Chapter : Chapter 10-Final Chapter

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

LOVE IS RED-FINAL CHAPTER

Genre : Crime, yaoi-shounen ai

Boys x Boys

Cast : Kim Myung Soo,Lee Sungyeol Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

.

Jessica menggelengkan kepalanya. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum seolah ia terlarut dalam kisah manis yang diucapkan oleh Sungyeol. ia seolah mendengar kisah cinderella yang harus tersiksa sebelum akhirnya menemukan sebuah kebahagiaan dan memiliki bagian sekuel romeo dan juliet dimana pasangan yang saling mencintai kini harus bergerak diam diam dibalik layar walau hanya untuk sekedar bertemu satu sama lain.

"kau menyukainya? " tanya Sungyeol.

"ya. .sangat. .bagimana bisa kau memiliki sebuah kenangan yang begitu hebat tuan Lee. . "

"semua orang memiliki kisah yang hebat nona. .hanya tergantung dari sisi mana mereka bernarasi. . " Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"lalu. .apakah kisah romeo dan juliet ini berakhir bahagia? " Jessica menelan liur nya kelu.

"atau harus terpisah oleh kematian yang tragis? "

Sungyeol tersenyum kecil. Tangannya kembali memainkan sendok kecil diatas teh nya yang sudah dingin sejak tadi. Ia melihat keluar dan menemukan pria tampan diseberang sana masih menunggunya dengan sabar. Sesekali mata mereka beradu dan menimbulkan kesan malu pada Sungyeol. Jessica bisa meliat jelas itu. ia ikut memandang pria diseberang ruangan dan mengerutkan dahinya.

"apakah pria itu. .? "

"bagaimana menurutmu? Akhir bagaimana yang lebih menarik? Akhir sebagai cinderella yang bahagia atau akhir romeo dan juliet yang berakhir tragis? " tanya Sungyeol menghentikan kalimat wanita didepannya. Jessica kembali memfokuskan pandangannya pada Sungyeol.

"aku menyukai ending bahagia seperti wanita yang lain. .kau tau? Seburuk apapun yang terjadi, wanita selalu menyukai akhir yang bahagia. . "

Sungyeol mengangguk seolah mengiyakan jawaban dari bibir wanita itu.

"kalau begitu. .mari kita buat ending yang bahagia. . "

Jessica kesulitan membaca situasi. "tapi aku lebih menyukai realita yang terjadi. .sebuah ending adalah akhir perjalanan seseorang, jangan merubahnya. .atau hanya akan jadi cerita kosong pengantar tidur semata. . " balas Jessica akhirnya. Sungyeol seolah mengerti apa yang difikirkan wanita itu, ia ingin Sungyeol tak menahan cerita sebenarnya dengan ending yang berlainan dengan kenyataan yang ada.

"kalau begitu. .maukah kau mendengar ceritaku selanjutnya? "

Jessica menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia sempat melirik alrojinya dan sudah menunjukkan pukul 4 sore. Mereka sudah disana sejak 5 jam lalu. Masih ada waktu, pikirnya.

"kau terlihat khawatir saat melihat alrojimu. .haruskah kita akhiri disini? Kita bisa melanjutkannya besok. . "

"andwe. . kita harus menyelesaikannya hari ini. .atau aku tak akan memiliki ending bahagia seperti yang aku inginkan. . " ucapnya dengan nada serius. Sungyeol berdecak ngeri.

"hehe, baiklah ibu peri. . " ujar Sungyeol disela sela tawa kecilnya.

.

.

.

xXx

.

.

.

Sungyeol mendesah berat seperti biasanya. Ia kesal dengan kondisi cafe hari ini yang sangat ramai membuatnya sama sekali tidak bisa berhenti melayani pelanggan. Beruntung semua sudah berakhir sekarang, cafe sudah sepi dan mereka sudah memasang tanda tutup didepan pintu. Sungyeol menuju tempat cuci piring dan mulai membilas piring2 kotor yang berserak. Hanya ia sendiri di cafe itu, sementara Sung Gyu dan Hoya ia minta untuk menggantikannya membeli bahan untuk besok. Seharusnya Hoya atau Sung Gyu saja bisa, tapi kedua pria itu seperti lalat yang malah pergi bersama sama dengan alasan mereka akan saling bahu membahu membawa barang. Lalu kemana saja mereka selama ini? Dengan tega membiarkannya sendirian membeli semua bahan itu? saat ia tanyakan hal itu mereka hanya menjawab bersamaan,

"kau kan seorang ibu, kau lebih mengerti dibanding dua pria polos seperti kami untuk urusan belanja. . "

Tak! Ingin sekali ia melemparkan sodet atau segala benda yang bisa membuat dua pria itu gegar otak sebelum mereka melarikan diri dari ibunya yang kejam. Hoho.

