Real Little Ghost Girl (chapter 10)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

StoryBy©MisaAnaru

Pairing. : SasuNaru/SasuSaku/ItaNaru(Cuma sebagai kakak beradik aja)

Warning : Au, OOC chara, Typo (s), Yaoi, (anti Yaoi? Silahkan tinggalkan laman ini!) Dan sekali lagi No Flame, Saya tidak suka ada caci maki flamers yang membenci Fict Yaoi

Rated : T (belum cukup umur untuk M)

Genre : Romance / Horror (bisa dikatakan gitu sih)

~Chibi Naruko~

Alur mungkin terlalu cepat, bahkan terlalu lama.

.

.

.

.

.

You're the only one who make me want to grow up

.

.

.

.

"Apa aku harus mencium mu sekarang?" Tanya seorang pemuda bertuxedo hitam disamping sang pengantin. Tepukan dan sorakan begitu meriah terdengar. Apalagi teriakan-teriakan para kerabat terdekat yang meminta sepasang pengantin baru itu untuk berciuman. "Cium, cium, cium"

Rona merah tampak jelas di pipi sang pengantin wanita. "T..terserah, un" kata Deidara. Oh, malunya. Berciuman di depan banyak tamu-tamu, apakah tidak apa-apa? Hm, sepertinya begitu. "Rileks" Itachi memiringkan kepalanya mendekati wajah wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Dekat..

Dekat..

Dekat..

Dan..

Cupp..

Itachi mencium kening istrinya. Hanya itu? Iya, hanya itu. Kenapa? Tidakah Itachi mencium istrinya tepat di bibir? Hmm, Itachi tidak mau melakukannya jika Deidara tidak mau melakukan nya juga. "Huuhhh, kenapa di kening?" Tanya Yahiko, kecewa. "Maaf" lirih Deidara. Deidara menundukan kepalanya, merasa bersalah.

"Hey" Itachi merangkum wajah cantik sang istri. "Aku tidak memaksa mu" Lanjut Itachi. Deidara menganggukan kepalanya pelan. Sungguh, ia merasa menjadi wanita yang paling bahagia memiliki suami tampan dan baik hati seperti Itachi Uchiha. "Ayo kita jalan!" Ajak Itachi-seraya menggenggam erat jari-jemari Deidara. "Tunggu, bunganya?" Tanya Deidara, memperlihatkan buket bunga lili putih di tangannya.

"Hitungan ke-3" bisik Itachi. Banyak orang-orang yang sudah bersiap-siap menangkap, bahkan Naruto pun juga terlihat antusias. Padahal, Sasuke sudah melarangnya. Ah, dasar nakal!

"1" dimulai dari Itachi.

"2" Deidara melanjutkan hitungan.

Itachi dan Deidara saling berpandangan.

"3" teriak mereka bersamaan..

Buket bunga itu pun melayang diikuti orang-orang yang berebutan untuk menangkapnya. "Aku..aku..aku" teriak mereka semua. Naruto begitu antusias dan...

"Horree, aku dapat bunganya" teriak Naruto, girang. Ia mundur perlahan-lahan hingga..

Byuuuurrrr...

Para tamu pun melihat sosok pemuda manis tercebur ke kolam ikan dengan buket bunga yang sudah tak berbentuk lagi. Seseorang hendak menolongnya, namun dihalangi oleh pemuda bersurai raven yang segera turun ke kolam tanpa mempedulikan celananya yang basah.

Diangkatnya tubuh mungil itu. "Wow, so sweet" puji para tamu undangan. Bahkan, Itachi dan Deidara terpesona melihat keromantisan yang tercipta oleh pasangan Sasunaru itu. Naruto yang merona wajahnya pun, melesakan wajahnya ke dada bidang Sasuke.

.

.

.

.

_Kamar Hotel Sasunaru_

Naruto terlihat syok di atas tempat tidur dengan bathrobe berwarna putih yang ia kenakan. Sasuke dengan sangat lembut mengeringkan rambut Naruto dengan handuk. "Maafkan aku, teme" lirih Naruto, seraya memeluk lututnya. "Untuk apa?" Tanya Sasuke.

