Berbagai pasang mata dengan warna yang berbeda, menatap tak percaya pemandangan di depan mereka. Naruto—laki-laki berambut pirang dan bermanik mata Sapphire juga memiliki tiga garis tipis di setiap pipinya—dengan bodohnya menjatuhkan dirinya sendiri bersama Madara—lawan bertarungnya—ke dalam lubang hitam tanpa dasar.
"Apa yang akan terjadi pada Naruto?" tanya Gaara.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti Madara akan mati termakan kekuatannya sendiri" jawab Kakashi.
"Ya, seperti Deidara sebelumnya. Tapi Naruto..." Ino sangat takut memikirkan apa yang akan terjadi pada Naruto.
"Sudahlah, kita mencoba berdo'a saja dan berharap agar Naruto baik-baik saja" tutur Kakashi sambil mencoba menenangkan Kushina yang sampai sekarang tak berhenti menangis—khawatir dengan keadaan anak satu-satunya.
.
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets of a Country
..
..
..
Chapter 10 – Naruto!
.
.
.
Naruto membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Menampilkan manik mata Sapphire nya yang bagai langit cerah. Matanya mencoba mencari-cari cahaya. Namun tak ada sedikit pun cahaya yang berhasil ia tangkap. Semuanya tampak gelap dan bagai ruang hampa. Ia pegang kepalanya yang sejak tadi terasa begitu pusing. Selain kepalanya yang pusing, seluruh badannya pun ikut sakit dan terasa perih. Semua itu disebabkan oleh luka-luka yang ditorehkan oleh lawan bertarungnya.
Dia amati keselilingnya. Tak ada apapun selain kegelapan. "Cih! Jadi aku sudah mati, ya?" gumam Naruto disertai sebuah seringai kecil.
"Tapi, kenapa aku masih merasakan sakit?" tanyanya entah pada siapa.
Naruto mengingat kembali detik-detik sebelum ia sampai di tempat yang gelap dan hampa ini. Ia ingat kalau sebelumnya, ia bertarung dengan Madara. Kemudian dia menjatuhkan diri bersama dengan Madara ke lubang hitam yang Madara buat. Dan ketika membuka mata, dia sudah sampai di tempat ini.
"Atau jangan-jangan aku berada di dalam lubang hitam milik Madara?!" tanya Naruto untuk ke dua kalinya. Padahal ia sudah tahu kalau tidak akan ada yang menjawab pertanyaannya.
"Tapi kenapa aku belum mati? Dan dimana Madara? Apa dia sudah mati?" tanya Naruto lagi. Oh, kalau di sampingnya kini ada Sakura, pasti dia sudah dijitak olehnya. Karena selalu bertanya tak jelas.
"Oh, iya! Sakura-chan!" seru Naruto ketika ia teringat dengan sosok Sakura—alasan kenapa ia nekad masuk ke dalam lubang ini.
Naruto segera bergerak untuk mencari Sakura. Karena menurutnya, mungkin saja Sakura sekarang masih hidup seperti dirinya. Dia pun segera menggerakan tubuhnya ke sana kemari seperti orang yang sedang terbang. Mencoba mencari keberadaan Sakura.
Ketika ia sedang mencari Sakura, tanpa sengaja matanya menangkap setitik cahaya jauh di depannya. Karena penasaran dan merasa kalau mungkin saja Sakura ada disana, ia pun mencoba menghampiri titik cahaya tersebut. Hingga akhirnya titik cahaya itu terlihat semakin membesar dan membesar.
Manik Sapphire nya membola ketika mengetahui kalau titik cahaya tadi berasal dari tubuh seorang pria yang memang bercahaya. Naruto pun menghampiri pria tersebut. Berharap kalau dia bisa memberi petunjuk soal keberadaan Sakura.
"A-ano, apa kau melihat ga-..." belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja pria itu membalikkan badannya. Menampakkan wajahnya.
Lagi-lagi manik Sapphire Naruto membola. Ia begitu terkejut ketika melihat rupa pria itu. Bukan karena orang itu jelek atau wajahnya menakutkan. Bahkan sebenarnya wajahnya jauh dari kata jelek atau menankutkan. Sangat tampan. Jelas sekali kalau pria itu begitu tampan. Namun yang membuatnya terkejut adalah wajah pria itu yang begitu menyerupai dirinya. Rambut pirangnya pun menyerupai dirinya.
Bedanya hanyalah di setiap pipi pria tersebut tidak terdapat tiga garis tipis yang Naruto miliki. Lalu wajah pria itu lebih terlihat dewasa. Rambut bagian depannya pun terlihat lebih panjang dari milik Naruto. Tapi itu hanyalah perbedaan kecil yang bila dilihat sekilas tidak akan terlihat. Jadi intinya, pria tersebut sangat-sangat mirip dengan Naruto. Apalagi ketika pria tersebut menampakan senyumnya. Begitu menghipnotis seperti senyum Naruto.
"Aku tak pernah berharap kalau kau juga akan masuk ke dalam lubang ini" tutur pria yang begitu menyerupai Naruto.
"Si-siapa kamu? Wajahmu begitu mirip denganku" tanya Naruto dengan matanya yang masih membola.
"Tentu saja wajahku mirip denganmu. Karena aku adalah-.." belum selesai pria itu berbicara, Naruto telah menyelanya terlebih dahulu.
"Jangan bilang kalau kamu adalah-..." kini Naruto yang belum selesai berbicara, namun pria itu telah mengangguk terlebih dahulu.
"Seperti yang kau pikirkan" ujar pria itu dengan senyumnya terlihat seperti orang yang sedang membanggakan dirinya.
