Kim Jongin & Oh Sehun
Friendship / Bromance / Crime / Hurt / Action
Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p
Selamat membaca!
.
.
Part 3
Hoseok merapatkan dirinya pada Seokjin, "entah ini hanya perasaanku atau bukan tapi kenapa rasanya ada aura mencengkam disini?" bisik Hoseok di telinga Seokjin pelan. Seokjin hanya mengamini ucapan Hoseok dengan anggukan kecil.
Seokjin dan Hoseok terlihat sudah menempatkan diri mereka di atas sofa. Sedang Jongin memilih untuk berdiri di sisi pintu masuk sambil menatap ke arah Sehun seolah siap untuk membunuhnya kapanpun.
Tak jauh dari mereka terlihat Sehun yang terduduk di meja kerjanya sedang menatap beberapa lembar kertas dengan tatapan serius dan terlihat tak peduli dengan Jongin. Sehun berjalan keluar dari balik mejanya dan duduk di hadapan Seokjin dan Hoseok.
Ia menyodorkan kertas tersebut pada mereka, "kita bisa mulai beroperasi malam ini! Aku akan menyerahkan stempel kepemilikan Naga Timur pada kalian jika operasi ini berhasil dengan ganti aku yang akan mengurus ketua Naga Timur."
"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Hoseok dengan wajah penasaran. Hey, siapapun disana – terkecuali Sehun dan Chanyeol – pasti penasaran, apalagi Jongin sempat bereaksi karena pertanyaan Hoseok tersebut.
Sehun berdeham beberapa kali. Ia juga sempat melirik ke arah Jongin. Ia tahu orang yang paling penasaran dalam hal ini adalah Jongin. "Sebenarnya ini hanya ulah anak kecil yang sedang mencari perhatian. Jadi-."
Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya Hoseok sudah menyelanya dengan reaksi terkejutnya, "kau yakin ini ulah anak kecil?"
Sehun melirik ke arah Jongin lagi sebelum akhirnya mengangguk lagi, "bukankah banyak anak kecil yang bertindak di luar batas! Kurasa kau tak perlu seterkejut itu!"
Hoseok tertawa dengan terpaksa dan Seokjin hanya menatapnya dengan tatapan aneh, "ya, bagaimana mungkin seorang anak kecil bertindak seperti itu?! Bahkan ia melakukannya dengan sangat rapi!"
Jongin menyeringai, "aku tahu beberapa anak yang melakukan hal seperti itu juga! Bukan begitu Tuan Shixun?!" kata Jongin dengan nada sarkatis. Sebenarnya dia juga sedang menyindir dirinya sendiri, "lebih baik kita segera pergi untuk persiapan nanti malam, Sunbae!"
Sehun tersenyum kecut, "kuharap nanti malam tidak ada yang bertindak di luar batas!" balas Sehun dan Jongin hanya mampu mengepalkan tangannya.
-xoxo-
Jongin menatap Chanyeol dengan lekat, membuat laki-laki tinggi itu merasa risih. Ia sedang mengemudikan mobil untuk mengantar mereka ke markas persembunyian Naga Timur sekarang. Chanyeol pun mencoba menghilangkan kecanggungan mereka dengan membuka percakapan.
"Apa kalian tidak membawa bantuan?" tanya Chanyeol.
"Tidak! Bantuan akan datang setelah kami menilik situasi nanti!" jelas Seokjin yang diangguki oleh Hoseok.
"Dimana Sehun?" tanya Jongin ketus.
"Tuan Muda sedang dalam perjalanan! Dia sedang menemui seseorang sekarang!" kata Chanyeol ragu.
"Kupikir dia melarikan diri!" sindir Jongin dan menyilangkan tangannya dengan memasang raut kesal.
Chanyeol hanya tersenyum tipis, "dia bukan orang yang suka melanggar janji!"
"Benarkah? Aku meragukan itu!"
