Arendelle, 8 tahun kemudian

Kai menghela nafasnya. Menyelesaikan tugas hariannya memang melegakan. Tidak ada yang berat dari hal itu. Hanya saja, sangat menjemukan. Kai sudah melakukannya bertahun-tahun, dia terbiasa, hingga menjadi teramat bosan.

Tapi tak ada yang salah dengan kinerjanya. Bahkan Raja Damian mengakuinya. Yah.. Raja Damian dari Arendelle. Sosok pemimpin Arendelle yang paling kontroversial, mungkin kedua setelah Ratu Elsa.

Penobatannya sebagai raja Arendelle sendiri sudah membawa masalah. Bukan masalah dari internal Arendelle, yang memang mendukungnya, namun permasalahan dari warga Arendelle itu sendiri. Berbulan-bulan lamanya Raja Damian mencoba mencari kepercayaan dari warga Arendelle. Bahkan setelah 8 tahun berlalu, Raja Damian masih selalu berhati-hati. Dia memperhitungkan tindakannya dengan cermat, agar tak menjadi sandungan kepada dirinya sendiri.

Delapan tahun yang lalu, yah, sudah selama itu waktu berlalu. Kai masih ingat betul, bagaimana para pejabat Arendelle, termasuk Raja Damian, mengarang cerita bohong mengenai 'kecelakaan' Ratu Elsa dan Putri Anna. Bahkan untuk memastikan cerita mereka masuk akal, diadakan upacara pemakaman palsu. Mereka berpura-pura bersedih, di hadapan dua peti mati yang diisi batu sebagai pemberat.

Semuanya seperti sandiwara yang buruk..

Raja Damian mati-matian ingin menutupi kenyataan. Dia tak mau rahasia itu terendus keluar. Mencoreng nama besar Arendelle, begitu kilahnya. Kai memakluminya. Bahkan Raja Damian memutuskan untuk
tetap mencantumkan nama keduanya dalam silsilah Arendelle. Aneh jika ratu dan putri itu tiba-tiba saja dihapus, tanpa alasan yang jelas.

Namun itu semua harus dibayar dengan harga setimpal. Tuduhan miring awalnya dialamatkan ke Raja Damian. Menyudutkannya dengan teori-teori konspirasi, kudeta, dan semacamnya. Rakyat Arendelle masih memandang raja barunya dengan tatapan ragu. Hal itu tidak mengherankan memang. Karena inilah lubang besar dalam rencana mereka. Tidak ada yang menduga, bahkan Adrias sekalipun, kalau-kalau rakyat Arendelle yang mengalamatkan kecurigaan atas kematian Ratu dan putri mereka.

Raja Damian akhirnya memperoleh kepercayaan rakyat Arendelle, walau dengan sangat lambat.

Analisa Adrias mengenai beliau memang tepat. Raja Damian adalah sosok pemimpin yang baik. Dia memikat rakyat Arendelle dengan prestasi gemilangnya. Raja Damian berhasil mengikat hubungan baik dengan banyak kerajaan, mengadakan kerja sama di berbagai bidang, dan memajukan kerajaan tersebut.

Mau tidak mau, rakyat menerimanya karena pencapaiannya itu.

Kai mendesah. Untuk sesaat, kenangan lama membanjiri kepalanya lagi. Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak, kembali ke kamarnya. Tiba-tiba luapan emosi menguasai dirinya kembali.

Kata-kata Putri Anna menghantuinya di setiap tidurnya..

"Mengapa cinta kami salah? Apakah ada cinta yang benar?Aku mencintai Elsa, hanya itu yang aku tahu.. "

Awalnya Kai yakin betul atas perbuatannya; menghukum kedua orang itu akan dosa mereka. Namun kejadian hari itu membuat Kai bimbang, terlebih lagi kalimat Putri Anna membuat kepercayaan dirinya ambruk. Di sisi lain, dia merasakan ikatan kepada Elsa dan Anna. Rasa kasihan, simpati, bercampur kemarahan, dan kebingungan, sering kali membuatnya tak tahu apa yang harus ia pegang.

Apakah ada cinta yang benar?

Kaget, Kai mendapati dirinya sudah berada di depan sebuah pintu. Tanpa sadar, kakinya membawanya berjalan ke sini. Dia membukanya itu dengan ledakan perasaan yang tak keruan. Ruangan itu kosong, dahulunya adalah ruang kerja pribadi Ratu Elsa. Ruangan itu memang sengaja dikosongkan, begitupula dengan bekas kamar mereka berdua.

Namun atas permintaan Kai, sebuah lukisan besar tergantung di salah satu dinding ruangan itu. Sudah menjadi kebiasaan di Arendelle untuk memasang semua lukisan pemimpin mereka. Aneh dan janggal jika lukisan Ratu Elsa tidak ada. Atas alasan itu, Raja Damian akhirnya meluluskan permintaan Kai.

Satu-satunya lukisan Ratu Elsa bersama Putri Anna berada di ruangan kosong itu. Hanya itulah lukisan mereka berdua yang ada di istana Arendelle. Lukisan itu dikerjakan beberapa minggu sebelum 'kecelakaan' yang menimpa keduanya. Seorang pelukis khusus kerajaan sengaja disewa untuk mengerjakannya. Ironisnya saat lukisan itu selesai, Raja Damian sudah dinobatkan.

Kai menatap lukisan tersebut. Ratu Elsa yang mengenakan pakaian kebesarannya, memegang tongkat kekuasaan, dan mahkota di kepalanya. Di sampingnya berdiri Putri Anna, yang mengaitkan lengannya kepada tangan kakaknya. Sebuah pose yang tidak biasa, bahkan si seniman yang mengerjakan lukisan itu terheran-heran. Namun, hal ini atas permintaan Yang Mulia Ratu sendiri, dan dia tidak bisa menolaknya.

"Mengapa cinta kami salah? Apakah ada cinta yang benar?Aku mencintai Elsa, hanya itu yang aku tahu.. "

Kata-kata itu kembali menggaung di relung hati Kai. Dia menepuk-nepuk pelan dadanya sendiri. Air mata kesedihan mulai menggenang di ujung matanya.

Bagaimana jika mereka tidak terlahir sebagai kakak-adik?

Bagaimana jika mereka terlahir dalam keadaan yang berbeda, bukan sebagai bangsawan Arendelle?

Apakah cinta mereka akan menjadi... benar?

Sejak hari itu, Kai tidak pernah mendengar berita mengenai mereka berdua. Kai tak tahu, apakah mereka masih hidup, atau tidak. Dia hanya berharap keduanya kini bahagia. Mereka sudah melalui teralu banyak kejadian pahit. Mereka berhak mendapatkan kebahagian itu...

Kai membungkuk, memberikan hormat terakhirnya. Kemudian dia beranjak keluar dari ruangan itu.

Selesai