WonKyuMin tinggal di rumah Ahjussi itu. Kyuhyun mengembalikan dompet Jungsoo dan mendapatkan sebuah keganjilan. Masa lalu Jungsoo terungkap. Sebenarnya ada apa?
LET'S READ! PLEASE LEAVE COMMENT!
19th
Chapter 7
By Yuya Matsumoto
"Her Past"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
.
.
#At Jungsoo's House#
[Author's POV]
.
.
Park Jungsoo mendudukkan tubuhnya yang terasa nyeri. Perlahan-lahan ia menggerakkan tubuhnya yang kaku, menyandarkan dirinya pada sandaran ranjang kayu itu. Yeoja manis itu mengalihkan pandangannya ke sesosok namja yang terlelap di sampingnya. Ia tersenyum miris, memandang wajah tenang itu. Ia tak habis pikir jika namja itu bisa menjadi pribadi yang berbeda saat tidur. Jungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya. Kamar ini telah berubah menjadi kamar yang tak layak dipakai. Sangat berantakan. Jungsoo hanya bisa menghela napasnya saat ia mencium bau sperma yang menyengat.
Tidak tahan dengan rasa sakit yang menderu setiap inchi tubuhnya, Jungsoo memutuskan untuk berbenah diri. Ia menyibakkan selimut yang setia membalut tubuhnya. Mata Jungsoo menatap nanar ke arah pemandangan yang tersaji. Kulit putihnya telah berubah kemerahan dengan goresan-goresan noda darah dimana-mana. Lengan, dada, perut, paha dan kaki jenjangnya. Semua sisi tubuhnya tak terlepas dari ukiran hasil karya suaminya itu. Jangan tanyakan bagaimana rasanya. Perih dan nyeri, itu sudah pasti, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit yang telah membuat hati yeoja cantik itu mengeras seperti batu.
Jungsoo berusaha menurunkan kakinya ke lantai kamar secara perlahan. TUUUK! Kakinya tertahan oleh sesuatu. Jungsoo menyikap semua selimutnya agar tak menutupi tubuhnya sedikit pun. Oh, ia lupa bahwa masih ada tali yang dengan setia mengikatnya di atas ranjang. Jungsoo membuka ikatan tali yang sudah meninggalkan bekas pada pergelangan kakinya. Yoochun mengikatnya terlalu erat, apalagi pergerakan mereka seharian ini semakin membuat tali itu mengencang.
Jungsoo masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah gontai. Kepalanya sangat pusing. Tubuhnya lemas ditambah dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Bagian private-nya pun terasa ngilu karena dihajar habis-habisan tanpa ampun oleh Yoochun. Jungsoo terduduk di atas lantai kamar mandi. Ia membiarkan pancuran air menghilangkan semua bekas perlakuan kasar suaminya itu. Seumur hidupnya ia tak pernah menyangka akan memiliki kehidupan seperti ini. Kemanakah Yoochun-nya yang baik, penyayang, perhatian, ramah dan romantis itu? Kemanakah sosok yang selama ini ia cintai setulus hati? Ah, Yoochun-nya telah mati sejak sepuluh tahun lalu. Yoochun mati bersama sosok aegya-nya, Park Hana. Airmata Jungsoo mengalir deras seiring air yang membasuh tubuhnya. Ia telah membunuh kedua orang yang paling dicintainya itu. Penyesalan demi penyesalan terus saja menghantui dirinya. Andai saja ia bisa kembali ke masa lalu. Andai saja.
BRAAAK! Sebuah bantingan pintu terdengar dari arah depan. Hal ini membuat Jungsoo tersentak kaget, namun ia tetap melakukan kegiatan memasaknya. Ia masih perlu makan, apalagi setelah dihajar oleh suaminya itu.
"Aku pergi.", teriak Yoochun sebelum melangkah keluar dari rumah sederhana itu.
Jungsoo hanya bisa menghela napasnya. Hampir setiap malam Yoochun pergi bahkan ia lebih sering menginap—entah dimana. Ini sudah menjadi kebiasaan Yoochun sejak delapan tahun lalu, terutama sejak ia dipecat oleh perusahaan karena selalu membuat keributan.
"Jangan lupa bekerja. Jangan bermalas-malasan di rumah hanya karena luka sekecil itu.", perintah Yoochun setelah membuka pintu rumahnya lagi. Ia tidak ingin Jungsoo memakai alasan klise itu sehingga ia tidak mendapatkan uang jatahnya keesokan hari.
Jungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak mempedulikan semua perkataan Yoochun. Tidak memungkinkan baginya untuk melayani pelanggan dengan tubuh yang terbalut perban layaknya mummy seperti ini. It's non sense. Malam itu, sekali lagi, Jungsoo lewati dengan membereskan rumah dan menahan seluruh sakit pada tubuhnya.
.
.
[Day 4, Berlin]
WonKyuMin's Side
.
