Hatsukoi/First Love

By: Yuuki Reiyan

Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei

Rate: Mature

Pairing: SasuNaru

Warning: OOC, Yaoi, no lemon/lime, Typo (A Lot), Bad language

Reply Reviews

Habibah794: Yupz, ini perpisahan di chapter ini, siapin tissue ya :D

michhazz: Yupz, perpisahannya di chapter ini :D

kuro SNL: SasuNaru pisah buat di chapter ini :D

arashilovesn: Hahaha nanti bakal berhasil kok ramuannya, tapi bukan sekarang :D

Guest: Yupz ini sudah di lanjut :D

RnR Please, Don't Like Don't Read

Review Again Please

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

.

Hari itu akhirnya datang, hari di mana kita akan berpisah untuk waktu yang lama. Di bandara inilah kita terakhir bertemu dengan perjanjian yang disaksikan semuanya, aku mencintaimu . . .

.

.

.

"Mou Sasuke, kita mau ke mana? Kau membangunkanku pagi sekali, aku masih mengantuk…" kata Naruto dengan malas. "Kau lupa? Kita punya kencan seharian penuh hari ini, kau ingat?" kata Sasuke dengan semangat menarik Naruto. "Saa, mari kita lihat, kita akan ke mana terlebih dahulu" gumam Sasuke dengan senyuman yang sangat jarang dia tunjukan kepada siapa pun kecuali hari ini, senyuman itu menghiasi harinya hari ini. Naruto hanya tersenyum tipis melihat kekasihnya, meski hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan tapi hari ini akan menjadi hari yang menyedihkan, besok . . .

.

.

.

.

.

"Mari kita keliling distrik penjualan ini" kata Sasuke dengan smirk di wajahnya. "Kau yakin Sasuke? Tempat ini, kau tahu kan bagaikan setiap hari festival diadakan di sini" kata Naruto menatap horror distrik yang di depan matanya. Distrik yang sangat ramai, padahal hari masih pagi, distrik ini sudah penuh dengan orang-orang yang melakukan kegiatan paginya. Apa Sasuke yakin, di sini mereka menikmati kencan pagi hari mereka? "Hn, iku so" kata Sasuke dan menarik Naruto menuju salah satu toko terdekat dan melihat-lihat.

Diantara kesibukan orang lain yang bekerja, berjual-beli, mereka menikmati kencan mereka yang hiruk pikuk di distrik ini, sungguh terasa menyenangkan meski aneh jika dilihat. Tapi di sinilah letak kesenangan tersebut, bukan di mana kita habiskan waktu tapi bersama siapa kita menghabiskan waktu. Meski tempatnya seperti ini, ini menjadi sesuatu yang baru dan menyenangkan bagi mereka berdua. Melihat toko-toko yang buka, membeli beberapa kue dan mencoba beberapa aksesoris, membuat mereka menikmati setiap detik yang dilalui.

.

.

.

"Habis ini kau mau ke mana lagi Naruto?" kata Sasuke. Kini mereka sedang menikmati sarapan pagi di salah satu café. "Hmm… Ke mana ya? Aku ingin ke bioskop mungkin, ada film yang ingin tonton" kata Naruto sambil menikmati sarapannya dengan lahap. "Baiklah, ayo, bioskop kan tidak jauh dari sini" kata Sasuke sambil bersiap-siap. "Huft, Sasuke aku kan sedang sarapan, kau tega meninggalkanku?" kata Naruto sambil pout. "Hehehe gomenasai, aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya mau membayar sarapan ini" kata Sasuke sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut pirang Naruto.

.

