DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.

GENRE :

Adventure & Romance

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^

.

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 10 : BLOOD

Mereka telah mengembara tanpa tujuan selama berminggu-minggu, berusaha menemukan makhluk gaib namun sejauh ini mereka tak menemukan satupun; benar-benar nihil. Hal itu membuat Kurapika marah, karena ia menganggap perjalanan ini membuang waktu saja. Lebih buruknya lagi, Kuroro terlihat menikmati perjalanan itu dan sepertinya ia tak terganggu dengan keluhan dan omelan Kurapika yang terus-menerus; bahkan ia terlihat terhibur dengan sikap Kurapika yang seperti itu. Perubahan sikap Kuroro terhadapnya pun membuat Kurapika merasa terganggu. Sementara sebelumnya Kuroro selalu menutupi segalanya dari Kurapika, jarang bicara padanya, akhir-akhir ini ia bicara pada Kurapika dengan sangat berbeda. Bukan masalah bagi Kuroro, apakah Kurapika menjawab perkataannya atau tidak, ia akan memberitahu gadis itu tentang berbagai macam hal; kebanyakan adalah hal-hal yang sepele. Kuroro akan memberitahu Kurapika tentang kota yang mereka kunjungi; tanaman dan ramuan herbal berbahaya yang mereka jumpai dalam perjalanan itu, binatang, apapun. Yang paling penting lagi, meskipun demikian, Kurapika menyadari bahwa belenggu gaib itu telah cukup melebar; sekarang jaraknya sudah hampir lebih dari satu meter. Kurapika tidak tahu apakah dia harus merasa senang; karena ia tidak tahan lagi berada di dekat pria itu, atau merasa kesal; karena itu pun berarti bahwa hubungan mereka sudah menghangat terhadap satu sama lain.

"Hei," Kurapika memulai percakapan terlebih dahulu, dan hal ini jarang terjadi.

"Ya?" Kuroro bertanya tanpa menoleh dan melihat pada Kurapika . Meski demikian, Kurapika pun tak peduli.

"Bagaimana mungkin kita belum menemukan satupun makhluk gaib?"

"Mereka disebut makhluk gaib ada alasannya, kau tahu," Kuroro menjawab sambil menahan tawa. "Lagipula, semakin kuat mereka, semakin sulit pula untuk menemukannya."

"Ck, menyusahkan," Kurapika mengeluh lagi.

Kuroro hanya menghela napas dan terus berjalan. Saat tiba-tiba ia merasakan sentakan ke tubuhnya, ia berhenti dan berbalik sambil menaikkan sebelah alis matanya. Kurapika berhenti berjalan, dan sedang menatap tangannya. Tepatnya, menatap cincin yang tersemat di jarinya.

"Ada apa?" tanya Kuroro.

"Batunya…," Kurapika bergumam, matanya masih tertuju kepada cincin itu. Kuroro melirik cincin yang dikenakan Kurapika, dan menyadari perubahannya. Warna batu safir itu berubah menjadi merah.

Seolah menguatkan hal itu, mereka mendengar suara raungan tak jauh dari sana. Kuroro dan Kurapika saling bertukar pandang, sebelum bergegas menuju ke di mana suara itu berasal. Segera saja mereka sampai di tanah terbuka dan berhadapan dengan makhluk bertubuh singa, berkepala kambing di tengah-tengah badannya, dan memiliki ekor dengan ujung kepala ular. Mata Kurapika membelalak terkejut, belum pernah sebelumnya ia melihat makhluk yang menyeramkan seperti makhluk itu. Di lain pihak, Kuroro lebih terlihat seperti terganggu daripada terkejut.

"Benar-benar tidak biasa, seekor Chimera akan pergi ke tempat seperti ini," ia bergumam.

"Jadi apa yang kita lakukan sekarang?" Kurapika bertanya, ia tersentak saat Chimera itu meraung lagi, matanya yang berapi-api berkobar kelaparan ke arah mereka.

"Bunuh binatang itu." Dengan mengibaskan pergelangan tangannya, Kuroro melemparkan jarumnya ke arah makhluk itu, tapi targetnya menghindar dengan mudah. "Chimera tidak akan membiarkan mangsanya kabur."

Tanpa basa-basi, Chimera itu melompat; tubuh raksasanya melintasi udara dengan luwes seperti seekor kucing, cakarnya yang tajam tertuju ke arah Kuroro dan Kurapika. Kuroro menekuk lututnya bersiap untuk melompat, tapi Kurapika tidak melakukan hal yang sama. Ia menatap makhluk itu, lalu melirik tangannya. Ini kesempatan yang bagus untuk mencoba rantai barunya. Kurapika mengeluarkan rantai itu. Dengan membalikkan tangan, ia mengarahkan Counterattack Chain-nya kepada makhluk itu. Rantainya melilit chimera itu dan membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Makhluk itu jatuh ke tanah dengan suara berdebum yang keras, mengakibatkan tanah sedikit bergoyang.

Chimera itu berjuang untuk membebaskan dirinya, rantai yang melilitnya berderak seolah akan hancur. Namun tak ada yang terjadi. Chimera itu tetap terikat, ekor ularnya mendesis marah, sementara kepala singanya menggeram. Frustasi, makhluk itu membuka mulutnya dan memuntahkan aliran api ke arah Kuroro dan Kurapika. Keduanya menghindar, dan dengan jentikan tangan Kurapika, rantainya mengikat rahang singa itu...mencegahnya mengeluarkan api lagi.

"Rantai apa yang kaugunakan?" tanya Kuroro penasaran.

"Counterattack Chain," Kurapika hanya menjawab tanpa memberikan penjelasan apapun lagi. Ia yakin bahwa nama rantainya sudah cukup menjelaskan dan Kuroro cukup pintar untuk mengetahui apa kegunaannya. Meski demikian, Kurapika tidak menyebutkan bahwa rantai itu tidaklah sekuat Chain Jail-nya, dan tidak menjadikan tawanannya ke dalam status Zetsu. Kekuatan Reinforcement milik Uvogin mungkin saja bisa menghancurkan Counterattack Chain.

"Apakah rantai itu bisa digunakan untuk semua lawan?"

"Apapun yang menyerangku," jawab Kurapika lagi. "Bukankah kau akan membunuhnya?"

