Luhan mengancingkan kancing terakhir kemejanya dengan sedikit terburu-buru. Hari ini ia terlambat mengikuti kelas Mantra di awal minggu kedua musim semi. Sebenarnya terlambat bukanlah hal yang termasuk dalam list hidupnya.
Sang Kapten Gryffindor ini adalah segelintir orang yang masuk ke dalam golongan orang yang sangat terorganisir. Ia sangat tidak menyetujui dengan apapun yang bersifat spontan maupun kondisional. Bagi Luhan hidup itu perlu perencanaan dan memang wajib untuk di rencanakan.
Luhan berlari sepanjang koridor di lantai dua. Derap kakinya terdengar bising di sepanjang koridor. Semua murid sudah memasuki kelas dan mungkin hanya ia satu-satunya murid yang masih berlarian di koridor.
Seakan kesialan tidak berhenti sampai di situ, menjelang belokan kedua sebelum kelas Mantra atau lebih tepatnya persis di depan ruang Transfigurasi, Luhan bertemu dengan Peeves. "Ow ow ow ow ow ada yang terlambat rupanya. Sepertinya ia ingin menemani Peeves bermain."
Peeves melayang-layang di atas kepala Luhan sambil memegang sesuatu menyerupai gelembung dengan cairan hitam di dalamnya. "Pergi Peeves! Aku sedang tidak ada waktu meladenimu." Luhan berusaha menjauhkan Peeves dari pandangan matanya.
Hantu paling jahil itu menghalangi jalan Luhan dengan terbang dekat sekali dengan kepala Luhan. Dan Luhan dengan terpaksa harus mundur karena – mungkin Peeves bisa menembusnya namun Luhan sangsi kalau gelembung itu juga bisa menembusnya alih-alih pecah setelah menabrak mukanya.
Dan melihat sejarah Peeves, Luhan lebih yakin akan pilihannya yang kedua. "Peeves, please…." Peeves terkekeh. "Sayangnya aku masih ingin bermain." Dan tidak sampai hitungan detik gelembung itu pecah dan menyiram Luhan dengan cairan hitamnya.
Luhan menjerit kemudian terhuyung, matanya pedih dan ia menabrak pintu ruang Transfigurasi dengan bunyi 'BRUK' keras hingga pintu menjeblak terbuka membuat murid-murid di dalamnya terpekik kaget.
Celakanya, saat itu Profesor McGonagall – Kepala Sekolah – sedang menggantikan Profesor Madison yang kini terbaring lemah di St. Mungo akibat digigit oleh Tentakula Berbisa. "Apa kau bisa menjelaskan kepadaku apa yang terjadi padamu, Mr. Xi?"
Luhan yang sudah membersihkan dirinya sendiri dengan sihir hanya bisa menghela napas pelan. "Maafkan saya profesor. Peeves tadi mengerjai saya."
"Namun ini sudah memasuki jam pelajaran kalau kau tidak lupa, bagaimana caranya kau masih bisa bertemu Peeves di koridor?"
"Saya terlambat." Luhan menundukkan kepala. "Aku sangat kecewa denganmu Xi Luhan. Aku pikir jabatan kapten dapat memberimu rasa tanggung jawab yang lebih tinggi. Terutama pada dirimu sendiri."
Luhan tetap menunduk. Namun ekor matanya ia dapat melihat tatapan dingin Sehun, senyum mencemooh Kris dan pandangan kasihan dari Lay.
Rupanya Slytherin sedang belajar bersama Hufflepuf sekarang.
"Potong dua puluh angka dari Gryffindor, dan kau boleh pergi sekarang juga." Ucap Profesor McGonaggal dingin. Luhan mengangguk dan beranjak pergi dari situ. Moodnya benar-buruk hari ini.
Sehun mengikuti gerak-gerik Luhan hingga keluar dari kelas, kemudian kembali melanjutkan essai transfigurasinya. Dia sudah hampir mencapai dua setengah halaman sebelum lipatan perkamen kecil – yang jatuh di depan perkamennya- mengusik konsentrasinya.
Sehun membuka lipatan tersebut dan langsung meremasnya pelan.
Brengsek.
Ia menoleh ke arah deretan meja di sisi kirinya dan melihat Lay, Xiu dan Suho memberikan kedikan bahu sambil terkekeh pelan. Sehun membuang muka, berusaha tidak memedulikan dan mencoba berkonsentrasi pada essainya.