Seokjin dan Hoseok yang duduk di bangku belakang hanya dapat saling bertukar pandang dengan wajah bingung karena mereka benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak sampai tiga puluh menit akhirnya mereka tiba di sebuah jajaran ruko yang nampak sudah lama tak dihinu. Sehun bilang itu adalah properti yang dibeli oleh Yifan tapi terbengkalai selama beberapa tahun.
"Kau yakin ini markas mereka?" tanya Jongin sambil menatap angkuh ke arah bangunan gedung.
Chanyeol mengangguk mantap, "saya sudah menyusup kesana menjadi mata-mata dan memang benar Tuan Muda, ah, maksud saya pimpinan mereka selama ini berada disini!"
Jongin memicingkan matanya sekilasmendengar penuturan Chanyeol dan menatap beberapa tiang jalanan yang telah dipasangi cctv. Benarkah ini pekerjaan seorang bocah? Semua tertata begitu rapi dan terkondisi. Bahkan ia sanggup menghapus jejaknya hanya dalam satu malam. Jongin sangsi dengan ucapan Sehun.
Jongin akan melangkahkan kakinya tapi sebuah tangan menahannya untuk pergi, "meski di dalam lawan kita tak lebih dari lima belas orang tapi kekuatan mereka setara dengan Taehyung! Dia sudah mengeliminasi anggotanya dan meninggalkan yang terkuat saja."
Jongin menengok ke arah belakang dan mendapati wajah Sehun sedang menatap ke arah bangunan itu dengan serius. Ia dengan segera menghempaskan tangan Sehun. Mendengar nama Taehyung disebut oleh Sehun membuatnya mendidih emosi.
"Aku tak tahu apa yang membuat Sehun berada disisi orang yang lemah sepertimu!" perkataan Taehyung terngiang kembali di telinga Jongin dan itu mengesalkan.
Jongin melompati semak tempat persembunyian mereka dan berlari menuju ke arah ruko tersebut. Sehun berdecak kesal dengan sikap Jongin yang selalu sembrono seperti dulu.
"Ya, Kim Jongin! Aku tak selalu berada di sampingmu sekarang jadi bisakah kau menjaga dirimu itu?" pikir Sehun.
"Kalian tunggu aba-aba dariku!" kata Sehun sambil melompat menyusul Jongin dengan segera dan sengaja menunjukan wajahnya ke arah kamera cctv.
"Jongin, sialan!" umpatnya sambil berlari sekuat tenaga.
Jongin sudah terengah saat ia melawan dua orang bahkan seluruh serangannya tak satupun yang tepat mengenai sasaran. Ini tidak seperti biasanya. Mereka memang orang yang terlihat berbeda dan terlatih.
"Apa kau puas sekarang?" keluh Sehun yang datang dengan tendangan melompat dan berhasil menjatuhkan salah satu dari penjaga itu dalam sekali serang. Hal itu benar-benar membuat Jongin membelalak. Sehun menatap sekilas ke arah Jongin yang mematung karena masih terkesiap karena kejadian singkat tersebut.
Sehun terlihat sibuk menangkis serangan orang tersebut, "apa kau sudah paham, Kim Jongin? Perbedaan yang selama ini tak kau ketahui? Kurasa Taehyung orang yang lebih jujur daripada aku!" kata Sehun dan membanting orang tersebut ke lantai dengan keras.
Ya, Sehun selalu mengalah selama ini dengan Jongin, menahan kekuatannya jika di dekat Jongin. Kehidupan di luar membuatnya termotivasi untuk mengasah kemampuannya terus menerus agar dirinya mampu bertahan hidup.
Jongin menengok menatap ke arah Sehun yang sibuk menangkis serangan, "kau orang yang hidup di tempat yang nyaman sejak awal takkan pernah mengerti bagaimana kerasnya hidup. Selama itu kau takkan bisa melawan mereka dengan kekuatan mereka." Sehun menarik tangan Jongin dan mengajaknya berlari menaiki tangga menuju lantai dua setelah membereskan beberapa orang yang ia temui di lorong menuju tangga.
