.E.

N

I

G

M

A

.

Act II

THE WEB INSIDE THE CASTLE

.

.

*Knock…Knock*

Siapa?

Pembawa surat dari kerajaan, Nona.

Surat, undangan untuk ku kah?

Ya, Nona.

Surat undangan untuk apa?

Akan ada pesta dansa besar-besaran untuk pangeran

Pangeran? Acara apa? Pangeran berulang tahun kah?

Tidak, dia sedang mencari wanita untuk dinikahi—semua wanita diundang, Nona.

Benarkah? Aku juga diundang?

Ya, Nona, tapi ada persyaratan—

Luar biasa, hahaha, tunggu—persyaratan?

Ya, siapkah Anda—mati untuknya?

.

.

.

Chapter 10

The Birth of Masquerade

by Alicera

.

.

Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto, not mine.

Genre: Fantasy/Romance/Horror

Warning: OOC, OC, AU, strange words, and painfully (may be) dramatic, Indonesian-English- Japanese mixture usage (my bad), and many more. Consider yourself warned.

.

.

Suara air mengalir dan kabut tipis putih menutupi kamar mandi luar biasa luas berlantai batu alam—yang entah apa namanya ini—air panas membuat kaca berkilauan yang menangkap bayanganku menjadi buram. Sebuah jendela besar terbuka menghadap ke arah padang rumput dan padang bunga berpetak-petak di bawah kastil. Siapa yang membuat kamar mandi dengan jendela terbentang lebar? Aku berdiri dengan tubuh tegang tanpa berkedip dan ada lima orang wanita—gadis berseragam gaun kebiruan yang memojokkanku. Aku memegangi baskom berlapis perak di depan tubuhku sebagai tameng dan err…juga senjata.

"Nona, saya mohon, kita tidak punya banyak waktu, empat jam lagi makan malam akan dimulai dan—" kata salah satu dari mereka berkata memelas.

"Oke, aku tahu, tapi aku tidak akan mandi sebelum kalian dan benda-benda itu pergi," sahutku juga ikut memasang muka memelas setelah muka garangku tidak juga bekerja untuk mengusir mereka.

Aku menghembuskan napas frustasi. Oke, jadi bagaimana aku bisa terjebak dalam situasi begini? Mari kita ulang kembali sedikit.

Setelah aku dibawa masuk ke kastil yang luar biasa megah—arsitekturnya seperti penggabungan antara arsitektur zaman victoria dan arsitektur gothic. Aku dipersilakan masuk ke dalam sebuah kamar tidur besar berwarna merah maroon dengan lantai marmer dan langit-langit diukir indah. Perabotannya terbuat dari kayu coklat kehitaman yang dipelitur indah dan lampu gantung serta pinggiran tempat tidur berukir ke-emasan—kurasa itu sepuhan emas, dan karpet beludru bermotif padang bunga lily di bawah kakiku pasti sudah membuatku lemas kalau saja aku tidak memakai sepatu. Nah, kemudian tiba-tiba salah satu dari mereka meraih tasku, mencopot sepatuku dan mencoba membuka celana jeans-ku. Tentu saja aku berteriak dan langsung mendorong mereka. Dan ternyata mereka ingin memandikanku? Hah?

Dan jadilah mereka memojokkanku di kamar mandi yang luar biasa besar ini—yang aku tidak mengerti, apa gunanya membuat kamar mandi sebesar ini?

Aku memandangi barang bawaan mereka—dan berjengit lagi—baskom serta botol besar yang mereka bawa—ada susu, madu, dan semacam rempah-rempah serta adonan aneh. Mereka kira mereka ingin membuat pancake atau omelet apa?

"Nona, Anda harus mandi, tolong Nona, kalau tidak kami yang kena hukuman."

"Aku bisa mandi sendiri," sahutku lagi dengan panik berusaha mencari cara untuk kabur.

Aku tidak mungkin dimandikan mereka berlima—telanjang. Astaga, kukira tipe mandi puteri yang diberi handuk oleh pelayan dan berjalan telanjang ke mana-mana itu hanya ada di film.

"Tapi ritual mandi ini cukup merepotkan dan kami tidak yakin, maaf bukannya kami sok tahu, tapi Anda pasti masih baru untuk hal seperti ini."

"Aku bisa mandi sendiri, kumohon, beri aku sikat gigi, pasta gigi, sabun, dan sampo, oke?"

Mereka hanya memandangiku seakan aku sudah gila.

Oh, Tuhan, tempat macam apa ini?!

"Ada apa ini?" sebuah suara menyeruak dari arah pintu. Semua gadis di depanku hanya terdiam sambil menunduk. Mereka memegangi celemek yang mereka pakai dengan gugup. Oke, aku kasihan pada mereka, tapi mereka berusaha memaksa untuk memandikanku. Mereka—berlima!

"Senior Hana, Nona Sakura tidak berkenan untuk mandi—kami.…"sahut salah satu dari mereka sambil menggerakkan tangannya dengan gugup lagi.

Hening. Yang kudengar hanya suara sepatu berhak berjalan pelan ke arah kami.

"Siapa—kau bilang tadi?" tiba-tiba suara itu berubah pelan dan tersendat-sendat.

Hening.

Dan kulihat gadis seusiaku melangkah mendekat dengan mata lebar. Rambutnya disanggul ke atas. Dia memandangku seakan melihat hantu. Dengan tubuh gemetar ia berdiri tepat di depanku.

Suara yang keluar dari mulutnya seperti suara angin sunyi di pegunungan," Nona…Nona Sakura."

Tangannya terangkat seperti akan meraihku. Aku mengangkat baskom perak yang kupegang semakin tinggi.

"Umm…hai?" jawabku dengan canggung—bingung dengan ekspresi sedih dan juga bahagia di matanya.

Beberapa saat kemudian, dia seperti sudah bisa pulih dari kekagetannya. Dia menegakkan tubuhnya lagi dan dengan tegas berkata pada lima gadis yang lain.

"Biar aku yang mengurusi Nona Sakura, kalian pergilah dan bantu yang lain membersihkan ruang makan utama."

"Baik, Senior Hana." Dan mereka sudah pergi keluar dengan rapi setelah meletakkan rentetan baskom dan botol itu di meja marmer di pojok ruangan.

Dia tersenyum padaku sambil berkata, "Nah, Nona, jika Anda tidak nyaman, pakailah dulu ini," ia menyodorkan kain putih linen lumayan panjang yang ia ambil dari almari besar di pojok ruangan.

Aku hanya mengangguk pelan. Gadis yang dipanggil senior Hana itu dengan lembut memberikan instruksi bagaimana cara untuk menggunakan kamar mandi dan peralatannya. Aku berusaha memasang wajah datar dan bukannya berteriak frustasi. Dia tertawa juga melihat ekspresi panik di mukaku setelah dia menerangkan apa gunanya madu, susu dan adonan-adonan tadi.

