ZAAAAASSSSHHHHHHHH
"Urghhh..."
Ia meraba abdominalnya yang sedari tadi menjadi karung tinju para preman jalanan. Ia bisa merasakan rasa pedih disana, beberapa kali para preman jalanan tadi menggoreskan benda tajam disana. Akan tetapi ketika tangannya berjalan menuju sumber luka, ia merasakan ada sesuatu yang terasa kenyal, lembut dan juga hangat. Ia mengerjapkan kedua matanya, melihat bayang samar sebuah wajah dihadapannya.
"Be..bertahanlah...ssu"
Tuhan,
Aku sudah muak dengan hidupku yang tak berarti ini
Aku sudah–
"Hiks...hiks..hiks..."
Tunggu.
Siapa dia, kenapa ia menangis?
"Ku..kumohon bertahanlah ssu.. jangan menyerah..."
Aku jadi ingat perkataan ibunya Satsuki
Jika hujan turun, maka tiap rintiknya itu adalah air mata seribu malaikat
"Hiks... kau tidak boleh.. menyerah ssu.. bertahanlah..!"
Tiap satu tetes air mata itu turun untuk mendoakan kebaikan manusia
"A..aku akan menolongmu ssu.. jadi.. kau.. kau tak boleh menyerah!"
"Kumohon... hiks...hiks.. bertahanlah..."
Tapi kenapa
Ada malaikat yang menurunkan langsung air matanya disini?
.
.
.
SEXTHURA 10
[Special Aokise fluffness]
[Enjoy]
.
.
.
TIK..TIK...TIK...
Sepasang telinga Aomine Daiki mulai medengar bunyi samar detak jarum jam, tak lama kemudian diikuti oleh kedua matanya yang mulai membuka perlahan. Sepasang manik nikalandi miliknya masih belum bisa menemukan titik fokus. Ia berniat untuk bangun,
"Urgghh..." tapi kemudian ia mengerang lemah kala merasakan tubuhnya melawan kehendaknya.
Ia terpaksa harus berbaring lagi, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan membuat matanya menjadi fokus terlebih dahulu. Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa melihat langit-langit ruangan yang berbeda dari terakhir kali ia berbaring.
"Dimana...ini..." Tanya Aomine dalam hati.
Ia meraba lagi bagian nyeri yang ada disekitar abdominalnya lalu merasakan sudah ada bantalan kain yang mengikat disana. Setelahnya jemarinya turun dari sana dan,
"Emmnnhh..."
Ia mendengar erangan lemah seketika ia merasakan telapak tangannya jatuh ditangkap jaring-jaring lembut dibawah sana. Aomine yang penasaran kemudian melirik kebawah, mendapati seseorang tengah mengkucek matanya. Seorang remaja laki-laki berambut pirang berkulit putih mulus duduk bersimpuh disampingnya.
"Siapa.. kau?" Tanya Aomine dengan nada lemah keheranan.
"A..aku Kise Ryota, salam kenal ssu.." Jawab Kise dengan agak gemetaran.
"Kenapa... aku... Ugh!" Aomine yang hendak bangun tiba-tiba merasakan sakit yang menusuk dibagian abdominalnya.
"Jangan banyak bergerak dulu , itu lukamu masih belum kering ssu.." Ujar Kise sambil membantu Aomine untuk merebahkan tubuhnya kembali.
BRAAAK!
"Ryota teme..! beraninya kau ya!"
Seseorang baru saja menerobos masuk kedalam ruang kecil nan sederhana itu. Seorang laki-laki bertubuh pendek yang basah kuyup itu datang dengan penuh amarah. Kise hanya bisa meringis sambil memutar lehernya pelan,
"Hehe... hehe... gomenne... Yukiocchi.. tadi yang kamu bonceng Cuma karung sampah ya.. hehehe.." Ujar Kise sambil peringisan. Lelaki yang mendobrak masuk barusan adalah Kasamatsu. Kasamatsu dengan seluruh aura hitam pekat kekesalannya pada keangkuhan seorang Kise Ryota.
"Kau itu! Sudah kubilang kan Dia itu yakuza!" Sentak Kasamatsu
"Yukiocchi! Ssst! Jangan berkata seperti itu, dia kan butuh bantuan ssu!" Balas Kise.
"Haasshh... kau ini selalu saja merepotkanku. Dasar!" Gumam Kasamatsu.
Lelaki yang basah kuyup itu lantas menutup kembali pintu kamar dari luar dan beberapa saat kemudian ia datang kembali. Ia mendekat kearah Kise yang tengah mengompres luka lebam di tubuh lelaki berkulit tan yang terbaring lemah dihadapannya.
"Lain kali jangan seperti itu. Kau membuatku khawatir saja." Ujar Kasamatsu.