Grebb..

Naruto memeluk lengan kekar milik Sasuke. "Pasti kau marah kan? Hiks, maaf.." Isak Naruto. "Hah, jengkel sih iya.. Lagi pula, kenapa sih kau nekad untuk berebut bunga? Jadi, seperti ini kan akhirnya? Kau juga tadi hampir di bawa oleh room boy gadungan yang ingin me-rape mu! Hah, kau ini" Bet, ini pertama kalinya Sasuke berkata panjang lebar..

Posesif, eh? Sepertinya sih iya, lagi pula mana rela Sasuke jika melihat uke nya di grepe-grepe orang lain? Dia saja belum pernah. Meskipun sempat terbayang dipikirannya sih(?).

"Maaf..Sasuke, maaf"

"Hn, jangan diulangi lagi" Sasuke mengusap pelan surai pirang milik Naruto.

"Heheheheheh" Naruko tertawa keras. Spontan Naruto menoleh ke arah jendela, dimana Naruko berada. "So, sweet" goda Naruko. "Ruko-chan" Protes Naruto. Naruko menjulurkan lidahnya menggoda Naruto. "Awas ya" ancam Naruto. "Hey, kalian mengabaikan ku" kata Sasuke.

"Suke-"

"Mentang-mentang aku tidak bisa melihat Ruko-chan" Lanjut Sasuke.

Naruto dan Naruko menundukan kepalanya bersamaan. Merasa sedih mendengar perkataan Sasuke. "Heh, bercanda Naru" Kata Sasuke, mengecup pucuk kepala Naruto. "Ish, Teme jahat!" Umpat Naruto. Dengan gemas Sasuke mencubit pipi chubby Naruto.

"Aku bisa merasakan keberadaannya, dia berdiri tepat di sana" Sasuke menunjukan ke arah jendela. Naruko sontak saja terkejut, "nii-chan" dengan perasaan bahagia, Naruko berlari memeluk Sasuke. "Leher ku terasa berat" Ujar Sasuke. "Itu karena Naruko-chan memeluk mu" Jelas Naruto.

.

.

.

.

_Beberapa Bulan Kemudian_

Musim dingin akan segera berakhir, dan berganti menjadi musim semi. Dimana bunga-bunga tumbuh bermekaran, dan mentari kembali bersinar. Suasana yang identik dengan bunga-bunga, terdengar begitu indah bukan? Tinggal menunggu saja, kapan hal itu terjadi.

Malam yang cukup dingin, membuat Naruto tak bisa tidur. Oh, sudah berapa hari dia tidak mengunjungi Sasuke? Hm, rasanya rindu sekali. Iris seindah langit biru tanpa awan itu memandangi perapian yang ada di dalam kamarnya. Begerak mencari kenyamanan dari sofa berwarna merah maroon yang kini tengah ia tempati.

Sebuah album berwarna coklat terlihat ada di pelukannya. Tak bosan rasanya ia memperhatikan isi album foto tersebut. Kenangan dimana dirinya berada di acara pernikahan Itachi dan Deidara. Raut wajah penuh kebahagian tampak jelas di gambar itu. Dimana saat Sasuke menggendongnya ala pengantin (entah siapa yangmengambil gambar mereka itu).

Omong-omong tentang Deidara, wanita bermarga Uchiha itu kini tengah mengandung dan baru berumur 1 bulan. Hahahaha, bisa diperkirakan putra pasangan Itachi dan Deidara itu akan lahir tepat di musim salju. Naruto begitu senang mendengarnya. Bagaimana dengan Naruko? Ya, gadis kecil itu tampak tak sabar untuk melihat keponakan kecilnya itu.

Tepat pukul 12 malam, Naruto masih enggan untuk memejamkan matanya. Diraihnya ponsel touchscreen miliknya. Layar bergambar dirinya dan Sasuke tengah tersenyum menyambut ketika ia membuka pola sentuh pada ponselnya.

