Fuyukaze Mahou : tenang aja, ini udah bener" tamat, terima kasih masukannya ya (´,,•ω•,,`) anggap aja dua chapter terakhir ini bonus cerita*ditonjok*
mikicnc : arigatou na dibilang keren (*´▽`*) tapi aku tidak janji semua akan sesuai harapanmu :/ *dilempar sendal* tunggu, aku baca lagi reviewmu waktu chap 8, maksudnya sedikit itu apa (´・ω・`) *kepo* selamat membaca chapter ini xD
sarah. amalia.1 : hai salam kenal juga, yoroshiku~ Panda juga baru gabung setahun lebih tiga bulan di ffn, jadi kita sama2 nubi ( /`・A・´)/ yoroshiku onegaishimasu~
keren ya anda punya darkside, Panda juga pengen (≧∀≦)/ /maksudnya/ review anda adalah yang terpanjang sepanjang sejarah review fic saya loh OwOb hebat OwOb /apaan
terima kasih sudah review dan memberi masukan. Iya ini udah tamat. Waduh ngebut ya bacanya o.O ehehe terimakasih sudah membaca ya ~
Special Thanks for you who's read, fav, review and follow this story. Without you all, i'm nothing (´・д・`)
Untuk anda semua yang telah membaca, memberi fav, review, dan mengklik follow cerita ini, Panda berterima kasih. Tanpa pembaca, author bukanlah apa-apa (´・д・`)
Silahkan dinikmati chapter terakhir ini dengan segelas kopi/teh/susu/jus/sirup/...| udah, itu kebanyakan
Douzo onegaishimasu~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau menolongku?"
Diam dan berlalu. Hanya seperti itu balasannya terhadapku.
Benar. Kita bukan teman.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu kami tak saling bicara. Bahkan berpapasan pun ia tidak menatapku sama sekali. Aku baru saja berfikir bodoh waktu itu; lagipula, kenapa aku harus jadi temannya?
Hahh.
Kugaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. Ujian sudah selesai. Sebentar lagi adalah upacara kelulusan angkatanku, yang tinggal dua minggu lagi. Rasanya benar-benar lega aku akan terbebas dari sekolah. Aku bisa melakukan apa saja setelah ini.
Suasana kelas gaduh. Sibuk membahas apa yang harus diisi di 'lembar masa depan' yang dibagikan Meiko-sensei setengah jam lalu. Aku tidak tahu ingin jadi apa di masa depan nanti. Hm..mungkin asisten mangaka? Siapa tahu ketemu Orin-sensei. Tapi..aku tak bisa menggambar. Aku masih sibuk mencari inspirasi.
Olivia di sebelahku menulis dengan cepat. Goresan pulpennya cukup membuatku penasaran, aku melirik. Mungkin Olivia akan jadi ilmuwan atau apalah. Tapi, aku melihat tulisan Kagoshima. Tulisan berikutnya tidak terlihat karena penghalang tangannya.
Mungkin..dia mau hidup di Kagoshima?
Todokanai Sekai - The World I Can't Reach
Vocaloid is not mine
Genre : friendship/family
Rated : T
Kelulusan sudah berlalu. Seangkatanku sibuk mempersiapkan diri masuk universitas, begitu pula aku. Musim panas telah tiba. Membakar otakku hingga ke sel terkecil.
Aku lelah.
Aku sedang berada di tempat lotre sekarang karena mulai penat. Siapa tahu aku dapat. Nomor lotre ini kudapatkan kemarin dari vending machine dekat apartemen dan ternyata undiannya dilakukan hari ini di toko Akai, sebelah kiri perempatan apartemen (dari tulisan di lotre). Nomornya terdiri dari tiga digit; 912. Padahal aku ingin nomor cantik seperti 888 atau 777. Tapi, ya sudahlah. Toh, hanya untuk mengisi waktu luang.
"467."
"814."
"323."
Tuh kan, gak mungkin nomor gini dapet.
"912."
Eh?
912?
Aku menatap kertas lotre itu tidak percaya. Lotre..terimakasih!
"Silahkan menukar nomor dengan hadiah di barisan kanan. Selanjutnya, 175."
Aku pindah dari kerumunan tak berbentuk ke deret rapi sebelah kanan, dimana beberapa orang mulai berbaris membentuk antrian dengan susunan dua sab ke belakang. Aku sibuk memandangi kertas lotre milikku hingga tak sadar menyenggol seseorang.