"Iya iya. Gomen ssu! Hehe" Balas Kise sambil cengengesan.
"Dia... patah kaki ya?" Tanya Kasamatsu.
"Iya. Sewaktu aku memapahnya tadi, dia pincang" Jawab Kise. Kasamatsu hanya diam kemudian beranjak dari sana.
"E..eh? Yukiocchi mau kemana ssu?" Tanya Kise.
"Hnn? Tentu saja menyiapkan lilin bodoh!" Sentak Kasamatsu diakhiri dengan suara bantingan pintu. Kise langsung tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Ia kemudian membangunkan Aomine,
"Hey.. ba..bangunlah.. kakak ku akan menyelamatkanmu ssu. Kau akan berendam di air lilin.. semua lukamu pasti sembuh dengan cepat.. a..ayo.." Ujarnya dengan agak gemetaran.
"Hnn...? berendam...? lilin..? kau ingin membunuhku ya..? akhirnya..." Balas Aomine dengan nada agak ngelantur.
"eh?! Ti-tidak ssu! Ini benar-benar akan menyembuhkanmu! Ayo sini aku bantu berdiri!" Sahut Kise. Dalam benaknya ia merasa agak jengkel dengan perkataan Aomine barusan tapi ia tetap membantu lelaki tan itu berdiri dari ranjangnya.
"haha...akhirnya...akhirnya ada juga orang yang mau membunuhku... haha... ayo... ayo cepat .. aku ingin ...seperti House of Wax saja.. haha" Gumam Aomine.
"duh! Terserah deh ssu!" Balas Kise.
Kise memapah lelaki Tan yang sempoyongan itu keluar dari kamar sederhana sebelumnya dan memasuki sebuah ruangan disebelahnya. Kasamatsu ada disana dan mencairkan ratusan lilin.
"A..aduh, dia berat sekali ssu. Yukiocchi! Bantuin do–"
JBUAGH! BYUURRRR
"Gyaah! Yukiocchi! Apa yang kau lakukan ssu?!"
Kise terkejut setelah Kasamatsu tiba-tiba menendang lelaki tan yang tengah ia papah itu hingga tercebur kedalam cairan lilin.
"Sudah, aku sudah membantumu. Sekarang ayo keluar, biarkan dia disitu sampai 3 jam lagi" Ujar Kasamatsu.
"Nggak ah! Yukiocchi dasar jahat!" Balas Kise sambil memalingkan wajah dan memanyunkan bibirnya.
"Yare...yare..." Kasamatsu hanya bisa menaikkan kedua pundaknya, menyerah akan keangkuhan si adik pirangnya itu. Ia memandang sejenak lelaki berkulit tan yang baru saja ia tendang kemudian keluar dari sana.
[Skip Time]
3 HOURS LATER
KREK..KREK...KREK...KREK...
Sebuah mata pisau tajam tengah menggilas bongkahan lilin yang sudah mengeras. Kise dengan begitu hati-hati menggunakannya karena saat ini ia tengah memahat lilin yang menempel di wajah Aomine.
"Are? Kenapa.. aku belum mati?"
Tiba-tiba Aomine mengerjapkan mata hingga bongkahan lilin beku diwajahnya rontok perlahan. Ia melirik ke kanan kiri dan menemukan Kise yang tengah mengorek bongkahan lilin yang membekukan tubuhnya.
"Bisakah kau menggerakkan tubuhmu sedikit? Aku capek nih ngorek lilin gak selesai-selesai.. hmmhh.."
Kise mengeluh sambil terus mengorek bongkahan lilin didepannya. Aomine yang mendengar permintaannya akhirnya menggerakkan kakinya.
KRAAK KRAAAK
"Woah..! sugoi..! akhirnya kakimu sembuh ssu..!"
Kise terkejut melihat lelaki tan dihadapannya yang dengan mudahnya mengeluarkan kedua kaki dari bongkahan lilin. Aomine pun tak kalah terkejutnya, ia masih tidak percaya bahwa kakinya yang patah bisa ia gerakkan dengan begitu bebasnya.
"I..ini.. tidak mungkin... haha.. aku pasti.. sudah ada di surga.."
SREP!
"Hei! Tunggu! Apa yang kau lakukan ssu!"
Aomine menyabet pisau yang ada di tangan Kise dan mengarahkannya pada dirinya sendiri. Kise yang terkejut dengan cepatnya menahan pergelangan Aomine dan berusaha merebut kembali pisau itu dari tangan Aomine.
"Apa yang kau lakukan?! Hen..ti..kan.. ssu!" Sentak Kise.
"Jangan menghalangiku! Aku ingin mati!" Balas Aomine.