"Aku rindu teme" gumam Naruto. Ya, rindu.. Naruto rindu Sasuke, apalagi sekarang dia jarang sekali bertemu dengan sang seme. Liburan musim dingin seharusnya adalah hal yang paling indah untuk sepasang kekasih. Tapi rupanya kesibukan lebih sering menyapa mereka, dan membuat keduanya harus bergelut dengan kesibukan-kesibukan.

_Mansion Uchiha_

Kita tengok pemuda bermarga Uchiha yang tak kalah galaunya dari Naruto. Siapalagi kalau bukan Uchiha Sasuke? Adik dari Uchiha Itachi. Sudah beberapa hari ini ia sangat jarang tidur. Berkas-berkas perusahaan keluarganya yang dengan senang hati selalu menemani akhir musim dinginnya.

Padahal Sasuke ingin sekali mengajak Naruto jalan-jalan. Kalau begini caranya, sehabis Naruto tamat kuliah, Sasuke akan segera meminang Naruto. Karena terlalu bad mood, akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengunjungi kamar mendiang adik kecilnya.

Misa Anaru

Mata kelamnya memandang sebuah bingkai foto bergambar seorang gadis kecil bersurai blonde dengan rambut panjang yang diikat dua. Manis, ya, adik nya memang selalu terlihat manis. Kenapa bisa dulu Sasuke mengabaikan Naruko? Ku rasa bukan mengabaikan, karena sebenarnya Sasuke sangatlah menyayangi Naruko, tanpa ia sadari.

Langkahnya semakin mendekati meja belajar berwarna merah jambu yang dulu sering digunakan Naruko untuk belajar bersama sang ibu. Masih teringat jelas saat pertama kalinya Naruko menunjukan sebuah buku gambar dan hasil karya nya pada Sasuke.

"Nii-chan, Luko gambal ini.. Bagus tidak"

Sasuke tersenyum saat mengingat kembali kejadian itu. Dimana saat Naruko memamerkan gambar seorang anak kecil dan seorang pemuda tengah bermain di taman.

"Tidak"

Eh, betapa brengsek nya dia saat itu. Mengatakan jika gambar itu tidak lah bagus. Dadanya sesak saat melihat senyum Naruko memudar. Gadis kecil itu terus memperhatikan hasil karyanya, mengoreksi mana yang terlihat tidak elok dipandang.

"Yosh, Luko akan belajar lagi"

Kata-kata yang sering diucapkan Naruko. Kata-kata yang tak pernah mengatakan rasa putus asa. Menunjukan jika Naruko adalah gadis yang pantang menyerah.

Kriieet...

Sasuke menolehkan kepalanya ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Terlihat sosok sang kakek yang berjalan memakai kursi rodanya mendekati dirinya.

"Aku ingat saat Ruko-chan meminta ayah mu untuk mendaftarkan dirinya ke sebuah sekolah melukis" kata Madara, berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Sasuke ingat, dulu adiknya memang jarang terlihat di rumah pada saat ia pulang sekolah. Dan baru pulang saat sore hari.

"Meskipun tidak bisa, tetapi Naruko selalu mencoba" Lanjut pria paruh baya itu. Sasuke terus memandangi sebuah gambar hasil karya Naruko yang terpajang rapih di dinding. "Aku terlalu memaksanya untuk bisa" Ujar Sasuke. "Maksud mu?" Tanya Madara, tidak mengerti.

"Aku, aku memintanya untuk membeli minuman diseberang jalan...memaksanya untuk bisa menyeberang di jalan raya, aku..aku, kakak yang sangat brengsek, Jii-sama" Aku Sasuke. Madara tercekat dengan apa yang Sasuke katakan. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu bagaimana kronologis cucu kesayangannya itu meninggal.

"Memintanya untuk menjadi dewasa" Lanjut Sasuke.

"Menanam sebuah biji tidak perlu meminta untuk tumbuh"

Sasuke menatap kakeknya dengan tatapan, 'apa maksud Jii-sama'. Mengerti akan tatapan Sasuke. Akhirnya, Madara membuka suara lagi.