Kuroro memutar matanya; jika Kurapika mau, gadis itu bisa saja membunuh chimera. Singkatnya ia menyerahkan 'pekerjaan kotor' itu pada Kuroro. Walaupun begitu, menjawab pertanyaan Kurapika, Kuroro menembakkan jarumnya pada makhluk itu yang terbaring tak berdaya di tanah. Ia memilih mata dan kening makhluk itu sebagai targetnya. Chimera itu meraung kesakitan. Merasa tak enak dengan adegan yang mengkhawatirkan itu, Kurapika melirik Kuroro, dan melihat sikapnya yang dingin dan tidak peduli terhadap kondisi chimera yang mneyedihkan. Kurapika mengejek Kuroro di dalam hatinya, menganggapnya lebih hina.

Akhirnya chimera itu berhenti meraung, dan saat kepalanya terkulai lemah, dadanya menghela napas berat seolah-olah menghembuskan napas terakhir, makhluk itu meluncurkan serangannya yang penghabisan dan penuh dendam. Terlalu sibuk dengan berbagai pikiran yang mengganggu, Kurapika tidak menyadari sesuatu datang ke arahnya. Kuroro melihat sesuatu bergerak dari sudut matanya, tapi ia terlambat bereaksi.

Kurapika melenguh keras kesakitan. Kuroro menatapnya ngeri saat ia melihat kepala ular di ekor chimera menghujamkan taringnya yang mematikan ke leher lembut Kurapika. Matanya membelalak dan mulutnya menganga, namun tak ada jeritan yang keluar. Lututnya menjadi lemas, tapi sebelum ia jatuh dengan wajah membentur tanah terlebih dahulu, Kuroro menarik sikunya dan merenggut kepala ular itu dari leher Kurapika dengan kasar. Dengan gerakan lengannya yang cepat, Kuroro memisahkan kepala ular dari tubuhnya dan menyingkirkan bangkainya jauh-jauh. Ia berbalik kepada Kurapika dan melihat darah keluar melimpah dari luka tusukan bergerigi di lehernya.

"Kurapika!" Kuroro memeluknya lebih erat dan memanggil namanya.

Si Gadis Kuruta terlihat membeku di tampatnya. Matanya; yang telah berubah warna menjadi merah membara, menjadi tidak fokus namun membesar. Suara kesakitan yang terengah-engah dan tidak teratur keluar dari mulut Kurapika dan tubuhnya mulai bergetar hebat, seolah ia mengalami stroke ringan. Ia tak bisa lagi berdiri dengan benar dan Kuroro harus menyokong gadis itu dalam pelukannya. Ia dapat melihat wajahnya memucat dengan cepat, dan segera setelah itu wajah Kurapika terlihat pucat pasi seperti mayat.

"Kurapika!" Lagi, Kuroro memanggilnya dan Kurapika menanggapi dengan menggerakkan matanya ke arah pria itu, Mata Merah yang hanya menunjukkan kengerian, ketakutan dan kesakitan. Bahkan dalam hitungan detik, Kuroro dibuat kagum karenanya; secara naluri Kuroro merasa bahwa ia tidak boleh kehilangan mata itu, walau apapun yang terjadi.

Sambil menggerutu dalam helaan napasnya, Kuroro mengambil pisau lipatnya; pisau yang tidak dilumuri racun, dan menggores bekas gigitan di leher Kurapika dengan hati-hati untuk menghindari pembuluh darah arterinya. Kuroro melihat bahwa bekas gigitan itu melewatkan pembuluh darah utama hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja. Ia memperkirakan, mungkin gadis itu sempat melihat serangan di menit terakhir dan bergerak menghindar, atau itu hanya murni keberuntungannya saja. Bagaimanapun juga, Kuroro harus menghisap darahnya sebagai pertolongan pertama.

Kuroro berjongkok di tanah dan memeluk bagian atas tubuh Kurapika yang lemah; menyokong batang tubuhnya dengan satu lengan sementara lengan yang lain merawat luka Kurapika. Kuroro memencet daerah di sekeliling luka yang ia buat untuk mengeluarkan darah yang kotor, lalu ia membungkuk untuk menghisap racunnya. Kuroro yakin tidak ada luka di mulutnya, dengan demikian kemungkinannya kecil bagi Kuroro teracuni sampai mati sementara ia berupaya menyelamatkan nyawa gadis itu. Kuroro menghisap dan meludahkan darah beracun ke tanah, mengulangi tindakannya beberapa kali hingga ia tak merasakan lagi rasa asam dari racun itu. Kuroro tahu bahwa dia belum menghisap seluruh racunnya, tapi pertolongan pertama ini cukup untuk membuat Kurapika bisa bertahan hidup selama dua hari; tiga hari jika dia cukup kuat.

Kurapika tersentak kesakitan, napasnya tak beraturan dan terengah-engah seolah ia kesulitan bernapas. Bola matanya berubah-ubah arah dengan panik di dalam kantung matanya, keringat dingin membanjiri kening dan punggungnya. Pakaian Kurapika sudah setengah basah kuyup dalam darahnya sendiri, dan Kuroro tahu bahwa dia harus menghentikan pendarahannya terlebih dahulu, kalau tidak Kurapika akan mati karena kehabisan darah dan bukannya karena racun. Kuroro merobek kerah baju Kurapika dan menjadikannya perban lalu melilitkan kain itu ke sekeliling lehernya yang berdarah. Dalam waktu sebentar saja, perban itu sudah seluruhnya berubah warna menjadi merah.

"Bertahanlah," Kuroro berbisik padanya, walau ia tahu Kurapika sudah tidak bisa mendengarnya lagi, ataupun memahami kata-katanya. Tanpa buang waktu lagi, Kuroro pergi secepat mungkin. Hanya ada satu tujuan dalam benaknya; satu-satunya tempat yang dapat menyelamatkan nyawa Kurapika, dan juga nyawanya.

.

.

Ia terbangun dengan cara yang tidak biasa. Biasanya, ia terbangun oleh keberadaan sekilas dari Nen atau aura orang asing, atau suara langkah kaki menapak pasir dari kejauhan, atau bau orang-orang yang terbawa angin gurun pasir, yang membangunkannya dari tugasnya yang mudah, yaitu menjaga gerbang kota. Kali ini, ia terbangun oleh bau darah kotor yang tajam.

