Annyeeoooongggg chingudeuuulll.. Nahh.. sesuai janji Jangmi..
Chapter 10 comiiiingggggg.. nggak lama kan? Eheheheee...*cuma 2 hari loh
Happy Reading chinguuuuuu :)
CHAPTER 10
From : My Boojae
Yunniiieee.. kenapa lama sekali? Aku dan uri baby sudah lumutan menunggumuuu.. Pohon besar ini sudah mengejekku dari tadiiii
Yunho tertawa melihat pesan Boojaenya. Boojaenya ini selalu saja dapat membuatnya tertawa dengan tingkah-tingkah lucunya. Dulu sebelum mengenal Jaejoong lebih jauh, Yunho mengira Jaejoong adalah sosok yang selalu serius dan tak banyak bicara. Akan tetapi setelah mengenalnya, Yunho menemukan calon istrinya tercinta itu merupakan orang yang terbuka, lucu, periang dan siapa sangka juga sedikit pervert. Yunho terkadang terkejut dengan tingkah Boojaenya, tapi dia suka itu. Jaejoong selalu bisa mengobati kebosanan dan kelelahannya.
To : My Boojae
Ahahaaa.. ada-ada saja kau Boo.. Mian Boo.. sepertinya kau dan uri baby harus menunggu setengah jam lagi. Sutradaraku mengamuk karena ada salah satu staff yang membuat listrik konslet pada adegan terakhir. Sampaikan permintaan maafku pada uri baby ne?
Tak lama, Jaejoong kembali membalas pesannya.
To : Yunnie Bear
Arrassooo.. appa bear memang sudah tidak sayang lagi padaku dan uri baby.. dia lebih mementingkan syutingnya.
Yunho mengernyitkan dahinya melihat pesan Jaejoong. 'Gawat! Dia pasti kesal' batin Yunho. Sebenarnya ia juga khawatir, entah kenapa perasaannya tidak enak dari tadi. Dia sudah meminta Yoochun agar dapat mengizinkannya pulang. Akan tetapi Yoochun menggelengkan kepala dan mengisyaratkan matanya ke arah sutradara yang masih memarahi staffnya. Yunho mengerti dan menerima dengan pasrah, toh dia hanya akan beracting 1 scene lagi. Akhirnya dia membalas pesan Jaejoong.
From : Yunnie Bear
Jangan begitu Jae.. tunggulah di perpustakaan agar kau tidak sakit terkena angin ne? Kasihan uri baby. Saranghae my Boojaeee..
Yunho menunggu balasan dari Jaejoong, tetapi ponselnya tak kunjung berbunyi. 'Hhh.. dia pasti marah padaku' batin Yunho pasrah. Sebenarnya perasaannya makin tak enak, tetapi sutradara sudah memanggilnya untuk melanjutkan syutingnya. Akhirnya Yunho pasrah dan menyimpan ponselnya ke dalam tas.
###
Yunho menyeka keringatnya dengan handuk yang diberikan Yoochun. Ia baru saja menyelesaikan scene terakhir untuk hari ini yang ternyata lebih lama dari dugaannya. 'Jaejoong pasti marah sekali padaku..' batinnya. Ia segera menuju ruang gantinya disusul Yoochun. Ia meraih ponselnya dan mengeceknya. 'Aneh.. tidak ada satupun pesan dari Boojae.. biasanya kalau telat 5 menit saja ponselnya akan penuh dengan pesan maupun miscall dari Boojaenya. Padahal ini sudah hampir setengah jam melewati waktu yang ia sepakati' batinnya. Seketika saja rasa cemas yang menghantuinya sejak tadi kembali menyerangnya. Ia segera mendial nomor Boojae-nya. Tak lama, suara operator memberitahunya bahwa nomor tersebut tidak aktif. Hati Yunho semakin tidak tenang. Ia mencoba mendial nomor Boojaenya lagi, tetapi operator lah yang kembali menjawabnya.
"Ada apa Yun?" Tanya Yoochun yang melihat raut kecemasan di wajah Yunho.
"Nomor Boojae tak aktif Chun.. perasaanku tak enak" Yunho mulai panik.
"Tenang dulu Yun.. mungkin dia bersama Junsu. Sebentar, akan kutelpon dia.."