.
"Berhenti menangis, Minnie! Dewasalah sedikit.", bentak Kyuhyun di depan meja makan.
"Tapi… Hiks… Hiks…". Sungmin tak bisa berkata-kata apapun.
"Ya! Kamu ini, aish! Cepatlah taruh sarapan kami. Jangan menangis terus.", ujar Kyuhyun tak berperasaan.
Saat ini Kyuhyun dan Sungmin sedang menyiapkan sarapan mereka di atas meja makan. Sungmin hanya bisa menangis sedaritadi, mengingat kecelakaan semalam. Sungmin adalah yeoja yang tegar selama ia hidup dalam penderitaannya dulu. Sekarang Sungmin memiliki orang lain selain ibunya yang bisa ia kasihi, jadi melihat Siwon terluka seperti itu membuatnya sangat sedih. Suatu hal wajar yang dianggap berlebihan bagi Kyuhyun.
"Sudahlah, Min-ah! Aku tidak apa-apa. Aku sehat kok.", ujar Siwon menenangkan Sungmin. "Hanya lecet sedikit saja. Untung Kyuhyun mengobatiku tepat waktu. Besok pun aku bisa melepas semua perban ini.", lanjut Siwon sambil menunjukkan lengan dan kakinya yang di perban.
'Cih! Kenapa Sungmin harus berlebihan seperti itu kepada Siwon? Kalau aku yang sakit saja, ia pasti tidak peduli. Ah! Apa Sungmin menyukai Siwon? Mwo? Andwae!', jerit Kyuhyun dalam hatinya. Ia menggelengkan kepalanya, berharap dugaannya salah. 'Eh? Kenapa aku harus peduli. Toh itu urusan yeoja menyebalkan itu. Baguslah kalau Sungmin menyukai Siwon, setidaknya mereka tidak akan menggangguku.', pikir Kyuhyun lagi. Ia mengangguk-angguk sekarang, sambil tersenyum bangga.
"Bawalah makananmu untuk ahjussi. Ia masih belum bisa makan bersama kita.", pinta Siwon kepada Sungmin, yang langsung dijawab anggukan oleh yeoja itu.
Yeoja mungil itu membawa senampan makanan untuk ahjussi yang semalam Siwon selamatkan. Beruntung bagi kedua namja itu. Mereka bisa menghindar sebelum mobil itu sempat menabrak tubuh keduanya. Walau begitu keduanya terpelanting cukup jauh di aspal jalanan. Tangan dan kaki Siwon lecet dimana-mana, sedangkan kepala ahjussi itu terbentur pembatas jalan. Kedua orang itu sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, namun ahjussi memaksa untuk pulang. Sedangkan Kyuhyun mengobati luka Siwon dengan peralatan seadanya. Syukurlah mereka memiliki seorang calon dokter seperti Kyuhyun yang selalu membawa obat-obatan secukupnya. Semalaman Kyuhyun memperhatikan kondisi ahjussi itu. Ia hanya takut ahjussi gegar otak atau penyakit dalam lainnya. Setidaknya mereka harus melakukan tindakan cepat-tepat untuk namja paruh baya itu, jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Ahjussi.", panggil Sungmin pelan saat memasuki kamar namja paruh baya itu. Namja paruh baya itu masih tertidur lelap. Sungmin tidak tega untuk membangunkannya.
Sungmin meletakkan nampan itu di meja samping ranjang. Ia tersenyum melihat wajah tampan ahjussi itu. Napas ahjussi berhembus dengan teratur, menunjukkan bahwa ia tertidur dengan lelap dan nyaman. 'Kasihan ahjussi. Semoga ia baik-baik saja.', ujar Sungmin dalam hatinya. Tega atau tidak, Sungmin memang harus membangunkan ahjussi itu untuk sarapan.
"Ahjussi.", panggil Sungmin sambil mengelus bahu ahjussi.
Ahjussi menggeliatkan tubuhnya, merasa terganggu. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia mengerang pelan, merasakan sensasi nyeri di tempurung otaknya. "Argh!", keluh ahjussi sambil memegang kepalanya.
"Ahjussi? Ahjussi kenapa?", tanya Sungmin khawatir. Sungmin berusaha membantu ahjussi untuk duduk bersandar di ranjang.
Ahjussi itu menyandarkan tubuhnya, mengatur napasnya yang sempat tersengal. Ia membuka matanya, menatap Sungmin lebih intense lagi. "Siapa kamu?", tanya ahjussi itu bingung. Ia memegang perban di kepalanya sesekali untuk meredam rasa pusingnya.
"Aku Sungmin. Kami menolong ahjussi dari kecelakaan semalam. Youngwoon-ahjussi lupa?", jelas Sungmin dengan lembut.
"Ah, iya. Mianhamnida. Aku lupa. Panggil aku Kangin, Sungmin-ah.", kata Youngwoon antusias.
