MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
.
"Chan..Chanyeol..Chan~.." suara itu terus terngiang-ngiang di kepala Jongin pagi ini. Ia semalaman tidak bisa tidur, menunggu Kyungsoo yang demamnya tak jua turun. Walaupun ia yang semalaman menungguinya dan mengganti kompresnya, Kyungsoo menggumankan nama laki-laki lain bukankah itu menjengkelkan? Apalagi insiden Sehun mencium pipi Kyungsoo, kedua hal itu membuatnya pusing bukan kepalang.
Sehun sahabatnya, diam-diam tertarik juga dengan Kyungsoo. Di tambah si Chanyeol, Jongin baru mengingatnya pagi ini orang bernama Chanyeol adalah yang tempo hari ia todongi pistol. Jongin pikir pemuda itu hanya kenal biasa dengan Kyungsoo. Jongin tidak tau apa yang menarik dari pemuda bertelinga lebar itu selain matanya yang besar.
Jongin meminum air mineralnya cepat-cepat, lalu mengecek keadaan Kyungsoo di kamarnya. Gadis itu sudah bangun dari tidurnya, duduk di pinggiran ranjang dengan pakaian lengkap namun wajahnya masih pucat pasi. Jongin menghampirinya, berdiri tepat di hadapannya. "Ayo makan dan minum obatmu!" pinta Jongin lembut.
"Aku mau pulang saja," ucap Kyungsoo lemah.
Jongin bukan orang yang sabar menghadapi orang. Ia langsung membopong paksa Kyungsoo menuju meja makan kecil dekat dapur. Hanya ada empat kursi di sana. Kyungsoo di dudukan disana, di depan meja yang sudah penuh makanan yang kebanyakan berbahan sayuran. Kyungsoo menangkap ada bubur dan telur disana, tidak ada daging sama sekali. Sekarang ia tau kenapa sperma Jongin lebih dominan manis, sayuran ini penyebabnya.
Xiumin yang baru saja datang menangkap pemandangan tidak biasa. "Selamat pagi Nona Do, Tuan Jongin...! Tidak biasanya nona mau sarapan disini? Tuan Jongin juga tumben memasak sepagi ini? Biasanya lebih memilih minum susu dan makan roti ?"
Xiumin biasanya Tuannya hanya masak sekali selama sehari, sisannya ia lebih suka pesan antar atau makan di luar. Tuannya tidak suka memasak, namun hidupnya sebagai bujangan membuatnya mau tak mau memasak. Apalagi masakan di luar kurang sehat menurutnya dan kurang sesuai dengan lidahnya.
"Duduklah, Xiumin-ssi! Kita sarapan bersama!" ajak Jongin.
"Sebenarnya saya ingin ijin menemui Tuan Kim hari ini. Beliau mulai khawatir dengan keselamatan keluarga presiden karena presiden baru saja membahas undang-undang membatasi ekspor barang-barang ke luar negeri. Sehingga beberapa kelompok yang terlibat dalam keluar masuknya barang ilegal mulai mengincar keluarga presiden agar undang-undang tersebut tidak jadi disahkan."
"Aku mengerti. Kurasa kau akan kembali ditarik menjadi pengawal putri presiden."
"Sebenarnya saya lebih suka mengawal anda Tuan. Walaupun anda menjengkelkan dan sangat mesum setidaknya tuan mudah di ajak bekerjasama apalagi dibekali beladiri yang mumpuni. Saya merasa diringankan."
Jongin menghela nafas pendek. "Anggap saja aku tak mendengar bagian menjengkelkan dan sangat mesum. Sebelum pergi isi perutmu dengan sesuatu!"
Xiumin menggeleng lalu membungkuk untuk berpamitan. "Saya sudah sarapan. Saya permisi kalau begitu. Doa kan saya tidak di pecat Tuan Kim."
Jongin tersenyum simpul. "Tentu."
Sepeninggal Xiumin, Kyungsoo masih terpaku tanpa berniat memegang sumpit ataupun sendoknya."Makan buburmu, Kyung!" pinta Jongin masih dengan nada lembut. "Kau bisa bertambah sakit jika tak makan apa pun!"
"Aku ingin pulang saja." Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya untuk melangkah pergi. Tentu saja Jongin tak membiarkannya, ia menarik tangan Kyungsoo hingga jatuh ke pangkuannya. Lalu memasukan pil obat demam ke mulutnya sendiri. Rasa pait pil tersebut sangat menyiksa Jongin, tapi ini demi Kyungsoo.