Naruto menjentikkan jarinya. "Jadi seperti yang aku pikirkan!" seru Naruto dengan wajah yang begitu bahagia.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menutup matanya. Senyum yang terlihat bangga itu masih menempel di wajah tampannya. "Hm! Hm!"
"Kau adalah diriku di masa yang akan datang! Aku tahu, kalau aku akan menjadi pria dewasa yang sangat tampan" tutur Naruto dengan penuh kepercayaan diri dan dengan senyum bangga seperti yang diperlihatkan oleh pria asing di depan Naruto tadi.
Sebaliknya, senyum bangga yang tadi terlukis di wajah pria itu, perlahan-lahan memudar. Bahkan kini terlihat sebuah perempatan muncul di dahi pria tampan itu. Ia juga membuka matanya yang membuat manik mata Sapphire nya terlihat. "Tentu saja bukan!" ujar pria itu.
"Eh? Bukan? Lalu kamu siapa? Kenapa wajahmu begitu mirip denganku padahal kau bukan diriku di masa yang akan datang?" tanya Naruto dengan tampang bodohnya.
Pria itu menghembuskan nafas panjang, "Hah~, seharusnya kau mendengarkan ketika aku berbicara tadi" nasihat pria itu.
"Baiklah. Baiklah. Sekarang aku akan mendengarkannya. Jadi, kamu siapa?" tanya Naruto. Ia menatap manik Sapphire pria itu dalam-dalam dan mencoba memasang telinganya baik-baik. Karena ia begitu penasaran dengan pria yang sangat mirip dengannya itu.
"Sebenarnya, alasan dibalik wajahmu yang sangat mirip denganku itu adalah karena kau darah dagingku. Keturananku. Jadi, aku ini adalah ayahmu, Namikaze Minato" jelas pria yang bernama Minato itu.
"Ooohhh" Naruto hanya mengangguk-anggukan kepalanya—paham.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
4 detik...
"EEEEEEHHHHHHHH?!" seru Naruto terkejut ketika ia benar-benar memahami penjelasan Minato.
"Ka-kau! Ka-kau a-ayahku?!" tanya Naruto memastikan.
"Begitulah" jawab Minato dengan senyum bangganya.
"Ma-maksudmu, ka-kau pria yang ku panggil de-dengan sebutan 'Otou-san' ?" tanya Naruto masih belum percaya.
Minato menghembuskan nafas singkat. "Hah~, iya, Naruto" jawabnya.
"Kau tahu na-namaku?" tanya Naruto dengan wajah bingung.
"Tentu saja. Aku yang memberikan nama itu untukmu" jawab Minato. Kini sebuah senyum lembut dan tulus terlukis di wajah Minato.
"Jadi kau benar-benar ayahku! Kau a-yahku!" Naruto masih tak mempercayainya. Ia tak pernah berharap untuk bisa bertemu dengan Minato, ayahnya. Selama ini ia tak pernah berharap bisa bertemu dengan ke dua orang tuanya. Tapi kenyataannya, ia bertemu dengan ke dua orang tuanya! Tentu hal ini membuatnya begitu bahagia. Sangat bahagia. Sampai rasanya ia tak bisa menahan lagi luapan kegembiraannya. Ia pun segera memeluk Minato.
Pada awalnya Minato terkejut karena Naruto yang tiba-tiba saja memeluknya. Namun kemudian ia pun membalas pelukan Naruto dengan penuh kasih sayang. Ia bersyukur dapat bertemu dengan anaknya. Walau sebenarnya ia tak penah ingin bertemu dengan anaknya di tempat ini. Karena jika ia bertemu dengan anaknya disini, maka itu berarti kalau anaknya pun memiliki nasib yang sama dengannya. Sedangkan ia tak ingin hal itu terjadi. Tapi kenyataannya, Naruto ada disini. Naruto sedang memeluknya. Ia senang juga sedih.
"Tou-san! Tou-san" berkali-kali Naruto memanggil Minato dengan sebutan 'Tou-san'. Dia begitu bahagia.
"Kau tumbuh dengan sehat dan menjadi pria yang tampan. Tou-san sangat senang mengetahuinya. Sepertinya ibumu merawatmu dengan sangat baik" tutur Minato sambil melepas pelukkannya pada tubuh Naruto. Ia melihat Naruto dengan seksama. Dari bawah ke atas.
Naruto menundukkan kepalanya ketika mendengar penuturan ayahnya. "Bukan kaa-san yang merawatku. Tapi Paman Kakashi dan Kakek Jiraiya. Kaa-san, dia ditangkap oleh Madara dan dipejarakan" cerita Naruto.
Minato sangat terkejut mendengarnya. Beberapa detik kemudian matanya terlihat menyendu. "Jadi, ibumu ditangkap setelah Tou-san dimasukkan ke dalam sini, ya? Lalu bagaimana keadaannya? Apa kau tahu?" tanya Minato. Raut khawatir menghias wajah tampannya.
Naruto mengangguk singkat. "Tenang saja. Sekarang Kaa-san baik-baik saja. Aku baru saja menyelamatkannya dari tangan Madara" jawab Naruto.
"Kau bertarung dengan Madara? Bukankah itu sangat bahaya? Atau kekuatan Half-Demon mu sudah keluar?" tanya Minato bertubi-tubi.
"Ya, aku bertarung dengannya menggunakan kekuatan Half-Demon ku yang baru saja bisa ku kuasai. Walau begitu, aku berhasil menjatuhkan Madara ke dalam lubang hitam miliknya. Tapi sekarang aku tak tahu dimana dia berada" jawab Naruto sambil melihat keseliling.