Sungmin tertawa senang, mendapat perlakuan ramah dari ahjussi itu. Ia mengambil semangkuk bubur yang ia buat. "Ne, Kangin-ahjussi. Sekarang waktunya sarapan ya.", ucap Sungmin sambil menyuapi Youngwoon dengan baik dan perhatian. Kedua orang itu terlarut dalam obrolan ringan yang semakin mendekatkan keduanya.
Setelah sarapan, Sungmin membantu Youngwoon untuk berkumpul dengan dua remaja lainnya di ruang tamu. Youngwoon tinggal di sebuah apartment sederhana, namun cukup menampung ketiga orang baru itu. Ia meminta ketiganya berkumpul, sepertinya Youngwoon ingin mengucapkan sesuatu.
"Jeongmal kamsahamnida atas semua bantuan kalian padaku. Aku sangat menghargainya.", ucap Youngwoon sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Kyuhyun mengangkat tubuh Youngwoon. "Jangan sungkan, ahjussi. Justru kami yang seharusnya berterima kasih karena telah mengizinkan kami untuk menginap di sini.", ujar Kyuhyun merasa sungkan atas sikap Youngwoon yang sangat sopan dan formal itu.
"Jeongmal kamsahamnida, ahjussi!", ucap ketiga remaja itu bersamaan. Mereka menundukkan badan, menghormati namja paruh baya yang ada di depan ketiganya.
Youngwoon tersenyum senang. "Kalian memang remaja baik hati. Aku senang Tuhan mempertemukan kita semua.", ucapnya penuh syukur.
.
(^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^o^)
.
Ting! Tong! Suara bel berbunyi nyaring. "Wait, please!", teriak seseorang dari dalam rumah. KRIEEET! Pintu terbuka lebar. Yeoja itu membelalakan matanya kala pandangannya bertabrakan dengan dua sosok di hadapannya. "Youngwoon?".
"Annyeong, Jungsoo-ah! Aku hanya ingin mengantarkan namja ini untuk bertemu denganmu.", kata Youngwoon to the point.
"Aku tidak mengenalnya, Woonie!", tolak Jungsoo ketakutan.
"Jeosonghamnida, ahjumma. Saya hanya ingin mengembalikan ini.", ucap Kyuhyun sopan, karena ia merasakan penolakan dari yeoja di depannya itu. Kyuhyun segera memberikan dompet Jungsoo yang ia temukan di Reeperbahn.
Jungsoo ternganga kaget. Ia menyambar dompet itu begitu saja, membuka-buka dompetnya seakan tidak ingin ada yang hilang dari sana.
"Tenang saja, ahjumma. Kami tidak mengambil apapun. Kami hanya melihat alamat rumahmu. Untung saja kami bertemu ahjussi jadi ia mengantarkanku ke sini. Maafkan atas kelancangan kami. Kami hanya…". Ucapan Kyuhyun terputus begitu saja. Ia bingung dan merasa salah tingkah ketika yeoja paruh baya di hadapannya itu menangis tersedu-sedu.
Jungsoo mengelus foto keluarganya yang tersimpan rapi di dalam dompet. Fotonya bersama Yoochun dan Hana sepuluh tahun lalu, saat Hana masih berumur tujuh tahun, sebelum tragedi itu terjadi. "Hana.", lirihnya pelan.
Kyuhyun melemparkan pandangannya kepada Youngwoon, yang kemudian dibalas anggukan oleh Youngwoon. "Biarkan ia sendiri. Setidaknya ia telah mendapatkan dompetnya kembali. Ayo pergi, Kyu!", ajak Youngwoon sambil sedikit menyeret kakinya pergi dari rumah sederhana itu.
Kyuhyun menuruti permintaan Youngwoon. Hatinya berdesir kala melihat wajah sedih seorang ibu. Sekilas ia memikirkan ibunya yang berada di Seoul, Korea Selatan. Ia berharap ibunya baik-baik saja di sana. Sekali lagi Kyuhyun menolehkan kepalanya, memandang wajah yeoja yang masih setia dengan tangisannya itu. Mata Kyuhyun menangkap sesuatu yang ganjil. Perban. Tubuh yeoja itu dipenuhi oleh perban. Leher, bahu, lengan, hingga ke pergelangan kaki. Ada apa ini? Kyuhyun ingin sekali kembali ke hadapan yeoja itu untuk bertanya, namun Youngwoon sudah menariknya untuk segera pergi.
.
.
#At Diamond Hotel#
Someone's side
.
.
Seorang yeoja muda menutup matanya erat. Ia takut melihat kenyataan yang mungkin akan terjadi padanya. Pelan-pelan ia membuka salah satu kelopak matanya, memandang ke arah alat test kehamilan yang ia gunakan. Kedua matanya membelalak kaget saat dua garis merah tercetak di atasnya. "Aku ha-hamil.", ucapnya tergugup. Ada rasa senang dan takut di sela hatinya. Ia senang karena akan memiliki seorang anak, namun ia takut jika sang appa menolak kehadiran anaknya ini.