Namun nampaknya tulisan itu benar-benar mengusiknya. Berdecak, Sehun memutuskan mengumpulkan essainya dengan kondisi seadanya. Toh sebenarnya mereka hanya disuruh membuat sepanjang dua halaman dan ia sudah berbaik hati menambahkan setengah halaman lagi, jadi jika tidak selesai maka tidak akan ada masalah.
Tak lama bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Membereskan bukunya cepat, Sehun berjalan keluar kelas dengan pikiran masih tertuju pada perkamen kecil itu.
"Yoooo my maaaaannnnnnnnn, ada apa denganmu?" Chanyeol tiba-tiba sudah berjalan sejajar dengan Sehun dan merangkul bahunya. Sehun bergeming.
"Kau tak mau cerita padaku, babe?" Chanyeol berusaha menarik perhatian Sehun dengan mecubit pipi pucatnya pelan.
"Don't babe me." Ucap Sehun ketus.
Chanyeol terkikik. "Baiklah tapi ceritakan padaku apa yang terjadi. Wajahmu benar-benar horor, seperti manusia serigala, rawr." Chanyeol menirukan gerakan mencakar ala serigala.
Sehun mendelik dan melepaskan rangkulan Chanyeol. Chanyeol menatapnya sedih, seolah-olah terluka. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya dalam saku dan berkata pelan.
"Aku pikir sebaiknya kau tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan oleh pecundang Hufflepuff itu dengan serius mate."
Sehun menoleh, ia menatap Chanyeol seolah berkata 'apa kau tahu?' dan yang ditatap hanya tersenyum girang. "Tentu saja aku tahu, aku kan keren." Chanyeol menepuk dadanya.
Sehun memutar bola matanya malas. Ia tidak jadi kagum dengan Chanyeol. "Sebenarnya aku tidak sengaja memungut perkamen kecil itu." Dia merogoh saku celana kananya dan menujukkan potongan perkamen itu pada Sehun.
Sehun merebutnya kemudian menyobek perkamen itu hingga menyerupai remah-remah kecil kemudian membuangnya. "Aku rasa kau benar, kita lakukan seperti biasa. Bagaimanapun Slytherin tetaplah Slytherin."
Sehun tersenyum, sepertinya memang isi perkamen itu tidak penting, setidak penting orang yang menulis. Ia pun merangkul Chanyeol dan berjalan menuju kelas berikutnya. Kertas itu hanya berbunyi:
'kalahkan dia besok dan kita akan lihat siapa yang sebenarnya pecundang'
Ketika bunyi bel istirahat menggema di seluruh kastil, Luhan dengan cepat melempar buku,pena bulu dan gulungan perkamennya dengan serampangan ke dalam tasnya. Ia benar-benar membutuhkan asupan gizi untuk mengembalikan moodnya.
Rasa lapar benar-benar nyaris membunuhnya. Mungkin jika ia tidak segera berlari ke Aula Besar untuk makan siang, ia bisa memakan naga saking laparnya. Dan situasi kelas Ramuan yang lembab dan dingin – kelas Ramuan terletak hampir di bawah tanah – semakin menambah parah rasa laparnya.
Aroma makanan memenuhi udara ketika Luhan memasuki ruangan besar mengambil tempat di samping Baekhyun dan Kai yang entah bagaimana caranya bisa sampai duluan. "Hai Baekkai." Sapa Luhan.
"Jangan panggil seperti itu!" ucap mereka bebarengan.
Luhan mengerjapkan matanya yang bulat dan berbulu mata lentik itu dengan pandangan polos. "Kenapa?"
"Karena itu menjijikan?" sahut Kai.
"Aku tahu itu menjijikan tapi kau tidak perlu mengatakannya sambil memandangku seolah-olah aku seperti kuman bagimu." Ketus Baekhyun.
"Aku tidak memandangmu seperti itu. Dan kau juga sering mengernyitkan hidung jika berada dalam jarak dekat denganku seperti mengatakan bahwa aku tidak pernah mandi." Balas Kai sengit.
"Itu… itu karena baumu seperti bayi. Seperti keponakanku yang masih berumur satu tahun dan biasanya aku suka menciumnya. Jadi…." Baekhyun tidak meneruskan kalimatnya. Pipinya mendadak bersemu merah.
Kai mengerjapkan matanya selama beberapa detik sebelum sadar apa yang dimaksud oleh Baekhyun. "Ehem… kamu juga seperti sepupuku. Dia begitu kecil dan terlihat sangat rapuh. Dan aku jadi suka memeluknya agar dia tidak pernah merasa ketakutan." Kai menunduk sambil memainkan kentang tumbuk favoritnya dengan garpu dengan telinga memerah.
