Feliciano menghela napas saat matanya memandangi program-program rumit yang terpampang di laptopnya. Sudah beberapa jam, dilihat dari jarum jam yang berada di samping laptopnya yang kini menunjukkan waktu tengah malam, dia mencoba untuk melacak keberadaan Matthew sejak dia diculik Francis, tapi tetap hasilnya nihil.

Dia menyandarkan diri di kursi yang dipakainya duduk. Sudah sejak tadi dia berusaha, tapi tetap saja dia tak bisa menemukan keberadaan Matthew. Di mana sebenarnya dia dan ke mana Francis membawanya? Apa Francis menyembunyikannya di tempat terpecil hingga tempat itu tak ada di database komputernya atau dia menyembunyikannya di tempat yang mencolok, kelewat mencolok, hingga Feliciano tak pernah berpikir dia akan bersembunyi di sana? Yah, yang mana pun juga jawabannya, yang jelas sampai sekarang tak ada sedikitpun informasi yang dia dapat soal Matthew.

Feliciano mengetik sesuatu di laptopnya sebelum menguap sejenak dan membiarkan kepalanya terkulai lemas di meja kerjanya, merasakan dingin kaca meja itu menyusup ke dalam tubuhnya, memberikan perasannya nyaman yang menenangkan. Dia memandang komputernya sejenak. Ah biarlah, aku hanya perlu istirahat sejenak, komputerku juga akan memberitahuku kalau menemukan sesuatu…tidur dua atau tiga menit tak akan masalah, kan…tidur sebentar untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja…

Dan dia pun memejamkan matanya dan tertidur, pergi untuk bermain-main di dunia mimpinya yang indah dan damai.

Ludwig menghela napas panjang saat dia menaiki tangga ke lantai dua menuju kamarnya dan Feliciano setelah selesai membereskan sisa makan malam dan ruangan lantai bawah. Setelah Matthew diculik, memang otomatis pekerjaan mengurusi rumah dan dapur beralih padanya karena mana mungkin kan dia menyerahkan pekerjaan itu pada Alfred dan Gilbert yang masih sangat emosional pada Francis dan sekarang emosi mereka tidak stabil, kadang naik kadang turun itu? Yang ada bisa-bisa piring dan gelas dibanting hancur oleh mereka berdua. Menyerahkan pada Arthur juga tidak mungkin, karena pemuda Inggris itu buta kehidupan dapur, yah, maklum, di rumahnya di keluarga Kirkland, dia punya Irisha, kakak perempuannya yang bekerja mengurus rumah dan di sini pun dia punya Matthew, jadilah secara otomatis, dia tidak pernah menjejakkan kaki ke dapur dan melakukan pekerjaan dapur. Dan Feli…? Tidak perlu ditanya, pemuda itu selalu sibuk bekerja mencari keberadaan Matthew, bahkan (yang sungguh membuat Ludwig kesal) pemuda Italia itu sudah mulai lupa makan dan tidur, sesuatu yang jelas kalau diteruskan akan berakhir jelek bagi tubuhnya.

Saat dia tiba di kamarnya, bola mata biru yang selalu dingin bagai es itu bagaikan menghangat melihat Feliciano yang tertelungkup di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala, tertidur pulas sambil sedikit tersenyum manis bagaikan sedang bermimpi indah.

Ludwig segera menghampiri kekasihnya itu dan mengangkat tubuh pemuda Italia itu ke lengannya. Dengan hati-hati dia segera membaringkan Feliciano ke ranjang mereka dan menyelimutinya. Setelah selesai, dia segera membungkuk dan mencium dahi Feliciano sejenak sebelum kembali berjalan ke meja pemuda Italia itu dan memandangi laptop yang masih menyala itu sejenak sebelum menghela napas dan mengambil laptop itu, meletakkannya tepat di meja kecil di samping Feliciano. Setelah selesai, dia segera mengganti pakaiannya dengan baju kaos dan celana pendek sebelum berjalan ke ranjang dan duduk sambil menyandarkan diri sejenak di kepala ranjang mereka. Feliciano, seolah bisa merasakan kehadiran Ludwig, segera berguling ke arah Ludwig, membaringkan kepalanya di lengan pemuda German itu sambil mendengkur pelan.

Ludwig memandangi kekasihnya itu sambil tersenyum. Dia segera mengulurkan tangannya ke arah pemuda Italia itu dan mengusap rambut cokelat kemerahan pemuda itu dengan penuh sayang, sebelum kembali mengedarkan pandangannya ke arah laptop di sebelah pemuda Italia itu.

Dia menghela napas. Ini pertama kalinya dia melihat Feliciano bekerja sekeras itu. Selama ini, dia setidaknya tahu diri akan batas dirinya, saat dia merasa lapar atau mengantuk, dia akan berhenti bekerja, tapi kali ini, dia seakan ingin melenyapkan batas itu. Seandainya tidak dihentikan, mungkin Feliciano akan tetap duduk di mejanya tiga hari tiga malam tanpa makan atau tidur sama sekali (walau dia tahu itu tidak mungkin…Feliciano tidak akan sanggup melakukannya.)