Menegakkan tubuhnya yang sudah tua tapi masih berotot, Jan mengarahkan matanya ke horizon yang jauh yang menandai permulaan gurun pasir yang mengelilingi kota 'pembuangan sampah' itu. Jan menunggu sesuatu untuk muncul, dan perkiraannya cukup tepat, ia melihat suatu sosok mendekat—dalam kecepatan yang menakjubkan. Jan berdiri dan bersiap kalau saja yang tengah mendekatinya saat ini adalah bahaya. Ia menunggu hingga sosok itu cukup jelas terlihat olehnya, dan yang membuat Jan terkejut, ia memang mengenalnya.

"Kuroro?" panggil Jan bingung. Pria itu berlari menuju ke kota, rambut hitamnya turun dan berantakan, ia pun membawa buntalan besar dalam pelukannya.

"Jan, buka gerbangnya!" Kuroro berkata dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh pria tua penjaga gerbang itu, suaranya menyeberangi jarak yang belum ia tempuh, namun terdengar cukup tenang sehingga tidak mengagetkan.

"Baiklah." Jan mengangguk dan dengan tergesa-gesa membuka gerbang dan menahannya sehingga Kuroro dapat menyelinap masuk ke dalam kota tanpa berhenti. Bahkan Kuroro pun tidak mengucapkan terima kasih; hal ini membuat Jan cukup terkejut. Jan menggaruk bagian belakang kepalanya saat ia kembali duduk di tempatnya yang biasa; Kuroro tidak pernah begitu tergesa-gesa sebelumnya, tidak selama hidupnya saat ia melihat Kuroro tumbuh dewasa.

Bahkan Kuroro tidak mau repot untuk melalui jalanan yang biasa. Ia mengambil jalan pintas, melompat dari peti kayu ke balkon, dari atap ke atap, hingga ia sampai di tempat yang dituju. Kuroro mendarat di depan gerbang kuil, buntalan dalam pelukannya tidak bergerak dan tidak terganggu oleh pendaratannya dari gedung berlantai tiga. Kuroro bergegas masuk ke dalam kuil, melihat jalan masuk di sana sudah terbuka untuknya. Mengabaikan rasa kesalnya; yang tak berarti bila dibandingkan dengan situasi yang sulit ini, ia melompat ke dalam jalan masuk itu tanpa merasa ragu sedetik pun.

.

.

Ishtar mengeluarkan asap dari mulutnya dengan malas, jemarinya memainkan pipa hookah-nya, menunggu kedatangan tamu yang sudah ia antisipasi sebelumnya. Pintu pun terbuka, atau lebih tepatnya, ditendang hingga terbuka oleh seorang pria dan ia menderap ke dalam ruangan...lurus ke arahnya, sementara buntalan dalam pelukannya masih tetap aman.

"Aku sudah menunggu. Kemari, ikuti aku."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut atau apapun, Ishtar bangkit dan meluncur melewati ruangan menuju ke pintu lain. Ia membukanya dan membiarkannya tetap seperti itu untuk Kuroro. Tanpa mengatakan apapun, Kuroro melangkah mengikuti Ishtar dari belakang, berjalan dengan cepat di sepanjang terowongan yang gelap sebelum akhirnya keluar di dalam hutan yang lebat. Kuroro menyipitkan matanya saat cahaya menerpanya, sementara Ishtar terlihat tidak terpengaruh oleh perubahan kecerahan yang drastis di sekelilingnya. Ia berjalan ke dalam hutan, dan Kuroro mengikuti dekat di belakangnya. Mereka berjalan tanpa berhenti hingga sampai di sebuah kolam kecil.

"Masuklah. Kau tahu apa yang harus dilakukan." Ishtar berhenti dan melangkah bergeser ke samping sambil mengisyaratkan ke arah kolam dengan sedikit menggerakkan kepalanya yang cantik.

Kuroro menatapnya sesaat, sebelum mulai melepaskan pakaian yang membungkus tubuh Kurapika. Ia pun melepaskan perban basah yang melilit lehernya yang terluka, sebelum berjalan ke arah kolam. Di tepi kolam, Kuroro berhenti dan menoleh kepada Ishtar lagi.

"Ini dulu," Ishtar mengangguk memahami maksud Kuroro.

Kuroro memalingkan wajahnya dan melompat masuk ke danau tanpa sesaat pun merasa ragu. Dari pandangan Ishtar, ia dapat melihat air danau berubah warna menjadi hitam dalam waktu sekejap saja. Ia mengernyit melihatnya, dan menoleh ke arah Basille, yang mengamati semua itu dari dahan pohon.

"Jemput dia untukku, maukah kau?"

Basilisk itu mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum ia merayap turun dari dahan dan bergerak lebih jauh ke kedalaman hutan.

Air danau itu dingin menggigit, namun menyegarkan. Airnya terlihat seperti hidup, bergerak di sekitar mereka dalam tarian yang halus. Darah hitam mengalir keluar dari luka di leher Kurapika segera setelah mereka berada di dalam air. Kuroro memaksa matanya tetap terbuka dan melihat darah mengalir keluar dalam jumlah yang tak masuk akal. Ia menunggu dengan sabar hingga semua racun itu tertarik keluar.

Terlebih lagi, Kuroro mendengar air itu berbicara padanya. Bulu kuduknya merinding setiap saat ia berada di dalam danau, dan hal itu masih terasa baru baginya. Ia tak pernah merasa terbiasa dengan itu. Kuroro melihat ke sekitarnya, mengira akan melihat seseorang mengambang di dalam air, berharap bahwa ia dapat melihat roh danau itu sekali saja. Ia teringat bertahun-tahun yang lalu, saat ia terkena racun untuk pertama kalinya dan dibuang ke danau oleh Ishtar. Untuk perawatan, kemudian wanita itu berkata, tanpa menjelaskan pada Kuroro sebelumnya. Kuroro pun panik, ia hanya anak berusia sepuluh tahun, takut akan tenggelam atau mati karena racun. Air danau itu memeluknya dengan lembut dan mengeluarkan racun dari sistem peredaran darahnya, menyelamatkan hidupnya.

Kuroro menoleh lagi untuk mengamati proses perawatan luka Kurapika, dan terkejut saat melihat darah gadis itu sudah berubah kembali ke warna merahnya yang biasa. Dengan cepat, ia berenang ke permukaan, memeluk erat tubuh Kurapika yang lemah. Segera setelah sampai di permukaan, ia segera mengambil napas. Kepala Kurapika bersandar di bahunya dengan lemas, matanya masih terpejam dan napasnya pelan, hampir tak terdengar. Kuroro masih bisa sedikit merasakan dada gadis itu naik turun saat ia menekankan tubuh Kurapika ke tubuhnya, menunjukkan bahwa setidaknya Kurapika masih bernapas.