Luhan yang melihat adegan ini hanya memperhatikan mereka berdua sembari mengunyah daging asapnya pelan. Kemudian ia meneguk jus labunya dan menyampaikan pendapatnya. "Berarti panggilanku tadi benar, kalian saling menyayangi."
"TIDAK." Ucap Baekhyun.
"KITA BUKAN GAY." Kali ini Kai yang menjawab.
Luhan tersedak kemudian terbatuk-terbatuk. Baekhyun menepuk punggungnya pelan. "Aku tidak bilang kalian gay, aku hanya bilang kalian saling menyanyangi."
"Tapi panggilan dan kesimpulanmu itu seolah menjurus ke arah sana. Aku hanya tidak mau kau salah paham." Jelas Baekhyun yang diikuti oleh anggukan Kai.
"Terserahlah," Luhan menambahkan kaserol daging ke dalam piringnya, "besok kita akan melawan Slytherin dan aku harap kalian bisa membantuku untuk memenangkan pertandingan ini." Ia menyuapkan sesendok besar ke dalam mulutnya.
"Kakiku sudah sembuh Kai?" tanya Luhan. Kai mengangguk. "Tidak ada masalah, madam Pomfrey sudah mengembalikan tulangku yang patah dalam semalam."
"Jangan sampai itu terulang kembali Kai. Dan kau Baek bagaimana hidungmu? Aku tidak mau kau terkecoh lagi seperti kemarin, meskipun aku yakin permainan Slytherin jauh lebih licik daripada Ravenclaw." Luhan menunjuk Baeknyun dengan sendok makannya.
Baekhyun hanya mendecak kesal dan bergeser agak jauh dari Luhan. Dia menghindari cipratan daging dari sendok makan kaptennya itu. "Tidak bisakah kau menyingkirkan sendok makanmu terlebih dahulu? Itu menjijikan."
Luhan hanya nyengir kemudian menaruh sendoknya di piring. "Cih, apa sih yang dilihat gadis-gadis itu padamu. Aku sangsi apakah mereka tahu kebiasaanmu yang jorok seperti ini." Baekhyun mencebik.
"Tidak usah iri, anggap saja mereka sedang sial jika menyukaiku." Luhan masih memberikan cengiran andalannya. Baekhyun mendengus.
"Kembali ke topik utama, aku anggap kalian sedang dalam kondisi prima – dan memang harus prima – jadi aku tidak mau mendengar alasan kita akan kalah besok.
Aku cukup terkejut melihat Ravenclaw digilas oleh Hufflepuff, aku pikir para kutu buku itu seharusnya tidak se-idiot itu dalam mengendarai sa – "
"Mereka memang tidak idiot. Aku pikir kamu seharusnya menyadari kejanggalan dalam pertandingan mereka kemarin." Potong Kai.
"Aku menyadarinya, makanya aku bilang seharusnya mereka itu tidak mungkin sebodoh itu untuk bisa kalah begitu saja. Dan aku memang sedikit mencium gelagat mencurigakan dari kekalahan Ravenclaw." Jelas Luhan.
"Aku pikir ini ada hubungannya dengan inspeksi rahasia perekrutan calon pegawai Kementrian Sihir itu." Baekhyun menampakkan ekspresi berpikir sambil menelengkan kepalanya ke kanan. Bibir mungilnya berdecak-decak kecil kemudian kedua mata kecilnya membulat dan menatap Luhan dengan sedikit terbelalak.
"Aku yakin aku benar. Karena begini," Baekhyun memberi kode kepada dua temannya untuk mendekatkan kepala mereka, "jika aku berada di posisi Chen, mungkin aku juga akan melakukan hal seperti ini.
Coba kalian pikir, untuk tahun ini kekuatan tim dari empat asrama ini nyaris sama rata. Bahkan Hufflepuff yang biasanya berkekuatan ala kadarnya, tahun ini mereka bisa begitu gemilang. Ditambah kekuatan Slytherin – mereka bahkan mendapatkan keeper baru langsung dari Durmstrang – serta kita sendiri yang aku pikir juga bukan lawan yang mudah.
Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa hanya Ravenclaw yang kekuatannya masih standart. Sedangkan aku yakin mereka semua juga mengincar kursi di Kementrian." Baekhyun mengakhiri analisisnya.
"Kau benar Baek, aku rasa Chen pasti mempunyai motif yang sangat kuat jika memang ia harus bersedia mengalah seperti kemarin." Luhan memberikan dukungannya.