Yeoja cantik itu memutuskan untuk mengirim pesan kepada sang kekasih. Ia akan segera memberitahu berita menggembirakan ini kepada namja itu. Dengan rasa takut dan tangan bergetar, yeoja itu mengetikkan pesannya di ponsel.
To: My Love
Chagiya, aku ingin bertemu. Aku tunggu di restaurant jam 1 nanti siang. Ada hal penting yang ingin aku katakan. Love you 3
Di lain pihak, seorang namja paruh baya sedang asyik menggerakan tubuhnya di dalam tubuh seorang yeoja manis. Ponselnya bergetar, membuat suara derit meja yang sedikit mengganggu konsentrasinya. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak, membuat lenguhan kecewa terdengar dari bibir yeoja di bawahnya.
"Sabar ya, chagiya! Aku lihat ini dulu. Siapa tahu pesan penting.", ucapnya menenangkan yeoja itu. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjang. Tidak terlalu sulit untuk menjangkau ponselnya itu sehingga ia tak perlu melepaskan kaitan keduanya.
Mata namja itu menyipit tajam. Ia membanting ponselnya ke lantai, merasa kesal dengan pesan yang baru ia dapatkan. "Dasar wanita menyebalkan. Sok bossy terhadapku.", gumamnya kesal.
"Ada apa, yeobo? Kenapa kamu terlihat kesal seperti itu?", tanya yeoja itu sambil mengelus pipi namja di atasnya. "Aaaah… Hmmm… Harder, chagi!", erang yeoja itu saat namja paruh baya itu menggerakan lagi tubuhnya, tanpa menjawab pertanyaannya.
Suara desahan kembali mendominasi salah satu kamar mewah hotel itu. Mereka berdua memuaskan hasrat tubuh keduanya tanpa mengenal waktu ataupun takut kehabisan energi. Setidaknya selama kepuasaan itu tercapai berkali-kali, mereka tidak peduli peluh telah membanjiri tubuh keduanya. Untung saja kamar itu memiliki fasilitas peredam suara, jadi tamu yang lain tidak perlu khawatir akan merasa terganggu oleh jeritan, erangan dan desah nikmat keduanya.
CROOOOT! Tubuh keduanya melengkung menahan nikmat yang tiada tara—entah untuk keberapa kali. Mata namja itu teralihkan ke jam dinding yang menunjukkan pukul 01: 45 pm. Sedaritadi ponselnya terus berdering berkali-kali, namun karena fokus untuk menjamah tubuh indah di hadapannya, ia tidak mendengar suara apapun selain desahan mereka berdua.
Namja paruh baya itu menyingkirkan tubuh yeoja di atasnya. Ia sudah merasa sangat terganggu oleh suara dering ponselnya. "Yoboseyo.", jawabnya sambil melangkah ke dalam kamar mandi, meninggalkan yeoja manis itu kelelahan di atas ranjang.
"Kamu dimana, chagiya? Aku menunggumu.", keluh yeoja cantik itu sambil menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya terekspos.
"Ne, tunggu saja. Aku akan segera ke sana.", jawab namja paruh baya itu dari seberang sambungan telepon.
Yeoja cantik itu menyeruput minumannya, berusaha sabar menunggu. Ini bukan untuk pertama kalinya ia harus menunggu pujaan hatinya. Hampir selama masa pacaran mereka, ia terus menunggu dan bersikap sabar atas perlakuan namja-nya yang sering keterlaluan itu. Yeoja itu mulai menghentakkan kakinya saat namja yang ia tunggu tak kunjung datang.
"Mianhamnida, chagiya! Aku ada urusan penting sebelumnya.", ucap seorang namja setelah mengecup bibir yeoja cantik itu.
Yeoja cantik itu mengerucutkan bibirnya. "Aku sebal denganmu, Yoochun-ah! Selalu saja membiarkan aku menunggu.", ucapnya kesal.
"Oh, please deh, Kim Junsu! You'll always wait me, right? Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku.", balas Yoochun percaya diri.
"Tidak akan selamanya. Semua orang ada batas kesabarannya, tahu!", bentak Junsu kesal. Ia sudah tidak tahan dipandang rendah oleh kekasihnya itu terus.
Dahi Yoochun berkerut. Ia membenci pembicaraan kaku seperti ini. "Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan! Aku tidak punya banyak waktu.".