Aku memasuki bak mandi bundar dengan permukaan dari batu halus berwarna karamel. Aku harus mengakui air panas yang mengalir menggelegak di sekitar tubuhku membuat semua otot-ototku melemas. Tangan Hana yang halus dan pucat memasukkan beberapa serbuk aneh dan air berubah harum seperti wangi vanilla.

"Hana," kataku, sambil bersender dengan nyaman di pinggiran bak mandi.

"Ya, Nona Sakura?"

"Hana—bisakah aku memanggilmu Hana?"

"Tentu, Nona Sakura."

"Sakura," sahutku sambil memperhatikannya mengoleskan adonan lain di lenganku dan mengusapnya pelan. "Panggil saja Sakura," kataku sambil memainkan gelembung air hangat di samping tubuhku.

Rupanya perkataanku membuatnya kaget lagi karena dia menghentikan gerakannya dan dia menghembuskan napas pelan.

"Tentu, Sakura."

Aku tersenyum simpul. Entah kenapa, walaupun kami baru bertemu tapi aku merasa bisa mempercayainya. Kurasa tempat ini tidak terlalu jelek, dan keluarga Sasuke kaya sekali. Aku semakin bisa melihat alasan wajar di balik sikap angkuh Sasuke.

"Tempat ini indah sekali, Hana." Aku memandang ke luar dengan takjub. Kurasa kami di lantai dua kastil ini karena aku bisa melihat padang rumput luas dan pohon-pohon terawat yang memagari taman-taman kastil yang artistik. Ada oak, birch, dan entah apa namanya yang lain.

Hana hanya tersenyum. "Tentu saja, klan Uchiha memiliki salah satu kastil terindah di negeri ini."

"Klan Uchiha ya, hmm, aku penasaran seperti apa keluarga Sasuke, mereka kelihatan serius dan—Hana!" Aku berteriak nyaring meraih tangannya. Ada lambang terbakar aneh di lengannya, berbentuk kipas yang membuat kulitnya mengerut jelek. Lambang itu seperti stampel yang diberikan pada ternak yang akan dijual tapi stampel yang digunakan pada Hana seperti besi yang dipanasi dan dicapkan selama mungkin agar meninggalkan bekas yang dalam.

"Ah, maaf, Sakura," ia segera melepas gulungan lengan bajunya untuk menutupi lambang itu dengan tangan gemetar.

Aku merasakan jantungku berdetak keras. "Apa yang terjadi—bagaimana—"

"Ini hal biasa, semua pelayan lain juga memilikinya—ini lambang yang diberikan klan Uchiha ketika mereka membeli seorang budak."

Aku terhenyak. Tiba-tiba aku sama sekali tidak ingin tahu seperti apa keluarga Sasuke ataupun klan Uchiha. Wangi bunga kamperfuli menyerbu hidungku ketika Hana mengambil adonan lain untuk dioleskan di tubuhku.

Langit cerah kebiruan seperti samudera tenang tanpa gelombang.

.

.

.

Mari kita bermain putri-putrian

Berdandan lah sayang, pakailah setiap permata

Setiap pakaian indah gemerlapan itu

Berdansalah dan merangkak lah

Sampai kau bisa meraih mahkota di singgasana itu akhirnya

.

.

.

Aku berjalan dengan gugup melewati lorong panjang berkarpet merah ini. Di kiri kanan terdapat lukisan-lukisan dan patung-patung marmer indah tanpa debu. Aku memaksakan diriku untuk tidak berhenti dan dengan takjub menikmati semua karya indah ini. Aku berusaha berjalan sewajar mungkin walaupun wajah Hana yang menahan tawa membuat mukaku memerah.

Salah siapa aku disuruh memakai gaun hijau panjang berlapis dan berpita di sana-sini. Dan rambutku dikepang samping dan diberi pernak-pernik aneh. Setelah aku berargumen panjang lebar akhirnya Hana mengizinkanku memakai sepatu selop dan bukan sepatu gemerlap dengan hak tinggi. Aku bergidik lagi. Aku tidak pernah merasa sebersih ini seumur hidupku sampai-sampai aku takut mengotori diriku lagi karena merasa sayang dengan semua perawatan tadi.

Kami berjalan lagi dan Hana berhenti di sebuah pintu besar di sebelah kanan lorong panjang ini. Ia membukanya dengan pelan dan berkata dengan pelan pula," Nona Sakura sudah siap, Sasuke-sama."

Terdengar suara pelan dan dalam menyahut. "Baiklah, kau boleh pergi."

"Baik, Sasuke-sama." Hana tersenyum padaku dan mendorong pinggangku pelan agar aku masuk. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menarik tangan Hana supaya jangan pergi tetapi pintu besar di belakangku sudah berdebam tertutup.

Aku memandang ke sekeliling dan melihat ruangan seperti kantor—mungkin seperti itu di dunia modern. Ada kursi dan meja besar dengan tumpukan kertas-kertas dan perkamen di atasnya. Ada perapian, rak buku besar dengan buku-buku tua dan artistik berderet rapi. Warna dinding dan ruangan ini biru lembut.

Sampai mataku sampai pada sosok yang saat ini sedang mencari-cari sesuatu di antara tumpukan kertas. Tangan Sasuke yang pucat meneliti setiap lapis kertas dengan teliti.

Aku harus menghentikan langkahku juga dan menahan napas.

Okee, biasanya aku menganggap bodoh semua pangeran yang ada di film animasi—Prince Charming atau apa lah itu—dengan pose sok keren mereka. Dan aku bahkan menertawakan teman sekelasku waktu di Sekolah Dasar ketika dia berpakaian seperti keluarga aristokrat zaman dahulu ketika kami bermain di pentas drama.

Tapi aku benar-benar harus merasa iri pada Sasuke saat ini. Dia membungkuk di depan meja besarnya. Rambutnya yang hitam jatuh di pipinya yang putih pucat, rambutnya masih mencuat ke atas seperti biasanya. Ia memakai pakaian seperti kemeja putih tanpa kerah dengan lengan panjang dimasukkan ke dalam celana panjang hitam dan kakinya memakai sepatu boots hitam. Benar-benar mirip seperti pangeran zaman dulu. Dan dia berhasil membuat pakaian itu tidak terlihat konyol. Aku memandangi kulit leher pucatnya yang terlihat karena dua kancing teratasnya terbuka.