"Ayo buka mulutmu!" perintah Jongin. Kyungsoo tetap saja mengatupkan bibirnya ia tahu rencana Jongin.
Tangan kanan Jongin yang menyangga tubuh Kyungsoo agar tidak jatuh mulai menjalankan aksinya. Menjalar ke bagian pangkal payudara Kyungsoo, memberikan remasan dari luar pakaian lalu mencubit putingnya yang mengeras.
"Aaakhhh!" situlah kesempatan Jongin menempelkan bibirnya dan memindahkan pil yang ada di mulutnya ke mulut Kyungsoo.
Kyungsoo merasakan benda pait itu berhenti di kerongkongannya, namun dengan segera ia merasakan air mengalir mempelacar laju pil pait itu. Lagi-lagi Jongin yang melakukannya, ia meminum air lalu menansfernya lewat mulut. Karena mulut Kyungsoo tak bisa menelan semuanya, airnya membuat dagu dan lehernya ikut basah.
Kyungsoo mengusap bekas air di sekitar mulutnya, "Kenapa kau begitu menghawatirkan kesehatanku?"
Jongin tak membalas ucapannya, ia malah memeriksa dahi Kyungsoo dengan punggung tangannya. Masih demam tapi tak setinggi kemarin. "Jangan banyak bertanya, cepat makan buburmu!"
"Aku mau pul – "
Kalimat Kyungsoo terhenti karena pandangan Jongin berubah menjadi mengerikan. Ia tau pemuda itu sedang menahan amarahnya. "Cepat – makan- !" ucapnya lagi penuh penekanan.
Jongin memindahkan Kyungsoo dari pangkuannya ke kursi di sebelahnya. Menggeser burbur itu tepat di depan Kyungsoo. Menambahkan sayuran dan potongan telur ke mangkuk Kyungsoo. "Makanlah! Setelah itu akan kuantar dengan mobilmu."
Kyungsoo ingin mengintrupsi bahwa ia tak suka sayuran dan bubur ini. Namun Jongin yang terlanjur kesal berucap kembali, "Akan ku panggilkan Chanyeol jika itu membuatmu senang."
"Darimana kau tau Chanyeol?"
"Kau memanggil-manggil namanya terus tadi malam. Apa kau tak ingat namaku sampai-sampai orang lain yang kau panggil. Menyebalkan!"
Sekarang Kyungsoo tau kenapa Jongin menjadi uring-uringan dan mengerikan pagi ini. Jika seperti ini ia jadi seperti anak kecil sedang merajuk karena mainannya di ambil orang lain. Intinya ia sedang cemburu.
"Yasudah panggilkan Chanyeol saja, dia selalu menyuapiku jika sedang makan bersama."
"Aku juga bisa!" Jongin langsung menyendok bubur dan bersiap mengarahkan ke mulut Kyungsoo.
"Aku tidak suka bubur. Buatkan aku ramen!"
"Tapi itu tidak sehat, kau baru sakit. Aku tidak akan membuatkannya untukmu!" tolak Jongin.
"Ku beri satu ronde lagi."
Jongin sempat terpancing, namun ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak meniduri Kyungsoo lagi. Jadi ia menggeleng.
Kyungsoo mengeryit bingung, tidak biasanya Jongin menolak. "Kau bebas memelukku hari ini, bagaimana?"
Jongin berpikir sebentar. "Di tambah buatkan susu! Ini penawaran terakhir!". Kyungsoo belum mangangguk maupun mengiyakan, namun Jongin sudah berseru dengan kerasnya. "Oke. Deal."
Kyungsoo memakan ramennya dengan duduk di karpet sedangkan mangkuk mienya ada di atas meja kecil. Sebenarnya Kyungsoo ingin memegang mangkuknya sehingga lebih memudahkannya untuk makan tapi berhubung masih panas dan bocah tidak tau diri itu tidur di pangkuannya.
Kyungsoo memandangi segelas susu yang ada di samping mangkuknya. "Jongiinnnn berhenti membuka kancing pakaianku! Dan segera minum susumu! Jangan menggangguku makan!"
"Ini aku sedang berusaha meminum susuku!" balas Jongin jengkel.