Yunho mengangguk, dia berjalan mondar-mandir gelisah di ruang gantinya. Pikirannya tertuju pada Boojae-nya seorang. Yoochun menghampiri Yunho setelah menelpon Junsu.
"Dia tidak bersama Junsu.." ujar Yoochun yang membuat Yunho makin tak tenang. Yunho segera mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas secara asal.
"Aku harus ke kampus secepatnya Chun, perasaanku tak enak.." panik Yunho. Yoochun menghela napasnya.
"Baiklah, aku ikut denganmu, biarkan aku yang menyetir, kau sedang tidak dalam keadaan yang baik untuk menyetir" tegas Yoochun.
"Baiklah.. tapi kumohon cepat.." pasrah Yunho.
Yoochun dan Yunho segera merapikan barang-barang pribadi mereka dan meninggalkan yang lain kepada staff. Mereka setengah berlari ke arah parkiran. Tanpa disadari mereka, Ahra mengikuti mobil mereka.
###
Yunho berlari sepanjang koridor kampusnya menuju perpustakaan, disusul oleh Yoochun. Sekarang sudah jam 6 sore, kampus sudah sangat sepi. Ia segera menghampiri penjaga perpus.
"Annyeonghaseyo Jang ssi.. apakah anda melihat Jaejoong?"
Mr Jang yang merupakan penjaga perpustakaan sedikit terkejut melihat ada artis terkenal yang menyapanya dan bahkan mengenal namanya. Setelah berhasil mengatasi keterjutannya ia menjawab pertanyaan Yunho.
"Tidak, aku belum melihat Jaejoong hari ini.."
"Mwo? Jadi Jaejoong tidak kesini hari ini?"
"Sepertinya tidak.. ehmm.. bukankah kau U-Know?"
Yunho terkejut mendengar pertanyaan dari Mr Jang. 'Astaga, ia lupa kalau ia tidak memakai penyamarannya. Pasti ia membuat bingung Mr. Jang' batinnya.
"Ah.. ne.. mianhaeyo Mr. Jang, saya belum memperkenalkan diri. U-Know imnida.. apakah anda yakin Jaejoong tidak kesini?"
"Ya.. saya yakin Jaejoong tidak kesini.."
"Baiklah.. kamsahamnida .." ucap Yunho tergesa-gesa dan berlari kembali ke arah gerbang sekolah. Yoochun masih di belakangnya. Yunho menghampiri bangku tempat biasanya Jaejoong menunggunya. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jaejoong. Yunho mengacak rambutnya frustasi. Yoochun masih berkeliling mencari-cari sesuatu apapun itu yang dapat memberi mereka petunjuk keberadaan Jaejoong. Akan tetapi sepertinya tidak ada suatu apapun yang dapat memberikan petunjuk. Ia sebenarnya sudah cemas seperti Yunho, tapi dia tidak menunjukkannya. Bagaimanapun saat situasi begini, setidaknya harus ada salah satu dari mereka yang waras.
"Hosshhh.. Yunho ssi! hossh.." Yoochun dan Yunho menoleh pada orang yang memanggil mereka. Jungmo berdiri tak jauh dari mereka, terengah-engah, sepertinya habis berlari. Yunho menatap Jungmo marah, menghampirinya, dan menarik kerah baju Jungmo.
"Kau! Dimana Jaejoong!" teriak Yunho setengah mencekik Jungmo. Yoochun segera menghampiri mereka, mencegah Yunho.
"Yun.. sabar dulu.. sepertinya ia ingin berbicara sesuatu.." dengan tidak rela Yunho melepas Jungmo yang terlihat kehabisan napas.
"Yunho ssi.. bukan aku yang membawa Jaejoong, tapi Kris! Kebetulan tadi aku berpas-pasan dengan mobil Kris dan melihat Jaejoong bersamanya, aku curiga, jadi aku mengikutinya, ternyata ia membawanya ke sebuah rumah.." Yunho membelalakkan matanya.
"Mwo? Kris? Bukankah ia teman Jaejoong yang pintar itu? Apakah kau bicara yang sebenarnya?" tatap Yunho penuh selidik, bagaimanapun Jungmo adalah salah seorang yang pernah menyakiti Jaejoong. Ia tak dapat mempercayainya begitu saja.
"Percayalah.. bukan aku yang membawa Jaejoong.. aku tadi menunggumu datang di sekitar sini, begitu melihatmu berlari ke dalam kampus, aku langsung menyusulmu.. larimu cepat sekali sunbae.." ujar Jungmo. Yunho masih menatap Jungmo tidak percaya tapi Yoochun berkata..