Ya Tuhan, apa yang kulakukan. Dan ini benar-benar tidak adil. Gadis mana yang kuat untuk tidak memandangi orang seperti Sasuke. Sungguh tidak adil, maksudku sekurang-ajar apa pun sikap Sasuke, Sasuke tinggal terlihat seperti itu dan kurasa tidak ada perempuan atau beberapa laki-laki yang akan tega menonjok mukanya, misalnya.

"Sakura."

Aku tidak habis pikir. Aku bisa menyebutnya hak-hak khusus orang rupawan. Apa yang harus kulakukan untuk setiap hari bertemu orang seperti Sasuke.

"Sakura?"

Aku bangkit dari runtutan pikiran konyolku. "Ah, hai, Sasuke?" aku mengakhiri kalimatku hampir seperti pertanyaan.

Sasuke berjalan mendekat, memandang lurus dengan matanya yang hitam kelam.

"Kau tidak terlihat pucat lagi."

"Ah, ya, terimakasih atas semua bantuanmu dan,"aku kesulitan merangkai kata," untuk bantuanmu—maksudku kau menyelamatkanku kemarin malam. Aku tidak tahu harus membalas budi dengan apa."

Sejak kapan kami jadi formal begini. Aku menahan diriku untuk tidak menarik rambutku dengan frustasi karena itu akan merusak kepangan halus dan teliti yang dilakukan oleh Hana.

Hanya saja, aku merasa setelah sampai di tempat ini, kami memiliki sebuah peran yang harus dimainkan.

Sasuke terdiam. Kelihatannya dia kurang suka dengan sikapku yang tiba-tiba formal dan menjaga jarak. Dia menyisirkan jari-jari pucatnya di rambut hitamnya—sebuah kebiasaan ketika dia bingung harus melakukan apa.

"Sebentar lagi kita akan makan malam, aku akan memperkenalkanmu pada anggota klanku. Jadi bersiap-siap lah." Sasuke berjalan gelisah ke arah jendela besar di ujung ruangan. Cahaya mentari sore mulai menerobos masuk, warnanya yang oranye membentuk bayangan Sasuke semakin kelihatan gelap. "Naruto dan yang lainnya tidak bisa bergabung dengan kita."

Tiba-tiba saja aku merasa ditampar. Aku menarik napas dengan susah payah. Lututku gemetar. Bagaimana aku bisa lupa dengan yang lain?! Aku ingin benar-benar menampar diriku sendiri. Setelah mendapat kemewahan sedikit saja, aku lupa diri dan tidak memikirkan mereka.

"Apa—apa yang terjadi dengan mereka?" aku berusaha menahan suaraku agar tidak bergetar.

"Mereka baik-baik saja, mereka masih dalam pengawasan klan Uchiha tapi mereka harus tinggal di villa selatan."

Dengan gemetar aku menghembuskan napas. Aku tersenyum lega juga. "Syukurlah, kukira mereka harus dipenjara dan disiksa atau apa." Aku teringat simbol kipas mengerikan yang dicapkan di tangan Hana.

"Harusnya begitu, Sakura." Sasuke berkata lagi, berjalan mendekat. Aku tidak bisa melihat ekspresi mukanya karena ia membelakangi cahaya sore. Ia berhenti di depanku dan aku tidak berani menarik napas. Tangan pucatnya terulur dan dia meletakkan rambut yang jatuh tergerai di pipiku karena kurang panjang untuk dikepang ke belakang telingaku.

Warna merah menjajah mukaku. Jika di film-film dan buku-buku ini adalah adegan romantis. Perlahan yang kurasakan hanya rasa dingin. Karena aku memandangi mata hitam Sasuke yang tanpa emosi. Seakan-akan dia melakukannya tanpa sadar.

"Kita harus kabur dari sini."

Aku tersentak kaget. "Ka—kabur?"

"Ya, karena harga untuk kebebasan mereka dari penjara cukup mahal." Sasuke menurunkan tangannya dan mereka terkulai pucat di samping tubuhnya.

"Aku membuat perjanjian dengan kakekku—untuk kebebasan mereka aku setuju jika kita akan segera menikah."

Aku hanya tertegun dengan mulut ternganga. Ada sesuatu yang mengerikan pada kata terakhir itu. Mata Sasuke yang sehitam jelaga kelihatannya seperti bergelora dengan api hitam.

Sasuke seperti bisa membaca ekspresiku. "Ini adalah hal yang berusaha kuhindari karena, Sakura, menikah dengan salah satu anggota klan Uchiha berarti kau akan terikat oleh sebuah mantera dengan klan Uchiha, mereka akan punya kekuatan untuk menentukan keputusan hidupmu dan kesetiaanmu harus selalu pada klan Uchiha."

Aku menghembuskan napasku perlahan, entah kenapa dadaku terasa dingin.

Aku mengangguk. "Jadi, apa rencana kita, Sasuke?"

"Kita harus berpura-pura untuk setuju, saat semua orang sudah merasa sedikit aman, kita akan mencari peluang untuk kabur."

"Dan peluang itu adalah?"

"Pesta dansa yang akan diadakan tiga hari lagi untuk mengumumkan pertunangan kita."

Aku mengangguk lagi. "Pada saat itu akan ada banyak tamu yang datang?"

"Semua tamu penting dari penjuru kerajaan di Jifycia, Sakura."

Aku menelan ludah sebentar. "Sasuke, jika kita kabur pada saat itu, itu akan jadi sangat heboh." Aku meringis sambil menggosok tanganku dengan gelisah.

"Ya, aku tahu, tapi itu ada kelebihannya, kita bisa mencari tahu orang penting mana yang bisa mendukung kita." Sasuke berjalan ke deretan kursi empuk di depan perapian dan menepuk tempat di sampingnya agar aku duduk.

"Sebenarnya kenapa klan Uchiha begitu ingin aku—maksudku kita menikah?"Aku duduk di samping Sasuke dan meremas tanganku lagi dengan gelisah.

"Karena mereka ingin kemampuanmu, Sakura, juga banyak kerajaan lain yang menginginkannya."

"Kemampuan?'

"Ya, sebagai kerajaan besar yang memerintah dengan tangan besi, Kakekku, punya banyak musuh. Dan kau bisa membuat mantera untuk mengendalikan seorang Uchiha."

Sampai di sini, aku terdiam membeku. "Sasuke," kataku, suaraku berubah serak. "Kau sadar akan, kau tahu, kutukan di antara kita?"

Sasuke hanya memandangku lagi, seakan tanpa ragu-ragu dia menjawab. "Tentu saja, Sakura."

Perasaan dingin di dadaku merambat ke perutku. "Kau sama sekali tidak keberatan? Maksudku kau harus menyelamatkanku dan melindungiku—yang menurut cerita adalah musuh bebuyutan klanmu, kau harus berkorban banyak hal, terluka—dan…dan kau harus meninggalkan keluargamu."