"Mereka sengaja mengalah?" tanya Kai.
"Sepertinya memang begitu mengingat seeker mereka menarik diri di detik-detik terakhir sebelum snitch terambil." Terang Luhan.
Luhan segera menghabiskan makan siangnya dan mengajak kedua sahabatnya untuk bergegas menuju menara utara untuk pelajaran ramalan. Dan sebelum mereka berbelok untuk menaiki tangga menara utara, tim Slytherin terlihat sedang berjalan ke arah mereka berlawanan arah.
Luhan berhenti untuk menatap Sehun yang berada di baris depan anggota timnya. Diikuti oleh Tao, Kris dan Chanyeol yang menjulang tinggi di belakangnya. Di saat Sehun balas menatapnya, Luhan merasakan Baekhyun beringsut ke sebelah kananya. Tangan rampingnya memegang ujung kemeja Luhan.
Luhan tidak menyalahkan Baekhyun, aura tim Slytherin kali ini memang terlihat sangat mengintimidasi sekali. Namun sama seperti Kai, Luhan tidak menggeser tubuhnya. Ia hanya berdiri diam dan memandang mereka dengan santai.
Ketika jarak anggota tim Slytherin semakin mendekat, mereka sama sekali tidak gentar – jika cengkraman Baekhyun di ujung kemeja Luhan tidak masuk hitungan – lebih tinggi bukan berarti lebih gesit kan?
Saat posisi Sehun sudah berada di depan Luhan, ia mencondongkan tubuhnya untuk membisikan sesuatu. Sesuatu yang membuat jantung Luhan berdetak kencang dan membuatnya terpaku hingga tidak menyadari ketika Sehun sengaja menabrak bahunya pelan.
Sehun yang menyadari tatapan Luhan kemudian memutuskan untuk berhenti tepat di depannya dan memberi kode pada timnya untuk ikut berhenti berjalan. Ia maju selangkah lagi dan kini mata Sehun sudah sejajar dengan mata Luhan.
Ia memandang Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan kemudian memajukan badannya dan berbisik pelan. "Good luck… brother." Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dengan sedikit senggolan pada bahu Luhan kemudian ia tersenyum puas.
Keesokan harinya, Sehun terbangun cukup pagi. Ia menyibak selimutnya kemudian berjalan ke kamar mandi. Setelah berpakaian dan meraih sapunya, ia bergegas menuju ruang ganti pemain Slytherin untuk sedikit melakukan pemanasan.
Pertandingan masih setengah hari lagi, namun Sehun benar-benar sudah ingin 'mengudara'. Sebenarnya ini adalah salah satu rahasia kecilnya. Melakukan sedikit pemanasan sebelum memulai pertandingan bisa membuat Sehun lebih berkonsentrasi.
Sehun selalu menyukai suasana Hogwarts ketika pagi hari. Udara yang sejuk dan koridor yang lenggang membuatnya merasa nyaman. Belum lagi warna kelabu masih menggantung di langit. Belum ada seleret jingga matahari yang biasanya menunjukkan bahwa hari sudah berganti.
Sesampainya di ruang ganti, sehun menyiapkan peralatan Quidditchnya. Baju,sarung tangan, pelindung dada dan topi khusus untuk pertandingan. Ketika semua sudah tertaata rapi di tempatnya, ia meraihLightsaber – sapunya – dan berjalan keluar.
Udara masih terlalu dingin untuk memulai pemanasan, namun karena ini musim semi, hal itu justru mempunyai keunikan sendiri. Sehun selalu menyukai musim semi. Baginya musim semi selalu membawa kebahagiaan.
Musim semi adalah musim dimana semua bunga merekah. Musim dimana gundukan salju mencair digantikan oleh warna-warni bunga. Musim semi selalu berbau ketenangan, harapan dan keceriaan. Sehun menarik napas panjang, menghirup sebanyak mungkin udara favoritnya, menahannya agak lama, seolah memberikan kesempatan kepada setiap inci tubuhnya untuk turut meresapi hangatnya musim semi sebelum kemudian membuangnya perlahan.
Sehun menaiki sapunya dan menjejak tanah. Angin dingin segera menerpa rambutnya yang pirang dan dalam sekejap membuatnya berantakan. Sehun mempererat pegangan pada Light – begitu Sehun memanggil sapunya- kemudian mencondongkan tubuhnya.
