Ada seorang anak, kira-kira berusia tiga atau empat belas tahunan, sedang duduk uncang-uncang kaki di taman samping istana Lu, bertubuh gembul dan memakai baju warna kuning. Rambutnya yang kecoklatan dibiarkan terurai.

Mata rusa Luhan yang menangkap sosok gadis gembul di sana mengerut. Siapa anak itu? pertanyaan itu tentu tak luput melintas di otaknya? Anak gadis mana yang malam-malam seperti ini tersesat di rumahnya, apa penjaga di luar lengah sampai ada orang asing masuk?.

Atau dia anak dari salah satu pegawai Luhan? Itu tidak mungkin. Peraturan jelas mengatakan selain pegawai dilarang memasuki area kediaman Lu, bahkan mereka di lengkapi kartu identitas yang memiliki barcode sehingga penyusup, kecil kemungkinan masuk.

"Nugu-

Mata yang tadi mengerut kini membulat, sempurna dan kaget. Sampai-sampai tangannya yang sedari tadi terletak di telinga seraya memegangi ponsel, turun secara perlahan, melupakan kalau saat ini dia sedang berbicara dengan ibunya.

Ketika si gadis menoleh dengan senyuman yang sangat lebar dan khas, menampilkan gigi timunnya yang di bingkai gusi merah muda. Mata kucingnya di bingkai kacamata namun tidak sedikitpun mengurangi betapa indahnya kelopak mata tanpa lipatan mirip seperti kucing.

"Minseok." Ia menyebutkan nama. Dan yang di ujung sana tersenyum semakin lebar seakan mendengar panggilan Luhan yang lirih dan cukup jauh. Sempat terpaku karena Minseoknya duduk di taman dengan kaos tipis dan celana pendek, mata Luhan berubah, berkilat penuh kekhawatiran.

"Ya, apa yang kau lakukan. Kenapa duduk di sana dan memakai pakaian seperti itu."

Dengan cepat Luhan menghampiri sosok gembul yang masih saja tersenyum, sepertinya semakin gembira ketika langkah Luhan semakin panjang menujunya.

"Minseok."

Ketika Luhan sampai di tempat dimana Minseok tadi duduk, Luhan terkaget. Minseoknya hilang, tangannya yang memegang mantel hangat yang tadi ingin di pakaikan kepada Minseok berakhir di udara.

Kini yang ada di hadapan Luhan adalah kursi di gazebo. Oh halusinasi. Batinnya kecewa. Minseok yang bertubuh gembul, Minseok yang berkacamata, Minseok yang tersenyum begitu lebar, Minseok yang memiliki mata berbinar tentu saja adalah Minseok dalam halusinasi. Minseok dalam khayalan dan Minseok di masa lalu.

Ini adalah gazebo, dimana ia dan Minseok pernah menciptakan kenangan manis, pantas dia berhalusinasi. Dia berada di tempat yang memiliki kenangan dengan si mungil. Secara tidak sadar alam bawah sadar pun ingin mengingatkannya pada Minseokn ya.

"Dia membutuhkan perawatan." Changmin menerangkan, setelah menghela nafas panjang. "Trauma Minseok sangat berat. Traumanya itu seperti bawang merah, berlapis-lapis. Pemerkosaan mengganggu 70% dari psikologisnya. Kehamilan 20% dari fisik maupun jiwanya. Dan 10% adalah kerinduan."

Luhan sudah ingin menyela,jika saja Changmin tidak mendelik padanya. Mengatakan secara tersirat kalau dia tidak ingin di sela. "Seorang anak sejatinya adalah bermain, belajar dan mengembangkan segala hal atas keingintahuannya. Bukan menjadi seorang ibu, di pisahkan dari orang tuanya dan menjadi simpanan. Dengan atau tidak insiden yang merujuk pada kejadian itu, Minseok dapat sewaktu-waktu teringat kembali pada kejadian itu. Dia membutuhkan perawatan. Secara khusus dan teratur. Pertama yang harus kau lakukan adalah, pertemu-

"Tidak. Tidak akan ada pertemuan siapa dengan-siapa selama Luhan belum mengizinkan. Minseok adalah miliku dia sudah tidak memiliki siapapun kecuali aku sejak dia memasuki duniaku." Sergah Luhan tegas, bernada keegoisan yang mutlak.

"Kau ingin membuat Minseok gila." Changmin tidak bermaksud sekasar itu. Jika untuk menyadarkan Luhan mungkin ini bisa di maafkan. "Minseok masih sangat muda, empat belas tahun ketika dia kehilangan kesuciannya. Lima belas tahun ketika Sehun di lahirkan lalu setelah itu menjadi simpanan. Kau ingin membuatnya gila?." Luhan membalik tubuhnya, menatap Changmin yang menatapnya sendu.

"Bukan hal mustahil jika Minseok mengalami kemuduran mental. Dimana dia akan mengira usianya berkisar antara empat atau lima tahun. Melihatmu sekarang dia seperti ada pada dua dimensi waktu yang berbeda, bagaimana kalau dia bertemu Sehun? Merasa dimana dia akan berada? Sehun tidak mungkin selamanya tidak di izinkan untuk bertemu ibunya kan?"

Muka keras penuh keegoisan Luhan berubah kebingungan. Apa yang di katakan Changmin adalah kebenaran.

"Dia akan merasa berada di tempat dimana dia hidup bahagia dan normal selayaknya anak empat belas tahunan, tapi di saat yang bersama dia juga merasa dia adalah seorang isteri simpanan dari laki-laki kaya. Lalu bisa kau bayangkan jika Sehun juga muncul?. Minseok butuh pelukan orang tuanya sebagaimana seorang anak yang sakit butuh kehangatan orang tua dan, dia butuh kebebasan, Minseok bukan burung yang harus tinggal dalam sangkar, bahkan seekor burung tidak bisa selamanya terkurung dalam dangkar meski kau membuatnya dari emas.

Untuk kedua kalinya ponsel Luhan berbunyi. Tertulis nama Mama di layar. Oh, rupanya dia lupa sedang berbicara dengan orangtuanya, pasti tadi ketika sedang berbicara kemudian di abaikan, ibu Luhan mengira kalau Luhan tidak lagi berada di dekat ponselnya. Menata perasaan yang sedang tidak karuan dan menghela nafas, Luhan kembali menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinga.

"Ni Hao?"

"Kau kemana saja Deer?" tanpa menjawab sapaan Luhan, ibunya menerjang dengan pertanyaan yang nadanya sedikit kesal.

"Aku tidak kemana-mana."

"Tapi tidak mendengarkan aku, apa kau dengar yang ku katakan tadi."

"Maaf."

