Chapter Ten: A Fresh Start
.
.
.
"What the hell was that?" seorang wanita cantik berambut merah muda tiba-tiba bersuara dengan nada kesal kepada pria berambut merah di hadapannya. Pria itu memutar matanya bosan sambil menyeruput kopi panas dari cangkirnya.
"Come on, Sakura. Sudah berapa kali aku katakan, apa yang terjadi di antara aku dan Sasuke bukanlah hal yang besar. Kau tidak usah mengkhawatirkannya."
"Bukan hal yang besar katamu? Kalian berdua tadi seperti sudah siap untuk membunuh satu sama lain, Gaara. Untung saja aku menyeretmu duluan ke sini." Kali ini giliran wanita itu yang memutar matanya.
"Yah, anggap saja ada kejadian kecil dimasa lalu yang membuat kami seperti sekarang ini."
"Kejadian seperti apa?"
"Oh, Sakura, tolong-"
"Aku hitung sampai tiga jika kau tidak menceritakannya, kau harus berhenti menghubungiku. Satu, dua, ti-"
"Astaga, baiklah akan aku ceritakan." Sakura mencondongkan tubuhnya ke arah Gaara, tanda bahwa ia sangat tertarik dengan apa yang akan diceritakannya. Pria itu hanya bisa menghela napas pasrah, memikirkan kata-kata terbaik yang akan dikeluarkan agar tidak menimbulkan pertanyaan tambahan dari wanita dihadapannya.
"Dulu waktu masih SMA, aku dan Sasuke adalah rival dalam segala bidang, entah itu akademik maupun non-akademik. Kami bersaing untuk selalu menjadi yang nomor satu, tentu saja persaingan itu kami lakukan secara sehat. Jangan salah paham, aku dulu sangat menghormati Sasuke. Hingga..." Gaara lagi-lagi menarik napas panjang. Kilatan amarah tampak lagi dimatanya itu.
"Lalu?" Sakura sepertinya tidak sadar dengan perubahan emosi lawan bicaranya itu. Dirinya tetap ngotot untuk mengetahui permasalahan kedua pria itu hingga keakarnya.
"Singkat cerita, persaingan terpanas kami terjadi pada akhir tahun sekolah. Saat itu aku benar-benar mengalahkannya dengan telak. Aku berhasil memperoleh nilai tertinggi pada ujian akhir sekaligus merebut beasiswa ke Oxford yang sangat didambakan oleh Uchiha Sasuke. Kurasa sejak saat itu, hubunganku dengannya memburuk." Pria itu menatap lawan bicaranya yang sedari tadi menyimak ceritanya dengan penuh perhatian. Tatapannya masih sarat akan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Situasi ini benar-benar membuat Gaara merasa terpojok. Tak ada pilihan lain baginya selain menceritakan segalanya dengan jujur dan sampai tuntas.
"Sakura, kau masih ingat dengan Konan, kan? Dulu ia pernah menjadi kekasihku sejak SMP hingga SMA."
"Ah, wanita berambut pendek itu? Kalau tidak salah dia mencampakkanmu saat kelulusan, bukan?" dengan polosnya, Sakura menjawab.
"Kau, argh, tidak perlu kau ungkit masalah yang itu, okay?" Sakura membalas perkataannya dengan tatapan 'kau duluan yang mulai membahasnya.'
"Yah, singkat cerita, Sasuke merebutnya dariku dan mempermainkannya sebagai balas dendam karena aku merebut 'takhta'-nya."
"Brengsek." Tanpa sadar, ia langsung mengeluarkan kata makian dari mulutnya.
"Kau ini kasar sekali, Sakura. Kata-katamu itu seperti orang tidak berpendidikan, tahu."
"Ah, itu tadi refleks. Maafkan aku. Silahkan dilanjutkan ceritanya, sir."
"Hah, bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat melihat wanita yang ku cintai berdansa dengan orang lain yang merupakan rival-ku, bukan? Rasanya sangat menjengkelkan. Akhirnya untuk membalas rasa jengkelku itu, aku melakukan hal yang sama terhadapnya saat kuliah. Oh, kau harus melihat ekspresinya saat aku mencium kekasihnya di hadapannya." Cerita Gaara diakhiri dengan tawa jahat yang keluar dari mulutnya.
