Shin Key Can, present

.

.

SEGITIGA

Disclaimer: Demiiiii apapun tetap Kubo Tite aja. Kalaupun diijinkan memiliki Bleach, kami pasti disuruh jadi budaknya...hehehhehe

Warning: Cuma mau ingetin kalau fic ini berisi , AU, OOC, Typos, etc... Apabila ada kesamaan cerita atau sejenisnya tergantung pendapat minna yang menilai.

.

.

.

BAB IX: ALONE

.

.

'Aku tahu, rasa ini salah. Tidak seharusnya rasa ini muncul hingga tumbuh keatas tanpa bisa dicegah layaknya benih yang kita tanam dan rawat setiap hari. Aku menyadari satu hal darimu. Mengenalmu membuatku mengerti akan apa arti suka. Suka awal dari rasa sayang dan benci. Suka awal dari rasa rindu dan kesepian, dan suka awal dari rasa cemburu dan perhatian. Terima kasih telah mengajarkanku berbagai rasa yang kau tanam dalam hatiku.'

"Kau sedang menulis apa, Rukia-chan?" tanya Hisana pada Rukia.

"Hanya catatan kecil, nee-san," jawab Rukia tersenyum.

"Kalau begitu, ayo kita segera masuk ke pesawat. Nii-sama dan Grimmjow sudah menunggu kita," Kata Hisana lembut.

"Oke-oke," kata Rukia tersenyum. Keduanya kemudian berjalan menyusul Byakuya dan Grimmjow yang berada di depan mereka. Rukia sebenarnya begituberat meninggalkan Jepang, namun ini terpaksa ia lakukan demi menata hati dan masa depannya di Spanyol bersama keluarganya. Grimmjow, Hisana, Byakuya dan Rukia akhirnya benar-benar masuk kedalam pesawat. Byakuya duduk disamping Hisana, sedangkan Grimjow duduk di samping Rukia. Pesawat mulai lepas landas.

'Sayonara Jepang, sayonara Ichigo, juga Senna,' batin Rukia saat melihat ke arah jendela pesawat. Ia akan merindukan pemandangan Jepang untuk jangka waktu yang lama.

.

.

.

Flashback

"Kau sudah packing semua barangmu? Apa perlu nee-san bantu?" kata Hisana lembut

"Aku sudah mengemasi semua barangku, nee-san," ucap Rukia.

"By the way, kau tidak keberatan pindah ke Spanyol kan? Apa kita batalkan saja?" tanya Hisana lirih.

"Jangan dong. Masa kita harus membatalkan keberangkatan kita yang hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi, sih? Aku sudah lama ingin tinggal di Spanyol, nee. Jadi kumohon kali ini jangan di batalkan," pinta Rukia.

"Disana tidak ada sahabatmu, lho. Yakin kau betah di sana?" tanya Hisana sekali lagi.

"Saat ini aku sangat memerlukan suasana baru, nee. Aku bisa bahasa Spanyol. Jadi bukan masalah kalau untuk mencari teman," jawab Rukia tersenyum.

"Oke. Baiklah, aku memang selalu mengalah pada adik tersayangku ini. Bawa barang seperlunya saja sayang, dua jam lagi kita akan berangkat," kata Hisana.

"Sebagian sudah aku packing tadi malam nee-san. Aku hanya perlu membawa yang penting-penting saja," kata Rukia pada Hisana.

"Kalau begitu, nee-san ke tempat Byakuya dulu, ya. Kalau sudah selesai langsung ke bawah," kata Hisana tersenyum. Ia lalu meninggalkan Rukia sendirian di kamarnya. Saat sedang asyik membereskan barang-barangnya, handphonenya berbunyi. 'Nomer siapa ini? Kira-kira siapa yang menelpon?' batin Rukia. Ia tidak mengenal nomor ini. ia lalu memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut

"Moshi-moshi?"

"Rukia. Ini aku, Ichigo," kata Ichigo di seberang telephone.

"Hn," jawab Rukia singkat.