Lampu bioskop telah menyala lagi, beberapa orang beranjak dari kursi mereka. Naruto dan Sasuke masih duduk di kursi mereka. "Waaa, filmnya mengharukan sekali, cerita cinta segitiga antara Pein, Konan dan Nagato, huaa aku ingin menangis lagi" kata Naruto sambil mengelap air mata yang mengalir dari matanya. Sasuke lumayan terkejut melihat sisi Naruto yang satu ini, ternyata Naruto orangnya mudah terharu, ditengah-tengah film yang diputar, yang menurut Sasuke adegannya berlebihan tapi itu mengharukan untuk Naruto. "Kau ini, harusnya tidak menontonnya" kata Sasuke. "Huft, film seperti itu bagus tahu, aku sangat menyukainya" balas Naruto. "Hn, ayo kita lanjutkan kencan kita, kali ini aku yang akan memilih tempat"kata Sasuke. "Matte!" kata Naruto sambil menarik lengan Sasuke. "Ada sesuatu yang aku ingin sampaikan" kata Naruto sambil tertunduk. Sasuke hanya kebingungan melihat Naruto. "Ano nee, aku punya impian suatu hari nanti aku bisa menjadi seorang aktor, kira-kira apa bisa aku menggapai impian itu?" kata Naruto. "Hn? Ternyata seorang yang pintar sepertimu mau menjadi aktor, hebat sekali, aku, aku akan mendukung semua impianmu Naruto, aku akan membantumu mewujudkan mimpi suatu hari nanti" kata sasuke sambil mengelus rambut Naruto. "Benarkah?" kata Naruto senang. "Hn, jika di film tadi, Konan meninggalkan Pein dengan ekspresi menangis dan berjalan pergi sambil menatap langit dan tersenyum, menunjukan keputus asaan, bagaimana dengan aktingmu?" tantang Sasuke. "Aku? Aku mungkin akan tersenyum dengan mantap dan berjalan pergi sambil menangis menyesali semuanya" kata Naruto sambil berpikir. "Kenapa tersenyum?" bingung Sasuke. "Etto, aku hanya ingin menunjukan ekspresi terbaikku kepadanya, mengingat pernah memiliki hubungan dengannya, aku ingin dia mengingatku dengan senyuman juga" jelas Naruto. "Kau ini, aku semakin menyukaimu Naruto, aishiteru yo" kata sasuke sambil mencuri mencium bibir Naruto.

.

.

.

.

.

"Sasuke, hazukashi yo" kata Naruto sambil bersembunyi di balik tirai tempat ganti pakaian. Kini mereka sedang di salah satu toko pakaian. Sasuke berdiri di salah satu bilik ganti dan Naruto bersembunyi di balik tirai bilik. "Keluarlah Naruto, aku sangat ingin melihatmu memakai pakaian itu" kata sasuke menyemangati kekasihnya untuk keluar dan menunjukan pakaian yang kini ia kenakan. "Jangan tertawa ya" kata Naruto malu dan membuka tirai, menunjukan pakaian rusa yang sangat lucu, dengan tanduk rusa dan beberapa pita yang menghiasi. "Kau sangat imut sekali Naruto" komen Sasuke sambil memotret Naruto yang memakai pakaian rusa. "Sasuke!" seru Naruto malu. "My cutest deer..." gumam Sasuke sambil melihat hasil potretannya. Blush! Naruto mendengar gumaman itu dan ber-blusing ria. "Se-sekarang giliranmu Sasuke..." kata Naruto sambil merebut kamera Sasuke. "Hn" jawab Sasuke sambil masuk ke dalam bilik dan mengganti pakaiannya. Tak lama Sasuke muncul dengan kostum seperti vampire dengan sangat keren dia memainkan jubah di belakangnya. Naruto menelan ludahnya melihat betapa menakjubkannya Sasuke. Sasuke mendekati Naruto dan meniup telinga sampai leher Naruto yang membuatnya merinding. "Mou Sasuke, yamette!" kata Naruto malu, betapa mesranya Sasuke mengingat mrereka masih di tempat publik. "Hn" hanya dua huruf itu yang Sasuke katakan sambil mengangkat bahu.

.

.

.