"Aku tahu ini tengah malam di Korea. Tapi apakah harus selesu itu? Siaran internasional China sedang menayangkan sepak bola? Kau tidak menonton?"

"Aku sudah tua untuk ber-euphoria seperti itu lagi."

Mungkin kalau Luhan tidak sedang dalam tekanan yang begitu berat, Luhan akan langsung berlari menuju ruang televisi dan menyalakan saluran yang di maksud ibunya. Dia pecinta sepak bola, penggemar Manchester United dan Christiano Ronaldo.

"Kau ada masalah deer."

"Tidak. Hanya lelah. Ini sudah larut kalau mama tidak ingat."

"Oh dear, kau pikir dengan siapa kau berbicara? Ck, aku tidak bisa menuntumu berbicara sekarang. Tidak masalah. Besok akan ku pastikan kau buka mulut."

"Aku tidak, Eh. Apa maksud mama?" Luhan menegang, menegakan posisi duduknya yang tadi setengah tidur.

"Aku dalam perjalanan ke Korea, belum lepas landas karena sedang ada badai topan. Di laut pasifik-

"APA!?" Reflek berdiri, kaget bukan main. Ayolah dia sedang tidak dalam keadaan baik untuk menyambut ibunya. Dirinya kacau dan sedang bayak masalah, belum lagi jika ibunya datang ke Korea dia akan menginap di rumah Luhan. Kalau itu terjadi pavilion akan di kosongkan. Selama ibunya menetap Minseok diharuskan melakukan sendiri karena seluruh pelayan di liburkan. Belum lagi seluruh pintu dan jendela di kunci, jika malam, tidak boleh ada cahaya sekecil apapun kecuali di area luar dan satu lampu di ruang utama.

Tidak, tidak bisa. Untuk saat ini jika tidak melihat bayangannya sendiri saja Minseok sudah menjerit histeris bagaimana kalau seluruh penerangan di hilangkan. Minseok hanya akan menjerit sepanjang malam dan pasti akan membuat kehebohan.

"Haruskah berteriak? Kau ingin membuat aku tuli-

"Aku sedang sibuk jika kedatangan mama hanya ingin menggangguku. Kenapa mama mendadak sekali, apa bersama baba?"

"Kau tidak suka sekali. Hey tuan dengan segudang kesibukan anda tenang saja, saya tidak akan merepotkan. Saya juga tidak ada niat menemuimu. Tadinya ingin tapi begitu mendengar reaksimu aku jadi berubah pikiran. Aku ingin menemui mantan kekasihku dan cucuku. Ah katakan pada si tampan itu untuk menjemputku di bandara. Aku akan mengajaknya ke Guri besok."

"Guri?"

Inheritors

Nurl99

Jaljayo Sehun-ah. Wo ai ni.

Chu-

Rasanya aneh. Seingatnya Luhan tidak mengatakan apapun selain selamat malam. Jaljayo Sehun-ah. Wo ai ni? Kembali terngiang. Lalu bekas kecupan di keningnya. Dia meraba sambil melangkah turun dari kamar, Sehun tak henti-hentinya memegangi keningnya.

Ia masih yakin kalau suara yang di dengarnya adalah suara ayahnya karena, pun semalam Luhan melakukan apa yang terngiang di telinga, hanya saja, tidak dengan wo ai ni. Dengan jelas dia hanya mengatakan selamat malam dan mengecup keningnya.

Tapi, bukankah ini sudah biasa, sejak ia kecil ketika masih tinggal dengan ibunya. Ketika malam datang dan kebetulan Luhan bersama Minseok. Pasti Luhan akan melakukan apa yang Minseok juga lakukan.

"Seja jeoha."

Bagus, seseorang memanggilnya. Sudah biasa tapi rasanya kenapa menjengkelkan sekali. Sehun sedang mengingat kenapa harus di hancurkan dengan suara panggilan itu.

"Wae?" si mata tajam Jaehyo. Pagi-pagi begini lelaki penjaga pintu itu sudah berdiri di rumah utama. "Apa yang kau lakukan disini?" langsung saja dia bertanya. Rasanya aneh, Jaehyo tidak pernah berkeliaran di tempat lain selain pavilion.

Kalau di ingat, lelaki itu kini jarang terlihat di pavilion dan lebih sering berkeliaran di sekitar Sehun.

"Menggantikan pak Kim untuk mengantarmu kesekolah."

"Memangnya Kim ahjussi kemana?"

"Mengantar tuan besar ke bandara."

"Luhan akan pergi? Eodi? Eonje?" senang sekali rasanya Sehun mendengar Luhan pergi. Dengan begitu dia bisa menemui Minseok, semoga saja Luhan lama perginya. "Menjemput daebi mama."

"MWO?"

Wanita abadi, begitu dia biasa di sebut. Di usianya yang akan menginjak angka tujuh, kerutan barang segaris saja tidak terlihat, kulit putihnya masih kencang dan mulus, tubuhnya masih molek dan angun di balut pakaian jenis apapun, jika melihat sekilas mungkin orang akan mengira wanita tersebut masih berusia tiga puluh tahunan dan masih anaknya masih kecil, hey siapa sangka cucunya bahkan sudah berusia tujuh belas tahun. Sepertinya label wanita abadi memang cocok untuknya.

"Mama."

Yang cantik bertemu yang tampan, terlihat seumuran siapa yang mengira kalau mereka anak dan ibu. "Deer" matanya mengerut melihat anak tunggalnya yang datang menyambut, dia tidak butuh anak itu. Yang dia inginkan adalah si brondong muda cucu kesayangannya.

"Maaf aku bukan Sehun."

"Kau tidak mengatakan kalau aku akan datang? Atau kau melarangnya menemuiku." Terkadang Luhan berfikir, mungkin lebih baik ibunya seperti wanita tujuh puluh tahunan pada umumnya. Dia sudah tua, tapi kelakuannya seperti gadis muda. Dia pasti sombong karena merasa begitu cantik pada usianya.

"Sehun sekolah. Tidak ada waktu menjemput nenek-nenek."

"Oh, dear kau kasar sekali."

"Itu nyata, mama memang sudah nenek-nenek kan."

Benar-benar seperti kawan lama yang berjumpa. Meski terlihat begitu dekat seperti seharusnya seorang ibu dan anak, namun dalam hati Luhan terselip kekhawatiran yang begitu besar. Dia belum bisa memutuskan akan bagaimana kepada Minseok selama ibunya di Korea.

"Ah, mama. Mama bilang ingin ke Guri? Mau menemui mantan kekasihmu? Kau bercanda kan?"

Ibu Luhan mengerutkan keningnya. "Aku sungguh-sungguh deer. Aku ingin menemui mantan kekasihku, tadinya aku ingin membawa Sehun karena dia punya anak seumuran Sehun. Tapi kau malah menghancurkan rencanaku."