Alis Jongin terlihat akan bertaut dengan pandangan yang terlihat serius. Ia sedikit menahan langkah kakinya membuat Sehun menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap ke arah Jongin, "maaf!" kata Jongin. Sehun memiringkan kepalanya, memikirkan kemungkinan maksud Jongin mengatakan maaf padanya.
"Setelah semua ini selesai aku ingin berbicara denganmu secara baik-baik dan menahan egoku kali ini!" kata Jongin membuat Sehun mengulas senyumnya dan berjalan mendekat ke arah Jongin untuk sekedar mengecup pipi pemuda itu dengan singkat.
Mata Jongin membola kemudian menatap garang pada Sehun bahkan mengacungkan jari telunjuknya dengan kesal, "apa yang kau lakukan, Oh Sehun! Apa kau mau kubunuh?" teriak Jongin kesal dan mendapat kecil dari Sehun.
"Hahaha, responmu benar-benar selalu menarik! Padahal Tao selalu menyukainya jika aku mencium pipinya!" kata Sehun.
Jongin mengerutkan keningnya dan pelipisnya terasa berkedut menahan kesal, "siapa lagi itu Tao?" pikirnya kesal.
"Ayo, kita segera menyelesaikan tugas ini, Kai!" kata Sehun dan diangguki mantap okeh Jongin setelah beberapa saat terperangah karena mendengar Sehun menyebutnya dengan nama Kai. Benar-benar membuatnya rindu.
Butuh dua puluh menit mereka menyelesaikan pertarungan mereka dengan para penjaga di lantai dua. Hingga mereka tiba pada sebuah pintu tapi sebelum Sehun membukanya pintu itu sudah terbuka kembali.
"Gege!" teriak seseorang lalu melompat bergelayut di leher Sehun, "aku bosan menunggumu!"
Sehun menghela napas lalu merengkuh tubuh kecil itu dan jika diperhatikan masih berusia sepuluh tahun. Sehun terlihat mengusak rambut pemuda tersebut dan kemudian menjitak sekuat-kuatnya, "Zitao! Apa yang kau lakukan disini? Kabur seenaknya dari rumah dan mencuri stempelku! Aku akan menghukummu sampai rumah!"
Zitao memekik kesakitan sambil memegang kepalanya yang sakit, "aku hanya ingin membantumu mengambil Xiumin dari Blak Tiger! Aku mendengar perbincanganmu dengan Chan HYung bahwa dia berada di kediaman Tuan Kim!" kata Zitao diantara isakannya.
Sehun menghela napas ia meraup wajahnya dengan frustasi, bagaimanapun Zitao masih terlalu kecil tapi tindakannya benar-benar kelewatan. Tapi ia juga tersentuh karena alasan Zitao melakukan hal tersebut. Ia merasa serba salah sekarang ini.
Sehun menengok ke arah Jongin, "Jongin!" panggil Sehun tapi yang dipanggil terlihat masih mematung. Jongin membeku. Kenyataannya memang hanya seorang anak kecil yang mereka kejar selama beberapa waktu ini dan mereka kualahan.
Sehun mengguncang tubuh Jongin sedikit untuk menarik kesadaran Jongin kembali, "ayo, kita kembali! Mereka pasti khawatir!" dan tanpa banyak kata Jongin hanya mengangguk kecil.
.
Hoseok melebarkan pandangannya, begitu juga Seokjin. Chanyeol hanya mampu menghela napas karena reaksi berlebihan mereka. Zitao sudah tertidur saat mereka turun bersama beberapa pengikut Naga Timur yang masih tersisa dengan beberapa kondisi luka-luka.
"Jadi benar-benar anak kecil?" tanya Hoseok tak percaya dengan ekspresi yang terlalu berlebih.