Yah, baiklah. .ia akan merelakan dua pria konyol itu dan konsentrasi pada pekerjaannya.

Saat asik dengan bilasannya, terdengar pintu yang berdenting tanda ada orang yang masuk.

Nugu? Siapa yang masuk dengan tanda tutup didepan itu? apa dia tak bisa membaca?

Sung Gyu? Hoya? Ah mereka baru saja pergi, tidak mungkin secepat itu. atau ada yang terlupa?

"Nuguseo? " tanya Sungyeol dengan nada agak keras.

Sepi.

Tidak ada tanda2 kehidupan seseorang didepan sana.

Sungyeol menelan liurnya kasar. Ia merasa lidahnya kelu sekarang dan rasa takut perlahan menjalari tubuhnya. Kumohon jangan hantu! Desisnya dalam hati.

Ia memberanikan dirinya untuk melangkah keruang depan dan melihat langsung siapa yang masuk barusan. Jangan2 pencuri? Dan dia sedang memegang senjata sekarang? Andwe! Semoga bukan!

Sungyeol berspekulasi semakin seram sekarang. Hingga akhirnya ia bertekad untuk memberanikan dirinya. Tangannya memegang sodet yang siap untuk mempertahankan dirinya dari serangan.

"Nugu? Apa ada orang? " tanyanya ketika sampai diruang depan dan melihat lampu dipadamkan. Sungyeol semakin yakin ada orang yang masuk karena jelas2 tadi lampu dalam keadaan menyala. Matanya menangkap seberkas cahaya kecil dari bawah meja, Sungyeol gemetar. Apa itu?

Dengan langkah gemetar Sungyeol mendekati saklar untuk menyalakan lampu.

Blasshh! Lampu menyala dengan terang. Seseorang melangkah keluar dari bawah meja yang agak jauh darinya. Sungyeol memekik keras!

Ia menemukan seseorang disana. Tapi bukan dengan senjata atau hal bodoh lainnya seperti yang ia fikirkan melainkan sebuah cake cantik dengan lilin2 cantik menyala diatasnya.

"saengil chukkae hamnida, saengil Chukkae hamnida. .Saengil Chukkae Lee Sungyeol. .Saengil Chukkae hamnidaa. . "

Pria didepannya bersenandung dengan semangat membuat Sungyeol tersentak dan mati2an menahan rasa harunya. Ia sama sekali tak ingat ini adalah hari ulang tahunnya.

Pria yang ternyata Myung Soo itu mendekat pada Sungyeol.

"make a wish sebelum meniup lilinnya. . "

Sungyeol memandang Myung Soo dengan haru. Ia memejamkan matanya dan membuat satu permohonan kepada Tuhan. Lalu meniup semua lilin yang menyala hingga padam.

"nah! Sekarang kau sudah genap berusia 26 tahun Sungyeol. . " ucap Myung Soo dengan senyum manisnya. Sungyeol masih belum mempercayai apa yang dilihatnya sekarang.

"gomawo. . " bisiknya lirih. Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

"semoga selalu berbahagia. .Sungyeollie. . " ucap Myung Soo memberikan doa nya pada Sungyeol dengan tulus. Senyum manis mengukir dibibir Sungyeol. ia tak tau harus mengatakan apa, saat ini rasa bahagia meluap hebat dalam hatinya dan membuatnya kehabisan kata.

.

.

.

Sungyeol meringkuk dalam selimut tebalnya ketika telinganya mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.

"sungyie. .buka pintunya. . " suara Sung Gyu terdengar dari arah luar. Ha? Ini adalah kamarnya juga, kenapa ia harus membukanya? Pintu juga tidak terkunci.

"itu tidak terkunci Gyu. . " balasnya malas. Terdengar Sung Gyu dan Hoya berteriak2 dari luar dengan heboh mendengar jawaban Sungyeol. membuat pria itu dengan kesal melangkah menuju pintu kamarnya dan bersiap memberikan omelan sadisnya.

"apa yang kalian. . " ucapannya terhenti ketika didepan pintu yang terbuka ia melihat dua pria manis itu sedang memegang Cake dengan taburan lilin menyala diatasnya. Sungyeol membeku. Jadi ini alasan mereka ngotot untuk pergi berdua ke supermarket tadi.

Bibir Sungyeol tak henti mengulas senyum melihat kedua sahabatnya itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan semangat.

"buat permohonan kemudian tiup lilinnya. . " ujar Hoya.