Dua insan yang baru bertemu itu terlibat perebutan atas sebilah pisau tajam. Aomine berusaha sekuat tenaga untuk segera mengakhiri hidupnya akan tetapi Kise juga tak mau mengalah. Ia terus memperjuangkan hidup orang yang bahkan tak ia kenal itu. bukannya ia ingin menjadi pahlawan kesiangan atau apa, dia hanya membenci orang-orang yang kehilangan harapan.
"Menyingkirlah..! jangan halangi aku! Aku tak–"
Aomine membeku seketika sepasang iris coklat indah yang ada dihadapannya meneteskan air mata. Perlahan kekuatannya untuk merebut pisau itu menghilang karena ia tercengang melihat sebuah raut sedih didepannya.
"Hiks... hiks... Ja.. jangan.. jangan lakukan itu..." Ujar Kise terisak. Aomine akhirnya melepas gagang pisau itu dan kedua matanya masih terpaku melihat Kise yang menangis.
"Kau.. kenapa kau menangis?" Tanya Aomine.
Aomine tak tahu kenapa tangannya tiba-tiba ingin bergerak sendiri menuju buliran air mata yang berjatuhan itu. Ditambah lagi sepasang iris coklat milik Kise telah mengingatkannya akan ibunya . tangannya semakin dekat dengan wajah Kise, ia benar-benar ingin membendung air mata yang keluar dari sana, tapi Kise menepis tangannya dan membelakanginya.
"Hiks...hiks... kenapa ? kenapa kalau aku menangis?! Hiks.. kenapa kau melakukan itu?! hiks..hiks.. apa kau tidak melihat ada aku disini?! Hah?! Hiks..hiks... aku paling benci dengan orang yang menyerah ssu..! hiks..hiks..." Ujar Kise sambil terisak.
Aomine terdiam sejenak. Awalnya ia merasa aneh dengan remaja pirang dihadapannya itu. mereka belum pernah bertemu, mereka tak tahu satu sama lain, tapi kenapa si pirang itu menangis dihadapannya, mencegahnya melakukan perbuatan yang sia – sia. Ditambah lagi ia perlahan sadar bahwa dirinya bukan orang yang mudah menyerah.
"Hiks..hiks.. hidup itu jangan disia-siakan! Hiks..hiks.. apa kau tidak kasihan dengan keluargamu?! Hiks.." Sentak Kise.
"Keluarga..?"
Sejenak perkataan Kise tentang keluarga membuat Aomine menggerakkan otaknya untuk berpikir. Keluarga? Keluarga baginya hanya sebatas ibu pendendam dan ayah penjahat. Keluarga baginya hanyalah–
"Ahomine teme! Kembalikan burgerku!"
Lelaki seumurannya bernama Kagami Taiga yang selalu menjadi rivalnya? atau
"Kau ini selalu saja merepotkanku nanodayo!"
Seseorang lain bernama Midorima Shintaro si penggila Oha-Asa yang selalu ia repotkan?
"Mine-chin , belikan aku maiubo atau kuadukan Aka-chin ne~"
Atau seorang raksasa ungu Murasakibara Atsushi yang selalu ia belikan Maiubo agar majalah mai-chan miliknya tak disita?
"Perintahku adalah absolut, Daiki"
Juga mungkin, seseorang lain lagi yang paling cebol sepantarannya tapi sudah ia anggap seperti kakak tertua sendiri?
Apakah arti keluarga baginya? Bagi seorang Aomine Daiki?
"..Daiki-kun.. jangan memanggilku nyonya, aku dan mereka ini sudah seperti ibumu sendiri. Kau sudah kami anggap layaknya anak kami sendiri, dan juga kau jangan pernah bersedih ya, Seijuro dan kedua saudaramu yang lain pasti akan selalu bersamamu.."
Apalah arti empat wanita cantik yang telah menggantikan peran Daina sebagai ibu untuknya?
"..Hahaha.. meskipun Taiga sering bertengkar denganmu, tapi sebenarnya aku bangga sekali. Tanpamu Taiga juga takkan bisa berkembang, nak. Aku benar-benar bangga padamu Daiki.. kau anak yang hebat..ah, alangkah senangnya aku seandainya kau ini kembarannya Taiga.. hahaha.."
Apa pula arti empat lelaki gagah yang selalu menepuk pundaknya juga mendorong punggungnya walaupun ayahnya sendiri, Aomine Reiki, tak pernah menyentuhnya?
Dan apakah arti dari seorang remaja pirang yang menangis dihadapannya ini?
"Hei.. sudah.. jangan menangis.."
