Rewrite The Stars
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer: I do not own Naruto. Title is from Anne-Marie James Arthur's song
Warning: AU. Multi chapters. SASUSAKU. Slight!SasuIno. Past!GaaSaku. Klise. Typos (do tell if you find any). AbsurdButAdorable!Sakura. contain spoiler for Titanic
Summary:
Pemuda Misterius bertanya, "Siapa yang sedang kau pandangi?" Tanyanya padaku yang sedang terpaku memandang seorang Pemuda Tampan dari kejauhan
"Aku tidak sedang memandangi. Aku sedang mengagumi—dari jauh."
Pemuda itu jelas tidak percaya dengan sanggahanku, karena selanjutnya dia mengatakan; "Orang menyebutnya menguntit."
o
O
o
Chapter 9
Puzzle piece
o
O
o
"Kau masih belum menceritakan padaku tentang sekolahmu." Suara Shizune terdengar menuntut di telinga saat aku mengeluarkan baju basah dari dalam mesin cuci dan memasukannya ke keranjang. "Aku sama sekali tidak mendengar cerita apapun darimu. Buruan cerita!"
Aku membersihkan tenggorokan, mencoba mengulur waktu. "Aku akan membuat petisi meminta pemasangan elevator di sekolah. Rasanya betisku mau pecah setiap hari naik turun tangga."
"Sakura, aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan, dan itu tidak akan berhasil." Katanya. "Apa orang-orang di sana kejam seperti Yura dan Nana?" tanya Shizune dengan nada tidak senang. "Kalau iya. Kau harus melawan mereka dan..."
"Shi!" Aku tertawa, "mereka tidak sekejam Nana atau Yura." jawabku, namun kembali mengingat konfrontasiku dengan salah satu siswa di parkiran tentang Sasuke. "Walau ada seseorang yang menyuruhku menjauhi Sasuke." Lanjutku.
Shizune diam, aku meringis menunggu reaksinya. "Sasuke? Siapa Sasuke? Jangan bilang kau mengencani seseorang tanpa sepengetahuanku? Apa dia tampan? Pakai kacamata? Nerdy?" Tanya Shizune beruntun. "Kenapa kau tidak menjawabku?"
"Kau tidak memberiku waktu untuk menjawab!" Aku tertawa membayangkan Shizune tengah memutar bolamata. "Dia saudara tiriku."
Hening.
"Jangan bohong."
"Kenapa aku harus berbohong..."
"Jadi dia kakak tirimu? Kenapa kau tidak menceritakan tentang dia sebelumnya?" Jeda sebentar, "apa aku boleh berkunjung?"
Aku tertawa mendengarnya, "Tentu saja. Aku sudah lama tidak melihatmu. Tapi kuberitahu ya, dia main tiga olahraga."
Shizune menahan nafas, "Masa?"
Aku mengangguk, "Iya."
"Kau tinggal serumah dengan tipikal orang yang paling ingin kau benci?" Tanya Shizune, "saat masij di sini, kau bahkan tidak bisa bernafas jika dekat dengan mereka."
"Aku bukannya membenci mereka," aku mengoreksi. "Aku hanya...seketika membeku dan tidak bisa berpikir jika berada di sekeliling mereka." Aku menatap gelang yang melingkari pergelangan tanganku seperti jimat.
"Aku memahaminya." Kata Shizune lembut. "Mungkin ini pertanda baik. Maksudku, dengan adanya Sasuke, kau setidaknya tidak lagi lari setiap kali berpapasan dengan pria populer sepertinya, kan?"
"Dia berbeda." Kataku, walau aku tidak tahu apa perbedaannya. Aku tidak tahu secara pasti apa yang membuat Sasuke berbeda dari pria populer lainnya, aku hanya merasa demikian. "Dia sudah punya pacar."
"Itu tidak membuatnya berbeda, Sakura."
Aku mengangguk setuju, "Ya, kau benar." Aku mendesah, aku tidak suka perasaan takut yang tiba-tiba aku rasakan sekarang. "Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, aku hubungi lagi nanti ya!"
Aku memutuskan panggilan sebelum sahabatku bisa memprotes. Aku menyandarkan tubuhku pada mesin cuci, menatap kosong tangga yang menjadi jalan satu-satunya ke basement ini. Menghela nafas, dengan cepat aku masukan pakaian basah ke dalam pengering dan menyalakannya.