"Apa baba tahu? Kau ingin bertemu mantan kekasihmu tapi seperti ingin melayat."

Mantan kekasih adalah orang yang pernah hadir dan memberikan sejuta keindahan. Meski hanya mantan tapi bukan berarti jika menemuinya harus berpakaian serba hitam kan?.

"Ya, kau adalah isteriku."

Luhan terkesiap, ketika tautan kening keduanya terlepas dan berganti dengan tautan bibir. Bukan Luhan, namun Minseok. Minseok yang memulai. Entah kalimat Luhan bisa seperti sihir yang merubah Minseok menjadi agresif.

Apa karena kalimatnya yang menyebutkan Minseok sebagai isterinya? Yeah. Mungkin, seumur pernikahannya dengan Minseok, tidak pernah sekalipun Luhan menyebut Minseok sebagai isterinya. Bahkan ketika dimalam dimana mereka akan tinggal di kamar yang sama, yang Luhan katakan adalah

"Aku milikmu malam ini."

Lalu malam mereka terjadi. Tidak seperti suami-isteri pada umumnya, memang terkadang sama tapi biasanya, Luhan hanya akan tidur bersama Minseok, sampai pagi lalu pergi setelah tugasnya selesai.

"Minseok."

Mata kucingnya, mengedip. Tubuhnya bersandar pada Luhan dengan nafas terengah, dia menunduk, namun ketika Luhan memanggilnya, pemilik nama itu segera menggerakan kepalanya mendongak, yang secara otomatis tatapan keduanya bertemu.

Keringat sebesar biji jagung menghiasi wajah bulat tersebut dan rambutnya melepek. Bibir Minseok memerah mengkilap, benang saliva tercipta jelas, dan kali ini ulah Minseoknya. Beberapa lama mereka hanya saling pandang, dengan Luhan menimang wajah Minseok dengan satu tangan sementara tangan yang lain mendekap erat tubuh Minseok.

Dan tidak berapa lama, Luhan mendekatkan wajahnya lagi, meraup rakus bibir ranum semerah ceri, seraya memutar tubuh mungil tersebut hingga jatuh ke atas tempat tidur. Luhan tidak memiliki niat apapun saat pulang dari kantor tergesa-gesa menuju pavilion selain untuk menenangkan Minseok tentang amarah Sehun.

Tapi ketika ia pulang dan Minseok menjadi agresif walau dengan keterdiamannya, maka Luhan dengan naluri lelakinya membawa pada niat ingin bersatu. Luhan lelaki normal, ketika tengah hari bolong bersama isterinya dengan posisi yang ambigu dan bibir saling berpagut, maka hal yang selanjutnya adalah sesuatu yang tidak perlu di tanyakan.

"Minseok-ah." Panggilan itu tanda Luhan meminta izin pada Minseok melewati tatapannya. Sekarang ini sebagian pakaian Minseok telah terbuka, brantakan, menampilkan kulit mulus yang sudah di tumbuhi bercak ke unguan. Bahkan di dua gunung kembarnya pun sudah terdapat noda merah.

Luhan masih dalam keadaan berpakaian lengkap meski kemejanya tak lagi rapih. Satu kancingnya bahkan telah terlepas. Dan ketika akhirnya Minseok mengangguk, dengan gerakan cepat Luhan menarik tali pinggang dan melepaskan pengait celana, menurunkan zippernya lalu kembali menindih si mungil

Yang tadinya hanya brantakan, kini tanggal. Tubuh mungil Minseok sudah polos, tanpa sehelai benangpun, pakaiannya berserakan di lantai, bukan hanya miliknya, namun juga milik Luhan, ikut menghiasi kekacauan kamar Minseok.

Dan si pemilik pakaian bergumul di dalam selimut dengan suara desahan erotis juga gerakan naik turun. Sesekali desahan terdengar, erangan dan suara-suara aneh baik dari mulut Luhan maupun Minseok.

Ketika Luhan sedang sibuk menyusuri seluruh inci tubuh mungilnya dengan bibirnya, Minseok sedang menata hati. Dia memperhatikan, bagaimana Luhan sedang menikmati dirinya selayaknya makanan lezat, kau adalah isterinya. Beginilah seorang isteri melayani suaminya, bukan melayani makan, pakaian dan menyambutnya ketika pulang, tapi memuaskan hasrat laki-lakinya yang ingin terpuaskan. Yeah, itulah isteri. Kim Minseok kau adalah isteri Luhan.

Eguh panjang ketika Luhan menggerakan pinggulnya yang masih menyatu dengan pusat diri Minseok. Matanya mengedip, tangan mungilnya berada di kepala Luhan bagian belakang. Meremasi rambunya yang juga basah. Lalu melenguh lagi. Tanda dia begitu menikmati, menikmati Luhan yang ada di dalam dirinya.

"Minseok." Minseok melamun, dalam percintaan memabukan dihari yang sedang panas, Minseok masih bisa melamun. "Lu saja-

"Sebut namaku, Lu-ge." Lalu menutup mulut Minseok yang terbuka dengan ciumannya. Tubuh Luhan yang di atas kemudian bergerak lagi, naik turun dengan tempo yang lebih cepat. "Anghh, Luh-gehnghh" senyuman Luhan terbit, saat Minseok memanggilnya seperti apa yang dia inginkan, bukannya panggilan memuakan yang menyakiti telinga.

Ketika yang di dalam semakin melesak masuk dan membesar, Minseok merasa penuh, tubuhnya mengejang dan membusung, menempel dengan dada berpeluh Luhan lalu seperti bom, seketika mengempis, sesuatu meledak, Luhan meledakan semua saripatinya di dalam tubuh Minseok.

Minseok terbatuk-batuk, ketika ingatannya tentang hari itu melintas di otaknya dengan sangat jelas, ketika bagaimana dia sendiri yang seakan menyerahkan diri pada Luhan lalu mereka bercinta dengan hebat. Luhan menikmati dirinya, dengan sangat dan bahkan mencapai klimaks yang luar biasa.

Disaat yang sama ingatan ketika Luhan pertama kali melesakan dirinya menerobos kesucian Minseok, disaat itulah rasa mual mendera, mual yang mendera akibat rasa jijik pada dirinya sendiri, bagaimana dia yang seorang bocah belia dinikmati oleh laki-laki yang seumuran dengan adik ayahnya. Minseok merasa jijik, dan tanpa bisa di tahan, yang mendesak dari perutnya keluar bertepatan ketika Minseok mencapai wastafel di kamar mandi.