"Ayo, keluar dari sana," ucap Ishtar pada Kuroro dengan tidak sabar dan mulai melangkah menuju ke tempat di mana mereka datang tadi.

Dengan patuh, Kuroro berenang menuju ke tepi dan mengangkat tubuh Kurapika keluar dari air dan membaringkannya di tanah sebelum mengeluarkan tubuhnya sendiri. Saat melakukan hal itu, Kuroro merasakan dorongan air membantunya keluar dari danau. Ia melirik ke permukaan danau yang sedikit bergerak, tapi ia tak mengatakan apapun. Kuroro mengangkat Kurapika yang masih tak sadarkan diri dan berjalan dengan cepat menuju ke mana Ishtar pergi.

Sesampainya di dalam, ia diantar menuju ke kamar lain. Di dalam kamar itu, seorang wanita tua keriput sudah menunggunya. Punggungnya yang bungkuk dan keriput yang ada di sekujur tubuhnya menunjukkan bahwa umurnya sudah mendekati seratus tahun, atau lebih. Wanita itu mendongak saat Kuroro masuk bersama Kurapika dalam pelukannya; keduanya basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wanita itu mendengus pelan dan berjalan tertatih-tatih melintasi kamar, berdiri di antara dua tempat tidur yang disiapkan di tengah kamar.

"Baringkan dia di sini, Nak," perintahnya, suaranya terdengar kuno seperti suara angin. "Jangan hiraukan kondisimu yang basah. Kita akan mengatasinya nanti."

Menatap wanita itu dengan hati-hati, Kuroro meletakkan Kurapika di salah satu tempat tidur dan ia melangkah mundur sejauh jarak yang diijinkan belenggu gaib itu, memberi ruang bagi Si Wanita Tua untuk memeriksa Kurapika. Si Wanita Tua melihat Kurapika yang tertidur dan ia benar-benar mengernyit. Ia membaui udara yang berada di sekitarnya, seolah mencoba untuk mengenali sesuatu; lalu ia mendengus dan mengerutkan hidungnya seolah merasa jijik.

"Racun chimera. Apa yang sudah kaulakukan, Nak? Sudahlah, aku akan menanyakannya sendiri pada Lady," ia bergumam sendiri seperti wanita yang setengah gila. "Sekarang...golongan darahnya apa?"

"Aku tidak tahu," jawab Kuroro jujur. Lagipula bagaimana mungkin ia bisa mengetahui hal itu?

"Ck! Basille, kemarilah dan lakukan tugasmu!" panggil Si Wanita Tua dengan suara paraunya ke arah sudut gelap kamar itu. Segera saja Kuroro dapat mendengar suara merayap pelan saat Basille bergerak masuk ke dalam kamar.

Basilisk itu segera keluar dan mendekati tempat tidur di mana Kurapika berbaring. Ia menegakkan tubuhnya di atas gadis itu, lidahnya menjulur keluar membaui udara. Ia membungkuk, menggerakkan tubuhnya lebih dekat ke Kurapika, yang masih dengan tenangnya tidak menyadari kedekatan antara dirinya dan ular itu. Basille kemudian merasakan darah Kurapika dengan sedikit menyentuhkan lidahnya yang bercabang ke noda darah yang ada di pakaian gadis itu. Mata merahnya yang bulat berkedip beberapa kali, sebelum ia berbalik ke Si Wanita Tua, lalu kemudian ke Kuroro.

"Golongan darahnya sama dengannya...sss...," Basille berkata dalam desisannya yang khas, matanya tertuju kepada wajah Kuroro yang terkejut.

"Sama seperti dia, hah? Kebetulan sekali. Apa golongan darahmu, Nak?" Si Wanita Tua menoleh kepada Kuroro.

"AB," jawab Kuroro pendek.

"Kau berbaringlah di tempat tidur yang satunya lagi. Kita akan mentransfusikan darahmu padanya; dia sudah kehilangan terlalu banyak darah," Si Wanita Tua berkata sambil menyibukkan dirinya di sekitar tempat tidur. Kuroro mematuhi perintahnya dan berbaring di tempat tidur yang terletak di sebelah tempat tidur Kurapika. Ia menatap wanita tua itu, bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan kemudian. Ia tidak melihat peralatan transfusi darah apapun, atau peralatan medis lainnya.

"Sekarang, tidurlah."

Setelah mengatakan hal itu, Si Wanita Tua memancarkan Nen-nya dan menyelimuti Kuroro dan Kurapika dengan Nen. Tiba-tiba Kuroro merasakan kantuk menyerangnya dan ia tidak melawannya. Dalam waktu sekejap saja, ia sudah tidur nyenyak. Si Wanita Tua menggenggam tangannya dan menggosoknya seolah berusaha memberikan kehangatan pada tangannya yang keriput itu. Lalu ia melepaskan genggaman tangannya dan meletakkan masing-masing tangannya ke tangan Kuroro dan Kurapika.

"Jekyll dan Hyde, keluarlah," ia bergumam, dan Nen-nya mulai berbentuk menjadi dua pria kecil sebesar telapak tangan. Salah seorang dari mereka memakai jas dokter berwarna putih, sedangkan yang satunya lagi berwarna hitam.

Tanpa menunggu perintah lain dari Si Wanita Tua, kedua dokter Liliput itu mulai bekerja sendiri.

"Memeriksa kecocokan darah; oke. Penyakit menular dalam sistem peredaran darah; nihil. Tekanan dan jumlah darah pendonor; stabil dan aman."

Mereka bergumam dan melakukan prosedur dengan rapi, memeriksa semua kondisi yang diperlukan untuk melakukan transfusi darah. Terakhir, mereka membuat tabung panjang dari Nen mentah, lalu menusukkan setiap ujungnya ke jantung Kuroro dan Kurapika; tanpa benar-benar membuat luka fisik apapun. Darah mengalir dari tubuh Kuroro ke dalam tabung, beralih masuk ke tubuh Kurapika.

Di sudut kamar itu, bersembunyi dalam kegelapan, Ishtar mengamati semua proses itu sambil tanpa sadar membelai kepala Basille. Raut wajahnya terlihat aneh, tapi ia tetap diam.

.

.