Dan jujur, kalau boleh bicara…dia merasa cemburu…dia cemburu sekali karena kekasihnya itu seolah menjauh darinya. Hanya karena seseorang…

Oh, jangan salah mengartikan perkataannya. Dia tak pernah cemburu dengan Matthew atau pun Francis yang memang kelihatannya seolah-olah menyita perhatian kekasihnya itu. Dia yang paling tahu dari siapa pun (selain mungkin kakek Feliciano, Lovino atau Elizaveta) mengenai kekasihnya itu. Dan dia tahu, dia tahu kalau Feliciano, pemuda Italia kekasihnya itu, tak pernah mencemaskan Matthew. Tak ada sedikitpun kekhawatiran akan nyawa Matthew dalam diri pemuda Italia itu, karena dia tahu, dia sangat mengenal Francis, jauh sebelum Gilbert atau Antonio sendiri mengenalnya.

Dan karena itulah Feliciano mengenal pemuda Perancis itu lebih baik dari kedua 'kakak'nya itu. Dia tahu, seberapa pun pemuda Perancis itu berkata 'benci' atau 'aku akan membunuh orang itu' selama orang yang dia benci itu adalah orang yang dekat dengannya, dia tak akan melakukannya. Dan Matthew, jelas masuk dalam daftar orang yang dekat dengan Francis. Karena itu jelas, meski Francis bermaksud membunuh Matthew, hal itu toh tak akan terjadi, setidaknya hingga Gilbert mendatangi mereka.

Karena itu sebenarnya memperlambat pencarian soal Matthew, mungkin justru malah akan lebih baik. Karena semakin lambat keberadaan Matthew diketahui, keselamatan Matthew akan semakin terjamin. Francis tak akan menyiksa Matthew, selama Gilbert tak mendatanginya. Karena itu semakin lama waktu yang diperlukan Gilbert untuk mendatangi Matthew, semakin besar jaminan Matthew selamat.

Lalu kenapa? Kenapa Feliciano rela bekerja siang malam setengah mati hanya untuk secepatnya mendapatkan lokasi keberadaan Matthew? Tak ada yang mengancamnya untuk segera menemukan Matthew, tak ada masalah soal nyawa Matthew…lalu kenapa?

Ludwig tahu hanya satu jawabannya, dan jawaban itulah yang membuatnya cemburu, sungguh cemburu…

Ya, jawabannya hanya satu…karena kakaknya, karena Gilbert…

Dia tahu kalau kakaknya itu sangat kacau sejak Matthew diculik Francis. Meski di luar dia kelihatan baik, dia tahu ada kalanya kakaknya itu menjerit dan menangis sendirian di tengah malam. Feliciano, jelas bisa merasakan itu. Pemuda Italia itu sangat peka dengan perasaan orang lain, hampir tak mungkin membohonginya, karena itu jelas dia bisa merasakan kesedihan Gilbert. Karena itu dia berusaha keras menemukan Matthew secepatnya, agar Matthew dan Gilbert bisa kembali bersama.

"Soalnya kalau Matthew tidak ditemukan…kasihan kak Gilbert, kan ve~" kata Feliciano saat Ludwig bertanya padanya kenapa dia bekerja sekeras itu.

Yah, kalau dia boleh jujur, waktu itu dia berpikir betapa bodoh kekasihnya itu. Mengorbankan diri demi seseorang sampai menyiksa diri sendiri. Padahal Gilbert pun tak pernah mengancam ataupun mendesak Feliciano untuk segera menemukan Matthew, bahkan dia yang meminta Feliciano untuk tidak memaksakan diri mencari keberadaan kekasihnya itu, tapi tentu saja, ucapan itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Ya…kekasihnya itu memang bodoh, terlalu baik. Bahkan rela memaksakan diri demi seseorang yang sebenarnya tak ada hubungan apa pun dengannya. Tapi…Ludwig kembali memandang wajah Feliciano yang tertidur pulas itu.

Mungkin…kebaikan itulah yang membuatnya mencintai Feliciano.

Dia masih ingat masa pertemuannya yang pertama dengan Feliciano. Itu pertemuan yang berarti, tak akan pernah dia lupakan, bahkan untuk sedetik pun…

FLASHBACK

Ludwig, yang saat itu baru saja berumur sekitar delapan tahun duduk di tepi sebuah lorong gelap. Wajahnya penuh darah dan memar, seperti habis dipukuli.

Ludwig menghela napas. Kalau begini, kakeknya bisa memarahinya lagi, karena lagi-lagi dia berkelahi. Tapi mau bagaimana? Yang salah itu anak kaya yang sombong itu. Berani sekali mengatainya anak miskin pengemis. Dia pantas diberi pelajaran, tapi yang tidak dia perhitungkan adalah dia akan membawa teman-temannya.

Yah, sebenarnya perkataan anak itu tidak salah juga, keluarganya kini memang hidup dalam kemiskinan. Sejak perusahaan keluarganya bangkrut dan mereka sudah kehilangan aset keluarga, mereka terpaksa hidup seperti ini. Hidup dalam rumah kecil dan seadanya…bahkan kadang-kadang hidup melarat terpaksa harus dijalani. Kakek dan kakaknya sudah berusaha mencari pekerjaan, tapi apa sih yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya pengalaman bekerja sedikit pun? Yang hebat hanya kemampuan menguasai senjata dan berkelahi, pekerjaan apa yang bisa didapat dari kemampuan macam begitu?

Tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki mendatanginya. Dia segera menengok dan melihat seorang anak kecil berambut cokelat kemerahan yang berumur kira-kira lima atau enam tahun mendatanginya. Wajahnya terlihat cemas.

"Kau tidak apa-apa, ve~kau berdarah…" kata anak kecil itu sambil berjongkok di hadapan Ludwig.

Ludwig hanya membuang muka. "Itu bukan urusan orang kaya sepertimu," kata Ludwig ketus. "Hidup saja di duniamu dengan tenang."

Anak kecil itu tetap terdiam sejenak sebelum tersenyum dan mengeluarkan saputangannya. Dia segera mengusap luka di wajah Ludwig dengan saputangannya itu.

"Bo…bodoh! Saputanganmu bisa kotor!" seru Ludwig.

"Tidak apa-apa, kok, ve~" kata anak kecil itu sambil tetap menyeka darah di luka Ludwig. "Ikut denganku, ya. Lukamu ini…harus diobati…"

Dan sebelum Ludwig bisa mengatakan apa pun, anak kecil itu sudah memanggil sopirnya untuk membantunya membawa Ludwig ke dalam mobil dan pergi entah kemana.

Ludwig hanya terpaku melihat keadaan rumah di hadapannya. Rumah bertingkat yang mewah, benar-benar menunjukkan status sebagai orang kaya.

"Ayo masuk, ve~" kata anak kecil itu sambil menarik tangan Ludwig memasuki rumah itu. Begitu sampai di dalam, Ludwig semakin terpana melihat perabotan-perabotan kelas satu yang menghiasi sudut-sudut ruangan. Anak kecil itu segera memerintahkan pembantunya untuk membawa kotak P3K dan air dingin ke kamarnya. Setelah semuanya lengkap, anak kecil itu segera membersihkan darah dan mengobati luka Ludwig. Sama sekali tak mempedulikan baju ataupun seprainya yang kini bernoda darah.

Hal itu sungguh membuat Ludwig kagum pada anak kecil itu. Anak itu…hidupnya begitu berbeda, tapi rela menggandeng tangan anak pengemis miskin sepertinya. Dia rela menyentuh tubuh kotornya dan merawat luka-lukanya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.

Dan sejak itulah Ludwig mulai merasakan perasaan istimewa pada Feliciano.

END FLASHBACK

Dan sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Mereka berdua semakin sering bertemu dan membicarakan banyak hal. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk merasakan perasaan istimewa dan semakin dekat setiap harinya. Perasaan hangat yang dirasakan Ludwig pada Feliciano selalu membuatnya nyaman…meski saat itu, dia tak tahu apa perasaan itu. Dia hanya tahu kalau Feliciano adalah orang berharga untuknya, dan dia tidak mau kehilangan Feliciano.

Baru saat dia berumur lima belas tahunlah, Ludwig mulai menyadari kalau perasaannya pada Feliciano itu…bernama 'cinta'…

Tentu mulanya tidak mudah sekali untuk menerima perasaannya pada Feliciano itu. Perlu omongan panjang lebar pada kakeknya dan tawa histeris kakaknya untuk membuatnya mengatakan perasaannya pada Feliciano. Dan beruntungnya, Feliciano menerimanya, mengatakan kalau dia juga mencintai Ludwig, sejak pertama kali dia mengenal apa itu cinta, atau mungkin dia sudah mencintainya…sejak pertama kali bertemu dengannya saat kecil…dan sejak saat itu…mereka mulai berpacaran…hingga sekarang…

Tapi yang tidak diketahui Ludwig adalah saat dia mendapatkan cinta Feliciano, dia juga mendapatkan akses kemewahan dan kekuatan keluarga Vargas untuk keluarganya. Dia tak tahu saat dia memutuskan untuk menerima cinta Feliciano saat itu juga dia mendapatkan hal kedua terbaik di dalam hidupnya.

Keakraban mereka berdua tentu membuat kakek Feliciano, Romulus Vargas, sedikit tertarik pada Ludwig, yang telah diakui oleh cucu bungsu kesayangannya itu sebagai kekasihnya, sehingga akhirnya pria itu memutuskan untuk bertanya soal keluarga Ludwig. Apalagi katanya, Feliciano sangat mendesak pada kakeknya untuk setidaknya memberikan pekerjaan pada keluarga Ludwig. Saat Romulus tahu soal keluarganya yang lumayan pandai berkelahi, pria itu segera menawarkan pekerjaan sebagai bodyguard keluarga Vargas pada Aldrich Beilschmidt, kakek Ludwig (yang belakangan baru diketahui kalau ternyata Romulus dan Aldrich adalah sahabat masa kecil) yang tentu saja diterima dengan senang hati.

Dan sejak saat itu, keluarga mereka kembali hidup dalam kemewahan. Ludwig sangat bersyukur dan berterima kasih pada Feliciano. Pemuda Italia itu tidak saja menyelamatkan nyawa dan hatinya, tapi juga telah mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan. Dia berhutang budi pada Feliciano. Dan hutang itu tak akan bisa dia bayar seumur hidupnya. Dia menganggap pemuda Italia itu berharga, orang yang penting. Baginya, pemuda Italia itu adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menemaninya dan menopangnya seumur hidupnya. Dia tak mau melihat pemuda Italia itu terluka. Dia terpanggil, untuk melindungi pemuda Italia itu dari bahaya apa pun.

