Angin musim dingin berhembus lembut menerbangkan salju yang turun perlahan dari angkasa. Seluruh daratan menjadi sewarna putih suci bak gumpalan kapas yang mengapung dilangit.
Dihari dingin seperti ini, banyak orang yang akan memilih untuk berdiam diri di dalam rumah dan berkumpul bersama keluarga untuk mencari suasana hangat ditengah dinginnya musim.
Nafasnya tak beraturan dengan uap putih yang mengepul ketika ia menghembuskan nafasnya. Matanya memerah begitu juga dengan telinga dan pipinya, namun dengan alasan berbeda. Bahkan cuaca dingin yang menusuk kulitnya tidak mampu untuk mendinginkan matanya yang mulai memanas.
"Kim Taehyung.. tinggalkan dia."
Suara sedingin es yang terlontar dari lelaki didepannya membuat hatinya kembali sesak. Bahkan sudut matanya sudah membendung air yang siap jatuh bila ia mengedipkan matanya.
"Aku tidak akan meninggalkannya." ucapnya dengan tegas walau tersirat ketakutan disana.
Senyuman remeh terukir begitu lelaki itu mendengar perkataannya. Irisnya menggelap menandakan bahwa lelaki itu kecewa dengan apa yang didengarnya.
"Aku ingin menyelesaikan ini dengan cepat, namun kau membuatnya menjadi sulit. Seperti yang kuduga, kau gadis keras kepala."
"Mengapa kau memaksaku untuk meninggalkan Taehyung?"
Lelaki itu tersenyum miring, "Karena kau hanya orang miskin. Seharusnya kau tau itu. Kau tidak pantas bersama dengan Taehyung, Irene-ah."
Irene mencebik, "Aku tidak peduli, setidaknya Taehyung mencintaiku." ucapnya tegas
Lelaki itu tertawa keras begitu mendengar penuturannya. Suara tawanya bahkan terasa menggema didalam pikiran Irene, tawa yang dingin.
"Kau sebegitu yakin Taehyung mencintaimu?" alis lelaki itu terangkat seolah mengolok Irene.
"Aku mengatakan ini padamu sekali. Tinggalkan Taehyung atau aku bunuh ibumu." ancamnya.
Tubuh Irene menegang. Pipinya sudah basah karena air mata dan tangannya terkepal mencoba menahan emosinya. "Kau mengancamku?" tanyanya sengit.
"Aku lebih suka menyebutnya 'memberi pilihan'. Kau bisa memilih salah satunya. Dan yang harus kau tau, aku tidak bermain-main dengan kata-kataku."
Kepala gadis itu tertunduk dalam hingga tetesan air matanya jatuh dan menyatu dengan gumpalan salju dibawah kakinya. Bibirnya bergetar takut.
"Baiklah." ucapnya pelan. Gadis itu hanya tidak ingin seseorang menyakiti ibunya, karena hanya ibunya harta yang dimilikinya.
Lelaki itu tersenyum lebar. Kakinya melangkah dan berhenti tepat didepan gadis itu. Tangannya menepuk puncak kepala Irene pelan.
"Pilihan bagus. Setelah ini aku akan mengirimkan uang untukmu. Pergi dan lanjutkan sekolahmu di Jeju. Aku akan mengirimkan uang setiap bulan. Kau hanya perlu memastikan jika kau dan Taehyung berakhir dan dia tidak boleh mengetahui dimana kau berada. Kau mengerti?"
Irene mengangguk pelan. Setelahnya lelaki itu menepuk bahunya sebelum melangkah pergi. Kepalan tangan Irene mengeras dan air matanya kembali menetes.
"Park Jimin sialan!"
.
.
Creepy Guy
Chapter 9: Who is the Creepy Guy?
.
.
Jungkook menggeliat dalam tidurnya. Matanya mulai terbuka pelan. Samar-samar ia bisa melihat figur Taehyung yang berbaring di sebelahnya. Tiba-tiba pembicaraannya dengan Namjoon kemarin kembali terputar dalam otaknya bagai kilas balik film.
Jungkook menggeser tubuhnya hingga kini ia bisa melihat wajah lelaki yang menjadi suaminya dengan jelas. Tampan, seperti biasanya.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" gumamnya pelan.
