungkiri ia pun dilanda badai kekhawatiran.
Kibum pun tak lelah melantunkan doa untuk yeoja yang sangat ia cintai dan terus berpikir positif. Dia pun tak kalah tegangnya dengan kedua mertua Donghae yang ada di sampingnya.
"Hangeng ahjusshi benar, ahjumma, Donghae noona adalah yeoja yang kuat. Ia pasti mampu melalui semua ini." Kibum ikut angkat bicara menguatkan Heechul dan juga dirinya sendiri.
"Ne, kalian benar." Heechul mengamini perkataan Hangeng dan Kibum.
"Heechullie!" seru seorang yeoja paruh baya yang berjalan sangat cepat –hampir berlari- dengan seorang namja paruh baya yang -berbadan tegap- berjalan tergopoh-gopoh di belakang istrinya itu.
"Teukie!" Heechul bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Leeteuk yang berada beberapa langkah di depannya.
"Bagaimana keadaan Donghae?" pertanyaan Leeteuk sarat akan kekhawatiran yang tergambar dari nada suaranya.
"Oeeek oeeek!"
Belum sempat Heechul menjawab, suara tangis bayi terdengar dari dalam ruang operasi. Sontak kelima orang itu terbelalak. Rasa lega menyusup relung hati mereka.
"Cucuku!" seru HanChul dan KangTeuk bersamaan.
"Tunggu, bukankah masih ada satu lagi?" Kibum buka suara.
"Kau benar, Kibum-ah." Ujar Kangin membenarkan.
Suasana tegang kembali menyelimuti mereka.
1 detik
.
.
30 detik
.
.
2 menit
.
.
5 menit
.
.
10 menit
.
.
"Oeeek oeeek oeeek!"
"Dua!" seru mereka berlima bersamaan.
Heechul dan Leeteuk berpelukan seraya melompat-lompat kecil. Mereka lupa usia mereka berapa, eoh?
Kibum mengembangkan senyumnya. 'Chukkae, noona, kau benar-benar hebat.' Katanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian keluar seorang dokter dan empat orang perawat dari ruang operasi seraya membawa dua bayi di dalam tabung incubator.
"Dokter, bagaimana keadaan putri dan cucuku?" tanya Kangin menghentikan langkah sang dokter namun keempat perawat yang membawa dua bayi it uterus melangkah.
"Nyonya Choi menjalani proses melahirkan dengan baik dan sekarang sedang beristirahat, tuan, dan akan segera dipindahkan di ruang perawatan. Selamat cucu anda laki-laki dan perempuan. Keduanya sehat." Jelas dokter Song.
"Jinjja? gamsahamnida dokter." Seru Heechul dan Leeteuk senang.
"Ne, cheonma. Saya permisi dulu." Dokter Song menundukkan kelapa sejenak sebelum undur diri.
HanChul, KangTeuk dan Kibum memandangi dua bayi dalam tabung incubator yang menjauhi mereka seraya tersenyum.
.
.
.
Donghae sudah beradadi ruang perawatan, walaupun sudah sadar namun kondisinya masih sangat lemah pasca melahirkan dengan proses normal. Kini di sekelilingnya telah hadir sang suami –S iwon, kedua orang tuanya –KangTeuk, kedua mertuanya –HanChul- dan juga namdongsaeng yang sangat ia sayangi –Kibum. Siwon terus berada di samping Donghae, menggenggam tanagnnya –yang tidak diinfus- dengan erat.
"Wonnie-ah, uri ingin melihat uri aegya." Pinta Donghae.
"Sebentar lagi, chagiya, mereka sedang dirawat di ruang incubator." Balas Siwon berusaha memberi pengertian pada Donghae.
"Tapi aku sudah tidak sabar ingin memeluk mereka. Bawa mereka kemari." Rengek Donghae lagi.
"Bersabarlah, chagiya, kau bisa memeluk mereka sepuasmu nanti." Kali ini Leeteuk yang angkat bicara seraya membelai surai coklat halus putri semata wayangnya, sementara Donghae hanya menggembungkan kedua pipinya seraya mem-pouy-kan bibir mungilnya.
"Bummie-ah, gomawo sudah meluangkan waktu." Donghae tersenyum ke arah Kibum yang berdiri di samping Kangin –Kangin di sebelah Leeteuk.
"Cheonma, noona, aku tidak ingin melewatkan moment menemani dua keponakan ku lahir ke dunia." Kibum mengumbar killer smile nya.
Kibum terus mengenakan topengnya di hadapan Donghae dan semua orang, berakting tidak menunjukkan apa yang ia rasakan sesungguhnya. Kibum tahu dan paham bahwa dia salah. Mencintai yeoja yang sudah resmi menjadi milik orang lain, yeoja yang sudah bersuami bahkan sekarang sudah menjadi seorang ibu.
"Apa kau dari tempat syuting, eoh?" tanya Donghae seraya terkekeh pelan.
"Aniyo, noona, aku sudah mendapatkan izin dari sutradara Jung dan manager hyung." Jawab Kibum.
'Tok tok tok'
Suara ketukkan di pintu ruang rawat Donghae mengalihkan perhatian ketujuh orang tersebut kea rah sumber suara. Pintu bercat putih itupun terbuka dan nampaklah seorang namja bermata sipit dan yeoja bertubuh mungil.
"Annyeonghaseyo." Suara tenor seorang yeoja memecah keheningan sesaat itu.
"Yesung hyung, Ryeowook-ah." Siwon menyambut kedatangan namja dan yeoja tadi yang tak lain adalah Yesung dan Ryeowook.
Yesung dan Ryeowook berjalan menghampiri Donghae, tak lupa member salam pada HanChul dan KangTeuk.