Tentu saat itu Ludwig belum tahu apa itu dunia mafia. Saat itu dia hanya tahu kakeknya memerintahkannya untuk menjaga Feliciano, dengan nyawanya kalau perlu. Ludwig tentu menyanggupinya, karena itulah yang diinginkannya selama ini.

Dia ingin bisa melindungi Feliciano, dengan tangannya sendiri. Dan saat dia mengetahui dunia mafia yang dijalani Feliciano, perasaan itu bukannya menghilang, malah semakin kuat. Dia semakin ingin melindungi Feliciano. Dia tak bisa membiarkan siapa pun melukai dan menyakitinya, apa pun alasannya.

Suara dari laptop Feliciano menghempaskan Ludwig dari lamunannya. Dia segera melihat laptop kekasihnya itu dan memandang bingung pada layar laptop itu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengguncang bahu kekasihnya itu untuk membangunkannya.

"A…apa…" gumam Feliciano yang masih setengah tertidur.

"Ada sinyal dari laptopmu tapi aku tak mengerti artinya," kata Ludwig pada kekasihnya itu sambil menyerahkan laptop pemuda Italia itu padanya. Feliciano langsung tersentak bangun dan menyambar laptopnya. Dia segera mengetik sesuatu dan melihat hasil di layar laptopnya. Sebuah senyum segera tersungging di bibirnya.

"Ludwig, segera panggil kak Gilbert dan suruh pergi ke ruang keluarga sementara aku akan bangunkan kak Alfred dan kak Arthur!" serunya sambil melempar selimutnya dan berlari pergi bahkan sebelum Ludwig bisa mengatakan apa-apa.


Setelah semuanya berkumpul di ruang keluarga…

"Ada apa, Feli? Ngapain membangunkan kita sekitar jam…" Alfred melirik jam dinding di ruang keluarga itu. "…tiga dini hari begini?" tanyanya sambil menguap lebar.

"Aku mendapatkan posisi lokasi keberadaan Matthew," kata Feliciano tanpa basa-basi.

Mereka semua yang tadinya terlihat ogah-ogahan dan mengantuk langsung segar bugar seketika begitu mendengar perkataan Feliciano.

"Benar? Di mana?" seru Alfred dan Gilbert bersamaan.

Feliciano melihat layar laptopnya sejenak sebelum kembali memandang semua 'kakak'nya itu dengan pandangan bingung. "Dia…ada di…"


"Jepang?" kata Ivan dan Lovino bersamaan begitu mendengar laporan dari kelima orang itu keesokan paginya.

Feliciano menganggukkan kepalanya. "Yah…awalnya aku juga bingung. Tapi aku mendapatkan jejak mereka di salah satu rumah pribadi mewah di kota Tokyo. Selain itu ada beberapa bukti pembayaran beberapa barang-barang menggunakan kartu kredit kak Francis dan ada bukti pengobatan di rumah sakit dengan kartu kredit kak Francis tapi atas nama Matthew Williams."

'Berarti dilihat dari situ, sepertinya Francis memang memperlakukan Matthew dengan selayaknya, ya?" tanya Antonio.

'Sebaik apa pun dia memperlakukan Mattie, tetap saja yang dia lakukan itu penculikan, tahu!" seru Alfred marah.

"Tapi aneh, seharusnya dia tahu kalau kemungkinan besar kita akan melacaknya, kan?" tanya Rio. "Lalu kenapa dia membuat jejak yang jelas sekali ditemukan, apalagi dengan membayar rumah sakit dengan nama Matthew…apa itu bukan jebakan? Mungkin saja dia sengaja membawa kita ke arah penyelidikan yang salah dan dia memanfaatkannya untuk kembali melarikan diri."

"Kurasa bukan," kata Arthur setelah berpikir sejenak. "Dia memang sengaja, agar kita segera menemukannya. Target serangannya adalah Gilbert, bukan Matthew, jadi sebenarnya dia mengharapkan kedatangan Gilbert dengan segera. Karena itu dia sengaja menunjukkan tahu kalau dia menunjukkan diri dengan terang-terangan, Gilbert akan menganggapnya undangan dan segera menyambutnya. Itu memang cara tercepat untuk membuat Gilbert mendatanginya."

"Karena semakin cepat aku yang awesome ini datang mencari Matthew dan menemukan mereka…" Gilbert terdiam sejenak, kelebat mimpi buruknya tentang mayat Matthew kembali muncul di otaknya. "Semakin cepat dia menuntaskan balas dendamnya padaku yang awesome ini dengan cara membunuh Matthew dengan sangat tidak awesomenya."

"Tapi kalau benar masalahnya dia, bukan, mereka ada di Jepang, itu serius," kata Willem. "Jepang negara yang serius soal peraturan, tidak mudah membawa senjata atau sejenisnya dalam penerbangan, karena mereka sangat ketat dalam pemeriksaan bagasi dan sejenisnya. Bagaimana kita bisa bertarung tanpa senjata?"