"Pasti dia sudah mati termakan kekuatannya sendiri. Tapi kenapa kamu juga ikut jatuh ke dalam lubang ini?" tanya Minato pada anaknya itu.
Naruto menampilkan cengiran khasnya dan memamerkan deretan gigi putih dan rapinya. "Aku sengaja menjatuhkan diriku sendiri ke dalam lubang ini" jawab Naruto dengan santainya.
Minato merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya tersebut. Ia benar-benar terkejut mengetahui hal itu. "APA?! kau menjatuhkan dirimu sendiri?!" ulang Minato memastikan dan Naruto membalasnya dengan sebuah anggukan singkat.
"Baka! Kenapa kamu lakukan hal berbahaya seperti itu? Kau bahkan belum tentu bisa kembali lagi!" omel Minato terhadap sikap anak satu-satunya tersebut.
Cengiran Naruto perlahan-lahan menghilang dan tatapannya menyendu. Ia kembali teringat akan sosok Sakura. "Aku ingin menyelamatkan Sakura-chan, gadis yang sangat berharga bagiku. Madara dengan kejamnya melemparkan Sakura-chan ke dalam lubang ini. Jadi mau tak mau, aku harus masuk ke dalam lubang ini untuk menyelamatkan Sakura-chan" tutur Naruto.
Minato kini mulai mengerti alasan dibalik tindakan Naruto yang terbilang bodoh dan sangat ceroboh itu. Ia tersenyum lembut dan tulus. Sekarang ia merasa begitu bangga pada anaknya. Karena anaknya bahkan sampai rela mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan seorang gadis yang sangat berharga baginya. "Jadi tadi di awal, kamu ingin menanyakan tentang keberadaan gadis itu pada Tou-san?" tanya Minato.
Naruto mengangguk perlahan. "Jadi, apa Tou-san tahu keberadaan Sakura-chan?" tanyanya.
"Mungkin tahu, mungkin tidak. Gadis itu bisa berada dimana saja. Karena tempat ini luasnya tak terhingga. Tapi ada kemungkinan kalau ia tak berada jauh dari sini. Jika kita mencarinya dengan sungguh-sungguh, kita mungkin bisa menemukannya. Yang pasti jangan menyerah sebelum mencoba!" jawab Minato.
"Tou-san benar! Kalau begitu, aku akan mulai mencari Sakura-chan! apa Tou-san mau membantuku?" tanya Naruto.
"Tentu saja. Mana mungkin Tou-san tidak membantu. Dia kan calon menantu Tou-san, iya, kan?" jawab Minato yang membuat muka Naruto memerah sempurna.
"Semoga saja" jawab Naruto sambil mulai bergerak mencari Sakura. Sedangkan Minato mengikuti Naruto dari belakang sambil tertawa mengingat muka anaknya yang memerah sempurna karena kata-katanya.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
"Kenapa sampai sekarang Tou-san masih hidup?" tanya Naruto tiba-tiba ketika dia bersama Minato sedang mencari keberadaan Sakura.
"Pertanyaan macam apa itu? Kamu tidak suka kalau Tou-san mu ini masih hidup?" Minato balik bertanya.
Naruto jadi gelagapan ketika mendapat tanggapan seperti itu. "Go-gomen, bukan maksudku seperti itu. A-ano ma-maksudku kan, selama ini orang selalu berkata kalau 'Raja Minato telah mati dibunuh Raja Madara'. Ja-jadi, aku hanya merasa bi-bingung saja. Karena kenyataannya Tou-san masih belum mati" jelas Naruto panjang lebar.
Minato tiba-tiba saja tertawa begitu keras. Hingga rasanya tawanya itu menggema ke seluruh penjuru. "Tou-san hanya bercanda, kok! tidak perlu dianggap serius. Lagipula Tou-san tahu maksudmu" tuturnya.
"Ck!" Naruto berdecak kesal karena telah berhasil masuk perangkap ayahnya. "Jadi? Kenapa Tou-san?" tanya Naruto lagi.
"Sebenarnya sekarang Tou-san tidak bisa dikatakan hidup. Tapi juga tidak bisa dikatakan mati" jawab Minato yang membuat Naruto sama sekali tak mengerti.
"Maksud Tou-san?" tanya Naruto.
"Seperti yang kamu lihat! Tou-san bercahaya. Ini bukan dikarenakan tubuh Tou-san yang mengeluarkan cahaya. Melainkan karena ini hanyalah jiwa Tou-san yang berbentuk seperti tubuh Tou-san" jawab Naruto.
"Ha? Lalu dimana tubuh Tou-san?" tanya Naruto.
"Tubuh Tou-san telah hancur dimakan oleh lubang hitam ini. Ya, lubang hitam ini memakan setiap raga manusia yang masuk ke dalam sini dan menyisakan jiwanya yang dibiarkan tersiksa. Kekuatan dari raga yang dimakan oleh lubang hitam ini akan disalurkan ke Madara. Tapi karena Madara telah hancur, itu berarti hidup Tou-san di sini pun tak akan lama lagi. Kau dan gadis itu pun harus segera keluar dari sini" jawab Minato panjang lebar.
"Kenapa begitu?" tanya Naruto tak mengerti.
"Karena jiwa Tou-san masih ada di sini karena adanya lubang hitam ini. Sedangkan jika Madara mati, maka lubang hitam yang ia ciptakan ini pun lama-kelamaan akan menghilang dan jiwa Tou-san pun ikut menghilang bersama dengan jiwa-jiwa lainnya. Ini sungguh sebuah hal yang membahagiakan. Karena akhirnya Tou-san bisa bebas dari penjara kegelapan ini" jawab Minato.