"Yun sepertinya dia berkata jujur.. kalau dia benar, kita harus cepat! Bukankah ini sudah hampir 1 jam yang lalu?"
"Baiklah.. cepat tunjukkan tempatnya.." kata Yunho pada Jungmo.
"Tapi Yunho ssi.. sebaiknya kau menghubungi polisi.. karena Kris mempunyai beberapa anak buah yang cukup kuat.. sewaktu kejadian di perpustakaan itu, aku dihajar oleh anak buahnya sehingga tidak kuliah selama 2 minggu.." tutur Jungmo.
"Mwoo? Kris tahu hal itu?" kaget Yunho.
"Ne.. sepertinya ia sudah mengincar Jaejoong sejak lama.. dia bahkan mengancamku agar tidak mendekati Jaejoong lagi"
Rahang Yunho mengeras. 'Sial! Pasti dia yang mengirimkan surat kaleng tersebut!' batin Yunho. Dia sudah salah sasaran selama ini. Seharusnya bukan Jungmo yang ia takutkan.
"Baiklah.. Yoochun.. cepat kau telepon Siwon hyung.. minta bantuan padanya.." ujar Yunho.
"Oke" Yoochun segera mendial nomor Siwon.
"Tapi.. sebaiknya polisi saja.. bantuan satu orang takkan cukup.." ujar Jungmo.
"Tenang saja.. Siwon hyung juga punya anak buah yang cukup kuat.. ayo tunjukkan tempatnya"
Jungmo tidak bertanya apa-apa lagi dan masuk ke mobil Yunho bagian belakang. Sebenarnya ia sedikit bertanya-tanya orang seperti apakah sunbaenya yang misterius ini. 'Apakah ia salah seorang anggota mafia sehingga tidak mau identitasnya diketahui oleh public?' batin Jungmo. Kalau iya, Jungmo bersyukur dirinya tidak terlibat terlalu jauh dengan Jaejoong. Walaupun ia termasuk berandalan di kampusnya, ia tidak sebodoh itu untuk berurusan dengan anggota mafia.
###
Kris menatap Jaejoong yang pingsan di tempat tidurnya dan menyeringai puas. Ia sudah mematikan ponsel Jaejoong agar tidak ada yang mengganggunya. 'Aku akan mendapatkanmu malam ini Jae..' batinnya seraya mengelus pelan pipi Jaejoong. Ia sudah menginstruksikan anak buahnya untuk berjaga di depan rumahnya dan di depan kamarnya. Ia tidak yakin Yunho bisa menemukan tempatnya ini, tapi tidak ada salahnya jika ia berjaga-jaga. Ia tidak ingin kenikmatannya nanti terganggu oleh orang-orang yang tidak penting. Ia benci pada Yunho yang telah merebut Jaejoong darinya dan berpose sangat vulgar dengan Jaejoong di majalah. Ya, ia sudah mengetahui identitas Yunho sejak mengikutinya ke rumahnya. Ia tertawa sendiri mengingat kebodohan Yunho yang mengira Jungmo-lah yang mengirimkan surat itu. Ia yakin saat ini Yunho pasti sedang mencari Jungmo untuk mengetahui keberadaan Jaejoong.
Kris mulai melepas kemejanya dan kancing celananya, ia sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh Jaejoong yang selama ini selalu menghantui fantasi-fantasi liarnya. Malam ini, fantasi liarnya itu akan menjadi kenyataan. Ia mengambil tali yang ada di nakasnya dan naik ke atas tempat tidur dimana Jaejoong terbaring tak berdaya. Kris terkekeh pelan, ia menatap tubuh Jaejoong dari atas sampai bawah. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong dan mulai menciumi bibir Jaejoong.
"Ahhh.. manis sekali bibirmu Jae.. kau tidak akan mengira betapa inginnya aku menciumimu seperti ini.." Kris bergumam kecil dan melanjutkan melumat bibir Jaejoong, memasukkan lidahnya, menghisap-hisap lidah Jaejoong dan mengeksplor seluruh isi mulut Jaejoong. Beberapa saat kemudian, ia melepas ciumannya dan kembali menatap Jaejoong. Bibir Jaejoong bengkak dan basah karena lumatannya. Terlihat menggairahkan. Kris merasakan bahwa juniornya sudah mulai menegang.