"Kalian berdua sama-sama brengsek." Dengan wajah datar dan nada yang dingin, Sakura memberikan respon.
"Whoa, he did it first you know!"
"Ya, tapi kau tidak perlu sampai memainkan perasaan orang lain hanya karena kau dendam. Kalian berdua memang sinting." Sakura menyilangkan tangannya di depan dadanya, kesal dengan cerita Gaara. Ia kesal karena baik Gaara dan Sasuke yang sama-sama memainkan perasaan orang lain hanya untuk menentukan siapa yang terbaik di antara mereka berdua. Tapi harus Sakura akui, yang paling brengsek adalah Sasuke karena ia yang melakukannya duluan, Gaara hanya membalas tindakannya itu dengan hal yang sama.
Kini Sakura tahu apa yang menjadi sumber permasalahan di antara suaminya itu dan Gaara. Jujur saja, ia sangat membenci apa yang dilakukan keduanya itu dimasa lalu. Tapi kebenciannya itu lebih terarah kepada Sasuke yang dianggapnya sebagai orang egois yang gila hormat. Satu poin tambahan baginya untuk semakin tidak menyukai Sasuke.
Sakura melangkah dengan malas menuju dapur, mencari air untuk menghilangkan kehausan yang berhasil mengganggu tidur pulasnya. Dengan mata setengah terbuka, ia menyalakan lampu dapur dan segera mengambil apa yang ia butuhkan. Ketika sudah selesai, ia segera mematikan semua lampu dan bersiap kembali ke kamarnya untuk melanjutkan mimpi indahnya yang sempat tertunda. Tiba-tiba langkah Sakura terhenti, ia mendengar seperti ada napas orang lain disekitarnya. Bulu kuduknya langsung berdiri, menandakan ada kehadiran lain di ruangan itu. Mata hijaunya pun memandang ke sekeliling ruangan dengan mode siaga, bersiap-siap jika nanti ia melihat sosok asing di situ.
Tiba-tiba mata Sakura menangkap seseorang yang sedang terduduk di sofa ruang tamu. Langkahnya pelan tapi pasti, ia berjalan semakin dekat. Bunyi napas itu pun terdengar semakin kuat, menandakan keberadaannya sudah tidak jauh lagi dari Sakura. Tunggu dulu, sepertinya ia familiar dengan siluet orang itu. Ya, tidak salah lagi, Sakura tahu siapa dia.
"Sasuke?" tidak ada sahutan. Sekali lagi ia memanggil nama pria itu namun tidak ada jawaban juga. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk lebih dekat dengan sosok yang ia yakini adalah Sasuke.
"Sasuke?!" kali ini suaranya terdengar lebih kencang dari yang sebelumnya. Sosok itu masih tidak bergerak. Sakura mulai panik, ia mulai merasakan ada yang aneh dengan pria itu. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh pipinya seraya terus menggumamkan namanya. Panas, itu yang ia rasakan. Sepertinya Sasuke terserang demam. Dengan keberanian yang telah terkumpul, ia mengguncangkan tubuh itu sambil meneriakkan namanya.
Mata itu terbuka, menampilkan iris hitamnya yang sekelam langit malam. Napasnya menderu seperti habis berlari, butir keringat mengalir dari pelipisnya. Tangan kirinya langsung menyambar tangan wanita yang ada dipipinya, menurunkannya, lalu meremasnya dengan pelan. Sasuke terlihat panik, seperti habis melihat hantu. Di dalam ruangan yang gelap ini pun Sakura bisa melihat semuanya dengan jelas, ekspresi Uchiha Sasuke yang tidak pernah ia tunjukkan.
"Sasuke, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya lembut. Jujur, Sakura merasa sedikit khawatir dengan ekspresi pria itu apalagi dengan suhu tubuhnya yang melewati batas normal.
"Apa yang kau lakukan di sini?" kembali nada dingin itu yang terdengar.