Setelah beberapa saat Minseok jatuh terduduk, terbatuk lalu menangis, sambil memukuli dadanya yang terasa sangat nyeri, luka tanpa darah yang begitu menyakitkan. Perkataan Luhan yang menyebutnya isteri terasa begitu menenangkan, tapi kenapa di saat yang sama, perkataan wanita berparas dingin itu terngiang di telinganya juga.

Yang harus kau lakukan hanya melayani tuan Luhan. Ketika dia menginginkanmu untuk menghangatkan tubuhnya, maka disaat itulah kau dibutuhkan. Ingat kau hanya kebutuhan nafsu dan kau harus selalu menjaga tubuhmu untuk sehat.

Minseok terbatuk lagi, menggeleng lagi, lalu menangis lagi, memukul dadanya lagi. Dengan kata lain dia hanya budak nafsu, yang hanya di butuhkan ketika Luhan merasa ingin(Ingin di puaskan). Di sela pikirannya yang kacau dan sedang berbela sungkawa, muncul di benak Minseok satu pertanyaan. Apakah Baekhyun tidak memberikan apa yang seharusnya dilakukan seorang isteri? Dalam hal ini adalah hubungan suami-isteri?.

"Tidak." Baekhyun berkata tegas.

"Itu akan membuatnya curiga, bangkai disembunyikan bagaimanapun akan tercium juga Byun Baekhyun?"

"Kau mau aku berhianat? Setelah apa yang ku lakukan sekarang kau menyuruhku menghianati cintaku? Aku bukan dirimu Park."

"Dengan aku mencintaimu aku berhianat, Ya, aku akui itu. Tapi kau harus berfikir kedepan, jika kau terus berkilat seperti ini, bukan hal tidak mungkin suatu saat ini akan menjadi bumerang. Yang kau hadapi adalah Luhan dan di belakang Luhan ada Han dan Chul. Sementara kau sendiri Byun."

"Nyonya baik-baik saja?" Soojung terkaget ketika tiba-tiba Baekhyun terbangun dengan gaduh, mereka dalam perjalanan menuju Bucheon, Baekhyun mengatakan kalau dia ingin tidur sejenak sebelum tiba, karena semalaman ia tidak tidur. Namun ketika di tengah usahanya untuk tidur dia malah mendapati mimpi sepenggal kejadian masalalu.

"Hm." Sahutnya hanya gumaman. Rasa kantuk yang tadi menyerang kini hilang seketika.

"Namanya Minseok, Kim Minseok." Luhan menoleh, seorang wanita seumuran dengan ibunya yang juga masih terlihat kecantikannya bersuara. Menyebutkan nama seorang anak yang mengenakan hanbok merah di dalam foto. Gembul, putih dan sedang tersenyum.

"Ini ketika usianya satu tahun. Di ambil ketika ulang tahunnya." Tangan wanita itu terulur, menyentuh pipi gembul yang ada di foto dalam kotak kaca. "Lucu sekali kan? Matanya seperti kucing, bibirnya kecil, kalau dia masih hidup, pasti sangat cantik." Tangan yang masih meraba di depan kaca bergetar dan suaranya memarau. Ya, dia sangat cantik.

"Dia menari begitu lucu ketika itu, sampai dia berusia sepuluh tahun kegemaran menarinya tidak hilang. Dia berkata. "Eomma, aku ingin menjadi idol. Aku menari dengan baik kan?" Luhan mendengarkan, bagaimana ibu Minseok menirukan suara Minseok kecil yang berbicara. "Tentu saja aku mengatakan iya. Dia sangat hebat dalam bidang itu, bahkan sebelum dia menjadi idola dia sudah terkenal di lingkungan sini. Teman-temanku meledeknya,

"Hey, Seokkie lebih baik jangan jadi idol nanti kalau kau kurus bagaimana?" ia terkekah. Sambil terus memandangi foto anaknya.

"Appa, bilang kalau aku jadi kurus, akan semakin cantik. Sekarangkan masih sepuluh tahun, kalau aku duapuluh tahun dan masih gemuk nanti tidak ada yang suka, aku kan ingin secantik eomma, supaya bisa mendekati oppa tampan seperti appa." Dia terkekah, "Dia lucukan?"

Luhan mengangguk tanpa suara, mengiyakan kalau Minseok lucu, tapi tidak berkomentar apapun karena sepertinya, ibu Minseok masih ingin bercerita banyak.

"Kalau Minnie kami masih hidup." Luhan tertegun. Minnie? Luhan pernah mamanggil Minseok dengan panggilan Minnie, oh. Pantas Minseok langsung menerjangnya.

"Apa dia sudah kurus? Ketika kecil dia sangat gemuk sampai aku ingin menggigit pipinya. Sekarang sudah tiga puluh tahunan, seharusnya kalau dia masih hidup. Tap- tapi dia sudah pergi. Tidak akan kembali."

Luhan hanya bisa mengusapi punggung wanita yang seumuran dengan ibunya halus ketika dia mulai sesenggukan, tangannya meremat pakaian di bagian depan menyimbolkan kalau dia benar-benar merasa kehilangan dan merindukan.

"Dan itu karena aku, jika saja aku menuruti suamiku, kami tidak akan kehilangannya. Jika saja aku mendengarkan suamiku, mungkin kami masih bersama, aku bisa melihatnya tumbuh, dari bocah gembul menjadi wanita anggun. Semua ini salahku. Aku yang salah, aku mengizinkannya masuk perusahaan dan akhirnya dia – dia dia

Kehilangan kesuciannya yang kurenggut lalu ku sembunyikan.

"Soo-ie" pekikan tertahan ibu Luhan mengalihakan, dia kaget, begitu melihat sahabatnya dalam pelukan anaknya sambil menangis. Sesaat setelah itu, seorang lelaki bertubuh besar muncul, itu adalah Kim Youngwoon, suami dari Soo-ie atau Park Jungsoo.

"Heenim noona, aku harus menenangkan Soo-ie maaf mengabaikanmu." Youngwoon berkata.

"Tentu saja, aku tidak masalah di tinggal. Aku juga ingin menyapa puterimu. Nanti aku akan menyusul. Heenim atau Heechul adalah ibu Luhan.

Yeah. Kini Luhan dan ibunya berada di Guri, menemui mantan kekasih yang ibunya sebut adalah Park Jungsoo. Teman yang terlalu dekat sehingga ibunya menyebut wanita yang lebih tua itu dengan sebutan mantan kekasih.

Ibu Luhan secara khusus datang kembali ke Korea hanya untuk menemui Jungsoo, juga ingin menemui puteri temannya yang dulu pernah mengompolinya ketika berusia tujuh bulan saat Heechul datang menengok. Tapi alih-alih bertemu, Heechul malah di kagetkan kalau anak mereka telah meninggal sejak lama, bahkan sudah bertahun-tahun(tujuh belas tahun) yang lalu.