"Itulah masalahnya…" kata Feliciano.

"Kurasa itu bukan masalah, aru," kata Yao yang berdiri sambil bersandar di tembok di samping Ivan. "Mungkin kita bisa minta bantuan Kiku soal itu, aru. Kekuasaan mafia Kiku cukup kuat, kalau cuma untuk menyediakan pesawat dan area bandara pribadi tanpa pemeriksaan, kurasa dia cukup punya kuasa, aru."

"Tapi naik pesawat pribadi sekalipun, paspor harus tetap ada, kan? Aku tak punya paspor," kata Willem.

"Paspor palsu gampang dibuat, ve~serahkan saja padaku," kata Feliciano dengan enteng sambil menyeringai licik.

"Ya sudahlah," kata Lovino sambil mengusap rambutnya. "Tak ada hal yang bisa kulakukan di Jepang. Itu bukan juridiksiku." Dia menatap sejenak pada Feliciano yang sibuk menatap laptopnya di sebelah Ludwig. "Tapi aku akan tetap ikut! Untuk mengawasi kalian supaya bekerja dengan becus."

"Duh, Lovi~bilang saja kalau kau mencemaskan Feli dan…" perkataan Antonio langsung terputus dengan injakan keras dari Lovino yang langsung membuatnya mengaduh kesakitan.

"Kau mencemaskanku?" tanya Feliciano sambil mengalihkan pandangan dari layar laptopnya ke kakaknya sambil tersenyum. "Kau tidak usah mengkhawatirkanku, Ludwig pasti akan menjagaku, ve~"

Itu yang kucemaskan, bego…mana mungkin aku mempercayakan nyawamu pada si potato bastard itu kan? Pikir Lovino dalam hati sambil memandangi adiknya itu. Sampai kapanpun juga aku tak sudi mempercayakan nyawamu, adik kesayanganku, di tangan potato bastardmu itu.

"Aku akan menelepon Kiku kalau begitu, aru. Untuk mengabarkan kedatangan kita," kata Yao sambil meraih pesawat telepon dan berjalan keluar ruangan untuk menelepon adiknya itu.


Di Jepang…

Hari itu sinar mentari bersinar terik di kota Tokyo, orang-orang berlalu lalang untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Di sebuah rumah bergaya Jepang yang besar di tengah kota Tokyo, hal itu pun bukan perkecualian.

Di sebuah ruangan di rumah besar itu, seorang pemuda Jepang berambut hitam bernama Honda Kiku duduk dengan santai sambil menghirup teh hijaunya dan menikmati pemandangan indah dan sejuk taman samping rumahnya yang tertata asri dengan berbagai macam pepohonan dan bunga. Sebuah laptop yang menyala tergeletak di hadapannya.

Kiku menghela napas sambil merapikan kimono berwarna biru tua yang dipakainya sejenak sebelum tangannya terulur untuk mengambil dokumen-dokumen yang tertumpuk di sebelahnya dan kembali mengerjakan urusan 'keluarga dunia belakangnya'. Mengerjakan dan mengurus sebuah organisasi mafia yang paling berkuasa di Jepang dalam usia muda, ditambah dia masih bersekolah, memang bukan pekerjaan yang mudah. Tapi dia tidak mau mengeluhkan nasibnya itu. Ini adalah jalan yang sudah dia pilih untuk jalani dan dia harus bertanggung jawab untuk menjalaninya dengan sepenuh hatinya.

Keluarga mafia yang dimilikinya ini memang tidak jadi hanya dalam semalam. Banyak darah dan keringat yang harus dia teteskan untuk ini. Karena itu, dia bangga dengan keluarganya ini, dengan kelompok yang telah dia bentuk dengan merangkak naik perlahan-lahan hingga mencapai puncak kejayaan ini. Organisasi ini…keluarga Honda ini…adalah satu-satunya hal yang dia banggakan sebagai miliknya, sesuatu yang dia dapat setelah banting tulang bekerja keras dengan mati-matian.

Sejak kecil, dia hidup dalam kemiskinan. Kakaknya bekerja mati-matian untuk menghidupi dirinya dan adik-adiknya. Karena kelelahan setelah bekerja, tidak jarang kakaknya itu tidak punya waktu mengurusi rumah, membuat dia dan adik-adiknya itu untuk tahu diri dan berusaha untuk membantu kakaknya itu sebisanya dalam mengurus rumah (perkecualian untuk Yong Soo mungkin, tapi dia memang anak termuda yang selalu dimanja oleh Xiao Mei dan Xiao Chun sejak kecil, sehingga wajar kalau sifat manjanya itu tak mudah dihilangkan bahkan hingga sekarang.).

Dalam kehidupan penuh kemiskinan dan kemelaratan seperti itu, wajarlah kalau pendidikan adalah sesuatu yang mereka anggap utama, sebagai satu-satunya jalan yang terpikir oleh mereka untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Dan beruntung, dengan berbagai ketekunan dan kepandaian, masing-masing keluarga mereka berhasil mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, meskipun ke berbagai negara yang berbeda. Dia sendiri dengan kemampuannya yang tinggi, berhasil mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan di sebuah SMU yang lumayan punya taraf bergengsi di Jepang.