Entah mengapa Jungkook merasa hatinya sesak dan matanya memanas. Dia bukanlah seorang lelaki yang cengeng, namun hanya karena Taehyung ia bisa menjadi selemah ini.
"Aku mencintaimu." imbuhnya
Nafasnya berhembus kasar. Tidak seharusnya ia bersikap seperti ini.
Tangannya terulur menyentuh bahu Taehyung lalu mengguncangnya pelan.
"Taehyung sunbae.. bangunlah.." gumamnya berkali-kali hingga tubuh lelaki itu menggeliat tak nyaman.
Perlahan mata Taehyung mulai terbuka. Saat pandangan mereka bertemu, lelaki Kim itu tersenyum lalu menarik Jungkook kedalam dekapannya.
"Selamat pagi, sayang."
Jungkook memejamkan matanya begitu mendengar suara dalam Taehyung ditelinganya. Ia sudah terbiasa mendengar suara ini menyapa paginya dan Jungkook ingin mendengar suara ini setiap saat sepanjang hidupnya.
Punggung tangan Taehyung menyentuh pipinya pelan membuat Jungkook kembali membuka matanya dan menatap iris tajam suaminya.
"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"
Jungkook terdiam untuk beberapa saat. Membiarkan tangan Taehyung menyentuh seluruh permukaan wajahnya. Ia menatap dalam mata suaminya. Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang menggelayuti hatinya disana. Apakah Taehyung benar-benar mencintainya?
"Bisakah?"
Jungkook tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Ia mencoba yakin bahwa Taehyung tidak akan menyakitinya.
"Aku ingin kau tetap berada disampingku. Apapun yang terjadi. Aku tidak ingin kau pergi."
Jungkook meneguk ludahnya kasar saat melihat amarah yang terpancar dalam mata suaminya. Ia pikir pasti terjadi sesuatu kemarin.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Lagipula aku tidak berhak meninggalkanmu setelah kau membantu usaha ibuku kembali." ucapnya lembut.
Tangan Jungkook membelai pipi suaminya pelan lalu mengecupnya sebelum kembali berbisik, "Aku akan tetap bersamamu."
Begitu mendengar kalimat yang mengalun lembut dari bibir pujaannya, Taehyung tersenyum lebar. Entah siapa yang memulai, kini bibir mereka bertemu.
Taehyung melumat bibir lelakinya pelan. Kini tubuhnya sudah berada diatas tubuh Jungkook. Dengan satu tangan yang menompang tubuhnya dan tangan lain yang menyentuh leher Jungkook.
Mata mereka terpejam menikmati ciuman mereka. Bahkan tangan Jungkook sudah melingkar manis di leher Taehyung, meremas pangkal rambut lelaki itu pelan.
Lidah pemuda Kim menyelip masuk kedalam mulut lelakinya. Membelai setiap geraham dan gusi dengan lidahnya sebelum membelit lidah istrinya. Jungkook melenguh tertahan begitu Taehyung menyesap lidahnya dengan tangan yang meremas pinggulnya.
Taehyung merasa hormonnya tidak bisa dikendalikan lagi. Ia ingin memiliki Jungkook saat ini.
Setelah beberapa saat Taehyung mengakhiri ciuman mereka menyisakan seuntai benang saliva disudut bibir mereka lalu terputus dan menempel dileher putih Jungkook.
Taehyung menelan ludahnya susah payah. Mencoba menahan gejolak dalam dirinya. Mata tajamnya menatap lelaki yang berada dalam kukungannya. Bibirnya kembali mengecup bibir Jungkook.
"Bolehkah?" bisiknya diatas bibir Jungkook.
Bibir pujaannya mengulum senyum. Tangan Jungkook yang masih melingkar dilehernya mengusap tengkuknya pelan.
"Selama kau berjanji akan melakukannya perlahan."
Taehyung kembali mempertemukan bibir mereka. Memberikan ciuman yang lebih menuntut dari sebelumnya. Dengan senyuman disela ciuman mereka.
Tangannya menyelip kedalam piyama yang dikenakan Jungkook dan meraba perut istrinya hingga tubuh itu terasa sedikit menegang.
