Main Cast : Min Yoongi and Park Jimin

Pair : YoonMin

Slight : VMin

Genre : Romance and Humor (a little bit of Dark Humor)

Happy reading ^.^

Love and peace :3

.

.

.

The Truth Untold

.

.

.

JIMIN P.O.V

Aku memperhatikan Yoongi yang dengan santainya tersenyum ke arahku. Dia sibuk menghabiskan sarapan pagi tanpa beban. Mengunyah roti bakar dengan selai cokelat dan segelas air putih. Sedangkan aku masih saja melihat piringku yang dipenuhi oleh makanan khas barat.

"Ahjussi, tidak pergi bekerja?" tanyaku saat menyadari dirinya yang mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek selutut. Dia menggeleng seraya menyuruh salah satu maid untuk mengisi gelas kosongku dengan jus jeruk.

"Tentu saja seorang bos seperti ku membutuhkan hari libur. Lagipula nanti siang kita akan melihat hotel yang menjadi tempat resepsi pernikahan kita." Mendengar hal itu, tanganku terkepal. Aku takut, entah kenapa aku takut.

"Aku sudah berpikir, kita cukup mengundang teman dekat saja untuk di gereja nanti. Kau sudah berpikir berapa orang yang akan kau undang?" Aku hanya menaikkan bahuku sebagai jawaban, setelah itu berusaha mengurangi rasa takutku dengan mengunyah potongan telur mata sapi dan sosis sekaligus.

"Setelah itu kita jalan. Bagaimana?"

"Bukankah aku masih dalam masa dihukum tidak boleh keluar rumah?"

"Boleh jika bersamaku. Lagipula rasanya aku ingin sedikit bersenang-senang setelah pesta semalam." Yoongi memberikan tatapan yang berbahaya, dia tersenyum tipis dengan alis naik turun. Seakan mengajakku untuk mengikuti seluruh perkataannya tanpa berpikir banyak. Itu berbahaya, karena aku semakin takut jika aku merasa semakin nyaman bersamanya.

"Jadi, kau mau jalan kemana?" Kepalaku menggeleng sebagai jawaban. Sejujurnya banyak yang ingin aku lakukan bersama dirinya, bermain di taman, pergi ke laut, belanja di mal, dan melakukan sederet hal yang berbau layaknya kencan anak SMA.

Hanya saja, diriku yang sekarang dipenuhi banyak keraguan. Aku merasa ada sebuah potongan puzzle yang terlewati olehku, ada yang kurang. Lupakan sejenak soal Yoongi yang ternyata menangis semalaman karena Suran serta rasa sakit hatiku akan fakta itu. Sekarang aku harus fokus dengan dompet ayahku.

Apa Yoongi mengenalku jauh dari yang aku kira? Bagaimana bisa dia memiliki dompet ayahku sedangkan di hari kematian Chanyeol aku hanya mendapati abunya?

Mendadak pikiranku pecah saat menyadari kehadiran seseorang. Taehyung datang dengan jaket kulit berwarna cokelat tua. Dirinya memegang amplop besar yang tampaknya berisi dokumen penting dan tebal. Dirinya menatap Yoongi yang sekarang sedang mendongakkan kepala untuk menatap Taehyung.

"Kau datang? Sarapan dulu?" Taehyung hanya menggeleng saat menerima tawaran Yoongi. Namun, tangannya tetap saja mengambil sepotong roti dan dirinya sempat menatapku sekilas sebelum akhirnya kembali melihat Yoongi.

"Hyung, kita harus bicara. Ini penting," ucapnya dengan mulut dipenuhi oleh potongan roti. Yoongi yang awalnya ingin bersantai, akhirnya berdiri dari duduknya dan menaikkan bahu.

"Kalau memang sepenting itu, kita bicara di ruang kerjaku saja," tawarnya seraya menegak habis sisa air putih dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang makan. Sekali lagi, Taehyung melirik ke arahku dan tersenyum ramah.

"Nanti kita makan siang di café, oke?" tawarnya santai dengan lirikan mata jahil. Setelah itu dia meninggalkan aku sendirian bersama beberapa maid lainnya di ruang makan.

Detik itu, daripada bersikap tak acuh dengan kerjaan para mafia. Aku cenderung curiga, merasa bahwa aku harus ikut bersama mereka ke lantai atas dan menguntit mereka berdua. Tapi aku harus hati-hati, satu hal yang harus aku fokuskan.

Aku memiliki insting yang kuat, setelah puluhan kali bekerja part time di berbagai tempat. Selain mempelajari bisnis, aku juga mempelajari bagaimana cara menghadapi situasi genting yang membahayakan pekerjaanku.

Refleks ku cepat, otakku selalu bekerja ratusan kali lebih sigap saat melayani para kostumer. Itulah kelebihan makhluk rendahan sepertiku. Saat mendengar langkah kaki mereka menghilang di atas tangga, aku langsung menyuruh salah satu maid untuk mengantarkan sarapanku ke kamar.

"Antarkan ini ke kamarku dengan Ahjussi, cukup sarapanku saja. Oh, jangan lupa biarkan pintunya terbuka setelah kau keluar dan hidupkan televisi. Tapi, lakukan yang aku suruh lima menit kemudian. Terima kasih," kataku seraya tersenyum ramah. Setelah menunduk sopan dan maid itu membalasku dengan senyum canggung dan tundukan sembilan puluh derajat, aku langsung melepas sandal rumah yang selalu aku kenakan.

Dengan perlahan aku menaiki lantai dua dan melirik ruang kerja Yoongi. Aku memperkirakan segalanya, ruang kerja dan kamar hanya berjarak lima atau enam meter. Ok, aku pasti bisa.

Tanganku mulai menggenggam sandal rumah dengan erat. Entah kenapa mendadak merasa gugup saat berjalan mendekat ke depan pintu ruang kerja Yoongi. Secara perlahan aku menurunkan ganggang pintu dengan degup jantung tak menentu. Bahkan sekarang yang aku dengar hanyalah murni degupan jantung milikku.

Aku mendorong pintu itu dengan luar biasa pelan, bersyukur saat mereka tidak mengunci pintu dari dalam dan memberikan sedikit cela untuk mengintip ke dalam. Sialnya, ini semua tidak seperti di drama-drama. Ruangan kerja Yoongi terlalu besar dan mereka berbicara dengan normal, demi Tuhan yang hanya aku dengar adalah suara napas dan degupan jantung milikku sendiri.

Walau begitu, aku bisa melihat Yoongi yang duduk di kursi kebanggaannya dan Taehyung yang memunggungidiriku. Aku dapat melihat Taehyung menyerahkan amplop itu dan membaca gerak bibir Yoongi.

Satu lagi kehebatanku, aku bisa membaca gerak bibir manusia dengan cepat. Percaya atau tidak, terkadang ada seseorang memasuki toko, mereka tanpa sadar menggumamkan kata 'bagus' di salah satu baju yang ia lihat. Dan sudah menjadi tugasku untuk menghampiri lalu menawari baju itu sebagai rekomendasi dari toko. Itu taktik penjualan.

Yoongi berkata, "ini apa?" Seraya membuka isi dari amplop itu. Mendadak, aku merasakan tanganku mendingin sewaktu wajah Yoongi berubah menjadi gelap saat membaca beberapa lembar berkas yang diberikan Taehyung. "Kau menyelidiki diriku?" Aku bisa merasakan dahiku mengernyit.

Untuk apa? Untuk apa Taehy—

Aku langsung menoleh ke belakang dengan cepat saat merasakan seseorang bernapas di belakangku. Tanganku refleks menutup mulut orang itu dan melirik ke arah lain. Memperhatikan maid yang sedang membawa nampan dan menatap kami berdua terkejut.

Aku bergumam panik, "Antarkan ke kamarku cepat!" pintaku tanpa bersuara dan maid itu langsung melangkah tanpa bersuara. Seakan tahu bahwa aku sedang menguping pembicaraan calon suamiku sendiri, maid itu membuka pintu kamar dengan perlahan. Setelah itu keluar tanpa menutup pintu dan memberikan tundukan sopan kepadaku sebelum akhirnya menuruni tangga.