Aku keluar dari ruang laundry sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Ibu dan Paman Fugaku sedang pergi kencan ( iya, mereka masih pergi kencan secara teratur, manis sekali, bukan?) dan Sasuke sedang keluar bersama Ino. Hiro sedang ada play-date di rumah temannya. Itu artinya aku berada di rumah sendirian.
Aku tengah mencuci piring saat mendengar bel berbunyi. "Siapa ya?" Gumamku sambil mengelap tangan dan berlari menuju pintu depan. Aku memastikan penampilanku cukup rapi di cermin dekat pintu sebelum membukanya.
"Ayah!" Aku terpekik senang.
Ayah dengan cakap menangkap tubuhku yang melompat ke pelukannya, dia tertawa walau sempat sedikit terhuyung ke belakang. "Sakura, Sayang." Ayah terkekeh, membuatku tersenyum dengan panggilan sayangnya. Aku memeluknya erat dan dibalas tak kalah kuat. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Ayah saat aku mengajaknya ke dalam dengan senyum lebar.
"Semuanya indah," jawabku, semua perasaan tidak menyenangkan yang tadi aku rasakan menghilang. "Ya Tuhan, Ayah, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya aku tidak senang, tapi ini sama sekali tidak terduga. Apa Ayah lapar? Aku bisa buatkan sesuatu, aku juga belum makan, tapi..." aku menjeda, "sini coat-nya. Ayah mau minum apa? Apa ayah lelah? Mau istirahat?"
"Sakura, tarik nafas dulu, Nak."
Aku berhenti berbicara dan menarik nafas, tertawa melihat ekspresi Ayah. Ayah tersenyum sebelum menutup pintu dan melepaskan sepatunya.
"Sepertinya peranmu sebagai tuan rumah yang baik masih belum berubah,"
"Tentu saja," responku, "Di mana Mama? Dia sehat, kan? Ya Tuhan, aku tidak mengobrol dengan Ayah selama sehari, aku kangen..."
Sungguh, aku merindukan tawa dan pelukan hangatnya. Aku bahkan merindukan komentar sarkasme dan ceramahnya.
"Ayah juga merindukanmu, Tsunade sehat. Oh! Dia menyuruhku memberikan ini." Ayah mengambil sesuatu dari jaketnya dan menyerahkan sebuah boks panjang tipis padaku. Penasaran, aku mengintip isi bingkisan itu saat Ayah membuka tutupnya. "Dia ingin memberikannya langsung padamu, tapi saat Ayah bilang akan berkunjung ke sini, dia suruh Ayah membawanya."
Aku terperangah, "Ini cantik sekali!" Bisikku melihat sebuah jam tangan silver-pink di dalamnya. "Harganya pasti..."
Ayah menggeleng, "Tsunade memintamu agar tidak usah memikirkan harganya."
Aku tertawa, dapat aku bayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat mengatakannya. Mataku melembut saat menerima kotak jam itu. "Aku akan meneleponnya dan mengatakan terimakasih secara langsung. "Ayo, Ayah... kita makan dulu!"
Kami mendudukan diri di meja makan dan aku mengeluarkan kue simpananku. Aku tahu kue seharusnya adalah makanan penutup, tapi aku dan Ayah memiliki kebiasaan untuk memulai makan dari dessert lebih dulu.
Aku menyalakan kompor dan mulai memasak nasi saat Ayah membuka mulut.
"Jadi bagaimana sekolahnya?"
"Ayah sudah bertanya tentang itu," aku mengingatkan, "dan jawabannya masih sama."
"Ayah yakin tidak seburuk itu."
Aku memutar bola mata dan mulai memotong sayuran. "SMA selalu kejam pada murid baru. Aku yakin ada banyak orang sepertiku di luar sana." Kataku sambil mengayunkan pisau. "Mungkin kami bisa berkumpul bersama dan membuat kelompok sendiri."
Hey, aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Aku pikir ini ide yang brilian!
Ayah menatap pisau di tanganku was-was. "Mungkin kau sebaiknya meletakannya dulu sebelum kau mencongkel mata Ayah dengan benda itu."
"Oh." Kataku setelah menyadarinya dan meletakan pisau itu di meja. "Anyway, ada acara apa Ayah melakukan perjalanan empat jam sampai ke sini?"