Sehun mengangguk, "aku minta maaf untuk ini! Dia adalah anak dari Tuan Huang!"
Semua mata melotot kaget ke arah anak dalam gendongan Sehun kecuali Chanyeol dan Sehun. Siapa yang tak mengenal Tuan Huang, dia adalah Mafia paling berpengaruh di China, baik di dunia bawah maupun atas. Kalau mengetahui sejarah siapa Zitao mereka semua paham kenapa anak tersebut bisa berlaku diluar nalar seperti itu.
"Sebenarnya dia datang berlibur bersamaku tapi dia kabur dan membuat keonaran! Aku tak berpikir sia akan melakukan hal tersebut!" kata Sehun dengan penuh penyesalan, "sesuai janjiku!" Sehun melemparkan stempel dengan ukiran naga pada tuasnya tersebut pada Hoseok.
"Inikah stempel Naga Timur itu? Hebat!" kata Hoseok, "apa benar hanya dengan memiliki ini berarti menjadi pimpinan mereka?"
Sehun tersenyum tipis lalu mengangguk, "tolong berikan stempel itu pada Paman Joonmyeon sebagai hadiah dariku! Kalau begitu kita berpisah disini! Kalian bisa memakai mobilku!" kata Sehun dan menyuruh Chanyeol untuk mengikutinya.
"Ya, Shixun! Apa kau yakin memberikan stempel itu pada mereka? itu adalah…"
"Tidak apa-apa, Chan! Daripada aku kurasa Paman Joonmyeon lebih bisa diandalkan untuk mengurusinya! Karena sekarang ini banyak hal yang harus aku urus!" Sehun menatap ke arah Zitao, "anak ini, sudah berapa lama ia tidak tidur? Lingkaran matanya semakin besar saja! kurasa aku akan menghukumnya jika ia sudah bangun nanti!"
-xoxo-
Sehun menatap Zitao yang menguap di depannya itu dengan sebal. Ia sebenarnya berniat menghukum anak itu tapi kejadian itu sudah berlalu tiga hari dan menghukumnya sekarang benar-benar terasa basi. Dia meruntuki dirinya.
"Kenapa kau bertindak sejauh itu Zitao?"
"Aku lapar, Gege! Aku mau susu!" kata Zitao dan mau tidak mau Sehun berdiri mengambilkan susu untuk Zitao.
"Apa kau masih-."
"Aku hanya ingin membuatmu bertemu dengan Xiu Jie! Aku dengar kau sering mengigaukan namanya."
Sehun terkekeh lalu mengusak rambut Zitao, "terima kasih! Aku sudah menyelesaikan masalah tentang Xiumin!" kata Sehun, "jadi hari ini tunggulah di rumah dengan Chan hyung!" Zitao merengut tapi meski begitu ia mengangguk.
Tak berapa lama bunyi bel pintu masuk berbunyi dengan tak karuan membuat kedua penghuni rumah tersebut mengernyit. Sehun melangkahkan kakinya kesal dan membuka pintu tersebut.
"Shixun!" teriak seseorang tersebut, "kenapa kau lama sekali membuka pintunya! Zitao, kau ada disini juga? Ah, kau memang selalu membuntuti Shixun kemana-mana!"
"Siapa yang kau bilang begitu, heh? Kau sendiri juga seperti itu! Dasar Rusa sialan!" teriak Zitao tak mau kalah.
Sehun menahan lengan Luhan sebelum mereka akhirnya bertengkar lagi, "kau ingin bertemu Xiumin, bukan? Sebaiknya kau menjaga sikapmu! Saat kau bilang ingin menikah dengan Xiumin di depan Kakek Nenekku itu benar-benar mengejutkanku kemarin tapi berkatmu mereka menyuruhku menjemputnya! Hah, mau tidak mau aku harus tetap berterima kasih!"