"Kumohon jangan tutup telephone ini dulu. Aku ingin bicara," pinta Ichigo.

"Bicaralah," kata Rukia pada Ichigo.

"Maaf. Tadi aku sungguh kekanak-kanakan. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu ataupun perasaan Senna. Mengertilah,"kata Ichigo lirih.

"Hnn. Aku tahu itu. Aku sudah melupakannya. Aku juga sudah memaafkanmu. Apa hanya itu yang ingin kau sampaikan?" kata Rukia tetap tenang.

"Masih ada yang ingin aku katakan. Bisakah kita kuliah di tempat yang sama?" tanya Ichigo lirih.

'Deg. Ada apa dengan jantung ini? Please, jangan tertipu dengan kata manisnya lagi,' batin Rukia menjerit. Ia tak kuasa menahan perasaannya. Ia ingin secepatnya mengakhiri percakapan ini. Rukia tidak ingin menangis.

"Maaf, sepertinya tidak bisa. Dengarkan aku baik-baik dan jangan menyela pembicaraanku," kata Rukia menahan diri agar tidak menangis.

"Aku akan mendengarmu," kata Ichigo singkat.

"Aku harap kau tidak lagi mencariku ataupun menguhubungiku. Itu akan sia-sia karena mungkin ini yang terakhir kali kita berbicara panjang seperti ini. Aku tidak bisa satu kampus bersamamu karena aku harus pergi. Maaf," kata Rukia panjang lebar.

"Kau akan pergi kemana? Please, maafkan aku jika karena pembicaraan tadi membuatmu marah. Aku tidak akan mengulagi hal itu," kata Ichigo memohon.

"Maaf, aku harus ke Spanyol. Jaga Senna. Sudah dulu ya. Sayonara, Ichigo," kata Rukia sebelum mengakhiri percakapan via telephone.

End of flashback

.

.

"Rukia-chan? Kenapa melamun?" tanya Grimmjow saat melihat Rukia melamun memperhatikan pemandangan di balik jendela pesawat.

"A-ah, tidak kok," kilah Rukia.

"Jangan bohong. Aku baru saja melihatmu melamun. Apa kau sudah pamitan dengan Ichigo?" tanya Grimmjow.

"Sudah," jawab Rukia singkat.

"Lalu?" tanya Grimmjow penasaran.

"Entahlah, aku juga bingung Grimm-nii," kata Rukia lirih.

"Masih ada kesempatan bertemu dengannya lagi. Empat tahun waktu yang sebentar kok," hibur Grimmjow.

"Empat tahun itu lumayan lama nii-san," kata Rukia tersenyum. Perlahan ia mulai terhibur dengan kehadiran sepupunya ini. Bagi Rukia, Grimmjow adalah sepupu terbaik yang pernah ia miliki. Andai saja ia bukan sepupu Rukia, atau ia belum bertemu dengan Ichigo, mungkin Rukia akan menjadikannya kekasih. Tapi semua itu hanya angan konyol yang sempat Rukia utarakan pada Grimmjow dulu. Yah, mengingat itu Rukia hanya bisa tersenyum.

"Mau taruhan?" kata Grimmjow menggoda.

"Taruhan apa?" balas Rukia tak mau kalah.

"Jika kau bisa lulus dari fakultas kedokteran tepat waktu dan tubuhmu jadi sexy dan cantik, kau boleh memintaku mencukur habis rambut kesayanganku ini sampai botak," ucap Grimmjow serius.

"Kau yakin dengan taruhanmu?" kata Rukia meragukan. Ia tampak berpikir dengan taruhan itu. Tidak ada salahnya melihat Grimmjow botak.

"Seratus persen yakin. Deal?" jawab Grimmjow mantap.

"Deal. Jangan menyesal ya," kata Rukia dengan senyum liciknya. Ia begitu tak sabar melihat Grimmjow botak.

.

.

.