Mataku kembali menatap orang yang mulutnya sedang kututup. Aku langsung menggelengkan kepalaku kuat, menyuruh dirinya untuk diam dan tidak membicarakan apapun. Orang itu—Hoseok, hanya bisa mengangguk pasrah.

Aku pun langsung melepaskan tanganku dari mulutnya dan berbalik, kembali melihat Yoongi yang sekarang sudah berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak murka dan siap meninju Taehyung kapan saja, akan tetap Taehyung malah membentak dengan suara yang cukup keras hingga tertangkap di telingaku.

"Kau yang gila Hyung! Untuk apa hah?! Kau mau menebus rasa bersalahmu kepada Jimin? Atau apa?! Aku tahu impianmu dengan Suran! Tapi jangan melibatkan Jimin! Dia tidak tahu apa-apa Hyung!" Saat itu aku bisa merasakan seluruh tubuhku membeku, namaku telah disebut dan begitu pula nama Suran. Napasku tercekat dan rasa takut mulai menghantam diriku sekali lagi.

"Ini bukan tentang Suran! Kau harus tahu itu!" Yoongi balas membentak dan aku bisa merasakan Taehyung meloloskan tawa meremehkan.

"Aku sudah berbicara kepada Paman, Hyung! Dan demi Tuhan! YANG KAU LAKUKAN SELAMA INI ADALAH DEMI SURAN!"

BRAK!

Aku dan Hoseok terkesiap saat melihat Yoongi yang memukul meja kerja dengan tangan kosongnya. Aku bisa merasakan Hoseok meremas pundakku, membuat aku menoleh ke belakang dan menatap dirinya yang menggelengkan kepala pelan. Seakan-akan menyuruhku untuk berhenti menguping mereka berdua.

Namun, terkutuklah aku dengan segala keegoisanku. Aku kukuh ingin mendengarkan hingga selesai. Aku merasa aku harus mendengarkan ini semua.

"Keinginanku! Ini semua adalah keinginanku! Dan Suran Noona hanya menyetujui hal ini saja." Yoongi mendadak memelankan suaranya, membuat aku sekali lagi harus membaca gerakan mulut yang sangat cepat.

"Ini impianku sejak lama. Mengeluarkan dirimu, Ibu, dan Paman dari lingkaran organisasi mafia ini. Mengubah apa yang Appa kerjakan menjadi sesuatu yang lebih baik. Bukankah menjadi pemilik perusahaan jauh lebih baik daripada bos mafia? Namun, itu semua membutuhkan waktu yang lama. Aku harus menunggu hingga seluruh kuasa jatuh ke tanganku dan belajar cara bermain saham aku juga membutuhkan modal yang besar—"

Omongan Yoongi terpotong oleh gumaman Taehyung, entah apa itu. Aku tidak bisa membaca mulutnya karena aku hanya bisa melihat punggung tegap Taehyung. Namun, Yoongi langsung menggeleng cepat saat itu.

"Aku tidak senang dengan kejadian lima tahun lalu. Appa mati tertembak, siapa yang senang akan hal itu?"

Ok, aku merasa aku tidak perlu mengetahui hal ini.

"Lalu apa Hyung?!" Sejenak, aku mengucapkan rasa syukur karena Taehyung kembali membentak. "Setelah semua hal ini selesai, setelah Hyung berhasil membersihkan seluruh pekerjaan kotor kita. Lalu apa?! Hyung akan meninggalkan semuanya? Dan menyerahkan semuanya kepada Jimin?!"

Nah, ini yang aku tunggu dari tadi. "Tidak Taehyung, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengembalikan hidupnya ke jalan yang seharusn—"

Oh. My. Go—SHIT!

Aku bisa merasakan tatapan itu mengarah sempurna ke bola mataku. Menusuk dan tajam, membuat seluruh tubuhku melemah dalam satu detakan jantung. Ini bahaya, ini bahaya… Yoongi melihatku!

Spontan aku langsung membalikkan badan di saat Yoongi sudah bergerak menuju pintu. Mataku menatap Hoseok dengan penuh pandangan memohon dan Hoseok mengangguk mengerti. Seketika itu juga aku berlari sekuat tenaga.

Nyaris terpeleset saat harus memasuki kamar dengan serangan panik. Walau begitu aku harus tetap menutup pintu dengan begitu perlahan. Lalu berlari menuju tempat tidur dan pura-pura memakan sarapan yang sudah diletakkan di atas kasur. Mataku fokus menatap televisi, sesekali mengapus keringat dingin di dahi.

Satu hal yang harus aku lakukan selanjutnya—berpura-pura.

Sedetik kemudian aku bisa merasakan pintu kamar dibuka dengan kasar. Membuat aku sedikit tersentak dan menoleh ke arah pintu. Melihat Yoongi dengan tatapan tajamnya, diikuti oleh Taehyung serta Hoseok.

"Oh? Kenapa kalian semua berwajah panik begitu?" ucapku dengan nada yang kubuat sesantai mungkin. Rasanya, jantungku ingin meledak keluar karena terlalu gugup saat ini.

Taehyung menggelengkan kepalanya, setelah itu dia memasuki kamar dan membaringkan diri di kasur dengan senyum khas miliknya. "Tidak apa-apa, kenapa kau ada di kamar?"

"Aku bosan makan sendirian di ruang makan, jadi ya sudah. Aku pindah ke kamar." Aku menjawab dengan cengiran tanpa dosa. Sejenak, aku melihat Hoseok yang berdiri di luar pintu dan tatapan kami bertemu. Aku pun menganggukkan kepala pelan, sebagai tanda terima kasih dan dirinya hanya tersenyum tipis.

Yoongi berjalan menuju kamar, duduk disampingku lalu mengelus kepalaku pelan. Sejenak, aku merasakan ketenangan yang begitu nyaman. Membuat aku tanpa sadar tersenyum tulus dan menatap matanya yang sudah melembut.

Walau begitu, tetap saja. Pikiranku berkelana ke tempat lain.

Satu hal yang harus aku lakukan, apapun yang berada di dalam amplop itu—harus segera kudapatkan!

.

.

.

AUTHOR P.O.V

Siang itu, Taehyung menyesap kopinya secara perlahan. Di sebuah café yang menjadi kenangan pertemuan singkat dirinya dengan Jimin. Peduli amat dengan kata menyedihkan, Taehyung memang menyedihkan sekarang.

Daripada dirinya yang hanya menjadi orang ketiga di antara Yoongi dan Jimin, lalu mengikuti kegiatan mereka berdua hari ini. Lebih baik Taehyung memanjakan dirinya sendiri dengan segelas kopi. Itu lebih baik daripada mengikuti calon pengantin yang sedang mengecek gedung hotel.

Taehyung beberapa kali melihat ke arah luar, memperhatikan manusia-manusia yang sudah seperti semut. Berjalan dan melakukan aktivitas, mungkin beberapa dari mereka bahkan tidak tahu harus kemana, hanya berjalan saja agar terlihat hidup.

Mendadak, mata Taehyung menangkap sesosok lelaki yang membuat dirinya tercengang. Namja itu mengenakan kemeja kebesaran berwarna biru muda, celana kain hitam, dan sandal jepit. Tangannya memainkan kunci mobil seraya menguap beberapa kali.

Taehyung sempat tertawa melihat penampilan lelaki itu, sebelum akhirnya bersumpah akan memanggil dirinya jika ia memasuki café yang sama dengan Taehyung.

Ajaibnya, lelaki itu dengan santai memasuki café tersebut. Membuat Taehyung langsung menaikkan salah satu tangan dan berteriak, "Jungkook-ah!" Detik itu juga, yang dipanggil terkesiap dan menoleh ke arah kiri.

Jungkook tersenyum sumringah ke arah Taehyung dan berjalan santai menghampirinya. Dengan seenak hati Jungkook sudah duduk di hadapan Taehyung, lalu memesan segelas Frappuccino. Taehyung melihat gerak-gerik Jungkook yang cukup lucu, kemudian dirinya tertawa tanpa alasan.