"Berarti aku juga harus segera menyelamatkan Sakura-chan agar ia tak ikut menghilang" ujar Naruto.
"Ya, lalu setelah itu kau dan gadis itu harus segera keluar dari lubang ini. Sebelum lubang ini menghilang. Lihat! Sisi lubang ini perlahan-lahan sudah mulai terbakar dan rusak" Minato menunjuk sebuah sisi yang memang terlihat seperti terbakar dan menghilang.
"Mamang ada cara untuk keluar dari sini?" tanya Naruto sambil menambah kecepatannya.
Minato ikut menambah kecepatannya. "Madara membuka pintu lubang ini dengan perpaduan antar semua elemen yang ia miliki. Jadi kita pun pasti bisa membuka pintu lubang ini. Walau pintunya hanya akan membuka sebentar, Tou-san yakin itu cukup untuk mengeluarkan kalian berdua" jawab Minato.
"Tou-san tidak ingin ikut keluar?" tanya Naruto.
"Apa yang akan dikatakan ibumu kalau melihat Tou-san hanya tinggal jiwa saja? Lagi pula belum tentu Tou-san akan terlihat atau bisa disentuh atau didengar setelah keluar dari sini. Karena seperti yang Tou-san katakan tadi, jiwa Tou-san ada berkat lubang ini. Jadi bila Tou-san keluar dari lubang ini, mungkin saja Tou-san tidak bisa dilihat olehmu, disentuh, didengar atau bahkan Tou-san akan segera menghilang" jawab Minato dengan pandangan menyendu. Naruto tahu, kalau ayahnya pasti sangat ingin keluar dan melihat wajah ibunya. Walau itu hanya sekilas atau dari kejauhan.
"Seperti yang Tou-san katakan tadi. Jangan menyerah sebelum mencoba. Jadi, tak ada salahnya jika kita mencobanya. Apa merupakan hal buruk bila Tou-san tidak bisa dilihat atau disentuh atau didengar? Apa merupakan hal buruk bila Tou-san menghilang begitu keluar dari sini?" tutur Naruto sambil menatap ayahnya dalam-dalam.
Minato sadar dengan ucapan anaknya tersebut. Menurutnya, akan lebih baik bila ia tidak menghilang di tempat yang gelap ini. Melainkan di tempat bercahaya seperti dunia luar. Menurutnya, akan sangat menyenangkan bila bisa melihat kembali wajah cantik istrinya walau pun dirinya tak bisa lagi dilihat, disentuh, atau bahkan didengar.
Minato pun tersenyum mendengar penuturan anaknya barusan. Ia sekarang benar-benar bangga pada anaknya. Mungkin ia harus berterima kasih pada Kakashi—adiknya—dan juga ayahnya—Jiraiya—karena telah mendidik Naruto menjadi anak yang luar biasa.
"Baiklah. Tou-san mengerti. Tou-san akan keluar dari lubang ini bersama denganmu dan gadis itu. Tapi bisakah Tou-san titip ini padamu?" Minato menyerahkan sebuah kalung dengan sebuah cincin yang tergantung di kalung tersebut.
"Boleh saja. Tapi untuk apa?" tanya Naruto tak mengerti.
"Tolong berikan kalung ini pada ibumu. Ini hanya untuk berjaga-jaga bila nanti ternyata Tou-san akan segera menghilang setelah keluar dari sini atau bila ternyata ibumu tak bisa melihat, menyentuh, ataupun mendengar Tou-san. Jadi, Tou-san ingin titip kalung yang berharga ini padamu" jawab Minato.
"Aku mengerti. Kalau begitu, ayo, kita kembali mencari Sakura-chan sebelum terlambat!" ajak Naruto setelah mengambil kalung itu dan mengalungkannya di lehernya. Ia berjanji dengan segenap hati dan jiwanya kalau ia akan menjaga kalung itu dan akan memberikannya pada ibunya nanti setelah ia keluar dari sini.
Ayah dan anak itu pun kembali melakukan pencarian. Mereka pergi ke segala penjuru. Memasang mata dan pendengaran baik-baik. Mencari dengan teliti di setiap sisi dan tak melewatkan satu sisi pun. Rasa khawatir dan takut menyerang mereka. Karena lama kelamaan semakin banyak sisi lubang ini yang terbakar dan hilang.
"Apa mungkin gadis itu yang kau cari?" tanya Minato sambil menunjuk seorang gadis berambut merah muda yang terbaring meringkuk tak sadarkan diri. Naruto pun segera menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Minato. Manik Sapphire nya pun menangkap sosok Sakura yang sejak tadi ia cari.
"Sakura-chan!" teriak Naruto sambil bergerak cepat menuju ke tempat Sakura berada. Minato pun mengikutinya dari belakang.
Naruto segera merengkuh tubuh Sakura dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia peluk Sakura dengan sangat erat. Seolah-olah bila ia melepaskan pelukannya, maka Sakura akan pergi dan menghilang meninggalkan dirinya.
"Uuuh..." Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Memperlihatkan manik Emerald nya yang jernih dan indah. Ia merasa ada seseorang yang memeluk tubuhnya dan rasanya orang itu sangat familiar. "Naruto?" panggil Sakura ketika ia tahu kalau yang memeluknya adalah Naruto.
"Syukurlah kalau kau sudah sadar. Aku begitu lega. Ku kira aku tidak akan melihatmu lagi, Sakura-chan" tutur Naruto sambil melepaskan pelukannya. Namun ia masih menahan tubuh Sakura dengan ke dua tangannya. Karena tubuh Sakura masih lemah.