"Gelas susumu diatas meja...Sssshhhhh...ngghhh...Jonginnnn!" Rupannya Jongin sudah mendapatkan apa yang ia mau. Kancing pakaian Kyungsoo sudah terbuka hampir setengah dari bajunya dan cup bra kanannya melonggar karena tali bra kanannya diturunkan. Tangannya yang terampil layaknya bayi kehausan, mengeluarkan susu (?) dari wadahnya. Lalu menghisapnya dengan bersemangat.
Kyungsoo memutar bola matanya malas. Lalu melanjutkan makannya tanpa mempedulikan bayi besarnya yang menyusu. Bagaimana pun kelakuan Jongin membuatnya sedikit lupa kesedihannya perihal Sunny. Pemuda itu punya banyak cara untuk membuatnya lupa diri.
Ketika mangkuknya sudah tandas, Jongin masih betah di posisinya. Kyungsoo mulai merasakan punggungnya sakit dan perlu sandaran. Puting kanannya juga mulai terasa kebas karena di hisap terus tanpa henti. "Ayo pindah ke sofa..!"
Jongin memberengut kesal namun ia akhirnye menurut. Kyungsoo berbaring miring sedangakan jongin juga ikut berbaring miring di sampingnya. Kyungsoo membenarkan bra kanannya. Jongin langsung protes, "Kenapa di tutup? Aku masih – "
Kyungsoo mengeluarkan payudara kirinya dan menyumpalkan ke mulut Jongin yang akan protes panjang lebar melebihi pidato para demonstran. "Hisap pelan-pelan! Harusnya kau minta menyusu pada sapi, punyanya lebih besar."
Jongin menukikkan alisnya marah, seakan ia berkata "Yang benar saja, seorang Kim Jongin menyusu langsung pada sapi". Kyungsoo membalasnya dengan mengelus rambut tebal milik Jongin. "Jika kau punya anak nanti, apa ia juga harus berebut dengan appa-nya sendiri? Kau harus mengalah!"
Jongin melepaskan hisapannya hanya untuk berkata, "Aku yang membuatnya, dia yang harus mengalah pada appa-nya."
Kyungsoo tertawa kecil sambil mencubit hidung yang tak bisa di bilang mancung milik Jongin, "Berarti kau harus ku keluarkan dari daftar appa anakku."
Jongin melepaskan hisapannya lagi untuk protes. Enak saja orang setampan dirinya di keluarkan dari daftar appa anak Kyungsoo. "Peluk aku!" pinta Kyungsoo tiba-tiba, membuat Jongin melupakan niatnya untuk protes.
Jongin memposisikan dirinya berbaring lebih tinggi di banding Kyungsoo dan langsung mendekap gadis itu ke dadanya. "Ada apa? Kenapa kau meminta hal aneh-aneh seperti kemarin? Apa kau akan menangis lagi setelah ini?" Jongin mendadak khawatir.
"Tidurlah! kau kemarin belum tidur karena merawatku bukan?" sahut Kyungsoo memejamkan matanya merasa mengantuk efek samping obat yang ia minum tadi.
"Ayolah kataka padaku! jangan membuatku cemas! Aku tak mau melihatmu menangis lagi, sayang!"
"Aku hanya merasa sebentar lagi kau akan meninggalkanku, seperti lainnya," jawab Kyungsoo lirih.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau tau benar itu, Kyung!"
"Perasaan manusia berubah setiap detiknya, Jongin... tidak ada yang pasti."
.
.
MASK
.
.
Sehun mendapatkan sedikit informasi dari Xiumin, sehingga ia bisa sedikit membantunya menemukan keberadaan Kris. Di pelabuhan tempat yang di penuhi kapal berlayar dan truk-truk kontainer mengangkut barang-barang ke lintas pulau maupun benua. Tujuan Sehun adalah menyusup ke markas Kris atau minimal ia tau dimana markasnya. Masalahnya sekarang adalah Luhan gadis itu bersikeras ikut.
Namun ia tetap harus melakukan aksinya. Sehun terus membuntuti Kris yang sudah selesai bertransaksi mengirim senjata ilegal ke negara lain. Mobilnya melaju perumahan elit dengan pagar-pagar tinggi. Demi keselamatan Luhan, Sehun memakir mobilnya dekat toko swalayan dimana banyak orang yang bisa menolongnya jika terjadi sesuatu.