Di Jepang inilah hidupnya berubah dengan drastis…

Di Jepang tentu hidupnya tidak berubah menjadi lebih baik, bahkan bisa dibilang, dia hidup melarat di Jepang. Saat itulah seorang pria pemimpin keluarga yakuza menemukannya dan menjadikannya anggota kelompoknya. Di sanalah…dia merasa menemukan keluarga…seperti keluarganya yang kini meninggalkannya untuk terpencar di sana-sini. Anggota keluarga yakuza itu memperlakukannya dengan ramah, menganggapnya sama dengan mereka. Dan sebagai balasannya, dia pun selalu mengerjakan tugas yang diberikannya dengan sempurna dan serius, hampir tak ada cela dalam pekerjaannya. Dia berpikir dia harus membalas budi, dan karena itu harus mengerjakan semua tugasnya dengan sempurna.

Dan karena pekerjaan yang tanpa cela itulah, saat pemimpin yakuza tempatnya bernaung itu meninggal tanpa memiliki keturunan untuk menggantikannya, tanpa ragu Kiku ditunjuk untuk menjadi penerusnya. Dan berkat keseriusannya untuk mengelola kelompoknya, kini keluarganya sudah berkembang jauh, hampir bagaikan pimpinan dunia belakang Jepang dan Asia…oke, itu bukan tanpa bantuan juga. Karena tanpa koneksi mafia Hong Kong yang dimiliki adiknya dan juga bantuan-bantuan kakak-kakaknya, tak mungkin organisasinya bisa berkembang sampai sejauh ini.

Pikirannya yang melayang-layang itu segera terputus saat dia mendengar suara pintu geser kamarnya digeser terbuka. Dia segera menengok dan melihat seorang pemuda Yunani berambut cokelat berjalan masuk sambil memegang sebuah telepon cordless di tangannya. Kiku segera tersenyum begitu melihat pemuda itu. "Selamat pagi, Heracles-san."

Heracles Karpusi, tangan kanan, orang kesayangan, sekaligus kekasih Kiku selama tiga tahun terakhir, hanya tersenyum untuk membalas senyum kekasihnya itu sebelum menyerahkan telepon di tangannya kepada Kiku. "Ada telepon dari kakakmu," katanya dengan nada dan ekspresi datar.

Kiku memandang bingung sejenak kepada kekasihnya itu. "Yao-niisan?" tanyanya, yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh kekasihnya itu.

Kiku segera mengambil telepon cordless yang dipegang kekasihnya itu. Saat Heracles berbalik untuk pergi meninggalkan ruangan itu, tangan Kiku segera terulur dan menggenggam tangan pemuda Yunani itu dengan lembut, membuat Heracles segera memandanginya.

"Duduklah bersamaku…sebentar saja…" kata Kiku sambil tersenyum tapi nada dan intonasi bicaranya cukup untuk memberitahu Heracles kalau itu bukan permintaan.

Itu…adalah perintah…

Heracles pun hanya terdiam sejenak sebelum menghela napas dan duduk di samping kekasihnya itu. Kiku pun segera menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu sebelum membawa telepon yang masih dipegangnya ke telinganya. "Halo?" katanya.

"Aiyya, Kiku, kenapa kau lambat sekali menjawab teleponnya, aru?" tanya Yao dari seberang sambungan telepon.

"Maafkan aku, Yao nii-san, aku sedang sibuk bekerja," kata Kiku pada kakaknya itu.

"Hmm, begitu…lalu bagaimana keadaanmu, aru?" tanya Yao. "Jangan sampai kau terlalu keras bekerja dan kecapekan, lalu jatuh sakit, ya, aru…"

"Aku baik-baik saja, nii-san, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," kata Kiku sambil membaringkan kepalanya di pangkuan Heracles sementara kekasihnya itu mengusap rambut hitamnya dengan lembut. "Lalu, mau apa nii-san meneleponku?" tanyanya dengan sopan.

"Oh ya, kali ini aku ingin minta bantuanmu…untuk masalah dunia belakang, aru…" kata Yao.

Mendengar perkataan kakaknya itu, wajah Kiku langsung berubah waspada. Kalau sampai kakaknya membicarakan soal 'dunia belakang', maka ini berarti masalah serius.

"Apa masalahnya?" tanya Kiku.

"Kau tahu Matthew Williams, kan? Kekasih Gilbert?" tanya Yao. Kiku mengiyakan pertanyaan kakaknya. "Beberapa hari lalu, dia diculik oleh seseorang. Dan setelah dilacak, Feliciano menemukan bukti bahwa dia berada di Jepang, aru. Jadi…"

Kiku tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. Secara garis besar, dia sudah mengerti apa masalahnya. "Jadi mereka ingin ke sini, kan? Dan kau ingin aku melakukan apa? Menyediakan senjata atau menyediakan pesawat dan bandara tanpa pemeriksaan bagasi?" tanya Kiku dengan santai tapi tanpa basa-basi.

"Kalau bisa keduanya, aru…" kata Yao. "Bagaimanapun ini akan jadi pertarungan besar…dan perencanaan matang harus dilakukan, aru…"

Kiku tersenyum. "Baiklah. Akan kuselesaikan dalam waktu tiga hari," katanya.

