TITLE : Cool & Tsundere

DISCLAIMER : Naruto milik Masashi kishimoto

AUTHOR : ^JeWon^

PAIRING : NaruHina

GENRE : Romance

RATED : T

WARNING : OOC , TYPO , EYD , DLL

Summary:(new summary) Seorang laki-laki yang terjebak oleh cinta pertama bertemu dengan gadis tsundere di sekolahnya. Duren-bakaaa/urusai, gadis aneh/em..pirang-baka/?. Perlahan buih-buih cinta tumbuh di antara mereka. Mind to RnR

Bad Sumarry _

Chapter 10

Buk

Naruto melempar tas nya sembarangan. Wajahnya kusut tak bersemangat.

"Hei kau kenapa, Naruto?"Tanya Kiba bingung

"Aku membuatnya menangis."Sahut Naruto. Dia menuang air kedalam gelas.

"Hah? Siapa?" Sasuke berhenti bermain game.

"Hinata" tebak Sai.

"Kenapa kau membuat gadis galak itu menangis? Ah apa jangan-jangan.."Kiba menyeringai

"Jangan berpikiran kotor, baka" Naruto melempar bantal.

"Terus?"

Naruto tak menjawab. Dia menjambak rambut pirang nya.

"Hei kalian.. Bagaimana caranya meminta maaf pada seorang gadis?" Tanya Naruto.

"Hah?" Sasuke cengo.

Kiba menyikut siku Shikamaru. Dia tersenyum misterius. Laki-laki dari klan Nara itu mendengus kesal.

"Lakukan yang membuat nya suka. Berikan sesuatu yang menenangkan hatinya." Ucap Shikamaru.

"Benarkah? Wah.. Sankyu ne Shika" Naruto tersenyum lebar. Dia segera berlari keluar.

Sai menutup bukunya.

"Aku senang Naruto sudah berubah."Laki-laki itu tersenyum.

"Ya walau tak banyak. Sepertinya bocah itu sudah sedikit melupakan Sarah"ucap Sasuke.

"Ya ya kau benar" Sahut Kiba.

"Hoamm.. Aku mengantuk"

"Dasar"

Naruto melirik ke kanan dan kekiri. Dia sedikit mengurangi kecepatan mobilnya untuk melihat barangkali ada sesuatu yang bagus untuk Hinata.

"Apa mungkin dia menyukai bunga atau coklat? Ah.. Aku rasa gadis itu tidak suka yang romantis." Naruto terkekeh.

"Em.. Perhiasan mungkin? Kalung atau cincin. Oh ayolah.. Dia kan seorang Hyuuga. Sesuatu seperti itu pasti sudah banyak dirumah nya"

Naruto kembali melihat-lihat. Jika diukur mungkin dia hampir mengelilingi kota ini hanya untuk sebuah hadiah permintaan maaf.

"Oh kami-samaaa.. Kenapa susah sekali. Terserahlah-terserah. Aku belikan semua saja." Naruto menghentikan mobilnya di depan toko bunga yang di sebelah nya toko cokelat dan jangan lupa di seberangnya toko perhiasan.

"Hei Naruto-kun"

Naruto berhenti melihat-lihat bunga saat seseorang menyapa nya.

"I-ino?"

"Hei tumben sekali ada di toko bunga. Ehem.. Untuk siapa?"

Tiba-tiba sebuah lampu cerah menyala di atas kepala Naruto. Dia menyeringai kecil membuat para gadis yang menjadi pembeli di toko bunga menahan napas.

"Hei Ino. Kemarilah"

"Hm? Ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan. Tapi diam saja ya.."

"Baiklah" Ino mengangguk.

Naruto menjelaskan maksudnya. Sejenak, gadis bermarga Yamanaka itu menyeringai tipis. Dia mengangguk paham.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Naruto.

"Itu simple saja. Akan kuberitau. Tapi setelah ini, bantu aku kencan sama Sai-kun ya?" Ino mengedipkan matanya.

"Ha'I ha'I baiklah" Ucap Naruto malas.

.

.

.

"Tadaimaaa.."

"Okaeri..Oh kau sudah pulang, Naruto."

"Ha'I" Naruto tersenyum manis.

"Ada apa? Kau terlihat aneh dengan senyum itu." Kushina bergidik ngeri.

"Tidak apa, Kaa-san. Ehehe.." Naruto tersenyum.

"Nee, Naruto-kun. Sebenarnya mudah saja membuat Hinata memaafkan mu."Ucap Ino

"Waaah.. Benarkah? Bagaimana caranya."