Junsu tergugup mendengar bentakan Yoochun. Ia tahu bahwa ia telah membuat namja itu marah besar. Junsu mengambil sesuatu dari dalam tas mungilnya. Yoochun membuka amplop itu. Sebuah alat test kehamilan terpampang jelas di dalam genggamannya. Tak ingin mempercayai apa yang telah ditunjukkan alat itu, Yoochun mengambil surat yang berada di dalam amplop itu. Sebuah surat dari rumah sakit menjelaskan bahwa Junsu sedang hamil sepuluh minggu. Tangan Yoochun bergetar hebat. Kedua barang bukti itu terjatuh begitu saja dari tangannya. Yoochun mendadak berdiri, tak terima dengan semua kebenaran itu.
"Itu pasti bukan anakku. Tidur dengan siapa kau? Pasti bukan anakku!", jerit Yoochun frustasi. PLAAAK! Ia menampar wajah Junsu hingga menimbulkan bekas biru. "Aku tidak akan bertanggungjawab atas anak yang bukan darah dagingku. Jangan berusaha menipuku, Kim Junsu!", bentak Yoochun sebelum meninggalkan Junsu di restaurant itu.
Airmata Junsu mengalir di kedua pipinya. Ia memegang pipinya yang berdenyut nyeri. Sakit di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan di dalam dadanya. Ia telah dicampakkan oleh namja yang benar-benar ia cintai. Ia membenamkan wajahnya di antara telapak tangannya, menangis sekeras-kerasnya. Ia sudah tidak peduli, jika ia menjadi bahan tontonan semua orang. Ini terlalu menyakitkan untuk dihadapi olehnya seorang diri.
BRAAAK! Yoochun membanting pintu rumahnya dengan keras. Rumah itu terasa sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Yoochun segera masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat sebuah memo di depan pintu kamarnya.
Aku pergi kerja dulu. Makanan ada di kulkas. Kalau lapar, kamu hanya perlu menghangatkannya di microwave. Kamu tidak perlu meninggalkan kunci karena aku sudah membawa kunci cadangan. Selamat bersenang-senang. —Jungsoo—
Yoochun meremas memo itu. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mengurut pelipisnya. Rasanya pusing sekali. Kilasan memori terbayang dalam otaknya.
.
.
FLASHBACK
[Yoochun's POV]
.
.
Aku duduk di kursi tunggu salah satu rumah sakit Berlin, Jerman. Aku merasa ada yang salah dengan tubuhku ini. Beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan. Setidaknya aku ingin melakukan medical check up untuk memastikan tubuhku baik-baik saja secara keseluruhan.
Aku merasa sangat depresi, setelah anakku meninggal karena sebuah kecelakaan. Hidupku sudah sangat berantakan. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, hingga aku tidak lagi memikirkan diriku dan orang di sekitarku. Aku terlarut dalam kesedihan sehingga tak lagi mampu berkonsentrasi dalam pekerjaan dan kehidupanku. Setiap malam aku pergi ke klub malam, menghabiskan berbotol-botol alkohol. Setidaknya diriku bisa tenang dengan semua efek alkohol itu, walau hanya untuk sesaat. Saat siang hari, aku lebih suka menghilangkan penat dengan merokok, padahal aku tidak pernah merokok sebelumnya. Dua tahun sudah aku lalui dengan kebiasaan buruk ini. Sekarang aku mulai merasakan dampaknya. Aku harap aku masih baik-baik saja.
"Mr. Park!", panggil seorang perawat dari ruang dokter.
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan serba putih dan berbau menyengat itu. Jujur, aku tidak suka datang ke rumah sakit. Bau obatnya benar-benar menusuk hidungku. Aku duduk di depan dokter, menunggu penjelasan darinya.
"Sebenarnya tidak ada hal serius yang terjadi dalam tubuh Anda. Saya rasa Anda hanya perlu menjaga kesehatan Anda. Perbanyaklah olahraga. Lakukan gaya hidup sehat. Berhenti merokok dan berhenti minum alkohol.", jelas sang dokter dengan wajah tenang yang sedikit mencurigakan bagiku. Untung saja dokter ini berasal dari Korea, jadi aku tidak perlu kesulitan menterjemahkan bahasa Jerman di dalam otakku.
"Tolong katakan yang sebenarnya. Aku mengidap apa? Kenapa beberapa waktu lalu Anda meminta saya untuk memeriksa sperma saya?", tanyaku penasaran. Aku hanya ingin diberitahu kebenarannya.
Dokter itu menghela napas panjang. "Dari pemeriksaan kami beberapa waktu lalu, kami mendapatkan kemungkinan bahwa anda akan mandul. Sebenarnya kesuburan pria akan menurun sebanyak dua persen setiap tahunnya. Dalam kasus Anda, kualitas sperma Anda menurun terlalu cepat. Hal ini bisa menyebabkan anda mandul atau sulit memiliki anak. Semua ini disebabkan oleh pola hidup Anda. Terlalu banyak merokok, minum alkohol, terlalu lama duduk saat bekerja dan juga kekurangan asupan vitamin untuk tubuh.".