"Aku yang bertanya padamu duluan, okay. Oh, dan kau bisa melepaskan tangaku." Sasuke tanpa sadar sedari tadi menggenggam tangan Sakura dengan erat, lalu melepaskannya. Wanita itu memperhatikan tubuh di hadapannya yang masih terbungkus kemeja dan juga celana kantor. Sepertinya ia habis kerja lembur lagi.
"Rupanya kau habis lembur, hm? Aku tahu kau lelah, setidaknya pilihlah tempat istirahat yang nyaman untukmu." Setelah itu, keduanya pun terdiam cukup lama hingga akhirnya Sakura memutuskan untuk duduk di atas meja kecil di hadapan Sasuke. Tangan kanannya kembali terulur menuju Sasuke, menyentuh dahinya yang tertutup rambut, lalu dengan tangan kirinya menyentuh dahinya sendiri.
"Sepertinya kau sakit, badanmu demam , tahu. Sebaiknya kau beristirahat di kamarmu. Aku akan mengambil obat penurun panas dan juga air untuk mengompres tubuhmu." Tanpa banyak bicara, mereka pun langsung membubarkan diri untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.
Tok. Tok.
Wanita muda itu mengetuk pintu di hadapannya dengan hati-hati. Satu menit. Tiga menit. Lima menit. Tidak ada sahutan dari dalam ruangan. Apakah ia sudah tertidur? Atau jangan-jangan ia pingsan? Dengan sedikit tergesa-gesa, ia membuka pintu di hadapannya hingga menampilkan sosok pria yang terbaring di atas kasurnya. Tanpa sadar, napas lega keluar dari mulutnya,setidaknya ia tidak apa-apa, bukan? Sakura kembali memanggil nama pria itu, tak ada jawaban darinya. Akhirnya, ia memegang tangan Sasuke dan memanggil namanya dengan suara yang lebih keras.
"Sasuke, aku membawakan obat penurun panas untukmu. Minumlah, setelah itu istirahatlah." Mata itu kembali terbuka lalu melaksanakan instruksi dari wanita itu.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan suara serak.
"Sekitar pukul empat lewat. Kenapa?" sebuah gelengan kepala menjawab pertanyaan wanita merah muda itu. Sasuke kembali merebahkan dirinya, memejamkan mata untuk mengusir rasa pening yang ada dikepalanya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah dan dingin pada keningnya. Matanya pun kembali terbuka, menatap wajah yang sedikit tertutup oleh rambut.
"Ah, kalau kau tidak keberatan, aku akan mengompresmu. Dengan cara ini demammu akan lebih cepat turun." Jari lentiknya menyibakkan rambut ke belakang telinganya agar tidak mengganggu kegiatannya. Mata hitam itu masih terbuka, memandang wanita dihadapannya.
"Tatapanmu itu membuatku tidak nyaman. Bisakah kau memejamkan matamu saja dan beristirahat?"
"Bagaimana kencanmu hari ini?" alis Sakura terangkat sebelah, kaget dengan pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Sasuke.
"Kencan? Dengan siapa?"
"Rei Gaara. Tadi aku tidak sengaja melihatmu bersamanya. Bagaimana? Menyenangkan?" nada bicaranya kali ini terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
"Gaara? Astaga. Aku tidak percaya ini." Sakura tertawa pelan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kau tahu, aku sudah mendengar semuanya dari Gaara tentang persaingan bodoh kalian juga 'permainan' kecil kalian dengan wanita. Sungguh, tindakan kalian sangat kekanakan. Aku jadi semakin tidak menyukaimu, kau tahu?" Nada bicara Sakura langsung berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi dingin. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah Sasuke yang juga sedang menatap wajahnya.
"Hn." Gumaman singkat keluar dari mulutnya.
"Sungguh, aku sangat kesal dengan tingkah kalian itu. Kalau saja kau tidak sakit seperti ini, aku tidak akan sudi berada di dekatmu."
"Aku tidak memintamu untuk merawatku. Lagi pula ini hanya demam biasa."