Sentuhan Taehyung begitu lembut menggoda setiap bagian kulit tubuhnya. Jungkook terbuai dengan perlakuan Taehyung. Bahkan saat lelaki Kim itu memasukinya untuk kedua kalinya, Jungkook merasa bahwa ada ketulusan yang terselip dalam hubungan mereka saat ini.
.
.
"Gila! Bagaimana bisa? Wahh.."
Hoseok tak henti-hentinya bicara tak jelas setelah mengetahui fakta bahwa Taehyung sudah meniduri Jungkook. Hoseok bukan lelaki yang anti-sex, hanya saja Jungkook masih berumur 17 tahun dan Taehyung sudah mengotori lelaki sepolos itu begitu saja. Ia tak habis pikir temannya seberani itu.
"Aku tidak menyangka kau melakukannya sejauh itu. Maksudku, aku pikir kau-"
"Sudahlah. Lagipula Jungkook seorang lelaki. Tidak akan terjadi masalah." Yoongi menyela malas. Sejujurnya telinganya sudah panas mendengar ocehan temannya sejak tadi.
Hoseok menatap Yoongi sengit. "Kau tau, beberapa lelaki juga bisa hamil. Aku pernah membacanya."
Yoongi memutar bola matanya malas. Bagaimanapun meladeni Hoseok adalah opsi yang salah. "Terserah." ucapnya.
"Sudahlah. Untuk apa kalian membahas hubunganku? Itu urusanku. Kita selesaikan urusan kita saja." Taehyung menengahi. Mencoba mengalihkan perhatian teman-temannya.
Yoongi menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa yang didudukinya. Mereka sedang berada dimarkas dan menunggu Namjoon yang sebentar lagi sampai.
"Kakekmu benar-benar akan membawa Irene kembali?"
Taehyung mengangkat bahunya pelan. "Entahlah. Tapi begitu yang dikatakan padaku."
"Itu bagus kan. Kau bisa kembali bersama Irene." Hoseok menatap Taehyung bersemangat. "Itu akan lebih mudah jika kakekmu yang melakukannya." imbuhnya
Yoongi menatap Hoseok sebentar lalu menatap Taehyung. Nafasnya berhembus kasar. Ia tau lelaki Kim itu menyembunyikan sesuatu dari mereka. Dan setelah melihat reaksinya, Yoongi tau Taehyung tidak benar-benar mencintai Irene.
"Jika Irene datang, bagaimana dengan Jungkook?" Yoongi bertanya pelan. Pandangan mereka bertemu dan tersirat kebingungan dalam mata Taehyung.
"Entahlah."
Yoongi mendengus pelan, "Hanya lakukan apa yang ingin kau lakukan, Tae. Jangan ragu."
"Jadilah egois untuk kali ini." lanjutnya
Pandangan mereka teralih saat pintu ruangan itu dibuka dengan kasar. Namjoon masuk dan berjalan terburu.
"Taehyung-ah, Irene sudah kembali."
Taehyung terdiam. Matanya menatap tak percaya kearah Namjoon.
"Dimana dia sekarang?" tanyanya pelan.
"Irene dan kakekmu akan pergi ke apartemenmu."
Taehyung berdiri dengan cepat lalu menyambar kunci mobilnya yang berada dimeja. Pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Setelah pintu ruangan itu tertutup. Mereka yang tersisa diruangan itu saling memandang.
"Apa Taehyung tidak sabar bertemu Irene?"
Yoongi mendengus mendengar ucapan Hoseok. "Kau masih belum mengerti juga?"
Hoseok hanya mengangkat bahunya acuh. "Namjoon-ah lalu bagaimana urusan kita?"
.
.
Kepalanya tertunduk dalam dengan tubuh yang berdiri kaku dan tangan yang saling bertautan didepan tubuhnya. Tidak ada sepatah katapun yang berhasil terlontar dari bibirnya begitu ia tau bukan Taehyung lah yang datang.
Sebelumnya Jungkook sedang mengusir kebosanannya dengan mengganti-ganti channel televisi yang ditontonnya. Lalu seseorang terdengar menekan password apartemen dan ia menduga itu adalah suaminya. Jungkook begitu senang karena akhirnya ia tidak akan mati bosan sendirian. Namun saat melihat siapa yang berjalan masuk dan mendekatinya, Jungkook sama sekali tidak tau harus berekspresi seperti apa. Tuan Besar Kim kini berada didepannya bersama dengan seorang gadis yang sangat dikenalnya, Irene.