"Sungguh ini aneh, kenapa sekarang kita semakin sering bertemu?" kata Taehyung yang dijawab dengan tawa pelan dari Jungkook. "Kau dari rumah sakit?"

"Yah, begitulah. Kau sendiri?" tanya Jungkook yang membuat Taehyung menghela napas panjang.

"Menikmati siang yang cerah," jawabnya tanpa penuh keraguan.

"Bilang saja kau tidak tahu mau melakukan apa."

"Tepat sekali." Sejenak, mereka tertawa pelan. Kemudian, tawa itu berubah menjadi kesunyian yang canggung. Hingga akhirnya, si lelaki bergigi kelinci menawarkan suatu hal di luar perkiraan kepada lawan bicaranya.

"Hei, mau ke rumah sakit?"

"Hah?"

"Mau bertemu dengan tunanganku?"

.

.

.

Taehyung merasa dirinya sudah berada di jalan yang salah. Bukankah, inti dari meliburkan diri dari perkuliahan selama beberapa bulan ke depan adalah untuk membatalkan pernikahan abangnya? Tapi kenapa sekarang dia malah melihat lelaki penyakitan di rumah sakit?

Walau begitu, Taehyung tetap tersenyum canggung saat seluruh keluarga besar Jungkook melihatnya bingung. Rasa-rasanya dia seperti sedang memasuki perkumpulan keluarga yang tidak ia kenali. Jungkook sempat berbisik di telinganya, mengatakan bahwa keluarga Jin dan keluarganya memang sedang berkumpul di ruang inap VVIP. Mereka berniat bersenda gurau bersama Jin sebelum lelaki itu menghadapi operasinya lusa.

Dalam hati, Taehyung ingin mengomel kepada Jungkook. Lalu untuk apa Jungkook mengundang Taehyung di saat yang tidak tepat seperti ini?

"Itu temanmu Jungkook-ah?" tanya salah satu wanita separuh baya dengan nada heran. Jungkook mengangguk cepat dan tersenyum lebar.

"Namanya Kim Taehyung, Eomma." Taehyung langsung menunduk sopan, menyalami sepuluh orang yang berada di dalam ruangan itu dan tidak lupa menyapa Jin yang sedang duduk di atas tempat tidur dan menatap lurus ke arah tembok.

Satu hal yang Taehyung sadari, kanker itu telah membuat Jin tampak seperti mayat hidup. Sekarang, Taehyung cukup mengerti betapa sedihnya perasaan Jungkook dan kedua belah pihak keluarga.

Setelah itu, Taehyung berbaur dengan keluarga Jin dan Jungkook. Tidak jarang juga dia bersenda gurau serta menanggapi candaan yang Jin lontarkan. Hingga akhirnya beberapa pertanyaan pribadi mulai menyerang dirinya.

Seperti, bagaimana dirinya dengan Jungkook bertemu. Namun, pertanyaan itu sudah dijawab terlebih dahulu oleh Jungkook. Berkata bahwa mereka bertemu di bandara sebelum akhirnya berpisah dan kembali bertemu lagi di rumah sakit. Dan beberapa orang tua akan berkata, "Wah! Kebetulan yang unik."

"Jadi, apa kau kuliah atau kerja? Tampaknya kau seperti anak kuliahan." Ayah Jungkook bertanya dengan nada penasaran. Taehyung pun mengangguk sekilas.

"Iya, saya kuliah di Inggris Paman." Taehyung menjawab santai, ada nada bangga yang terselip di dalam sana.

"Oh? Di?"

"Oxford, divisi akademik ilmu medis." Mendadak, satu ruangan hening semua. Sedangkan Jungkook langsung menatap Taehyung dengan pandangan terkejut.

"Wah! Kau kakak tingkat ku kalau begitu?!" Jungkook berteriak heboh dan itu membuat Taehyung kebingungan. Matanya mendadak meliar dan melihat seisi ruangan yang menatap mereka berdua dengan takjub.

"Aku tahun depan akan berkuliah di sana, sebagai mahasiswa baru divisi humaniora." Jungkook bercerita heboh, "Sebenarnya aku sudah berkuliah di sini. Tapi, orang tuaku ingin aku kuliah di Inggris. Akhirnya mengulang dari awal. Oh! Apa kau ternyata lebih tua dariku?"

"Aku berumur dua puluh tahun." Taehyung menjawab dengan sedikit kebingungan. Sungguh, ini kebetulan yang aneh dan agak sedikit mengerikan.

"Wah, kita seumuran." Jungkook tertawa santai, begitu juga dengan keluarganya yang mulai berbicara tentang perkuliahan dan hal lainnya.

Hingga ibu Jungkook kembali bertanya kepada Taehyung, "Jadi? Kenapa kau tertarik berkuliah di luar negeri? Apakah orang tuamu menyuruhnya?"

Sesuai yang sudah direncanakan, Taehyung harus memberikan karangan palsu. Mengingat dirinya sebagai seorang Min Taehyung telah mati, dia harus menceritakan kisah seorang Kim Taehyung. "Tidak, saya yatim piatu sejak kecil. Ayahku lahir di Inggris, namun ibuku adalah orang Korea. Aku tinggal hingga umur dua belas tahun di sini dan pindah ke Inggris saat mereka berdua meninggal."

Kebohongan yang cukup menyentuh. Taehyung sebenarnya ingin melanjutkan cerita palsu itu, namun suasana menjadi sedikit runyam. Tatapan mengasihani ditujukan kepadanya dan itu membuat sekujur tubuhnya merinding. "Yah, jadi… begitu." Taehyung berusaha tertawa pelan untuk mencairkan suasana.

Sedetik kemudian, para orang tua itu langsung menuangkan atensinya kepada Taehyung. Seolah Taehyung adalah bayi polos tak berdaya. Pada nyatanya, dia sudah membunuh nyaris puluhan manusia. Ironis.

Karena harus duduk di dalam ruangan itu demi kata kesopanan. Taehyung akhirnya tahu, keluarga Jungkook bekerja di bidang kemanusiaan. Mereka memiliki perusahaan ternama yang mengurus tentang asuransi, donasi, atau apapun itu yang berakhiran dengan 'si' dan berbau seakan menyelamatkan ratusan jiwa manusia.

Sedangkan keluarga Jin sendiri bergerak di bidang kesehatan. Rumah sakit yang Taehyung injak saat ini adalah milik Jin. Sungguh menyedihkan saat kita sudah sekaya itu tetapi memiliki anak penyakit kanker. Ugh, sounds really sad.

Setidaknya itu yang Taehyung pikirkan hingga akhirnya dia tersadar bahwa sesungguhnya sedang berada di dunia yang salah. Untuk apa dia di sini?

Bercengkrama?

Yang benar saja, dia tidak mau bercengkrama dengan manusia-manusia berbau pahala ini. Rasanya sedikit menggelikan. Akan tetapi, Taehyung masih memiliki tata karma untuk tidak pergi begitu saja. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada menjadi nyamuk antara Yoongi dan Jimin.

Sedikit berpikir soal itu, Taehyung mungkin sedikit menyerah untuk menghancurkan hubungan Yoongi dan Jimin. Walau sebenarnya dia memegang kunci utama yang bisa membuat menjadi kacau. Hanya saja—

Pembicaraan singkat yang terjadi antara dirinya dengan Jungkook membuat Taehyung tersadar. Haruskah? Jimin tidak perlu menderita lebih dalam lagi bukan?

Tapi bukankah sangat kejam jika Jimin tidak tahu berita yang sebenarnya?

Oh shit—ada apa dengan Taehyung sekarang? Dia bukanlah Yoongi yang selalu berpikir tentang orang lain terlebih dahulu. Dia adalah Kim Taehyung, lelaki yang bahkan tidak segan-segan menghancurkan hidup manusia untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Namun, lagi-lagi wajah Jimin yang tersenyum begitu tulus malam itu. Bagaikan menghancurkan seluruh keegoisan milik Kim Taehyung. Dia tidak mungkin menggantikan senyum seindah bunga dengan tangisan, dia tidak sekejam itu.