"Kau tak perlu meminta seorang anak kecil untuk dewasa, nak" Ujar Madara. "Aku sangat ingat ketika cucu laki-laki terakhir ku mendatangi aku saat usianya 7 tahun.. Dia bertanya pada ku, apa itu Dewasa.. Wajahnya sangat lucu saat itu.."

Sasuke kembali flashback saat ia kecil dulu. Saat berumur 7 tahun, dan masih duduk di kelas 3 SD.

Flashback On..

Musim semi yang begitu indah tahun ini. Bertemu dengan sang princess, membuat Sasuke tak henti-hentinya untuk tersenyum. Setibanya di rumah, Sasuke melihat sang kakek yang tengah duduk di pavilun sambil menikmati Ocha hangat kesukaannya.

Tanpa menghitung waktu, Sasuke pun segera berlari dan memeluk sang kakek dari belakang. Kakeknya tersenyum dan memangku cucu laki-laki terkecilnya itu. Diciumnya pucuk surai milik Sasuke.

"Bagaimana hari mu, Sasu-kun?" Tanya sang kakek. "Indah, sangat indah" jawab Sasuke, dengan nada cempreng miliknya. "Aku bertemu seorang princess yang menangis di bawah pohon Sakura.. Dia cantik sekali, apa lagi memakai mahkota bunga Sakura" Sasuke mulai bercerita.

Madara terkekeh geli mendengarnya. Cucunya yang dengan terus terang bercerita tentang cinta pertamanya. "Karena teringat dengan dorama-dorama yang sering Shizui-nii dan Itachi-nii tonton, ku katakan saja jika aku mencintainya, lalu aku memakaikannya cincin, dan memintanya untuk menjadi istri ku saat aku dewasa" Jelas Sasuke.

"Kau dewasa sekali" Madara berkata. "Nee, apa itu dewasa, jii-chan?" Tanya Sasuke. "Dewasa itu bertambahnya usia pada seseorang, menambahnya usia, dan semakin besar pula kewajiban yang harus ia tanggung" Jawab Madara.

"Misalnya, Sasu-kun sekarang dilindungi oleh Jii-chan..dan ketika Sasu-kun besar, Sasu-kun lah yang akan melindungi Jii-chan"

"Jadi yang besar melindungi yang kecil ya?" Tanya Sasuke. "Bisa dikatakan begitu" Jawab Madara, menggelitik tubuh cucunya. "Hihihi, geli Jii-chan, hentikan" tawa Sasuke.

Flashback Off

"Seseorang akan menjadi dewasa pada waktunya" Ujar Madara. "Aku terlalu menjadi seorang yang tiran untuk Naruko" Ucap Sasuke. "Tuhan tidak tiran, nak.. Sebagai seorang hamba, terkadang kita memang sering lupa akan suatu hal yang tidak bisa kita lakukan, dan memaksa orang lain untuk bisa melakukannya" timpal Madara.

.

.

.

.

Another Place..

Seorang wanita berusia 36 tahun terus memperhatikan sebuah amplop berwarna merah muda di tangannya. Sebuah amplop yang ia temukan di sebuah brankas tempat ia mengajar beberapa tahun silam, sebelum ia menikah. Yuhi Kurenai, atau bisa kita sebut Sarutobi Kurenai adalah mantan guru Taman Kanak-kanak yang pernah mengajar di sebuah TK bertaraf internasional.

"Kenapa kau belum tidur?" Seorang pemuda bertubuh kekar berjalan mendekatinya. Wanita pemilik Red Eyes ini menoleh ke arah sang suami. "Sudah 5 tahun berlalu, kau masih menyimpan itu?" Tanya pria bernama lengkap Sarutobi Asuma. "Hu'um" jawab nya.

"File bergambar teddy bear yang ku temukan di brankas milik salah satu murid ku, tapi aku lupa siapa namanya" Lanjut Kurenai, memperhatikan tulisan-tulisan khas anak kecil yang baru belajar menulis. "Memangnya tidak ada namanya?" Tanya Asuma.