"Sepertinya kau menikmati tinggal disini." suara tegas itu menyapa gendangnya.
Jungkook menelan ludahnya bulat-bulat. Melalui bulu matanya ia melirik Irene yang terlihat anggun dengan dress biru langit yang membalut tubuh rampingnya. Benar-benar tipikal gadis idaman.
"Kau masih ingat kan hanya bersamanya sampai ia mendapatkan wanitanya?"
Jungkook masih terdiam. Tentu saja ia mengingatnya dengan jelas. Bahkan berkali-kali Jungkook mengingatkan dirinya bahwa akhirnya ia akan dibuang seperti sampah. Namun, perhatian Taehyung padanya membuatnya lupa dimana ia harus berpijak.
Kepalanya mengangguk pelan, "Te-tentu." jawabnya
"Bersiaplah untuk pergi, karena wanitanya sudah berada disini."
Jungkook mengangkat wajahnya. Menatap dua orang yang berdiri didepannya bergantian. Irene hanya terdiam menatapnya tanpa berani mengatakan apapun, apa gadis itu masih mencintai Taehyung?
Gadis itu lebih dulu memutuskan kontak mata mereka dan menghadap lelaki paruh baya disebelahnya.
"Harabeoji, bolehkah aku bicara sebentar dengannya?" tanya gadis itu dengan suara yang teramat lembut.
Jungkook menganga tak percaya begitu melihat lelaki yang paling terhormat di keluarga Kim tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Maka setelah mendapatkan persetujuan, Irene meminta Jungkook untuk bicara dengannya.
Jungkook hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan mendahului dan diikuti Irene yang mengekor dibelakangnya. Karena Jungkook pikir gadis itu akan membicarakan hal yang pribadi maka Jungkook mengajaknya untuk berbicara dikamar.
Irene memandang seisi kamar dengan takjub, karena memang Taehyung menyediakan fasilitas yang begitu lengkap untuk Jungkook. Gadis itu memutuskan untuk duduk ditepi ranjang dan Jungkook yang duduk di kursi belajarnya yang sudah dihadapkan kearah kakak sepupunya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, noona?" ucapnya sopan.
Bagaimanapun, Irene adalah gadis yang dihormatinya sampai saat ini. Maka Jungkook selalu berusaha bersikap sopan pada kakak sepupunya.
Irene menghembuskan nafasnya pelan. Matanya membidik tepat dikedua iris kelam adik sepupunya. Bibirnya bergetar ragu, namun kalimat itu tetap berusaha dilontarkannya.
"Aku mencintai Taehyung..."
"...Aku tau Taehyung pasti membuatmu kesulitan. Saat itu banyak hal yang terjadi dan aku terpaksa meninggalkannya. Namun sekarang aku sudah lebih baik. Kakek Taehyung sudah menjamin semuanya dan aku ingin kembali bersamanya. Setelah ini aku pastikan kau baik-baik saja, Jungkook-ah." gadis itu menjelaskan dengan lembut.
Jungkook terkekeh pelan lalu lambat laun menjadi tawa yang begitu hambar. Matanya menatap nyalang kearah Irene. Menatap gadis itu penuh luka yang kentara. Tidak ada lagi rasa hormat yang terselip dalam tatapannya.
"Kenapa baru sekarang?" tanyanya serampangan.
Tangannya mengepal mencoba menahan emosi yang tiba-tiba saja meluap dalam dirinya. Saat ia mulai bisa mengendalikan Taehyung, saat ia mulai merasa nyaman dengan Taehyung yang menemani harinya. Mengapa baru sekarang gadis itu datang bak pahlawan yang ingin menyelamatkannya?
Irene mengernyit. Tangannya terulur mencoba menggapai tangan adik tersayangnya, namun Jungkook lebih dulu menepisnya.
"Jungkook-ah, apa maksudmu?"
Gadis itu menatap sendu. Matanya menatap kedua iris kelam yang berkilat karena air mata yang mulai menggenang disana. Rasa bersalah tiba-tiba menjalar kedalam hatinya.
Jungkook menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar, mencoba menelan kembali air mata yang hampir menetes.