~ Sore hari setelah kepergian Rukia, di Kurosaki House

Sore ini Ichigo kedatangan Senna di rumahnya. Keluarga Ichigo menyambut kedatangan Senna dengan penuh antusias. Berbeda dengan Senna yang sepertinya sedikit risih dengan keunikan keluarga Kurosaki yang berbeda dengan keluarganya, Senna lebih senang menghabiskan waktu dengan Ichigo dibandingkan dengan keluarganya.

"Beib, ayo kita keluar jalan-jalan. Aku bosan di rumah terus," rengek Senna pada Ichigo.

"Aku sedikit capek hari ini, Senna. Bagaimana kalau jalan-jalannya besok saja?" tawar Ichigo.

"Tidak mau. Besok aku ada syuting iklan. Jadi hari ini saja ya, please," kata Senna memohon. Sebenarnya ini hanya alasan Senna agar waktu berduanya bersama Ichigo tidak di ganggu oleh adik-adiknya.

"Hnn. Aku akan bersiap-siap. Tunggulah sebentar," kata Ichigo lesu. Ichigo merasa lelah hari ini, tapi demi menemani Senna, ia putuskan untuk keluar sebentar.

"Yey, kamu memang pacar terbaikku," jawab Senna girang. Ichigo hanya tersenyum tipis. Ia lalu bersiap-siap ganti baju. Setelah menunggu beberapa menit, Ichigo tampil dengan pakaian yang santai namun tetap terlihat keren meski hanya memakai kaos dan jeans serta sepatu. Ichigo kemudian pamitan keluar sebentar pada ibunya.

"Bu, aku keluar sebentar bersama Senna, ya," kata Ichigo pada Masaki.

"Lho kok mau pergi, ini sudah hampir jam makan malam bukan. Aku dan Yuzu sudah membuat masakan spesial untuk Senna, lho," kata Masaki kecewa.

"Senna ingin jalan-jalan bu. Lain laki mungkin akan aku ajak makan malam disini," kata Ichigo menghibur ibunya.

"Biarkan saja Ichi-nii pergi. Kekasihnya itu memang manja dan sepertinya tidak mau akrab dengan keluarga ini," celoteh Karin yang tidak sengaja mendengarkan obrolan Ichigo dan Ibunya. Senna yang mendengar hal itu sedikit geram pada adik Ichigo yang satu ini, sejak pertama kali bertemu, Karinlah yang nampak tidak menyukai Senna.

"CUKUP KARIN! Kau tidak boleh berbicara seperti itu di depan Senna," bentak Ichigo pada Karin.

"Ichi-nii?" kata Karin lirih. Ia tidak menyangka kakaknya akan membentaknya seperti itu. Ia sedih kakaknya lebih memilih kekasih yang menurutnya menyebalkan dari pada dirinya.

"Cepat minta maaf pada Senna," perintah Ichigo.

"Ichigo, jangan berkata kasar sepeti itu pada Karin," protes Masaki pada Ichigo. Ia sedih melihat perdebatan Karin dan Ichigo.

"Ichigo, itu tidak perlu, aku yang-"

"Jangan harap aku mau minta maaf padamu setelah apa yang kau lakukan pada kakaku tempo hari," kata Karin marah. Ia langsung pergi dari hadapan Masaki, Ichigo dan Senna. Masaki begitu shock sampai ia meninggalkan Ichigo dan Senna yang masih berdiri.

"Ayo, sebaiknya kita pergi, Ichi. Biarkan Karin tenang dulu. Nanti kita bicarakan ini dengan Karin setelah pulang," kata Senna menyarankan.

Ichigo dan Senna akhirnya sepakat pergi sebentar menenangkan pikiran mereka setelah insiden yang terjadi di rumah. Ichigo tak habis pikir kenapa Karin bisa berpikir seperti itu. Pikirannya masih melayang entah kemana. Masalahnya dengan Rukia belum selesai, di tambah lagi masalahnya dengan Karin. Ichigo benar-benar sedang kacau. Senna tak bisa membantunya kali ini.

.

.

.

~ Dreamland cafe

"Kamu mikirin apa sih, beib? Dari tadi tidak fokus," tanya Senna.