Sungyeol mengiyakan dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ia selesai dengan doa nya dan meniup lilin2 yang menyala hingga padam diikuti dengan sorak2 gembira dari dua sahabatnya itu.

"gomawo Chingu. .Hyung. . " kata Sungyol. Kedua pria tampan didepannya mengangguk senang.

"nah sekarang. .ayo kita makan bersama Cake nya! " ajak Sung Gyu dengan semangat sambil menarik tangan Sungyeol. Sungyeol berdecit ngeri. Ia sudah makan banyak kue dengan Myung Soo tadi.

"aku kenyang. .kalian saja. . " tolaknya halus. Sung Gyu dan Hoya melihatnya dengan tajam.

"kami sudah membelinya dengan segenap ketulusan dan jiwa raga kami,dan kau menolaknya? Tidak bisa! Ayo ikut . .kau harus menghabiskannya Sungyie! "

Ujar kedua pria itu sambil memaksa Sungyeol menuju ruang depan.

Andwe!

Sungyeol ingin muntah sekarang.

.

.

.

xXx

.

.

.

Udara dingin mulai menyapu jalanan kota Seoul. Bulir bulir salju perlahan menuruni langit, meninggalkan jejak2 kristal putih yang mempesona. Seluruh kota tertutup dengan bulir2 putih yang cantik seperti rumah sinterklas dari negeri dongeng.

Sungyeol menjalani trotoar dengan semangat nya, meskipun dingin sudah melingkupinya sejak tadi namun jaket pemberian Hoya untuk hadiah ulang tahunnya mampu menahan udara dingin yang berusaha membekukan tubuhnya. Hari ini adalah hari minggu dan ia Ia sudah berjanji untuk pergi dengan Myung Soo menuju suatu tempat yang masih pria itu rahasiakan darinya.

"aku akan mengajakmu kesuatu tempat. .sebagai kado ulang tahunmu. .kau mau? "

Tanya pria itu tadi malam. Sungyeol nyaris tertawa melihat rona merah dikedua pipi putih bersih pria tampan itu. Myung Soo benar2 orang yang lucu, ia bahkan hampir menjatuhkan kue dipiringnya ketika Sungyeol bilang ia dan nyaris berteriak girang sebelum Sungyeol menahannya.

Kepala Sungyeol masih memikirkan hal manis kemarin malam hingga ia menyadari ia sudah sampai ditempat yang mereka janjikan untuk bertemu. Ya, ia harus berjalan cukup jauh dulu dari Cafe untuk menghindari Sung Gyu dan Hoya melihat Myung Soo, atau semua akan berantakan. Langkah Sungyeol terhenti ketika menyadari Myung Soo sedang berdiri tak jauh didepannya. Rambutnya yang basah menandakan pria itu sudah cukup lama berdiri diluar mobilnya. Sungyeol mendekatinya dengan tergesa.

"Myung Soo. . " panggilnya. Myung Soo menoleh, dan Sungyeol dapat melihat garis beku pada bibir pria itu. Sungyeol menggigit bibirnya, ia yakin pria itu sudah sangat lama berdiri disana menunggunya.

"hei. .sudah datang. . " katanya. Sungyeol menepuk2 bahu Myung Soo yang ditumpuki bulir salju.

"mengapa kau berdiri disini? Kau bisa menunggu didalam mobil bukan? Ini adalah salju pertama, dan biasanya yang paling dingin. . " ujar Sungyeol sambil membersihkan rambut Myung Soo dari salju.

"aku takut kau tak datang. .jadi aku menunggu disini dengan khawatir. . "

Tangan Sungyeol terhenti. Ia menatap wajah pria didepannya. Myung Soo menunduk takut.

"jangan lakukan hal itu. .aku tidak seberharga itu untuk kau tunggu diudara seperti ini. . "

"kau berharga bagiku. . " ucap Myung Soo pelan sambil masih menundukkan kepalanya.

Sungyeol menyerah. Ia mengangkat wajah Myung Soo hingga menatap lurus padanya. Sungyeol menelan ludahnya. Wajah manis didepannya sangat menggoda dengan bulir2 salju yang membasahi wajah itu.

"kalau begini. .kau malah membuatku khawatir. .berjanjilah kau tak akan mengulanginya. ."

"arasseo. . " jawab Myung Soo murung. Sungyeol menggigit bibirnya. ekspresi yang terlihat menggemaskan itu membuat ia sangat ingin menggigit pria didepannya.