Light melesat dengan kecepatan nyaris maksimal. Sehun berteriak dan tertawa keras. Terbang merupakan hal yang paling disukainya setelah ibunya dan Luhan. Ketika terbang Sehun merasa bahwa semua masalah di dunia ini bisa menghilang.
Sehun banyak berfikir tentang apa yang akan dia lakukan nantinya. Kemudian tentang keputusannya akan Luhan, pilihan apa yang akan ia ambil dan tentu saja perihal perekrutan di kementrian Sihir. Sehun benar-benar tidak terlalu menginginkan itu, namun jauh dilubuk hatinya ia tidak mau mengecewakan ayahnya.
Sehun melesat dan memutari kastil hingga tiga kali, kemudian menukik, melakukan gerakan memutar, sedikit zig-zag kemudian meluncur jauh. Ketika melintas di atas danau, Sehun memperlambat laju sapunya.
Ia memilih untuk terbang sedikit rendah, kemudian memajukan tubuhnya. Melepaskan satu tangannya dari gagang sapu, kemudian menyentuhkannya ke air. Sehun tersenyum lebar ketika merasakan dinginnya air danau menyapu tangannya. Dan sepertinya ia sudah tau keputusan apa yang akan ia jalani.
Puas bermain air, Sehun kembali melesat tinggi dan kembali ke ruang ganti. Sehun meletakan sapunya di ruangan dan bergegas untuk mandi kedua kalinya. Tubuhnya penuh dengan keringat, mungkin ia terlalu bersemangat tadi.
Aula besar dipenuhi oleh celoteh riang dari seluruh murid. Hari ini pertandingan Gryffindor melawan Slytherin akan dilangsungkan dan supporter dari kedua belah tim tampaknya sudah menyiapkan yang terbaik.
Dari sudut Gryffindor berbagai panji-panji berwarna emas dan merah bertebaran di sepanjang meja. Dan tak lupa sebuah boneka berbentuk kepala singa sudah disihir sebegitu rupa hingga bisa mengaum setiap satu menit.
Sedangkan supporter Slytherin kali ini lebih mengandalkan hand banner yang bisa mengganti tulisannya sendiri dan miniatur Lightsaber dan Superlight – nama sapu yang digunakan oleh tim Slytherin selain Sehun – yang bisa berpendar dengan warna kehijauan khas Slytherin.
Pukul setengah empat sore, kedua tim sudah meninggalkan aura besar. Dan para suporter juga sudah berbondong-bondong menuju lapangan Quidditch. Chen yang kali itu didapuk menjadi komentator segera memenuhi lapangan dengan suaranya yang khas.
"Selamat sore semua. Pertandingan kali ini adalah pertandingan yang sangat dinantikan. Mengingat bagaimana kedua tim adalah yang selalu dijagokan sepanjang sejarang Hogwarts berdiri." Chen terbatuk sejenak.
"Silahkan duduk dengan nyaman dan pertandingan akan segera kita mulai. Sebelumnya aku akan mengecek suppoter terlebih dahulu." Suara Chen disambut teriakan meriah para penonton yang di dalamnya terselip suara singa mengaum.
"Oh rupanya para pecinta Gryffindor sudah menyiapkan beberapa auman singa, untuk Gryffindor mana suara kaliaaaaaaannnnnnnnnnn." Teriak Chen lantang diikuti gelombang teriakan dari para penggemar Gryffindor. Panji-panji emas dan merah berkibar dengan gagahnya diikuti oleh suara auman singa yang berasal dari boneka kepala singa yang telah disihir.
"Kemudian untuk supporter Slytherin, jangan mau kalah, mana suara kaliaaaaaaaannnnnnnnnnnnnn." Suara Chen kali ini benar-benar teredam oleh jeritan dukungan pendukung asrama berlambang ular perak itu.
Seketika tribun dipenuhi oleh pendar-pendar warna hijau dari miniatur Lightsaber dan Superlight. Entah kapan mereka menyebarkannya, yang pasti sejauh mata memandang cahaya hijau itu selalu ada di seluruh tribun kecuali tribun Gryffindor.
Sedangkan khusus di tribun Slytherin banyak hand banner bertebaran dengan tulisan yang membuat tercengang seperti 'Sehun nikahi aku' atau 'Kris kamulah pahlawanku' dan tulisan sejenis seperti 'Chanyeol aku milikmu' dan 'Tao yang terhebat'.
Hebantya lagi tulisan itu bisa berubah warna dengan pendar warna-warni. Sehingga jika dilihat dari atas akan tampak seperti pelangi diantara gugusan bintang hijau. Sepertinya angin dukungan sedang berhembus ke arah Slytherin.