"Kau baik-baik saja?" Heechul menepuk lengan Luhan ketika anaknya hanya diam mematung sambil memandangi pintu. "Eoh, ah. Ne gwaenchana." Sahut Luhan.

"Apa yang kalian bicarakan? Apa kau menyingung soal Minnie?"

"A-ani. Aku sedang melihat fotonya ketika kecil lalu Jungsoo ahjumma datang. Dia menceritakan tentang Minseok tanpa ku minta." Jelas Luhan terlihat gugup, lalu menghadap kembali memandang foto Minseok kecil.

"Pasti dia merindukan Minseok" Heechul memiringkan kepalanya, rasanya dia pernah mendengar nama itu sebelum dia mendengar dari Youngwoon. Tadi dia bercerita banyak tentang Minseok, anak yang selama ini di ketahui Heechul sebagai Minnie, Heechul kira bahkan namanya adalah Kim Minnie, tapi nyatanya Minnie adalah nama panggilan sayang dari Youngwoon untuk puterinya.

"Wae, ma?"

"Sepertinya aku pernah mendengar nama Minseok."

Luhan menelan ludahnya gugup. "Minseok" semalam dia menyeru seru ketika sosok Minseok empat belas tahun muncul sebagai halusinasi di gazebo taman istananya.

"Aku yakin mendengarnya, tapi kapan ya?" wanita yang sudah berumur, seawet muda apapun pasti tidak akan sama, maksudnya, pikun adalah faktor usia kan, dan Luhan bersyukur, ibunya mengalami hal yang wajar di usianya.

"Jangan terlalu di fikirkan, ma-

"Luhan."

Luhan merasa udara menghilang. Ketika ibunya memanggil demikian, dia merasa sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi. Apa ibunya mengingat kalau semalam dia yang menyebutkan nama Minseok.

"Sehun"

Yang di panggil menoleh, mendapati tiga gadis sedang duduk di kantin sekolah dan salah seorangnya melambai, mengisyaratkan Sehun untuk datang. Zitao, Yixing dan seorang gadis lain yang bernama Ahn Sohee.

Jaljayo Sehun-ah

Chu-

Sehun memiringkan kepalanya, ketika kalimat yang sedari pagi menghantui otaknya ketika ia dan Zitao berpandangan. Jauh memang jaraknya, namun dengan jelas Sehun bisa melihat kilat senang di bola mata serupa panda tersebut. Samar-samar ia mendengar kalimat lain sebelum ia terlelap di bahu Zitao, apa itu? kenapa dia seperti orang yang kepalanya habis terbentur dan melupakan segala hal. Pasti ada yang di katakan Zitao semalam, dan itu mirip yang di katakan ayahnya sehingga dalam pikiran Sehun terngiang-ngiang.

"Eh." Ketiganya mengernyit heran, ketika Sehun mengabaikan panggilan Zitao dan berlalu pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Pasti karena aku." itu Yixing, yang bersuara ketika Sehun telah tertelan daun pintu.

"Kau marahan? Dengan Sehun? Itu aneh Xing-ah. Kalian tidak pernah bertengkar serius sebelumnya. Aku pernah melihatmu memukul kepala Sehun, tapi kalian tetap baik-baik saja. Waeirae?" tanya Sohee, sambil menyesap minuman dinginnya.

Yixing berdeham, membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas. Memandang pada dua orang di hadapannya lalu menunduk. Yixing sangat yakin kalau Sehun pasti menghindari Zitao karena dirinya. Ini pasti karena insiden pelukan di café waktu itu. Gara-gara Sehun memeluknya sembarangan, membuat dia tidak bisa tidur karena takut di teror keluarga Sehun yang akan menuduhnya menggoda pangeran muda itu.

Tapi hey, seharusnya dia yang marah kan. Karena seenak jidatnya memeluk orang sembarangan. Meskipun Yixing juga mengaku salah karena telah memaksa Sehun padahal jelas-jelas anak itu menolak.

"Insiden dia memeluku itu, aku sudah cerita kan." tanpa ragu Yixing berkata, Yixing tahu sepertinya Zitao menyukai Sehun, tapi dia tidak perlu khawatir, karena Zitao tidak tahu apa yang dia dan Sohee bicarakan, namun seharusnya salah satu dari dua gadis senior itu melihat, bagaimana sekilas raut si panda berubah, namun kembali lagi tepat ketika Sohee menghadapnya.

"Ah, seharusnya kau yang marah, kan Sehun yang memelukmu sembarangan, kenapa-

"Jie-jie, Zizi duluan ya, Zizi baru ingat harus menemui direktur." Zitao menyela perkataan Sohee, setelah pamit dia terlebih dahulu membungkuk kemudian melenggang pergi.

"Kau tidak sedang berfikir kalau, mama sudah pikun kan?"

Luhan bernafas lega, ketika Heechul yang memicingkan matanya menebak kalau Luhan sedang menghinanya dalam hati. Itu jauh lebih baik.

"Eih, aniya. Bagaimana mungkin aku berfikir begitu. Lagi pula. Mama pernah bertemu dengan Minseok ketika dia masih kecil, pastinyanya Kim ahjussi atau ahjumma pernah menyebut namanya kan." bagus, alasan yang masuk akal. Beri tepuk tangan untuk Luhan.

"Tidak, aku yakin. Mereka selalu memanggil Minseok dengan nama Minnie, bahkan ku kira nama asli Minseok adalah Kim Minnie."

"Benarkah? Yeah mungkin di suatu tempat. Nama Kim Minseok bukan sesuatu yang asing jika di Korea. Bahkan di HanLu, seorang office girl pun ada yang bernama Kim Heechul." Luhan terkekah canggung, berharap candaannya dapat mengubah topik pembicaraan.

"Oh deer terimakasih pujiannya."

"Sama-sama."

.

.

Peringatan ke tujuh belas tahun kematian Kim Minseok.

Guri, Gyeonggi-Do. Korea Selatan.

Semua orang berpakaian serba hitam. Berbondong-bondong datang ke kediaman lama keluarga Kim. Tiga tahun selepas kepergian Minseok, keluarga Kim memutuskan untuk pindah. Tidak lagi menetap di rumah dimana kenangan puteri gembul mereka bersemayam. Namun setiap tahun keluarga Kim selalu datang ke Guri, kembali untuk memperingati kematian puerti tercinta mereka.

Seperti sekarang. Meski setelah tujuh belas tahun berlalu, namun kesedihan tetap sama seperti ketika pertama kali melakukan upacara peringatan. Tangis penuh haru menghiasi suasana. Foto Minseok mulai dari umur satu sampai sepuluh tahun menghias di seluruh ruangan.