"mian. .aku tak mau kau sakit. .kajja. .bawa aku pergi. . " kata Sungyeol setelah meredam rasa dihatinya. Myung Soo kembali berwajah ceria. Ia menarik tangan Sungyeol menuju pintu mobil dan membukakan nya seperti seorang pangeran memanjakan putrinya.

.

.

.

"kita akan kemana? " tanya Sungyeol ketika ia menyadari mobil yang dibawa Myung Soo bergerak menuju daerah kaki gunung.

"rahasia. . " balas Myung Soo membuat Sungyeol membekap mulutnya dalam keheningan.

Sungyeol memandangi jalanan yang mereka lalui, sudah beberapa jam mereka didalam mobil dan Sungyeol masih belum mampu menebak akan kemana ia dibawa.

"kau tak ingin membunuh dan mengubur mayatku di gunung kan? " desis Sungyeol ngeri.

"apa kau membawa gunting? " tanya Myung Soo sambil tertawa. Sungyeol merinding.

"menyakitimu adalah hal yang paling aku benci. . " ujarnya seraya mengusap surai Sungyeol lembut membuat wajah Sungyeol merona hebat.

"kita sampai. . "

Sungyeol melebarkan pandangannya. Ia melihat sebuah pondok kayu berdiri tak jauh dari tempat mereka berhenti. Dengan pohon2 pinus yang tumbuh subur disekitar mereka membuat pondok itu benar2 indah.

Kedua pria itu menuruni mobilnya.

"wahhh daebak! Pemandangan disini sangat indah! " pekik Sungyeol ketika melihat sekelilingnya. Sementara Myung Soo menurunkan beberapa barang dan membawanya kedalam pondok. Sungyeol berlari mengikutinya.

Bagian dalam pondok yang dihiasi nuansa alam itu sangat memanjakan mata yang melihat, ruangan yang cukup luas itu tertata apik dan nyaman. Myung Soo menarik Sungyeol menuju ruangan yang ternyata adalah ruang tidur itu.

"ini kamar mu. .kau bisa melemaskan kaki disini. . " ujar Myung Soo melihat Sungyeol yang masih mengagumi tata letak kamar itu.

"ini sangat indah Myung Soo. . " ucap Sungyeol. Myung Soo membuka jendela yang tertutup tirai berwarna hijau. Tangannya menarik Sungyeol untuk mendekat, seketika mata Sungyeol membelalak takjub melihat pemandangan belakang pondok. Sebuah hamparan beku yang luas, dengan latar gunung yang menjulang tinggi disana.

"didaerah ini salju sudah turun sejak tiga hari lalu dan membekukan danau hingga menjadi lapangan seperti itu. .seharusnya aku mengajakmu saat musim panas atau semi untuk melihat danaunya. "

"tidak masalah. .ini sangat indah. .aku baru pertama kali melihat danau membeku dan seindah ini. . " balas Sungyeol. " gomawo Myung Soo. . " lanjutnya.

Myung Soo mengangguk. "mau mencoba melakukan Ice Skating diatasnya? "

Mata Sungyeol berbinar senang. "aku mau. . "

.

.

xXx

.

.

.

Dua pria itu berlarian kecil diatas genangan air yang membeku membentuk danau es yang luas. Tangan Myung Soo memegangi tangan Sungyeol dengan kuat ketika mengetahui Sungyeol sama sekali tidak pandai dalam bermain ice skating berbeda dengannya. Berkali kali pria kurus itu jatuh saat Myung Soo melepaskan pegangannya. Dengan ekstra sabar pula Myung Soo mengajari Sungyeol untuk bermain skating bersama nya. Setelah setengah jam berlalu Sungyeol mulai terbiasa dengan gerakannya. Kali ini memaksa Myung Soo untuk membiarkannya bergerak sendiri. Pria bermata sipit itu menurutinya dan bergerak lebih dulu kedepan memasang posisi bersiap jika sesuatu yang berbahaya terjadi pada Sungyeol.

"baik,sekarang bergeraklah menuju kearahku. . " seru Myung Soo. Sungyeol mengangguk. Ia menggerakkan kakinya perlahan menuju Myung Soo yang menunggunya. Kakinya bergerak lamban dengan hati2. Sedikit lagi ia akan berhasil menuju Myung Soo. Rasa senang meluar didadanya, ia mengangkat tangannya tinggi dan berteriak senang. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika ia menyadari ia tak bisa menghentikan gerakan meluncurnya.

"Myung Soo, awas! " pekiknya ketika ia meluncur cepat kearah Myung Soo. Ia melihat Myung Soo tidak menghindar meskipun bisa melainkan memasang badannya sebagai penghalang.

Brugh!