"Dan ini dia yang kita tunggu-tunggu. Dari tim Gryffindor, Knight, Lutter,Falkner,Kai,Archie, Baekhyun dan Luhaaaaaannnnnnn." Riuh suporter Gryffindor segera memenuhi seluruh penjuru lapangan diiringi sekelebat warna merah yang mulai terbang mengambil posisi masing-masing.
"Kemudian dari tim Slytherin, kita sambut Chanyeol,Ryu,Kim,Kris,Tao, Hwang dan Sehuuunnnnnnnnnnnnnnn." Suara pendukung Slytherin benar-benar luar biasa hingga lantai tribun terasa bergetar.
Pendar-pendar warna hijau menguasai lebih dari separuh tribun. Belum lagi hand banner yang entah mengapa menjadi lebih banyak jumlahnya. Tampak anggota tim Slytherin juga sudah menempati posisi masing-masing.
"Seperti biasa peraturan pertandingan akan dibacakan oleh Madam Hooch," Chen memberikan mikrofon sihir kepada Madam Hooch yang mulai membacakan sederet peraturan pertandingan yang harus mereka patuhi.
Sehun melayang-layang santai di sebelah Kris. Selama Madam Hooch membacakan peraturan matanya mengawasi Luhan dengan santai. Tampak teman kesayangannya tersebut sedang mengobrol serius dengan Baekhyun.
"Tenang saja, aku pikir hari ini kita akan menang." Kris menyenggol lengan Sehun.
Pemuda berambut pirang tersebut hanya mengeluarkan senyum separuhnya menanggapi pernyataan Kris. "Aku tidak terlalu peduli. Kita hanya bersenang-senang disini."
"Kau benar. Permainan ini hanya sebagai lahan mencari gadis-gadis cantik bagiku." Kris mengerling sedikit kebawah. Kearah hand banner bertuliskan 'Kris aku milikmu' milik seorang gadis Ravenclaw. Ia mengedipkan sebelah matanya dan gadis itu – yang kebetulan melihat pertandingan dengan omnicular[i] – langsung terkulai lemas.
"Hentikanlah kelakuan konyolmu itu." Sehun memberikan pandangan meremehkan pada Kris – yang saat itu terbahak puas dengan akibat yang ia berikan kepada gadis tak dikenal itu.
"Santai mate, seperti katamu kita bersenang-senang hari ini." Sahut Kris riang sebelum seseorang menyenggol Superlightnya dengan sedikit keras hingga ia bergeser dari tempatnya semula.
"Sorry Kris aku hanya pemanasan sedikit." Ryu – teman sesama chasernya – menjulurkan lidah padanya. Kris mendelik namun gadis itu sudah terbang menjauh.
Dan tak lama suara Madam Hooch menggema memanggil kedua kapten tim untuk berjabat tangan. Sehun terbang ke tengah lapangan dan disusul oleh Luhan. Ia mengulurkan tangan, "Berikanlah yang terbaik." Yang langsung disambut dengan semangat oleh Luhan. "Semoga beruntung."
Sehun melesat ke arah sisi lapangan sebelah kiri. Ia melayang sekitar enam belas meter dari tanah. Dari sini ia bisa melihat pertandingan dengan leluasa. Ia akan menunggu sekitar lima belas menit sebelum mencari snitch. Karena ia tahu bahwa Kris tidak akan membuat hidup Luhan berjalan dengan mudah.
"Dan kini quaffle dipegang oleh Lutter kemudian Luhan dan yaaahhh… Bagaimana Chanyeol mempunyai tangan sepanjang itu?" Suara Chen mengomentari gagalnya Gryffindor mencetak gol. Saat ini skor sudah menunjukkan angka sembilang puluh untuk Gryffindor dan seratus untuk Slytherin.
"Luar biasa chaser kedua tim ini sangat seimbang. Gerakan mereka benar-benar terorganisir dan masing-masing seperti tahu partner mereka dimana." Lanjut Chen.
"Dan tampaknya masing-masing beater juga sudah siap saling membunuh." Chen berkomentar sesuai dengan apa yang ia lihat.
Tao benar-benar sedang mengarahkan bludger ke arah Kai yang ditepis oleh pemuda berkulit gelap itu dengan cukup keras. Begitu bludger kedua melayang menuju ke arah Archie, Kai berteriak dengan keras agar partnernya itu bisa menghindar.