Ia menyentuh sehelai rambut pirang Kurapika dari wajah pucatnya dengan lembut, seperti seorang ibu yang sedang membelai putrinya yang tengah tertidur. Ia mengamati wajahnya; berbentuk hati, kurus, dan pucat karena sakit. Ishtar memperhatikan bahwa Kurapika menjadi lebih kurus daripada sebelumnya saat ia datang terakhir kali, maka Ishtar memutuskan untuk menanyai Kuroro nanti. Ishtar melirik anak angkatnya, yang sedang tidur nyenyak di sebelah gadis itu. Wajahnya pucat karena kelelahan dan kehilangan darah akibat transfusi.

"Ah, kau di sini," sebuah suara parau memanggil dari balik tirai marun transparan, dan sosok yang bungkuk menarik tirai itu lalu memasuki kamar tidur yang hanya dibatasi oleh tirai.

"Hatsubaba, terima kasih atas bantuanmu." Lady Ishtar menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat dan terima kasih pada wanita tua itu, namun tabib itu hanya mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.

"Tidak apa-apa. Sebenarnya, aku berterimakasih karena kau telah memanggilku, jadi aku bisa bertemu anak itu lagi. Oh, dia sudah tumbuh menjadi sangat tampan." Wanita itu tertawa seperti nenek sihir. "Jadi siapa gadis itu? Kekasihnya?"

"Tidak juga. Teman seperjalanan, mungkin?" Ishtar tertawa pelan sambil memandang Kuroro dan Kurapika.

"Teman seperjalanan? Anak itu tidak pernah membawa teman seperjalanan bersamanya," Hatsubaba mendengus.

Ishtar tersenyum melihat sikap wanita tua itu, kemudian dengan singkat ia menjelaskan keadaan yang dialami Kuroro dan Kurapika. Di akhir cerita Ishtar yang pendek itu, Hatsubaba tertawa dengan gembira.

"Anak itu akan belajar banyak pelajaran hidup dari pengalaman ini. Ha, perlakukan dia dengan benar!"

"Mungkin, kuharap begitu." Lagi, Ishtar membelai rambut Kurapika yang halus dengan lembut, namun kali ini gadis itu sedikit bergerak.

Kurapika merasa kepalanya melayang, seolah ada kabut di dalam benaknya, membingungkan indranya. Ia merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya, tapi dia tahu mereka tidak bermaksud untuk melukainya. Kurapika berusaha membuka matanya, dan setelah bersusah payah ia pun berhasil. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah pucat dengan rambut hitam yang ikal.

"Kurapika, kau sudah bangun," Ishtar bicara padanya dengan pelan, nada suaranya terdengar senang.

"Nnh...," Kurapika mengerang saat tubuhnya terasa lesu dan berat. Kurapika menoleh untuk melihat sekitarnya, tapi ia tidak begitu mengenali tempat itu. Ada banyak tirai transparan tergantung di sekelilingnya; udaranya terasa sedikit berat dengan keharuman sandalwood, tapi ia merasa hangat dan aman. Kurapika melihat kembali wajah pucat yang sedang bicara padanya, kali ini ia mengenalinya.

"Lady Ishtar?" Kurapika mengenali wanita itu, suaranya paraudan serak.

"Diamlah, Nak. Biarkan aku yang bicara," Ishtar berkata sambil meletakkan salah satu jarinya di bibir Kurapika. Hatsubaba pun lebih mendekat ke arah gadis itu, ia penasaran...ingin mendengar percakapan mereka.

"Kau bertarung melawan chimera, betul 'kan? Kemudian kau digigit oleh ekornya, dan kehilangan kesadaranmu sejak itu. Pertama, setelah kau digigit, Kuroro melakukan pertolongan pertama terhadapmu. Ia menghisap racunnya sebaik mungkin, dan kemudian bergegas membawamu ke sini dalam waktu kurang dari tiga hari."

Mata Kurapika membelalak tak percaya dan terkejut. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap Kuroro, yang masih tetap tidur dengan damai di sampingnya. Kenyataan lain menghampirinya; mereka tidur di tempat tidur yang sama. Saat Kurapika memeriksa sekitarnya dengan ngeri, menyadari situasiyang tengah dialaminya, Si Wanita Tua tertawa dengan tawanya yang seperti nenek sihir.

"Anak itu bergegas membawamu ke sini tanpa berhenti selama tiga hari, bayangkan itu!" Dia terus tertawa, seolah apa yang ia bicarakan benar-benar tidak masuk akal. "Bahkan aku harus memberinya obat untuk tidur jadi dia bisa istirahat."

Kurapika melihat wanita tua keriput itu dengan setengah bingung dan tidak percaya. Kuroro Lucifer bergegas menyelamatkan nyawanya? Itu adalah hal terakhir yang akan ia percaya di bumi ini. Kurapika memandang Ishtar, mengharapkan penjelasan atau penyangkalan. Tapi ia melihat wanita itu pun tertawa.

"Hatsubaba mengatakan yang sebenarnya. Dia adalah orang yang melakukan transfusi darah untukmu. Kau sudah kehilangan banyak sekali darah, dan untungnya kau memiliki golongan darah yang sama dengan Kuroro, menghemat waktu kami untuk mencari donor yang cocok."

"Dia melakukan apa?" Kurapika memekik, matanya masih membelalak terkejut.

"Melakukan transfusi darah," Ishtar mengulangi kata-katanya. "Kuroro memberimu darahnya untuk menyelamatkanmu dari kematian karena kehabisan darah."

Tanpa sadar Kurapika mencengkeramdadanya dengan tangannya, jantungnya berdegup kencang karena gugup. Ishtar menatapnya lekat-lekat; dia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu tapi ia memutuskan untuk tidak mengatakannya. Ishtar tahu apa yang lebih baik dilakukan daripada menyatakan pikiran orang saat tanpa sadar mengintip ke dalam pikiran mereka.

"Ngomong-ngomong, bagaimana tanggapannya saat jati dirimu terungkap?" Ishtar memutuskan untuk mengganti topik.

Kurapika menatapnya dengan bingung, tidak memahami pertanyaannya. Ishtar menaikkan alis matanya yang sempurna, tapi ia menolak untuk memperjelas pertanyaannya. Ishtar menunggu dengan sabar hingga akhirnya sesuatu muncul ke dalam benak Kurapika.

"Dia tidak terlalu terkejut," jawab Kurapika setelah memikirkan musibah itu kembali, beberapa minggu yang lalu saat pertama kali dia kehilangan penyamarannya sebagai seorang laki-laki.

"Sudah kuduga," Ishtar mengangguk setuju.