"Ada beberapa dokumen yang harus Ayah ambil di kota sebelah. Sekaligus memberikan kejutan padamu."
Aku tersenyum. "Kejutan yang bagus."
"...dan kau malah hampir menusuk Ayah dengan pisau."
Aku mengedip dan melihat tanganku yang sudah kembali memegang pisau dengan mata pisau menghadap ke depan. "Anyway, Ibu dan Paman Fugaku sedang keluar untuk kencan, Hiro di rumah temannya dan Sasuke sedang bersama kekasihnya."
"Lalu apa yang sedang kau lakukan tadi?"
"Cuci piring, baju... hal-hal yang menyenangkan."
Aku sedang tertawa masih di hadapan piringku saat Sasuke dan pacarnya memasuki ruangan. Ayah berhenti terkekeh hampir seketika namun butuh beberapa saat buatku menyadari ada orang lain di dalam dapur. Aku menarik nafas, yakin bahwa wajahku pasti sudah berwarna ungu. "Hai guys!" Sapaku sebelum kembali mengatur nafasku.
"Hai, Sakura, Selamat siang, Pak." Sapa Ino, tersenyum cantik.
"Hai," kata Sasuke, wajahnya impasif. Dia mengangguk ke arah Ayahku. "Pak Haruno?"
Ayah mengangguk, wajahnya sama tanpa emosi. Aku menahan diri untuk tidak mendengus geli. Ayah senang berpura-pura dingin dan tidak peduli, walau watak sebenarnya adalah kebalikannya. Tanya saja Mama Tsunade atau Ibu. Aku tidak mengerti apa tujuan Ayah menyembunyikan sosok hangatnya.
"Halo," Ayah mengangguk pada Ino sebelum menatap pria yang lebih muda. "Sasuke, senang bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?"
"Baik, terimakasih. Anda sendiri?"
Dengan mata melebar, aku mencoba untuk tidak menyemprotkan makanan yang tengah aku kunyah. Sejak kapan mereka jadi begitu... formal?
Aku menatap Ino sambil mengangkat kedua alis, gadis pirang itu hanya tersenyum dan mengedikan bahu, seakan mengatakan 'mana aku tahu?'.
Terhibur, aku kembali menyuap nasi dan mengunyah sambil berpikir. Kedua pria masih meneruskan percakapan formal mereka, sedang aku mencoba untuk tidak jatuh tertidur. (Bercanda.)
"Jadi bagaimana kencan kalian?" selaku saat percakapan Sasuke dan Ayah sudah mulai menuju level kecanggungan selanjutnya. Wajah Ayah datar, ekspresi yang biasa ia tunjukan di persidangan, sedang Sasuke terlihat seperti... well, Sasuke.
Sasuke seharusnya lebih sering tersenyum. Dia memiliki senyum yang indah.
Semua mata tiba- tiba tertuju padaku.
"Apa?" tanya Sasuke, ekspresinya berubah aneh.
Aku ikut menatapnya bingung sebelum kesadaran menghantamku seperti tinju. Ya Tuhan. Tadi aku tidak mengatakannya keras- keras kan? Oke! Oke, pura-pura tidak tahu saja. Maksudku... bersikap inosen saja. Yap. Aku yakin aku tidak menyebutkan nama siapapun.
Jeda.
Atau aku sebutkan?
Sial.
"Um, apa?" Tanyaku dengan nada yang aku harap penuh kebingungan, namun suaraku terdengar melengking. Aku merasakan rasa panas yang melanda wajahku, dan mengabaikan wajah terhibur Ayah. Bagus sekali, Ayah pasti akan menjadikan momen ini menjadi bahan ejekannya.
"Siapa yang punya senyum indah?" Tanya Ayah kasual, jemariku gatal ingin melemparkan sesuatu.
Senyumku membeku, pipiku terbakar dan mataku melirik ke arah Ino yang tengah mengangkat sebelah alis, namun wajahnya sama sekali tidak terlihat terhibur.
Ah. Tidak, aku tidak ingin menambah satu musuh lagi! Maksudku, dia tidak memiliki alasan untuk membenciku, karena aku adalah gadis yang baik. Oke, mungkin aku memiliki beberapa kekurangan, tapi mana ada manusia yang sempurna? Tapi jujur saja, ekspresi di wajahnya tidak membuatku tenang.