Tubuh Sungyeol menabrak Myung Soo dengan Sukses namun entah bagaimana ceritanya hingga kini ia yang berada diposisi bawah sementara Myung Soo diatasnya.

Mata mereka beradu. Saling bermain dengan perasaan yang bergeolak dalam dada masing2.

"aku. . " bibir Sungyeol berdesis.

"aku mencintaimu. . " Myung Soo mendahului kalimatnya. Sungyeol masih belum mempercayai kalimat yang didengarnya ketika sebuah benda basah dan hangat menempel erat pada bibirnya. mata Sungyeol membeliak ketika menyadari Myung Soo mengecup bibirnya dengan lembut. Tangan Sungyeol bergerak mencoba mendorong tubuh Myung Soo, hanya saja hatinya menolak dengan keras. Ia pasrah. Matanya terpejam dengan perlahan, menikmati setiap kehangatan yang dialirkan Myung Soo padanya.

.

.

xXx

.

.

.

Keheningan melingkupi ruangan tempat Sungyeol merebahkan dirinya. Kepalanya berdenyut mengingat kejadian tadi. Masih terbayang jelas olehnya Myung Soo menciumnya dengan lembut. Tanpa sadar Sungyeol mengusap bibirnya yang habis dicuri itu. degupan keras mulai terdegar didalam dadanya. Rona merah semburat keluar dari balik pipinya. Ya, ini nyata, Myung Soo menciumnya itu adalah hal nyata.

Sebuah ketukan terdengar membuat Sungyeol dengan cepat menghapus khayalannya. Ia membuka pintu dan menemukan Myung Soo sedang berdiri tertunduk disana.

"mian. . " ucapnya lirih. Sungyeol teriris.

"bukan salahmu. . " jawab Sungyeol akhirnya. Ia tak sanggup melihat ekspresi bersalah yang ditampakkan pria didepannya itu. itu terasa agak. .menyakitkan baginya.

"ayo masuk. . " tarik Sungyeol setelah sekian lama keheningan memerangkap mereka.

Myung Soo menurut. Ia duduk diranjang disamping Sungyeol.

"sudahlah. .jangan memasang ekspresi sedih begitu. .aku tak menyalahkan mu. . "

"tapi tetap saja. . tak seharusnya aku. . " kalimat Myung Soo tertahan sesaat. "mencium mu. . "

Mereka berdua terdiam. seolah bermain dengan pikiran masing2 dan mencoba mencairkan rasa canggung yang tercipta.

"aku takut kau marah. .dan menjauhiku. . " ucapan Myung Soo menohok ulu hati Sungyeol. ia ingin sekali memeluk pria itu tapi entah kenapa ia masih belum memiliki keberanian sama sekali.

Kebisuan yang diberikan Sungyeol membuat Myung Soo semakin tertekan. Rasa takutnya menggumpal menjadi satu, bagai sebuah batu besar yang memukul2 ulu hatinya dengan keras.

"aku pergi. .sekali lagi maafkan aku. . " pria dengan mata sipit itu bergerak dari tempatnya. Rasa takutnya berubah menjadi rasa sakit sekarang. Ia menyesali kebodohannya. Sudah jelas ia mengetahui bahwa Sungyeol sangat membenci wajah yang ia punya, tapi ia masih saja berani mendekati pria itu bahkan menciumnya.

"jangan pergi. . "

Suara lirih Sungyeol menghentikan gerakan Myung Soo. Ia mencoba berbalik dan sebuah pelukan hangat singgah padanya. Sungyeol memeluknya dengan kuat!

"Sungyeol. . "

"berhenti. .jangan berbicara lagi. .jujur aku sangat takut mendengar kalimat itu dari mu. .aku seolah mendengar kenangan burukku mengucapkan hal itu dengan menyakitkan. . "

Tangan Myung Soo melemah. Ia sudah menduga itu adalah hal yang menjadi penghalangnya.

"aku bisa meninggalkan mu Sungyeol. .melepasmu jika kau minta. .maaf membuatmu merasa tertekan dengan ucapanku. .tapi aku tak bisa menahannya. .perasaan ini. . "

Sungyeol melepaskan pelukannya. Ia melihat Myung Soo dengan tajam.

"pabbo! Siapa yang memintamu pergi dariku! Aku takut, sangat takut mendengar kalimat itu darimu! Hanya saja. .hanya saja aku juga tak bisa bersembunyi lagi. .aku tak bisa membohongi diriku lagi. .aku. .! "

Myung Soo menatap pasrah pada Sungyeol. ia akan siap mendengar kalimat penolakan itu.