"Maafkan sikap karin yang tidak sopan tadi," kata Ichigo membuka pembicaraan.

"Ayolah beib, kita sedang bersama. Aku tidak ingin membahas hal tadi," kata Senna tak acuh.

"Tetap saja aku merasa kelakuan adikku keterlaluan padamu," kata Ichigo lirih.

"Alah, memang dari dulu Karin tidak menyukaiku, bukan. Kau jadi kakaknya memang sekali-kali harus keras padanya. Jangan memanjakannya terus," kata Senna sinis.

"Kenapa bicaramu seperti itu? Dia hanya anak kecil, belum bisa berpikir logis seperti kita," kata Ichigo tidak terima.

"Kau marah. Aku juga marah adikkmu berkata seperti itu," kata Senna emosi.

"Kau bercanda kan?" kata Ichigo tertawa.

"Aku serius," jawab Senna mantap.

"Kau keterlaluan, Senna. Dia juga nantinya akan jadi adik iparmu," kata Ichigo menaikkan suaranya.

"Cih, adik ipar yang merepotkan seperti Karin apa untungnya. Sadar tidak sih, keluargamu itu konyol sekali, dari mulai ayahmu, ibumu dan adik-adikmu," cibir Senna.

"CUKUP!" Aku tidak menyangka kau berpikir seperti itu terhadap keluargaku, Senna," kata Ichigo marah.

"Itu kenyataannya? Kau mau apa, ha?" tantang Senna pada Ichigo. Ichigo terlihat begitu marah pada Senna. Ia benar-benar tak menyangka Senna seperti itu kepada dirinya dan keluarganya.

"Ayo pulang. Aku akan mengantarmu," kata Ichigo menahan emosi. Biar bagaimanapun ia juga harus mengantar Senna pulang walaupun sebenarnya ia benar-benar marah.

"Aku bisa pulang sendiri," kata Senna meninggalkan Ichigo yang masih terpekur di tempatnya duduk.

.

.

.

Ichigo POV

Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi pada hubungan kami setelah ini. Aku pulang tanpa Senna. Aku berharap Senna tadi hanya bercanda dan menggodaku saja. Tapi aku meragukan itu hanya candaan atau godaan. Sepertinya ucapannya serius. Senna, meninggalkanku sendirian di cafe setelah kami berdebat yang membuatku sadar, Senna bukan wanita yang tepat untukku. Aku sebenarnya masih tidak percaya dengan ucapan Senna tadi. Senna begitu membenci keluargaku. Tuhan, apa ini karma untukku karena dulu niatku mempermainkan perasaan Senna melalui Rukia, terbalas hari ini? Jika memang begitu, aku akan menerimanya. Aku bersedia terluka oleh Senna asalkan kau mengembalikan Rukia disisiku lagi. Aku bersedia menuruti keinginan keluargaku asalkan Rukia sekali lagi memaafkanku.

End of Ichigo POV

.

.

.

To be countinued

Berawal dari toilet, dapat ide gaje seperti ini. setelah itu berawal dari ngemil salad, key juga dapet ide. aha,, memang ide muncul dari hal yang tak terduga ya.. puaskah? belum puas juga hajar salah satu dari kami..wkwkwkkw. Sekali lagi chapter ini pendek...hehehehehehe... oke, kalau ada uneg-uneg sampaikan, kritik dan saran ya. Jaa nee

Blesan yang belum login

Azura Kuchiki: ckckck, iya dia kasihan. Apalgi setelah ini. thanks for RnR

Darries: Kami juga gitu kok. *ngaku yang sebenernya*. Masih belum kepeikiran ke arah situ c. Nanti coba kami rundingkan bareng can and shin...hehehe thanks for RnR.

Thanks yang dah setia mengikuti fic kami yang gaje ini.

Canny loly Berry, KeyKeiko,15 Hendrik Widyawati,Darries,Guest,Morning Eagle,Shirayuki Ann,ShinRanXNaruHina,Shiina,BELUM ADA AKUN,Kyoumo no SKipBeat,Azura Kuchiki,anyaaa,