Disclaimer: Inuyasha adalah hak milik Rumiko Takahashi
Chapter 10.
...
Sudah hampir dua minggu lamanya Inuyasha dan Kagome menghindari satu sama lain. Hari itu, Inuyasha mencoba menemui gadis itu sepulang sekolah untuk berbicara kepadanya, tetapi Kagome hanya menolaknya sopan dan bilang ia diminta ibunya untuk buru-buru pulang.
Hari itu, Kagome dan Sango berjalan pulang bersama, dan di sepanjang jalan, Sango terus membicarakan Miroku. Dua hari lalu, Miroku baru saja menyatakan perasaannya kepada Sango, wajar saja kalau gadis itu masih berbunga-bunga.
"-dan dia mengajakku ke taman bermain itu besok! Aduh, aku ingin pergi tapi.. Hey-hey, Kagome! Kau dengar aku tidak sih?"
Gadis berambut hitam itu menoleh ke temannya. "Eh? Maaf Sango, kau bilang apa tadi?"
"Huh… kau ini…" jawab Sango sambil cemberut, "melamun saja kerjanya dari tadi. Mikirin apa sih? Inuyasha ya?"
Mendengar nama pemuda itu disebut, Kagome langsung tersentak kaget. "E-enak saja! Siapa juga yang mikirin orang itu? Jangan ngelindur ah, Sango!"
Sango menghela nafas panjang. "Kagome, Kagome, kau ini ada masalah apa lagi sih dengan Inuyasha? Sampai perang dingin lagi sama dia begitu?"
"Sudah, sudah. Ngomong-ngomong, tadi kau mau bilang apa?" Ucap Kagome, berusaha untuk mengganti topik pembicaraan mereka.
"Aku bilang, kemarin sore Miroku menelponku, dia mengajakku untuk pergi ke Wonderland Park, kau tahu kan, taman bermain yang baru buka itu tiga bulan lalu itu? Tapi aku malu pergi sendiri… Kau mau kan menemaniku?" Pinta Sango dengan wajah memelas.
Kagome menarik nafas panjang. "Bukannya aku tidak mau Sango, tapi… Bukannya aku bakal menjadi nyamuk ya? Lagian, aku juga tidak enak sama Miroku… Dia hanya mengajakmu, kan?"
"Huh, kau ini. Ya sudah lah, aku ajak Ayame saja. Aku kecewa kepadamu, Kagome!" Sango pura-pura cemberut.
"Eh… bukannya begitu.." Kagome menghela nafas pasrah. "Ya sudah lah, aku akan menemanimu."
Sango langsung tersenyum lebar. "Nah, begitu dong!"
'Maaf ya, Kagome,' Pikir Sango dalam hati dengan perasaan bersalah, 'Aku hanya tidak mau melihatmu uring-uringan karena berkelahi dengan Inuyasha… Kami-sama, semoga Miroku juga berhasil meyakinkan Inuyasha untuk ikut besok..'
.
.
.
"Miroku."
"Yaaa… Inuyasha?"
"Bisa tolong jelaskan lagi padaku kenapa aku harus menemanimu.. berkencan dengan pacarmu?"
Miroku hanya tertawa gugup. "Hehe… karena… kau menyetujuinya?" jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
"Aku hanya menemanimu karena aku kalah taruhan bodoh yang kau dan Koga buat itu!" desis Inuyasha, "Kau ini, masa berkencan harus ditemani sih? Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku akan pergi jauh dari kalian. Aku tidak mau seperti orang bodoh yang menggangu orang pacaran."
"Hai.. Hai… baik, Inuyasha… Ngomong-ngomong, Sango kok lama sekali ya." Ujar Miroku sambil melirik jam tangan di tangan kanannya.
Inuyasha melihat sekeliling dan menangkap sesosok gadis berambut brunet yang sedang berlari kea rah mereka. "Itu dia sudah datang."
"Inuyasha! Miroku! Maaf aku telat, tadi aku ketinggalan bus, jadi harus menunggu bus yang berikutnya datang!" ucap Sango sambil terengah-engah.
Miroku hanya tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Sango. Demi gadis secantik dirimu, berapa lamapun aku bersedia menunggu…"
Pipi Sango langsung bersemu merah. "Kau ini- "
Belum sempat Sango menyelesaikan kalimatnya, Kagome tiba-tiba muncul disebelahnya.
"I-Inuyasha?"
Betapa terkejutnya Inuyasha saat dia melihat gadis berambut hitam itu didepannya. "Kagome?"
"Ah… Maaf, Kagome, sebenarnya aku juga menyuruh Miroku untuk membawa Inuyasha kesini. Kau tidak keberatan kan?" Ujar Sango nervous.