"Tidak, hanya ada lambang ini saja" Kurenai menunjukan sebuah lambang kipas kepada suaminya. "Uchiha" Asuma terkejut melihat lambang kipas clan Uchiha, clan yang sangat terkenal. "Tunggu, sepertinya aku masih menyimpan arsip mantan murid ku" Kurenai berjalan menuju rak buku.

"Ini dia" Tak lama kemudian Kurenai menemukan buku tebal yang agak kusam. Dibukanya buku tersebut dengan hati-hati. Sebuah nama dan sebuah foto berhasil ia dapatkan. "Tidak salah lagi, ini pasti miliknya" kata Kurenai.

.

.

.

.

_SasuNaru_SasuNaru_Sasunaru_

Kali ini Naruto benar-benar nekad pergi keluar rumah hanya untuk mengunjungi Sasuke. Dia rindu, rindu sekali. Dengan menaiki kendaraan pribadi, akhirnya Naruto tiba di mansion Uchiha. Tampak sepi, karena memang selalu terlihat sepi. Ditambah lagi, Deidara dan Itachi tinggal di apartemen, pasti mansion megah itu terlihat sangat sepi dibandingkan sebelumnya.

"Dobe"

Sasuke terkejut melihat Naruto sedang berjalan menuju halaman rumahnya yang diselimuti Salju. Karena takut Narutonya terpeleset, akhirnya Sasuke memutuskan untuk menyusul kekasihnya. Tak butuh waktu lama Sasuke tiba di depan pintu, dengan hati-hati ia mendekati Naruto dan menyambut kedatangannya.

"Kau ini nekad sekali, ayo masuk" Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto dan menggandengnya/menyeretnya memasuki mansion miliknya. "Sepi sekali, dimana Kaa-chan?" Tanya Naruto, heran melihat mansion yang sangat sepi. "Ya, tapi karena ada kau jadi terasa ramai" sahut Sasuke. "Hhehe, bisa saja" Naruto tertawa malu.

"Mau minum coklat hangat?" Tanya Sasuke. "Aku mau, tapi Sasuke yang buatkan ya" pinta Naruto. Sasuke mencubit pelan hidung bangir Naruto, "dasar manja" canda Sasuke.

.

.

.

.

Itachi's Apartment..

"Semua nya sudah siap?" Tanya seorang pria bersurai raven ikat kuda pada seorang wanita bersurai blonde yang tengah menata baju ke dalam koper. "Sebentar lagi, un" jawab wanita itu. Suami istri Uchiha itu tampaknya hendak bepergian. Dilihat dari banyaknya baju-baju yang dimasukan ke dalam koper. Itachi Uchiha, laki-laki yang sudah meminang wanita Iwagakure ini terlihat begitu menyayangi sang istri.

Protektif, sangat. Apalagi saat mengetahui istrinya tengah mengandung buah hati mereka. "Hm, sepertinya Tousan dan Kaasan akan senang melihat menantu nya berkunjung ke mansion" Ujar Itachi. Deidara mengulas senyum menanggapi ucapan sang suami.

"Hum, sok tahu kamu" Canda Deidara. "Kita berangkat besok pagi" Itachi membantu istrinya mengangkat koper. "Tidurlah, Dei! Aku tak mau kau kelelahan" Lanjut Itachi. "Dasar calon papa" Ujar Deidara, merebahkan tubuhnya ke kasur. "Semua papa akan memberikan yang terbaik untuk putranya" sahut Itachi.

"Terserah lah, un" kata Deidara. Itachi berjalan mendekati ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya di samping sang istri. "Selama aku di Kanada, kau jangan bepergian tanpa ada yang mendampingi mu ya"

Deidara membalikan tubuhnya menghadap Itachi. Dua onyx kembar milik Itachi terlihat jelas jika calon ayah ini merasa khawatir dengan keadaan istri dan juga calon bayi nya. "Tenang saja.. Lagi pula, untuk apa aku bepergian? Kau kan tahu selama mengandung aku jadi mulai bosan dengan keramaian" Deidara mengusap pelan lengan suaminya.