"aku juga mencintaimu. . "

Kalimat lirih yang keluar dari bibir Sungyeol bagaikan mantra sihir yang membangkitkan kekuatan Myung Soo. Matanya terbeliak tak percaya dengan kalimat yang baru terucap dari bibir pria yang dicintainya itu.

"kau. .kau. .serius. .? " tanyanya terbata. Sungyeol tertawa kecil diiringi dengan air mata haru yang perlahan menuruni kedua matanya.

"apakah aku harus mengulangnya? "

Sudah cukup. Penjelasan itu memberikan kepercayaan pada Myung Soo bahwa ia tidak sedang bermimpi. Tangannya dengan cepat menarik Sungyeol dalam pelukannya yang kuat.

"gomawo. .Sungyeollie. . "

Sungyeol hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak bisa berkata apapun lagi selain semakin mengeratkan pelukannya.

.

.

xXx

.

.

.

Sungyeol mendesah berat. Ia nyaris kehabisan oksigen ketika bibir Myung Soo dengan ketat menghimpit bibirnya. entah sudah berapa lama pria tampan itu menindihnya dan menciumi bibirnya dengan lembut. Sungyeol hanya bisa pasrah dan menerima semua perlakuan manis yang diberikan Myung Soo padanya. Ia tak menduga kalau godaan2 kecil dari Myung Soo membuatnya mencium pria itu duluan dan berakhir seperti ini.

"myungie. . " serunya dalam desahan nafasnya yang memburu.

Myung Soo menghentikan aksinya menciumi rahang kekasihnya. "hn? " gumamnya sambil tangannya mencoba menyingkap baju yang dikenakan Sungyeol. Sungyeol mendelik ngeri. Kepalanya spontan mengingat rasa itu. ciuman itu. gerakan itu. Myung Soo nya yang dulu. Sungyeol mengigit bibirnya kuat2. Ia tak boleh lepas control saat ini atau ia akan melukai pria yang jadi kekasihnya beberapa saat lalu. Hatinya berulang kali mengingatkannya bahwa Myung Soo nya yang sekarang bukanlah orang yang sama dengan yang dulu.

"bisakah kita berhenti? " tanya Sungyeol ketika Myung Soo mulai menyusupkan tangannya keatas perut Sungyeol.

"akhhh. . " erang Sungyeol parau ketika ia merasakan bibir Myung Soo mencium bagian pusarnya. "Myungie. .jangan sekarang. . " tolaknya disela erangan paraunya.

Seolah tidak mendengarkan penolakan Sungyeol pria itu terus melakukan aksinya.

Sungyeol terbeliak ngeri ketika sebuah benda basah menyentuh luka bakarnya dulu.

Kenangan buruk itu hadir lagi! Lebih parah dari sebelumnya. Tangan Sungyeol yang bebas mengepal dan bersiap melakukan pukulan pada Myung Soo yang masih tidak menyadari hal itu. Sungyeol menatap geram pria diatasnya. Matanya menampakkan ekspresi benci yang kuat. Sedikit lagi ia akan melayangkan tinjunya pada pria itu sebelum ia melihat Myung Soo tersenyum padanya.

"sudah. .semoga kenangan yang mereka lekatkan padamu segera menghilang dengan sempurna. . "

Sungyeol menatap bingung. Apa? Apa maksudnya?

Ia memandang pada bagian tubuhnya yang dipenuhi bekas luka yang menghitam. Luka itu sudah mengering sejak dulu namun bekas lukanya sangat sulit dihilangkan. Matanya membeliak haru melihat Myung Soo mencium setiap bekas luka yang ada pada tubuhnya. Saat bertemu dengan luka berbentuk huruf M itu Myung Soo berhenti. Ia mengecup lembut luka itu.

"mulai sekarang. .aku akan menjaga Sungyeol seumur hidupku. .jadi pegilah meninggalkannya. . " ucap Myung Soo pelan.

"apa yang kau lakukan Myungie. .? " tanya Sungyeol.

"aku meminta kenangan buruk yang tertinggal disini untuk pergi. .karena aku akan selalu menjaga mu mulai sekarang. . " jawab Myung Soo sambil menurunkan baju Sungyeol yang sempat ia singkap tadi.

"kau tak ingin. . " tanya Sungyeol terputus ketika melihat Myung Soo menggeleng seolah mengerti.