"Ja-jadi saya ma-mandul, dok? Saya tidak akan memiliki anak sama sekali?", tanyaku tak percaya. Bagaikan tersambar petir di siang hari. Aku sangat shock. Ini pasti mimpi.
"Masih ada kemungkinan memiliki anak, namun kemungkinan itu sangat kecil pada Anda. Selama dua tahun ini, Anda telah merusak tubuh Anda sendiri. Kemungkinan memiliki anak hanya satu berbanding seratus juta.", ujar dokter itu.
Aku tidak peduli dengan kata-kata dokter itu. Ia hanya bertugas untuk menenangkan hatiku. Aku pasti… Aku pasti mandul. Argh! Sialan! Seandainya Hana tidak meninggal, aku pasti memiliki keturunan untuk keluarga besar Park. Semua ini salah Jungsoo!
SREEET! Aku berdiri, membungkukkan badanku kepada dokter yang masih setia menjelaskan pencegahan dan pengobatan untukku. Aku sudah tidak peduli dengan semua itu. Aku sudah muak. Muak dengan hidupku.
"Terima kasih atas penjelasannya, dok.", kataku sebelum keluar dari ruangan terkutuk itu. Satu tujuanku saat ini, Jungsoo. Kamu akan merasakan kepedihan yang sama sepertiku, Jungsoo. Aku akan membuat hidupmu menderita.
.
.
FLASHBACK END
[Yoochun's POV END]
.
.
"Tidak! Tidak! Itu bukan anakku. Sudah jelas sekali bukan anakku. Dasar Junsu MURAHAN! ARGH!", teriak Yoochun kesal. Ia memukul ranjang di bawahnya dengan keras.
Tanpa Yoochun sadari airmatanya terjatuh di sisi pipinya. Ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
.
(T.T)…::YuyaLoveSungmin::…(T.T)
.
"Mau kemana, ahjussi?", tanya Sungmin yang sedang memasak di dapur.
Youngwoon sudah berpakaian lengkap, terlihat sangat rapi. "Kerja, Min-ah. Aku akan berkerja.", jawabnya sambil mengeratkan mantelnya.
"Apa? Bekerja?", tanya Kyuhyun yang baru saja kembali dari kamar mandi. "Jangan, ahjussi! Lihatlah perbanmu itu. Kamu masih sakit.", tolak Kyuhyun sambil menuntun Youngwoon duduk di salah satu sofanya.
"Tapi aku harus bekerja. Jika tidak, aku akan dipecat. Peraturan di Jerman lebih ketat daripada yang kamu pikirkan.", paksa Youngwoon bersikeras.
Sungmin mematikan kompornya, ikut bergabung dengan dua orang namja itu. "Ahjussi nggak boleh kerja. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan ahjussi. Pokoknya ahjussi nggak boleh kemana-mana."
Youngwoon berdiri. Ia memaksa akan berangkat kerja. Langkahnya berhenti saat tubuh kekar Siwon menghadangnya. "Berikan aku alamatnya.", ucap Siwon tegas. Youngwoon memasang wajah bingung. "Beri aku alamat tempat ahjussi bekerja.".
"Tidak, Siwon-ah. Pekerjaan ini bukan untuk kalian. Ini untuk orang dewasa sepertiku.", tolak Youngwoon.
SREEET! Kyuhyun dan Sungmin menarik Youngwoon agar duduk kembali. Rasa pusing kembali menyerang kepala Youngwoon tatkala keseimbangannya terganggu seperti itu. "Jangan keras kepala!", bentak Kyuhyun tak sabar. Youngwoon melotot kaget. Belum pernah ada remaja yang berani membentaknya seperti ini.
"Aku sudah pernah bekerja sebagai bartender. Bahasa inggrisku pun tidak buruk. Biar aku menggantikanmu.", tawar Siwon. "Aku tahu pekerjaanmu dari foto dan alat-alat bartender yang kamu miliki, ahjussi.", jelas Siwon sebelum Youngwoon bertanya kembali.
"Hiks… Aku mohon, ahjussi. Hiks… Hiks… Jangan buat aku khawatir.", tangis Sungmin bersimpuh di depan Youngwoon. Ia mengeluarkan jurus puppy eyes miliknya.
Youngwoon menghela napas, tak kuasa menahan serangan dari Sungmin. "Baiklah. Aku akan memberikan alamat dan surat rekomendasinya. Tolong jangan buat keributan di sana ya.", ujar Youngwoon pada akhirnya.
"Ahjussi, dimana keluarga ahjussi?", tanya Sungmin sesaat setelah Siwon berangkat ke bar tempat Youngwoon bekerja. Kyuhyun, Sungmin dan Youngwoon sedang berada di ruang keluarga, berbincang.
Youngwoon tersenyum. Ia mengelus rambut Sungmin sayang. "Mereka semua di Korea.", jawab Youngwoon singkat.
"Lalu kenapa ahjussi ada di sini? Bekerja?", tanya Sungmin penasaran.