Luhan tersenyum, "tentu saja! bukankah itu yang dinamakan simbiosis mutualisme! Kecuali anak kecil disana, kurasa dia hanya parasit untukmu!" kata Luhan dan mengawali perdebatannya dengan Zitao yang terus berlanjut.
Bahkan kata-kata Sehun tak mampu meredam pertengkaran yang terjadi diantara mereka.
-xoxo-
Jongin menarik tangan Sehun sebelum laki-laki itu melangkah masuk ke ruangan kerja ayahnya, "kita perlu bicara sebentar! Aku tidak akan membiarkanmu membawa Minseok secepat itu!"
"Aku kakaknya, Jongin!" kata Sehun dan membuat Jongin terdiam. Dia tahu jelas bahwa Sehun lebih berhak pada Minseok daripada dirinya. Lagipula Minseok sudah memilih untuk ikut dengan Sehun kembali ke China.
"Bukan itu masalahnya!" sanggah Jongin, "apanya yang perjodohan? Lalu siapa itu Lu Hanming! Aku tidak akan pernah menyetujuinya!"
"Aku juga! Tapi karena ini juga Xiumin diakui di keluarga Wu bahkan dia mendapat hak warisnya!" kata Sehun, "aku sudah meminta persetujuan dari Xiumin tapi dia berkata bahwa dia akan melakukannya. Katanya tak kenal maka tak sayang!"
Jongin merenung. Terdengar benar-benar seperti Minseok mereka. Sebenarnya alasan ia menahan Minseok disini adalah agar ia masih memiliki alasan untuk menemui Sehun.
Sehun tersenyum lalu mengelus rambut Jongin lembut, "tenang saja, mulai sekarang aku akan sering datang ke Korea karena urusan perusahaan. Lagipula kita masih bisa bertemu karena kita teman, bukan? Jangan bermuka masam seperti itu!"
Jongin memalingkan wajahnya kesal karena Sehun selalu tahu apa yang dipikirkannya.
"Dan satu hal lagi. bukankah kau seharusnya memanggilku hyung? Aku lebih tua setahun darimu! Saat itu aku ingin protes tapi kurasa karena kau ketua aku memakluminya! Tapi sekarang kita berbeda!"
Jongin memicingkan matanya kesal lagi dan Sehun hanya terkekeh geli.
"Kenapa kau harus kembali ke keluarga Wu? Kuharap kali ini kau benar-benar menjawab dengan benar, Tuan Wu Shixun!"
Sehun tersenyum, "tentu saja untuk membalas kebaikan kalian! Hanya dengan begini aku bisa membalas semua kebaikan Paman Joonmyeon padaku selama ini!"
Sehun sambil menyodorkan sebuah map pada Jongin yang segera Jongin buka. Itu adalah data anggaran investasi soal proyek baru ayahnya tentang hak perlindungan anak serta wanita dari kekerasan dan jumlah yang tertulis disana tidaklah sedikit.
"Mulai saat ini aku akan mengangsurnya sedikit demi sedikit!" lanjut SEhun sebelum Jongin membuka mulutnya untuk bicara.
Jongin mengepalkan tangannya dan meninju pelan dada Sehun, "kau sudah janji! Jadi kuharap kau harus menepatinya!"
Sehun menarik sebelah senyumnya, membuatnya terlihat seperti sebuah seringaian.
"I'll be there, Kim Jongin. I'm promise!"
-end-
A/N :
Maaf jika permasalahan disini cukup sepele. Aku tak tahu bagaimana harus menyelesaikannya sedang aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini. UKK bentar lagi. Tugas dan ulangan harian gak berhenti. Hiks! Ceritanya jadi curhatan. *ditabok*
Lu Hanming? Kok bisa? Entahlah, yang pasti dicerita tetap aja Luhan. :D
Makasih buat yang udah baca terlebih nyempetin buat review. Makasih ya!
Wo ai Nimen!
Love you all!
Ketemu lagi di lain kesempatan!