Namun sayang, bludger itu mengenai ujung sapu Archi hingga patah dan mengakibatkan sapu itu menjadi tidak terkendali dan meluncur bebas dari ketinggian tak lebih dari tiga belas meter. "Oh lihat itu sapu Archie patah dan dia meluncur turun, siapapun tolong dia!" Chen berseru panik.
Saat itu juga Kai meluncur secepat kilat menuju Archie dan menarik tubuh partnernya ke atas sapunya sebelum gadis itu terjerembab jatuh bersama sapunya. Muka Archie seketika pias dan gemetar. "Oh untung saja, gerakan penyelamatan yang bagus Kai." Komentar Chen.
"Dan dikarenakan kondisi Archie yang masih shock, maka untuk sementara Gryffindor akan bertahan dengan satu beater selama pertandingan." Chen kembali memberitahukan keadaan tim bagi seluruh penonton. Seketika teriakan 'Huuuuuu' keras berkumandang dari tribun Gryffindor.
Kai kembali melesat ke atas dan kali ini dia bertekad untuk membuat Tao terbaring di rumah sakit selama seminggu, selamanya jika saja ibunya tidak menyayanginya.
Kembali ke rancah pertandingan, Kris berhasil membawa Slytherin unggul dengan skor seratus dua puluh dan Gryffindor tertinggal di skor seratus. Terlihat Luhan kali ini berusaha mengambil alih kendali permainan.
Ia melesat, menukik, zig-zag dan bahkan tidak segan untuk memutar. Dan sepertinya Lutter dan Falkner mengerti maksudnya. Mereka berdua membuka jalan untuk Luhan dan membuat tameng untuk Luhan dengan cara mengecoh perhatian bludger.
Dan taktik Luhan ini berhasil menghasilkan lima puluh angka untuk Gryffindor. Keadaan berbalik dengan skor seratus lima puluh untuk Gryffindor dan seratus tiga puluh. Sejauh ini Luhan berhasil mengecoh Chanyeol dan membuat pemuda itu sedikit kesal.
Kai benar-benar seperti orang kesetanan. Ia memfokuskan diri pada bludger dan memukul sekuat tenaga semua bludger ke arah Slytherin. Dan usahanya membuahkan hasil. Salah satu bludgernya sukses mengenai kaki salah satu chaser – Rulan Kim terlihat kesakitan dan limbung kemudian terjatuh sebelum Kris menolongnya dan ia harus terpaksa mundur dari pertandingan.
Sorakan kecewa suporter Slytherin menggema ketika melihat salah satu pemain tim favorit mereka harus turun lapangan. Pendar-pendar hand banner kemudian beralih tulisan menjadi 'Gilas Gryffindor' dan 'Kalahkan Gryffindor'. Suasana pun memanas.
Kai benar-benar tersenyum puas melihat raut murka Kris. Dan sekarang Slytherin bertahan dengan dua chaser. Kemudian terlihat sekelebat bayangan hijau memecah formasi Gryffindor. Seseorang terbang di sela-sela para pemain. Seolah-olah ingin memecah konsentrasi para pemain dengan bedge singa merah itu.
Dan orang itu…
Sehun.
Sehun melemaskan kedua pergelangan tangannya sebelum berpegangan pada Light dengan mantap. "AyoLight kita tunjukkan pada mereka apa yang disebut dengan Quidditch."
Sehun melesat dengan kecepatan maksimal menuju tengah lapangan. Tenaganya yang masih full membuatnya menjadi satu-satunya pemain yang masih bisa melihat peta pertandingan dengan jelas – Baekhyun sudah berputar-putar lapangan dari awal pertandingan untuk mencari snitch.
Sehun meluncur di sela-sela chaser dan beater Gryffindor. Memotong jalan terbang mereka dengan kecepatan maksimum. Gerakan acak dan impulsif membuat siapa saja terkecoh mengira ia sedang mengejar snitch.
Gerakan ajaib Sehun ini sukses mengacak-acak lini pertahanan Gryffindor. Ditambah stamina mereka yang tinggal separuh membuat konsentrasi mereka mudah terpecah. Hal ini segera dimanfaatkan oleh Kris untuk mencetak gol sebanyak mungkin.
Setelah tiga kali melakukan gerakan spontan yang cukup memukau, Sehun melayang rendah di dekat tribun. Ia tahu bahwa sejak tadi banyak gadis-gadis yang memperhatikannya. Oh Sehun, kapten tim Slytherin dengan seragam kebanggaannya sedang dalam stamina puncak. Berkeringat. Dan terenga-engah.