Di saat Taehyung tenggelam dengan pikirannya sendiri, sebuah sentuhan di pundaknya membuat dia tersadar. Jungkook tersenyum manis di sampingnya seraya memberi kode bahwa keluarga besar sudah berkeinginan untuk pulang. Taehyung berdiri dan memberi salam, membiarkan Jungkook mengantar para orang tua itu ke luar dan menutup pintu, meninggalkan dirinya berdua dengan Jin.

"Taehyung-ah?" Sesaat, Taehyung terkejut karena Jin memanggilnya. Dirinya pun menatap Jin dengan canggung.

"Iya, Hyung?" jawab Taehyung seraya memperhatikan Jin yang tersenyum tipis. Mata Jin seakan tertuju kepadanya, namun hampa. Taehyung merasa dirinya diperhatikan oleh zombi.

"Tolong jaga Jungkook."

Waktu itu, Taehyung tidak mengerti apa maksud dari perkataan tersebut. Taehyung hanya menganggap sebagai basa-basi dan memberi salam sejenak. Mengatakan dirinya masih memiliki urusan walau sebenarnya Taehyung mungkin akan menghabiskan waktu seharian di pusat pembelanjaan.

Taehyung pamit kepada Jungkook tanpa sedikitpun berpikir untuk saling bertukar nomor. Mereka sudah terlalu sering bertemu tanpa harus mengirim pesan satu sama lain.

Lalu Taehyung mengusak rambut Jungkook pelan, dan Jungkook tertawa tipis.

Dan mereka berpisah, di lorong rumah sakit tanpa menyadari bahwa kisah selanjutnya akan menjadi sedikit lebih berat bagi keduanya.

.

.

.

JIMIN P.O.V

Aku memperhatikan wajah Yoongi lama, memastikan napasnya menjadi lebih lambat. Mata lelaki itu tertutup rapat dan wajahnya tampak begitu lelah.

Sial, aku menunggu hingga pukul tiga pagi agar pria tua itu tertidur lelap.

Sengaja aku menjentikkan jari di telinganya dan tersenyum tipis saat melihat tidak ada reaksi. Secara perlahan aku menggoyangkan tubuhnya, hanya gumaman rendah yang menjawab.

Di saat itu juga aku berusaha turun dari tempat tidur tanpa menimbulkan suara. Jarang sekali Yoongi bisa tertidur begitu lelap. Padahal aku hanya mengajaknya berbelanja dan nonton bioskop, kurasa bersenang-senang baginya adalah kegiatan menguras tenaga.

Aku mengambil kardigan dan menggunakan sandal kamar, kakiku melangkah keluar kamar tanpa bersuara. Setelah itu menuju ruang kerja Yoongi yang tidak pernah dikunci. Setelah masuk dan mengunci pintu dari dalam. Detik itu juga kakiku berlari menuju meja kerja Yoongi.

Berkas itu, aku harus menemukan berkas itu!

Tanganku mulai mencari ditumpukkan amplop dan map, membuka satu-persatu dan hanya menemukan semacam grafik atau perjanjian yang tidak aku mengerti. Mataku mulai menangkap rak buku yang berjejer rapi, apa dia menyelipkan berkas tersebut di rak buku?

Baiklah, itu pilihan terakhir untuk diperiksa. Saat ini, tanganku sibuk membuka beberapa laci meja dan terhenti di salah satu laci paling bawah. Terkunci.

Di saat itulah perasaanku semakin kuat, sengaja aku duduk di atas lantai, menekan meja dengan kaki dan menarik laci meja sekuat tenaga. "Fuck! Ini tidak akan berhasil," gumamku saat merasakan tanganku yang sakit namun laci tersebut tetap tidak terbuka.

Mataku mulai bergerak liar, mencari benda yang bisa digunakan untuk membuka laci meja yang terkunci. Bisa saja Yoongi menyimpan kuncinya entah diman—lupakan, aku menatap gunting yang berada di dalam tempat penyimpan alat kerja.

Aku mengambil gunting itu dan menghela napas pelan. Diriku pernah melihat bagaimana cara membuka laci meja tanpa menggunakan kunci. Dulu salah satu bosku melakukan hal ini di depan mata kepalaku sendiri dan berhasil. Jadi, aku akan melakukan hal yang sama.

Tanganku mulai bekerja, secara perlahan menusukkan salah satu mata gunting ke dalam lubang kunci dan memutar ke arah kanan serta kiri secara bergantian. Dengan sedikit tenaga, aku mendengar bunyi penuh kebahagiaan—suara kunci yang terbuka.

Tanpa sadar aku tersenyum lebar, secara perlahan aku membuka laci dan melihat amplop tadi pagi. Aku mengambil amplop tersebut dan menatap barang-barang lainnya. Sama seperti kemarin, hanya saja aku merasa Yoongi tidak menyadari bahwa aku mengambil dompet ayahku.

Aku mulai membuka amplop dan mengeluarkan berkas yang sudah setebal kamus. Mendadak, aku menghela napas panjang. Aku tidak memiliki waktu untuk membaca semuanya dengan seksama, akan tetapi aku takut melewati beberapa informasi penting jika aku menggunakan metode membaca cepat.

Ah, persetan dengan semuanya. Cukup membaca saja hingga buta!

Aku mulai duduk di atas kursi dan meletakkan berkas tersebut. Membuka halaman demi halaman dengan dahi mengernyit. Ada beberapa foto Yoongi yang kuakui terlihat tampan, akan tetapi ada beberapa lembar yang berisi grafik, data, atau apapun itu yang membuat kepalaku pusing.

Oh ayolah, aku bahkan tidak tamat SMA. Bagaimana bisa aku mengerti semua hal ini?

Walau begitu, aku berhenti di lembaran tentang data diri Yoongi. Membaca nama-nama keluarganya yang tidak pernah aku temui. Sedikit tersenyum tipis saat melihat betapa lucunya wajah Yoongi di dalam foto yang kuyakini diambil secara diam-diam. Dirinya menggemaskan sekali!

Lembaran selanjutnya aku dapat melihat data diriku sendiri dan mendesis pelan. Wow, aku tidak tahu bahwa diriku juga dilacak. Bahkan informasi di sini tertulis begitu jelas sekali, hingga menyebutkan perusahaan game yang didirikan oleh ayahku. Well, siapapun yang mengumpulkan seluruh informasi ini, pasti sangatlah bekerja keras.

"Tuan Jimin?!" Mendadak, sekujur tubuhku langsung kaku dan refleks mataku tertuju ke arah pintu masuk. Suara ketukan pintu mulai ditangkap oleh indra pendengarku dan itu membuat degup jantungku berhenti berdetak.

"Si—siapa?!" balasku berteriak.

"Jung Hoseok, Tuan."

Oh.

Kukira siapa.

Mendadak aku langsung menghela napas panjang. Walau begitu, dahiku langsung mengernyit. "Bagaimana kau tahu aku berada di dalam sini?" tanyaku seraya kembali fokus membaca berkas.

"Ehmm, CCTV Tuan," jawabnya ragu yang membuat aku langsung mencari kamera pengintai itu dan memukul kepala sendiri saat melihat titik merah di sudut atas ruangan. Kenapa aku tidak lebih berhati-hati? Beruntung yang menemuiku adalah Hoseok, bukan pengawal lainnya.

"Maaf Tuan, tapi kurasa Tuan harus keluar sekarang—"

"Sepertinya kita sepakat untuk memanggil diriku dengan sebutan Jimin saja."

"Kita tidak pernah sepakat dalam hal itu Tuan."

"Oh benarkah?" Aku masih membiarkan Hoseok di luar dan menikmati perbincangan dengan nada yang tinggi ini.

"Tuan, apapun itu yang sedang kau cari. Tuan Yoongi akan marah jika mengetahuinya. Untung saja malam ini yang berjaga di ruang CCTV adalah saya—bukan itu yang mau saya katakan, tapi Tuan mohon buka pintu ini!"