"Kenapa baru sekarang kau datang? Sebelumnya aku tersiksa bahkan hampir mati menghadapi lelaki kasar seperti Taehyung. Dan begitu aku berhasil mengendalikannya, kau datang seolah menjadi malaikatku?"
Nafasnya kembali berhembus kasar. "...Kau benar-benar mencintainya? Hanya karena banyak hal terjadi padamu kau pergi begitu saja dan membuatku berada di posisi yang sulit. Dan setelah semuanya menjadi lebih baik untuk apa kau kembali datang?"
Dadanya naik-turun bersamaan dengan nafasnya yang berhembus menggebu. Ini pertama kalinya Jungkook bicara dengan nada sekasar ini pada Irene. Kedua irisnya berkilat. Jungkook menatap gadis itu tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya, seolah mengunci mata mereka agar tetap saling bertemu.
"Kau.. mencintai Taehyung?" Irene berucap terbata. Bibirnya menggigil begitu mengucapkan kalimat itu.
Jungkook menggigit bibir bawahnya bersamaan dengan air mata yang menetes dari sudut netranya. "I-iya aku mencintainya."
Irene terlihat terkejut begitu mendengar pernyataan gamblang dari adik sepupunya. Namun gadis itu mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Kau tau, keluarga Kim tidak akan menerima lelaki sebagai istri Taehyung."
Jungkook mengulum bibirnya menjadi seringaian tipis. "Secara tidak langsung kau ingin aku untuk -menyerah?" sebelah alisnya terangkat menandakan bahwa ia sedang bertanya.
Irene menggeleng pelan, "Aku tidak ingin kau terluka, Jungkook-ah."
Jungkook kembali tertawa. Entah mengapa ia merasa kakak sepupunya menjadi lebih lucu setelah pergi selama tiga tahun.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu."
Pemuda itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. Semakin lama berbicara dengan gadis itu membuat emosinya mendidih. Maka Jungkook memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
"Jungkook-ah."
Langkahnya terhenti begitu gadis itu kembali melontarkan namanya. Jungkook terdiam pada posisinya, sama sekali tidak ingin berbalik untuk menatap kakak sepupunya.
"Jika itu maumu, aku tidak akan berbelas kasihan lagi."
Jungkook memejamkan matanya erat. Sebenarnya ia takut, takut jika Taehyung akan meninggalkannya untuk kembali bersama Irene. Jungkook takut jika cintanya akan dikhianati. Namun begitu kata-kata Taehyung kembali terngiang dipendengarannya. Jungkook ingin egois untuk kali ini saja.
"Aku ingin kau tetap berada disampingku. Apapun yang terjadi. Aku tidak ingin kau pergi."
Matanya kembali terbuka bersamaan dengan keyakinan yang menjalar keseluruh titik dalam dirinya. Walaupun ia tidak tau bagaimana kisah mereka berakhir, namun Jungkook tidak akan pernah menyesal. Setidaknya ia pernah mencoba untuk mempertahankan orang yang dicintainya.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu. Jadi, kau tidak perlu repot untuk melakukannya."
.
.
Taehyung melajukan mobilnya dengan cepat. Bahkan ia menghiraukan rambu lalu lintas yang dilaluinya. Dalam pikirannya hanya mengkhawatirkan keadaan Jungkook.
Pedal rem diinjaknya kuat hingga suara decitan dari ban mobilnya yang bergesekan dengan aspal terdengar jelas. Nafasnya memburu begitu melihat mobil tak asing berada didepan gedung apartemennya. Mobil Tuan Besar Kim.
Taehyung segera keluar dari mobil dan melangkah tergesa menuju kamar apartemennya. Dalam hatinya terus berdoa, semoga saja kakeknya tidak melakukan apapun pada Jungkook.
Bahkan saat kepala pelayan Kim mencoba menghalangi Taehyung untuk masuk ke apartemennya, pemuda itu tidak peduli. Ia sedikit mendorong tubuh pelayannya lalu menekan password pada intercom dengan tergesa.
Begitu Taehyung berada di ruang tengah apartemennya, ia hanya melihat sang kakek yang sedang duduk santai. Pandangannya berpendar, mencoba mencari sosok istrinya.
"Dia sedang bicara dengan Irene."