"Oh, Kibum-ah juga ada di sini?" tanya Yesung.
"Ne, hyung."
"Eonnie, chukkae! Eonnie sudah menjadi seorang ibu." Ucap Ryeowook antusias.
"Ne, Wookie-ah, gomawo." Donghae tersenyum tulus.
"Hyung, di mana si evil dan Sungmin noona?" tanya Siwon heran saat tidak menemukan pasangan unik itu.
"Mollaseo," jawab Yesung seraya menggidikkan bahunya. "Dia tidak bilang akan berangkat bersama kami," lanjutnya. Siwon hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Chukkae, Siwon-ah, kau resmi menjadi appa."
"Gomawo, hyung. Segeralah menyusul kami."
"Tentu." Balas Yesung.
"Oh iya, eonnie, aku tidak sabar ingin segara melihat keponakanku. Di mana dia?" tanya Ryeowook antusias.
"Bukan dia, Wook-ah, tapi mereka." Ujar Siwon mengoreksi, senyum misterius mengembang di bibir jokernya. Sementara Yesung dan Ryeowook mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti akan perkataan Siwon.
Belum sempat mereka berdua menanyakan apa maksud Siwon, pintu terbuka dan muncullah dokter Song dan dua perawat yang mendorong kereta tabung incubator.
"Selamat malam tuan-tuan dan nyonya-nyonya." Sapa dokter Song.
"Malam, dok."
"Nyonya Choi, bagaimana keadaan anda?"
"Sudah lebih baik, doker." Donghae tersenyum tipis.
"Anda pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putra dan putri anda yang lucu-lucu."
"Ne, dokter."
Seorang perawat memberikan bayi berjenis kelamin perempuan kepada Donghae dan bayi yang berjenis kelamin perempuan kepada Siwon.
"Kalau begitu, kami permisi dulu." Pamit dokter Song kemudian pergi bersama kedua perawat tersebut.
"Eonnie, ja-jadi ka-kau melahirkan aegya kembar?" tanya Ryeowook yang masih membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Euhm." Donghae hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum senang.
"Annyeonghaseyo semuanya." Seorang yeoja bergigi kelinci membuka pintu dan mendekati ranjang Donghae lalu diikuti seorang namja tinggi bersurai ikal coklat.
"Apa kabar, ahjumma, ahjusshi?" yeoja itu membungkuk sopan pada HanChul dan KangTeuk, diikuti pula oleh namja itu.
"Kalian dari mana saja?" tanya Yesung pada dua orang yang baru datang tersebut.
"Salahkan Kyu yang tidak bisa menyetir dengan benar, oppa." Jawab yeoja yang bernama Sungmin itu.
"Bukan aku yang salah, Minnie noona, namja itu yang menabrakku." Bela namja bersurai ikal coklat itu yang tak lain adalah Kyuhyun.
"Tetap saja kau tidak berhati-hati, Kyuhyun-ah." Ujar Sungmin kekeh pada pendiriannya.
"Sudahlah. Apa kalian berdua datang kemari untuk bertengkar, eoh?" lerai Siwon.
"Donghae-ah, aegya kalian kembar?" tanya Sungmin yang baru saja menyadari Donghae dan Siwon menggondong masing-masing satu bayi.
"Ne, eonnie." Donghae tersenyum lebar, rona bahagia tidak dapat ia sembunyikan.
"Wah, chukkae, Hae-ya." seru Sungmin riang.
"Siwon hyung, kau benar-benar hebat." Ucap Kyuhyun.
"Tentu saja." Tanggap Siwon sombong.
"Kyaaa~ neomu kyeopta." Sungmin menusuk-nusuk pipi bayi yang ada di dalam dekapan Donghae.
"Kalian ingin memberi nama mereka siapa, chagiya?" tanya Heechul.
"Apa kalian sudah menemukan nama yang cocok?" Hangeng ikut mengajukan pertanyaan.
"Apa perlu saran dari kami?" tanya Kangin.
"Sudah, appa, eomma." Jawab Donghae. "Iya kan, Siwonnie?" Donghae menoleh kepada Siwon.
"Ne, benar."
"Siapa?" tanya MinWook serempak.
"Jagoan ini bernama Choi Wonhae." Ucap Siwon seraya mengangkat sedikit aegya dalam dendongannya.
"Dan putri cantik ini bernama Choi Sihae." Ujar Donghae seraya mencium pipi aegya yang berada dalam dekapannya.
.
.
.
T~B~C
or
E~N~D
.
.
.
Zona cuap-cuap author :
Annyeong chingudeul…
Eotteohkae?
Apakah ff ini semakin membosankan?
Sepertinya aku sudah bosen dengan ff ini.. hehehe *nyengir nista*
Adakah yang masih menunggu kelanjutan ff ini?
Nasib ff ini aku serahkan di tangan readers.. TBC ato END kah?
Kedua ff ku beberapa waktu lalu dihapus sama admin ffn, jadi untuk mengantisipasi jika ff ini dihapus lagi, aku juga update di fb. Username nya Kim Eun Byeol. Jika ada yang ingin menjadi temanku atau sekedar mengunjungi fb ku, silahkan…
Aku terharu banget saat membaca reviews di chap2 sebelumnya sebelum dihapus. Ternyata respon reader positif banget. Bahkan ada yang membaca di angkot pula.
Wah, jeongmal gamsahamnida reader-deul.. *deepest bow*
Special thanks to :
| dewi | DS | audrey musaena | Key shirui Alegra tiqa | cho kyunniee | Rizki | Epilovekyuminelfsuju |
Mind to REVIEW? *puppy eyes mode on*