"Baka! Kenapa kau lama sekali menyelamatkanku?" omel Sakura sambil memukul-mukul tubuh Naruto dan menangis. Lama- kelamaan pukulan Sakura melemah.
"Hiks...Aku sangat..hiks...takut, tahu!" ujar Sakura lirih. Namun masih dapat didengar oleh Naruto dengan jelas.
Sebuah senyum mengembang di wajah Naruto. "Tapi aku menepati janjiku, kan? aku datang menyelamatkanmu. Aku tahu, kalau aku menyelamatkanmu terlalu lama. Salah kan saja Madara yang selalu menghadangku ketika aku akan menyelamatkanmu. Yah, walau pada akhirnya aku bisa mengalahkannya" tutur Naruto dengan senyum bangga.
Sakura terkekeh pelan sambil menghapus air matanya. "Tentu saja kau bisa mengalahkannya. Kau kan hebat. Bahkan seharusnya kau mengalahkannya lebih cepat!" ucap Sakura.
Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mukanya juga memerah. Semua itu hanya karena Sakura berkata kalau ia hebat. "Benarkah aku hebat?" tanya Naruto memastikan.
Sakura menjitak kepala Naruto.
BLETAK!
"Tentu saja kau hebat! Bukankah aku percaya padamu kalau kau bisa menyelamatkanku maka dari itu aku menyuruhmu untuk menyelamatkan Permaisuri Kushina dulu? Kau kira aku akan mempercayakan nyawaku pada orang yang lemah?" tutur Sakura membuat muka Naruto bertambah merah dan jantungnya berdegup kencang. Sakura percaya padanya. Itu sungguh hal yang sangat membahagiakan.
"Hehehehe, arigatou, karena sudah percaya padaku" ucap Naruto sambil kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Ehem!" Minato berdehem agar keberadaannya dianggap.
"Ah! Gomen, Tou-san!" ucap Naruto merasa bersalah karena mengabaikan ayahnya.
"He? Tou-san?" Sakura tampak tak mengerti.
"Oh, iya! Aku belum memberitahumu, ya? Sebenarnya dia adalah Tou-san ku, Raja Minato. Dia selama ini masih hidup. Yah, walau hanya jiwanya saja. Tapi dia masih hidup di dalam lubang hitam ini. Untuk lebih jelasnya akak ku ceritakan nanti saja kalau kita telah keluar dari lubang ini" jelas Naruto singkat.
Sakura mengangguk mengerti. Paling tidak ia tahu garis besarnya. Dia kan tidak sebodoh Naruto. Jadi, dia mudah memahami suatu hal. Namun ia baru ingat kalau sekarang ia berada di dalam lubang hitam ciptaan Madara. Ia jadi bertambah senang mengetahui kalau ia masih hidup walau telah masuk dalam lubang hitam milik Madara. Padahal tadi saat ia akan jatuh ke dalam sini, ia begitu takut dan berpikir kalau ia pasti akan mati. Tapi kenyataannya ia masih hidup dan Naruto datang menyelamatkannya. Bahkan sampai ikut masuk ke dalam lubang ini. Setelah keluar pasti ia akan meminta Ino untuk menceritakan semua yang terjadi.
"Ayo, kita tak punya banyak waktu! Sebentar lagi lubang ini benar-benar hilang! Jadi sebelum itu terjadi, kita harus sudah keluar dari lubang ini" seru Minato.
"Tapi bagaimana cara kita keluar dari sini, Raja Minato?" tanya Sakura.
"Aku sudah bukan raja lagi. Sebentar lagi Naruto lah yang akan menjadi raja. Jadi, panggil saja aku Tou-san, ok?" ujar Minato yang membuat Naruto maupun Sakura salah tingkah.
"Ba-baik, Ra-maksudku Tou-san" ucap Sakura yang membuat Naruto tambah salah tingkah. Sedangkan Minato malah tertawa senang.
"Ya, begitu" ujar Minato begitu senang.
"Jadi, Tou-san, bagaimana cara kita keluar?" tanya Naruto.
"Kita coba gabungkan kekuatan kita. Lalu kita buka pintu untuk keluar dari lubang ini. mungkin pintunya hanya akan terbuka beberapa saat. Tapi tidak apa-apa. Yang pasti kita nanti akan segera keluar sebelum pintunya kembali menutup" jawab Minato.
"Tapi tindakan ini cukup berbahaya bagi kalian berdua. Karena tubuh kalian yang telah melemah belum tentu kuat menahan efek dari pembukaan pintu lubang ini" tutur Minato.
"Memang apa resikonya?" tanya Sakura.
"Resikonya mungkin kalian akan kehilangan nyawa kalian" jawab Minato.
"Kalau begitu, kau tak perlu ikut membuka pintu lubang, Sakura-chan. Biar aku dan Tou-san saja. Kekuatan kami berdua saja sudah cukup kuat untuk membukanya" ujar Naruto.
BLETAK!
Sakura menjitak kepala Naruto. "Baka! Mana mungkin aku bisa diam saja. Lagipula sejak tadi aku tak pernah memakai kekuatanku. Jadi tubuhku tak melemah. Berbeda dengan dirimu-..." belum selesai Sakura berbicara, Naruto sudah menyelanya.
"Jika hanya untuk membuka pintu lubang ini, aku masih kuat. Jadi, kamu lebih baik diam melihat kami. Aku tidak ingin kehilanganmu" tutur Naruto dengan raut muka serius.
Sakura merasa cukup marah atas perkataan Naruto yang menyuruhnya tetap diam. Mana mungkin, kan, dia hanya berdiri diam dan melihat Naruto yang lagi-lagi rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi dirinya. Dia tak ingin melihat saja seperti tadi saat Naruto bertarung. Dia ingin lebih berguna dan sekaranglah saatnya.