Aku masih membaca beberapa berkas hingga mataku tertuju pada satu hal. Ada satu halaman yang membuat aku bingung, itu adalah daftar manusia yang telah mati di tangan Yoongi. Ada tulisan kecil di atas tabel itu, bahwa yang terdaftar di sini adalah orang yang memiliki hutang dengannya, namun tidak sanggup membayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Daftar itu bukanlah seluruh daftar manusia yang telah Yoongi bunuh.

Ada satu nama yang dilingkari dengan pena merah dan kurasa yang melingkari hal itu adalah Taehyung. Aku bisa merasakan jantungku berhenti berdetak saat melihat nama itu dan sekujur tubuhku melemas.

"Maaf Tuan, jika kau tidak kunjung keluar maka saya akan membangunkan Tuan Yoo—"

"Diam…."

"Tuan, saya serius. Saya akan membangunkan Tuan Yoongi jika kau tetap bersikeras—"

"DIAM DIAM DIAM!" teriakku histeris, membuat suasana menegang dalam hitungan detik. Ada satu hal lagi yang harus aku ketahui, aku tidak peduli jika Hoseok membangunkan Yoongi atau apapun itu. Aku hanya perlu tahu, pasti ada alasan lain kenapa Yoongi mengejar diriku.

Tanganku semakin cepat membuka lembar demi lembar, membaca belasan perusahaan yang telah dibeli Yoongi serta belasan perusahaan lainnya yang telah dihancurkan oleh Yoongi. Saat itu, juga tanganku berhenti di salah lembar.

Aku terdiam, otakku seakan ditarik oleh gravitasi dan dihantam begitu saja ke lantai. Tubuhku melemas, hatiku kacau, dan mataku mulai memanas.

Sesaat aku mendengar suara tembakan yang begitu nyaring dan pintu terbuka lebar. Yoongi masuk dengan tangan yang memegang pistol dan wajah panik. Aku melihat Hoseok yang meninggalkan tempat setelah disuruh pergi oleh Yoongi.

"Jimin—"

"Ahjussi, bisa kau jelaskan ini?" Aku bertanya dengan nada lurus. Isi kepalaku kosong, begitu juga dengan hatiku.

Aku tidak pernah—tidak pernah—merasakan amarah yang begitu luar biasa bergejolak di dalam diriku. Begitu marah hingga tanpa sadar aku menatap Yoongi dengan tajam. Tanganku mengepal erat dan diriku mulai menggeram rendah.

Terlalu marah hingga aku tidak dapat merasakan apapun.

"AKU BILANG JELASKAN HAL INI!" Yoongi sempat tersentak di saat aku berteriak. Dia tampak tenang seperti biasa, walau aku dapat melihat matanya memantulkan aura penuh kepanikan.

"Tenang dulu Jimin, aku bisa jelaskan—"

"OH?! Kau bisa jelaskan?" Tanganku tanpa sadar merobek satu halaman di dalam berkas itu dan secara brutal membolak-balikkan halaman demi mencari satu lembar lagi. Setelah ketemu, aku langsung merobeknya dan melempar kedua lembar itu ke arah Yoongi.

"Jelaskan kenapa ada nama ayahku di situ! Dan jelaskan apa maksudnya kau yang menghancurkan perusahaanku waktu itu?! Bukankah perusahaan ayah hancur karena kebarakaran? Apa kau yang membakarnya?!"

Entah kenapa tanganku mulai bergerak, mereka terus bergerak hingga berhenti di laci terbawah. Aku mengambil laci tersebut dan menuangkan seluruh isinya di atas meja. Mengambil beberapa foto wanita sialan dan tertawa pelan.

"Jika penjelasanmu tidak membuat tenang diriku Ahjussi, aku bersumpah akan menghancurkan foto-foto ini dengan tanganku sendiri."

Aku mulai gila, atau memang sudah gila. Entahlah.

Seluruh emosi itu membuat aku tanpa sadar menitikkan air mata. Pikiranku berputar pada satu kata, kenapa?

Yoongi masih tetap diam, tidak bergeming walau aku sudah menunjukkan amarah yang begitu luar biasa—nyaris putus asa.

Namun, dia tetap memandangku dengan tatapan seakan berkata bahwa dia minta maaf. Tapi maaf karena apa?

Karena fakta dia membunuh ayahku?

Jadi, abu yang aku terima di depan rumah waktu itu adalah dari dirinya?

Jadi, ayahku berhutang kepada Yoongi? Seberapa banyak?

Tapi kenapa Yoongi bisa menghancurkan perusahaan milik keluargaku juga?

Bagaimana, kapan, dan apa sebabnya dia membakar habis perusahaanku?

Apa yang ia kejar?

Lalu kenapa setelah semua itu Yoongi malah memaksaku untuk menikah dengannya?

Apa yang ia mau?

Seluruh pertanyaan itu muncul bagaikan kuda yang sedang berlomba. Tapi tetap saja, manusia itu masih diam.

Aku berjalan mendekat ke arah Yoongi. Aku ingin menumbuknya, memukul dirinya hingga mati, menembakkan peluru ke kepalanya, dan berteriak histeris. Menyuruhnya untuk berbicara, namun semua itu tergantikan dengan pukulan pelan di dadanya.

Seluruh tubuhku gemetar hebat, tanganku terkepal hingga terasa kebas. Dan tatapan menyedihkan yang ia keluarkan saat ini sama sekali tidak membantu.

"Kumohon—kumohon, bicara…." Tanganku secara perlahan mengoyak foto wanita yang ia cintai di hadapannya sendiri. "Kau lihat, aku akan menghancurkan ini jauh lebih parah jika kau masih tidak mau berbicara."

Aku kembali memukul dadanya, membiarkan tangisan semakin pecah di saat dirinya tidak kunjung membuka suara. "Ahjussi, kau mencintai wanita ini bukan? Hanya ini yang tersisa dari dirinya, kau tidak ingin aku menghancurkannya. Iya 'kan?"

Yoongi tetap diam, dia menatapku masih dengan tatapan yang sama. Hal itu membuat aku frustasi, aku terus mengoyak setiap foto hingga menjadi serpihan kertas dan melemparnya ke lantai. Namun, dirinya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

"Kenapa—KENAPA?!" Tanpa sadar aku berteriak sekali lagi, memukul dadanya berkali-kali dan menangis histeris. "Kenapa kau tidak marah huh? Aku menerobos masuk ruang kerjamu, mengacak-acak mejamu, merobek foto wanita yang kau cintai—"

"Bukan dia!" Yoongi mendadak berteriak, memegang tanganku erat dan mengerang frustasi. "Bukan dia yang aku cintai! Tapi kamu Jimin-ah."

Aku langsung meloloskan tawa pelan, "Cinta? Brengsek! Kau menangis malam kemarin, kau memegang foto wanita sialan itu begitu erat. Dan apa yang kau katakan? Cinta?! Kau yang menghancurkan perusahaanku, kau yang membuat aku putus sekolah, kau yang membuat aku menderita selama hidupku, kau yang membunuh Ayahku—kau…."

Suaraku terhenti, mendadak aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi hingga satu kata keluar dari mulutku. "Eomma…"

Aku langsung menghempaskan pegangan tangan Yoongi dan menatapnya marah. "Jangan-jangan kau yang juga membunuh Ibuku?!"

Yoongi langsung menggeleng kuat, "Tidak Jimin! Aku bersumpah, Ibumu lah yang meminta dirinya untuk tidak disembuhkan! Aku sudah menawarinya untuk opera—"

"Apa katamu?" Mendadak, aku berjalan mundur. Menatap Yoongi dengan tatapan tidak percaya. "Apa katamu? Operasi? Ibu menolak untuk dioperasi? Kau menawarinya? Kapan—tidak mungkin dia menolak untuk sembuh!"

Sejenak aku bisa merasakan Yoongi berjalan mendekati diriku, tapi aku langsung memeluk tubuhku sendiri. Memasang sikap pertahanan diri yang membuat dirinya berhenti bergerak. "Jangan mendekat, tunggu dulu jangan mendekat."

