Hai everyone!

Anne datang lagi dengan chapter 10, nih. Seperti yang Anne infokan sebelumnya, ini chapter akhir. Anne bilang kalau ini adalah fic pertama Anne yang membutuhkan waktu paling lama dalam proses updatenya. Banyak masalah yang menghambat Anne nggak bisa update cepat seperti biasanya. Mulai dari kesibukan, lebaran, mudik, koneksi internet, sampai kesehatan Anne yang menurut. Yups, Anne lagi sakit sekarang. Tapi Anne bela-belain buat bisa update hari ini di atas kasur malam-malam. Niatnya cerita selesai pas hari ulang tahunnya Daniel Radcliffe pas 23 Juli kemarin. Tapi gagal.

Ya mohon maaf, ya. Minta doanya juga semoga Anne cepat sembuh. Tinggal batuk sama pileknya, nih.

Ninismsafitri : owww.. *tepuk-tepuk punggung* request kamu aku tampung. Jadi pengen buat juga yang khusus Teddy. Udah mulai jalan nih plot ceritanya di kepala aku. Thanks ya supportnya :)

Agatha Gabriella Saputra : Aaaawww *siulin Al sama Willow* akhir kisah mereka ada di chapter ini. Selesai. Thanks supportnya selama ini, Agatha :)

Kiru Kirua : yups, aku buat cara perpisahan mereka sedikit lebih manis, tanpa melupakan sakitnya perasaan mereka. Sakitnya tuh di sini, hehe. Terima kasih banyak, Kiru! :)

Baiklah, karena sudah selesai balas review, langsung saja, yuk!

Happy reading!


Menunggu dan menunggu. Al mengatupkan kedua telapak tangannya sembari berpikir tentang bagaimana nasib gadis yang ia cintai di dalam ruangan itu. Dua kali tepukan tangan Ron di punggungnya membuat merasa sedikit lebih tenang.

Di depan mereka, Markas Besar Pelupaan, masih sibuk dengan eksekusi seorang Muggle yang baru saja mendapat tindakan dari Kementerian. Namanya Willow Primrose Mellark dan ia sangat dicintai oleh Al.

"Seperti apa cara mereka memodifikasi ingatan Prim, Uncle?" tanya Al pada Ron.

Ron membuat sedikit gerakan naik pada kedua pundaknya. "Aku tak pernah mengantar Muggle untuk dimodifikasi ingatannya, Al. Mungkin nanti kau tanya ayahmu saja. Oke! Sabarlah," Ron membujuk Al untuk kembali tenang.

Hari semakin sore, itu menurut penglihatan Al pada cahaya di jendela-jendela Kementerian. Meski di bawah tanah, cahaya yang masuk sudah diatur sesuai keadaan di luar.

30 menit berlalu. Kini mendekati satu jam waktu yang dibutuhkan untuk membuat Prim melupakan masalah tentang sihir. Benar saja, pintu terbuka dan keluarlah Harry dengan membawa tubuh Prim yang tak sadarkan diri di gendongannya.

"Willow? Dad, kenapa sampai tak sadar?" Al bergegas berlari menuju ayahnya.

"Ingatannya tentang sihir terlalu banyak, Prim juga mengingatnya lebih dari satu hari tanpa modifikasi ingatan. Jadi mereka butuh waktu lama untuk membuat Prim tak tahu lagi dengan sihir. Kita harus segera membawa Prim pulang. Dad takut Mr. dan Mrs. Mellark curiga,"

Al tahu, itu memang yang terbaik untuk Prim. Ia juga tak mau Prim menjadikan dirinya sebagai orang yang akan dirugikan jika mengetahui urusan sihir yang sama sekali tak akan ia mengerti.

Keluar dari area Kementerian, Harry masih menggendong Prim dengan kedua tangannya. Di belakang, Al diminta Harry untuk mewaspadai orang-orang yang sekiranya melihat mereka curiga. Pasalnya, Prim dalam keadaan tidak sadar dalam gendongan Harry.

"Maaf, tolong bantu jaga putri saya sebentar. Saya mau menghubungi istri saya di rumah," Harry mulai bermain sandiwara di pinggir area parkir mobilnya di stasiun. Al menurut saja dan berpura-pura sedih melihat keadaan Prim. Walaupun sebenarnya ia memang sedih melihat keadaan Prim.

Sepasang suami istri nampak kasihan melihat keadaan Prim yang sangat pucat. "Adikmu, nak?" tanya si suami. Al mengangguk.