Aku mencari-cari jika ada rasa sakit dan penyesalan di mata Sasuke tapi tidak menemukannya sama sekali.

"Aku tidak mengerti atas pertanyaanmu, Sakura."

Tiba-tiba mataku terasa panas.

"Prioritas utamaku hanya melindungimu."

Aku harus meremas tanganku semakin keras untuk menahan tangis. Aku melihat wajah tanpa emosi Sasuke—kosong.

Mantera kutukan itu benar-benar mengerikan, seakan kutukan itu mematikan semua kalkulasi logis atas keputusan dan perasaan Sasuke. Yang ada pada akhirnya adalah dia harus melindungiku. Seakan rasa sakit, pengorbanan, bahkan rasa kesepian karena meninggalkan keluarganya hanya lah masalah sepele yang tidak harus diperhitungan.

Seperti boneka rupawan yang dingin dan mematikan.

"Sakura?"

"Ah, iya, maafkan aku. Tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana kutukan itu bisa terbentuk."

"Ya, tapi klanku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun."

"Jadi apa yang harus kulakukan, Sasuke?"

Sasuke terdiam sebentar.

"Yang terpenting adalah sikapmu di depan mereka. Saat makan malam nanti adalah saat yang paling penting untuk membentuk kepribadianmu di depan mereka. Kau harus menunjukkan kalau kau takut pada mereka. Dan melihat dari sikapmu, kau bukan orang yang suka diatur-atur."

Aku hanya melempar pandangan meminta maaf sambil meringis. Temperamenku kadang memang bisa meledak-ledak.

"Tunjukkan kalau kau bukan orang yang suka memberontak. Mereka belum pernah bertemu denganmu, jadi sebagaimana pun kau berpura-pura, mereka akan lebih mudah untuk mempercayainya."

Aku mengangguk lagi. "Oke, aku akan jadi gadis yang patuh dan sopan. Aku hanya akan berbicara kalau ditanya."

"Ada satu masalah, gadis normal mana yang akan patuh jika tiba-tiba diajak menikah?" Sasuke berkata sambil mengangkat satu alis hitam sempurnanya.

"Ya kau benar,Sasuke," kataku mendesah," kepribadian seperti apa yang akan cocok dengan keputusan seperti itu?" Aku berpikir sebentar. "Kecuali kalau aku telah jatuh cinta padamu dan aku tidak tahu tentang semua konspirasi ini. Aku yakin mereka sudah mengumpulkan beberapa informasi tentangku, Sasuke."

Sasuke terdiam, menungguku untuk melanjutkan.

"Aku punya latar belakang yang buruk di kehidupan lamaku—aku disiksa secara fisik oleh paman dan bibiku, dan kau datang sebagai penyelamat." Tidak terlalu berbeda dari kenyataan yang asli, aku menambahkan dalam hati.

"Cukup meyakinkan," sahut Sasuke.

"Yang terpenting adalah bagaimana cara aku menunjukkan pada keluargamu, Sasuke."

"Kau yakin bisa melakukannya, Sakura?'

Aku menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan. "Ya, kurasa aku bisa, Sasuke."

Sasuke bangkit dari tempat duduknya memandang ke arah jendela. Cahaya sore mulai redup digantikan dengan bayangan hitam yang merambat di ruangan ini. Tiba-tiba pendar-pendar cahaya berkilau mulai muncul pada setiap lampu di dinding dan di lampu kristal di atas ruangan ini. Cahayanya membuat hiasan seperti daun dan kristal kehijauan di rambutku berkilau indah.

Suara kepakan sayap burung terdengar mendekati jendela. Sebuah elang besar bertengger dengan anggun di depan jendela.

Sasuke menghampiri jendela, membukanya dan mengelus kepala elang besar itu.

"Kau rupanya punya banyak binatang peliharaan, Sasuke."

Sasuke hanya tersenyum tipis. Ia meraih sebuah tabung kecil yang diikatkan pada kaki elang itu. Membuka tabung kecil itu dan mengeluarkan sebuah kertas kecil.

"Kita sudah mendapatkan bantuan untuk keluar dari kastil ini."

"Dari siapa?"

"Dari Kakashi-sensei."

.

.

.

Nah, sekarang pakailah topeng itu sayang

Karena semua orang sudah memakai topeng juga

.

.

Aku berjalan di lorong panjang lagi tapi kali ini Sasuke yang berada di sampingku. Aku menggandeng lengannya, itu instruksinya tadi dan berusaha berjalan seanggun mungkin. Setelah melewati sebuah ruangan besar kami sampai pada sebuah pintu raksasa yang dijaga dua pelayan.

"Sasuke-sama," kata mereka berdua, menunduk.

Sasuke hanya mengangguk.

Mereka bersama-sama membuka pintu besar di depan kami. Samar-samar aku mendengar Sasuke berbisik, "tenangkan dirimu, Sakura."

Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan.

Dan pintu kayu berukir di depan kami terbuka lebar.

Ruangan ini seperti hall besar dengan pilar-pilar putih menjulang dan langit-langi bergaya arsitektur gothic. Langit-langitnya dihiasi ukiran-ukiran dan kaca patri berwarna-warni.

Lampu-lampu kristal berpola rumit menggantung dengan indahnya. Gelas-gelas kaca dan peralatan makan yang terbuat dari perak berkilau menampilkan kesan anggun dan mahal.

Aku susah payah menelan ludah. Ada tiga meja besar di ruangan ini. Dua berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk dan satunya berada di ujung ruangan.

Suara-suara percakapan segera menghilang digantikan kesunyian ketika aku dan Sasuke berjalan masuk. Mereka semua memiliki rambut hitam dan mata hitam seperti Sasuke. Aku berusaha tidak mengacuhkan ekspresi orang-orang di sekelilingku dan memandang lurus ke depan. Sasuke dengan tenang menuntunku menuju ke meja besar di ujung ruangan ini.

Orang-orang yang duduk di ujung ruangan memakai pakaian lebih indah dan kelihatan lebih angkuh dari pada yang lainnya. Bertemu orang-orang seperti ini benar-benar membuatku merasa rendah diri.

Tiba-tiba seseorang yang duduk di ujung sebelah kanan berdiri. Ia memakai pakaian yang hampir sama dengan Sasuke tapi sebuah mantel merah dibordir dengan gambar naga dan ular membungkus tubuhnya.

"Halo, Sasuke, akhirnya kau pulang juga." Ia memiliki rambut hitam panjang yang menutupi mata kanannya. Ia bertubuh tegap dan dari caranya memandang Sasuke lalu berpindah padaku, aku bisa melihat binar kejam penuh kalkulasi bahkan ketika ia tersenyum padaku.