"Jika ada orang yang mencurigakan, menunduklah atau bersembunyilah di belakang. Jika seseorang menyerangmu, berteriaklah. Jangan keluar mobil jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Kau paham?"
Luhan mengangguk kecil. Saat Sehun akan menutup pintu mobil, Luhan menggenggam erat lengan baju Sehun. "Aku akan hati-hati, jangan terlalu khawatir. Aku akan kembali secepatnya!" ucap Sehun lagi. Luhan memberikan kecupan singkat ke bibir tipis Sehun.
Setelah itu Sehun mulai mencari cara untuk bisa masuk. Keberuntungan ada di pihaknya, seorang anak buah Kris masih ada yang tertinggal di mobil karena harus mengangkut sebuah paket dari bagasi belakang. Sehun langsung mengendap-endap dan memberikan pukulan tepat di tengah leher belakang. Pria itu langsung tak sadarkan diri dan Sehun langsung menganti pakaiannya dengan pakaian anak buah Kris, tak lupa masker hitamnya.
"Kenapa lama sekali? Cepat!" teriak pria berjas hitam lainnya yang tiba-tiba muncul di pintu gerbang.
Sehun langsung masuk mengikuti pria tersebut sambil membawa kotak. Perkarangan luas dengan rumput hijau. Ini tidak seperti rumah mafia, pikir Sehun bingung. "Kenapa kau mengikutiku? Kau taruh kotak itu di gudang sana! Lalu kembali ke dalam!" Sehun langsung berbelok ke gudang yang cukup besar, lalu seseorang menghampirinya meminta kotak tersebut. Pakaiannya putih khas dokter.
"Maaf aku baru disini, aku dari China. Sebenarnya ini kotak apa?" tanya Sehun.
Pria itu langsung mengamati Sehun dari atas sampai bawah. "Hmm...Yifan memang sering merekrut orang China. Alis dan matamu, aku yakin kau masuk pemuda tampan di China. Kau berbahasa korea dengan bagus, nak!"
"Yifan? " cicit Sehun.
"Nama Kanada-nya Kris. Wu Yifan nama Chinanya."
Pria itu mengambil kotak itu sambil berucap lebih lanjut, "Ini obat-obatan untuk memperbanyak sel telur dalam tubuh wanita."
"Untuk apa?" tanya Sehun bingung. Disini tidak ada wanita satupun.
"Agar bisa di jual ke orang kaya yang susah punya anak. Sedangkan gadis yang cantik akan di jual ke club malam. Gadis – gadis itu ada di bawah gudang ini. Ada tangga menuju kebawah. Kau sepertinya bukan orang jahat, sebaiknya jangan ikut kelompok ini. Lebih mendaftar model saja! Jika kau berubah pikiran, aku akan menampungmu untuk sementara."
Sehun membungkuk memberi hormat,"Tidak, terima kasih! beri jalan keluarnya saja. Siapa tau aku jenuh disini."
"Ada lubang kecil di tembok belakang. Tertutup semak-semak. Di dekatnya ada bunga mawar merah. Semoga tubuhmu cukup ramping."
"Terima kasih," Sehun melenggang pergi masuk ke kediaman utama dimana pria berjas hitam dan masker hitam berdiri dengan rapi melakukan penjagaan pimpinan mereka. Sehun langsung berdiri menyesuaikan diri dengan yang lain. "Tundukkan kepalamu bodoh!" kepalanya di geplak pelan oleh pemuda di sebelahnya.
Sehun langsung patuh menunduk. "Ada apa?" bisik Sehun.
"Kau gila Tuan Kris sedang bermain. Kau tak boleh melihat."
Sehun malah penasaran. Melirik dari sudut matanya. Menemukan Kris sedang mensetubuhi seorang wanita di depan anak buahnya. Pria itu sudah gila atau bagaimana? Dia lebih gila dari si hitam Jongin!
"Kau! Ambil tali dan kain..!" suara Kris menggelegar.
Pemuda di samping Sehun langsung mendorong Sehun maju ke depan. Sehun rasanya ingin mengumpat pada pemuda disebelahnya. Sehun dengan perasaan was-was mengambil kain dan tali dengan tetap menunduk.