"Wah.. hanya dengan menciummu saja juniorku bisa tegang begini Jae.." gumam Kris lagi. Kini ia mulai menciumi rahang dan leher Jaejoong, menghisap dan menjilatinya, meninggalkan jejak di leher mulus tersebut.
Ia mulai membuka kancing kemeja Jaejoong dengan perlahan, menikmati keindahan tubuh Jaejoong yang perlahan terkuak di depan matanya. Ia melempar kemeja Jaejoong dan meraih kait bra Jaejoong, melepasnya, dan melemparnya juga ke lantai. Mata Kris berbinar menyaksikan keindahan di depan matanya. Kedua gundukan kenyal itu bergoyang-goyang ketika ia menarik bra Jaejoong. Ia menyentuh nipple Jaejoong perlahan, kemudian menekannya, sedikit meremasnya dan menyeringai puas. Ia mengangkat kedua tangan Jaejoong ke atas dan meraih tali yang tadi sudah disiapkannya. Efek obat biusnya sebentar lagi pasti akan hilang, dan ia tidak ingin terganggu oleh rontaan Jaejoong. Ia mengikat kedua tangan Jaejoong pada kepala ranjangnya.
Kris menegakkan tubuhnya dan menatap karyanya. Jaejoong terlihat sangat pasrah saat ini. Ia turun ke bawah, meraih kancing celana Jaejoong, membuka resletingnya, dan menariknya lepas. Ia memandang kaki mulus Jaejoong dan segera perhatiannya teralih pada celana dalam yang masih melekat pada daerah kewanitaan Jaejoong. Ia meraihnya dan menariknya lepas juga. Saat ini Jaejoong benar-benar sudah polos di hadapannya. Ia menyeringai puas. Ia meraih kedua kaki Jaejoong dan membukanya lebar-lebar sehingga kewanitaan Jaejoong terbuka dan semakin jelas terpampang di hadapannya. Ia menatap bagian kewanitaan Jaejoong yang mulus, hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Klitorisnya terlihat sangat menggoda, apalagi lubang vaginanya yang seakan-akan memanggil Kris untuk segera memasukinya. Ia menyentuh klitoris itu perlahan, menekannya dan kemudian menariknya sehingga semakin memerah. Ia menyentuhkan jarinya ke arah lubang vagina Jaejoong dan mengusapnya naik turun, membuatnya berkedut. 'Hoo.. ternyata dalam keadaan tidak sadarpun Jaejoong masih bisa merasakannya' pikirnya.
Kris berdiri dari tempat tidurnya, menatap tubuh Jaejoong yang terlihat menggairahkan. Bayangkan saja, Jaejoong dengan tubuh polos, tangan terangkat ke atas, kaki yang mengangkang lebar, dan jangan lupa klitorisnya yang memerah dan lubangnya yang masih berkedut karena ulah Kris tadi. Kris menyeringai puas. "Ah yaa!" ujarnya tiba-tiba dan beranjak cepat ke lemarinya. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam lemari tersebut dan membukannya. Ia mengambil dua buah vibrator dari dalamnya, kemudian meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia mengambil foto Jaejoong yang telanjang bulat.
"Nah.. mari kita bersenang-senang Jae!" ucapnya seraya menyeringai.
Ia kembali naik ke atas ranjangnya, mendekati daerah kewanitaan Jaejoong. Ia kembali mengelus daerah kewanitaan Jaejoong dan tiba-tiba memasukkan salah satu jarinya ke lubang vagina Jaejoong. Ia tersenyum puas melihat daerah kewanitaan Jaejoong yang mulai basah dan jarinya yang tenggelam dalam lubang berkedut itu. Ia mengambil ponselnya, mengambil foto, dan merekam jarinya yang sengaja ia keluar masukkan dalam lubang vagina Jaejoong. Setelah puas merekam, ia mengambil kedua vibrator. Ia memasukkan salah satunya ke lubang vagina Jaejoong dan satunya lagi ke lubang anus Jaejoong, kemudian menyetelnya pada level getaran tertinggi. Tubuh Jaejoong mulai bergetar karena kedua vibrator yang bersarang dalam tubuhnya. Kris berdiri, membuka kaki Jaejoong lebih lebar lagi dan menatap hasil karyanya dengan puas. Daerah kewanitaan Jaejoong kini bergetar dan mengkilat karena basah. Sungguh menggairahkan. Kris mengambil kembali ponselnya dan mulai mengambil foto dan merekam. 'Ini akan bagus sekali jika menjadi wallpaper kamarnya' batinnya.