Minseok menggunakan hanbok yang seperti di rumah pemakaman menggantung indah di dingding utama ruang tamu. Foto Minseok menggunakan topi putih dan baju tutul putih sedang duduk di atas batu serupa kursi. Foto Minseok mengenakan pakaian penguin, foto Minseok di album kenangan ketika SD dan yang terakhir paling menarik bagi Luhan.

Minseok berbaju kuning, mengenakan kacapata sambil tersenyum. Tangannya di lipat di dada, Minseok yang ini yang mendatanginya semalam. Diraihnya bingkai itu dan di usap bagian pipi. "Kau merindukan eommamu." Bisiknya.

Di ruang utama, semua serba Minseok. Terlihat sekali betapa pasangan Kim itu mencintai anaknya. Sampai-sampai semua kenangan Minseok tertata begitu rapi di setiap sudut ruangan yang sudah lama di tinggalkan.

"Itu ketika dia akan pergi ke perusahaan, sehari ketika dia mengatakan akan debut."

Reflek Luhan meletakan bingkai di tangannya ketika suara berat Kim Youngwoon menyapa, mengambil salah satu bingkai yang di dekat tangannya dan melakukan apa yang tadi Luhan lakukan.

"Cepat sekali, rasanya kemarin aku baru mengatakan selamat datang padanya kedunia ketika bibirnya menagis keras di rumah sakit. Aku tidak menyangka dia sudah pergi ketika belia." Kata Youngwoon tersenyum sedih, meletakan satu bingkai lalu mengambil yang lain.

"Dia sangat suka berbicara, katanya kalau tidak bicara sehari saja, giginya seperti akan lepas dari gusi."

Aku merusak hidup Minseok. Mengubahnya terlalu banyak dan ketika dia kembali nanti akankah kau memaafkan aku. Abeoji.

"Kalau dia masih hidup, menjadi wanita dewasa, apa dia akan cerewet juga? Ah, aku sangat penasaran." Youngwoon bersuara parau. Meletakan bingkai yang di tangan lalu mengusap wajahnya. Menghapus air mata lebih tepatnya.

"Aku terlalu banyak menangis hari ini. Maaf."

"Gwaenchana ahjussi."

Ketika waktunya bagi pelayan untuk mengantarkan makanan untuk nona kecil Minseok, salah seorang masuk. Membawakan satu set makanan empat sehat lima sempurna. Serta obat yang di berikan oleh dokter Shim kemarin. Mulai beberapa hari setelah Minseok sadar dan mengenali kembali sekitar, Minseok kembali minum obat. Bukan obat karena sakit, tapi untuk semacam terapi. Karena Minseok tidak di izinkan keluar rumah untuk melakukan terapi di rumah sakit, maka Minseok hanya di sangga dengan obat-obatan.

"Nona Kim."

Namun di saat sang pelayan masuk ke kamar majikan dan tidak mendapati wanita muda itu di kamar, si pelayan mengernyit bingung. Tidak mungkin Minseok pergi. Pintu kamar di jaga ketat, jendela di kunci dan di lapisi tralis, jadi si pelyan memutuskan untuk mengecek di setiap ruangan. Ada tiga ruangan di kamar Minseok, ruangan pakaian, ruang kerja Luhan, dan kamar mandi.

Mungkin Minseok baru mandi dan sedang ganti pakaian. Nihil, tidak ada. Di ruang kerja Luhan tidak mungkin karena tempat itu di kunci. Maka sang pelayan memutuskan untuk mengecek di kamar mandi, ketika dekat, terdengar kran air yang menyala. Si pelayan tersenyum. Mengetuk tiga kali pintunya sebelum bersuara.

"Nona, saatnya makan dan minum obat. Tuan Lu baru menghubungi jika dia akan pulang malam."

Tidak ada jawaban, kerutan terbit, rasa khawatir timbul.

"Nona Minseok." Ia memanggil lagi, lalu mengetuk lagi dan lagi-lagi hanya suara kucuran air. Intensitas ketukan semakin banyak dan semakin keras, mendekati gedoran.

"Nona Minseok. Anda di dalam? Anda sedang mandi? Nona tolong jawab saya."

Di rundung rasa cemas si pelayan membrondong. Pintu terkunci dan tidak ada jawaban semakin membuat frustasi. "Siapapun di luar, cepat masuk."

Mendengar teriakan pelayan yang baru masuk dari dalam dengan suara penuh kecemsan, salah seorang pria berwajah oriental segera masuk. Dia adalah orang baru yang secara khusus Luhan datangkan dari tanah airnya. Orang-orang ini ia seiapkan untuk menjaga Minseok, tidak ada siapapun yang bisa menemui Minseoknya tanpa seizin Luhan, bahkan Sehun sekalipun.

"Tolong bukakan pintu ini. Nona Minseok ada di dalam tapi dia tidak menyahut ketika di panggil."

Tanpa menunggu lama, si pria tanpa ekspresi mengeluarkan sebuah kunci dari saku. Membuka dengan mudah pintu kamar mandi Minseok, sekali klik. Si pelayan langsung menerjang masuk, kemudian yang terjadi selanjutnya, terdengar suara jeritan melengking.

Nona Minseok tenggelam di dalam bathtub yang berisi air dingin yang meluber. Kami menemukannya ketika waktunya minum obat. Tubuhnya dingin dan pucat pasi.

'Kring-kring.

Minseokkie selamat pagi sayang.

Yeobo sudah pagi dan waktunya bangun. kring-kring. Anyeong ini Luhan, yang tampan yang dari Beijing. Maaf tidak bisa menyambut pagimu cantik. Aku harus pergi ke suatu tempat.

Aku janji akan pulang malam ini dan langsung menemuimu. Semoga harimu menyenangkan.'

Suara Luhan, menggema di seluruh ruangan kamar yang di tempati Minseok. Minseok menerimamu karena kau menyatakan dirimu sebagai miliknya maka dia menerima. Jika Minseok menerimanya karena Luhan bersikap seakan-akan dia milik Minseok, maka dia akan membiasakan.

Luhan akan meyakinkan Minseok bahwa dia memang miliknya. Bahwa Luhan memang milik Minseok. Maka jadilah rekaman suara itu, suaranya yang di buat seceria mungkin semalam sehabis ibunya menelpon dan mengatakan akan ke Korea.

Luhan berpikir keras, bagaimana caranya sedikit mengurangi trauma Minseok tanpa harus mengeluarkannya dari dunia Luhan. Dan Luhan menemukan satu cara.