"Kenapa?"

"Sakit," jawab Al singkat. Takut menjawab lebih jauh dan merusak semua sandiwara mereka.

Harry mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Ginny. "Halo, Ginny—" panggil Harry sedikit keras. Harry sengaja masih ada di dekat suami istri itu agar mereka dianggap benar tentang keadaan Prim.

"Harry? Kenapa kalian lama sekali?" Ginny terdengar panik.

"Ahh maaf lama. Mereka butuh memeriksa keadaan Prim lebih teliti—" kata Harry sesekali melihat keadaan Prim yang didudukkan di kursi panjang.

"Ow.. tapi ia tak apa-apa, kan?"

"Prim tak sadarkan diri. Kata dokter ia harus menjalani tes laboratorium lagi untuk mengetahui hasilnya," Harry menelan ludahnya susah payah. Saatnya bermain drama.

Ginny terdiam, mencerna perlahan kata-kata Harry yang tak masuk akal. Urusan Kementerian mengapa harus ada dokter? "Harry, kau bicara apa, sih? Kok ada dokter segala? Tes laboratorium apa?" Ginny bingung.

"Kami masih di stasiun, ada suami istri yang baik hati mau menjaga Prim selagi aku menghubungimu. Sebentar lagi aku akan pulang dengan Al," kata Harry berharap Ginny mengerti maksudnya.

Dari balik sambungan, Ginny berdehem, "ahh aku paham Mr. Potter, kau genius. Kau sedang bersama Muggle di sana?" tanyanya.

"Benar, mereka meminjamkan selimutnya sementara untuk Prim. Tunggu di rumah, kami akan pulang," ucap Harry semakin tak masuk akal. Harry mengakhiri sambungan teleponya sementara Ginny memuji keahlian aktinya.

"Oh terima kasih, Mr. Mrs. Lambert," kata Harry sembari membenarkan selimut di tubuh Prim.

"Sama-sama, Mr. Potter. Kasihan dia, sebenarnya dia sakit apa sampai harus dites lab kembali?" tanya Mrs. Lambert sambilmengelus rambut Prim.

"Kami belum tahu hasilnya. Menurut dokter, putri saya memiliki tumor, mereka takut jika sudah berkembang menjadi kanker melihat keadaannya sudah seperti ini. Tinggal menunggu hasil lab selanjutnya," tutur Harry berusaha senatural mungkin.

"Ow.. kasihan dia, aku juga sempat terkena kanker. Tapi sekarang sudah sembuh, semoga putrimu baik-baik saja," jawab Mr. Lambert ikut berduka.

Dengan sedikit mengubah posisi Prim, Harry kembali mengangkat tubuh Prim dan memasukkan ke dalam mobil. "Sudah, ambil saja selimutnya. Kasihan dia kedinginan nanti," kata Mrs. Lambert.

"Terima kasih banyak, semoga kalian sehat selalu," ucap Harry cepat dan menjalankan mobilnya.

Sepanjang jalan, Al terus menjaga tubuh Prim agar tak limbung. Pundak kananya siap dijadikan sandaran Prim. Demi kota London di malam hari, Al dan Prim kini sangat dekat.

"Maafkan, aku, Prim. Aku sudah membuatmu seolah sakit keras," kata Harry dibelakang kemudi.

"Kenapa harus kanker, Dad? Itu menakutkan," tanya Al sambil membenarkan posisi selimut di badan Prim.

Harry tertawa, tangannya masih sibuk dengan kemudi. Putar kanan putar kiri. "Hanya itu yang terlintas di kepala Dad tadi. Kanker terdengar paling masuk akal," kata Harry.

"Kau terlalu banyak menonton drama, Dad,"

"Apa boleh buat, Dad harus menemani Mom-mu,"

Harry dan Al lantas tertawa bersama. Namun Prim sama sekali tak berkutik ataupun menunjukkan tanda-tanda akan siuman. "Dad, kenapa Willow tak sadar-sadar, ya? Apa sekuat itu ingatannya,"

"Ya, menurut petugas yang menangani Prim tadi, ingatannya terlalu kuat. Ditambah lagi ia terlalu banyak memikirkan masalah ini di kepalanya. Seharian."

"Jadi—" Al terdiam, kata-katanya seolah menjadi mantra mematikan jika benar ia ucapkan. Ia tak ingin apa yang sedang ia pikirkan terjadi. "Prim sudah lupa semuanya?"