Ia kembali naik ke atas ranjang, meraih payudara Jaejoong yang sedari tadi belum banyak disentuhnya. Ia meremas payudara Jaejoong, dan mendekatkan wajahnya pada payudara itu. Kris menciuminya, menjilat, serta menghisapnya, meninggalkan jejak seperti di leher Jaejoong. Ia meraup nipple Jaejoong dan mengemut serta menghisapnya seperti bayi yang sedang menyusui. Ia kembali mengambil ponselnya dan ber-selca dengan posisinya yang sedang menyusu pada Jaejoong. Ia menatap puas hasil selca-nya yang menampakkan dirinya, payudara Jaejoong dan wajah Jaejoong. Ia segera mengganti wallpaper ponselnya dengan gambar ini dan melanjutkan menikmati tubuh Jaejoong. Ia meraup nipple Jaejoong yang satunya dan mulai menghisapnya.
"Uggghhhhhh…" Jaejoong mulai terbangun dan merasakan sesuatu yang kenyal dan basah sedang bergerak di salah satu payudaranya. Ia juga merasakan bagian kewanitaannya bergetar dan perih. Ia membuka matanya dan menemukan kepala seseorang di depannya. Kemudian, kepala itu mendongak menatapnya. Jaejoong terkejut.
"Kk.. Kris?" Kris menyeringai.
"Hai Jae.. aku senang kau sudah bangun.. aku ingin mendengar desahanmu.." Kris beranjak bangun dari tubuh Jaejoong.
"Mwo? Apa…" ucapan Jaejoong terhenti ketika ia menyadari tubuhnya yang telanjang. Seketika ia panik dan berusaha beranjak bangun. Ia terbelalak ketika menyadari tangannya terikat ke atas ranjang. Ia hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya liar, dan itu bukanlah tindakan yang bijaksana, karena kedua vibrator yang bersarang di bagian bawah tubuhnya itu melesak semakin dalam.
"Ahhhh… sshhhh.." Jaejoong mendesah, Kris menyeringai senang. Kini ia sudah berdiri di samping ranjangnya, menatap tubuh Jaejoong yang menggeliat-geliat seksi.
"Asshhh.. apa yang kau sshhh.. lakhukhannn Khrissshhh… lepphasshhkhaann akuuhh.." jerit Jaejoong susah payah di antara desahannya. Kris terkekeh.
"Hmm? Nanti kau akan aku lepaskan Jae.. sekarang biarlah aku menikmati tubuhmu ne?" jawab Kris.
"Kenapa kau melakukan ini Kris?" ucap Jaejoong pelan setelah ia lebih tenang. Ia sudah tidak menggerakkan tubuhnya lagi.
"Huh? Masa kau tidak mengerti juga? Tentu saja karena aku mencintaimu Jae.. aku sudah membayangkan hal ini sejak lama.. dan semakin membulatkan tekadku untuk memilikimu saat melihat tubuhmu di majalah NEXT sebagai Hero.." ujar Kris seraya mengelus lembut pipi Jaejoong. Jaejoong memalingkan wajahnya. Tiba-tiba di kepalanya timbul suatu pemahaman, ia kembali menatap Kris.
"Kau! Kau yang mengirim surat-surat itu!" teriak Jaejoong. Kris tertawa.
"Tentu saja, kau pikir siapa? Jungmo? Ahahaaa.. dia memang terlalu mudah membuat dirinya dicurigai. Tenang saja, aku sudah menghajarnya hingga babak belur.. ia takkan berani mendekatimu lagi.." senyum Kris yang membuat Jaejoong muak.
"Mwoo? Kau menghajar Jungmo?" Tanya Jaejoong. 'Ohtohkee? Aku salah sangka selama iniii" Batin Jaejoong panik.