"Em.. Pikir sendiri."

"Haah? Apa-apa'an itu. Hei Ino."

"Bercanda. Aku hanya akan memberikan satu saran. Tak perlu mewah dan berkelas, cukup dengan cinta"

"Ci-cinta?!"

Naruto melompat ke kasur. Dia memejamkan matanya.

"Cinta ya? Baiklah, akan ku lakukan." Laki-laki itu tersenyum sebentar dan akhirnya tertidur.

Naruto tak menyadari bahwa handphone nya bergetar. Sebuah pengingat akan hari yang penting.

"12 agustus XXXX - Upacara kematian Sarah" Tertulis jelas di layar touchpad Naruto. Dan akhirnya menghilang setelah 5 menit.

Mansion Hyuuga

"Hinata-neesan.."

Hinata menutup telinga nya. Dia menghela napas sebentar dan berjalan membuka kan pintu.

"Ada apa, Hanabi-chan" Hinata tersenyum manis penuh keterpaksaan.

"Bantu aku menyiapkan makan malam."

"Tapi inikan jadwal mu."

"Oh ayolaaaahh.." Hanabi memasang wajah memelas andalan nya. Dia mengedip-ngedipkan matanya.

"Kau sakit mata ya?"

"Hinataaa-nee-saaan.." Rajuk Hanabi. Gadis bungsu Hyuuga itu mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah baiklah" Hinata mengacak pelan rambut adik nya itu dan berjalan kebawah.

Hinata memotong sayuran dalam diam. Dia tak bersuara, pandangan nya kosong menatap Hanabi yang asik membantu para koki di dapur.

Pikiran nya kembali di mana Naruto membodohinya. Hinata mengutuk bagaimana bisa dia percaya dengan tipu muslihat pirang-baka itu.

'Dia sudah sangat keterlaluan.' Hinata memotong kesal sayuran itu.

'Tapi jika dipikir, kenapa aku harus percaya. Bahkan mengharap' Hinata kembali uring-uringan. Dia telah selesai memotong sayuran dan memasukkan nya ke dalam mangkok untuk di cuci.

'Pokoknya aku tidak akan memaafkannya jika dia tidak maaf padaku duluan. Huh'

Skip~

Hujan kembali datang, mengguyur kota sibuk itu. Hinata terpaksa memakai mobilnya karena hujan begitu lebat. Dia meruntuk saat sederet mobil berbaris di depan, samping dan belakang nya. Yap, dia terjebak macet.

"Mou~ cepatlah jalan. Sial!" Hinata memukul kemudi.

Tuk tuk

Seseorang mengetuk kaca mobilnya. Hinata terkejut saat mengetahui pelaku pengetukan kacanya.

"Sai?!"

"Boleh aku menumpang? Mobil ku mogok dan sepertinya akan memakan waktu yang lama jika naik Bus."Ucap Sai lengkap dengan senyum palsunya

"Kau tak liat, aku terjebak macet"

"Itu bagus daripada naik Bus. Kan bisa bersantai sedikit di mobilmu"

"Haish.. Baiklah, cepat naik"

Sai segera masuk dan duduk bersebelahan dengan Hinata.

"Mood mu sedang buruk ya? Sifat seorang gadis remaja itu benar-benar labil ya.."

Hinata menoleh kesal ke arah Sai yang di balas senyuman palsu oleh si empu nya.

'Teman nya sama ja. Benar-benar menyebalkan' runtuk Hinata dalam hati.

"Kudengar kau betengkar dengan Naruto?"

"Bukan urusanmu"

"Memang benar. Tapi...-"

Bruum

Hinata segera menancap gas saat dia berhasil keluar dari macet. Gadis itu benar-benar tak ingin membiarkan Sai berbicara. Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di sekolah.

"Cepat turun" perintah Hinata.

"Baiklah. Tapi aku ingin memberikan satu info padamu. Hei, Hinata.. Naruto itu adalah laki-laki yang susah ditebak jadi berhati-hatilah. Oh ya..Sampai jumpa, Hinata. Terima kasih untuk tumpangannya" Sai segera keluar.

"Apa maksudnya dengan berhati-hati? Dasar aneh." Hinata mengindikkan bahu.

Gadis berambut indigo itu berjalan santai di koridor. Sesekali dia bersiul pelan.

"Hei Hinata."

Hinata berhenti. Dia sudah tau suara siapa ini. Gadis itu memilih tak memperdulikan dan berjalan agak cepat.