Harry menggeleng pelan. Mobilnya sudah berputar ke kawasan perumahan. Beberapa menit lagi mereka akan sampai rumah. "Entahlah, yang pasti, semua hal tentang sihir yang ia ketahui sudah lenyap dalam pikirannya. Tinggal kita menjaga rahasia jati diri kita saja sebentar lagi. Jangan sampai kita kecolongan seperti sebelumnya,"

Kecolongan. Itu dia. Al merasa kata-kata itu ditujukan untuknya. Ia yang membuat Prim mulai merasakan kehadiran sihir di dekatnya. Dan itu semua karena dirinya.

"Maafkan aku, Dad—"

"Untuk apa, nak?" Harry memalingkan wajahnya pada Al di bangku belakang bersama Prim.

Wajah Al seolah memberikan penjelasan pada Harry bahwa Al benar-benar merasa bersalah. "Karena aku selalu dekat dengan Willow, dia jadi tahu segalanya. Aku—"

"Kau tak salah, Al. Ini hanya kecelakaan. Kita semua juga tak mau masalah seperti ini muncul. Tapi, Dad bangga padamu, Al. Kau berani menanggung risiko menyelamatkan Prim walaupun kau tahu itu melanggar aturan," tutur Harry seraya mengulum senyum, "cinta memang susah, ya,"

Dess.. Al lagi-lagi mendapat sindiran telak dari Harry. Al hanya tersenyum tanpa mau berkomentar. "Dad juga pernah muda, son! Oh Merlin.. rasanya aku sudah merasa tua sekali. Anakku sudah kenal perempuan cantik! Sebentar lagi aku akan punya menantu dan.. cucu? Hahaha—" gurau Harry penuh kepuasan.

"DAD!" Al memukul pundak Harry pelan dari belakang.


Godric's Hollow, desa yang damai dengan warganya yang ramah-ramah. Mereka selalu terbuka dengan siapapun dan memiliki hubungan sosial yang sangat baik antar sesama. Meski sebagian dari mereka berlatar belakang yang berbeda, penyihir ataupun Muggle. Mereka satu, warga Godric's Hollow.

Harry menghentikan mobilnya di dekat. Tidak sampai di depan pagar. "Oke, kita sampai—"

"Kenapa berhenti di sini, Dad?" Kenapa tak masuk saja?" tanya Al.

"Kita masih membawa Prim, Al. Kau lupa? Dan sekarang, Dad akan menyadarkan Prim dan membuat ia seolah-olah tertidur dalam perjalanan. Dad membawanya ke persidanganmu dengan alasan mencarikan sekolah untuknya,"

"Lalu bagaimana kalau ayah ibunya bertanya hasil pencarian sekolahnya?" Al mengambil selimut di tubuh Prim dan membetulkan posisi duduknya.

Harry mengangkat tangannya dan mengarahkan telapak tangan kanannya di depan wajah Prim. Popp! Seketika tubuh Prim menghilang dan berganti duduk di bangku depan.

"Dad sudah punya ini," tunjuk Harry pada brosur sekolah Muggle yang ia dapatkan sejak beberapa hari lalu. "Dad sempat datang ke sekolah itu sebelumnya untuk mencarikan sekolah Prim dan Rye, tapi belum sempat Dad bicarakan dengan Mr. Mellark. Kebetulan sekali, bisa jadi alibi Dad mengantar Prim pulang,"

Rupanya Harry sudah merencanakan semuanya dengan matang. "Kau hebat, Dad. Lalu aku bagaimana?"

"Sekarang kau turun, dan masuk ke rumah. Dad akan mengantarkan Prim ke rumahnya. Dad sudah mengirim pesan pada Mom tentang posisi ayah dan ibu Prim sekarang. Dan mereka masih ada di rumah mereka," kata Harry penuh keyakinan.

Kini saatnya Al keluar dan menyerahkan segalanya pada ayahnya. Berat sekali Al harus merelakan Prim dengan keadaannya yang baru. Ia takut Prim benar-benar melupakannya.

"Percayalah pada, Dad. Berpikirlah positif semoga ingatannya tak banyak menghilang. Oke! Kau harus keluar sebelum Dad membangunkannya sebentar lagi. Jika Prim bangun dan masih melihatmu di sini, rencana kita bisa gagal, Al,"

Al mengangguk, paham. Sangat amat paham. Tangannya meraih pembuka pintu mobil dan bergegas keluar dengan selimut bekas menutupi tubuh Prim didekap erat di dadanya. Masuk ke halaman depan, Al masih tak kuasa harus melepas Prim begitu saja. Ia masih mengamati mobil Harry di balik pagar.