"Hei Nak," tiba-tiba Hatsubaba mendekati Kurapika. "Beritahu aku apa pendapatmu tentangnya."

"Dia bajingan egois yang suka memiliki sesuatu menurut caranya sendiri dan bersenang-senang di atas penderitaanku, yang berpikir bahwa dia mengetahui segalanya dan apapun yang tidak berhubungan dengan keuntungan baginyaadalah tidak penting dan karena itu dia tidak ragu membuang merekaseperti sampah tua yang tak berguna." Kata-kata itu keluar dari mulut Kurapika dengan penuh dendam laksana badai, sebelum ia bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Kamar itu menjadi hening selama tiga detik lamanya, sebelum Hatsubaba sekali lagi memecah keheningan itu dengan tawanya yang terkekeh-kekeh.

"Itu dia! Itu yang ingin aku dengar!"

Malu dengan emosinya yang tiba-tiba meledak dengan kurang ajar seperti itu, wajah Kurapika memerah dan dia dapat merasakan wajahnya terbakar. Bahkan Ishtar pun tertawa. Kurapika melirik dengan suram pada Kuroro, tapi pria itu terlihat tidak terganggu dengan suara tawa Ishtar dan Hatsubaba.

"Itu tepat sekali. Astaga, aku tidak pernah mendengar penjelasan yang lebih baik mengenai anak itu daripada pendapatmu, Nak," Hatsubaba menyeringai pada Kurapika, menampakkan barisan gigi yang anehnya bersih, hanya beberapa saja gigi yang ompong.

"Tapi kesanmu tentangnya sepertinya semuanya negatif," komentar Ishtar, mata obsidiannya yang bulat mencari-cari ke dalam mata Kurapika.

"Yah, kau tidak bisa menyalahkannya, tidak setelah apa yang dilakukan anak itu padanya." Hatsubaba melambaikan tangannya dengan tidak sabar di depan wajahnya, seolah mengusirbeberapa ekor lalat yang tak terlihat. "Walau begitu, aku menyukainya." Si Wanita Tua tersenyum lebar pada Kurapika.

Kurapika tersenyum dengan merasa tidak enak padanya; dia tidak tahu apakah harus merasa senang atau cemas terhadap perilaku wanita tua itu dan keramahannya yang seketikaterhadap dirinya. Tiba-tiba, wanita tua itu menyeringai, dan mencondongkan badannya lebih dekat ke Kurapika.

"Nak, mari kuberitahu kau cerita-cerita yang menarik..."

.

.

Pikirannya jernih, namun tubuhnya sangat sakit, mungkin karenadia tidak berganti posisi selama berhari-hari. Saat dia bangun, tubuhnya kaku seperti batu maka dia harus duduk dan meregangkan bagian atas tubuhnya. Entah bagaimana dia tahu bahwa tabib penyihir tua itu telah mencampur minumannya dengan semacam obat tidur untuk membuatnya tak sadar, yah tapi mungkin ia harus berterimakasih untuk itu. Dengan tingkat kelelahanyang ia alami sebelum jatuh tertidur, mungkin ia tidak bisa tidur senyenyak tadi.

Merasakan sedikit gerakan di sampingnya, Kuroro menoleh ke samping, melihat Kurapika bergerak dalam tidurnya yang tak bersuara; gadis itu sedang tidur di sampingnya, menghadap Kuroro. Raut wajahnya tenang, tak ada jejak kesakitan dan luka yang ia derita beberapa hari yang lalu. Kuroro mencondongkan badannya di atas Kurapika dan melihat lehernya, tak ada cela sedikit pun. Tak ada bekas luka atau apapun di balik lehernya yang kurus; tak ada bekas gigitan, tak ada luka sayatan. Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangan dan membelai kulit gadis itu perlahan dengan ujung jarinya. Sentuhannya membangunkan Kurapika dari tidurnya, dan matanya pun terbuka.

Kurapika menatap mata Kuroro yang gelap dan dalam tak berdasar segera setelah ia membuka matanya. Matanya menatap pria itu dengan penasaran, hampir seperti mengantisipasi apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Kuroro tidak melepaskan jarinya dari leher Kurapika, tapi setidaknya dia sudah berhenti merasakan kulit gadis itu dengan jarinya. Sebenarnya, hal itu membuatnya ngeritapi dengan keras kepalanya Kurapika menolak untuk menunjukannya. Kurapika mengarahkan matanya curiga.

"Apa yang sedang kaulakukan?" Kurapika bertanya dan menjauh darinya, di atas tempat tidur yang empuk itu.

"Aku setengah berharap kau akan menamparku, atau memukulku." Kuroro menyeringai padanya dan menarik tangannya kembali ke sampingnya. Kurapika memutar matanya.

"Lewati batasnya, dan akan kuhajar kau sampai pingsan," Kurapika mengancamnya, bergerak menjauh dari pria yang sedang tidur di tempat tidur yang sama dengannya.

"Oh?" Kuroro menaikkan sebelah alis matanyadan mencondongkan badannya lebih dekat ke Kurapika. Ia ingin memeriksa seberapa jauh 'batas' yang disebutkan gadis itu, tapi ia berhenti saat Si Gadis Kuruta menaikkan kepalan tangannya, memberinya sebuah ultimatum.

"Sejujurnya, apakah sentuhanku menjijikkan bagimu?" Kuroro diam kembali ke tempatnya di tempat tidur itu, memutuskan tidak menggoda Kurapika lebih jauh jikalau ia benar-benar akan memukulnya. Tubuhnya sedang tidak berada dalam kondisi untuk berkelahidengan gadis itu.

"Tentu saja," Kata Kurapika tegas sambil merilekskan kepalan tangannya.

Kuroro menoleh menatapnya, ada sekilas kenakalan di mata pria itu. "Pembohong."

Kurapika melotot padanya, tapi ada kebingungan di matanya. Kuroro menyeringai dengan penuh kemenangan. "Kau tidak akan melakukan apa yang waktu itu kau lakukan di gua jika kau benar-benar membenci kontak kulit apapun denganku."

"Waktu itu kau sakit," jawab Kurapika.

"Keadaanku saat itu sebaik saat ini kok."

"Sekarang aku lebih sakit daripada kau."

"Kau tidak terlihat sesakit itu bagiku."

"Kau juga."

"Aku juga begini karenamu."

"Aku tidak memintamu melakukan apapun untukku."

"Aku tak punya pilihan lain."