"Aku…." Kagome tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. Sudah dua minggu lamanya dia menghindari Inuyasha, dan sekarang dia harus pergi ke taman bermain bersamanya!
Miroku menepukkan kedua tangannya. "Sudah, karena sekarang kita sudah disini, lebih baik kita main-main saja!"
Inuyasha dan Kagome hanya bisa menerima nasib pasrah.
.
.
.
"Nah, terakhir sebelum taman bermain ini tutup, ayo kita ke Magic Mirror Maze!" Ajak Miroku riang.
Sango terlihat sedikit panik. "Eehh, kau yakin, Miroku? Itu kan katanya berhantu… Banyak orang yang hilang didalamnya loh."
"Ah, aku tidak percaya hantu itu ada." Gerutu Inuyasha.
Kagome menoleh kearah pemuda berambut panjang itu. Seharian itu mereka hampir tidak berbicara pada satu sama lain. Ia lalu menghela nafas panjang. 'Kalau bicarapun… aku tidak tahu harus ngomong apa dengan Inuyasha.' Pikirnya.
Setelah Sango dan Miroku berdebat lima menit lamanya, mereka berempat pun akhirnya berjalan menuju permainan tersebut. Karena tempat bermain itu akan segera tutup, mereka menjadi tamu terakhir permainan Magic Mirror Maze tersebut. Petugas yang menjaga permainan itu menginstruksikan mereka untuk masuk satu-satu dari empat pintu yang berbeda.
"Eeehh, kenapa begitu?" tanya Sango ketakutan.
"Tujuan dari permainan ini adalah untuk menentukan siapa yang paling cepat menemukan pintu keluar.. Karena pintu keluarnya hanya satu. Didalamnya, kalian mungkin akan menemui satu sama lain. Tapi karena design rumah kaca kami yang sedemikian rupa, akan sangat sulit bagi kalian kalau kalian ingin menghampiri teman kalian. Ini supaya tidak ada yang curang." Jelas petugas permainan tersebut.
"Tidak apa-apa, Sango. Ini hanya permainan." Ujar Kagome berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Sango hanya menghela nafas pasrah. "Ya sudah deh."
Merekapun masuk ke pintu mereka masing-masing.
"Wah… pantas saja rumah kaca ini begitu terkenal. Dalamnya luas sekali… Seperti betul-betul sedang di dalam rumah kaca ajaib saja." ucap Kagome terkagum-kagum.
'Mereka sudah menemukan pintu keluar belum ya,' pikirnya, 'Sepertinya sudah lumayan lama aku disini, tapi kok aku tidak menemukan tanda-tanda sudah dekat dengan pintu keluar ya.'
Kemanapun dia berjalan, di ruangan gelap dengan sinar lampu yang redup itu yang dilihatnya hanyalah kaca-kaca besar yang memantulkan bayangannya. Terkadang, beberapa cermin membuatnya terlihat aneh dan seram.
'Tempat ini seram juga ya.' Pikir Kagome mulai ketakutan. Dia lalu teringat pada cerita Ayame, katanya satu bulan yang lalu seorang anak perempuan pernah hilang disini…. Dan gadis itu tidak pernah kembali lagi. Hawa dingin di dalam ruangan itu membuat bulu kuduknya mulai merinding. 'Duh, bagaimana kalau aku tidak bisa keluar dari sini?'
.
.
"Yak! Sepertinya kita sudah menemukan pemenang kita!" Sambut seorang petugas riang saat Inuyasha keluar dari pintu permainan tersebut.
"Keh. Hanya permainan seperti ini saja sih, siapapun juga bisa keluar!" Ucap Inuyasha sombong. Dia sebenarnya hanya berlagak. Diapun mengalami kesusahan untuk mencari pintu keluar, karena jalan di dalam rumah kaca itu semuanya terlihat begitu persis. Ia bahkan sama sekali tidak melihat Kagome, Miroku, ataupun Sango.
Tak lama, Miroku pun muncul dari pintu keluar permainan itu. "Akhirnya aku keluar juga~"
"Lama sekali kau ini, Miroku." Ejek Inuyasha.
"Eh, Inuyasha? Yah, aku kira aku yang pertama keluar.." ucap Miroku lesu.
Inuyasha hanya tertawa. "Terlalu cepat bagimu sepuluh tahun kalau kau pikir kau bisa mendahuluiku, Miroku!"
Beberapa menit kemudian, Sango pun juga muncul dari pintu keluar.
"Kami-sama…. Akhirnya aku bisa keluar! Kukira aku akan stuck di rumah itu selamanya!"