"Ah, maaf.." Ujarku sembari melihat siapa yang kusenggol tadi. Eh? Kok gak ada siapa-siapa ya? Aku terus menengok ke kanan dan ke kiri.
Kemudian, kurasakan colekan kecil di pundakku. Aku akhirnya sedikit menunduk ke bawah.
Olivia rupanya.
Pantes aja gak kelihatan. Olivia lebih pendek dariku sih..
Tunggu, ngapain dia ke tempat ini?!
"Kau ikut lotre juga?" Tanyaku.
"Ada hadiah yang ingin ku menangkan. Tahun lalu aku tidak dapat." Ujarnya sembari menunduk. Perasaanku saja, atau Olivia memang agak kurusan ya? Olivia mengenakan celana santai selutut dan kaos merah yang dibalut jaket kuning. Tulang betisnya bagai tak berdaging. Hanya seperti dilapisi kulit saja. Apa dia benar-benar sakit ya?
Kenapa aku harus peduli? Itu kan urusannya!
"Selanjutnya!"
Antrian depan semakin sedikit. Aku dan Olivia perlahan bergerak maju ke depan untuk menukarkannya.
Beberapa menit kemudian, giliran kami tiba. Aku dan Olivia segera menunjukkan lotre kami. Olivia yang pertama menukarkannya pada seorang bibi yang bertugas di bagian ini.
"Selamat, nona! Ini hadiah anda, diskon belanja 70% di Meiji St!"Bibi itu memberikan beberapa lembar voucher pada Olivia. Olivia menerima hadiah itu tanpa wajah senang sama sekali. Olivia membungkuk terima kasih. Tangannya kini memegang voucher diskon hadiahnya.
Ia baru saja menang lotre, tapi..kenapa dia seperti putus asa begitu?
"Selamat, tuan! Anda memenangkan paket festival musim panas ke Kagoshima untuk dua orang selama tiga hari! Kudengar langitnya sangat indah disana!" Bibi itu memberikan dua tiket festival kembang api beserta selembar reservasi penginapan di Kagoshima padaku. Ah, lumayan.
..mungkin mengajak ibuku? Ia pasti senang.
Aku menoleh ke arah Olivia, tapi ia sudah tak ada. Kulihat ia berlari di antara kerumunan, lalu menghilang begitu cepat.
Kenapa dengan gadis itu?
"Akhir pekan ke Kagoshima? Boleh juga, kaasan akan ambil cuti beberapa hari."
Yeah! Akhirnya!
Dan panggilan terputus begitu saja.
Akhirnya aku bisa menghabiskan musim panas selama beberapa hari dengan Kaasan. Hampir sebulan kami tidak bertemu.
Pekerjaannya sebagai sekretaris sebuah perusahaan bernama Kagamine Corp. benar-benar menyita seluruh waktu. Katanya sih sibuk. Ibu hanya mengunjungiku saat akhir pekan. Terkadang tidak mengunjungiku sama sekali. Ia hanya mengirim uang kebutuhanku melalui rekening bank. Dan festival Kagoshima akan menjadi kenangan terindahku bersama Kaasan.
Membayangkannya saja membuatku begitu senang. Aku jadi tidak sabar menunggu akhir pekan.
Aku pergi ke konbini 24 jam ketika pukul sebelas malam. Aku tidak bisa tidur saking senangnya dan hanya ingin mencari kegiatan. Aku tiba di depan konbini dan hendak masuk, namun aku berpapasan dengan―
"Takahashi?"
―Olivia? Mengapa ia kesini?
"Hiruzen-san?" Aku mengernyit.
.
.
.
.
Entah bagaimana, kami duduk di trotoar dan mulai berbincang. Dengan sekaleng kopi untuk teman malam ini. Suasana jalan sepi karena hampir tengah malam. Aku merapatkan jaket karena udara dingin. Begitu pula Olivia. Kulihat nafasnya memutih di udara.
"Takahashi, terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku tahu ini terlambat, tapi.." Olivia menumpukan dagu diantara lututnya. Kedua tangannya melingkari tungkainya yang kurus kering. Kenapa ia tampak begitu menyedihkan? Agak miris juga.
"Itu sudah lama." Aku membuka penutup kopi kalengan-dengan suara klak kecil lalu meminumnya.
