Vocaloid © Yamaha, Crypton

Genre : Romance/Drama

Rated : T

Celebrity Love © Kuro 'Kumi' Mikan || Kuro

Summary : Kagamine Rin seorang artis yang tengah naik daun digossipkan oleh seorang artis yang juga sedang naik daun, bagaimana kelanjutan nya? Mind to RnR?


"Tunggu!"

Piko langsung menengadahkan kepalanya dan melihat si pemilik suara. Seorang pemuda berambut hitam dengan beberapa helai rambut berwarna merah, dengan bola mata berwarna merah darah.

"Hmm? Apa?" Tanya Piko.

"Dimana Ruko?" Tanya balik orang itu.

"Entahlah. Kau siapa nya?"

"Aku teman dekat nya."

"Ohh, tunggulah di apartement nya."

"Apa kau tahu dimana apartement nya?"

"Collubs Apartement, kamar 202."

"Thanks." Orang itu segera pergi dari hadapan Piko.

Saat Piko masuk ke dalam mobilnya Miki langsung bertanya, "Siapa orang tadi?" Tanya nya.

"Ohh, dia teman Ruko." Jawab Piko singkat.

"Ku kira pacar mu." Balas Miki enteng.

"APA? KAU KIRA AKU INI PUNYA KELAINAN PERASAAN?" Teriak Piko langsung.

"Haha, begitulah Pi-kun."

"Cih kenapa aku berjodoh dengan orang seperti mu?"

"Entahlah tanyakan pada Tuhan." Jawab Miki sambil menjulurkan lidahnya.

Piko tak mau ambil kata lagi untuk membalas perkataan wanita yang disukainya, eh atau mungkin dicintai nya? Hubungan mereka sangat rumit, dikatakan berpacaran? Tidak. Dikatakan teman? Tidak. Layaknya lagu Duo Ra*u dulu yang sekarang sudah bubar adalah 'TTM' atau 'Teman Tapi Mesra'. Kenapa? Dikarenakan perasaan Miki yang sulit ditebak oleh Piko dan tidak diketahui siapa pun. Walau Piko sudah menyatakan perasaan nya pada Miki, ia tetap biasa-biasa saja pada Piko, walau sama sekali tak menjawab 'iya' ataupun 'tidak'.

Mobil yang ditumpangi mereka berduapun langsung tancap gas menuju apartement Piko dan juga Miki. Sebenarnya itu adalah apartement Piko yang jarang sekali ia tempati, maka dari itu Miki sebagai orang yang paling dekat dengan Piko mengurus apartement nya dan tinggal disana atas permintaan Piko.


New York, 26/4 11.30 PM

"Ngg..Huaamm.." Rin mengucek-ngucek mata nya. Sepertinya ia terbangun.

"Eh? Jam berapa ini?" ia segera melihat ke arah jam meja yang terletak di meja tepat disamping tempat tidur.

"Eh? Jam setengah dua belas? Masih malam. Mungkin aku minum dulu setelah itu kembali tidur." Gumam nya.

Rin turun dari tempat tidur nya. Meninggalkan Len yang masih terlelap disana. Rin segera berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas dan mengisi nya dengan air. Namun saat Rin sedang berjalan ia melihat sebuah bayangan hitam yang lewat dengan sangat cepat tepat di depan nya. Ia segera mengucek-ngucek kembali mata nya.

"Eh? Apa aku tak salah lihat?" Gumamnya pelan.

"Tidak, kau tak salah lihat." Bisik seseorang di belakang Rin. Seketika tubuhnya menegang.

"S-siapa k-kau?" Tanya Rin tergagap.

"Kau tak perlu tahu siapa aku." Jawab orang itu dengan suara bisikan yang teramat kecil namun tetap terdengar oleh pendengaran Rin.

Rin menghitung mundur dalam hatinya berniat untuk kabur dan membangunkan Len.

'3….2….1'

Dengan segera Rin berlari namun apa daya bahwa orang itu sudah lebih cepat mencengkram Rin dengan sangat kuat.

"Dasar artis bodoh!" Ejek orang itu.

"Kau lebih bodoh." Balas Rin yang kemudian menyikut perut orang itu dengan kekuatan penuh yang dimiliki nya. Setelah berhasil lolos ia segera berlari ke kamar dan membangunkan Len. Tak lupa ia mengunci pintu nya terlebih dahulu.

"L-Len! Bangun!" Rin mengguncang-guncangkan tubuh Len yang masih tenang terlelap.

"Ngg? Ada apa Rin?" Tanya Len yang mulai sadar.

"Ada orang jahat di kamar hotel ini! Cepat lah bangun!" Jawab Rin yang sudah sangat ketakutan.

"Eh? Siapa?" Len segera bangkit dan mulai merengkuh Rin.

"E-entahlah aku tak melihat jelas wajah nya. Yang jelas ia sangat menakutkan!"