"Tunggu dulu" Naruto menahan tangan gadis itu dan membalikkan badanya menghadap ke arah nya.

Hinata memalingkan wajahnya tak ingin menatap Naruto. Laki-laki itu mendengus kesal.

"Ikut aku" Naruto menarik paksa tangan Hinata. Gadis itu memberontak.

"Oy oy apa-apa'in ini. Kau tak boleh main culik orang aja." Bentak Hinata.

"Tak ada yang mau menculik mu, baka."

"Tapi kau menculikku sekarang" teriak gadis itu.

Naruto menghela napas. Dia berhenti menarik Hinata. Dengan masih memegang pergelangan gadis itu, Naruto berbalik menatap intens Gadis bermaga Hyuuga itu.

"A-ada apa?"

"Berhentilah mengoceh, gadis cerewet."

"Tapi kau..-"

"Sssttt... Kubilang berhenti"

Plup

Hinata membelalakkan matanya saat merasakan perekat menempel di mulutnya.

"Hmphm..hmphm.."

"Bagus. Itu terdengar indah daripada kau mengoceh. Baiklah, lebih baik kedua tangan ini diamankan" Naruto memborgol kedua tangan Hinata dan menarik nya pergi.

"Kuserahkan Anko-Sensei pada kalian" Teriak Naruto pada teman-teman Fox dan Sakura, Ino, belakang.

"Baik, Naruto-kun. Bersenang-senanglah. Kau juga, Hinata-chan." Balas Ino senang

'Dasar Teman yang kejam' Batin Hinata kesal.

Naruto mendorong kepala gadis itu masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari halaman sekolah itu.

"Hmphm...hphm.." Teriak Hinata.

"Tangan mu sudah aman dengan borgol yang kupasang. Jadi jangan membuang tenaga. Bersantailah.." Naruto tersenyum manis.

'Rubah sialan! Pirang-baka siaaaan..' Teriak gadis itu dalam hati.

Mobil sport biru itu berhenti di Apartemen Naruto.

"Akan kulepaskan ini agar tak ada yang menganggapku sedang menculik seseorang"

Naruto maju untuk melepaskan perekat dan borgol dari Hinata.

Melihat ada celah, gadis itu segera menyiapkan tinjunya.

"Temeee..."

"Hup. Jangan kira kau bisa kabur, Nona Hyuuga" Naruto mengunci tangan Hinata ke belakang. Gadis itu terhimpit oleh pintu mobil dan tubuh Naruto yang sangat dekat dengan nya.

"L-lepaskan aku..." Teriak Hinata gugup.

"Akan kulepaskan jika kau berjanji tidak akan kabur. Atau tidak..." Naruto bergerak semakin maju..

"Baik baik. Aku mengerti. Aku berjanji."Ucap Hinata pasrah

"Anak pintar"

Blam

Naruto menutup pintu Apartement dan menarik gadis itu masuk.

"A-apa ini? " Hinata menatap bingung beberapa mangkok besar yang ditutup kain hitam besar.

Naruto tersenyum misterius. Dia memegang kain itu.

"San...Ni...Ichi. Ta-ra" Kain Hitam di buka memperlihatkan sebuket bunga Mawar putih.

"Eeeh? Apa ini?"

"Kau bertanya lagi? Tentu saja ini bunga." Naruto mengambil bunga itu dan menyodorkan ke Hinata.

"Kau menyukainya?"Naruto tersenyum

Hinata menerima dengan enggan bunga itu. Dia menutup hidungnya.

"Kau tak menyukainya?" Naruto berhenti tersenyum.

"Hatchiih.. Aku benci mawar putih" Hinata menggosok hidung nya yang terasa gatal. Gadis itu kembali meletakkan bunga mawar putih kembali ketempatnya.

"Bagaimana dengan ini.."

Plang!Plang!plang!

Sebuah mainan kelinci dengan alat musik kecil di tangan nya terus berbunyi-bunyi. Hinata bergidik ngeri melihat tatapan mata kelinci itu, sangat jauh dengan aslinya.

"Kau ingin membuatku bulu kudukku berdiri, hah?"

"Haah~ kalau ini..."

Bak!

"Kyaa.." Hinata berteriak saat Naruto membuka kotak putih kecil dan badut berwajah mengerikan keluar di hadapannya.

"Naruto?! Kau ingin membuatku jantungan." Teriak nya kesal.

Tuut! Tuut! Tuut!

Hinata jongkok memperhatikan kereta api mini berjalan mengelilinginya.