"Dan kau pasti Sakura, Sakura Haruno."

Semuanya terdiam. Aku merasa tidak nyaman dari caranya menyebut namaku.

"Senang bertemu dengan Anda—"

"Madara Uchiha," sahutnya dengan suara dalam tapi juga keras—tanpa kelembutan sama sekali.

Aku kelu ketika berusaha mengucapkan nama itu. Aku membungkuk dan sedikit mengangkat gaunku. "Senang bertemu dengan Anda, Sir." Aku membuat suaraku sehalus dan selembut mungkin. Ada gunanya aku telah membaca kisah-kisah di bukuku, setidaknya aku tidak terlalu bodoh dengan tata krama di negeri Jifycia ini.

Aku berusaha memasang wajah datar dengan sedikit sentuhan perasaan gugup dan malu-malu. Sekarang aku harus bisa menjadi aktris yang baik.

Dia masih memandang dengan matanya yang tajam menusuk sebelum akhirnya duduk kembali. Ia mempersilahkan aku dan Sasuke untuk duduk.

Sasuke meraih tanganku dan menggeser sebuah kursi kosong yang lumayan dekat dengan ujung di mana Madara Uchiha duduk dan Sasuke meraih tanganku untuk segera duduk. Aku duduk dengan tenang—tapi masih berusaha terlihat gugup—itu tidak susah karena detak jantungku sendiri sudah bertalu-talu di telingaku. Sasuke akhirnya duduk juga di sebelahku.

Ada dua orang yang kukenali—duduk tepat di seberangku. Dua laki-laki yang aku lihat di pelataran kastil sebelumnya. Mereka juga memandang dengan mata tajam tanpa emosi.

Suara Madara yang dalam dan dingin terdengar lagi. "Nah, Fugaku, kurasa kau sudah bisa bertemu dengan calon menantumu. Sakura Haruno." Ada nada sadis pada kalimat yang diucapkan oleh Madara Uchiha pada laki-lagi di seberang meja.

Orang bernama Fugaku hanya mengangguk kaku. Tapi matanya berubah keras dan tangannya mengepal sampai terlihat putih.

"Akan kuperkenalkan orang-orang yang akan menjadi keluarga barumu di masa yang akan datang, Nona Haruno. Fugaku Uchiha adalah anakku, dan Itachi Uchiha adalah cucu pertamaku, dan Mikoto Uchiha adalah ibu Sasuke."

Aku memandang satu-persatu orang-orang tersebut. Mereka sama sekali tidak berusaha tersenyum atau menunjukkan sikap ramah. Tapi orang yang terakhir membuat perutku bergolak tak keruan. Seorang wanita setengah baya yang cantik dengan wajah lembut keibuan. Tapi matanya menyorotkan kebencian dan penderitaan ketika memandangku. Yang lain memilih untuk memakai pakaian yang cukup cerah sedangkan Mikoto Uchiha memakai gaun polos berwarna hitam seakan dia sedang berkabung. Sudah jelas dia membenciku dan tidak berusaha untuk menutupinya. Aku menarik napas lagi. Dia memandangku seakan aku ini penyihir jahat yang hanya membawa penderitaan pada putra bungusunya. Well, itu tidak terlalu salah.

Tapi diriku yang lain, seorang gadis remaja biasa, merasa tidak terima karena aku sama sekali tidak pernah di dalam kehidupanku berusaha untuk sengaja melukai Sasuke sampai aku layak mendapat pandangan seperti itu.

Tiba-tiba Mikoto Uchiha berdiri. Suaranya dingin dan tenang. "Maafkan saya, tapi kurasa saya tidak enak badan, saya mohon untuk semuanya makan tanpa saya."

Hening.

"Sayang sekali, Mikoto. Baiklah, kau boleh pergi." Madara Uchiha berkata dengan suara berat. Ibu Sasuke mengangguk dan beranjak pergi dengan anggun dan lembut. Dia tampak seperti induk angsa yang menawan tapi sedang terluka.

"Maafkan kami, Nona Haruno, suasana jadi tidak mengenakkan, mari kita makan."

Dengan kaku aku mengangguk dan tersenyum tipis. Aku bisa melihat buku-buku jari Sasuke yang memutih ketika memegang sendok serta garpu dengan sangat erat.

Semua orang di meja ini dan dua di meja yang lain mulai makan. Mereka makan dengan sangat anggun dan dingin tanpa ekspresi walaupun makanan yang tersedia sungguh sangat luar biasa. Aku berusaha menyamai kecepatan dan cara mereka makan. Aku makan dengan perlahan dan sebisa mungkin tidak bertemu pandang dengan siapa pun. Gelas-gelas kaca cantik di depanku terlihat lebih menarik.

Setelah menu utama selesai, datanglah hidangan penutup; kue-kue, krim, puding dan agar-agar, sari buah, dan anggur.

"Jadi, Nona Haruno," Madara Uchiha berkata lagi sambil menyesap anggur dari gelas.

Aku tidak suka dengan caranya menyebut namaku.

"Apakah yang membuatmu setuju untuk pergi bersama Sasuke?"

Well, karena Sasuke membunuh keluargaku dan ada maniak gila yang berusaha memburuku. Plus, kau dan anak buahmu akan mencariku juga pada akhirnya.

"Sasuke, dia—awalnya saya tidak mau, tapi setelah melewati hal-hal gila—saya merasa tidak ada salahnya untuk ikut dengan Sasuke. Dia menyelamatkan saya beberapa kali."

Bukan kalimat pembukaan yang cukup bagus, Sakura. Aku menenangkan detak jantungku.

"Hanya itu?"

Aku mengangguk dengan gugup dan melirik Sasuke. Kurasa gerakan-gerakanku benar-benar diamati oleh Madara Uchiha. Sasuke merasakan pandanganku dan menoleh, ketika mata kami bertemu, aku membiarkan warna merah menyapu mukaku. Aku menundukkan muka dan bermain dengan gelas sari buah dengan gugup.

Ayolah, semoga ini terlihat meyakinkan.

"Ah, kelihatannya kau sudah cukup akrab dengan Sasuke, kukira kalian baru kenal sebentar."

Sial.

"Kami teman satu sekolah, dan—" aku memainkan gelas sari buah di depanku dengan lebih gugup.

"Dan—?"

"Dan saya sudah sering memperhatikannya sejak lama," bisa kurasakan warna merah semakin membara di pipiku," maksudku tidak banyak orang seperti Sasuke di sekolah."

Ini juga tidak terlalu melenceng dari kenyataan.

Madara Uchiha tersenyum kecil—terlihat seperti seringai—tapi dia memandangku dengan sedikit merendahkan dan aku tahu aku berhasil dalam permainan dramaku.