"Diamlah disini, aku akan menelpon seseorang." Takdir berkata lain. Len tak tahu siapa yang harus di telponnya di Amerika. Secerca ide kecil terlintas jelas dalam kepalanya. 'Kasane Ted!' Batin nya.

"Rin kau menyimpan kartu nama Kasane Ted?" Tanya Len.

"Ahh iya. Ini." Rin segera memberikan kartu nama Kasane Ted yang sempat diberikan sebelum mereka benar-benar pulang.

Len segera menekan beberapa tombol ponsel nya berniat untuk meminta bantuan pada Kasane Ted sang manager restoran Sweet Japanese.

"Halo?" Sapa orang di seberang sana.

"Halo apa anda Kasane Ted?"

"Iya ini saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"

"Maaf Kasane-san, ini aku Kagami Len ingin meminta bantuan mu untuk segera menuju ke Hotel Green Garden kamar 022? Aku sangat membutuhkan bantuan mu, disini ada orang jahat yang mengincar nyawa ku."

"Ah, baiklah aku akan segera kesana. Tunggu aku!" Terdengar dengan sangat jelas bahwa Kasane Ted bergegas menuju hotel yang ditempati oleh Len dan Rin. Sambungan telepon segera diputus.

Rin maupun Len hanya menunggu dengan harap-harap cemas agar bantuan segera datang. Tak beberapa lama kemudia terdengar pintu kamar hotel dibuka paksa. Lalu terdengar suara seseorang.

"Siapa kau?" Tanya salah seorang yang ada dalam ruang tengah kamar hotel itu. Rin maupun Len dapat mendengar suara jelas orang itu yang menggelegar di seluruh ruangan.

"Aku Kasane Ted." Jawab yang satunya lagi yang diketahui bernama Kasane Ted itu. Len dan Rin sedikit tenang dikarenakan orang yang diharapkan segera datang dengan waktu yang cukup cepat.

"Apa mau mu?" Tanya orang tadi.

"Mau ku? Cukup mudah. Keluar dari kamar ini dan jangan ganggu orang mereka lagi." Jawab Ted enteng.

"Cih! Kau siapanya?" Tanya orang itu lagi.

"Aku teman mereka. Kau tak usah banyak tanya!" Jawab Ted yang mulai merasa gerah dengan orang itu.

"Hmm, sok jagoan ya? Terima ini!" Orang itu segera meninju perut Ted. Namun dengan gerakan cepat, pukulan orang itu dapat diatasi oleh Ted. Dengan cepat ia membalas nya dengan tendangan kaki yang mengarah pada orang tersebut.

BUGH!

Orang itu terhempas jatuh ke lantai kamar hotel. Namun bagai mayat hidup, orang itu bangkit kembali. Rambut hitamnya bersinar dengan sinar rembulan yang masuk melalui celah-celah kaca jendela yang tidak tertutup tirai. Walau hanya sedikit, terlihat dari potongan rambut ia merupakan wanita. Matanya yang bercahaya walau sebagian tertutup topi besar nya. Merah dan biru, sungguh orang yang aneh. Memiliki bola mata dengan warna yang berbeda satu sama lain. Namun itulah dia, seorang wanita yang menyerang lawan nya dikala malam tiba menjelang hari esok.

"Hai Ruko, lama tak bertemu." Sapa Ted pada orang itu yang bernama Ruko. Sembari membetulkan kacamata nya Ted berusaha untuk tetap bersiaga dalam menghadapi musuhnya yang satu ini.

"Hmm? Ted ternyata kau masih mengenali ku. Bukan kah 'kejadian itu' membuat mu melupakan diri ku?" Balas Ruko sembari mengambil ancang-ancang untuk menyerang Ted lagi.

"Mungkin? Mungkin tidak. Aku hampir tak mengenali mu dengan penerangan seperti ini dan penampilan mu yang seperti itu. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, walau kelam." Ucap Ted sembari menahan serangan Ruko yang terus menerus membabi buta.

"Lebih bagus kalau kau tak mengenali ku!" Ucap Ruko yang terus menerus menyerang Ted. Pengelihatannya sedikit buram tertutupi air mata yang hendak keluar dari celah yang terdapat pada mata biru dan merah nya.

"Siapa peduli? Kau menyakiti Teto dan aku melupakan mu begitu saja? Tidak akan! Dan sekarang kau akan menyakiti Rin dan Len? Tak akan ku biarkan! Apa mau mu yang sebenar nya Ruko?" Teriak Ted memecah keheningan dan ketenangan malam di kamar itu.

'Apa yang terjadi pada mereka?' Batin Rin dan Len. Mereka tetap berusaha tenang dan menunggu hingga keadaan aman.