"Nee.. berani sekali ia menyentuhmu! Ohya, mungkin saja U-Know atau aku bisa bilang Yunho-mu itu sekarang sedang menghajar Jungmo karena dikira menculikmu! Ahahahaaa.. bodoh sekali mereka!" tawa Kris. Jaejoong terkejut karena Kris mengetahui soal Yunho juga. Jaejoong bergidik tak percaya, ia yakin orang di hadapannya ini sudah tidak waras. Ia mulai takut dan merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. 'Yuunnniieeee.. hiks.. tolong akuuuuuu..' jeritnya dalam hati.
"Yunniee.. hiks.." tumpah sudah air mata Jaejoong. Kris yang mendengar nama Yunho disebut mengepalkan tangannya dan menghampiri Jaejoong.
"Wae Jae? Kenapa menangis?" Ia menjilati air mata Jaejoong. Jaejoong berusaha menolak dengan memalingkan wajahnya, tetapi Kris mencengkram rahangnya dengan kuat.
"Hiks.. hikss.. Yunniee.." isak Jaejoong lagi.
"Sssttt.. sudahlah.. aku tidak suka kau menyebut namanya.. Aku berjanji tidak akan menyakitimu jika kau tidak menyebut namanya lagi dan menuruti semua perkataanku, ne?"
"Hikss.. hikss.." Jaejoong hanya membalas dengan tangisannya.
"Nah.. sekarang kau nikmati saja ini.." Kris menyalakan mode rekam di ponselnya dan menaruhnya di nakas menghadap ranjangnya.
Kris segera meraih payudara Jaejoong dan mulai melumatnya lagi. Jaejoong terdiam, air matanya masih mengalir dan pikirannya kosong. Ia menggigit bibirnya untuk menahan desahannya. Kris yang melihat tidak ada reaksi apa-apa dari Jaejoong, mengarahkan tangannya ke payudara Jaejoong yang satu lagi, memelintir nipplenya dan menariknya kuat-kuat sehingga Jaejoong menjerit keras.
"Arrrrgghhhhhh.. appooohh.. hiks.." Kris segera menghisap payudara Jaejoong lebih keras.
"Aaahhhhh…Krissshh.. hentikaaannnhh.." desah Jaejoong.
"Nah.. begitu Jae.. mendesahlah jika kau tak ingin kusakiti"
Kris mulai menjilati perut rata Jaejoong, menghisapnya, dan mengelusnya. Membuat Jaejoong menggeliat. Ia terus turun ke bawah dan membuka kaki Jaejoong. Jaejoong berusaha menahannya sekuat tenaga, tetapi Kris jauh lebih kuat. Kris menghentakkan kedua kaki Jaejoong menjauh antara satu dengan yang lain sehingga kini kedua kaki Jaejoong mengangkang sangat lebar di hadapannya. Ia menarik keluar vibrator yang berada dalam vagina Jaejoong dan membiarkan yang satunya di dalam lubang anus Jaejoong.
"Shhhhh…" Jaejoong mendesah karena reaksi vibrator dalam vaginanya. Kris menyeringai dan segera memasukkan dengan kasar vibrator yang baru saja dikeluarkannya itu ke dalam lubang anus Jaejoong sehingga kini ada dua vibrator bersarang dalam lubang anus Jaejoong.
"Aarrrrrggghhhhhh…" Jaejoong menjerit kesakitan. Air matanya mulai mengaliri pipinya lagi. Kris mengabaikannya. Ia menunduk, mengahadapkan wajahnya pada vagina Jaejoong dan mulai mencicipinya. Ia menjilati cairan yang keluar dari vagina Jaejoong, memutar lidahnya disekitar klitoris Jaejoong.
"Shhh.. Krissshhh.. stooppphhh.." Jaejoong mulai menggeliatkan badannya dan mencoba menutup kedua pahanya. Kris menahan kedua kaki Jaejoong dengan kedua tangannya. Ia menyapukan lidahnya di sekitar lubang vagina Jaejoong dari atas ke bawah, ke atas lagi. Menghisap klitoris Jaejoong, menggigitnya kecil, dan mengemutnya. Ia beranjak ke bibir vagina Jaejoong, menjilat, menggigit dan mengemutnya lagi.
"Aahhhhh… sshhhhh…" Jaejoong semakin tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia menggelinjang semakin kuat. Kris tersenyum puas mendengar desahan Jaejoong yang pasti terekam jelas di ponselnya.