Mata Al melihat ayahnya sedang menggerakkan tangan kanannya pada Prim. Menggerakkannya naik turun dari kepala menuju ujung kaki tanpa menyentuhnya sekalipun. Ada cahaya kuning muncul dari tangan Harry dan menyelimuti seluruh tubuh Prim yang tak sadarkan diri.

Setelah selesai, Harry bergegas menyalakan mobilnya dan bersikap seperti biasa. Prim perlahan sadar. "Syukurlah," batin Al. Prim bangun tanpa sempat Al menyapanya 'hai' seperti dulu. Moment sebelum ia pergi sekarang, perpisahannya dengan Prim. Lalu mereka akan berpisah, sementara mereka sendiri tak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Di dalam mobil, Prim merasakan dirinya lemas. Kepalanya sedikit pusing dan menyadari ia masih di dalam mobil Harry. "Mr. Potter?" panggil Prim lirih.

"Ah.. akhirnya kau bangun juga, Prim. Aku sampai tak tega membangunkanmu, kita sudah hampir sampai di rumahmu. Kau sudah bawa brosur sekolahnya, kan?" kata Harry bersikap sewajarnya.

Prim bingung. Brosur sekolah apa? Ia lantas melihat tas coklat yang ia bawa, membukanya dan mencari tahu apa memang ada brosur sekolah di sana. "Ahh ada, ini brosur—"

"Sekolah barumu, kan. Kau pasti kelelahan seharian ini, sampai kau ketiduran. Nanti tunjukkan pada ayah dan ibumu. Tinggal pilih sekolah yang mana, kalau sudah yakin, aku bisa membantumu lagi saat mendaftar nanti,"

Prim hanya bisa diam dan mencerna satu persatu tentang penjelasan Harry tentang masalah sekolah itu. Prim tak sadar bahwa ia sedang dipermainkan. Sampai di rumah Prim, Harry mengantarkannya sampai masuk ke rumah.

Peeta dan Katniss menyambut kedatangan keduanya dengan wajah berbinar.

"Maaf jika sampai malam, saya mencarikan alternatif sekolah lain yang agak sedikit jauh dari sini, ya untuk bahan perbandingan saja. Semua brosur sekolahnya sudah dibawa oleh Prim. Semua sekolah yang saya pilihkan itu memiliki jenjang yang dibutuhkan untuk Prim dan Rye juag. Jika masih ada masalah bisa saya bantu kembali, Mr. Mrs. Mellark,"

Harry menjelaskan sedikit banyak alasannya mengapa sampai menjelang malam ia baru mengantar Prim pulang. Karena efek modifikasi ingatan itu, sedikit banyak membuat Prim hanya bisa diam dan mengiyakan segala penjelasan Harry, yang sebenarnya ia sendiri tak yakin jika seharian berkeliling London mencari sekolah.

"Kami yang harus berterima kasih. Kami sudah banyak menyusahkan Mr. Potter dan keluarga. Kami tak tahu harus membalasnya dengan cara apa," ucar Peeta pada Harry.

Tak kalah senangnya, Katniss ikut membalas, "jika Mr. Potter dan keluarga butuh bantuan kami, tolong jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami. Kami sangat amat berterima kasih dengan segala bantuan yang sudah diberikan pada kami," kata Katniss.

"Sama-sama, Mrs. Mellark. Sudah tugas saya untuk membantu tetangga sendiri. Dan sebelum saya lupa, segera diputuskan untuk Prim dan Rye bersekolah di mana, tahun ajaran baru akan segera berlangsung," balas Harry.

Dan hari ini, kerja keras Harry sudah sangat sukses.


3 minggu kemudian...

September hampir tiba, saatnya para Potter junior harus mempersiapkan diri mereka untuk segera kembali ke Hogwarts. Beberapa hari lalu Harry dan Ginny selesai mengunjungi Diagon Alley untuk mencukupi kebutuhan sekolah ketiga anak mereka, mereka tidak mau jika semua persiapan harus disiapkan mendadak saat waktu berangkat semakin dekat.

Selama tiga minggu, Al disibukkan dengan apa saja perlengkapan sekolahnya nanti. Sesekali hanya bisa bermain dengan saudara-saudaranya sambil mengamati Prim yang semakin sibuk membantu usaha roti Peeta yang baru.

