A/n: Maaf sudah lambat update.
Flashback
Len x Miku
Vocaloid Yamaha © Crypton Future Media.
~ # Lamaran # ~
"Apakah kau mau..."
"Mau apa, Len?" tanyaku sangat penasaran.
"Miku...apakah kau mau...berada di sisiku selamanya?" tanya Len dengan sangat tulus sembari memegang kedua tanganku.
"M-maksudmu?"
"Ah? Maaf...maksudku—ahem—Hatsune Miku, apakah kau mau menikah denganku?" tanya Len lagi tetapi wajahnya sudah memerah. Dia mengambil sebuah kotak yang berada di bawah selimutnya lalu membuka kotak tersebut. Mataku terbuka sangat lebar, hatiku sudah sangat berdebar-debar.
Len mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya di jari manisku.
"I-ini bukan mimpi, 'kan? Kamu melamarku?" tanyaku terbata-bata saking malunya. Len mengangguk lalu tersenyum.
Dan tiba-tiba, "Eh—kamu tidak jantungan, 'kan?"
"Jawab pertanyaanku terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan memberitahunya," perintahnya dengan tenang.
Dag..dig...dug...
Aku memejamkan mataku—menahan semua rasa bahagia ini, "A-aku terima."
Rasanya sangat bahagia dilamar oleh tunangan tersayangku ini. Wajah Len bersinar dan terdapat sebuah senyuman tulus terukir di bibir tipisnya itu. Aku menatap bibirnya, kayaknya lembut...
Dag...dig...dug...dag...dig...dug...
"Kenapa Mik? Sepertinya kamu tidak ikhlas," ujarnya dengan sedih. Aku langsung memukul pundaknya, "B-bukan itu maksudku, bodoh. Aku hanya...deg-degan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu—dan keluargamu—berbohong kalau kamu itu jantungan. Kau tahu, kau membuatku sangat panik. Tapi aku juga enggak menyangka kalaukeluargamu berbohong cuma untuk membantumu buat melamarku. Aku...jadi terharu. M-makasih banyak ya, Len," aku berterus terang.
Ah, senyumannya membuatku meleleh.
"Aku senang kalau kau juga senang. Sebenarnya aku juga sedikit gugup—maksudku, melamar itu tidak mudah, ya 'kan? Tetapi aku sangat besyukur aku bisa melakukannya dengan lancar. Makasih banyak juga ya, Mik. Aku bahagia banget, sangat bahagia, melebihi apapun."
"Lalu...sebenarnya kamu enggak jantungan, 'kan? Terus, kok kalian bisa punya kamar di sini?" tanyaku dengan heran. Len nyengir, "Tenang. Aku dan keluargaku sudah meminta izin ke manajer rumah sakitnya kok. Manajernya 'kan temannya papaku. Jadi, woles aja."
"Dasar Len baka! Aku kira kamu jantungan beneran. Eh tapi...kamu mau menikah denganku dengan sungguh-sungguh? Soalnya 'kan, kita baru kuliah semester tujuh," tanyaku lagi.
Len menyeringa, "Tidak apa. Biar mereka tahu kalau kita sudah bersama. Jadi mereka gak ada yang berani untuk ngedeketin kamu," jawabnya sembari memejamkan satu matanya.
Aku menyengir, "Iya iya."
"Cium aku?" pinta Len sambil memonyongkan bibirnya. Aku mendekat ke arahnya lalu menciumnya.
Setelah beberapa lama, kami langsung melepaskannya lalu bernafas. Len menyeringai kembali, "Siap-siap untuk minggu depan, Miku."
"Wah Miku... Kau sangat cantik!" puji Rin dengan mata yang bersinar-sinar.
"Ah? Makasih."
"Aku berharao kalian berdua bisa hidup bahagia di alam sana...," lanjut Rin. Aku langsung menepuk pundaknya, "Apa maksudmu dengan alam sana? Hahaha..."
"Miku-san, Rin-chan, para tamu sudah bersiap-siap," seru Gumi. Gumi Megpoid, teman dekat Rin selain diriku. Dia juga lagi membantu untuk pernikahanku dan Len.
"Ayo Miku!" ajak Rin sembari menarik tanganku, "Oke."
Bel berdentang tiga kali.
Aku cuma mau memberitahu apa yang terjadi di dalam sana—tapi aku masih ada di luar. Yang terjadi di dalam sana adalah Len sudah berdiri di depan Gereja bersama seorang pastor tua yang lagi tersenyum ramah menunggu kehadiranku. Semua tamu juga sedang menunggu.
Gumi berbicara, "Saatnya! Semoga kau bahagia bersama Len-san, Miku-san!"
Aku tersenyum.
Lalu pintu Gereja terbuka lebar. Semua pasang mata melirik ke arahku. Senyuman terukir di bibir mereka masing-masing.
Aku berjalan menuju Len sambil didampingi oleh ayahku. Suara piano mengiringi suasana—menjadi lebih indah.
Suara pijakan kakiku terdengar ke telingaku sendiri. Tarik nafas, lalu buang. Tenang, tenangkan dirimu, Miku. Semuanya pasti akan berjalan lancar.
Secara tidak sadar, aku akhirnya sudah berada di depan Gereja. Len menatap dari diriku dari bawah sampai atas, lalu tersenyum. Walaupun ada sedikit merah merona di pipinya, dia tetap keren, kok. Rambutnya kini diurai, tidak seperti biasanya. Pakaian yang Len dan aku pakai bewarna putih bersih. Dan di gaunku terdapat beberapa renda dan manik-manik kecil bertaburan.
Semua keadaan ini mendukung—menambah kesucian dalam pernikahan manis ini.
Pastor tua itu tersenyum hangat sembari melirik ke arah Len, "Apakah kau, Kagamine Len menerima Hatsune Miku sebagai pendamping hidupmu sampai maut memisahkan?"
Len menghela nafas lalu, "Saya bersedia!"
Lalu pastor itu menghadap ke arahku dengan senyuman hangatnya, "Apakah kau, Hatsune Miku menerima Kagamine Len sebagai pendamping hidupmu sampai maut memisahkan?"
Aku menghela nafas, "S-saya bersedia!" suaraku melembut. Senyuman hangat pastor itu tidak terhapus dari wajahnya sembari menghadap ke arah kami berdua.
"Anda dapat—"
"Cium! Cium! Cium!" teriakan Rin terdengar sampai ke seluruh ruangan. Mata seluruh tamu mengarah pada Rin. Semua menatapnya dengan tatapan bingung.
Heh. Dasar Rin konyol, batinku seraya tersenyum.
"Anda dapat mencium pengantin anda," ucap sang pastor.
Lalu Len mengelus pipiku dan menciumku. Ciuman yang hangat dan manis. Suara sorakan dan tepuk tangan menguasai keadaan.
Dan sebuah pasangan muda terlahir di dunia ini.
Fin.
A/n: versi editan dan originalnya beda jauh, ya?
Pas bagian pernikahan itu, saya sebenarnya gak tau gimana prosesnya. Saya orang Islam. Jadi aku ingat-ingat sendiri adegannya gimana. Soalnya pernah ada di tipi-tipi."
Review? Karena saya udah...uwah, begitulah :D
Sampai jumpa di cerita yang lain!~