"First of all, aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, aku membencimu, okay? Melihatmu sakit membangkitkan naluriku sebagai seorang dokter. Kau pasti tahu tugas dokter, jadi aku tidak perlu menjelaskannya. Second of all, kau tidak bisa menyepelekan demam. Semua penyakit, ringan maupun parah, itu gejala awalnya adalah demam. Okay?" mendengar ocehan Sakura yang tidak ada hentinya itu membuat kepala Sasuke semakin pusing. Tapi, ia tidak keberatan dengan hal itu. Lewat ocehan wanita itu justru ia merasa sedikit tenang dan tidak kesepian seperti biasanya.
"Ah, sepertinya demammu sudah turun. Kalau begitu kau istirahatlah, aku akan kembali ke kamarku." Dengan perlahan, Sakura berjalan menuju pintu hingga sebuah suara memanggilnya.
"Sakura."
"Hm?"
"Bisakah kau menemaniku di sini?" Alis Sakura terangkat. Kaget sekaligus bingung dengan pertanyaan itu.
"Akhir-akhir ini aku merasa sedikit kesepian. Akan menyenangkan jika ada orang yang menemaniku. Lagi pula sedikit lagi matahari akan terbit, jadi aku rasa kau tak perlu melanjutkan tidurmu."
"Baiklah. Aku rasa juga akan lebih baik seperti itu. Ah, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Kenapa kau bisa tahu tadi aku bersama Gaara? Apakah kau mengikutiku?"
"Ah, itu. Kebetulan tadi aku dalam perjalanan ke suatu tempat. Aku melihatmu sedang berjalan sambal makan hot dog. Kau tahu, tidak susah mengenalimu ditengah kerumunan orang." Sakura melemparkan tatapan bertanya kepada Sasuke. ia tidak menyangka bahwa pria itu akan bisa mengenalinya.
"Rambutmu yang unik, tinggi badanmu yang di atas rata-rata, kulitmu yang putih, mata hijaumu yang berkilauan. Aku rasa dengan ciri-ciri seperti itu tentu saja kau akan mudah dikenali." Seketika itu wajah Sakura memanas, tidak menyangka bahwa Sasuke akan begitu memperhatikan penampilan fisiknya.
"Kau rupanya sangat memperhatikanku, ya?"
"Tidak. Hanya saja fisikmu itu sangat mencolok. Siapapun yang pertama kali melihatmu pasti akan langsung mengingatmu."
"Ah, begitu rupanya."
"Giliranku bertanya. Apa hubunganmu dengan pria itu?" nada suaranya kembali dingin.
"Pria itu? Ah. Gaara?"
"Ya. Kau terlihat akrab dengannya. Siapa dia? Mantan kekasihmu? Ah, tidak. Kekasihmu yang terpaksa kau tinggal karena kau harus menikah denganku?" kali ini Sasuke benar-benar terlihat serius. Pembicaraan mereka sepertinya telah sampai ke tahap yang lebih serius.
"Memangnya kenapa? Sepertinya kau mulai tertarik dengan kehidupan pribadiku. Kau cemburu?" Sakura berniat mencairkan kecanggungan yang terjadi karena pertanyaan Sasuke yang beruntun itu.
"Ya, aku cemburu." Dengan cepat, pria itu menjawab. Raut wajahnya menunjukkan keseriusan, meyakinkan lawan bicaranya yang sepertinya percaya dengan kata-katanya.
"Maafkan aku, itu tadi hanya bercanda." Hembusan napas yang terdengar nyaring keluar dari mulut wanita berambut merah muda itu. Hampir saja ia masuk ke dalam jebakan pria itu, lagi.
"Ah, jadi hanya bercanda. Hm, bagaimana ya mengatakannya. Hubungannku dengan Gaara tidak seperti yang kau pikirkan. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha agar kalian berdua tidak terlibat dalam masalah yang sama."
"Lalu seperti apa?" sepertinya pria itu tidak henti-hentinya bertanya tentang Gaara. Tingkahnya ini pun membuat sedikit rasa curiga timbul dalam benak Sakura.