Kini mereka duduk berduaan menikmati sore hari di atas bukit belakang sekolah di bawah pohon sakura yang besar belum mekar. "Ano nee Sasuke, aku lelah untuk hari ini, hari ini terasa sangat menyenangkan, terima kasih telah mewarnai hari terakhirku di kota ini..." gumam Naruto yang berbaring di pangkuan Sasuke. "Bicara apa kau ini, kau akan selalu berada di sini kok, di hatiku, kau tidak akan ke mana pun Naruto" jawab Sasuke sambil mengelus rambut Naruto dengan penuh rasa kasih. "Aku ingin membuat sebuah perjanjian denganmu Sasuke..." gumam Naruto. "Hn?" bingung Sasuke. Naruto bangun dari pangkuan duduk Sasuke, dia menatap lekat mata Sasuke. "Aku Naruto Namikaze, bersumpah akan mencintai dan menerima Sasuke Uchiha sebagai pendamping hidupku dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan kita..." kata Naruto tanpa ada keraguan di matanya. "Aku Sasuke Uchiha, bersumpah akan mencintai dan menerima Naruto Namikaze sebagai pendamping hidupku dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan kita" jawab Sasuke sambil mendekati Naruto dan membawanya ke dalam suatu ciuman, tanda suci perjanjian hidup mereka. Air mata mengalir dari mata sapphire Naruto. Sasuke pun melepaskan ciumannya. "Tidak, kau jangan menangis, ini bukanlah puncak dari hari ini Naruto, semuanya telah menunggu kita" jawab Sasuke sambil tersenyum. "Semuanya?" ulang Naruto di antara kebingungan. Sebelum Sasuke beranjak pergi bersama Naruto melanjutkan kencan terakhir mereka, dia menggunakan batu runcing, mengukir nama mereka berdua di pohon sakura dia atas bukit sekolah itu. "Aku akan menunggumu kembali di tempat ini Naruto" kata Sasuke. "Aku berjanji aku akan kembali Sasuke!" kata Naruto terharu dan memeluk Sasuke dengan erat tanpa mau melepaskannya sampai kapan pun.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini di mana Sasuke gelap sekali?" kata Naruto terheran-heran. Tak lama lampu pun dinyalakan. Kini Naruto dan Sasuke berdiri di aula sekolah, terlihat di atas panggung berdiri Kakashi-sensei dengan sebuah podium di depannya. Di kursi sebelah kanan terisi teman-teman sekelas Naruto dan di sebelah kiri keluarganya berada. Tak lupa di atas panggung tertulis 'Acara Kelulusan Angkatan XIX'. Naruto menutup mulutnya, tidak tahu harus berkata apa lagi, ini acara perpisahan untuk dirinya bersamaan dengan acara kelulusan teman-temannya, jadi inilah yang dimaksud Sasuke sebagai puncak dari hari ini bersama semuanya. "Arigatou minna, hontou ni arigatou!" seru Naruto sambil menangis sejadi-jadinya. "Apa kau yakin akan seperti itu untuk di foto nanti?" kata Gaara yang datang menghampiri Naruto. "Segera hapus air mata mu Naruto, kau tahu ini bukanlah akhir dari segalanya" kata Neji. "Gaara... Neji..." gumam Naruto dan menghapus air matanya. "Iya!" jawab Naruto sambil tersenyum dan berjalan ke arah kursinya. Sempat di lihatnya orang tuanya duduk di kursi yang lain bersama orang tua Sasuke. "Hari ini, kita berada di sini untuk acara kelulusan angkatan ke sembilan belas, mari semuanya berdiri dan menyanyikan lagu sekolah kita" kata Kakashi memimpin acara. Semuanya pun berdiri dan menyanyikan lagu sekolah mereka, semuanya menyanyikan dari hati yang paling dalam. Setelah selesai semuanya kembali duduk. "Mari kita dengarkan kata-kata singkat yang akan di sampaikan oleh wakil dari lulusan, Sabaku no Gaara" kata Kakashi. "Ha'i!" jawab Gaara dan maju ke atas panggung dan berdiri di belakang podium. "Terima kasih telah memilih saya sebagai wakil dari kelulusan, saya dapat berdiri di sini berkat dukungan dari semuanya, terima kasih keluargaku, guru-guruku, teman-teman dan orang yang saya cintai, saya bersyukur bisa melewati tiga tahun bersama dengan kalian melewati semuanya, sekarang kita akan menuju masa yang lebih dari ini lagi, kita akan menjadi murid SMA dan menjalankan masa depan kita masing-masing, aku mencintai kalian semua!" kata Gaara dengan mata yang mulai memerah, dengan cepat dia turun dari panggung dan kembali ke kursinya. "Baiklah, kita akan melanjutkan acara, sekarang penerimaan kelulusan bagi lulusan, kita mulai dari Neji Hyuga" kata Kakashi dan mengambil sertifikat kelulusan. "Neji Hyuga, dengan ini kau dinyatakan lulus dari SMP ini, lanjutkanlah mimpimu dan jadilah orang yang berguna untuk masyarakat" kata Kakashi sambil menyerahkan sertifikat kelulusan. "Ha'i, hontou ni arigatou sensei!" kata Neji dan menerima kelulusannya...

.

.

.