Inuyasha menaikkan sebelah alis matanya. "Kau ini berlebihan, Sango."
"Berarti sekarang tinggal Kagome yang masih ada di dalam sana…" Ucap Miroku.
'Mungkin dia tersesat,' Pikir Inuyasha, 'Semoga Kagome tidak takut gelap..' Meski sedang perang dingin, Inuyasha tetap mengkhawatirkan Kagome.
Melihat rawut wajah Inuyasha yang penuh kecemasan itu, Miroku hanya tersenyum penuh arti. "Kalau kau khawatir pada Kagome, lebih baik kau susul dia ke dalam, Inuyasha."
"Keh! Siapa juga yang mengkhawatirkan Kagome?" jawab Inuyasha cepat.
"Kagome lama sekali ya… Tadi kudengar seorang petugas bilang kalau taman bermain ini sudah mau tutup." Tutur Sango, sengaja keras-keras agar Inuyasha dengar.
Inuyasha menghela nafas panjang. "Huh, ya sudah lah, biar kususul dia ke dalam." Dia pun lalu segera masuk melalui pintu keluar rumah kaca tersebut.
Sepeninggalnya Inuyasha, Miroku mengedipkan sebelah matanya pada pacarnya itu. "Sepertinya rencana kita berhasil, Sango."
Sango hanya tertawa kecil. "Ya, semoga saja kau benar, Miroku!"
"Oh iya, aku punya ide bagus, Sango." Miroku tersenyum licik.
"Eh? Apa itu, Miroku?"
"Kemari.."
Setelah mendengarkan usulan Miroku, Sango tersenyum lebar. "Ide bagus! Wah, kau benar-benar pintar, Miroku!"
Mendengar pujian dari pacarnya itu, Miroku hanya tertawa terkekeh. "Tentu saja!"
"Pak, pak!" Miroku memanggil petugas permainan tersebut.
"Ada apa, nak?" Jawab pria setengah baya yang merupakan petugas dari permainan itu.
"Saya boleh minta tolong? Jadi begini….."
.
.
'Dimana sih, dia,' pikir Inuyasha sambil terus berjalan di rumah kaca itu, 'Masa sudah setengah jam dia belum keluar juga.'
"Kagome! Dimana kau?" Serunya.
Inuyasha terus berjalan menelusuri rumah kaca tersebut, namun sepanjang jalan hanya bayangan dirinya sajalah yang bisa dia lihat. Ia sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba sekelebat bayangan yang familiar tertangkap oleh matanya.
"Kagome!" Panggilnya. Bayangan Kagome tepat berada diseberangnya, namun Inuyasha tidak yakin dimana posisi persis gadis itu.
Mendengar suara Inuyasha, Kagome segera melihat sekelilingnya. "Inuyasha?"
"Kagome! Kau tetap disitu saja ya, aku akan berusaha mencari jalan untuk ketempatmu!" Ucap Inuyasha.
Tiba-tiba, tempat itu menjadi gelap gulita.
"Kyaaaaaa!" jerit Kagome histeris. "Ke-kenapa jadi gelap begini?"
"Sabar, Kagome, aku akan mencarimu!" seru Inuyasha. Ia lalu mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan menggunakannya untuk penerangan.
'Sial, kenapa tiba-tiba lampunya bisa mati?' pikirnya kesal.
"Inuyasha… tolong cepat kesini, a-aku takut, dan tempat ini dingin sekali…" pinta Kagome lemas.
"Tenanglah, Kagome. Aku pasti akan menemukanmu! Kau jangan kemana-mana!" tegas Inuyasha.
Inuyasha mengelilingi tempat itu, berusaha mencari Kagome. Namun dengan penerangan yang seadanya, sangat sulit untuknya melihat jelas arah dan tujuan langkahnya.
"Kagome!" serunya, "Kau masih bisa mendengarku, tidak?"
"Ya , aku dengar suaramu, Inuyasha!" Jawab Kagome.
'Suaranya terdengar jelas… sepertinya dia ada di dekat sini.' Pikir Inuyasha.
Inuyasha lalu melewati beberapa putaran, dan akhirnya…. Kagome pun tepat berada di depan nya.
"Inuyasha…."
"Kagome…"
Tanpa ada kata-kata lagi, kedua orang itu lalu mendekap erat satu sama lain.
"Kagome… syukurlah, akhirnya aku bisa menemukanmu." Bisik Inuyasha.
"Aku takut sekali…. Aku pikir aku akan terus sendirian disini!" Kagome terisak kecil.
Inuyasha lalu melepaskan pelukan mereka dan memegang kedua pundak Kagome yang sedikit bergetar. "Ssshh, tenanglah, ini pakai jaketku, kau kedinginan kan?"