"Kau bisa saja membiarkanku mati. Lagipula kau tidak takut kematian sama sekali."

"Aku belum bisa membiarkanmu mati, aku sudah mengatakannya padamu, 'kan?"

"Alasannya?"

"Aku tak bisa memberitahumu sekarang."

"Pelit."

"Kau juga."

Kurapika membuka mulutnya untuk membalas kata-kata Kuroro, tapi dia tidak dapat memikirkan satu kata pun. Kuroro tersenyum dengan penuh kemenangan padanya, seperti seorang anak kecil yang baru saja memenangkan sekantung permen kesukaannya. Entah bagaimana, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, mereka mulai cekcok tentang hal-hal sepele lebih dari sebelumnya. Frustasi, Kurapika mendengus dan memalingkan wajahnya. Dia tak bisa menatap mata Kuroro terlalu lama; kalau tidak Kurapika akan selalu teringat bahwa Kuroro telah berbagi darahnya dengan Kurapika. Pada saat itu, darahnya mengalir di dalam pembuluh darah Kurapika, bercampur dengan darahnya. Saat Kurapika diberitahu bahwa Kuroro telah memberikan darahnya untuk menyelamatkannya, Kurapika merasa benar-benar aneh. Hampir terasa seolah dia dapat merasakan secara fisik darah yang lain, yang berbeda dengan darahnya, mengalir dalam pembuluh darahnya yang sangat kecil. Sedikit banyak, bagian dari Kuroro sudah berada di dalam tubuhnya. Kurapika menggigil karena pikiran terkutuk itu, dan mencoba menyingkirkannya jauh-jauh dari kesadarannya sebelum pikiran itu menghancurkan kesehatan jiwanya. Malah, pikiran lain muncul dalam benaknya. Kali ini, dia tersenyum dengan jahat.

Kurapika berbalik untuk menghadap Kuroro lagi.

"Kau tahu, aku diberitahu beberapa cerita yang menarik."

"Cerita apa?" Kuroro bertanya dengan kurang sopan.

"Cerita-cerita...tentangmu." Kurapika berusaha menahan tawanya yang akan keluar saat mengingat semua cerita itu. Hal ini menarik perhatian Kuroro dan ia bergeser untuk menatap lurus ke mata Kurapika, raut wajahnya serius.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Hatsubaba."

Kuroro mengerang putus asa. Sikapnya ini mengejutkan Kurapika. Dia tak pernah mengira Kuroro akan menunjukkan perilaku seperti itu; seolah kelemahannya yang paling memalukan telah terungkap dan diumumkan ke publik. Bagaimanapun juga, hal ini menyenangkan Kurapika karena sikap Kuroro membuktikan bahwa cerita yang diberitahukan wanita tua keriput itu benar-benar bermanfaat. Dia harus berterimakasih padanya nanti.

"Jadi kau sudah mengenalnya." Apa yang dikatakan Kuroro lebih seperti pertanyaan daripada sebuah pernyataan.

"Baru saja kok," Kurapika mengakui dengan jujur. Dia hanya tahu bahwa Hatsubaba adalah seorang Pengguna Nen dengan keahlian menyembuhkan di kota itu. Sepertinya dia teman baik Ishtar sejak lama, karena mereka bersikap santai terhadap satu sama lain.

"Dia sudah ada sejak awal sekali. Tidak ada yang tahu seberapa tua umurnya." Kuroro memberitahu Kurapika; suatu kebiasaan yang ia lakukan dalam perjalanannya dengan gadis itu. Kuroro cenderung berkeinginan untuk memberitahu Kurapika hal-hal yang menurutnya tidak diketahui gadis itu; hanya untuk kesenangan saja. Dia tahu Kurapika tidak suka jika dia kurang mengetahui hal-hal daripada dirinya.

"Hmm...tapi pastinya dia tahu banyak tentangmu." Dengan sengaja Kurapika menyeringai lagi.

Kuroro merengut dengan tidak senang padanya. Dia tidak mengatakan apapun tapi matanya seolah berkata pada Kurapika untuk 'berhenti membicarakannya'. Hal itu membuat Kurapika tersenyum penuh kemenangan. Sekarang dia punya kartu truf untuk melawan Kuroro.

Oh, hari-hari Kurapika nanti pasti akan cukup menyenangkan.

.

.

"Kau tidak menghubungiku," kata Ishtar cemberut, sepertinya ia tidak senang.

Kuroro hanya menanggapinyadengan dingin. "Aku tidak harus menghubungimu. Pada akhirnya kau akan tahu. Lagipula, kau selalu melacak kami, 'kan? Itulah bagaimana kau bisa tahu aku datang bersama seorang Kuruta yang sekarat."

"Aku tidak memata-mataimu!" Ishtar berseru dengan marah mendengar tuduhan Kuroro terhadapnya. Kuroro menatapnya dengan menaikkan sebelah alis matanya, matanya terlihat meragukan wanita itu. "Hassamunnin datang dan memberitahuku, itu sebabnya bagaimana aku bisa tahu."

Ishtar mengatakan hal yang sebenarnya. Beberapa jam sebelum kedatangan Kuroro diRyuusei-gai, jin itu mengunjunginya sebentar. Ia memberitahu Ishtar bahwa Si Gadis Kuruta sedang sekarat dan dalam keputusasaan Kuroro tengah menuju kota, jadi Ishtar mungkin ingin membuat persiapan jika hal terburuk sampai terjadi.

Kurapika mencoba untuk tidak terlibat dalam 'urusan keluarga' seperti itu, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mendengarkan seluruh percakapan itu. Tak ada yang bisa membantu Kurapika menghindarinya; lagipula dia terikat kepada Kuroro. Meski demikian, Kurapika mencoba sebaik mungkin untuk mengabaikan perdebatan yang tengah berlangsung, walaupun hal itu membuatnya ingin tahu bagaimana Kuroro bisa terlihat sangat membenci ibu angkatnya sementara Ishtar benar-benar peduli akan kebaikan Kuroro. Akhirnya, rasa ingin tahu itu berubah menjadi rasa kesal dan marah; tapi Kurapika mencoba untuk menekannya. Ia tidak akan meledak di hadapan Ishtar; itu akan sangat memalukan dan tidak beralasan.