Kris mendekatkan lidahnya pada lubang vagina Jaejoong kemudian mulai mengeksplornya. Ia memasukkan lidahnya dan memutarnya di dalam vagina Jaejoong, mengeluar-masukkan lidahnya sambil sesekali menghisap cairan yang keluar dari sana. Sepertinya Jaejoong sudah sampai pada puncak kenikmatan akibat ulahnya.
"Aaahhhhhhh… sshhhhhhhh…" Jaejoong sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Air matanya terus mengalir. Ia memikirkan kandungannya yang masih belum stabil. Ia takut terjadi sesuatu pada baby-nya. Ia memikirkan Yunnie-nya. Ia mengecewakan Yunnienya. Ia khawatir Yunnie-nya akan meninggalkannya setelah ini. Ia merutuki kebodohannya yang tidak menyadari perasaan Kris padanya.
Kris berdiri dan menatap tubuh Jaejoong yang terengah-engah, wajahnya mendongak ke atas. Payudaranya tampak naik turun. Kris meraih celananya dan melepasnya sehingga ia polos seperti Jaejoong dan naik kembali ke atas kasur. Jaejoong menolehkan kepalanya ke arah Kris dan terkejut ketika Kris sudah polos seperti dirinya. Ia menatap junior Kris yang sudah begitu tegang lalu mengalihkan pandangannya pada wajah Kris yang sudah menyeringai mesum padanya.
"Mari kita masuk ke permainan inti Jae.." ujar Kris.
"Andweee… hiks.. kumohon Kris.. jangan lakukan itu.. hiks.." isak Jaejoong.
"Ssstttt.. diamlah Jae..aku sedang berkonsentrasi.." ujar Kris sambil memposisikan juniornya pada vagina Jaejoong. Jaejoong menggeleng kuat-kuat, menggeliatkan tubuhnya, berusaha semaksimal mungkin menolak Kris. Tapi Kris menahan tubuhnya lebih kuat lagi.
"Andwwweeeeee.. hiksss… andwweeeeeee.. jebaaaalll.. hmmmmppphhh" teriakan histeris Jaejoong terhenti karena Kris sudah melumat bibirnya dan langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut Jaejoong.
Jaejoong menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk melepaskan ciuman Kris, tapi Kris mencengkram rahangnya kuat-kuat dengan tangan satunya sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Air mata Jaejoong mengalir semakin deras diantara lumatan Kris. Tangan Kris satu lagi membantu juniornya memposisikannya di lubang vagina Jaejoong.
JLEB
"Hhhhhmmmmppppppphhhhhhhhhhhh…" Jaejoong menjerit tertahan karena Kris akhirnya berhasil memasukkan seluruh juniornya ke vagina Jaejoong dalam sekali hentakan kasar.
"Hmmmpphhh…" desah Kris tertahan. Ia memejamkan matanya.
Kris merasakan nikmat sekali pada juniornya. Lubang vagina Jaejoong yang sempit serta sensasi getaran yang berasal dari lubang anus Jaejoong menambah kenikmatannya. Kris melepas ciumannya pada Jaejoong yang masih terisak. Kris tidak mempedulikannya. Ia langsung bergerak mengeluar-masukkan juniornya.
"Shhhhh… aahhhh.. kau nikmat sekali Jaeeehh.. lebih nikmat dari yang kubayangkan selama inihhhh…" desah Kris lagi.
Suara kecipak becek yang dihasilkan oleh junior Kris dan vagina Jaejoong serta suara tumbukan tubuh bagian bawah mereka memenuhi ruangan itu diselingi oleh desah kenikmatan Kris dan isak tangis Jaejoong.
"Ugghhhh… sebentar lagi Jae.. aku akan mengeluarkannya sebentar lagihh,, ahhhh.."
"Andwee Kris..hiks.. jebal.. jangan keluarkan di dalam…hiks.." isak Jaejoong. Mata Jaejoong kemudian membulat ketika merasakan Junior Kris yang membesar dalam vaginanya.
"Andwwweeeee.. Krisssssss…."
"Jaeeeeeehhhh…."
TBC
Wah wah waahhh.. apakah yang akan terjadi pada Jaejoong? Kenapa Yunho belum muncul juga?
Mianhae kalau episode ini mengecewakan sebagian pembaca yang mengharapkan Jaejoong baik2 saja..
Gomawo udah baca Gomawo udah review..
Gomawo buat likers and followers
Jangmi sayang kalian semua.. mmuuaacchhhh..
Kamsahamnidaaa... *deep bow