Aomine bangun dari baringannya dan membalikkan pundak Kise perlahan. Ia telah menyadari bahwa bunuh diri baginya adalah sia-sia. Memang Daina dan Reiki yang telah menghadirkannya di dunia, tapi orang tuanya tak dapat menjalankan peran mereka dengan semestinya. Walaupun begitu, tetap saja ia dikelilingi lima lelaki seumurannya yang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, juga orang tua mereka yang telah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Dan yang terbaru, terpenting pula baginya, remaja pirang yang tak tahu menahu akan dirinya tetapi telah menolongnya bahkan tak membiarkannya melakukan percobaan bunuh diri.
"Hiks..hiks.. jangan melakukan itu lagi ssu.. hiks.." Ujar Kise terisak.
"Tidak, tidak lagi. Maafkan aku ya" Balas Aomine sambil mengusap pipi Kise, membuat si pirang menyemburat merah padam.
"E..eh? ma..maaf juga! Aku.. aku belum memperkenalkan diri.. namaku Ryota, Kise Ryota ssu!" Ujar Kise sambil menundukkan kepalanya.
"Daiki, Aomine Daiki" Balas Aomine singkat.
"Bolehkah kupanggil Aomine..cchi..? " Tanya Kise.
"Hah? Apa-apaan itu Aominecchi?!" Ujar Aomine.
"Ayolah ! aku menambahkan suffix –cchi untuk orang-orang yang kuhormati ssu!" Balas Kise.
"Baiklah.. baiklah... oh ya, aku tak tahu bagaimana berterima kasih padamu. Jadi.. adakah sesuatu yang kau minta?" Tanya Aomine.
"Hnn.. apa ya...? hehe, aku tidak minta apa-apa kok ssu. Hanya saja.." Gumam Kise.
"Apa? katakan saja" Balas Aomine.
Kise tiba-tiba mengacungkan kelingkingnya sambil memasang raut meyakinkan dihadapan Aomine.
"Berjanjilah padaku" Ujar Kise. Aomine merasa heran sejenak tapi kemudian mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Kise.
"Janji apa?" Tanya Aomine.
"Berjanjilah padaku bahwa kau tak akan pernah berputus asa lagi ssu!" Ucap Kise.
"Itu sajakah?" Balas Aomine.
"Berjanjilah juga bahwa apapun yang telah hilang ataupun direbut darimu, kau takkan pernah menyesalinya ssu. Oke? " Gumam Kise sambil memasang senyum indah yang sejenak membuat Aomine tercengang.
"Haha.. baiklah..baiklah..." Jawab Aomine sambil terkekeh.
"Ah ya Aominecchi, satu lagi ssu!" Ujar Kise.
"Apa lagi.. hnn?"
"Ah, gajadi deh! hehe"
"Sudah katakan saja..."
"Tapi aku malu ssu!"
"Sudah cepat katakan apa itu, Kise"
"Umm.. jika kau memiliki pacar.. atau.. keluarga.. yang menyayangimu.. maka berjanjilah.."
"Hn..?"
"Berjanjilah kau akan selalu hidup untuk mereka ssu!"
Aomine terbelalak lebar mendengar permintaan Kise yang terakhir. Tapi kemudian ia menyeringai, ia sadar bahwa semua janji itu perlu ia ucapkan. Ia meyakini Janji-janji itu akan menjauhkannya dari segala kesedihan, segala kemalangannya. Kise telah membantunya bangkit dari semua itu.
DRRRT...DRRRT...DRRRTT...
Tiba-tiba ponsel yang ada di kantong Kise bergetar. Ia membukanya dan menerima pesan bahwa dua minggu lagi dirinya harus siap menjadi skuad inti tim basket sekolahnya.
"Aduh.. kenapa harus dua minggu sih ssu?!" Ketus Kise.
"Ha? Apanya yang dua minggu?" Tanya Aomine.
"Turnamen Basket ssu.. duh, aku belum ada persiapan sama sekali ssu" Balas Kise.
"Bas..ket..? kau bisa main basket?" Tanya Aomine.
"Tentu saja ssu! Aku suka sekali sama basket!" Balas Kise.
"Wah.. kebetulan sekali haha.. aku juga suka basket. Bagaimana jika besok pagi kita One-on-One?" Tanya Aomine.
"Aominecchi bisa basket? Ayo! Siapa takut! " Balas Kise.
Aomine menyeringai lebar. Sudah lama ia tak bermain basket dan baru kali ini ada orang yang menantangnya bermain permainan lama itu selain keempat saudaranya. Ia juga ingin mengetes seberapa cepat kakinya setelah cedera dan lama tak ia gunakan untuk bermain basket.
"Yang kalah tidak boleh jalan pakai kaki ataupun tangan!"
-TBC-
LEMON RAIN WILL BE DROPPED SOON. SPECIAL FOR AOKISE
[hujan lemon akan segera datang... Spesial untuk Aokise]
PUT YOUR REVIEW FOR : ROUGH / SLOW LEMON.
[Review untuk lemon yang Liar/Pelan]
#ALESSANA