Manik Sapphire Naruto membulat. Ia terkejut. Karena tiba-tiba saja Sakura menggandeng tangannya. "Ap-.." belum sempat ia bertanya, Sakura sudah lebih dulu menyelanya.
"Kita akan membukanya bersama. Aku tak ingin lagi-lagi hanya dapat diam dan melihat tanpa bisa melakukan apapun. Jadi kumohon!" Sakura menatap Naruto dalam-dalam. Manik Emerald nya memancarkan keberanian dan keyakinan. Melihat itu membuat Naruto tak bisa berkata atau berbuat apa-apa lagi untuk melarang Sakura.
Naruto tersenyum lembut. "Baiklah kau menang, nona keras kepala" ujar Naruto dan Sakura hanya mengembungkan pipinya mendengar panggilan Naruto untuknya.
"Ayo kita lakukan bersama!" ajak Naruto. Sakura dan Minato menanggapinya dengan sebuah anggukan.
Mereka bertiga kemudian bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil menutup mata. Mencoba fokus untuk membuka pintu dan segera keluar dari sini. Mereka akan berjuang dengan sangat keras untuk keluar dari sini. Bergabung dengan teman-teman mereka lainnya yang sekarang sedang menunggu mereka dengan perasaan khawatir.
Sebuah cahaya putih tiba-tiba saja berpendar dan terlihat muncul di tengah-tengah mereka. Cahaya itu semakin lama semakin membesar juga memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan mata.
"Tunggu apa lagi? Ayo, cepat masuk ke dalam cahaya ini! Pintunya tidak akan terbuka lama" seru Minato mengingatkan.
Naruto dan Sakura yang sempat terdiam karena terkejut, akhirnya tersadar dan segera masuk ke dalam cahaya. Minato pun mengikuti mereka dari belakang.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
Beberapa menit yang lalu, di tempat lain. Kakashi, Gaara, Ino, dan Kushina, bergandengan tangan membentuk lingkaran. Mereka ternyata juga sedang berusaha untuk membuka pintu lubang itu kembali. Agar Naruto dan Sakura dapat keluar. Walau sebenarnya mereka sendiri tidak tahu apakah Naruto dan Sakura masih hidup atau tidak. Tapi bukankah tidak ada salahnya jika mencoba. Apalagi mereka sudah terlalu khawatir bila hanya duduk dan menunggu.
"Paman yakin kalau ini akan berhasil?" tanya Ino masih tak percaya.
"Aku tidak terlalu yakin. Tapi akan lebih baik bila kita mencobanya" jawab Kakashi.
"Kalau pun tidak berhasil, paling tidak kita sudah mencobanya" ujar Gaara.
"Jika Madara bisa, kita juga pasti bisa!" seru Kushina penuh keyakinan. Kini ia telah kembali ke karakternya yang dulu. Yaitu penuh semangat, berani, juga percaya diri. Ia tak ingin lagi menjadi orang lemah yang hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun. Terlebih, sekarang nyawa anaknya sedang dipertaruhkan. Jika ia menyerah dan pasrah pada keadaan, ada kemungkinan ia tidak dapat bertemu lagi dengan Naruto seperti ia yang tidak dapat bertemu lagi dengan Minato—suaminya.
Berbicara soal Minato, ia jadi teringat akan perjuangan Minato untuk melindunginya dan Naruto bayi ketika Madara datang dan berniat untuk membunuh mereka semua. Walau sebenarnya Madara tidak tahu mengenai kelahiran sang pangeran juga keberadaannya. Sebab ia telah lebih dahulu menyembunyikan putranya itu. Yah, meskipun akhirnya Madara mengetahui tentang Naruto.
Saat itu, Minato bertarung mati-matian dengan Madara demi melindunginya. Hal ini sama seperti Naruto yang juga bertarung mati-matian dengan Madara untuk menyelamatkannya dan gadis bernama Sakura. Hingga Minato dan Naruto sama-sama terjatuh di lubang milik Madara pada akhir pertarungan mereka. Bedanya, Naruto mengajak Madara ikut masuk ke dalam lubang itu. Membuat Madara mati karena kekuatannya sendiri.
Walau Naruto lah yang dapat mengalahkan Madara, namun di matanya, ke dua laki-laki tersebut sama-sama hebat dan begitu berharga. Tapi sayangnya, dulu ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Minato. Jadi, sekarang ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya. Ia akan berjuang dengan keras untuk menyelamatkan Naruto. Meski taruhannya adalah nyawa.
BLEZZZZ!
Terdengar sebuah bunyi yang membuat Kakashi, Gaara, Ino, maupun Kushina terkejut. Setelah bunyi itu terdengar, tiba-tiba saja tanah yang berada di tengah-tengah mereka membuka membentuk lubang. Ini hampir sama dengan lubang yang di bentuk oleh Madara. Namun ukurannya tak sebesar milik Madara.
Dalam lubang itu, keluarlah Naruto dan Sakura. Di susul dengan Minato. Kakashi, Gaara, Ino, dan Kushina begitu senang dan menyambut kedatangan Naruto dan Sakura dengan sebuah pelukan kehangatan. Sedangkan Minato hanya berdiri diam melihat mereka semua dari belakang dengan pandangan terkejut. Ia terkejut karena rupanya ia tak menghilang. Padahal ia kira ia akan menghilang. Namun ternyata ia tak menghilang. Terlebih sekarang ia dapat melihat wajah wanita yang begitu ia cintai—Kushina—setelah sekian lama tidak bertemu. Ia begitu senang. Sangat senang.