"aku mencintaimu. .sangat. .bukan karena nafsu atau hal lain. .tapi hanya karena aku mencintaimu. .jadi jangan pernah berfikir aku menyukai mu karena suatu alasan apapun Yeollie. .aku tak akan memaksamu melakukan hal itu karena aku tak membutuhkannya. .aku hanya butuh kau. .Lee Sungyeol ku. .bukan yang lain. "

Air mata haru menuruni kedua mata Sungyeol. ia sama sekali tak menduga akan mendengar kalimat semanis itu dari kekasihnya. Rasa sesalnya timbun karena sudah berprasangka buruk akan pria tampan itu.

"mian. .aku juga sangat mencintaimu Myungie. . " ucapnya disela isak kecilnya.

"aku lebih mencintaimu. .Yeollie. . " balas Myung Soo sebelum memeluk lagi kekasihnya itu.

Sang malam melambaikan tangannya meminta rembulan menampakkan wajah nya yang cantik sementara burung2 malam bersenandung riang berteman kan angin dingin yang berhembus perlahan meniupkan sebuah kabar. Kabar bahagia sepasang insan yang akhirnya menemukan kebahagiaan mereka berdua.

.

.

xXx

.

.

.

Sungyeol melangkahkan kakinya kedalam Cafe diruang depan. Ia melihat Sung Gyu dan Hoya bercanda gurau disana sambil menikmati kue penekuk yang Sungyeol buat untuk mereka. Sungyeol menarik nafasnya berat. Ia sudah bertekad untuk memberitahu kedua pria itu tentang hubungannya dengan Myung Soo setelah satu bulan memikirkan nya denga masak. Ia mendekat dan mengambil posisi duduk didepan dua sahabatnya itu.

"Hyung. .Hoya. . " panggilnya pelan. Kedua pria itu melihatnya bersamaan.

"hei Sungyie. .kue ini sangat enak. .gomawoyo. . " ucap Hoya menunjukkan rasa terimakasihnya. Sungyeol mengangguk.

"Hyung. .Hoya. . " panggilnya lagi. Rasa gugup mulai membekapnya.

"wae? Kau terlihat gugup sekali Sungyie. .ada apa? " tanya Sung Gyu.

Sungyeol menelan liurnya kasar.

"Hyung. .aku. .aku sudah berpacaran dengan seseorang. . "

"jinja!? Wahhhh! Chukkae Sungyiee! Ayo kita rayakan hal ini ! kajja! " ujar Sung Gyu dan Hoya bersemangat mendengar kabar dari Sungyeol. Sungyeol menggigit bibirnya.

"chakkaman. .apakah itu artinya kau akan mengenalkan nya pada kami sekarang? " tanya Hoya dengan ekspresi penasarannya. Ia dan Sung Gyu memekik girang ketika Sungyeol menganggukkan kepalanya.

"nugu? Siapa nama nya? "

Sungyeol mengambil nafas panjang. Ia siap menerima semua kemarahan dari dua sahabatnya itu sekarang. Apapun yang terjadi ia akan mempertahankan Myung Soo. Ya. Harus.

"Myung Soo. . " bisiknya pelan. Poor Sungyeol! ia mengatakan dengan tekad kuat untuk mempertahankan Myung Soo namun tetap saja ia takut ketika mengucapkan nama itu didepan kedua sahabatnya.

Sungyeol menunggu dengan sabar hentakan demi hentakan kemarahan yang akan keluar. Nyatanya hanya suara jangkrik yang terdengar keras diluar sana. Sungyeol mengangkat kepalanya dan menemukan Hoya sedang tertunduk sedih dengan tangan memukul kepalanya sendiri. Sementara Sung Gyu berbinar menampilkan ekspresi senangnya yang tak terduga. Tunggu dulu! Apa yang terjadi?

"kenapa. . "

"aku menanggggg! " jeritan Sung Gyu memutus kalimat Sungyeol, membuat pria kurus itu tersentak hingga nyari terjungkal kebelakang.

"yakk! Hyung! Apa yang salah dengan mu! " Hoya, tolong jelaskan apa yang terjadi? " tanyanya melihat Hoya masih memasang ekspresi kalah lotere.

"kami bertaruh, apakah kau menerima Myung Soo atau tidak. .ah, seandainya pria bodoh itu mengatakan padaku kemarin. . "

Apa? Mengatakan apa? Tunggu dulu! Sungyeol merasakan ketidak beresan sedang terjadi. Ia memukul kepala Sung Gyu yang masih berteriak tidak karuan hingga pemuda itu meringis.