Air mataku tidak kunjung berhenti bahkan setelah aku menghapusnya berkali-kali, aku menatap ke arah lantai walau kepalaku mengarah ke dirinya. Entah kenapa aku tidak sanggup memandang wajah Yoongi di saat seperti ini.

"Ke—kenapa?" tanyaku pelan. "Kenapa kau menikahiku, memberikanku makan, membelikanku barang, menyuruhku untuk kuliah… kenapa? Setelah kau menghancurkan hidupku? Kenapa?"

Sejenak, hanya hening yang menguasai. Hingga aku menatap dirinya dan tersenyum tipis. "Kumohon, bisakah kau menjawab?"

Aku bisa melihat Yoongi yang mendesah pelan, dirinya menatap mataku lembut. "Peraturan pertama di organisasi kami, hanya pendamping bos besarlah yang memiliki seluruh akses kuasa untuk mengontrol organisasi. Intinya, jika kau menikah denganku, kau secara sah menjadi pemegang seluruh bisnisku. Aku hanya ingin—"

"Kau kasihan? Atau ini cara ahjussi meminta maaf?" Aku menatap Yoongi, berharap ada jawaban lain yang terselip di dalam mulutnya. Namun, tidak. Yoongi tetap diam dan dirinya secara perlahan menganggukkan kepalanya.

Di saat itu, semua pecah.

Berantakan, berkeping-keping, hingga aku tidak mampu menahan diri lagi. Aku merebut pistol yang ada di tangan Yoongi dan dengan sekuat tenaga memukul kepala Yoongi dengan pegangan pistol. Membuat darah merah mengalir di pelipis kirinya.

Aku terkesiap, tanpa sadar aku melempar pistol itu ke atas lantai. Melihat Yoongi yang meringis kesakitan, "Maaf—aku…." Suaraku tercekat, di saat aku ingin menggapai kepalanya, aku melihat cincin yang masih melingkar manis di jariku.

Dan itu membuatku sekali lagi kehilangan kendali—marah, sangat marah.

Dengan cepat aku melepaskan cincin itu dan melemparnya ke arah Yoongi. Membuat Yoongi langsung menunduk, seakan takut cincin itu menghilang, Yoongi mengambilnya dalam kecepatan kilat.

"Jimin, jangan begini kumohon. Pakai lagi yah?" Suaranya begitu lembut, dirinya tersenyum tulus di hadapanku seraya menunjukan cincin yang ada di telapak tangannya.

Aku menggeleng pelan, tangisanku kembali pecah. "A—aku, aku mau pulang… aku mau pulang...," ucapku seraya menggigit bibir. Suaraku seperti tikus, begitu kecil dan terdengar lemah.

"Ini rumahmu sayang, kumohon. Gunakan cincin ini lagi yah? Jangan begini—"

Suaranya terpotong dengan aku yang berjalan menjauh darinya. "Ini bukan rumahku," gumamku pelan.

Kakiku melangkah menuju pintu, sedikit tertahan di saat Yoongi menyentuh lenganku. "Jimin, aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya, tapi kau harus tenang. Kumohon jangan pergi keluar malam-malam seperti ini. Bagaimana kalau kau terluka? Jika kau tidak mau melihatku, aku yang keluar oke? Aku yang akan keluar—"

"Aku tidak sudi—" Aku langsung menghempaskan tangannya dan menatapnya tajam. "Aku tidak sudi tinggal bersama lelaki yang telah menghancurkan seluruh hidupku."

Walau begitu, aku melihat darah di kepalanya dan bisa merasakan diriku kembali menangis. Semua itu membuat aku semakin sakit. Dialah yang terluka, kenapa masih mengkhawatirkan diriku?

Kakiku mulai berlari, keluar ruangan dan menuruni tangga. Beberapa maid yang masih terbangun, terkejut melihat diriku yang kacau. Begitu juga dengan bodyguard yang dengan refleks memberi hormat saat aku lewat.

Tapi aku tidak peduli, aku hanya menangis. Tanpa sadar menabrak seseorang di pintu masuk dan terkesiap saat melihat Taehyung yang menatapku panik, "Jimin kau kenapa—"

Waktu itu aku ingin menangis kuat, akan tetapi yang aku lakukan adalah mendorong tubuh Taehyung dan kembali berlari. Menuju gerbang utama yang masih terbuka, aku terus berlari hingga merasakan dadaku begitu sesak.

Aku tidak tahu apa yang membuat aku begitu kesal. Semuanya membuatku kesal, tapi kasihan? Sungguh? Lelaki sialan itu menikahiku hanya karena perasaan kasihan?

Cinta—hah! Pembohong keparat!

Dia melakukan ini semua hanya demi permintaan maaf! Dia melakukannya hanya demi—permintaan maaf.

Di saat itulah tubuhku merosot, jatuh ke atas aspal yang begitu dingin di malam hari. "Maaf?" Tanpa sadar aku tersenyum tipis, "Dia kira dia siapa? Dia pikir hatiku itu apa?"

Entah bagaimana ceritanya, suara guntur mulai terdengar. Disusul oleh rintikan hujan lebat yang membuat aku tersenyum meremehkan. Sial, sekarang aku harus merasakan hujan yang menyedihkan seperti di drama?

Apa Tuhan berniat membuat kehidupanku menjadi salah satu drama dengan akhir yang sangat buruk?

Walau begitu aku tetap menangis, memeluk kakiku sendiri di tepi jalan seperti gelandangan. Aku menangis tanpa henti beriringan dengan hujan yang seakan menyerang punggungku.

Permintaan maaf…

Persetan dengan itu.

Fakta bahwa hidupku berpusat kepadanya dan dirinyalah yang menghancurkan hidupku sudah membuat aku merasa sesak. Tapi mengapa, semua semakin berat dengan Yoongi yang mengangguk seperti tadi?

Dia benar-benar melakukan ini semua hanya karena permintaan maaf?

Saat dirinya tertawa begitu tulus di kolam renang, di saat dia menggendongku malam itu, di saat dia menciumku dengan begitu lembut, atau waktu kami berdansa di pesta menyebalkan itu.

Dia hanya melakukan itu semua demi permintaan maaf?

Dasar lelaki brengsek, keparat, sialan, setan, manusia bau tanah, kejam—mendadak aku terdiam. Punggungku tidak lagi merasakan hujan, dan aku dapat melihat seseorang sedang berdiri di hadapanku. Tangannya bergetar hebat, bahkan aku dapat melihat sekujur tubuhnya menegang.

Di saat aku mendongak, aku dapat melihat bibirnya yang pucat dan raut wajah ketakutan. "Maaf, aku telat datang."

Sedetik kemudian, tangisanku kembali pecah.

.

.

.

[Reccomended song : The Truth Untold - BTS, disarankan mendengar saat membaca bagian ini :( ]

.

.

.

AUTHOR P.O.V

Yoongi merasakan pening yang begitu luar biasa saat Jimin menghantam kepalanya dengan pistol. Namun, aksi yang dilakukan Jimin selanjutnya mampu membuat Yoongi ketakutan.

Jimin melepaskan cincin itu dan melemparnya. Seakan-akan cincin yang mereka pilih bersama tidak memiliki arti apapun. Yoongi panik, dia tahu dia salah—tapi tidak seharusnya seperti ini. Dengan cepat lelaki itu memungut cincin tersebut dan tersenyum tipis.

"Jimin, jangan begini kumohon. Pakai lagi yah?"

Yoongi mengeluarkan suara itu, suara penuh kelembutan. Suara yang tidak pernah ia keluarkan sejak lama. Dia begitu takut jika Jimin—

Jantung Yoongi berhenti berdetak, dia melihat wajah Jimin yang begitu hancur. Lelaki itu tampak rapuh dan bercelah, mampu membuat Yoongi kalah telak dalam hitungan detik.

"A—aku, aku mau pulang… aku mau pulang...," ucap Jimin dengan wajah yang tidak fokus. Membuat Yoongi semakin merasakan takut.