"Baik kalau begitu, aru" kata Yao. "Baik, itu saja yang mau kukatakan, sampai bertemu tiga hari lagi kalau begitu, aru."

"Ya…sampai bertemu nii-san," kata Kiku sambil memutuskan hubungan telepon dan kembali memberikan telepon cordless itu kepada Heracles.

"Pekerjaan baru?" tanya Heracles pada kekasihnya yang masih berbaring di pangkuannya itu.

"Ya. Yao nii-san dan semuanya ingin ber 'kunjung' ke sini dalam waktu tiga hari," kata Kiku sambil menutupi matanya dengan wajahnya sejenak. Dia pun segera bangkit dari pangkuan pemuda Yunani itu dan memandang kekasihnya itu. Dia segera mengulurkan tangannya dan mengusap pipi pemuda Yunani itu dengan lembut

"Kurasa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, kan? Aku tak perlu memberitahumu apa pun tentang apa yang harus kau lakukan…" kata Kiku dengan sebuah seringai sinis dan keji tersungging di wajahnya. "Dan aku tak perlu menegaskan kalau aku menginginkan hasil yang terbaik, kan, Heracles-san? Aku tahu…kau pasti sudah mengerti itu dari dulu…"

Heracles terdiam sejenak sebelum tersenyum dan menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat. Dia segera membawa tangan pemuda Jepang itu ke bibirnya. "Tentu saja aku tahu apa yang harus kulakukan… dan kau tidak perlu khawatir, Kiku…apa pun perintahmu, akan kulakukan yang terbaik untuk mengerjakannya…" katanya sambil mencium tangan pemuda Jepang itu dengan lembut.

Kiku tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah pemuda Yunani itu. "Bagus…" katanya sambil mempersatukan bibir mereka berdua, mencium bibir pemuda Yunani itu dengan lembut. Ciuman itu begitu manis dan hangat, dengan cinta yang begitu dalam terkandung di dalamnya.

Setelah beberapa saat, mereka pun melepaskan ciuman mereka. Kiku tersenyum dan mengusap rambut cokelat kekasihnya itu. "Baiklah kalau begitu…pastikan pekerjaanmu selesai dalam waktu tiga hari…" katanya.

Heracles menganggukkan kepalanya sejenak dan membungkuk untuk mencium pipi kekasihnya dengan lembut sebelum dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan untuk meninggalkan ruangan itu.

Kiku tersenyum saat dia mendengar suara pintu geser yang ditutup. Dia segera berdiri dan berjalan ke arah pintu kamarnya yang menghadap kebunnya dan berdiri di sana, memandangi kebun yang berada di hadapannya. Sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya.

"Sepertinya kali ini kunjungan Yao nii-san akan jadi sesuatu yang menarik," kata Kiku dengan sebuah seringai tersungging di bibirnya. "Jadi tak sabar menunggu kedatangan mereka semua…"


Author note:

Horee~chapter ini selesai di tengah kegiatan seabrek yang bikin lemas~ -tepar-

Dan…di chapter ini kayaknya ada beberapa (mungkin bukan beberapa, cuma dua kok) OC yang di sini kemunculannya mungkin nggak penting, tapi di chapter depan mereka bakal punya peran yang agak penting, jadi lebih baik saya perkenalkan dulu siapa mereka.

Romulus Vargas dan Aldrich Beilschmidt…haruskah saya mengatakan siapa mereka? Oke, mereka tentu saja satu-satunya pasangan generasi tua yang saya tahu hubungannya jelas…kakek Roma dan kakek Germania! Sepertinya keluarga Beilschmidt dan keluarga Vargas sudah takdir untuk bersama, ya! Lihat aja…kakek Roma ama Germania, entah mereka pacaran ato cuma teman dekat aja, tapi yang jelas hubungan mereka dekat…terus cucu mereka juga pacaran…-ngelirik Feliciano dan Ludwig-. Jadi ini dua keluarga adalah pasangan takdir yang tak pernah terpisahkan! –digiles-

Dan…buat yang nanya atau pun penasaran kenapa di sini saya masukin adegan Kiku ama Heracles…sebenarnya gak ada maksud khusus, sih…cuma buat manjangin chapter aja…-BRAKKK-. Harap gak keberatan para readers, maklum setting pertarungan terakhirnya di Jepang, tentu saya harus mengenalkan Kiku sedikit…mengingat Jepang adalah teritorinya Kiku.