"jelaskan maksudnya! Jadi kalian berdua sudah tau? "

"ya. .sebulan lalu sebelum kau pergi entah kemana mu itu, Myung Soo datang kemari menemui kami berdua. .saat itu kau pergi membeli bahan. .awalnya terjadi keributan kecil hingga. . "

"aku mencintainya! Sangat! Aku bahkan tak perduli kalau dunia mengutuk atau membunuhku sekalipun! Aku tak peduli kalau aku harus mati demi mendapatkannya! Jadi kumohon! Kumohon! Restuilah hubungan kami! "

"dia mengatakan hal itu berulang ulang sambil bersujud dihadapan kami. .pria yang rela merendahkan harga dirinya seperti itu demi orang yang disukainya adalah pria yang benar2 hebat. . "

Sungyeol membelalak tidak percaya mendengar penjelasan Sung Gyu.

"jadi. . "

"kami juga sudah tau kau sering menemuinya Sungyie. . " kali ini Hoya yang menjawab.

"kami melihatmu bersama nya disebuah tempat penjual ice cream. Kami marah. Sudah pasti kami sangat mengkhawatirkan mu. Hanya saja kami melihat ekspresi bahagia yang kau tunjukkan saat bersama nya. Membuat kami menyadari kalau kami sudah menghalangimu untuk bersama Myung Soo. Jadi kami menerimanya. Kami akan menyetujui hubungan kalian jika kau menerima cintanya. . "

"dan kalian menjadikan itu sebagai taruhan? " tanya Sungyeol setelah mencerna penjelasan Hoya. Kedua pria itu memasang cengiran konyol dibibir mereka.

"yak! Kalian jahat! Aku sudah nyaris mati memikirkan kalian akan sangat marah padaku! Pokoknya tidak ada makan malam untuk kalian berdua malam ini! " ujar Sungyeol dengan nada kesal yang dibuat2. Sung Gyu dan Hoya berdecit ngeri. Keduanya sontak memberikan jurus rayuan yang sekiranya mampu meluluhkan Sungyeol.

"andwe! Andwe! Tidak ada makan malam! " jerit Sungyeol ketika kedua pria itu memasang aegyo mereka dengan sempurna.

Kericuhan semakin terjadi diantara mereka ketika Hoya mulai melemparkan tepung pada Sungyeol dan Sungyeol membalas. Sung Gyu tak mau kalah dan melemparkan telur pada Hoya. Semua semakin tak terkendali hingga denting pintu membuat mereka terdiam. Myung Soo berdiri disana dengan tatapan bingung.

"apa. .yang terjadi? " tanyanya polos melihat kondisi ketiga pria yang sudah acak acakan karena saling melempar telur dan tepung itu.

Namun keterjutan Myung Soo belum berakhir, ketika sebuah telur singgah dikepalanya dengan mulus.

"yak! Hyung mengapa kau melemparnya! " jerit Sungyeol dan semua kembali ricuh seperti sebelumnya ditambah kini Myung Soo ikut berpesta telur dan tepung dengan ketiga pria itu.

.

.

Epilog :

Jessica tersenyum manis. Ia akhirnya mendengar sebuah ending yang sangat manis diakhir cerita ini. Ia menutup bukunya.

"terimakasih tuan Lee. .saya yakin, kisah anda akan sangat digemari pembaca kami. . "

Sungyeol menganggukkan kepalanya. " sama2 Nona. . "

"senang bekerja sama dengan anda. .kami akan menghubungi anda nanti untuk acara Launching Novel ini. . "

"baiklah. .saya akan menunggu. . " balas Sungyeol. ia kemudian meninggalkan ruang editor sebuah perusahaan penerbitan Novel tersebut. Cerita mengenai kisahnya dan Myung Soo sudah tersebar luas ketika wartawan meliput kasusnya dulu dan pihak perusahaan penerbit ini sangat tertarik untuk mengangkat kisahnya kedalam sebuah Novel. Tawaran itu sudah berlaku sejak dulu, hanya saja, baru kali ini Sungyeol mengiyakan hal itu. bukankah sebuah ending sudah ditemukan? Jadi untuk apa ia kembali bersembunyi.

Bibir Sungyeol menyunggingkan senyum ketika melihat pria tampan didepannya berdiri seolah menyambutnya.

"sudah selesai? " tanyanya. Sungyeol mengangguk.

"kajja. .kita harus menemui Sung Gyu dan Hoya , mereka sudah menunggu kita dirumah. ."

"ara. .tapi kita harus beli beberapa seaweed terlebih dahulu Myungie. . "

Pria yang ternyata Myung Soo itu tersenyum manis.

"baiklah. .ayo kita pergi. . " putusnya sambil menggandeng lengan Sungyeol mesra.

Semua kisah tak harus berakhir happy ending. Tapi ini adalah akhir kisahnya.

Sungyeol mengangguk mantap.

Ya. Ini akhir bahagia untuknya.

.

.

FIN-