Kemudian Sehun melihat itu, kelebatan emas kecil bersayap. Golden snitch. Bola emas kecil bersayap itu melayang satu meter di atas kepala Luhan. Sehun menatap snitch dengan serius. Ia menunggu…
"OH LIHAT, BAEKHYUN!." Seru Chen lantang. Sekarang semua perhatian sedang tertuju pada Baekhyun. Seeker mungil itu tampaknya segera menyadari arah tatapan Sehun dan tidak membuang kesempatan.
Sehun tersenyum. "Bagus, kau cerdas juga." Dan tidak sampai hitungan detik Sehun melesat menuju arah terbang Baekhyun. Disaat yang sama terlihat Olivia Hwang – beater Slytherin – memukul bludger ke arah Baekhyun.
Sehun yang melihat ini mempercepat laju terbangnya dan mendorong sapu Baekhyun dengan kakinya sedetik sebelum bludger itu melintas diantara mereka berdua. Baekhyun yang menyadari ini menjadi sedikit canggung. "Terima kasih." Ucapnya.
Sehun hanya mengangkat bahu tidak peduli. Dan ketika ia melihat bahwa snitch sudah berpindah tempat – melayang didekat tribun – Sehun hanya mengedikkan kepalanya. Memberikan kode kepada Baekhyun untuk mengejarnya.
Baekhyun yang merasa janggal dengan sikap Sehun merasa ragu-ragu. Bagaimanapun ia 'berhutang' selamat dengan pria dihadapannya ini. "Kita kejar bersama-sama, oke?"
"Terserah kalau itu maumu." Dan mereka berdua melesat bersamaan. Ketika jarak mereka berdua sudah hampir dekat, Sehun menoleh pada Baekhyun. "Bukankah kau berhutang budi padaku? Bagaimana jika kau mengalah, maka kita impas."
Baekhyun yang terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun hanya bisa diam dengan tangan terulur. Hanya tinggal sejengkal sebelum snitch berada dalam genggamannya.
"Itulah kelemahan Gryffindor. Mudah dibuat merasa bersalah." Ujar Sehun. Ia meraih snitch yang melayang di depan hidung Baekhyun. "Ini kuambil. Terima kasih. Kita impas." Kemudian ia melesat ke atas. Meninggalkan Baekhyun dengan rasa bersalah dua kali lipat dari sebelumnya.
"SLYTHERIN WIIIIIINNNNNNNNNNN." Teriak Chen sekuat tenaga. Dan seketika suaranya teredam oleh gegap gempita para pendukung Slytherin.
Sehun yang saat itu menjadi pahwalawan Slytherin dengan ending yang manis dihujani banyak pelukan oleh timnya. Mereka berpelukan kemudian terbang membentuk formasi kemenangan. berputar keliling tribun dengan gerakan teratur dan diakhiri dengan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada para pendukungnya.
Slytherin menang dengan skor terakhir empat ratus banding sertaus sembilan puluh. Dengan kata lain sebelum Sehun menangkap snitch, mereka hanya unggul sepuluh angka atau satu gol quafle dengan Gryffindor. Benar-benar pertandingan yang sangat ketat.
Tim Gryffindor yang sangat terpukul, hanya bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. Kai berjalan gontai sambil merangkul Baekhyun yang terlihat sangat pucat, dan tidak lama kemudian Baekhyun menangis. Dan Kai memeluknya.
Sedangkan Luhan terlihat menghampiri Sehun yang baru turun dari sapunya. Kedua kapten tim itu lalu bersalaman. "Selamat, pertandingan yang menarik."
Sehun hanya menatapnya datar. Luhan mengusap hidungnya yang tidak gatal, lalu berbalik menuju ruang ganti pemain.
Sehun menunggu hingga Luhan sudah berjalan agak jauh darinya, sebelum ia menoleh ke arah tribun. Ia masih bisa melihat para pendukungnya satu-persatu turun dari tribun. Dan mereka masih memegang miniatur berpendar itu.
Sehun tersenyum puas.
Pendar kehijauan bersinar dengan sangat terang. Dan langit yang mulai menggelap membuat pendar itu menjadi lebih berkilauan.
Seperti membentuk gugusan bintang dalam langit malam.
Gugusan bintang kemenangan Slytherin.
[i] Teropong sihir
Note: Aaaaahhhh akhirnya , setelah berkutat berhari-hari *lebay* selesai juga wkwkwwk ini udah hampir 4000an kata loh 12 lembar, buat aku yang hobinya nulis ficlet jelas ini suatu keajaiban tersendiri wkwkwwkwk