"Benar-benar seorang Uchiha" Puji Itachi-mengelus perut Deidara yang sedikit membuncit. "Tentu saja" Timpal sang istri.

.

.

.

.

Restoran Cepat Saji, Pukul 9 malam..

Seorang pria berusia 37 tahun ditemani seorang pemuda berusia 21 tahun tampak sedang berbincang-bincang di sebuah restoran cepat saji. Pemandangan seorang guru yang bertemu dengan mantan muridnya, terlihat seperti reuni yang sering dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.

"Ku dengar kau berhasil membuat mesin itu, Shika" Sang guru berkata. Pemuda bernama lengkap Nara Shikamaru itu menghentikan acara makannya sejenak. "Ya, 10 tahun sudah aku mencoba.. Dan akhirnya kemarin lah mesin ciptaan ku resmi akan dipamerkan" Sahut Shikamaru.

"Kau memang murid ku yang hebat" puji sang guru. "Itu berlebihan, Asuma-sensei" kata Shikamaru, sedikit jengah. "Ahahaha, seperti biasanya ya"

Hening, hanya dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar. "Bagaimana dengan 3 sahabat mu? Ku dengan Utakata menetap di luar negeri ya? " Tanya Asuma. Shikamaru menganggukan kepalanya. "Neji?" Tanya Asuma (lagi). "Dia meneruskan usaha keluarganya dan baru beberapa bulan yang lalu sanggar dozo miliknya resmi dibuka" Jelas Shikamaru.

"Lalu bagaimana dengan Uchiha? Apa dia masih dingin seperti dulu?" Lagi-lagi sang guru bertanya. Wajar saja sih, setiap guru pasti selalu ingin tahu 'masa depan murid-muridnya'. "Tentu saja, sejak kematian adik perempuannya kan dia seperti itu.. Kalau Sasuke sih, dia juga membantu ayahnya menangani perusahaan mereka" Jawab Shikamaru.

"Meninggal" beo Asuma. "Apa sensei tidak tahu tentang adiknya Sasuke?" Tanya Shikamaru, heran melihat gelagat tak mengerti dari mimik wajah sang guru. "Setahu ku, Sasuke itu anak bungsu" Ujar Asuma. "Memang benar.. Tapi keinginan kedua orang tuanya yang ingin memiliki anak perempuan lah yang membuat Sasuke menjadi anak kedua" Jelas Shikamaru.

"Saat kami masih kecil, Sasuke memang curhat pada ku, Neji dan Utakata mengenai adik angkatnya... Dia terlihat tak suka pada bayi perempuan itu, bahkan setahu ku, Sasuke sangat membenci adiknya hingga gadis kecil itu meninggal" Lanjut Shikamaru.

Asuma menganggukan kepalanya, mengerti. Tidak sia-sia rupanya, Usaha dirinya yang hendak membantu istrinya. Dari Shikamaru, ia mendapatkan banyak informasi tentang Uchiha. Meskipun banyak yang bermarga Uchiha, tetapi hati Asuma berkata, Jika surat berwarna merah muda itu ada sangkut pautnya dengan Sasuke.

"Sepertinya Asuma-sensei sengaja menemui ku untuk mengorek informasi tentang Sasuke" tebak Shikamaru. Asuma tertawa canggung, ah, benar...

Dia tidak bisa menyepelekan Shikamaru. Salah satu muridnya yang selalu tepat menebak gelagat seseorang. "Dibanding kehidupan kami, sensei lebih penasaran dengan kehidupan Sasuke" Sambung Shikamaru.

.

.

.

.

Naruto's Room

Kita kembali lagi ke sebuah kamar milik pemuda yang resmi menjadi kekasih dari laki-laki bernama Uchiha Sasuke, adik dari Uchiha Itachi. Tampaknya pemuda pirang berwajah manis ini tengah disibukan menghibur anak perempuan berusia 5 tahun yang menangis.