Hawa malam bagai menusuk tulang. Beberapa menit berlalu tanpa ada pembicaraan di antara kami. Aku melihat Olivia terus mendongakkan kepalanya ke atas sejak tadi. Memandangi ribuan bintang dekorasi malam. Aku teringat sesuatu, kemudian aku menanyakannya.
"Hiruzen-san."
"Hn?" ―tanpa menoleh ke arahku.
"Siapa itu..Rinto?"
Bodoh. Bukankah aku sudah tahu, mengapa aku harus bertanya lagi?
"...sahabat baikku.." Ia memejamkan mata. Seolah berusaha mengingat kembali.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?"
Mulutku tak mau berhenti.
"Kenapa kau ingin tahu?" Olivia berdiri dari sisi trotoar. Sepertinya ia akan pergi. Kakinya bersiap melangkah. Aku berdiri.
"Apakah segitu pentingnya Rinto itu?"
Berhenti.
"Kau tidak tahu."
"Apakah kematiannya mengubah sifatmu jadi begini?"
Berhenti. Berhenti.
"Jika kau punya banyak waktu luang, gunakan untuk dirimu sendiri." Desisnya marah.
"Dia sudah lama mati."
Dan aku merasakan pipiku memanas kembali setelah sekian lama. Aku bahkan hampir lupa rasanya. Olivia menarik tangan kanannya dengan agak ragu. Ia menatap telapaknya sendiri.
"Maaf, Takahashi."
Ia berlalu.
Festival musim panas kurang seminggu lagi di pusat kota. Sedangkan tiket festival untuk Kagoshima kusimpan baik-baik di laci meja kamarku.
Aku sedang mengamati langit dari bagian tengah tangga di jalan menuju apartemenku.
Hari masih pagi. Namun panas mulai menyiksa diri. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan menyusuri kota. Siapa tahu aku menemukan sesuatu yang menarik.
Ornamen dan hiasan untuk festival mulai dipasang di jalan. Lampion-lampion mulai melintang, menghubungkan kedua sisi jalan. Anak-anak kecil tampak bersemangat membantu. Angin musim panas sama sekali tak mengusik mereka. Ah, betapa menyenangkannya menjadi anak kecil.
Aku terhenti di sebuah kedai Takoyaki yang sepertinya baru buka hari ini. Pemilik tempat itu baru saja memasang spanduk nama kedai―Takoyaki Happy. Dengan emoticon orang tersenyum di sisi kiri tulisan takoyaki. Merah dan kuning tidaklah buruk.
"Ojii-san, baru buka?" Sapaku. Paman yang baru saja menata peralatan masak takoyaki tersenyum ke arahku.
"Oh, hai anak muda!"
Aku duduk di kursi. Memesan takoyaki. Paman itu terkekeh dan mengatakan bahwa akan sedikit lama karena ia masih menata. Aku bilang tidak apa dan hanya ingin menghabiskan waktu saja. Paman itu masih sibuk menata perlengkapan.
Lalu paman itu mulai membuat takoyaki dan bertanya aku mau isi apa.
"Daging ayam saja."
"Maaf kau harus menunggu sebentar lagi."
"Tidak apa."
Mataku mendapati tumpukan lembar kertas di meja kayu yang agak jauh dari paman takoyaki itu.
"Ojii-san..itu, kertas apa?" Tanyaku.
"Oh, itu. Aku menggambarkan manga untuk anakku. Aku senang ia ingin mulai melakukan sesuatu, jadi aku membantu menggambarnya meski bekerja. Tapi, ceritanya tetap dari dia." Jelas ojii-san itu. Aku mengangguk pelan. Rupanya ojii-san ini orang yang baik. Ia membantu anaknya menggambar―
Eh? Manga?
Setelah makan takoyaki aku berakhir di taman kota. Aku duduk di bangku yang kosong. Menatap langit biru memuakkan di atas sana. Sedikit teringat masa lalu.
Konyol.
Sreek
Sreeek
Suara apa itu?
Aku menoleh ke belakang, kudapati seorang berambut pirang sibuk menggambar sesuatu. Bangku kami saling membelakangi, sehingga dia tidak tahu aku melihatnya. Tunggu..pirang..
Ia menggambar seseorang yang warna rambutnya serupa dengannya. Tapi..sepertinya itu gambar laki-laki. Siapa ya? Gambarnya...kurang bagus.
Ia menoleh dan memergokiku sedang mengintip aktivitasnya.
"Takahashi." Ia menyembunyikan buku sketsanya.