Entah kenapa rasa itu kembali, di saat dirinya melihat Suran di garis kematian. Dia begitu takut hingga tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana kalau kali ini Yoongi kembali gagal melindungi orang yang ia cintai?

Ini salah, semuanya salah.

Seharusnya dari awal Yoongi tidak pernah menampakkan dirinya di keluarga itu, seharusnya dia tidak pernah berpikir untuk kembali mencari Jimin setelah menyadari bahwa dirinya menghancurkan perusahaan Chanyeol.

Seharusnya dia memeriksa lebih mendetail orang yang akan ia bunuh. Seharusnya dia tahu itu adalah Chanyeol, seharusnya dia ingat itu adalah ayahnya Jimin.

Seharusnya dia tidak boleh jatuh hati saat melihat senyum lelaki itu. Seharusnya dia tidak merasakan kebahagiaan saat melihat Jimin yang sedang tertawa.

Seharusnya dia tetap berdiri di tempatnya, mengawasi Jimin dari jauh, memperhatikan bahwa dirinya baik-baik saja. Menyelesaikan seluruh masalah yang Jimin lakukan setiap dirinya dipecat secara sepihak.

Seharusnya tetap seperti itu.

Tapi Yoongi menginginkan Jimin. Lebih daripada hanya melihat dari kejauhan, lebih daripada hanya melindungi lelaki manis itu di balik layar, lebih dari apapun.

Maka saat itu Yoongi mulai berbicara sembarangan. Dia panik, dia kacau, dia merasa bersalah, dia takut kehilangan Jimin. "Ini rumahmu sayang, kumohon. Gunakan cincin ini lagi yah? Jangan begini—"

"Ini bukan rumahku." Jimin memotong perkataan Yoongi, membuat lelaki berkulit pucat itu semakin panik. Di saat Jimin bergerak menjauh, Yoongi menahan tangannya lembut.

"Jimin, aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya, tapi kau harus tenang. Kumohon jangan pergi keluar malam-malam seperti ini. Bagaimana kalau kau terluka? Jika kau tidak mau melihatku, aku yang keluar oke? Aku yang akan keluar—"

"Aku tidak sudi—" Detik itu juga Yoongi tahu semuanya telah kacau. Jimin menghempaskan tangannya, menatapnya seakan dirinya seorang amuba yang menjijikkan. "Aku tidak sudi tinggal bersama lelaki yang telah menghancurkan seluruh hidupku."

Yoongi bisa merasakan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dia takut, begitu takut. Saat genggaman tangannya terlepas, Yoongi dapat merasakan matanya yang memanas. Di saat punggung kecil itu berlari menjauh darinya tanpa ia yakini akan kembali, Yoongi dapat merasakan tetesan darah bercampur air mata menyentuh lantai kerjanya.

Dia hancur.

Sejenak, Yoongi berpikir berbagai macam kemungkinan. Jika, Yoongi menyadari Chanyeol sebelum membunuhnya waktu itu, atau jika dirinya menyadari perusahaan tersebut adalah milik keluarga Park dan tidak membakarnya. Apakah semuanya menjadi berbeda?

Atau paling tidak, bagaimana jika dia memilih membakar habis berkas yang diberikan Taehyung daripada menyimpannya di dalam laci. Jimin tidak akan mengetahui seluruh hal yang ia perbuat 'kan?

Semua berjalan begitu sempurna, kenapa sekarang semua begitu hancur?

Yoongi tidak ingin kehilangan orang yang begitu ia cintai untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin gagal, dia tidak ingin merasakan kehilangan. Dia tidak ingin—

Yoongi begitu teramat menginginkan Jimin.

Saat itulah kakinya tergerak, berlari mengejar Jimin walau kepalanya berdenyut hebat. Dia tidak dapat lagi merasakan detak jantungnya sendiri karena begitu takut. Tepat dirinya berada di ruang tamu, Taehyung menahan pergerakannya. "Hyung, tunggu—ada apa dengan Jimin dan kepalamu?!"

Taehyung tampak shock dan semakin terkejut saat suara guntur menjadi jawaban dari pertanyaanya. Yoongi melepaskan pegangan tangan Taehyung dan menggeleng pelan, "Kepalaku tidak apa. Jimin kabur, aku harus mencarinya—"

"Kalau begitu aku ju—"

"Tidak, kau trauma dengan cuaca seperti ini. Aku tahu." Yoongi langsung melesat pergi, tanpa sedikitpun berpikir untuk memasang alas kaki. Dirinya terus berlari menembus hujan dengan kaus tipis. Tidak merasa kedinginan, tidak pula merasa kesakitan. Dia hanya merasa takut.

Sialnya, Yoongi tidak tahu jalan mana yang diambil Jimin. Yoongi hilang arah dan tidak kunjung menemui lelaki yang ia cintai. Yoongi nyaris menyerah, mengambil jalan lain dan berpikir sejauh mana Jimin bisa kabur dengan cuaca seperti ini.

Lalu di saat kakinya telah lelah berlari, di saat jemarinya lecet karena gesekan aspal, di saat kepalanya semakin berdenyut sakit. Yoongi melihatnya, lelaki itu sedang menangis di bawah payung hitam milik Taehyung.

Jimin memeluk adiknya begitu erat, berteriak mengeluarkan seluruh rasa sakitnya tanpa menyadari Yoongi berdiri di sana. Memperhatikan mereka berdua dengan keadaan yang jauh lebih hancur. Yoongi dapat melihat tubuh Taehyung bergetar hebat, tapi masih mampu menenangkan Jimin tanpa menunjukkan trauma mendalamnya.

Hal itu membuat Yoongi meloloskan tawa pelan. Bahkan di saat dirinya begitu kacau, bercelah, dan terus hancur hingga menghilang dari bumi.

Yoongi masih menginginkan sesosok Park Jimin untuk menjadi pendamping hidupnya.

.

.

.

TBC

You might want to know :

"Apa mimpi ahjussi?" Bocah kecil itu bertanya, seraya merangkai bunga yang ia petik dari taman dan mendongak. Menatap Yoongi yang masih mengunyah kimbab murahan, namun memiliki rasa seperti di restoran bintang lima. Akh, Yoongi selalu suka dengan makanan di toserba 24 jam.

"Mimpiku? Apa yah…." Yoongi meloloskan tawa pelan, sejujurnya dia tidak memiliki mimpi sama sekali. Setelah menyaksikan kekasihnya sendiri ditembak mati dan diusir dari rumah dengan keadaan penuh luka. Mungkin yang Yoongi inginkan saat ini adalah kematian.

Toh, selama dia hidup dia tidak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan, kecuali saat bersama Suran.

"Mungkin, pergi ke surga." Yoongi menjawab asal, tapi bocah yang sedang sibuk membuat mahkota bunga itu langsung berteriak heboh.

"Sulga? Jimin juga mau ke sulga! Jimin mau pelgi menemui nenek!"

"Yah, setidaknya latih dulu mulutmu untuk berbicara dengan benar sebelum berpikir untuk ke surga."

Jimin langsung merengut saat mendengar perkataan Yoongi, dirinya kemudian bertanya, "Memangnya kita halus bisa belbicara dulu balu bisa ke sulga?"

Yoongi menaikkan bahunya acuh tak acuh, "Yah mungkin."

Percayalah, Yoongi selama enam hari ini sudah seperti gelandangan yang siap untuk mencuri Jimin kapan saja. Penampilan Yoongi tampak seperti orang yang sangat kacau, dengan bekas luka yang belum sembuh sempurna.

Mungkin, jika ada yang melihat mereka. Yoongi akan dikira seperti penjahat pedofil yang siap menyicipi tubuh Jimin kapan saja dan mengurungnya entah dimana. Untung saja sejauh ini tidak ada yang menelpon polisi.

Yoongi sejujurnya hanya ingin sendiri, dia ingin berpikir secara matang-matang. Apakah ia harus melanjutkan hidup atau mati saja?

Atau dia harus berjuang sekali lagi?