"Kundengar, kau punya paman dan bibi?"

"Ya—" aku memasang muka sedih," tapi mereka kurang bisa menjadi pengasuh yang baik." Sambil berkata begitu aku memasang wajah terluka. "Untung lah Sasuke datang, dia sudah melindungi saya berkali-kali." Aku dengan malu-malu melirik Sasuke, Sasuke yang sudah tahu ke arah mana permainan ini, meletakkan tangannya di atas tanganku.

Aku tersenyum senang seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tapi Sasuke masih meneruskan meminum anggur di gelasnya tanpa menunjukkan emosi. Kurasa tadi dia bisa merasakan tanganku yang berkeringat dan gemetaran.

"Hm, begitu," Madara Uchiha berkata sambil menghabiskan anggur di gelasnya. "Jadi, apakah kau sudah tahu—keadaanmu dan Sasuke?"

Pertanyaan yang sulit.

"Ya, dan sebenarnya sangat tidak adil, saya tidak memiliki ingatan sama sekali akan hal itu, tapi semua orang seakan membenci dan juga mengasihani saya dan Sasuke. Semoga ibu Sasuke tidak membenci saya selamanya." Aku memasang muka sedih lagi. Bersikap kecewa dan merasa sedih karena ibu dari orang yang kucintai menolakku.

Aku mulai bisa melihat kepribadian apa yang ingin kubentuk. Gadis cerdas tapi naif yang jatuh cinta setengah mati pada Sasuke.

"Kuharap pernikahan kalian bisa segera dilaksanakan." Dengan begitu Madara Uchiha mengumumkan bahwa makan malam selesai.

Anggota klan Uchiha dengan anggun dan angkuh keluar dan hall besar nan megah ini.

.

.

Setelah pintu kamarku ditutup di belakangku oleh Sasuke. Aku merasakan kakiku yang gemetaran tidak kuat lagi menyangga tubuhku dan aku ambruk di kursi panjang di samping meja rias. Aku meletakkan tangan kananku di dada—dan merasakan jantungku masih berdegup dengan keras.

Sasuke menghampiriku. "Kau tidak apa-apa, Sakura?"

"Ya, bagaimana aktingku tadi?" kataku berusaha mengatur napas.

"Kurasa kakekku percaya," sahut Sasuke. "Kau sebaiknya beristirahat, besok pagi kita harus mempersiapkan banyak hal. Kamarku ada di ujung lorong ini jika kau butuh sesuatu."

Dengan begitu Sasuke sudah akan beranjak pergi.

"Sasuke."

Sasuke berhenti berjalan tapi tidak berbalik.

"Aku—kuharap kau dan ibumu baik-baik saja."

"Selamat malam, Sakura."

Dan pintu kamarku sudah berdebam tertutup lagi.

Cahaya terang indah dari lampu di dinding tidak membuat suasana ruang tidur besar ini kelihatan lebih ceria. Aku memandangi desain indah tempat tidur dengan selimut halus bercorak bunga-bungaan.

Aku menghampiri jendela dan memandang ke luar. Kota-kota kecil di sebelah utara kastil ini hidup dengan lampu-lampunya yang gemerlapan. Samar-samar kulihat bayangan gelap pegunungan di ujung padang rumput.

Langit cerah. Bulan bersinar terang dengan serabut awan putih kelabu di sekitarnya.

Aku memandangi gaun putih polos yang disiapkan Hana sebagai pakaian tidurku. Dengan enggan aku berganti pakaian—merasa sedikit kesusahan melepas gaun hijau di tubuhku dan lebih kesusahan lagi mengambil semua hiasan di rambutku.

Harusnya tadi aku tidak usah berpesan untuk ditinggal sendirian setelah makan malam pada Hana. Setelah mencuci muka aku memandang ke segala arah di kamar tidur besar ini.

Asing.

Aku mencoba berbaring tapi kasur dan selimutnya terlalu empuk dan halus—membuatku teringat kamarku di loteng rumah dengan kasurnya yang keras—suara cempreng Bibi Keiko dan Paman Ben yang menyuruhku memasak dan bersih-bersih setiap pagi. Sekarang mereka sudah tiada.

Aku duduk di depan jendela memandangi langit cukup lama.

Aku mendesah lagi. Kurasa aku homesick.

Ah, ayolah, kalau begini terus aku bisa berakhir depresi. Tiba-tiba aku merasa sendirian, sangat sendirian dan perasaan ini mencekikku membuatku sulit bernapas.

Semua orang di kastil ini membenciku, Sasuke juga seandainya tidak ada kutukan di antara kami. Aku menggosok-gosokkan tanganku di lengan. Udara sudah mulai terasa dingin.

Bunga-bunga mawar warna putih dan tulip warna merah yang berjajar rapi di beranda tertunduk-tunduk terkena angin malam. Kurasa saat ini sedang musim panas di sini.

Entah sudah berapa jam berlalu, tapi bulan sudah naik di cakrawala dan aku belum bisa tidur.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjelajah sebentar dan mungkin ke kamar Sasuke sebentar. Aku memakai selop dan menggelung rambutku ke atas.

Entah kenapa melihat Sasuke mungkin bisa memberiku ketenangan—satu-satunya hal yang familier bagiku di tempat serba asing ini.

Aku membuka pintu kamarku perlahan dan memandang lorong panjang di depanku. Ada dua cabang di ujungnya. Ke kanan berarti ke kantor dan ruang tidur Sasuke.

Gorden warna biru dan putih menutupi jendela-jendela besar di sebelah kiri lorong.

Sunyi. Aku tidak mendengar satu orang pun.

Akhirnya aku berjalan pelan. Rasa dingin merambati kakiku. Hanya ada lampu redup kecil sepanjang lorong ini. Patung-patung yang tadi siang kelihatan menawan sekarang tampak seperti bayangan orang mati beku yang menakutkan.

Aku berbelok ke arah kiri dan berbelok lagi sampai aku sampai di ruangan besar dengan rak buku tinggi menghiasi dindingnya. Kelihatanya seperti ruang baca. Ada perapian dan ada kursi-kursi empuk indah dipelitur dan berukir. Meja serta vas-vas serta ornamen-ornamen kristal indah berjajar rapi.

Aku memandang sekeliling dan bergidik ngeri ketika melihat sebuah lukisan cukup besar menggantung di atas kursi-kursi empuk itu. Seorang wanita yang duduk dengan sangat anggun, dengan gaun merah indah dirbordir dengan corak ke-emasan. Rambut merah jambunya jatuh tergerai. Bibir merah ranumnya tersenyum dan pipinya tersapu warna merah juga. Tapi matanya—mungkin karena kurangnya cahaya, tapi ada kilat dingin dan kejam pada mata itu.