Taehyung kembali menatap kakeknya. Kini pandangannya berubah sengit. "Kenapa kakek membawa Irene juga?"
"Memang apa salahnya? Bukankah kau seharusnya senang?"
Taehyung menelan ludahnya bulat-bulat. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Menerima Irene dan melepaskan Jungkook atau mengatakan kebenarannya dan kakeknya akan melukai Jungkook.
Pandangan mereka teralih begitu suara pintu terbuka menyapa gendang mereka. Jungkook berdiri diujung tangga dan tersenyum hangat kearah suaminya.
Kakinya melangkah perlahan menuruni anak tangga dengan pandangan yang tak terlepas dari paras tampan Taehyung. Dalam hatinya, Jungkook merasa Taehyung berhak mendapatkan yang lebih baik darinya.
Namun egonya lebih menguasainya saat itu hingga bibirnya mengucapkan dengan lantang tanpa keraguan.
"Aku mencintai Taehyung, dan aku tidak akan pergi walaupun Irene tinggal disini."
Bibirnya mengulum senyum tipis menatap wajah terkejut Taehyung sebelum berbalik menatap serius kearah Tuan Besar Kim.
Nafasnya berhembus pelan lalu kembali mengukirkan senyum. "... Aku akan tetap menjadi jalang Kim Taehyung, apapun yang terjadi."
Jungkook tau saat mengatakan hal itu ia tidak bisa mundur lagi. Apapun yang terjadi kelak karena keputusannya saat ini, Jungkook tidak boleh menyesal.
.
.
.
Jungkook tersenyum tipis melihat pemandangan didepannya. Sedangkan Taehyung menatap penuh rasa bersalah kearahnya.
Hampir 15 menit berlalu dan Irene tidak juga melepaskan pelukannya pada Taehyung. Terlalu merindukan Taehyung, katanya.
"Irene bisa kau lepaskan aku?"
Gadis itu menjauhkan sedikit tubuhnya namun enggan melepaskan pelukannya pada tubuh Taehyung.
"Maafkan aku, Tae." gumamnya
Taehyung mengangguk samar, "Tidak masalah. Kita bahas ini nanti. Aku harus bicara dengan Jungkook."
Irene menoleh menatap Jungkook dengan tatapan tanpa arti yang jelas lalu kembali menatap kekasihnya.
"Baiklah." ucapnya sebelum melepaskan pelukannya.
Taehyung menghembuskan nafas lega. Namun sebelum ia sempat mengatakan apapun, Jungkook lebih dulu bangkit dan menatapnya dengan senyum yang mengukir.
"Aku harus pergi ke toko buku." ucapnya
Jungkook membungkukkan tubuhnya sebentar sebelum melangkah pergi. Bahkan ia tidak peduli dengan suara Taehyung yang memanggilnya berkali-kali.
.
.
.
Apakah dia benar-benar mencintaiku?
Atau aku hanya jadi pelampiasannya?
Banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya. Ditambah suara lembut Taehyung saat berbicara dengan Irene, otaknya menjadi penuh. Suara itu seakan berdenging ditelinganya membuat hatinya teriris.
"Sejak kapan ia menjadi selembut itu? Bahkan aku harus melalui hal yang menakutkan untuk mendapat perlakuan lembut darinya."
Jungkook kembali tersenyum. Senyuman remeh untuk dirinya sendiri. Jungkook sesungguhnya merasa takut jika apa yang dipilihnya membuatnya terluka dikemudian hari.
Bagaimana jika Taehyung lebih memilih Irene dan pergi meninggalkannya?
.
.
"Cari semua hal yang berhubungan dengan jalang itu, tanpa satupun yang terlewat. Berikan aku informasinya besok."
Kepala pelayan Kim hanya menunduk patuh pada perintah tuannya. Menjadi pelayan di istana ini selama lebih dari 20 tahun membuatnya mengerti seluk beluk keluarga Kim. Apapun itu.
"Saya akan melakukan yang terbaik, tuan." ucapnya sopan.
Ia kembali membungkuk sebelum melangkah menjauh, bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. Namun saat tangannya berhasil meraih daun pintu, suara tuan besar Kim kembali menginterupsi.
"Dan Namjoon.. sepertinya dia tau banyak informasi. Kau bisa bertanya padanya juga."