"Ikat tanganya dan bungkam mulutnya!" perintah Kris. Sehun langsung mendekati gadis dengan pakaian seperti jubah tidur berbahan satin. Gadis itu sedang tengkurap di meja sedangkan bagian paha ke bawah mengantung di sisi meja. Memudahkan Kris terus melakukan perilaku tidak senonohnya.
"Maaf nona, tolong berikan tanganmu!" bisik Sehun. Untungnya gadis itu menurut walaupun masih menangis sambil mendesah. Sehun langsung mengikat tangan dan membungkam mulutnya dengan kain.
Sekilas Sehun dapat melihat gadis lain yang melayani Kris di sampingnya. Memakai pakaian yang berbeda, lebih tepatnya mirip selimut putih tak begitu tebal yang menutupi badannya sampai betis. Sehun berani taruhan gadis itu tak memakai apa-apa di balik selimut putih itu. Kris menciumi bibir gadis itu. Takut ketauan Sehun buru-buru kembali ke tempatnya semula.
Salah satu anak buah Kris datang memberika laporan. "Si pengelola sudah saya singkirkan bersama keluarganya dan benar seperti tebakan tuan, Kim Jongin putra perdana menteri yang membantu jalang itu melarikan diri."
"Lupakan yang terakhir! aku akan bermain dengannya di akhir, gadisnya sedang menuju kepadaku. Pindahkan pengiriman lewat jalur darat dan udara. Pelabuhan akan di perketat. "
Luhan melihat Sehun keluar dengan keadaan kotor penuh tanah dan rambutnya ada ranting dan daun kering tersangkut. "Kau tak apa, hunnie?" Luhan membantu membersihkan pakian dan rambut Sehun.
"Kenapa lama sekali?"
"Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Aku butuh mandi!"
"Ke apartemenku saja, lebih dekat aku rasa. Ngomong-ngomong apa kau bertemu pria bermata bulat, berlesung pipi, bertelinga lebar?"
"Tidak," jawab Sehun sekenanya.
"Padahal aku melihat mobil Chanyeol teman Kyungsoo terparkir di depan rumah yang kau masuki," jelas Luhan membuat Sehun langsung menatapnya tak percaya. Apa lagi ini ya Tuhan?
.
.
.
Kyungsoo tidak tau apa yang terjadi, ia baru saja pulang dari berziarah ke makam Sunny. Apartemennya bersama Luhan yang biasanya lengang menjadi ramai oleh pria-pria berpakaian seperti bodyguard . Suasana sudah tak terkendali ketika ia menerobos pria pria itu mendapati Luhan yang masih memakai celemek bergamabar hello kitty menangis memegangi pinggang Sehun yang di tarik paksa oleh pria pria berpakaian seperti bodyguard .
Sedangkan Sehun, pemuda berwajah datar itu hanya bisa pasrah menjadi bahan tarikan. "Kalian lepaskan aku sebentar! Luhanie kau juga!"
Luhan melepaskan Sehun tapi tidak dengan pria-pria itu. "KUBILANG LEPASKAN! KAU TIDAK TAU HANDUKKU HAMPIR MELOROT! KALIAN INGIN MELIHATKU TELANJANG? HAH?! "
Sehun akhirnya di lepaskan untuk membenarkan letak handuk di pinggangnya yang mulai melonggar. Ngomong-ngomong Sehun habis mandi dan hanya memakai handuk itu saja. "Aku akan memakai bajuku sebentar dan berbicara dengan kekasihku. Aku tak akan kabur."
Sehun memeluk Luhan membawanya ke kamar mandi untuk memakai pakaian lengkap dan memberi pengertian ke Luhan. Sehun akan membujuk Luhan untuk tidak takut akan gertakan ayahnya, meminta Luhan percaya padanya untuk menunggu sebentar lagi dan jangan mencemaskan dirinya. Jika Luhan tidak mundur, Sehun juga tidak akan mundur.
Di tempat yang sama Kyungsoo bertanya pada para pria berpakaian seperti bodyguard itu. "Bukankah anda Nona Do Kyungsoo. Maafkan kami membuat kekacauan disini!"
"Kenapa dengan Sehun?"
"Tuan Oh meminta kami membawa tuan muda pulang. Karena ia melanggar janjinya untuk meninggalkan gadis itu. Maafkan saya menyampaikan berita buruk ini, anda pasti kecewa dengan calon suami anda nona. Ngomong-ngomong kenapa nona ada disini?"