"Ruko-chan, kamu kenapa?" Tanya Naruto, mengusap pucuk surai blonde Naruko. "Temukan, hiks" Isak Naruko. Naruto bingung dengan jawaban yang ia dapatkan. Apa maksud dari kata 'temukan' itu? "Aku tidak mengerti, aku harus menemukan apa?" Tanya Naruto.

"Temukan, ku mohon" Pinta Naruko. "Temukan ap-"

Cklekk..

Naruto menoleh ke arah pintu dan mendapati sang nenek yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Baa-chan" Naruto sedikit terkejut dengan kehadiran neneknya. Naruto melempar pandang ke samping kanannya, dimana Naruko berada.

Kosong..

Tak ada siapa-siapa, dimana Naruko? Naruto tidak tahu. "Belum tidur, nak?" Tanya sang nenek. Naruto menganggukan kepalanya. "Insomnia lagi? Kau ini, tidak baik untuk kesehatan mu" Kata neneknya. "Hehehe" Tawa Naruto, garing. Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.

"Ok, kau tidur lah! Baa-chan akan segera kembali ke kamar" Sang Nenek berjalan kembali ke arah pintu. "Selamat malam, Baa-chan" Ucap Naruto. "Selamat malam" Sang nenek menutup pintu cucunya secara perlahan-lahan.

.

.

_Sasunaru_Sasunaru_RLGG_

"Aduh, sakit..arrggghhh.." Pekik seorang gadis kecil seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Apakah itu sakit sekali? Entahlah, gadis kecil ber-dress putih gading ini terlihat sangat-sangat kesakitan.

"Naruko-chan" Akhirnya wanita bersurai merah darah berjalan mendekati gadis kecil bernama Naruko itu. Tak tega, sebenarnya apa yang terjadi?

"Aarrrggghhh" teriak Naruko. "Apa yang terjadi, nak?" Tanya wanita cantik itu. "Ba-chan, Ba-chan, aarrrggghh, kenapa? Kenapa? Kenapa? Ruko lupa, hiks" Isak Naruko. Tak mengerti, Kushina benar-benar tidak mengerti dengan ucapan gadis polos dihadapannya kini.

"Apa? Apa yang kau katakan?" Kushina bertanya (lagi). Mendesak agar Naruko menjawab dengan benar. "Aku sudah tahu apa yang membuat ku tak bisa kembali ke alam ku, tapi aku tidak tahu apa itu" Jelas Naruko.

"Aku lupa, aku lupa, ba-chan" Lanjut Naruko. Naruko kecil tampak depresi sekarang, apa yang harus dilakukan? Bahkan, Naruto yang notabene manusia saja juga dipastikan tidak bisa membantu kalau seperti ini. "Jika itu tidak ditemukan, selamanya aku tidak bisa berenkarnasi" Ucap Naruko, pasrah.

Dipeluknya tubuh mungil Naruko. Gadis kecil yang memiliki rupa yang hampir sama dengan putra semata wayangnya itu. "Aku tahu kau bisa melewati semua ini" hibur Kushina. "Aku tidak bisa ba-chan, hiks" Naruko menangis dipelukan Kushina. "Kau bisa, kau dan Naruto.. Kalian adalah anak-anak yang kuat, aku yakin kalian bisa" Kushina tak henti-hentinya menguatkan gadis kecil itu.

Naruko berhenti menangis. Ditatapnya wanita cantik dihadapannya kini. Benar, Naruko tidak boleh putus asa. Tuhan selalu memberikan jalan untuk hambanya. Naruko harus kuat, karena ia terlahir bukan untuk menjadi anak yang lemah. "Aku kuat" kata Naruko. Kushina tersenyum dan memeluk kembali tubuh Naruko. "Aku tahu itu" sahut Kushina.

Tak ada manusia yang terlahir untuk lemah Naruko. Kau benar, manusia terlahir untuk menjadi kuat dan berani. Kuat dalam menjalani cobaan yang tuhan berikan untuk kita, dan berani dalam mengambil keputusan untuk melangkah...

Semua akan indah pada akhirnya, Naruko...

TBC

.

.

.

.

I hope you still mind to review Guys..^^

.

.

.

.