"Seseorang... yang aku temui beberapa hari lalu!" Jawabku akhirnya, "dia punya senyum paling indah yang pernah aku lihat, dan barusan aku sedang memikirkan dia dan senyumannya."
Aku hampir membenturkan kepalaku ke meja makan. Sejak kapan aku jadi sebodoh ini?
Dengan putusasa aku memandangi lantai, mencoba mencari lubang yang bisa aku gunakan untuk mengubur diri dan tinggal sampai rasa maluku hilang (yang mungkin akan membutuhkan waktu satu dekade). Aku menarik nafas dan menatap Ayah, alisku berkedut.
Dia terlihat seperti orang menahan buang air besar.
Bagaimana bisa dia menertawaiku? Dia seharusnya membantuku melewati momen memalukan ini, bukannya menertawaiku.
"Begitu," respon Sasuke setelah beberapa saat.
Aku menghembuskan nafas lega, masih tidak berani menatapnya. Atau Ino. Entah apa yang dia pikirkan. Aku menahan diri untuk tidak melompat kegirangan saat keduanya menarik diri untuk pergi ke kamar Sasuke.
Ayah pada akhirnya tertawa lepas, "Kau membuat perutku sakit," katanya sambil memegang perut.
Aku memelototinya. "Ayah bukannya membantu, malah memojokanku."
Ayah menggelengkan kepala masih terkekeh, "Kalau saja kau bisa melihat ekspresi wajahmu tadi."
Ayah melihat penderitaanku sebagai bahan hiburan. Aku mencoba untuk tidak merengut dan menatap dinding.
"Dia terlihat tertutup." Komentar Ayah saat aku mulai membereskan meja. Aku mengernyit namun tidak berkata apapun. Aku mendesah lega saat merasakan air keran mulai membasahi tanganku. Bersih-bersih membuatku tenang.
Ya aku tahu, aku kedengaran menggelikan. Tapi aku memang sedikit psikotik.
"Apa kau dan ibumu pernah membicarakan ...tentang itu?" Tanya Ayah hati-hati, walau pertanyaannya seperti bom yang baru saja dijatuhkan ke dapur. Aku merasakan tekanan familiar di dada.
"Tidak secara langsung." Jawabku sambil membuang sisa makanan. "Apa ini alasan Ayah datang, untuk memastikan aku tidak melakukan hal bodoh?"
Ayah berdiri mendengar nada suara tidak percayaku. "Bukan, kau tahu bukan itu alasannya."
"Tapi itu salah satunya, kan?" tuduhku, "Berapa kali harus aku katakan kalau aku bisa mengatasinya, Ayah?"
Aku melihat kemarahan dan kecemasan di matanya. "Dengan mengatakan kau bisa mengatasinya, tidak lantas membuatmu kau baik- baik saja."
"Nyatanya aku baik-baik saja." Aku berbalik menghadap bak cuci, menggosok-gosok sampai tanganku berubah menjadi kemerahan. "Aku sudah menceritakannya padamu, pada Mama dan Shizune. Perlu pada siapa lagi? Apa Ayah ingin aku mengatakannya pada seluruh dunia?"
"Bukan itu maksud Ayah," dia mendesah, "ini tidak benar."
Aku berbalik menghadap Ayah, "Apanya yang tidak benar?" Nada suaraku terdengar lebih tinggi dari yang aku rencanakan. Aku mencoba menghitung sampai sepuluh namun menyerah hanya sampai hitungan dua. "Aku baik- baik saja," aku bersikeras. "Aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang bunuh diri, kalau itu yang Ayah cemaskan."
Aku memutar bolamata, memang untuk alasan apa aku ingin mati? Setidaknya hidup masih terlalu indah untuk mati hari ini.
Kami berdua terdiam, kecuali suara tetesan air keran pada gelas.
"Ayah bicara pada Shizune tiga minggu lalu," katanya pada akhirnya.
Aku menghentikan semua pergerakanku dan menatap Ayah yang menatapku lekat. Perasaanku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Aku menelan ludah, dapur rasanya menjadi sangat sempit dan panas.
"Oh?" Aku mencoba membuat suaraku senetral mungkin sambil berbalik menghadapi piring kotor lagi.
Jadi Ayah mengobrol dengan Shizune. No big deal.. Shizune selalu menyenangkan untuk diajak mengobrol. Mungkin mereka kebetulan bertemu di minimarket, dan mengobrol. Tentu saja mereka harus saling menyapa, kalau tidak malah tidak sopan!