"Hiruzen-san..a-aku.." Kenapa aku jadi gagap begini?
Olivia hendak beranjak, namun kutahan tangannya. Ia terhenti tanpa menoleh sedikitpun padaku.
"Aku..minta maaf.."
Sulit sekali mengucapkan tiga kata itu.
Olivia tidak bicara. Ia melepaskan tangannya dan berlalu pergi. Hah. Menyebalkan. Mengapa aku selalu saja dalam posisi sulit begini, sih?
Ponselku berdering. Aku segera mengangkatnya tanpa melihat.
"Moshi-mo―"
"Benarkah ini dengan Takahashi Yohio-san?"
"I-iya?" ―ada apa ya? Mengapa terdengar panik? Ini siapa?
"Ibu anda Takahashi Prima mengalami kecelakaan. Kami sudah membawanya ke rumah sa―"
KLAK
"Kaasan!"
Aku berlari sekuat tenaga ke rumah sakit. Menyusuri trotoar dengan terburu-buru. Kaasan..kaasan..
Kecelakaan?
Aku tiba di pelataran rumah sakit dan menerobos perawat. Mereka memakiku bergantian. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin bertanya, tapi resepsionis tidak ada. Kemana aku harus―
"Apakah anda Takahashi Yohio-san?" Seseorang menepuk pundakku. Refleks aku menoleh. Kulihat seorang pria berusia sekitar 40-an berada di belakangku. Aku mengangguk meski tak mengenal orang ini.
"Saya Kagamine Len. Ibu anda mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan. Ia sekarang ada di ruang gawat darurat. Saya yang membawanya kemari."
Aku segera membungkuk terima kasih dan berlari mencari ruang gawat darurat. Ketemu. Tapi, pintunya tertutup. Aku juga tak bisa melihat meski ada kaca di pintunya. Aku hanya bisa berharap ibuku akan baik-baik saja. Setelah sekitar setengah jam, dokter keluar dari ruangan dan aku langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, dok?!"
Kaasan pasti baik-baik saja. Aku yakin. Lagipula Kaasan sudah berjanji akan menghabiskan liburan musim panas bersamaku.
Dokter itu melepas kacamatanya dan menggeleng pelan.
"Kami sudah berusaha, tapi.."
Aku menyerobot masuk ke ruang UGD. Pemandangan itu tersaji begitu saja di depanku. Aku mendengar bunyi panjang dari elektrokardiograf. Serta tubuh ibuku yang terbaring dengan penuh darah. Beberapa perawat di dalam menatapku iba. Aku diam di tempat. Tidak bergerak sedikitpun. Kaasan...
Bagaimana dengan janjimu padaku?
Ah.
Pipiku terasa basah.
Aku hanya berdiam diri setelah pemakaman ibuku kemarin. Mataku memanas. Tiket festival kurobek menjadi serpihan kecil dan kubuang ke tempat sampah. Benda itu sudah tak berguna sekarang. Kenapa, Kaasan pergi sekarang?
Ibu mulai bekerja sejak ayah meninggal. Tapi, kematian ayahku disebabkan olehku. Sewaktu SMP aku masih gemar berkelahi dengan siapa saja. Waktu itu ayah melindungiku dari para preman yang kuhajar tempo hari sebelumnya. Lukanya banyak dan kepalanya bocor. Sayang, aku terlambat membawanya ke rumah sakit. Aku masih ingat wajah sedih ibuku saat itu. Rumah bagai kapal pecah ketika aku kembali pulang seusai memberitahukan kabar kematian ayah dari telfon rumah sakit. Ibuku hanya menangis. Bahkan saat aku memanggilnya, ibuku menghiraukanku. Aku tahu. Ini salahku.
Salahku.
Kemudian aku mulai berubah. Menghindari perkelahian dan belajar layaknya siswa lain. Berusaha memahami materi yang kuabaikan selama ini. Memang tidak mudah, tapi aku harus berusaha agar ibuku tidak pusing memikirkan kelakuanku. Aku ingin ibuku senang. Ibu bekerja di sebuah perusahaan selama dua tahun dan naik pangkat. Tapi, kami harus pindah ke Oita untuk mempermudah akses pekerjaan ibuku. Pekerjaannya menyita seluruh waktu kami bertemu. Kami jadi jarang berbicara. Mungkin ibuku membenciku sejak saat itu dan muak melihatku. Aku menyampingkan hal itu dan terus berharap kami bisa tertawa kembali seperti dulu. Aku bertahan untuk satu alasan itu. Festival musim panas ini adalah langkah awal untuk memperbaiki hubungan kami. Tapi...