"Kaa-san, aku membawa hadiah istimewa untukmu" ujar Naruto. Dia pun berniat memberikan kalung yang ayahnya titipkan padanya. Namun niatnya itu terhenti. Karena menurutnya akan lebih baik kalau ayahnya sendiri yang memberikannya. Jadi, ia pun mencari keberadaan ayahnya. Berharap kalau ayahnya tersebut tidak menghilang.
"Apa yang ingin kau berikan, Naruto?" tanya Kushina penasaran. Apalagi setelah melihat anaknya yang seperti sedang mencari seseorang.
Naruto melihat keseliling. Jantungnya berdebar sangat kencang. Karena sejujurnya ia takut bila ayahnya menghilang. Walau ia tahu, kalau pada akhirnya ayahnya pun akan menghilang. Namun dia ingin paling tidak ayahnya berpamitan terlebih dahulu padanya sebelum menghilang. Jadi, dia pun berusaha mencari-cari ayahnya ke segala penjuru. Hingga akhirnya matanya menangkap sesuatu yang bersinar. Senyum lebar terpasang di wajah Naruto. Manik Sapphire nya terlihat berbinar-binar seakan-akan sedang melihat setumpuk harta.
"Ada apa, Naruto?" tanya Kushina yang semakin penasaran juga bingung dengan sikap anaknya yang menjadi aneh tersebut.
"Tou-san" hanya kata itu yang terucap dari mulut Naruto. Bahkan Naruto masih tak mengalihkan pandangannya. Namun hal itu sudah cukup untuk membuat seluruh tubuh Kushina terasa membeku. Tanpa ba-bi-bu, ia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah yang dituju oleh Naruto.
Matanya membulat sempurna tatkala indera penglihatannya tersebut menangkap sosok Minato yang kini sedang tersenyum lembut padanya. Senyum yang begitu hangat dan selalu bisa menghipnotisnya. Senyum yang selalu ia rindukan.
"Minato?" Kushina tampak tak percaya dengan indera penglihatannya sendiri.
"Seperti yang ku katakan dulu. Kita pasti akan bertemu lagi, Kushina" ujar Minato dari kejauhan sana. Namun Kushina masih dapat mendengarnya. Kini tak ada alasan lagi bagi Kushina untuk menolak mempercayainya.
Tanpa diperintah, kaki Kushina telah melangkah sedikit demi sedikit hingga lama kelamaan ia pun berlari. Tak sabar untuk melihat Minato dari dekat. Ketika jarak mereka hanya tinggal satu meter lagi, tiba-tiba saja Kushina melompat—mencoba meraih tubuh Minato. Minato pun panik. Karena belum tentu tubuhnya bisa di peluk. Bagaimana jika ternyata Kushina menembus tubuhnya? Bukankah itu berarti Kushina akan terjatuh? Dia tidak ingin istri tercintanya itu terjatuh.
"Cho-chotto matte!" seru Minato dan Naruto bersamaan. Karena ternyata Naruto pun berpikiran sama seperti Minato. Namun sayangnya, mereka berdua terlambat memberi tahu. Sebab Kushina sudah terlanjur melompat. Sedangkan Minato dan Naruto hanya dapat menutup mata menunggu Kushina jatuh ke atas tanah.
HUP!
Manik Sapphire Minato membulat sempurna. Ketika ia merasakan sebuah pelukan dan rupanya pelukan tersebut berasal dari Kushina. Kushina berhasil memeluknya! Padahal ia kira Kushina tidak akan bisa menyentuhnya. Namun kenyataannya Kushina dapat menyentuhnya. Bahkan sekarang Kushina sedang memeluknya dengan sangat erat dan hangat. Pelukan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Pelukan dari wanita yang begitu berharga baginya. Begitu ia cintai dan sayangi. Perlahan-lahan tangannya pun membalas pelukan Kushina dengan lebih erat lagi. Ia sangat merindukan wanita merahnya ini.
Kushina sama sekali tidak keberatan dipeluk Minato dengan begitu eratnya. Sebab, ia pun sangat rindu pada sosok mentari ini. Sudah sangat lama ia hidup dalam tempat yang dingin tanpa mentarinya ini. Sehingga rasanya ia sangat bahagia ketika akhirnya dapat bertemu kembali dengan mentarinya.
"Kita bertemu lagi...hiks...aku...hiks...senang. Aku sangat...hiks...senang. Aku...hiks...sangat senang, Minato" tutur Kushina disertai tangis bahagia.
Minato melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kushina lekat-lekat. Ia hapus air mata wanita merahnya tersebut. "Aku juga sangat senang. Tapi aku tahu dan yakin kalau kita pasti akan bertemu lagi" ujarnya. Sebuah senyum menghiasi wajah tampannya.
Kushina terkekeh pelan. "Benarkah kau seyakin itu?" tanya Kushina tak percaya.
"Tentu saja. Kau kan hanya ditakdirkan untukku. Jadi bagaimanapun juga, kita pasti akan bertemu. Walau bukan di dunia ini" tutur Minato yang membuat wajah Kushina memerah sempurna. Dia pun memeluk Minato kembali. Ia ingin menutupi wajahnya yang memerah agar tak dilihat orang. Selain itu, ia juga masih sangat rindu pada Minato. Sedangkan Minato hanya tertawa pelan melihat sikap Kushina yang menjadi manja.
"Kalau begitu, kau tidak akan pergi kemana-mana, kan?" tanya Kushina masih memeluk Minato.