"Hush! Min-ah, tidak sopan.", kata Kyuhyun merasa tak enak dengan Youngwoon.
"Tidak apa-apa, Kyu.", balas Youngwoon, masih asyik mengelus rambut Sungmin. "Aku berada di sini untuk mandiri. Berada di Korea hanya akan menyusahkan keluargaku, terutama dengan kekuranganku yang menjadi aib keluarga di sana.", jawab Youngwoon sedih. Ia menatap kakinya yang memang pincang itu.
"Ahjussi, maaf.", sesal Sungmin. "Andai aku punya appa yang baik seperti ahjussi. Aku pasti tidak akan seperti ini.", manja Sungmin sambil membuat wajah sesedih mungkin.
"Cih! Menggelikan. Jangan tunjukkan wajah sok sedihmu itu. Aku jijik.", cibir Kyuhyun risih, sedangkan Sungmin masih bermanja-manja di samping Youngwoon. Sungmin hanya menggerak-gerakkan bibirnya, seakan mencibir Kyuhyun kembali.
Youngwoon tertawa geli mendengar ucapan Kyuhyun. "Sungmin bisa menganggapku sebagai appa kok. Panggil aku appa, ya.", kata Youngwoon lembut.
"Appa!", panggil Kyuhyun dan Sungmin bersamaan.
"Bukan kamu, Kyu. Tapi Sungmin!", tolak Youngwoon dengan death glare mengerikan yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Ya! Kangin-ahjussi jahat sekali.", rengek Kyuhyun manja. Sepertinya sifat egois Kyuhyun keluar lagi.
"Youngwoon! Panggil aku Youngwoon. Hanya Sungmin yang boleh memanggilku Kangin-appa.", bentak Youngwoon galak. Sepertinya ia sangat menganak-emaskan yeoja imut itu.
Kyuhyun cemberut. "Oke deh. Hmm… Ahjussi, siapa yeoja tadi siang? Ada hubungan apa ahjussi dengannya?", tanya Kyuhyun berusaha menguak rasa penasarannya.
Youngwoon menengadahkan kepalanya, memandang ke atap, seakan menembus dimensi tak berbatas dari ingatannya. "Dia hanyalah seorang teman yang sangat aku cintai", ucap Youngwoon misterius.
"Ceritakan pada kami, appa.", paksa Sungmin sambil berbisik kepada Youngwoon. Lagi-lagi Sungmin menggunakan aegyo-nya untuk mendominasi perasaan seseorang. Youngwoon tersenyum mendengar ucapan Sungmin.
.
.
FLASHBACK
LIMA TAHUN YANG LALU
[Youngwoon's POV]
.
.
Aku bekerja di Danke bar sebagai seorang bartender sudah hampir satu tahun. Bar ini selalu ramai oleh berbagai orang yang memiliki tujuan berbeda, diantaranya adalah hubungan intim dengan para host di sini. Pekerjaanku mudah sekali. Aku hanya perlu menyiapkan minuman untuk para pelanggan yang memesan, walau sesekali aku harus mengurus beberapa dari mereka yang mabuk.
Malam ini pelanggan sangat banyak berdatangan. Boss pun sudah menambah pekerjanya. Sepertinya bar ini semakin terkenal saja. Aku sudah berganti pakaian, bersiap untuk pulang. Mataku terkunci pada sesosok yeoja yang sangat cantik dan manis. Ah, aku tidak tahu menggambarkannya bagaimana. Ia benar-benar indah. Aku bagaikan melihat sayap malaikat dari punggungnya, saat ia melontarkan senyuman kepada temannya. Apakah ia host baru di sini?
Setiap malam aku selalu mencari sosok itu. Sosok wanita cantik yang namanya saja tidak aku ketahui. Mataku tak pernah lepas dari setiap yeoja yang berlalu lalang di dekat meja bar-ku. Aku tidak menemukannya. Ia tidak pernah dapat kutemukan dimana pun. Aish!
Setahun sudah sejak aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sosok cantik itu. Aku sudah menyerah. Mungkin ia tidak tercipta untukku. I am so pathetic!
"A glass of wine, please.", ucap seseorang membuyarkan lamunanku.
Aku segera membuatkan campuran wine terbaik milikku. Tanganku bergetar saat aku menatap wajah di hadapanku. Suasana temaram bar tak membuat diriku kesulitan mengenali wajah indah ini. Dia… Dia… Malaikatku.
"Halo? What's wrong?", tanya yeoja itu dengan logat bahasa inggris yang aneh. Ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. "Babbo.", sindir yeoja itu dengan bahasa Korea. Ia mengambil gelas wine itu dari tanganku, lalu berlalu pergi dari hadapanku.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali, merutuki kebodohanku. Aish! Kenapa tidak kutanya namanya? Babbo chorom!