Aku seperti melihat versi diriku lebih dewasa, lebih cantik, anggun, dan angkuh.

Perutku bergolak—seakan mata itu memandangku dengan tajam dan memerangkapku dengan pandangan dingin dan menawannya.

Aku segera membuang muka.

Sunyi lagi. Aku memicingkan mata lagi untuk memandang ke sekitar. Aku baru menyadari penglihatan dan pendengaranku menjadi lebih tajam sekarang.

Aku menemukan pintu lain yang sedikit terbuka. Aku mengikutinya dan menemukan lorong lain. Kali ini lukisan-lukisan di dindingya berisi gambar Sasuke.

Aku hanya bisa tertegun. Aku memandangi Sasuke versi kecil dan harus mengakui dia kelihatan sangat lucu dan menawan. Ia memiliki bola mata kekanakan yang ceria dan wajah lucu yang tersenyum di pangkuan ibunya. Rambutnya masih berbentuk sama tapi pipi porselennya menggembung dihiasi senyum lebar ketika ia dilukis di ruang mainan dengan kakaknya Itachi Uchiha. Lukisan yang lain, Sasuke yang berumur sekitar sepuluh tahun tertawa lebar ketika ia dilukis sedang naik kuda poni coklat yang dituntun ayahnya.

Tetapi Sasuke umur dua belas tahun kelihatan sangat berbeda. Dia masih kelihatan muda tapi ekspresinya berubah dingin—hilang rona ceria di pipinya.

Apa yang terjadi Sasuke?

Lukisan lain tidak ada yang menggambarkan Sasuke yang lebih dewasa dari itu. Seakan keluarganya berhenti melukisnya dengan sengaja.

Ujung lorong ini bercabang dua dan aku mengambil arah kiri. Saat itu aku samar-samar mendengar suara-suara. Siapa yang bangun malam-malam begini?

Aku menutupi aliran ficels-ku dan dengan berjingkat-jingkat mengikuti arah suara itu. Setelah berhati-hati merambat di dinding dingin, aku sampai pada suatu tempat yang tampak seperti dapur. Ada sebuah pintu terbuka di ujungnya. Aku mengendap-endap mendekat.

Ada tangga berputar turun yang dindingnya terbuat dari batu-batu besar dan kokoh. Suara itu samar-samar terdengar. Aku mulai berjalan turun dengan perlahan. Siapa mereka?

Rasa penasaranku mengalahkan kekhawatiranku untuk ketahuan. Dan Kakashi-sensei bilang aku harus bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.

Tangga berputar ini hanya diterangi beberapa obor. Dan aku harus berhati-hati untuk tidak terjatuh atau menimbulkan suara.

Aku akhirnya sampai di sebuah rungan besar dengan ruangan-ruangan kecil yang ditutup dengan jeruji besi. Kau bercanda kan? Ini seperti penjara.

Suara itu terdengar jelas sekarang. Suara seorang wanita menangis.

Perasaan mual bergolak di perutku. Lalu terdengar suara gemerincing —seperti suara rantai. Dan suara-suara yang lainnya yang tidak aku kenali. Tangisan itu semakin keras.

Dengan kaki gemetar aku berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu terbuka di ujung dengan cahaya obor dan bayangan orang yang bergerak-gerak. Sel-sel ini kelihatan tua. Ada rantai terpasang di dinding-dindingnya. Ada beberapa peralatan aneh yang tergantung di dinding, aku bersumpah bisa melihat kapak dan paku mencuat di peralatan itu.

"Hentikan! Kumohon, oh Sasuke!" suara seorang wanita menjerit parau.

Aku membeku dengan rasa dingin yang amat sangat. Mataku melebar setelah menyadari suara apa itu. Suara cambuk yang berkali-kali diayunkan. Suara erangan seseorang.

Tidak mungkin!

Dengan mata nanar dan tubuh gemetaran aku mengintip ke dalam.

"Sasuke, jawab aku, apa yang kau rencanakan?!" suara Madara Uchiha yang menggelegar terdengar.

Cambukan itu datang beruntun. Aku harus menggigit telapak tanganku agar tidak berteriak. Saat itu aku melihat Sasuke dirantai di dinding. Kedua tangannya dirantai ke atas sehingga tubuhnya yang terkulai dipaksa untuk tetap berdiri. Cambukan-cambukan itu meninggalkan bekas mengerikan, aku bisa melihat darah mengalir di luka panjang menganga di seluruh tubuh Sasuke, di wajahnya, di tangan, di dada dan seluruh tubuhnya. Aku bisa melihat Mikoto Uchiha bersimpuh di lantai dengan air mata mengalir deras. Fugaku Uchiha hanya berdiri di samping istrinya memandang lurus tanpa emosi.

"Jawab aku!?"

Bibir pucat Sasuke bergerak, darah mengalir di pipinya yang pucat. "Tidak ada."

" Kau berbohong!" Cambukan itu datang bertubi-tubi. Aku baru sekarang melihat Sasuke mengerang kesakitan dan gemetaran.

"Hentikan, dia sudah bilang, dia tidak merencanakan apa pun!" Mikoto Uchiha berteriak lagi. Wajahnya menunjukkan penderitaan luar biasa.

"Dia bisa saja berbohong!" Madara Uchiha menjawab sambil mengayunkan cambuknya lagi. Darah Sasuke menetes-netes di lantai.

"Kita sudah berjam-jam melakukan ini!" Mikoto Uchiha membalas sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah. "Dia sudah bilang dia tidak punya rencana apa pun!"

Aku merasa mual, seluruh tubuhku dingin.

Ini gila! Sasuke! Sasuke!

Air mata merebak menyakitkan di mataku. Aku sudah akan berteriak masuk untuk menghentikan semua ini ketika sebuah tangan membekap mulutku dan menyeretku mundur.

Aku meronta sekuat tenaga sampai aku melihat siapa yang menyeretku sampai ke tangga.

"Itachi Uchiha," bisikku serak dengan air mata mengalir di pipi. Dan di depanku berdiri Itachi Uchiha dengan mata hitam kosongnya. Dia menarik tubuhku untuk menuju tangga ke luar.

Aku meronta lagi berusaha melepaskan diri.

"Jangan bertindak bodoh, jika kau ketahuan, kau akan bernasib sama dengan Sasuke."

Aku memandang dengan marah ke arahnya. "Dia adikmu, yang sekarang disiksa secara tidak manusiawi," desisku.

Itachi masih memandangku tanpa emosi. "Demi kebaikanmu, Nona Haruno, sebaiknya kau kembali ke kamarmu."