"Apa mau ku? Aku adalah seorang bawahan tak berdaya yang harus mematuhi segala perintah dari bos ku! Kau tahu seberapa tersiksanya aku melakukan ini semua?" Teriak Ruko dengan air mata yang terus menerus keluar dengan deras dari matanya. Namun air mata bukanlah halangan bagi Ruko untuk terus menerjang musuh nya dengan segala cara. Justru dengan air mata yang terus keluar membuat emosi nya semakin tak terbendung lagi.

"Aku tahu kau bukanlah orang yang dapat di perbudak dengan cara yang gampang. Tapi kenapa? Kau tak pernah mengatakan semua itu pada kami semua! Kami! Teman-teman mu!" Balas Ted yang terus menangkis dan menghidar dari serangan Ruko. Ia tak mau menyakiti mantan teman nya itu.

"Maaf…maaf…MAAF!" Ruko berhenti untuk memberi serangan pada Ted. Ia menangis sejadi-jadi nya.

"Kenapa? Ruko, kau ingat kan? Kau ingat? KAU SANGAT-SANGAT INGAT!" Ted mengguncang-guncangkan bahu Ruko yang kini sudah terduduk lemas di lantai.

"Aku tak ingat. Maaf, aku tak ingat. Maaf. Dan…."

SREK!

"SAMPAIKAN SALAM KU PADA TUHAN!"

Tes tes, merah. Sama seperti warna mata Ruko. Merah. Cair.

"Maaf aku telat!" Ucap seseorang dengan memegang sebuah kantong yang bercucuran sesuatu yang cair.

"Ka-kau?"

"Hai Ruko! Masih ingat aku? Tidak? Keterlaluan!" Ucap orang itu pada Ruko.

"Te-Teto!" Gumam Ruko.

"Ah~ ternyata kau masih ingat setelah menyakiti ku ya?"

"Eh Teto?" Gumam Rin.

"Kau tahu?" Tanya Len yang mendengar suara gumam Rin.

"Dia sahabat ku." Jawab Rin yang segera berlari dan membuka pintu. Matanya terbelalak melihat aliran cairan berwarna merah di dekat sahabatnya itu.

"TETO!" Rin segera memeluk sahabat magenta nya itu.

"Hai Rin!" Teto membalas pelukan Rin.

"Hmm, Ruko sepertinya kau skak mat disini." Ted segera memborgol kedua tangan Ruko dan membawa nya keluar. Namun sebelum keluar, Len menyampaikan terima kasih yang sebesar-besar nya pada Ted, "Terima kasih Kasane-san." Ucap nya.

"Sama-sama, oh dan panggil aku Ted saja." Balas Ted kemudian berjalan keluar sembari membawa Ruko yang tangannya terborgol.

"Nah Rin aku kembali dulu ya. Maaf lantai nya jadi kotor dengan darah buatan ini. Jaa nee~" Teto segera keluar dari sana dan mengejar Ted yang sudah mendahului nya.

"Untunglah semua ini sudah selesai." Len segera menarik Rin dalam rangkulan nya. "Ya, kau benar Rin, semua ini sudah selesai. Sekarang waktunya kita beristirahat kembali."

Mereka kembali masuk ke kamar tidur dan mulai terlelap setelah kejadian menegangkan beberapa waktu yang lalu.

~TBC~


Author Kuro : 1 minggu berlalu dan daku kembali dengan lesu nya..==

Okeh, dari pada ribet" aku mau langsung bales ripiu..

Victorique Utau Hanna Sanamori : maap kalo pendek..daku memang author yang ga becus soal pembagian chap..==..Zatsune Miku ku ambil dari dark side nya Hatsune Miku..thx udah mampir baca~

Fumika Mika : Piko gitu loh~ wokaoka..entah apa yang ada di dalam otak ku..yang jelas smua itu terlintas lewat perantara jari-jemari ku sebagai tukang ketik..padahal aku ga pernah ngerancanain bakal kea gini..tp yang penting cerita lanjut dan ini apdetannya..^^..

Chiao-chan Kumikawa : wew..awalan yang mengesan kan..XD di awali dengan karokeannya Chiao-chan dulu..

Oke seperti biasa Chiao-chan dlu yang dibales..

Wah makasih..perkembangan apa yak? *plak* wakoakka..hanya daku yang tahu itu..nyahahaha #digoreng..Yap begitulah..sepertinya Chiao-chan sudah tau..jadi ga bingung lagi kan? Neru? Hmm..ga bisa dijawab skarang..rahasia perusahaan..woakoak..wah kalo menu itu jadi dibuat jangan lupa bagi" aku yahh..XD

Selanjutnya dan selalu terakhir dibales pastinya Chi-chan.. wah makasih banget udah ngoreksi chap ini..

Salam cinta muach muach~

Author Kuro : Wah..keanya saya menjadi semangat melihat ripiu" dan masukan dari para readers..mungkin ada yg silent readers tp gpp..aku cukup seneng kalian bisa puas dengan hasil kerja ku..dan yang terakhir pastinya..

~REVIEW~