Sejak malam itu, malaikatku lebih sering datang ke bar. Hampir setiap saat aku mencari sosoknya, menikmati keindahannya dari balik meja bar. Namanya Park Jungsoo. Hanya itu yang aku tahu, karena semua host tidak ada yang mengetahui jati diri yeoja itu sebenarnya. Ia sangat misterius. Jungsoo terlihat sangat rapuh dan butuh dekapan sayang. Entahlah kenapa aku merasakan seperti itu. Aku ingin sekali mendekatinya, tapi siapa yang mau dengan namja cacat sepertiku ini. Aku takut ia akan mencampakkanku begitu saja.
Dua tahun menjadi pengagum rahasia seorang Park Jungsoo, membuatku semakin tenggelam dalam perasaan cintaku. Aku memutuskan untuk mengungkapkan semua perasaanku saat ini. Aku sudah bertekad untuk mendapatkannya. Setidaknya aku tahu ia adalah wanita baik-baik dan tidak pernah melayani napsu birahi pelanggan di sini. Ah, aku semakin mencintainya.
Malam ini, semua karyawan sudah bergegas pulang ke rumah masing-masing. Aku mendengar suara isak tangis dari belakang bar. Aku menyeret kaki pincangku, berusaha mencari tahu. Bulu kudukku berdiri saat suara itu semakin keras terdengar.
Jungsoo?
"Chogiyo? Neo gwenchana?", tanyaku dengan bahasa Korea.
Jungsoo mendongakkan kepalanya, menghapus airmatanya yang masih mengalir dengan deras. Ia berusaha pergi dari hadapanku, namun aku menahan tangannya. Aku tidak ingin bertindak bodoh kali ini. Wajah Jungsoo menunjukkan rasa sepi, sedih dan menderita yang teramat dalam. Hatiku terenyuh. Sebenarnya apa yang terjadi dengan yeoja ini.
"Please, don't disturb me. Don't hurt me.", ucapnya ketakutan. Tubuhnya bergetar. Aku terpaku. Sebegitu menakutkankah diriku?
"Tidak. Aku tidak akan menyakitimu. Choneun Youngwoon imnida.", ucapku memperkenalkan diri.
Jungsoo memandangku, mecari kebenaran di dalam pupil mataku. Ia tersenyum seakan tak menemukan apa yang ia takutkan sedaritadi. "Park Jungsoo imnida", balasnya.
Sejak malam itu aku menjadi dekat dengan Jungsoo. Hampir setiap malam ia mampir ke meja bar-ku hanya untuk memesan minuman. Ia jarang sekali bercerita mengenai kehidupannya. Jungsoo benar-benar bisa menutup rapat dunianya. Hingga suatu malam aku menemukan luka memar di sekujur tubuhnya. Ia tidak juga mau menceritakan seluruh kisahnya, namun aku tetap memaksanya. Aku membiarkan ia mabuk, sehingga ia kehilangan kontrol atas pikiran dan perasaannya.
Jungsoo menumpahkan semua keluh kesahnya. Ia menceritakan bahwa ia telah menikah. Kehidupan rumah tangganya yang indah dengan suami, seorang manajer perusahaan besar. Semua hidupnya berubah sejak mereka pindah ke Jerman dan anaknya, Hana, meninggal dalam sebuah kecelakaan. Suaminya menjadi sangat acuh terhadapnya. Terlebih lagi akhirnya suaminya memaksanya untuk bekerja di bar, menjajakkan diri sebagai wanita penghibur, agar mereka masih bisa menikmati kehidupan di negara ini. Suami Jungsoo telah dipecat dari kantornya enam tahun lalu. Walau begitu, Jungsoo masih berharap suaminya berubah. Satu kenyataan pahit yang harus aku terima, Jungsoo masih sangat mencintai suaminya itu.
.
.
FLASHBACK END
[Youngwoon's POV END]
.
.
Youngwoon meneteskan airmatanya kala ia mengingat masa lalunya. Sudah dua tahun ini ia mencoba memberi pengertian kepada Jungsoo. Ia selalu memberikan rasa cintanya yang tulus kepada Jungsoo. Ia tidak berharap Jungsoo balik mencintainya, namun ia hanya berharap Jungsoo bahagia pada akhirnya.
Sungmin memeluk Youngwoon dengan sayang. Ia mengerti perasaan Youngwoon. Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh eomma-nya. "Appa pasti bisa membuat Jungsoo bahagia. Minnie yakin itu.", ucapnya berusaha memberi ketenangan.
"Terima kasih, Min-ah.", balas Youngwoon sambil mengelus punggung Sungmin dengan sayang. Mereka berdua terlihat seperti ayah-anak yang sebenarnya.
Sedangkan Kyuhyun termenung dalam pikirannya. 'Jadi itulah penyebab semua perban di tubuhnya. Aku harap Siwon tidak membuat keributan, jika ia bertemu dengan yeoja itu.'
.
.
? …::TBC::… ?
.
.