Dari perspektif dongeng. Jika sebuah kutukan di layangkan kepada puteri karena salah satu pihak iri tidak bisa mendapatkan pangeran maka kutukan akan hilang oleh pangeran yang menyebabkan perselisihan. Luhan yang menyebabkan Minseok mengalami trauma maka orang yang bisa menyembuhkan Minseok adalah Luhan juga.

"Lu sajang."

Usaha Luhan membuahkan sedikit hasil. Dengan jelas ia mendengar Minseok memanggilnya saat pertama kali ia membuka mata pagi tadi. Dia sedang menonton Minseok. Dari layar datar di ruangan kerjanya yang ada di pavilion, rasanya seperti déjà vu, Luhan pernah melakukan hal ini, menonton detik-detik dimana Minseok mengingat kembali traumanya dan kini, detik-detik dimana Minseok mencoba bunuh diri.

Ruangan itu kosong, ketika mata kucingnya terbuka sempurna. Yang ia dapati hanya dirinya sendiri. Tidak ada siapapun. Minseok mengedarkan pandangannya berharap Luhan muncul dari salah satu ruangan yang terdapat di sana. Namun nihil. Tidak ada siapapun.

Sampai saat ia mulai terisak, Luhan juga tak kunjung muncul.

"Sajang-nim kau dimana? Aku sakit." Dan tangis itu semakin keras, namun ketika tidak ada tanda-tanda ada orang, Minseok yang sudah duduk menarik kakinya dan memeluknya. Menangis keras cukup lama di sana sampai Minseok menunjukan gelagat aneh.

Luhan dapat menangkap setiap gerakan Minseok di layar.

Memegangi perutnya dengan sebelah tangan, lalu tangan yang lain mendekap mulut. Berlari menuju kamar mandi kemudian tidak keluar lagi. Sampai pelayan masuk, menjerit keras. Menadpati Minseok terapung di bathtub dengan tubuh sudah memucat dan dingin.

Luhan mengusap wajahnya kasar, ketika dia mendapat telepon dari pelayan, Luhan sedang berdoa, bersama ibunya dan orang tua Minseok di depan makam Minseok(Menurut kepercayaan orang tua Minseok). Begitu mendengar Minseok di temukan di kamar mandi dengan keadaan tak sadarkan diri Luhan langsung melesat pergi, meninggalkan tempat tersebut tanpa berpamitan.

Luhan tidak peduli dengan apapun, dia hanya peduli Minseok. Ibunya mengatakan akan menginap di Guri untuk menemani orang tua Minseok selama di Guri sebelum kembali ke Seoul. Jadi ia bisa sedikit bernafas lega.

Luhan kira awalnya orangtuanya akan mengunjungi Luhan dan Luhan siap berkilah kalau dia punya segudang kesibukan sehingga akan percuma jika menginap di rumah Luhan dan akan mengantar wanita itu kembali ke Beijing begitu urusannya selesai. Dan Luhan akan kembali setelahnya.

Namun semua di luar pikirannya. Ibunya berniat ke Korea dan menetap beberapa hari, di Guri bersama temannya yang sedang berduka. Meski Luhan tidak boleh lengah kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang untuk menemui Sehun. Luhan sedang tidak ingin menyembunyikan Minseok seperti biasanya.

Jika biasanya Minseok akan bersembunyi di dalam pavilion bawah tanah ketika ibunya berkunjung. Pavilion bawah tanah tempat yang biasanya di huni Minseok jika ada anggota keluarga Luhan atau Baekhyun yang berkunjung. Karena tidak mungkin Luhan hanya sekedar memadamkan penerangan jika ada anggota keluarga yang datang. Rumah dengan pavilion adalah semacam daya tarik, bukan hal tidak mungkin kalau salah satu dari mereka ingin melihat. Salah satu keponakan Baekhyun yang bernama Jaehyun bahkan sangat menyukai pavilion tersebut.

"Aku juga sakit Minseok. Melihatmu seperti ini, sama saja membunuhku secara perlahan." Luhan berkata sedih.

Ketika Luhan sedang dilanda gundah gulana, sesuatu di layar laptopnya seakan paham, bahwa Luhan butuh penyemangat. Mood booster. Sesuatu di ujung kanan atas berkelip-kelip.

"Ada penyusup." Luhan tersenyum tipis. Sambil mengarahkan jarinya, dia membuka kotak di sudut kanan tersebut, tempat di mana berkelip-kelip.

Sistem keamanan LH7.

HanLu Security System.

Byun K Security System.

Cloud 9

B Wb.

K. R.

Dan T W?. Mata Luhan menyipit.

Semua yang masuk dalam jangakauan Luhan adalah milik orang-orangnya. HanLu adalah induk dari pusat keamanan Lu. Byun K adalah cabang yang Luhan pasang untuk memata-matai peusahaan Byun K. yang ini sebagai penyusup. Karena menumpang dengan pusat keamanan B Wb.

Pusat kemanan dan kerahasiaan data milik Byun K adalah B Wb atau sebenarnya Busan Wonbin, yang di kepalai oleh Jung Daehyun. Luhan tidak bisa meremehkan kemampuan otak Daehyun. Lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya itu dulu merupakan seorang pekerja di deep web.

Luhan pikir saingan terberatnya di dunia ke jaringannan adalah Jaehyo, tapi ternyata tidak, Daehyun seperti monster komputer, Daehyun dan Luhan pernah bertemu beberapa kali di dalam Deep web, dimana para hacker berkeliaran.

Ketika mengenal Daehyun pertama kali, Luhan pikir Daehyun bekerja untuk kejahatan karena kesehariannya hanya berada di dalam deep namun tidak sejahat itu. Daehyun mengamankan data Negara. Dia bekerja pengaman data Negara. Karena kepandaian itu mengantarkan Daehyun sebagai kepala keamanan Negara. Daehyun adalah orang kepercayaan Presiden Korea. Daehyun menjaga data Negara dengan keamanan kualitas VIP, katakan jika ini di dalam pesawat. Namun tidak dengan perusahaan sepupunya.

Baekhyun. Buktinya Luhan bisa menyusup dengan mudah pertahanan perusahaan Baekhyun tanpa ketahuan, ini adalah pertanyaan Luhan yang masih belum di ketahui jawabannya.

Cloud 9 adalah ruangan khusus yang ada di dalam Byun K, yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Ini Baekhyun yang mengendalikan. Jaringan ini masih kategori mudah, jika kau pandai matematika dan komputer maka menembus Cloud 9 bukanlah hal sulit.