"Dia meneleponku." Ayah meneruskan.
Apa? Apa yang Shizune lakukan? Aku hampir menjatuhkan gelas dari tangan bersabunku. Oke, aku tahu Shizune sangat senang berbicara, tapi untuk apa dia menelpon ayahku? Kenapa dia tidak menelepon salah satu teman sekolah kami saja kalau sekedar ingin mengobrol?
Tiga minggu yang lalu, itu artinya aku masih tinggal bersama ayah.
"Kalian membicarakan tentang aku!" Aku berbalik dan menatap Ayah tajam. "Untuk apa kalian..."
"Kau tidak pernah melihat bagaimana terkadang tatapan matamu..."
Aku terkejut mendengar nada suara Ayah, dia terdengar begitu... entahlah. Aku menatapnya, Ayah terdengar begitu letih. Terganggu. Takut? Aku memiringkan kepalaku, dia menggeleng dan membersihkan tenggorokan.
Aw, Ayah. Dengan topeng luarnya yang dingin, tapi aku tahu dia rela mati untuk orang-orang yang ia cintai.
Ayah terkekeh, membuka lengannya mengisyaratkan agar aku melangkah menuju pelukannya. Aku memeluknya erat, merasakan tenggorokanku tercekat. "Ayah tahu kau tidak baik-baik saja." Bisiknya di telingaku.
Aku tersenyum di dadanya, menakutkan betapa Ayah bisa mengetahui setiap kali aku berbohong. Lepas dari pelukannya, aku memberikan senyum cerahku. "Aku akan selalu baik-baik saja."
Ayah mengamatiku, "Kau berteriak setiap malam dalam tidurmu, apa kau tahu itu?"
Mataku sedikit melebar mendengarnya, jantungku berdegup kencang. Aku pikir mereka selalu tidur lelap. Maksudku, aku juga selalu menutupi wajahku dengan bantal untuk meminimkan suaraku.
Aku memalingkan wajah, membersihkan tenggorokanku. Aku tidak mendengarnya. Tolong jangan biarkan Ayah melanjutkan obrolan ini. "Jadi, apa Ayah mau menonton film?"
Ayah menyipitkan matanya, bersiap membuka mulut. Aku melihat ketetapan di matanya, dia tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Namun Sasuke— Tuhan memberkatinya— berjalan menuju dapur, pandangannya tegas.
"Sasuke" suaraku penuh kelegaan, "di mana Ino? Apa kau mau snack?" Aku mulai mencari sesuatu di dalam pantri saat merasakan dia berdiri di dekatku. Aku memutar tubuh dan melihatnya sangat dekat denganku. Aneh.
"Tidak usah, terumakasih." Suaranya tergesa. Terkejut, aku mundur selangkah dan melihat Sasuke menghadap Ayahku. "Boleh bicara dengan anda berdua saja, Pak Haruno?"
Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum Ayah mengangguk dan melangkah menuju pintu depan. Aku hanya dapat melihat dengan tatapan tidak percaya.
Um, apa yang sedang terjadi?
Aku ingin menguping, tapi itu bukan caraku. Maka dari itu, aku tetap di sini dan menyelesaikan pekerjaanku. Aku tengah mengeringkan tanganku saat Ayah masuk kembali, wajahnya tenang dan tak terbaca. Sasuke entah di mana.
"Apa yang kalian...?" Tanyaku detengah jalan, namun tidak aku teruskan. Sepertinya aku tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
Sungguh.
"Bukan apa-apa. Tapi Ayah harus segera pergi." Suaranya penuh penyesalan, aku merasa sedih seketika. "Telepon Ayah besok."
Aku mencoba tersenyum. "Pasti, Yah." Aku mengantarnya menuju mobil dan memeluknya. "Hati-hati."
Ayah mencium keningku sebelum memasuki mobil. Aku mundur dan melambaikan tangan saat jendela mobil terbuka. Aku mencondongkan tubuhku mendekat, Ayah terlihat intens dan serius. "Sasuke adalah pemuda yang baik." Kata Ayah, "dan dia akan menjagamu dengan baik."
Apa?
Terkejut, aku tidak bisa mengatakan apapun saat Ayah mulai menjalankan mobil dan tersenyum ke arahku. Aku melihat mobil familiar itu menghilang dari pandangan sebelum melangkah masuk rumah.