Dia menyipitkan matanya karena melihat ekspresi marah di wajahku. Dia mendekat dan dengan dingin mencengkeram kedua pipiku dengan tangan kanannya sehingga mata kami bertemu lurus.

"Dengar, kau kira kau bisa apa ketika kau masuk nanti—kau hanya akan membuat hukuman untuk Sasuke lebih berat."

Air mata mengalir lagi di pipiku. Dia benar.

"Sekarang, kembali ke kamarmu." Suara dalam dan dingin Itachi seperti kenyataan hitam yang menamparku sehingga membuatku tidak bisa bernapas.

Dengan terhuyung aku menaiki tangga dan berjalan di lorong gelap dan dingin sampai ke kamarku yang terlalu luas dan kosong.

Aku menjatuhkan diri di tempat tidur dan terus menangis dan menangis sampai aku jatuh tertidur. Rasanya seperti ada gumpalan hitam berat di dada dan perutku.

Malam itu aku tidak tahu aku bermimpi apa. Yang kuingat hanya kegelapan dan darah Sasuke yang menetes di lantai.

.

.

.

Paginya Hana berteriak panik melihat mataku yang sembab dan bengkak merah.

"Astaga, Sakura, bagaimana ini?! Hari ini Anda harus melakukan pertemuan dengan beberapa orang penting dengan Sasuke-sama."

Aku hanya membalas dengan senyum lemah. "Maaf, Hana, aku membuatmu repot."

Hana menggeleng dengan sedih. "Ada apa, Sakura?"

Aku memandangi makanan dalam nampan di depanku dengan tidak berselera. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa rindu rumah."

Hana tersenyum sedih. "Bertahanlah, Sakura, tempat ini tidak terlalu buruk." Melihat wajahku yang masih tidak menunjukkan perubahan. "Aku punya ide, setelah pertemuan nanti, kau bisa meminta Sasuke mengajakmu jalan-jalan di kota untuk melihat pemandangan baru."

Sasuke.

"Sakura, Anda datang ke sini pasti punya tujuan bukan?"

Kalau aku tidak sedang merasa depresi, Hana menggunakan kata Anda tapi juga berusaha akrab dengan memanggilku Sakura pasti sudah kuanggap lucu.

Ya. Aku mencari jawaban atau setidaknya tujuan keberadaanku.

Aku tidak bisa seperti ini terus. Bahkan yang kualami tidak ada apa-apanya dengan yang dialami Sasuke. Aku tersenyum tulus pada Hana. "Terimakasih, Hana."

Hana membalas tersenyum juga dan segera memaksaku untuk menghabiskan makananku karena dia hanya punya waktu kurang dari dua jam untuk mendandaniku.

Hari ini aku menggunakan gaun simpel berwarna merah muda dengan pita di pinggangnya. Awalnya, Hana menganjurkan sebuah gaun elegan dan indah berwarna biru pekat tapi aku menolak, menginginkan warna yang lebih cerah. Akhirnya karena aku tidak bisa menata rambutku, aku meminta bantuan Hana untuk mengepang dan menyanggul rambutku tanpa hiasan apa pun.

Aku selesai memakai sepatu selopku ketika pintu terbuka dan Sasuke melangkah masuk.

Seperti biasanya aku menahan napas, tapi kali untuk alasan yang berbeda. Dengan liar aku mengamati seluruh tubuhnya. Kulit pualam pucatnya tak bercacat, tidak ada sama sekali sisa-sisa cambukan gila semalam. Sasuke memakai kemeja tanpa kerah lengan panjang warna cokelat muda dengan celana hitam, boots hitam dan sebuah mantel warna hitam juga.

Mukanya masih dingin tidak menunjukkan sama sekali apa yang terjadi semalam.

"Kau sudah siap, Sakura?" suara baritone miliknya menyapu pendengaranku.

"Oh, hai, Sasuke, selamat pagi. Ini hari yang cerah." Aku memberikan senyuman tercerah dan tertulus yang bisa kuberikan.

Sasuke terlihat sedikit kaget dengan perubahan sikapku. "Selamat pagi, Sakura."

Aku menoleh ke arah Hana. "Hana, terimakasih atas bantuanmu, kau boleh pergi," kataku sambil memberikan senyuman juga padanya.

"Tentu, Nona Sakura," katanya sambil mengedipkan mata. Rupanya dia hanya mau memanggilku Sakura kalau hanya ada kita berdua.

Setelah Hana keluar, Sasuke segera berbicara dengan serius. "Hari ini kita harus bertemu dengan beberapa anggota penting kerajaan." Ia memberikan isyarat untuk mengikutinya keluar.

"Tentu saja, Sasuke."

Sasuke berhenti berjalan dan memandangku dengan pandangan curiga. "Kau kelihatan bersemangat hari ini."

Aku mengangkut bahu. "Hanya perasaanmu saja."

Dan aku sudah menggandeng lengan Sasuke ketika seorang penjaga datang untuk mengantarkan kami ke kereta kuda di depan pelataran kastil.

Bunga sepatu dan daffodil di taman kastilterlihat menawan terkena embun dan sinar matahari pagi.

.

.

Hey, honey, let's dance till our feet bleed and we die

Hai, semuanya. Ini sudah hampir setahun sejak saya update ya *sigh* Akhirnya saya bisa mem-publish chapter 10. Hahahaha. Semoga semua bisa menikmati.

Kalau ada yang bertanya-tanya kenapa Sasuke-Sakura-nya mengalami perubahan, saya mau membuat hubungan mereka lebih kompleks. Yang masih berusaha saya fokuskan adalah perkembangan karakter Sakura sih. Kalau dia masih terus cakar-cakaran dengan Sasuke, bisa pusing nanti penulis fic ini. Hohoho.

Betewe, setelah lama tidak menulis, saya kangen menulis fic sebenarnya, but college has been crazy. OTL. Ah, semoga dear readers menyukai chapter ini.

Oh dan saya sudah membaca Naruto Gaiden sampai selesai. Dan Whattt? Kishi benar-benar ekstrim ketika membuat kisah keluarga Uchiha. Tapi untunglah berakhir bahagia untuk Sarada-chan. Enihow, Sakura di Naruto Gaiden sabar banget *sigh* siapa yang tahan punya suami seperti Sasuke. *ngelus dada* Sasuke, untung elu cakep. Walaupun kemampuan menunjukkan emosi dan pedulimu hampir mendekati nol. Maaf malah nge-rambling nggak jelas. ;)

Okee, deeh, semuanya, sampai bertemu di chapter selanjutnya, kelihatannya semester depan saya lebih selo. Hohoho. Bisa bergulat dengan hobi menulis lagi. Please, God. Give me the strenght *halah*

At last, enjoy, my dear friends and do not forget to review :Db

Sincerely

Alicera