K. R. adalah milik Jaehyo, yang ini yang sampai sekarang belum bisa Luhan tembus. Jaringannya terlalu rumit, ketika Luhan pernah mencoba membuka, sistemnya terserang K. R virus, katakan Jaehyo adalah lelaki biasa, namun dia memiliki sistem keamanan berbasis komputer yang begitu hebat, Jaehyo pasti punya sesuatu yang di sembunyikan, jika Luhan tidak melihat pohon keluarga Lu yang membuat Luhan menyerang Jaehyo, mungkin K. R tidak mati-matian coba untuk Luhan bobol.

Meski begitu Luhan tidak menyerah, setiap virus punya anti virus, begitupun K. R virus. Meskipun tidak bisa menembus sampai yang terdalam dan mengetahui isinya, tapi Luhan berhasil memasukan mata-mata, jika jaringan Jaehyo adalah labirin maka milik Luhan adalah lorong ber-CCTV, apapun yang masuk Luhan bisa tahu. Tapi mengetahui ada satu sistem yang masuk namun bukan kendali K. R. Luhan tertegun.

T W? Siapa ini? T W sedang mencoba menembus HanLu, ini bukan Jaehyo, Luhan sangat yakin. Karena T W seperti Byun K miliknya. T W menumpang, bersembunyi di K. R.

Tapi melihat kemampuannya menembus K. R dapat Luhan pastikan dia lebih dari dirinya, Jaehyo juga Daehyun.

Satu pesan masuk.

T W.

HanLu pertahananmu benar-benar mengagumkan.

"Jaringan ini."

"Lu sajang"

Panggilan dari balik pintu membuyarkan konsentrasi. Pelayan Oh memanggilnya. Berarti Minseok sudah selesai di periksa. Mengabaikan isi laptopnya. Luhan beranjak. Keluar ruangan kerjanya dan menemui dokter Shim.

Lelaki jangkung itu sedang membereskan semua alat dokternya. Melihat Luhan dia menyerahkan botol bening kecil berisi pil-pil putih.

"Aku dapatkan ini dari Victoria."

Luhan mengernyit. Victoria? Apa itu nama orang atau kota? Atau apa Luhan mengenal seseorang dengan nama itu? Kalau Victoria Backham iya, Luhan tahu tapi tidak kenal, karena dari cara Changmin menyebutkan namanya, dia seperti berkata kalau Luhan mengenal Victoria apa Victoria itu orang terkenal, sehingga Luhan harus tahu.

Sebenarnya siapa dirimu – Sehun.

Kau menghindari aku – Zitao.

Apa mata itu benar-benar begitu polos – Sehun.

Kenapa kau menghindariku? Kau menyukai Yixing? Kau memeluknya – Zitao.

Kau seperti satu keping mata uang dengan sisi yang berbeda. Sisi mana yang dirimu sesungguhnya? – Sehun.

"Zizi"

Kontak mata itu terlepas, tautan tangan Sehun dengan Zitao terlepas pula, ketika suara yang familiar menyapa. Baik Sehun maupun Zitao sama-sama memalingkan wajah.

"Zizi yang kesana. Jongie tunggu saja. Hunnie an-anyeong." Ucap Zitao, kemudian pergi menghampiri sumber suara. Jongin yang mendelik tak suka melihat Sehun.

Sehabis kelas internasional minggu ini.

Pagi-pagi, Sehun baru selesai dari kolam senang, mandi besar bersama larva-larvanya ketka dia berjalan melewati seorang ahjumma di ruang setrika, ada yang menarik perhatian Sehun, ahjumma itu sedang membentangkan sebuah saputangan. Warna hitam dan putih, sekilas dia melihat inisial di sebelah kanan bawah.

"Ahjummeoni, kenapa itu ada di tanganmu?" Sehun ingat betul, menaruh saputangan tersebut di dalam buku dan ada di laci kamarnya. Kenapa sekarang ada di tangan pelayannya.

"Oh, ini milik tuan muda?"

"Kutanya kenapa ini ada di tanganmu?" sambil merebut benda tersebut, Sehun menatap tajam.

"Jeoseonghamnida, tuan muda. Saya tidak bermaksud menyentuh barang-barang anda. Saya hanya berniat menyetrikanya karena ini baru saja di cuci." Si pelayan ketakutan membungkuk dalam-dalam memohon pengampunan. Namun dia tidak tahu kalau Sehun tampak bingung.

"Di cuci? Kenapa kau mencucinya? Lancang sekali kau masuk kamarku dan mengambil barang-barang pribadiku."

"Aniomnida. Saya tidak mengambilnya dari ruangan tuan muda. Ini ada di dalam saku mantel milik anda. Ketika saya akan memasukannya ke ruang laundry saya menemukan itu.

"Zitao?" memandangi punggung sempit itu sampai menghilang.

Ketika Sehun meneliti lagi. Ini sama persis, seperti yang di ia miliki dari seseorang berinisial W Z T. Tapi yang sehun pegang sekarang hanya Z T. Zi Tao?.

Luhan meletakan botol bening berisi obat Minseok di nakas, kemudian duduk di sebelah kepala Minseok, mengusapinya penuh sayang. "Aku baru bertemu orang tuamu." Bisik Luhan lirih, takut mengganggu tidur Minseok.

"Dia merindukanmu kau tahu? Ah, kaupun merindukannya kan?"

Dalam percakapan seorang dirinya Luhan tersenyum, kembali mengusapkan tangannya di puncak kepala Minseok. "Cepat sembuh, agar aku punya kekuatan lebih untuk menyelesaikan masalah ini. Agar aku bisa mempertemukanmu dengan ayah dan ibu." Luhan terkekah, ayah dan ibu? Yah, dia ingin memanggil seperti itu pada orang tua Minseok.

Menjadi suami sesungguhnya dan menjadi menantu. Tidak lupa menjadi ayah yang bisa di banggakan oleh anak mereka.

"Sehun."

To Be Continue…

Chapter sepuluh. Ini rasanya gak pernah aku bayangin bakal nulis Fanfic dan di publish kayak gini. Kalau lagi nulis dan mikir buat kelanjutannya gimana, serasa udah kayak penulis sungguhan yang udah nerbitin buku. Kadang kebawa emosi, suka ketawa sendiri dan suka nangis kalo bayangin castnya. Dan aku mau nepatin janji. Selesai ujian aku bakal update(Meskipun bukan UN baru USBN yang selesai. Tapi aku pikir nunggu UN dulu kelamaan dan udah jadi juga FFnya, kalo ini gak di publish idenya malah ilang lagi. Aku plin-plan ya). Aku update buat para pembaca yang udah meluangkan waktunya buat bac FF abal ini. Tetep baca dan jangan bosen ya buat baca cerita ku ini. Review, tolong jangan bosen nulis di kotak review buat semangt-semangan aku. Tapi maaf gak bisa bales satu-satu reviewnya.

Review juseyo. Buing-buing.