"Ini apartemenku, gadis itu teman apartemenku. Kami berteman."
Pria yang mengobrol dengan Kyungsoo itu terlihat shock. "Aaahh.. Aku lupa, jangan beritahu Tuan Oh tentang ini. Aku sebenarnya sudah tau Sehun kekasih Luhan."
"Apa yang akan dilakukan Tuan Oh pada Sehun?" tanya Kyungsoo lagi.
Pria itu menelan ludahnya kasar, takut mengatakan yang sejujurnya. "Sepertinya itu sesuatu yang buruk," tebak Kyungsoo memutuskan tidak bertanya lebih lanjut.
Tak selang beberapa lama Sehun menyerahkan dirinya untuk di bawa. Sebelum pergi Sehun berucap datar dan lirih pada Kyungsoo, "Jaga Luhan, kurasa aku gagal."
Kyungsoo hanya mengangguk lalu memeluk Luhan yang menangis histeris. "Sehun...sehun..." panggilnya di sela tangisnya. "S-Sehun akan dikurung dan pukuli, kyung...hiks...hiks...pria pria itu yang mengatakannya...hiks..hiks..ba-bagaimana ini, Kyunggg!"
Esoknya Luhan masih terlihat sedih, itu mengingatkan keadaanya saat kematian Sunny. Keadan Luhan sama seperti dirinya saat itu. Kyungsoo ada jadwal kuliah hari ini dan Luhan pun seharusnya sama. Tapi keadaan Luhan tidak memungkinkan untuk pergi kuliah. Jadi ia berangkat sendiri sambil menunggu Sehun membalas pesannya. Sepertinya Sehun benar-benar di kurung.
Satu-satunya orang yang bisa ia minta tolong adalah Chanyeol. Ketika perkuliahannya usai ia langsung mencari Chanyeol. Dari lantai dua, Kyungsoo dapat melihat Chanyeol menggendong tasnya melewati halaman tengah kampus. Dimana mahasiswa lain juga wira-wiri disana. "CHANNN!"
Chanyeol langsung tengok kanan tengok kiri kebingungan tak menemukan si pemanggil. Namun ketika ia mendongak Kyungsoo disana berdadah-dadah ria. Kupikir setan di siang bolong, batin Chanyeol.
Kyungsoo langsung menuruni tangga dan berlarian di halaman kampus. Menghambur ke pelukan Chanyeol dengan tiba-tiba. Chanyeol sampai mau terjengkang ke belakang.
"Syukurlah aku...aku ...aku menemukanmu.. Se-Se... Sehun bantu aku mengeluarkannya" ucap Kyungsoo dengan nafas terengah-engah karena berlari. Kyungsoo lalu menceritakan rencana dan situasinya.
Dari kejauhan Jongin yang kebetulan mengurusi pendaftaran kelulusannya, menangkap kedekatan Kyungsoo dengan Chanyeol. Samar-samar ia mendengar gadis-gadis bergosip sambil melihat hal yang sama dengan Jongin lihat.
"Ahhh sayang sekali seganteng Chanyeol menjadi kekasih gadis itu."
"Kudengar mereka sudah berpacaran sejak senior high school. "
.
.
Di kediaman keluaraga Oh, Sehun terbangun dalam keadaan ruangan yang gelap. Ia tidak tau ini sudah jam berapa dan hari apa. Apakah masih malam atau sudah siang. Di ruangan bergaya tradisional korea, dengan lantai kayu dan pintu geser. Namun sayangnya pintu geser itu pun di tutup rapat. Padahal jika dalam keadaan sehat ia bisa menjebolnya dengan mudah.
Malang tak dapat ditolak, keadaanya sudah seperti korban pengroyokan padahal yang ia hadapi hanya ayahnya. Sehun terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar, perutnya terasa nyeri begitu juga dengan dadanya. Sehun mendapat ribuan pukulan di betisnya dengan rotan dan berhasil membuatnya tak bisa berjalan kemana pun, paling banter mengesot sampai pintu.
Setelah puas melumpuhkan kakinya, Sehun yang tak bisa berdiri lagi menjadi berlutut dan punggungnya lah yang jadi sasaran selanjutnya. Samurai mengkilat sang ayah menggores punggungnya. Melihat putranya belum juga gentar, tuan Oh menambahkan pukulan ke perut dan dada Sehun. Lalu mengurungnya di ruangan ini dengan keadaan hanya celana kain panjang berlumuran darah yang ia pakai.