Bagaimana sekarang?
Isakku kutelan paksa.
.
.
.
.
.
Hari ini festival dibuka. Orang-orang berlalu lalang memenuhi jajaran stand di area festival. Memang ramai. Aku memilih menaiki ferris wheel untuk menghilangkan penat. Wahana ini menunggu pengunjung yang lain masuk. Hanya kapsul ini yang masih tersisa banyak ruang. Kembang api mulai meledak di udara. Aku hanya menatap kosong ke arah langit. Aku sekarang tidak tahu harus apa. Musim panas yang seharusnya menyenangkan justru menjadi begini. Sudah beberapa hari sejak ibuku tiada. Seorang pria bernama Kagamine Len yang kutemui waktu itu bilang dia mau saja membiayai kehidupanku, karena ia merasa bertanggung jawab terhadapku selaku atasan ibuku. Tapi...
DUARR!
Suara itu memenuhi pikiranku. Ikut meledakkan perasaanku. Hanya ibuku yang memberiku arti hidup. Dan sekarang, aku kehilangannya? Mengapa kisah hidupku bagai drama picisan saja?
DUARR!
Kueratkan kepalan tanganku. Sedih, marah, kesal...aku..aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan isi hatiku yang campur aduk ini.
"Takahashi?"
Aku mendongak. Melihat Olivia menatapku bingung. Ia mengenakan yukata biru muda dan membawa kembang gula di tangan kanannya. Dia juga ingin menaiki ferris wheel?
"Bukankah kau harusnya ke Kagoshima?" Tanyanya dengan nada heran.
Aku diam.
Aku sekarang mengerti mengapa Olivia ingin bunuh diri saat itu.
Olivia duduk di depanku. Hatiku terlalu kacau bahkan untuk sekedar merespon. Wahana ini bergerak perlahan ketika Olivia telah masuk dan menutup pintu. Kami hanya larut dalam pikiran masing-masing. Olivia melihat ke arah luar, memandangi puluhan kembang api yang menghiasi langit malam―hingga Olivia menyodorkan kembang gulanya padaku.
"Untukmu, Takahashi."
Aku sedikit mendongak menatapnya. Sayangnya, kenyataan tidak semanis kembang gula. Inikah yang Olivia rasakan saat kepergian Rinto, sahabatnya? Rasanya hidup bagai tak bermakna begitu kehilangan orang yang berharga bagi kita.
DUAR!
Kembali, bunga api meledak di udara.
"Rasanya manis, kok." Tawarnya. Ia tersenyum ke arahku.
Hah?
Aku mengerjapkan kedua mataku, tidak percaya.
Olivia..
Tersenyum?
Untukku?
"Ambillah, Takahashi."
DUAR! DUAR!
Senyum yang sangat indah. Apalagi saat terkena cahaya dari ledakan kembang api dari sisi kiri. Menimbulkan efek bayangan yang membuatku tak berkedip selama beberapa detik. Aku hanya balas tersenyum.
DUAR! DUAR! DUAR!
Sayangnya kita bukan teman.
―Owari―
A/N :
sudah tamat.
Kenapa jadi gini ya ceritanya? Gomen alurnya dicepetin ehehe*digampar*
bikin 1st POV susah bener ya, fuuhhh*sweat* gomen lama. Idenya kagak dateng2 OwOb . Panda kira semua tahu siapa paman takoyaki itu xD fufufu~
Untuk next chapter semacam spin off dan menggunakan 3rd POV. Tentang ayah angkatnya Rinto. Yang mau silahkan baca, yang gak mau ya udah (?) (ク ̄へ ̄)ク *dibakar idup2* yang jelas akan menjelaskan semuanya secara jelas dari awal (?)
Bikinnya sambil dengerin dareka no sei ni wa shinai (don't blame someone else) - SKE48 dan sedikit kontaminasi (?) dari Hemenway-By my side /promo/ ya sudahlah. Sampai jumpa di fanfic berikutnya! Atau..mau baca fic Panda yang lain? xD /promo season 2/ silahkan cek profil Panda yaa xD
Saya tahu begitu banyak kekurangan saya disini. Karena itu ijinkan Panda memohon maaf sekali lagi (_ _)
Sayonara! XD/