Kagome mengangguk. "Arigatou, Inuyasha."
Inuyasha tersenyum kecil. "Ayo, kita keluar. Miroku dan Sango sudah menunggu didepan."
Sambil berjalan keluar, Inuyasha menggenggam erat tangan Kagome. Kagome merasakan detak jantungnya semakin cepat, sampai bisa didengarnya sendiri.
'Tangan Inuyasha terasa begitu hangat…' Pikirnya dalam hati.
.
.
.
"Aku benar-benar minta maaf, Kagome~" pelas Sango pada sahabatnya itu sepanjang perjalanan mereka pulang. Miroku dan Sango sengaja meminta petugas Magic Mirror Maze itu untuk mematikan lampu di dalam ruangan itu saat Inuyasha dan Kagome berada di dalamnya.
"Huh. Tidak ada maaf untukmu, Sango." Kagome pura-pura menggeram marah.
Di sisi lain, Inuyasha memberikan sebuah benjolan besar di kepala Miroku.
"Harusnya kau ini berterima kasih padaku, Inuyasha." Keluh Miroku sambil memegangi kepalanya.
"Keh!"
Inuyasha lalu menoleh kearah Kagome. "Miroku, bisa tolong berikan aku dan Kagome waktu sebentar?"
Miroku tersenyum penuh arti. "Silahkan, Inuyasha. Sango, kemari, ayo kita tinggalkan mereka dibelakang."
"Haii…" Jawab Sango, digandengnya lengan pacarnya itu dan mereka berdua berjalan jauh didepan.
Saat Sango dan Miroku sudah hampir tak terlihat, Inuyasha mulai bertanya dengan hati-hati pada Kagome. "Kau… masih marah padaku?"
"Eh? Aku tidak marah padamu, kok, Inuyasha…" jawab Kagome cepat.
Inuyasha menghela nafas. "Aku tahu kau marah, Kagome. Dan aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membentakmu hari itu."
"Aku tidak marah, Inuyasha." Elak Kagome lagi. "Lagipula, kau juga tidak salah. Aku yang sudah bersikap kekanak-kanakkan."
"Tapi kau menghindariku, Kagome. Aku… aku merasa putus asa terus dihindari olehmu." Tutur Inuyasha pelan.
Kagome menghentikan langkahnya dan menatap bola mata pemuda yang berdiri disebelahnya itu. "Inu..yasha?"
Inuyasha menatap balik Kagome. "Kau… kau seperti dekat denganku, tetapi juga jauh. Aku tidak mengerti, Kagome. Tapi aku ingin kau berada disisiku. Aku-"
"Cukup, Inuyasha."
"Kagome, aku-"
"Cukup! Aku tidak mau dengar!" bantah Kagome, "Kau selalu berkata kau senang berada di dekatku, di sisiku, padahal kau sudah memiliki kekasih. Kumohon, jangan berikan aku harapan terus seperti ini! Aku…. Aku tidak akan bisa melupakanmu kalau begini caranya!"
"Aku tidak mau kau melupakanku, Kagome!" seru Inuyasha, digenggamnya dengan kuat kedua pundak gadis berambut hitam didepannya itu,
Kagome menatap Inuyasha tajam. "Kenapa? Apa kau senang bermain-main dengan perasaanku?"
Inuyasha menggeram kesal, dan didekapnya Kagome erat ke pelukannya.
"Lepaskan aku!" Kagome berusaha meronta, namun usahanya itu sia-sia saja. Inuyasha terlalu kuat.
"Tidak akan kulepaskan kau sampai kau mendengarkanku." Ucap Inuyasha tegas.
"Apalagi yang harus kudengarkan, Inuyasha? A-Aku mohon… jangan membuatku sakit hati lebih dari ini…" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu.
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, Kagome." Ucap Inuyasha pelan. "Karena aku cinta padamu. Aku sangat mencintaimu…."
Jantung Kagome terasa berhenti mendengar ucapan itu keluar dari mulut Inuyasha. Kata-kata yang selama ini hanya didengarnya di mimpi-mimpinya…
"Inuyasha..?"
Inuyasha lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kagome, dan diciumnya bibir merah gadis itu.
"Aku tidak peduli apa-apa lagi. Aku cinta padamu, Kagome…."
END CHAPTER
A/N: First kiss Inu-Kago! o Hoho, Inuyasha akhirnya bilang I love you *_* Eiitss…. Tapi Kikyo gimana dong? Kikyo dan Sesshomaru akan muncul di chapter-chapter berikutnya untuk menambahkan sensasi drama~ hoho.
Ja-ne!