And…so sorry untuk ke OOC an karakter, terutama Kiku, ya. Sumpeh~saya gak ngerti gimana sebenarnya karakter Kiku itu, maklum sifat Kiku beda sesuai dengan siapa pasangannya, dia bisa manis bisa pula garang…jadi ya…saya bingung, akhirnya saya gabungin aja sifat manis dan garangnya, dan jadilah Kiku versi saya ini –dicekek-. Jadi mohon maafkan saya kalau ini kelewat OOC dari aslinya… –sembah sujud-

Terus, di chapter-chapter depan, sekitar tiga atau empat chapter (banyak banget!), kayaknya gak bakal ada hubungan ama fanfic ini dulu, karena saya mau bikin cerita soal kehidupan para karakter-karakternya sebelum 'pertarungan terakhir' dulu –cie, bahasanya-, jadi mungkin fokusnya lebih ke para karakter daripada ke cerita ini dulu, oke? Namanya juga pertarungan terakhir, tentu harus persiapan fisik dan mental dulu, kan? Jadi genre untuk tiga empat chapter depan bukan suspense/action dulu tapi lebih ke romance/family (rasanya dari chapter keberapa juga ceritamu ini udah bukan suspense/action lagi, kok. Ceritamu udah jadi hurt/comfort/romance, mbak. Kamu mangkir dari kewajiban bikin action, kan, mbak? –glek, kabur secepat cahaya ala eyeshield 21-). Jadi sorry kalau membuat alur dan ceritanya jadi lambat, dan ngebikin finish cerita ini menjadi makin lama. Mengerti kan para readers? Ngerti? Bagus~ -digiles truk-

Oke, saya pikir waktunya balas review…

Aiko-chan Lummierra: Eh…kamu nggak maafin Francis? Ya gak papa. Francis sebagai antagonis memang harus dibenci, meskipun alasannya sungguh manusiawi –PLAK-. GerIta udah saya masukin di chapter ini, dikit~ya…tapi USUK, let's wait for another time…-BRAK-. Nih udah update…tapi update kilat…saya gak akan tersambar, kan? Dan…memangnya kilat punya past tense? –OOT deh-. Makasih udah review, ya…

Kureha-alpha: Baiklah…di chapter ini sudah saya masukin Giripan sesuai rekuesmu, meski pendek, tapi ada kan? –PD abis-. Dan Kiku…ikut misi penyelamatan Matt? Tau deh, ya…terus Ivan…apa harus saya bikin dia berantem…musuhnya siapa? Castingnya udah abis, mbak…mikir-mikir dulu, ya…-digiles-. Oke, makasih udah review…

Fujoshi Anonim: Matthew itu memang kesayangan semuanya, gak hanya si asem aja –dilempar botol bir-. Dan…Francis dikeroyok? Curang itu namanya! Lagian meski dikeroyok juga gak bisa masih ada Natalia ama Scott yang udah ngebooking lawan nih…UAS, ya…AHHH~minggu depan saya ujian~cuek amat, toh yang susah-susah udah lewat, jadi santai aja… –digiles dosen-. Terima kasih atas reviewnya, ya…

Yukaeri: Nyiksa Matthew…sampai sekarang saya gak tega kalau kelewat eksplisit. Kalau Cuma penjelasan dia diapain sih gak papa, tapi kalau detilnya…saya angkat tangan. Matthew terlalu unyu untuk disiksaaa –labil-. Galau? Gil galau? Memang dia galau, ya? Ah, lupakan aja. Dan matthew…wajar dia angelic, kan dia memang 'angel'nya Gil ama Alfie…nyehehe…-digetok-. Baiklah, makasih udah review…

Yukiyuki del tempest: Ya…Matthewnya selamat, kok. Dan yakinlah, dia akan diperlakukan dengan layak sama Francis. Jadi kamu gak usah khawatir, jangan kirim bom nuklir ke Francis…dia masih ngutang scene di fanfic saya ini…-DOR-. Terima kasih reviewnya…

Matthew Shinez: Penggemar Matthew tambah banyak? Memangnya dari dulu penggemarnya udah gak banyak? Banyak! Tapi kenapa…kenapa Matthew tetap dilupakan di Hetalia, padahal sahabat-sahabat dia itu negara yang lumayan 'ngeksis' lho, kenapa Matthew gak 'ngeksis' ya…-OOT kumat-. Rekues kamu minta Matthew rada-rada creepy and sadist gitu, kan? Kalau berantemnya masih lama, tapi kalau rada-rada keren dikit sikapnya…juga masih lama, tiga atau empat chapter lagi. –PLAKKK- Mau gimana, dua tiga chapter depan sudah dibooking untuk ngomongin karakter lain…gak bisa diganggu gugat, jadi Matthew juga muncul kembalinya masih lama –Digiles truk- jadi tunggu sajalah dengan sabar…untuk kemunculan kembali Matthew nantinya, kalau saya gak ngelupain dia…-dilempar pancake-. Terima kasih reviewnya, ya…

Miss. Celesta: Iya, iya, Matthew itu memang malaikat, sayang yang mengelilinginya iblis semua, semacam Gilbert, Ivan, Alfred…hebat juga Matthew gak ikut jadi iblis, ya…atau sudah jadi iblis, jangan-jangan –dilempar botol karena OOT-. Oke, makasih atas dirimu yang sempet review di tengah ujian ini~

Putri Luna: Pihak ketiga dalam arti apa? Kalau pihak ketiga dalam arti ada orang yang mencari Matthew, ya kita punya Feli. Tapi kalau pihak ketiga buat nyampein pesan segala macam, buat apa? Dia kan ditawan, bukan mata-mata ke rumah Francis! –DUAG-. Dan makasih udah suka cerita saya~ -PD berlebihan-. Terima kasih sudah review, ya…

Oke, seperti biasa, bagi para readers saya sekalian…dimohon untuk MEREVIEW

Sekian.