Apa maksud Ayah?
o
O
o
Semua adalah tentang kehati-hatian, menjaga sikap, dan diam. Aku menyapukan pandangan ke sekitar sebelum kembali pada makan siangku. Orang di sekitarku sedang mengobrol dan bercanda penuh tawa. Aku bahkan hampir tidak bisa mendengar inner monologku sendiri. Untung saja aku terlahir pandai.
Makan siang adalah waktu yang tidak begitu aku suka. Aku tahu kau pasti berpikir ada yang salah denganku. Bukannya aku tidak bersyukur dengan gerombolan yang mengelilingiku ke manapun aku pergi. Hey, aku bahkan senang mempunyai seseorang untuk diajak mengobrol.
Hanya saja, aku tidak tahu apapun tentang mereka. Tentu saja aku sudah mencoba berbicara dengan mereka satu per satu. Namun mereka hanya tersenyum dan balik bertanya padaku, seperti akulah yang lebih menarik untuk dibahas di sini. Halo, aku sedang berusaha mengenalmu lebih dalam, beri aku kesempatan!
Oke, berteriak di dalam otakku tidak bisa menyelesaikan masalah. Setidaknya aku sudah mengenal beberapa orang, mereka orang yang sangat baik, kalau kau mengabaikan tatapan sinis mereka pada siswa di meja lain yang kata mereka 'jauh di bawah mereka'.
Aku mengigit double meat burger-ku. Mungkin aku bisa merubah cara pandang mereka. Mungkin aku bisa membuat mereka melihat bahwa berat badan dan penampilan bukanlah segalanya.
"Ada berapa banyak kalori di situ?" Shion menatapku dengan raut wajah tidak percaya, memecah lamunanku.
Aku menatapnya, wajahku seketika terbakar merasakan seluruh mata tertuju padaku dan percakapan di meja kami seketika hening. Aku menunduk menatap burger di tanganku dan ganti menatap wajah Shion yang terlihat menahan sakit.
"Um, kau mau?"
Ok. Pertanyaan itu adalah sebuah kesalahan. Aku sungguh bodoh.
"Tidak!"
Wajahnya hijau seketika, aku tidak yakin itu pertanda baik. Buru-buru aku letakan burgerku ke dalam bungkusnya dan melempar senyum ke arahnya. Seperti mengatakan, 'tidak ada yang bisa dilihat lagi di sini'.
"Ya ampun Shion, sikapmu seperti kau tidak pernah makan saja." Komentar Ino, memutar bolamata. Dia tersenyum dan mengedip padaku. "Aku pikir kau dan aku adalah satu-satunya gadis yang makan dengan benar di sini."
Aku melihat pizza di piring Ino dan tersenyum.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tetap kurus," kata Shion mengerutkan hidungnya menatap Ino yang mengigit pizza dan menyandar di lengan Sasuke.
Sasuke. Benar! Aku mencuri pandang ke arahnya dan membeku saat mata kami bertemu. Aku melemparkan senyum lemah ke arahnya dan memalingkan wajah.
Ini membuat pikiranku kacau. Aku menggigit bagian dalam pipiku dan minum dari botol airku. Aku kembali memikirkan apa yang kemungkinan dibicarakan oleh Ayah dan Sasuke dua hari yang lalu. Aku tidak mengobrol sama sekali dengannya yang sepertinya tengah menghindariku.
Sebenarnya kebalikannya, akulah yang menghindarinya. Itu karena luka lama yang terbuka, dan sama sekali bukan salahnya. Tapi setiap kali aku bersamanya, aku merasa seperti dia bisa membacaku dan pikiranku dengan jelas hanya dalam sekali pandang...
Dan itu menggelikan. Mungkin rendahnya waktu bacaku akhir-akhir ini membuat imajinasi dan pemikiran psikotik di kepalaku meliar. Aku sepertinya kekurangan asupan fiksi imajinatif. Mungkin aku bisa jadi gila, inilah yang terjadi kalau kau tidak pergi ke perpus lebih dari tiga hari. Kegilaan!
Catatan: Pergi ke perpus sepulang sekolah.
"Kau baik- baik saja, Sakura?" tanya Ino.