Kini mereka semua berdiri memasang pose yang akan di ingat selalu dan tercetak jelas di foto. Ini adalah acara kelulusan dan acara perpisahan yang sangat membahagiakan untuk Naruto. "Aku sangat bahagia, sungguh-sungguh bahagia, terima kasih semuanya, aku mencintai kalian, terutama untukmu Sasuke, kau adalah kehidupanku, aku... terima kasih". . . . . .

.

.

.

.

.

Hari itu akhirnya datang, di sinilah mereka di bandara kota. Terlihat beberapa orang hadir di sana, keluarga dan sahabat, mereka hadir untuk mengucapkan perpisahan. "Naruto, kau yakin semua barang-barang milikmu sudah semua di bawa?" tanya Kushina. "Sudah kaa-san" jawab Naruto. "Terima kasih atas semuanya Fugaku, Mikoto, kalian adalah tetangga yang paling baik" kata Minato sambil menyalami Fugaku. "Kalian harus pulang sesekali, kunjugi kami" kata Mikoto pada Kushina. "Tentu saja, kau sudah seperti saudaraku sendiri Mikoto" jawab Kushina. Suasana terasa sangat berat dan menyesakkan. "Naruto, kau yakin kau akan baik-baik saja di Osaka? Kami akan merindukanmu" kata Gaara sambil menangis dan memeluk Naruto erat. "Tenang saja Gaara, aku akan baik-baik saja, kau kan mengenal diriku dengan baik" jawab Naruto sambil membalas pelukan sahabat terbaiknya. "Neji, jaga Gaara baik-baik, awas saja jika kau membuat Gaara menangis" pesan Naruto kepada kekasih sahabatnya. "Tenang saja, dia akan baik-baik saja bersamaku" jawab Neji dengan tegas. "Naruto-kun kau baik-baiklah di sana" kata Iruka. "Sensei... Aku tidak akan melupakan apa saja yang sensei ajarkan selama ini" kata Naruto sambil memeluk Iruka. "Kau harus belajar yang benar di sana jangan mau kalah dari anak-anak Osaka di sana" pesan Kakashi. "Ha'i tentu saja Kakashi-sensei" jawab Naruto. 'Diberitahukan kepada semua penumpang harap segera naik ke atas pesawat, sebentar lagi pesawat siap lepas landas' suara pengumuman dari bandara yang terdengar nyaring dan menyesakkan hati.

"Naruto..." gumam Sasuke memanggil nama kekasihnya. "Sa-Sasuke..." gumam Naruto menatap kekasihnya dengan mata yang memerah. "Kalau kau sudah sampai, segera hubungi aku ya, beritahukan alamat dan rumahmu di sana, aku akan mempersiapkan diriku untuk mengunjungimu di sana" kata Sasuke sambil tersenyum menatap Naruto. "Iya... pasti..." jawab Naruto pelan. Kemudian mereka berdua terdiam dalam keheningan, banyak yang ingin diucapkan tapi semuanya tertahankan, semakin banyak yang ingin diucapkan semakin mata ini tak mampu menahan air mata yang akan mengalir keluar. "Naruto ayo kita pergi" panggil Kushina. "Aku pergi dulu Sasuke... Jaga dirimu..." kata Naruto sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah orang tuanya. Sasuke menundukan kepalanya, apakah dia telah siap melepas Naruto?

"Naruto!" panggil Sasuke dengan keras. Naruto berbalik dan menatap Sasuke. "Janji kita waktu natal apa kau masih ingat? Tetap kenakan lah cincin yang aku berikan kepadamu sampai aku menjemputmu!" seru Sasuke. Naruto menatap cincin berhurufkan S itu yang melingkar di jari manis kirinya. "Saat kita dewasa nanti, aku akan menjemputmu dan menikahimu Naruto!" seru Sasuke lagi sambil mengangkat wajahnya dan menatap Naruto dengan serius. Air mata itu sudah tak terbendung lagi, pertahanan Naruto untuk berpisah tanpa air mata hancur sudah. "Baik! Aku akan menunggu dan menikah denganmu Sasuke!" seru Naruto dan berlari ke arah Sasuke. Sasuke juga berlari mengejar Naruto dan membawanya ke dalam sebuah ciuman. Ciuman singkat penuh makna, sebuah ciuman perpisahan...

.

.

.

'Awal musim semi di bulan maret, punggungmu perlahan menghilang, aku terus memandangimu sampai akhirnya tidak terlihat sama sekali... Itu adalah... terakhir kalinya aku melihat Naruto...'

.

.

.

.

.

To Be Continue

Last word,

Review please