Pada akhirnya, Ishtar mohon diri dari kamar tidur mereka dengan kepala menunduk dan patah hati. Ia tersenyum lemah pada Kurapika untuk pamit, dan kemudian ia menghilang di balik tirai yang transparan itu . Kurapika menatap punggung Ishtar yang bergerak menjauh dengan simpati; ia merasa sedih untuknya. Mungkin Kuroro adalah orang yang paling buruk yang bisa diajak untuk sepakat dalam hal berdebat; Kurapika sudah pernah mengalaminya dalam banyak kesempatan. Kuroro terlalu pandai bicara demi kepentingannya sendiri, kadang Kurapika hanya ingin memukul pria itu daripada berdebat dengannya. Kuroro menutup matanya dan tetap diam sambil memikirkan kembali beberapa hal. Kurapika menatapnya lekat-lekat; sebuah kernyitan tidak setuju nampak di keningnya.

"Kapan kau akan berhenti membenci ibumu?"

"Dia bukan ibuku," Kuroro berkata dengan suara yang tidak ramah.

"Dia membesarkanmu!"

"Hal itu tidak otomatis menjadikannya ibuku. Aku tak punya ibu, selesai sudah," kata Kuroro pendek dan acuh tak acuh.

"Tidak, tidak begitu," jawab Kurapika keras kepala, matanya berkilat marah. "Aku tak bisa menerima bagaimana kau benar-benar tidak tahu terima kasih kepada ibu angkatmu. Tidak setelah kau membunuh ibuku."

"Itu," Kuroro berbalik menghadapnya dan merengut dengan sangat tidak senang; ia nampak benar-benar marah atas bantahan yang diucapkan Kurapika. "Tak ada hubungannya dengan ini. Dia bukan tipe ibu seperti yang kau kira. Ini sama sekali bukan urusanmu. Menjauhlah dari masalah ini."

Kurapika sangat terkejut atas kemarahan yang ditunjukkan Kuroro secara tiba-tiba. Kuroro pernah merasa tidak senang terhadapnya berkali-kali, itu benar, tapi ia tak pernah menunjukkan kemarahannya kepada Kurapika secara terbuka. Dia tak pernah marah pada Kurapika; hanya kesal atau merasa tidak senang. Mata obsidiannya berkilat berbahaya, mengisyaratkan pada Kurapika bahwa ia memang sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tatapannya membuat Kurapika menutup mulutnya dan dia tidak dapat membalasnya dengan kata-kata. Dia melupakan topik itu dan diam-diam mengakui kekalahannya.

.

.

Hatsubaba bersandar di kursi goyang tuanya, cahaya bulan yang lembut memasuki kamarnya yang kecil. Dia menatap langit malam yang berbintang, wajah berkerutnya melembut saat dia mengenang masa lalu. Melihat anak laki-laki yang telah tumbuh dewasa itu membangkitkan kepribadiannya sebagai seorang nenek. Hatsubaba sungguh terkejut melihat Kuroro membawa seorang gadis dalam pelukannya; orang yang membuat dirinya bersedia mengorbankan waktu istirahat selama tiga hari untuk menyelamatkan gadis itu. Bahkan saat Hatsubaba mendengar kondisi mereka yang aneh, dia tetap tak dapat membayangkan Kuroro berusaha begitu keras untuk menyelamatkan seseorang. Kuroro bukanlah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk mengakali kematian; pasti ada alasan penting di balik semua yang dia lakukan untuk Kurapika. Hatsubaba telah melihat Kuroro tumbuh dewasa, dan ia telah mengira akan melihatnya menjadi pembunuh berdarah dingin dan penuh perhitungan, tak dapat menunjukkan emosinya karena latihan yang keras dan didikan yang tidak biasa.

Hatsubaba menghela napas lelah. Kesalahan hanya dapat disadari saat sudah menyebabkan petaka. Penyesalan tak bisa memperbaikinya, dan teman tersayangnya Ishtar mengetahui hal ini lebih baik daripada siapapun. Memang benar anak itu sudah menjauhkan diri dari Ishtar karena Ishtar sendiri, itu salahnya. Dia keras pada Kuroro, melatihnya secara pribadi dengan standar yang mana manusia biasa tidak dapat bertahan. Dengan ajaib anak itu bertahan atas latihan yang kejam dan melelahkan, dan dia pun menjadi petarung yang unggul dan tak terkalahkan; sebagai bayaran dari emosi dan perasaannya; dan mungkin hati nuraninya.

Jika dia menghitung jumlah bekas luka yang terdapat di tubuh Kuroro; bekas luka yang ia dapat dari pertarungan di luar sana bisa dihitung hanya dengan satu tangan. Kebanyakan bekas luka itu Kuroro dapatkan dari latihannya bersama Ishtar. Hatsubaba mendengus dalam kegelian yang pahit, dia teringat satu kesempatan saat Ishtar tanpa sengaja menusuk tubuh Kuroro dengan senjatanya selama sesi pertarungan mereka. Untunglah dia ada di sana, dan bisa menyelamatkan nyawa Kuroro sebelum hidupnya berakhir.

Meski demikian, Hatsubaba pun merasa bahwa Kuroro juga harus belajar memaafkan. Menjadi seorang wanita tua seperti sekarang, dia diberikan kebijaksanaan tertentu sehingga saat dia melihat Si Gadis Kuruta dan menyaksikan bagaimana kepribadiannya, tiba-tiba saja Hatsubaba merasa bahwa situasinya mungkin tidak akan seburuk yang mereka rasakan. Sebenarnya, mungkin situasi itu akan menguntungkan Kuroro dan Kurapika; bagi Kuroro untuk berdamai dengan masa lalunya, dan bagi gadis itu untuk belajar merelakan, dan bagi mereka berdua adalah belajar memaafkan.

Hatsubaba tertawa pelan dan menengadah menatap bulan purnama. Dia tersenyum saat mengingat transfusi darah yang ia lakukan untuk mereka. Sekarang Kuroro dan Kurapika berbagi darah yang sama, walaupun gadis itu menyatakan mereka berdua adalah musuh. Hatsubaba hanya berharap bahwa pengeluaran darah yang telah dialami Si Gadis Kuruta mungkin juga melepaskan kebenciannya. Dengan Kurapika mengetahui bahwa darah Kuroro mengalir di dalam pembuluh darahnya demi menyelamatkan nyawanya, mungkin bisa dianggap sebagai katalisator bagi gadis itu untuk belajar menerima Kuroro.

Wanita tua keriput itu berhenti merenung dan menghela napas. Dia hanya bisa berharap, bukan?

TBC

.

.

A/N :

Maaf atas segala kekurangannya, review please…