"Baiklah. Aku dan Gaara adalah saudara, lebih tepatnya ia adalah kakak sepupuku." Mata hitam itu seketika melebar, tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Ya, rival-mu itu adalah sepupuku. Sungguh!" sepertinya ia menangkap sinyal bahwa lawan bicaranya itu tidak percaya dengan perkataannya.
"Kenapa tingkahnya itu seperti kekasihmu? Itu aneh."
"Ah, itu. Dulu waktu aku masih SMP ada kakak kelas yang naksir padaku, bahkan ia terobsesi denganku. Gaara berpura-pura menjadi kekasihku agar menjauhkan laki-laki aneh itu. Pada akhirnya kami pun terbiasa untuk bertingkah sebagai pasangan kekasih." Jelasnya panjang lebar.
"Hentikan itu."
"Hm, apanya?"
"Apa yang kalian lakukan. Tingkah kalian itu bisa membuat orang lain salah paham. Lagipula, sudah ada orang lain yang akan menggantikan tugasnya menjagamu." Kata-kata itu keluar dengan lancar dari mulut Sasuke, terdengar jelas dan tegas. Pipi Sakura langsung memanas mendengarnya. Ia mengerti bahwa orang yang dimaksud Sasuke adalah dirinya sendiri.
"Hm, okay. Nanti akan ku sampaikan padanya." Sakura tersenyum canggung yang disambut dengan senyuman tipis dari Sasuke.
Pembicaraan mereka pun mulai berlanjut, mulai dari pekerjaan hingga keluarga mereka. Mereka merasa bahwa pembicaraan inilah yang seharusnya mereka lakukan dari dulu, mengenal satu sama lain. Pembicaraan kali in terasa lebih hangat dan menyenangkan. Rasa saling tidak suka dan membenci tidak terasa lagi. Mereka terlihat seperti teman yang dapat berbicara dengan nyaman. Bahkan beberapa kali terdengar tawa dari keduanya.
Biip.. Biip..
Suara alaram di atas meja membuat keduanya tersadar dari obrolan menyenangkan mereka. Perhatian mereka teralihkan ke arah jam tersebut yang menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Mereka berdua terpaku, tidak menyangka telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar bertukar cerita. Mereka juga tidak menyangka bahwa hanya dengan berbicara semua terasa lebih menyenangkan.
"Well, sepertinya itu pengingat kita untuk memulai kegiatan kita yang lain. Aku akan membuat sarapan, kau beristirahatlah sebentar." Tangannya terulur untuk menyentuh kening pria di hadapannya.
"Suhu tubuhmu juga sepertinya sudah kembali normal, jadi hari ini kau bisa bekerja seperti biasanya." Senyum lebar menghiasi wajah cantik itu, mengirimkan gelombang hangat yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya, termasuk Sasuke. Kaki jenjang Sakura mulai melangkah meninggalkan pria itu yang tatapannya masih terpaku padanya.
"Sakura, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?"
"Makan siang? Hm, okay. Aku rasa aku tidak terlalu sibuk siang ini."
"Baiklah. Nanti aku akan menjemputmu." Senyum tipis tercipta diwajah tampan Sasuke.
Sakura mengangguk kecil dengan senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya. Langkahnya pun terasa ringan, membuatnya melompat-lompat kecil menuju dapur. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini, padahal jam tidur yang sangat ia agung-angungkan sedikit terganggu oleh seorang pria yang juga tidak terlalu dekat dengannya. Hari ini terasa seperti permulaan yang baik untuk hubungan Sasuke dan Sakura.
Hari ini seperti hari terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku juga merasa bahwa hari ini adalah sebuah awal yang baik bagi hubunganku dan Sasuke. Aku harap rasa benciku ini akan tergantikan oleh hal lain yang lebih indah.
.
.
.
Chapter ten is up!
Maaf karena baru bisa update hari ini. Baru dapat wifi heheheheā¦
Ah, untuk chapter ini feel-nya dapat gak sih? Jujur, sebenarnya saya agak ragu mau post chapter ini, heheheā¦
Maafkan saya juga karena tidak bisa janji untuk update lebih cepat lagi T-T
Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melanjutkan cerita ini dengan lebih menarik lagi. Fighting!
-xoxo
2nd.