"Iya," aku melemparkan senyum brilian ke arahnya. Bagaimana kalau aku mengatakan pemikiranku keras- keras seperti kemarin? Aku memiliki kebiasaan bibir yang berbicara lebih dulu sebelum berpikir, seperi dua malam yang lalu di dapur. Mari jangan bahas tentang hal itu lagi.
"Jadi, Sakura..." kata Ino kasual, aku mencoba memusatkan perhatianku padanya, mengabaikan pipiku yang kembali terbakar saat semua mata lagi-lagi menatap arah kami. "Dari kemarin aku ingin bertanya,"
"Iya?" Aku tersenyum.
"Kau mau jadi anggota cheerleader?"
Hening total. Kau mungkin bisa mendenger kalau ada jarum jatuh di meja kami. Rahangku jatuh. Dan walau otakku membeku, aku mencoba untuk tidak menampakan wajah tidak senang, karena itu tidak sopan.
"Um," mulaiku, Ya Tuhan, apa saja asal jangan cheers! Oke mungkin aku terlalu berlebihan. Aku hanya tidak mau menari dan melompat-lompat dan berputar membalikan tubuh di udara...
Intinya, aku sudah tidak ingin melakukan cheers sejak berbulan-bulan lalu. Dan aku tidak berencana bergabung di grup yang sejenis itu lagi.
"Terimakasih tawarannya," kataku, "tapi apa tidak terlalu telat?" Aku berhenti dan mengingat percakapanku dengan Sasuke beberapa malam lalu. Mereka ingin mengamankan posisiku untuk tahun depan. Mereka memikirkan masa depanku. Aku memikirkannya lagi, sebenarnya mereka baik menawariku, aku tidak bisa menyangkalnya. Ada berapa banyak lagi orang yang mereka berikan posisi ini?
"Apa?" Sebuah suara menyeruak. Aku melihat seorang gadis berambut hitam menatapku tajam dari meja seberang. Jelas sekali dia menguping pembicaraan kami. "Aku sudah berusaha untuk bisa bergabung dengan squad cheers selama tiga tahun!"
Apa?
"Benarkah? tanyaku, senang. Oh, Bagus sekali, dengan begitu aku bisa menghindar dan tidak perlu—
"Kin," kata Ino dengan senyum lembut, "kau tahu kalau menguping itu tidak baik, kan?" Nada suaranya terhibur.
Ekspresi gadis berambut hitam itu penuh amarah. "Terus? Kenapa kau—"
Ino menatapnya tajam kali ini. "Kin, cukup. Aku yang memutuskan siapa yang bisa bergabung dengan squad-ku dan siapa yang tidak. Pemaksaan darimu tidak akan mengubah pikiranku."
Mereka menatap satu sama lain dengan intens sebelum Kin mendengus dan membalikan badan kembali ke mejanya. Ino kembali menyandar di lengan pacarnya sambil menyesap minuman, menunggu jawabanku. Aku duduk di sana, lumpuh karena rasa gugup.
Mereka tidak bisa memaksaku. Duh. Aku memaksa tubuhku untuk rileks dan melemparkan senyum kalem pada Ino. Namun aku membuat kesalahan dengan melihat ke sebelahnya dan menemukan Sasuke tengah menatapku dengan pandangan... terhibur? Kenapa dia?
Saat Sasuke menyadari perhatianku tertuju padanya, bibirnya terangkat membentuk senyum miring dan matanya seolah berkata; Kena kau.
Aku menatapnya kesal. Bagaimana dia bisa mengejekku di saat genting seperti ini? Tidakkah dia seharusnya mengalihkan perhatian Ino agar aku bisa kabur? Dia harusnya bilang pada Ino kalau melompat dan salto di udara tidak cocok untukku! Aku kan sudah mengatakan itu padanya!
"Jadi bagaimana?" Ulang Ino.
"Um." Aku menjeda penuh strategi, "tidak, terimakasih."
Penolakan yang tidak buruk, kan?
Seluruh meja terdiam.
Oke. Aku tarik kembali. Itu adalah penolakan yang sangat buruk.
TBC
AN: Idk for sure when my baby is due ( the doctor told me the due date will be on next month, but we don't know for sure, right? It can be tomorrow or even today) but hopefully I can still update this on regular basis even after my baby is born.
So before that, I am going to spoil you guys with updates as soon as I finish writing them (I am two chapters ahead right now.)
Thank you for the never ending support
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