Tanpa disadarinya, tangannya meremat kuat pegangannya pada daun pintu. Nafasnya berhembus pelan.
"Baik, tuan."
.
.
.
Namjoon menengadahkan kepalanya menatap bintang yang bertabur indah dilangit. Angin dingin yang menerpa bahkan tidak membuatnya kedinginan.
"Daritadi?"
Kepalanya menoleh menatap seorang lelaki yang berdiri didekatnya. Bibirnya tersenyum tipis bersamaan dengan gelengan kepalanya.
Lelaki itu mengambil posisi duduk disebelahnya. Tak henti menatapnya dengan raut khawatir membuat Namjoon terkekeh geli.
"Aku baik-baik saja, Seokjin-ah."
Seokjin mendengus, "Pembohong." Bibirnya mengukir senyum tipis. "... Orang dewasa lebih sering berbohong kan. Dan suka berlaku seenaknya" tuduhnya
Namjoon terkekeh pelan. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut Seokjin. "Kau lucu sekali."
"Ya! Jangan mengacak rambutku!"
Namjoon tertawa keras. Hanya melihat wajah Seokjin membuatnya menjadi lebih baik, bahkan ekspresi marah lelaki itu terlihat begitu cantik dimatanya.
"Terimakasih."
Seokjin menatap Namjoon penuh tanya. "Kenapa tiba-"
Tubuhnya menegang begitu Namjoon tiba-tiba memeluknya erat. Kepala lelaki itu bersandar pada bahunya. Pelukan Namjoon semakin mengerat seakan mencoba menghancurkan seluruh luka dan gundah dalam hatinya.
"Ka-kau sungguh baik-baik saja?"
Namjoon mengangguk pelan walaupun pelukkannya pada tubuh Seokjin tidak terlepas sedikitpun. "Aku baik-baik saja." ucapnya parau
Seokjin merasa hatinya terenyuh begitu mendengar suara Namjoon. Entah mengapa Seokjin merasa sesuatu terjadi pada lelaki itu. Tanpa ia sadari tangannya terangkat dan membalas pelukan Namjoon dengan sama eratnya.
"Semuanya akan baik-baik saja."
.
.
.
Bersambung..
.
.
.
Bonus story:
Beberapa jam yang lalu..
"Kau tau kan Tuan Besar Kim lebih kuat darinya. Bahkan ayahnya tidak bisa mengalahkan kuasanya. Jangan membantah dan ikuti saja perintah appa."
Namjoon mengepalkan kedua tangannya erat. Matanya memejam erat begitu emosi menguasai dirinya.
"Aku tidak bisa melakukannya." ucapnya parau
"Namjoon-ah."
"Aku tau. Tuan Kim yang membiayai seluruh kehidupan kita selama ini. Bahkan menjadikan appa sebagai kepala pelayan. Aku tau kita harus mengabdi padanya. Namun untuk mengkhianati Taehyung dengan memberikan seluruh informasi yang aku punya, aku tidak bisa. Maafkan aku."
Namjoon membungkukkan tubuhnya cukup lama lalu melangkah pergi meninggalkan ayahnya. Ia takut jika harus berlama-lama bicara dengan lelaki yang dihormatinya. Namjoon terlalu takut membuat ayahnya terluka.
.
.
.
Jika kau tidak melakukan apa yang ayah perintahkan. Orang itu akan terluka. Kim Seokjin, kan?
Namjoon terkekeh pelan begitu membaca pesan yang dikirimkan ayahnya. Ia kembali membaca lamat-lamat isi pesan tersebut lalu tawa keras melantun dari bibirnya.
Namjoon tertawa tanpa henti. Bahkan saat airmatanya mengalir membasahi pipinya, ia tak juga berhenti.
.
.
.
Bukankah terkadang orang dewasa bertindak sesuka hati mereka tanpa memikirkan perasaan orang lain?
.
.
Author's Note:
Maaf, karena cerita ini ngaret gak ketulungan.
Ceritanya makin gaje gak sih wkwkwk
Aku pikir banyak yang udh bosen sama cerita ini makanya agak mager lanjutinnya /tabok/
tapi bakal aku usahain bikin sampe tamat yaaa
Jangan lupa reviewnyaa
Thanks
Aii-nim
2017.08.12