Tapi apa ia sanggup berjuang tanpa ada Suran di sisinya? Selama ini Suranlah yang menjaganya, merawatnya, dan mencintai dirinya. Apa dia sanggup berdiri sendiri? Dan melanjutkan mimpinya yang tertunda?

Mendadak, Yoongi merasakan sesuatu di kepalanya. Dia langsung menoleh ke arah samping, menatap Jimin yang sudah menaiki bangku taman dan berdiri dengan sedikit berjinjit. Bocah kecil itu berusaha memasangkan mahkota bunga di atas kepala Yoongi.

"Nah! Pelsis sepelti pangelan tampan di buku celita!"

Tanpa sadar, Yoongi langsung meloloskan tawanya. "Benarkah? Apa kau memiliki cermin?" Jimin mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya dan menunggu reaksi Yoongi.

"Wah kau benar! Aku tampak seperti pangeran tersesat yang menyamar jadi gelandangan."

Jimin langsung mengangguk setuju, dan itu membuat Yoongi ingin menjitak kepala bocah itu. Namun, setelah itu Jimin tersenyum manis. "Ahjussi, suka?" tanyanya penuh harap.

"Suka, suka." Yoongi menjawab dengan nada bercanda. Namun, tidak dengan Jimin yang langsung meloncat turun dari kursi dan berteriak senang.

"Kalau Ahjussi pangelan aku putlinya yah!" katanya seraya mengedipkan satu mata. Berhasil membuat Yoongi kembali tertawa.

"Dari mana kau belajar mengedipkan matamu?" tanya Yoongi.

"Dali tipi! Jadi Ahjussi kalau mau ke sulga bawa mahkotanya yah! Ahjussi bisa menjadi yang paling tampan di sana."

Waktu itu, di saat Yoongi bisa tertawa untuk kesekian kalinya. Yoongi kembali berpikir, mungkin dia harus menunda pikiran untuk bunuh diri. Lagipula manusia seperti dia akan berakhir di neraka, bukan surga.

Genap enam hari sudah Yoongi dibuat tertawa oleh bocah kecil bernama Park Jimin. Dan itu mampu membuatnya menjernihkan pikirannya.

Setelah berhari-hari hidup bagaikan gelandangan, akhirnya Yoongi membuat rencana. Dia akan pulang, menemui ayahnya dan meminta maaf. Dia akan secara perlahan merebut kekuasaan, melanjutkan mimpinya sejak lama dan kembali mencari Jimin. Paling tidak Yoongi ingin memberikan Jimin uang atau apalah yang ia butuhkan suatu saat nanti sebagai tanda terima kasih.

Akan tetapi, di saat Yoongi ingin mengucapkan salam perpisahan dengan Jimin. Bocah mungil itu sudah melambaikan tangannya dari gerbang masuk taman. Berteriak heboh seakan tidak ada orang lain selain mereka berdua, "SAMPAI KETEMU BESOK AHJUSSI!"

Sekali lagi, Yoongi tertawa pelan. Bocah itu, ada-ada saja tingkahnya. Yoongi mengambil mahkota bunga yang ada di kepalanya dan tersenyum. Mahkotanya hancur, bahkan bisa dikatakan jelek. Tapi yasudahlah, Yoongi akan menggunakan itu satu harian.

Saat itu dia berpikir banyak hal, menyusun banyak rencana. Satu hal yang ia catat di otaknya, dia harus kembali mencari Jimin dan mengatakan terima kasih karena mampu membangkitkan semangat hidupnya.

Tanpa menyadari bahwa beberapa tahun kedepan kata permintaan maaf adalah satu-satunya hal yang keluar dari mulutnya.

.

.

.

Sebelum balas-balas review :

Fakta bahwa Taehyung trauma akan hujan, namun tetap mencari Jimin. Membuat hatiku meleleh. Wkwkwk. Ah, btw… aku buat akun wattpad. Namanya sama Park In Jung, mungkin beberapa dari kalian sudah mengetahui hal ini. But, tolong jangan spoiler di akun sana. Wkwkwk. Aku terpaksa menghapus spoiler kalian. Jangan curang! Kasihan pembaca di sana belum mengetahui apa-apa. Wkwkwk.

Dan aku membuka READY STOCK untuk A Mask. Mana tahu kalian tertarik untuk membeli bukuku. Kali ini cepat kok prosesnya, karena barangnya udah ada.

Apalagi yang ingin aku bicarakan? Ah… jangan melihat papan conversationku di wattpad. Karena kalian akan mengetahui betapa anehnya diriku.

HIKS DAN AKU MERINDUKAN KALIAN HUEEEEEEE.

BALASAN REVIEW CHAPTER 9 :

Ikaorii, hueeee… makasih telah menunggu setelah sekian lama. Wkwkwk. Love you!

Zheend, aku selalu semangat wkwkwk. Terima kasih telah menunggu!

Mutianafsulm, akhirnya setelah menunggu 9572728 tahun… kau membaca chapternya. Kuharap kau tidak beruban sekarang…

Teman minum kopi, hue hue maafkan saya… saya menulis chapter 9 itu dalam kondisi ngantuk dan pikiran "gas sajalah." Wkwkwkw, terima kasih atas kritiknya.

Sugarrrku007, comeback… emangnya saya boyband apa TT

Rrn49, pagi-pagi awalilah dengan kebaperan.

MinPark, jangan menangis sayangku… TT huhu aku akan ikutan menangis. Btw aku sangat suka lagu only you. Kuharap kau menyukainya juga!

Honeymon, ahhh, bisakah aku hidup menjadi pengangguran dan menulis ff setiap hari tanpa kuliah? (yah, jadi curcol) Btw, Yoongi gak trauma… dia hanya, kacau. Begitulah.

Yoonminable, hei! Aku suka usernamemu. Makasih telah menunggu ff ini~

YOONMINs, woahh, I love you to!

Meaniya, aku tidak janji happy ending, tapi tidak juga sad ending. Aku ingin mengakhirinya dengan ending yang ok. Wkwkwk.

ChiminsCake, aku lapar setiap membaca usernamemu…

Deebul, karena Jimin bukan bambang kak :

Ameliakurniasa8, semua akan diperjelas di chapter mendatang! Yuhuuu

Lilcyriel, maafkan… aku memang author bekas penulis misteri. Jadi semua yang aku ciptakan akan menjadi sangat rumit. Wkwkwkkwwkkw.

ChoiJayy, ini apdet beb…

Walf7, kangen kamu akunya /wink/

Kutubb, aamiin… moga mereka juga nikah di real life.

Meimei, kalau bahagia terus gak seru dong ff nya :

Rafiazalpp, dari sekian banyak review… aku mencintai reviemu. Sungguh.

Kang Ha Neul, awww… your comment just made my day.

Vict82, yo dek… kita berbicara setiap hari. Aku malas membalas reviewmu! XD

May, lemas? Minum pocari sweat untuk mengembalikan ion tubuhmu yang hilang~

Flwrshy, your choice udah apdet kakak. Wkwkwkkw.

Rens, thank you sudah membaca. It's means a lot for me.

Lil, apa yang kau pikirkan?

Rens, kenapa kau komentar dua kali : atau kalian orang yang berbeda tapi namanya sama?

Keei Luen, yoongi masih suka sama suran tidak yah? wkwkwk next chap dibahas.

Haneunseok, iya itu Jimin nanya kok :

Itsathenazi, Taehyung akan selalu menjadi penggangu yoonmin karena saya mencintai vmin so mucheu… huhuhuhu

Lex1227Mine, omagahh I love that kind of oh my god but omagahh

Joty Army, yoongi tidak menyakiti jimin… huhuhu dia hanya membuat jimin sedih (sama aja bego)

Minyoonheart, JANGAN NYESEK WOI JANGAN

Jdsbf kjsdfnhsuafjishfsjhf I love your review!

Setelah sekian lama aku hiat, akhirnya aku bisa kembali membaca review-review kalian yang membuat semangat! Terima kasih teman~

Maafkan diriku chap yang ini sedikit pendek.

But salam tak pernah terlupakan!

Love and peace :3