Manik mata Minato membulat ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir Kushina. Lalu pada detik berikutnya, matanya hanya dapat menatap sendu. "Gomen, tapi waktuku tidaklah banyak. Seperti yang kau lihat, aku bukanlah diriku yang dulu. Sekarang aku hanyalah sebuah roh yang sewaktu-waktu bisa menghilang" jawab Minato sambil mengusap lembut rambut merah Kushina.
Kushina melepaskan pelukannya. Minato pun dengan berat hati ikut melepaskan pelukannya. "Di mataku kau masih Minato ku yang dulu. Kau sama sekali tidak berubah. Kau bukanlah roh karena aku bisa menyentuh tubuhmu" tutur Kushina dengan air mata yang kembali mengair membasahi pipinya.
Minato kembali menghapus air mata Kushina. "Sayangnya aku memanglah roh. Walau kau bisa menyentuhku, tapi aku benar-benar roh. Hanya saja aku diberi sebuah kesempatan untuk memelukmu. Namun aku tetap akan menghilang diwaktu yang telah ditentukan" jawab Minato dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Karena memang sejujurnya Minato pun ingin berpikir kalau ia bukanlah roh dan dapat hidup lebih lama lagi bersama dengan Kushina juga Naruto. Tapi ia tak bisa merubah kenyataan.
"Kau tidak mungkin menghilang dan pergi dariku. Kau yang bilang kalau aku ditakdirkan untukmu. Itu berarti kau pun ditakdirkan untukku. Jadi, tak ada yang bisa memisahkan kita" tutur Kushina masih tak ingin menerima kenyataan.
Minato memeluk Kushina. Berbagi kehangatan dengannya. "Dengar Kushina,..." ujar Minato.
Minato kembali melepaskan pelukannya lalu menatap Kushina dalam-dalam. "Walau kau ditakdirkan untukku dan aku ditakdirkan untukmu, itu bukan berarti kita akan selalu bersama setiap waktu. Mungkin saja sekarang kita tidak bisa bersama. Namun di waktu yang akan datang, kita pasti bisa bersama. Lagipula, aku pergi darimu itu bukan berarti kita terpisah. Karena hati kita masih saling terhubung. Jadi, kita tidaklah terpisah" tutur Minato disertai senyum hangatnya. Mau tak mau air mata Kushina pun kembali meleleh. Sedangkan Minato segera memeluk Kushina kembali.
"Kau jahat, Minato! Kau jahat!" Kushina memukul-mukul dada bidang Minato.
"Aku merindukanmu" Minato mempererat pelukannya.
"Kau menyebalkan!" Kushina masih memukul-mukul dada bidang Minato.
"Aku menyayangimu" Minato mengusap lembut rambut merah Kushina.
"Kau ingin pergi dariku..." pukulan Kushina pada dada bidang Minato pun melemah.
"Aku mencintaimu, Kushina" Minato meletakan kepalanya di pundak Kushina. Ia terlihat begitu nyaman dan menikmatinya. Sedangkan Kushina kini hanya dapat terdiam membisu. Ia tak mengerti Minato. Laki-laki itu selalu saja mengatakan kata-kata yang mengekspresikan perasaan cintanya. Padahal ia mengatakan kata-kata yang kejam. Ia benar-benar tak mengerti. Namun apa yang dilakukan oleh Minato itu selalu saja dapat membuat hatinya luluh.
"Aku juga mencintaimu, Minato" Kushina mempererat pelukannya pada tubuh Minato. Dua sejoli itu pun pada akhirnya saling berbagi kehangatan. Berbagi perasaan sebelum salah satu diantara mereka menghilang.
Setelah menunggu lama, Naruto perlahan-lahan membuka matanya. Bukan pemandangan ibunya yang terjatuh yang pertama kali ia lihat. Melainkan ibunya yang sedang berpelukan dengan ayahnya. Naruto bingung dengan apa yang terjadi tapi juga senang. Sebuah perasaan hangat menyelimuti dirinya. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sakit sekali.
BRUKK!
.
.
.
~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~
Yahooooo, minna! O genki desu ka?
Gimana cerita di atas? Romantisnya NaruSaku kurang, ya? Gomen... Shizu malah kebawa sama Minato juga Kushina nya... sekali-kali nggak apa-apa, dong?
Hah~ padahal, ni, ya, Shizu tuh niatnya Cuma pingin ini sampai 10 chapter. Tapi karena ke asyikan waktu nulis, tahu-tahu wordnya udah kebanyakan buat 1 chapter. Akhirnya 1 chapter itu ku bagi jadi 2. Dan akhirnya tidak jadi berhenti di chapter 10 tapi berhenti di chapter 11. Sebenarnya chapter 11 nya udah selesai. Mau lihat? Mau lihat? Gimana kalau aku kasih sedikit cuplikannya? Biar readers yang nebak-nebak gimana lanjutan ceritanya...
Chapter 11:
"Bangun, Naruto! Bangun! Baka-Naruto!"
"Aku sudah tidak bisa mengobatinya lagi. Kekuatanku sudah melemah. Sejak tadi aku telah banyak memakai kekuatanku"
"Sakura, hentikan! Sudah cukup! Naruto sudah pergi! Jangan paksakan dirimu! Tubuhmu sudah tidak kuat lagi!"
"Jadi sudah waktunya, ya? Kalau begitu, inilah saat yang tepat untuk mengucapkan kalimat perpisahan"
#
#
Cukup segitu saja cuplikannya. Bagaimana? penasaran? Kalau kalian REVIEW yang banyak, baru, deh, aku upload chapter berikutnya! HAHAHAHAHAHA #ketawa jahat
JANGAN LUPA REVIEW NYA, YA, KAWAN!
Shizu tunggu! Arigatou!