"Kau rindu padanya, Al?" tanya Lily saat mereka bertiga menanam tanaman baru di halaman belakang ruma.

"Tentu saja, Lils. Sudah hampir satu bulan mereka tak bertemu. Kau tak lihat, ya, selama ini Al selalu mengamati Prim dari jendela. Dan aku yakin, setiap malam pasti jendela kamarnya tak pernah di tutup hanya untuk mengamati Prim," James menyela tiba-tiba.

Al risi juga selalu digoda James. Tapi apa boleh buat, toh memang ia juga rindu dengan Prim.

Sejak ingatannya di modifikasi, Prim sangat sulit ditemui oleh Al. Entah itu di rumahnya ataupun di hutan, tempat Prim menghabiskan waktu untuk berburu. Tiap kali Al berkunjung ke rumah Prim, ia akan pulang tanpa menyapa Prim sedetikpun. Prim lebih sibuk di toko Peeta. Itu yang Al tahu tiap kali ia bersepeda melewati depan toko roti Peeta.

"Hey, sebentar lagi kita akan kembali ke Hogwarts, apa kau tak mau menemui Prim sebelum kau tak akan melihatnya lagi selama berbulan-bulan? Temui dia di tempat yang sering kalian datangi berdua," tanya Lily. Ia membantu Ginny mengambil bibit-bibit bunga matahari yang baru dibeli Harry di toko bunga langganan mereka.

Seperti diingatkan, Al lantas berlari keluar dan mengambil sepedanya. Pintu rahasia di belakang rumah sudah ditutup Harry. Tak ada cara lain selain menaiki sepede ke tempat itu."Hei, Al, kau mau kemana? Aku ik—"

"James! Lanjutkan tugasmu, biarkan Al pergi," cegah Harry disambut gerutuan James.

"Anak itu, mirip sekali denganmu—" seru Ginny di samping Harry.

"Ahh.. kenapa jadi mirip denganku? Bukannya memang sudah jelas dia mirip aku?"

"Maksudku, sikap Al mirip denganmu kalau sudah jatuh cinta," Ginny berpura-pura tak memperhatikan Harry.

Harry terkejut dengan penuturan Ginny tentang istilah 'jatuh cinta'. "Saat kau mengejar Cho dulu, aku bahkan tak punya kesempatan untuk berbicara padamu, sibuk sendiri!" gerutu Ginny.

"Aku paham.. kau cemburu, ya, Mrs. Potter?"

"Ap-apa? Ahh enggak!"

"Kau makin cantik kalau sedang cemburu, sayang," kata Harry lantas mencium pipi kiri Ginny cepat. Wajah Ginny langsung memerah menahan malu.

James dan Lily yang melihat kedua orang tuanya saling bermesraan cepat-cepat bersiul menggoda, "ehemmm aking asiknya sampai tak tahu ada anak-anaknya di sini," sindir James diikuti kikikan pelan Lily.

"Ya beginilah, nak, kalau kau sudah punya seseorang yang kau cintai. Mangkanya, kau dekatlah dengan perempuan. Jangan gitar saja yang kau peluk dan kau cium setiap hari," lawan Harry balik menggoda James.

Semuanya sontak tertawa keras-keras sementara James mendesah lesu.

"Aku tahu kau akan datang kemari Mr. Potter,"

Suara perempuan menyambut kedatangan Al di Danau Biru. Itu Willow. Duduk di balik pohon willow besar, tempat favoritnya jika datang ke sana.

"Willow?" panggil Al pelan.

"Kau kemana saja? selama ini aku berburu sendirian di hutan. Aku tak punya teman," kata Willow. Ia membersihkan celana jinsnya saat bangkit dari atas rumput.

Al tersenyum, Prim masih mengingatnya, "a-ak aku—"

"Aku sebentar lagi akan sekolah, dan kau juga akan kembali ke asramamu, kan? itu jauh sekali, kapan-kapan aku ajak ke sana, ya? Apa dekat ke Irlandia? Aku ingin sekali ke Irlandia—"

Untuk pertama kalinya sejak kejadian Kementerian beberapa minggu lalu, ia kembali bertemu Prim dengan keadaan yang masih sama. Prim yang dulu.

Al berjalan mendekat ke tempat Prim berdiri. Menatap danau biru yang sama sekali tak berwarna biru. Mereka tak beruntung hari ini.