Sehun rasa dirinya cukup lama pingsan. Ibunya pasti sedang menangis sekarang. Sama seperti dulu ketika hyungnya juga diperlakukan seperti ini karena tidak mau meneruskan perusahaan. Namun akhirnya Suho menyerah karena jika Suho tidak mau, Sehun yang akan di paksa.
Dengan keadaannya yang banjir keringat dan darah. Tak lupa bibirnya yang kering dan menggigil karena suhu di rungan ini tanpa penghangat apa pun. Sehun mencoba untuk tetap menjaga kesadarannya agar tidak pingsan lagi. Samar-samar ia mendengar suara Kyungsoo dari luar sedang mengobrol santai dengan ayahnya. Ayahnya tentu saja akan bilang dirinya sedang sakit dan tak bisa ditemui. Tak ada yang bisa mengeluarkannya dari sini, batinnya miris. Setelah itu kesadaran Sehun hilang lagi.
Ketika matanya terbuka lagi untuk kedua kalinya tubuhnya terasa seperti melayang. Setelah kesadarannya benar-benar pulih ternyata ia sedang di gendong di punggung seorang pria dengan Kyungsoo yang berjalan cepat di sampingnya. "Ya Tuhan aku tak mau menjadi mantu appamu...! Bisa-bisa kakiku berjalan sendiri tanpa tubuhku," oceh Kyungsoo yang mampu Sehun dengar.
Kyungsoo segera memanggil dokter untuk merawat Sehun, jika Sehun di bawa ke rumah sakit, tuan Oh akan cepat mengetahui keberadaannya. Percuma saja usahanya membawa kabur Sehun.
Setelah mendapat perawatan dan jahitan di punggungnya. Sehun mampu duduk bersandar dengan diganjal bantal empuk milih Chanyeol. Beberapa suntikan membuatnya agak baikan. Wajahnya yang pucat tak menghalangi wajah tampannya.
"Terima kasih, kupikir aku akan mati," kata Sehun dramatis.
"Aku sudah susah-susah menyelinap kamar appaku di rumah untuk mengambil berkas ini, kau ingin mati begitu saja. Tak akan ku biarkan." Kyungsoo mengacung - acungkan berkas milik ayahnya tentang kasus keluarga Zhang yang akhirnya di tutup.
"Ngomong-ngomong eommamu wajahnya mirip Suho kenalanku."
Sehun ingin tertawa tapi perutnya masih nyeri. "Dia hyungku. Kau pikir darimana aku tau kau menyumbang panti. Dan Suho hyung yang akan menjadi saksi nantinya."
Sehun beralih menatap Chanyeol yang berdiri melipat tangannya di dada. "Terima kasih, Chanyeol-ssi... Kuharap kau punya kamar lebih."
"Kyung, aku tak mau tidur dengannya!" tolak Chanyeol. Kyungsoo hanya meringis ketauan isi pikirannya.
"Lalu, kau ingin tidur dengan Baekhyun?" tanya Kyungsoo balik. Chanyeol terdiam. Ia tak punya pilihan lain.
"Aku akan tidur di luar, aku tau kau pasti tidak nyaman dengan pria asing, " sela Sehun.
Chanyeol berbisik kepada Kyungsoo, "Kau mengatakan padanya?" Kyungsoo langsung menggeleng. "Jangan-jangan dia... "
"Aku hanya mendengar cerita kalian berdua dari Luhan. Kedekatan kalian yang tidak wajar dan Kyungsoo masih virgin saat bertemu Jongin, aku berkesimpulan kau pasti punya orientasi yang berbeda. Siapa yang tahan terus berdekatan dengan wanita seperti calon istriku ini tanpa menggenjotnya... " Jelas Sehun.
"Kau juga tidak pernah menggenjotku, calon suamiku.. " balas Kyungsoo sinis.
"Hanya belum saja, " balas Sehun enteng.
Kyungsoo memutar bola matanya malas, "Fix, aku akan jauh-jauh denganmu mulai detik ini,"
Ucapan Kyungsoo hanyalah angin lalu rupanya, malam ini semua kasur di bawa ke ruang tengah di depan televisi. Tidur berdempetan layaknya ikan yang dijual di pasar. Kyungsoo malah memilih tidur dekat Sehun, karena Chanyeol agak parno sebab wajah Sehun jika di perhatikan memang mirip Yeon seok sunbae. Jadilah mereka tidur dengan formasi Baekhyun-Chanyeol-Kyungsoo-Sehun.