"Aku bukan anak kecil lagi, Namikaze-san" Hinata mendongak menatap Naruto.

"Huh. Next" Naruto memijat keningnya.

"I-ini kan..."

"Kau menyukai nya..."

Hinata menutup mulutnya. Dia menoleh ke arah Naruto.

"Ini coklat.."

"Ya ini coklat. Kau boleh memakannya" Naruto tersenyum lebar.

"Kau ingin aku memakan ini.." Hinata menatap horror patung coklat kecil yang berdiri di atas piring. Sebenarnya bukan coklat nya tapi bentuk patung nya yang membuat Hinata menganga lebar. Seorang wanita dengan pose yang ukh.. Tak bisa di jelaskan.

"NARUTO NO HENTAI?!"

"Sebenarnya kau menyukai apa sih, Hinata" Naruto menatap kesal gadis yang duduk di sofa apartement nya.

"Hei hei.. Seharusnya aku yang bertanya padamu." Hinata berdiri dan menodong telunjuknya ke arah Naruto.

"Kenapa kau? Apa otakmu sedang konslet? Kau tiba-tiba menculikku dan menyodorkan barang-barang aneh." Ucap Hinata kesal.

"Tentu saja karena..."

"Karena apa, hah? Karena apa? Jawab aku Naruto"

Naruto memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia menggaruk-garuk pipinya.

"Itu karena aku ingin meminta maaf padamu, Hinata."

"Eeh?" Hinata tertegun.

"Em.. Aku Minta maaf padamu, Hinata. Aku benar-benar menyesal. Aku bodoh, tak berperasaan, dan semuanya sifat yang jelek. Maafkan aku ya Hinata" Naruto tersenyum. Dia memandang Hinata lembut.

"Naruto..." Hinata memalingkan wajahnya. Semburat tipis menghiasi pipi gadis itu.

"Ba-baiklah.. Aku me-memaafkan mu, pirang-baka. Ta-tapi sedikit, ya sedikit saja."

Naruto tersenyum. Dia meraih kedua tangan gadis itu.

"Ha'I Ha'I Ojou-sama. Jadi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan permintaan maaf mu secara keseluruhan."

"Hah? Em.."

Hinata terlihat berpikir.

"Bagaimana dengan makan malam?"

"Heh? Jadi kau menyukai makan romantis di restoran?"Naruto menyeringai.

"Jika kau tidak mau. T-tida..-"

"Baiklah-baiklah. Besok jam 8 malam di kafe Sun? Bagaimana?"

"O-oke.. Janji ya."

"Ha'I"

'Tapi tak semua sifat mu kok yang aku benci. Buktinya sekarang, aku tak tau kalau kau mempunyai sifat yang romantis seperti ini' Batin Hinata tersenyum.

Setelah mengatarkan gadis Hyuuga itu kembali kesekolah. Naruto memilih menancap gas nya meninggalkan tempat membosankan itu-Menurutnya-

Ya, Naruto bolos.

Laki-laki itu menyalakan musik untuk mengurangi bosan. Dia jadi teringat nasib apartement nya. Mungkin setelah ini, dia akan membersihkan semua barang-barang aneh itu dan mengirimkannya kepada Hinata, Lumayan lah menjadi bahan isengan setelah mendapatkan permintaan maaf Hinata malam ini.

"Khikhikhikhi" Membayangkan wajah Hinata yang kesal sudah membuat Naruto tertawa.

Naruto memasuki toko olahraga. Rencana nya hari ini dia akan membeli persedian bola untuk klub basket. Memang dia kebagian untuk membeli benda bulat bewarna merah itu.

"Ara. Bukankah ini Naruto-kun" Ucap seorang perempuan tua yang sedang asik memilah di bagian olahraga golf.

"Eh? Bibi?" Naruto tersenyum manis kepada perempuan yang menjadi ibu dari kekasih nya dulu.

"Mou~ kenapa kau memanggilku Bibi. Panggil Okaa-san"

"Eh em... Ha'I Okaa-san." Naruto tersenyum lembut.

"Sudah lama ya, Naruto-kun" Ibu dari sarah itu menepuk bahu Naruto.

"Em ya.." Naruto mengangguk

"Oh ya, malam ini kami akan mengadakan upacara untuk sarah."

"S-sarah?"Ucap Naruto bingung

"Ya hari ini adalah upacara kematian Sarah. Datang ya kerumah kami jam 8 malam"

Naruto hanya mengangguk singkat.

Tbc