Down by the water, under the willow

Sits a lone ranger, minding the willow..

He and his wife once lived happily..

Planted a seed that grew through the reeds..

Prim bernyanyi dengan merdunya. 'Joanna'-nya kembali. Lagu itu, Prim masih mengingatnya dengan baik. Suaranya yang khas dengan campuran aksen Brithis yang sedikit mulai terdengar dari cara Prim berbicara, membuat Al merasa beruntung meski ia tak melihat danau biru berwarna biru hari ini.

"Lagu itu seperti lagu wajib saat aku mengunjungi tempat ini, dan mengintkannya pada yang menciptakannya," Prim berbalik dan menatap Al.

"Silakan. Jika kau senang," jawab Al singkat. Ia sudah terlanjur bahagia dapat kembali bertemu Prim.

Tangan Prim mengambil daun kering di dekat kakinya, "seperti daun ini, ia jatuh sendiri saat sudah kering. Akupun begitu, kalau sudah kering karena menunggumu berhari-hari di sini, aku bisa pulang tanpa berharap kau menemuiku di sini,"

"Maafkan aku, Will," kata Al. Lama sekali Al tak mengunjungi tempat itu karena takut jika ia mengetahui Prim benar-benar sudah melupakannya.

Namun ternyata salah. "Aku mengerti, Al. Kau sedang sibuk mempersiapkan keperluamu untuk kembali ke asramamu sebentar lagi, kan? Seingatku, kau berangkat lusa, ya?"

Al hanya berdehem. "Dan kau akan meninggalkanku lagi," sahut Prim lemas.

"Hei dengar aku, meski aku lama saat kembali ke sini lagi, aku tak akan melupakanmu,"

"Ya, karena itu janji kita. Aku di sini dan kau juga akan di sini,"

Tangan Prim meraih pergelangan tangan Al. "Persiapkan semua keperluanmu, jangan sampai ada yang tertinggal. Jangan karena keasikan bertemu aku di sini, kau sampai lupa dengan urusan sekolahmu. Nanti kau dimarahi ayahmu," pesan Prim, tangannya mengelus telapak tangan Al lembut. 'Tidak, Willow. Dad malah senang aku bisa bertemu denganmu lagi,' batin Al.

"Pasti, tapi aku tak bisa membawa satu," kata Al. Tangan kirinya yang tak digenggam pelan-pelan menyibak anak rambut Prim yang mengganggu wajahnya karena tiupan angin.

"Apa itu?"

"Kau—" jawab Al singkat.

Prim tertawa, "aku sudah membiarkanmu pergi, Al. Tak apa kau tak membawaku," katanya kegirangan digoda Al.

"Tapi aku rasa kau lupa untuk mencegahnya ikut bersamaku," Al mencondongkan wajahnya.

"Bayanganmu. Aku selalu melihat bayang-bayangmu di belakangku. Itu harus aku tinggal, tapi tak bisa. Susah sekali melupakanmu.. Willow!"

Diikuti hembusan angin, Al memberikan ciuman terakhirnya sebelum ia pergi. Bukan ciuman terakhir, karena Al yakin akan memberikannya lagi suatu saat nanti.

Al melepas pagutannya. Mengambil napas dan menatap manik biru Prim sembari berkata, "stay with me!"

"Always!" jawab Prim.[]

- FIN -


#

Aaawww akhirnya selesai juga crossover pertama Anne. Bagaimana penampilan Xover perdana Anne?

Takut juga nggak bisa selesai. Untuk yang takut sama endingnya Anne buat bagaimana, semoga cukup puas dan menerima, ya. Karena ending ini sudah jadi konsep awal sejak buat cerita ini.

Terima kasih buat semua pembaca yang budiman *cekilahhhh*, yang sudah menyempatkan waktu membaca, review, favorite, follow dan yang lain. Anne sangat berterima kasih banget sudah support Anne selama ini dari chapter awal sampai akhir ini. Maaf juga kalau selama proses penyelesaian cerita ini masih membuat teman-teman pembaca semua terganggu, mungkin dari cerita, typo, lama update dan yang lain-lain.

Tetap tinggalkan review kalian, bisa tulis saran, request atau mungkin cuma say hai aja. Anne akan baca. Untuk yang pakai akun, Insha Allah bisa Anne balas. Akhir kata Anne ucapkan terima kasih banyak! Thank you so much! Anne sayang kalian! Tunggu kisah baru lainnya.. xo

Thanks,

Anne