Baekhyun yang paling pojok mencoba menjaga jarak dengan Chanyeol, ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Chanyeol sudah tertidur, malah meringkuk menghadap Baekhyun. Chanbaek sudah terlelap ke alam mimpi. Sedangkan Hun-Soo masih sibuk dengan acara 'mari membuat tuan muda Oh menjerit'.
Kyungsoo meminta Sehun berbaring tengkurap agar bisa mengobati betisnya dengan mudah. Ternyata pukulan dengan rotan bisa sampai merobek kulit ya, pikir Kyungsoo dalam hati.
"Pelan.. Pelan.. Kyung... " pinta Sehun sambil meremas bantalnya.
"Tenang saja ini sudah selesai, lebih baik tidur tengkurap. Punggungmu juga habis di jahit, betismu juga baru di obati. Apa semua bukti sudah lengkap? "
"Aku belum mempelajari berkasmu. Mungkin seminggu lagi. Kau tidak pulang ke apartemenmu? Luhan siapa yang akan menjaga? "
"Menurutmu dia akan berdiam diri di rumah?"
"Kurasa tidak, dia pasti akan mencari si hitam. Kau tidak cemburu?"
"Untuk apa cemburu? Aku bersama calon suamiku disini."
"Kau benar, cemburu juga tidak ada artinya. Akhirnya kau menikah denganku."
Kyungsoo ikut merubah posisinya menjadi tengkurap. Bertatap muka langsung dengan Sehun. "Berhenti membahas pernikahan, Sehun! Aku sudah membantumu mencari berkas aku juga sudah membantumu kabur. Kau pasti berhasil."
"Ngomong-ngomong bagaimana Chanyeol membawaku?"
"Dengan bantuan eomma mertua... Kkkkk. Eommamu memberikan jalan untuk Chanyeol membawamu. Karena keadaanmu mengenaskan dia menggendongmu. Aku hanya tinggal pura-pura merasa sedih karena tidak bisa mengajakmu keluar."
"Chanyeol kuat juga. Tapi menerutku dia seorang bottom ," kata Sehun yakin.
"Menurutku dia top , kau tau...punyanya cukup panjang," ungkap Kyungsoo diakhiri dengan setengah berbisik.
"Bagaimana kau tau?" tanya Sehun penasaran.
"Aku sering mandi bersamanya," jawab Kyungsoo sambil tersenyum pervert .
"Tuan dan calon Nyonya Oh tolong berhenti bergosip tentang posisiku. Tidurku jadi tidak tenang ! " instrupsi Chanyeol yang ternyata masih setengah tertidur. Ia masih mampu mendengar obrolan tidak berfaedah Hun-Soo.
"Mian, Chanyeol-ssiiiii!" ucap Kyungsoo dan Sehun berbarengan.
"Kau bisa mandi bersama kami kalau mau," tawar Kyungsoo kembali mengoceh bersama Sehun.
"Kyuunggg! Tidurlah sudah malam, Sehun juga harus istirahat." Chanyeol membalik badan Kyungsoo menghadap dirinya, lalu memeluknya erat agar tidak kembali bergosip dengan Sehun. Menepuk-nepuk pelan pantat Kyungsoo agar cepat tertidur.
Ketika dengkuran Kyungsoo sudah terdengar, Sehun yang tak bisa tidur tanpa sadar bergumam sendiri sembari memandangi punggung Kyungsoo, "Kuharap kau tidak menghianati Kyungsoo, Chanyeol-ssi." Tanpa Sehun duga Chanyeol malah menyahut, "Jangan berhenti mencurigaiku, Sehun-ssi !"
.
TBC
.
.
Note:
Thanks semua yang udah menuliskan komentar dalam cerita ini. Jadi kalau kurang jelas kan bisa saya jelaskan di chapter selanjutnya. Sebenarnya saya sudah gatal nulis bagian klimaks-nya...tapi tahan...tahan...perjalanan masih terjal.
Ngomong-ngomong apa saya terlalu sering/ cepat update ff ini? Apa jadi membosankan?
